Anda di halaman 1dari 8

Pendahuluan

Penerimaan perpajakan merupakan sumber pendapatan yang utama dalam


APBN. Selama lima tahun terakhir, penerimaan perpajakan rata-rata sekitar 70 persen
dari total pendapatan negara. Hal ini menunjukkan bahwa peran pajak dalam
membiayai APBN semakin besar. Peran pajak tersebut akan semakin besar untuk
masa yang akan datang karena pemerintah ingin mengurangi peran utang dalam
mendanai APBN. Karena peranan pajak semakin penting, maka penerimaan
perpajakan membutuhkan sistem pengelolaan yang semakin baik sehingga
penerimaan perpajakan semakin optimal sesuai dengan kondisi ekonomi dan
kemampuan masyarakat.
Sesuai dengan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,
pendapatan negara terdiri atas penerimaan perpajakan, penerimaan negara bukan
pajak (PNBP), dan penerimaan hibah. Dalam struktur APBN, pendapatan negara
terdiri atas pendapatan dalam negeri, yang terdiri atas penerimaan perpajakan dan
PNBP, serta penerimaan hibah. Penerimaan perpajakan meliputi pendapatan pajak
dalam negeri dan pendapatan pajak perdagangan internasional yang hingga saat ini
merupakan sumber utama kapasitas fiskal Pemerintah.
Selain itu, kebijakan perpajakan juga berperan penting dalam pengelolaan
ekonomi nasional. Pendapatan pajak dalam negeri berupa pendapatan pajak
penghasilan (PPh), pendapatan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak
penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM), pendapatan pajak bumi dan
bangunan (PBB), pendapatan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB),
pendapatan cukai, dan pendapatan pajak lainnya.
Sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) memberikan kontribusi
rata-rata 30 persen. Meningkatnya realisasi penerimaan negara tersebut tidak terlepas
dari pengaruh perkembangan ekonomi baik global maupun nasional, dan juga
keberhasilan dari pelaksanaan kebijakan Pemerintah di bidang pendapatan negara dan
hibah.
Kebijakan Pemerintah di bidang pendapatan negara dan hibah diarahkan untuk
mendukung kebijakan fiskal yang berkesinambungan melalui upaya optimalisasi
pendapatan negara dan hibah, khususnya penerimaan dalam negeri. Hal ini sesuai
dengan peran pendapatan negara dan hibah sebagai sumber pendanaan programprogram pembangunan.
a. Jenis-Jenis Penerimaan Pajak
Penerimaan perpajakan cenderung selalu mengalami pertumbuhan. Kecuali
pada tahun 2009, yang memang dikarenakan beberapa faktor seperti krisis ekonomi
global dan pengaruh pergantian tarif PPh, sehingga terjadi penurunan penerimaan
negara dari sektor pajak. Namun secara garis besar bisa dikatakan jika pertumbuhan
penerimaan pajak lebih stabil bila dibandingkan PNBP. Beberapa faktor utama yang
mendukung meningkatnya penerimaan perpajakan adalah terciptanya kondisi
fundamental makroekonomi yang cukup stabil dan pelaksanaan kebijakan
modernisasi perpajakan, kepabeanan dan cukai.

Dilihat dari sumbernya, penerimaan perpajakan dapat dikategorikan ke dalam


penerimaan pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. Penerimaan
pajak dalam negeri terdiri atas penerimaan pajak penghasilan (PPh), pajak
pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM), pajak
bumi dan bangunan (PBB), bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB),
cukai dan pajak lainnya, sedangkan pajak perdagangan internasional terdiri atas bea
masuk dan bea keluar.
Pajak dalam negeri memegang peranan penting dalam penerimaan negara.
Sebab selama ini penyumbang terbesar penerimaan negara berumber dari sektor ini.
Adapun jenis pajak yang paling besar menghasilkan penerimaan negara adalah Pajak
Penghasilan (PPh) terutama dari PPh Orang Pribadi dan PPh Badan, Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPN dan PPn BM), serta
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) terutama dari sektor Perkebunan, Perhutanan dan
Pertambangan (P3).
b. Sejarah Pajak Bumi dan Bangunan
Sejak awal 19 pada zaman kolonial pajak tanah diberlakukan pada saat Pulau
Jawa diperintah oleh Inggris yang dipimpin Letnan Jenderal Raffles. Pajak tanah
waktu itu dinamakan Landrent, yang artinya sewa tanah. Raffles meniru sistem
pajak tanah di India dengan 3 jenis macam sistem pemungutan landrent yaitu :
1) Sistem zamindari atau zamindarars artinya landheer atau tuan tanah. Sistem ini
mengenakan pajak tanah dengan suatu jumlah yang tetap pada kepada para tuan
tanah. Pengenaan tarif pajak dengan suatu jumlah yang tetap disebut dengan
istilah Permanent Settlement. Sistem ini dipakai di Benggala dan di sekitar
barat laut India.
2) Sistem Pateedari atau Mauzawari. Sistem ini meniru sistem pajak bumi
pemerintah Portugis di Goa. Sistem ini memberlakukan pajak bumi pada Desa
yang dianggap sebagai suatu kesatuan. Selanjutnya pengenaan kepada
penduduk kebijaksanaannya diserahkan kepada Kepala Desa masing-masing.
Sistem ini diberlakukan di Punjab dan distrik-distrik barat Laut India.
3) Sistem rayatwari. Dalam sistem ini, pajak tanah/bumi dikenakan langsung
kepada para petani yang mengolah tanah berdasarkan pendapatan rata-rata dari
tanah yang diusahakan oleh masing-masing petani. Sistem ini diberlakukan di
Madras, Bombay dan sebagainya.
Pajak tanah diberlakukan di Pulau Jawa oleh Raffles pada tahun 1811 sampai
dengan 1816. Landrent didasarkan pada suatu dalil bahwa semua tanah adalah milik
Raja (souvereign), dan semua Kepala Desa dianggap sebagai penyewa (pachetrs).
Oleh karenanya mereka harus membayar sewa tanah (Landrent) dengan natura
secara tetap. Ketika kekuasaan beralih pada Belanda Landrent diubah menjadi
landrente, sistem ini merubah sistem terdahulu dengan melakukan perubahan
mengarah kepada keadilan dan kepentingan rakyat, yang berlangsung sampai dengan
tahun 1942. Di masa penjajahan Jepang tahun 1942 sampai dengan tahun 1945, sistem

pajak tanah yang dilaksanakan Belanda diambil alih sepenuhnya dan namanya diganti
menjadi Pajak Tanah. Setelah Indonesia merdeka, pajak tanah diubah menjadi pajak
bumi. Periode tahun 1945 sampai tahun 1951 untuk melaksanakan pajak bumi masih
menggunakan cara lama yaitu:
1) Pajak Bumi di wilayah Negara Republik Indonesia dengan pusat pemerintahan
di Yogyakarta dihapus, untuk wilayah federal pajak bumi terus berlaku;
2) Pajak Bumi di wilayah Negara Republik Indonesia dihapus dengan UndangUndang Nomor 14 Tahun 1951. hal ini disebabkan adanya desakan dari
golongan yang dipimpin oleh Tauchid.
3) Desakan politik tersebut dikenal sebagai Mosi Tauchid, dan sebagai gantinya
dikeluarkan pajak baru yaitu Pajak Penghasilan atas Tanah Pertanian (PPTP).
Tahun 1951 sampai tahun 1959, setelah dikeluarkannya UU Nomor 14 tahun
1951 tentang Penghapusan Pajak Bumi di wilayah Negara Republik Indonesia, maka
lahirlah Jawatan Pendaftaran dan Pajak Penghasilan Tanah Milik Indonesia (P3TMI)
yang bertugas melakukan pendaftaran atas tanah-tanah milik adat yang ada di
Indonesia. Karena tugasnya hanya mengurus pendaftaran tanah saja, maka namanya
diubah kembali menjadi jawatan Pendaftaran Tanah Milik Indonesia (PTMI) dan
bertugas sama seperti sebelumnya ditambah dengan kewenangan untuk mengeluarkan
Surat Pendaftaran sementara terhadap tanah milik yang sudah terdaftar.
Tahun 1959 sampai tahun 1985 dengan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang (PERPU) Nomor 11 tahun 1959 tentang Pajak Hasil Bumi (LN Th. 1959
Nomor 104. TLN. Nomor 1806) yang dengan Undang-Undang Nomor tahun 1 Tahun
1961 (LN Th. 1961 Nomor 3 TLN Nomor 2124) telah ditetapkan menjadi UndangUndang.
Selanjutnya nama jawatan yang mengelola Pajak Hasil Bumi menjadi
Direktorat Pajak Hasil Bumi dalam melaksanakannya dikeluarkan Surat Keputusan
Menteri Iuran Negara Nomor PMPPU 1-1-3 tanggal 29 Nopember 1965 yang
menetapkan Direktorat Pajak Hasil Bumi diubah namanya menjadi Direktorat Iuran
Pembangunan Daerah (DIT-IPEDA). Pajak Hasil Bumi (PHB) menjadi Iuran
Pembangunan Daerah (IPEDA). Pengenaannya diberlakukan pada tanah-tanah sektor
pedesaan, perkotaan, perhutanan. Sektor perkebunan dan sektor pertambangan.
Tahun 1985 sampai dengan tahun 1995 sesuai dengan amanat GBHN 1983
berdasarkan Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1983 telah diadakan tax Reform yaitu
diadakan pembaruan dan penggantian peraturan perundang-undangan perpajakan
yang selama ini berlaku. Tax reform tahun 1983 berlaku pada tanggal 1 Januari 1984.
Dengan adanyatax reform, sistem perpajakan Indonesia berubah dari Official
Assessment menjadi Self Assessment.
Official Assessment yaitu suatu sistem pemungutan pajak yang menyatakan
bahwa jumlah pajak yang terutang oleh Wajib Pajak berdasarkan pada Surat
Ketetapan Pajak (SKP). Self Assessment yaitu suatu sistem pemungutan pajak yang
dipercayakan kepada Wajib Pajak mulai menghitung sampai penyetoran. Aparat

perpajakan melaksanakan pengendalian tugas, pembinaan,penelitian, pengawasan,


dan penetapan sanksi administrasi. Setelah Tax Reform 1983 lalu dikeluarkan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan bangunan (PBB),
yang ditetapkan tanggal 27 Desember 1985 dan mulai berlaku tanggal 1 Januari 1986
(LN Th. 1985 Nomor 68, TLN 3312). Tanggal 9 November 1994 disahkan UndangUndang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12
Tahun 1985 tentang PBB, yang mulai berlaku pada tanggal tanggal 1 Januari 1995
(LN Th. 1994 Nomor 62, TLN 3569).
c. Perubahan Peraturan Pajak Bumi dan Bangunan
Terhitung sejak tahun pajak 2014, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor
Perdesaan dan Perkotaan (P2) tidak lagi dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak
(DJP). Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah (PDRD) mengamanatkan bahwa selambat-lambatnya tahun 2014, pengelolaan
pajak PBB sektor P2 dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota.
Pasca pengalihan tersebut, DJP efektif hanya mengelola PBB sektor selain
Perdesaan dan Perkotaan. Ada 3 (tiga) sektor PBB yang selama ini dikenal sebagai
sektor bukan P2, yaitu sektor Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan yang sering
disingkat dengan sektor P3.
Pelimpahan wewenang pengelolaan pajak PBB P2 dari DJP kepada
pemerintah kabupaten/kota sedikit banyak menuai permasalahan, baik yang
disebabkan oleh aspek regulasi, IT, SDM, sosial, maupun aspek lainnya. Salah satu
permasalahan yang mengemuka adalah ekses dari perbedaan lingkup kewilayahan
antara pusat dan daerah. Lingkup kewilayahan DJP sebagai bagian dari pemerintah
pusat adalah nasional, sedangkan lingkup kewilayahan pemerintah kabupaten/kota
adalah wilayah administratif di daerah tertentu.
Tidak seluruh wilayah NKRI adalah wilayah propinsi, dan tidak seluruh
wilayah propinsi adalah wilayah kabupaten/kota. Ada wilayah tak bertuan yang
hanya menjadi bagian wilayah NKRI tetapi bukan wilayah propinsi manapun, serta
ada bagian wilayah sebuah propinsi tetapi bukan wilayah kabupaten/kota manapun.
Wilayah seperti itu adalah bagian wilayah NKRI yang berada di laut. Untuk
mudahnya -dan relevan dengan tulisan ini wilayah yang demikian disebut
saja Wilayah Tak Bertuan yang menggambarkan potensi hilangnya pajak PBB P2
sebagai dampak belum adanya institusi pengelola pajak yang berwenang mengenakan
pajak PBB P2 di wilayah semacam itu.
Penyebab munculnya wilayah tak bertuan adalah regulasi yang mengatur
bahwa pemerintah kabupaten/kota hanya memperoleh kewenangan mengelola sumber
daya di wilayah laut sejauh 4 (empat) mil (sepertiga dari 12 mil) diukur dari garis

pantai ke arah laut , sebagaimana ketentuan Pasal 18 ayat (4) UU nomor 12 tahun
2008 tentang Perubahan Kedua atas UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintah
Daerah. Selanjutnya wilayah laut lebih dari 4 mil sampai dengan 12 mil adalah
kewenangan pemerintah propinsi, sedangkan wilayah sisanya lebih dari 12 mil adalah
kewenangan pemerintah pusat.
Pasca penyerahan wewenang pengelolaan PBB P2 dari Pemerintah Pusat
(DJP) kepada Pemerintah Daerah (kabupaten/kota), basis pengelolaan PBB P2 adalah
kabupaten/kota. Konsekwensinya, objek pajak - objek pajak PBB P2 yang berada di
luar wilayah kewenangan pemerintah kabupaten/kota berpotensi tidak dikenakan PBB
P2, baik oleh pemerintah kabupaten/kota maupun oleh tingkat pemerintah yang lebih
tinggi, karena tidak terdapat institusi lain selain pemerintah kabupaten/kota yang
diberi wewenang mengelola PBB P2 atas objek pajak di wilayah laut lebih dari 4 mil.
Celah regulasi tersebut di atas sangat mungkin dimanfaatkan oleh wajib pajak
untuk menggugat pemerintah kabupaten/kota bahwa pemerintah kabupaten/kota tidak
berwenang mengenakan PBB P2 atas aset-aset yang berada di wilayah laut lebih dari
4 mil dari garis pantai. Contoh aset di wilayah laut yang seharusnya menjadi objek
pajak PBB P2 adalah jalur pipa laut yang dimiliki oleh perusahaan penyalur gas alam.
Jika pada saat masih dikelola oleh Pemerintah Pusat (DJP), atas aset-aset
tersebut telah dikenakan pajak PBB P2, maka saat ini wajib pajak berpotensi
menyampaikan keberatan bahwa aset-aset yang berada di wilayah laut di luar garis 4
mil harus dikeluarkan dari pengenaan PBB P2 oleh pemerintah kabupaten/kota. Jika
demikian halnya, instansi mana yang akan mengenakan PBB P2 atas aset-aset
tersebut? Jawabannya adalah belum diatur, sehingga potensi penerimaan Negara
dari PBB P2 akan berkurang.
Fakta yang terjadi, hingga saat ini sudah ada wajib pajak PBB P2 yang
memanfaatkan celah regulasi tersebut di atas dengan menyampaikan keberatan atas
pengenaan PBB P2 sebagaimana kasus di atas kepada pemerintah daerah setempat.
Salah satu jalan keluar untuk menutup celah regulasi tersebut di atas adalah
sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor139/PMK.03/2014, yang ditetapkan pada tanggal 10 Juli 2014, dan diundangkan
sekaligus berlaku sejak tanggal 11 Juli 2014.
Pasal 2 ayat (2) PMK tersebut menyebutkan bahwa objek pajak bumi dan
bangunan meliputi objek pajak Sektor Perkebunan, Sektor Perhutanan, Sektor
Pertambangan, dan Sektor Lainnya. Mengingat bahwa konteks PMK tersebut adalah
mengatur hal yang berkenaan dengan pajak pusat, maka pajak bumi dan bangunan

yang dimaksud oleh PMK tersebut adalah Pajak Bumi dan Bangunan selain sektor P2,
hal mana telah disebutkan secara tegas dalam diktum Menimbang PMK dimaksud.
Selanjutnya pada pasal 6 dalam KMK disebutkan bahwa yang dimaksud
dengan objek pajak PBB Sektor Lainnya adalah objek pajak PBB selain objek
pajak Sektor Perkebunan, Sektor Perhutanan, dan Sektor Pertambangan, yang tidak
berada dalam wilayah kabupaten/kota. Ketentuan-ketentuan tersebut manjawab
kondisi-kondisi jika suatu objek pajak PBB tidak termasuk objek pajak PBB P2 dan
tidak pula termasuk objek pajak PBB P3, maka tetap bisa dikenakan PBB sebagai
objek pajak PBB Sektor Lainnya (Sektor Keenam). Institusi yang berwenang
mengenakannya adalah pemerintah pusat, yaitu DJP.
Penerapan pada kasus Wilayah Tak Bertuan, DJP berwenang mengenakan
PBB atas wilayah tersebut, baik wilayah laut yang menjadi wewenang pemerintah
propinsi maupun wilayah laut yang menjadi wewenang Pemerintah Pusat.
Kewenangan tersebut termasuk kewajiban mendistribusikan hasil penerimaan pajak
(PBB) kepada institusi yang berhak, yaitu wilayah 4 mil sampai dengan 12 mil
menjadi hak pemerintah propinsi, sedangkan wilayah lebih dari 12 mil menjadi hak
pemerintah pusat.
d. Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan
(PBB P3)
1. Sektor Perkebunan
Dasar Hukum:
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tanggal 27
Desember 2010. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-149/PJ/2010
tanggal 27 Desember 2010. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak
Nomor PER-64/PJ/2010 tersebut di atas, yang dimaksud dengan objek pajak
sektor perkebunan adalah objek pajak bumi dan bangunan yang dimiliki,
dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan, yang
digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan yang diberikan hak guna usaha
perkebunan.
2. Sektor Perhutanan
Dasar Hukum:
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-36/PJ/2011
tanggal 18 November 2011 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan
Sektor Perhutanan. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE89/PJ/2011 tanggal 18 November 2011. Berdasarkan peraturan dan surat
edaran tersebut di atas, objek pajak PBB Perhutanan adalah bumi dan/atau
bangunan yang digunakan untuk kegiatan usaha perhutanan yang diberikan

hak pengusahaan hutan. Objek pajak bumi di dalam sektor perhutanan terdiri
dari areal produktif, areal belum produktif, areal emplasemen, dan areal lain.
Areal produktif adalah merupakan areal hutan yang telah ditanami pada hutan
tanaman, atau areal blok tebangan pada hutan alam. Areal belum produktif
merupakan areal yang sudah diolah tetapi belum ditanami pada hutan
tanaman, atau areal hutan yang dapat ditebang selain blok tebangan pada hutan
alam. Areal emplasemen adalah areal yang digunakan untuk berdirinya
bangunan dan sarana pelengkap lainnya dalam perhutanan termasuk areal
jalan yang diperkeras. Areal lain adalah areal hutan selain dari areal produktif,
areal belum produktif, dan areal emplasemen
3. Sektor Pertambangan
Dasar Hukum:
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pertambangan. Berdasarkan undang-undang tersebut diatas, yang dimaksud
dengan bahan galian adalah unsur-unsur kimia mineral-mineral, bijih-bijih dan
segala macam batuan termasuk batu-batu mulia yang merupakan endapanendapan alam. Bahan-bahan galian ini terbagi atas 3 (tiga) jenis yaitu:
a) Bahan galian strategis dalam arti strategis bagi pertahanan dan keamanan
serta perekonomian negara, antara lain seperti minyak bumi, bitumen cair,
lilin bumi, gas alam, bitumen padat, aspal, batubara, uranium dan bahan
radio aktif lainnya, nikel, timah.
b) Bahan galian vital dalam arti dapat menjamin hajat hidup orang banyak,
antara lain seperti besi, mangaan, wolfram, tembaga, emas, perak, platina,
yodium, belerang.
c) Bahan galian yang tidak termasuk jenis a atau b dalam arti karena sifatnya
tidak langsung memerlukan pasaran yang bersifat internasional, antara lain
seperti nitrat-nitrat, garam batu, asbes, batu permata, pasir kwarsa, batu
apung, batu kapur, granit, andesit.
Sektor pertambangan adalah objek Pajak Bumi dan Bangunan yang
meliputi areal usaha penambangan bahan-bahan galian dari semua jenis
golongan yaitu bahan galian strategis, bahan galian vital dan bahan galian
lainnya. Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan dapat
diklasifikasikan ke dalam 3(tiga) jenis yaitu:
a. Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba)
b. Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (Migas)
c. Pertambangan Energi Panas Bumi
Terhitung mulai tanggal 1 Januari 2014, Pemerintah akan mengutip lebih
besar pajak dari ketiga sektor utama yakni Pertambangan, Perkebunan, dan
Perhutanan. Lewat revisi kebijakan peraturan menteri keuangan (PMK) No. 67/ 2011,
di aturan baru dengan nomor 23 / PMK.03 / 2014 tentang penyesuaian besarnya

NJOPTKP, Pemerintah menggunting nilai pengurang atas pajak bumi dan bangunan
dari yang sebelumnya berkisar sebanyak 24 juta rupiah, kini diturunkan menjadi 12
juta rupiah. Ketentuan seperti ini tentunya tidak berlaku bagi PBB sektor pedesaan
dan perkotaan, yang kini wewenangnya sudah ada di tangan pemerintah daerah.
Peraturan ini hanya berlaku bagi tiga sektor industri yang telah kami sebutkan
sebelumnya, yaitu pertambangan, perkebunan, dan perhutanan. Tak pelak perubahan
ini akan menambah beban pengusaha disektor tersebut lantaran harus membayar pajak
bumi dan bangunan lebih mahal pada tahun ini. Tujuan pemerintah atas pengurangan
NJOPTKP adalah demi mengatrol penerimaan pajak. Mengingat dengan memangkas
pengurang pajaknya, berarti porsi NJOPTKP yang menjadi basis perhitungan tarif
pajak akan menjadi lebih besar. Dalam hitungan kontan, kenaikan pajak yang efektif
adalah sekitar 25% dari kewajiban tahun lalu.
Wajar jika pemerintah ingin mengeruk penerimaan lebih banyak dari pajak
bumi dan bangunan, hal ini dikarenakan penerimaan PBB sektor pedesaan dan
perkotaan telah diserahkan kepada pemerintah daerah, sementara PBB di sektor
pertambangan saat ini berperan sebagai salah satu penyumbang terbesar dibandingkan
sektor lainnya. Tahun 2013 realisasi penerimaan PBB Rp 27,34 Triliun. Dari jumlah
itu, PBB sektor pertambangan menyumbang sebesar Rp 23 Triliun. Tahun ini target
PBB sebesar Rp 25,44 Triliun, lebih kecil ketimbang di tahun 2013.