Anda di halaman 1dari 3

Pendekatan Klinis Pada Pasien

Anamnesis
Anamnesis yang terarah diperlukan untuk menggali lebih dalam dan lebih luas keluhan utama
pasien.
1. Keluhan utama pada kasus adalah keluar cairan dari telinga kiri (otore)
Hal yang perlu ditanyakan adalah apakah secret keluar dari satu atau kedua telinga, sudah
berapa lama terjadi, apakah disertai rasa nyeri atau tidak.
Secret yang sedikit biasanya berasal dari infeksi telinga luar dan secret yang banyak dan
mukoid biasanya berasal dari infeksi telinga tengah. Bila berbau busuk menandakan
adanya kolesteatom. Bila bercampur darah harus dicurigai adanya infeksi akut yang berat
atau tumor. Bila caran keluar jernih seperti air harus waspada adanya cairan liquor
cerebrospinal.
2. Perlu ditanyakan juga:
a. Gangguan pendengaran/pekak
Bila ada gangguan pendengaran maka perlu ditanyakan:
- Apakah keluhan tersebut pada satu atau kedua telinga
- Apakah timbul tiba-tiba atau bertambah berat secara bertahap? Sudah berapa lama
diderita?
- Adakah riwayat trauma telinga (tertampar, terpapar bising, trauma akustik)?
- Riwayat penggunaan obat-obatan ototoksik sebelumnya?
- Apakah pernah menderita penyakit infeksi virus?
- Apakah gangguan pendengaran ini dialami sejak masih bayi dan juga terdapat
gangguan dalam berbicara?
- Apakah gangguan ini lebih terasa di tempat yang bising atau tenang? (Ditanyakan
pada orang dewasa)
b. Tinnitus (suara berdengung atau berdenging)
c. Vertigo (rasa pusing yang berputar)
- Vertigo merupakan gangguan keseimbangan dan rasa ingin jatuh yang disertai
dengan mual, muntah, rasa penuh di telinga, telinga berdenging yang mungkin
kelainannya terdapat di labirin.
- Bila vertigo disertai dengan keluhan neurologis seperti disartria maupun
gangguan penglihatan maka kemungkinan letak kelainannya di sentral.
- Apakah keluhan ini timbul pada posisi kepala tertentu atau berkurang bila
pasien berbaring dan timbul lagi bila bangun dengan gerakan kepala yang
cepat.
- Kadang-kadang keluhan vertigo akan timbul bila ada kekakuan otot-otot leher.
Penyakit diabetes mellitus, hipertensi,arteriosklerosis, penyakit jantung,
anemia, kanker dan sifilis juga dapat menimbulkan keluhan vertigo dan
tinnitus.

d. Otalgia (rasa nyeri dalam telinga)


Hal yg perlu ditanyakan adalah Apakah pada telinga kanan atau kiri atau keduaduanya dan sudah berapa lama? Nyeri menunjukkan permasalahan pada telinga luar
seperti otitis eksterna, atau jika disertai gejala infeksi pernafasan, pada telinga dalam
seperti otitis media. Nyeri alih ke telinga (referred pain) dapat berasal dari rasa nyeri
di gigi molar atas, sendi mulut, dasar mulut, tonsil atau tulang cervical karena telinga
dipersarafi oleh saraf sensoris yang berasal dari organ-organ tersebut.
e. Tanyakan juga apakah ada demam, sakit tenggorok, batuk dan infeksi saluran nafas
atas lain-lain.
3. Riwayat penyakit dahulu
4. Riwayat penggunaan obat
Obat obatan yang dapat memengaruhi pendengaran meliputi obat-obat golongan
aminoglikosida, aspirin, antiinflamasi non steroid (NSAID), kina furosemid dan lain-lain.
5. Riwayat penyakit keluarga

PEMERIKSAAN FISIK
Alat yang diperlukan untuk melakukan pemeriksaan telinga adalah lampu kepala, corong
telinga, otoskop, pelilit kapas, pengait serumen, pinset telinga dan garputala.
Inspeksi dan palpasi
Mula-mula dillihat keadaan dan bentuk daun telinga, daerah belakang daun telinga (retro
aurikuler) apakah terdapat tanda-tanda radang, sikatrik ataupun bekas operasi. Jika pada telinga
terdapat rasa nyeri, pengeluaran secret atau inflamasi, pemeriksa harus menarik aurikulus keatas
dank e bawah, menekan tragus dan menekan dengan kuat daerah tepat dibelakang daun telinga
tersebut.
Pemeriksaan Otoskop
Dengan menarik daun telinga ke atas dan ke belakang liang telinga akan menajdi lebih lurus dan
mempermudah untuk melihat keadaan liang telinga tengah dan membrane timpani. Pakailah
otoskop untuk dapat melihat membrane timpan dengan lebih jelas.
Bila terdapat serumen dalam liang telinga yang maka serumen ini harus dikeluarkan. Jika
konsistensinya cair maka dapat dikelurkan dengan kapas yang dililitkan, bila konsistensinya
lunak atau liat dapat dikeluarkan dengan pengait dan bila berbentuk lempengan dapat dipegang
dan dikeluarkan dengan pinset. Jika serumen ini sangat keras dan menyumbat seluruh telinga
maka lebih baik dilunakkan dulu dengan minyak atau karbogliserin. Bila sudah lunak atau cair
maka dapat dilakukan irigasi dengan air agar telinga menjadi bersih.

Lakukan inspeksi kanalis auditorius dengan memperhatikan setiap secret yang ada, benda
asing, kemeraan pada kulit, atau pembengkakan. Lakukan inspeksi membrane timpani,
perhatikan warna dan konturnya. Cone of light (pantulan cahaya berbentuk kerucut pada
membrane timpani yang terlihat ketika membrane tersebut disinari). Dengan hati-hati gerakkan
speculum sehingga dapat terlihat membrane timpani seluas-luasnya, termasuk pars flasida, yang
berada disebelah atas dan margo pars tensa. Cari setiap perforasi yang mungkin terdapat.
Tes Garpu Tala
Uji pendengaran dilakukan dengan menggunakan garputala dan dari pemeriksaan dapat
diketahui jenis ketulian apakah tuli konduktif atau tuli perseptif (sensorineural). Uji pendengaran
terdiri dari uji pendengaran Rinne, Weber dan scwabach.
1. Rinne
Uji Rinne dilakukan dengan cara menggetarkan garputala 512Hz dengan jari. Letakkan
dengan kuat ujung tangkai garpu tala yang bergetar pada tulang mastoideus. Ketika
pasien sudah tidak mendengar lagi bunyinya, cepat-cepat pindahkan garpu tala tersebut
didekat saluran telinga dan tanyakan apakah bunyinya masih terdengar atau tidak. Bla
masih terdengar disebut Rinne (+), bila tidak terdengar disebut Rinne (-). Normalnya
bunyi akan terdengar lebih lama lewat hantaran udara dibandingkan lewat hantaran tulang
(AC>BC).
2. Weber
Garpu tala digetarkan kemudian tangkainya diletakkan ditengah garis kepala (vertex, dahi,
tengah-tengah gigi seri atau dagu) penderita. Apabila bunyi garputala terdengar lebih keras
pada salah satu telinga disebut weber lateralisasi ke telinga tersebut. Bila tidak dapat
dibedakan kearah mana bunyi terdengar lebih keras dikatakan weber tidak ada lateralisasi.
3. Schwabach
Garpu tala digetarkan, kemudian tangkai garpu tala diletakkan pada processus mastoid
penderita, bila tidak terdengar lalu diletakkan pada processus pemeriksa atau sebaliknya.
Hasilnya dikatakan schwabach normal jika pemeriksa dan penderita sma-sama sudah tidak
mendengarnya.
Tes Rinne
Tes Weber
Tes Schwabach
Diagnosis
Positif
Tidak ada
Sama dengan
Normal
lateralisasi
pemeriksa
Negative
Lateralisasi ke
Memanjang
Tuli konduktif
telinga yang sakit
Positif
Lateralisasi ke
Memendek
Tuli sensorineural
telinga yang sehat

Sumber : Bickley, L.S, 2013, BATES: Buku Ajar Pemeriksaan Fisisk dan Riwayat Kesehatan,
Jakarta:EGC