Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fenomena sosial atau masalah sosial menurut Soerjono Soekanto adalah suatu
ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan dan masyarakat, yang membahayakan
kehidupan kelompok sosial.1 Fenomena sosial atau masalah sosial tediri dari beberapa
bentuk, yaitu masalah sosial dari faktor ekonomi (kemiskinan, pengangguran), masalah sosial
dari faktor biologi (penyakit menular), masalah sosial dari faktor psikologis (penyakit
kejiwaan, bunuh diri), dan masalah sosial dari faktor kebudayaan (pencurian, kenakalan
remaja).
Salah satu contoh lain masalah sosial dari faktor ekonomi adalah pemulung.
Pemulung merupakan pekerjaan memungut sampah maupun barang bekas warga untuk
kemudian di sortir dan dipilih barang bekas mana yang masih bisa dijual kepada pengumpul
atau di daur ulang, sedangkan sisanya akan dihancurkan di Tempat Penampungan Sementara
(TPS) atau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Indikator suatu hal dapat disebut
sebagai fenomena atau masalah sosial salah satunya adalah tidak adanya persesuaian antara
ukuran-ukuran dan nilai-nilai sosial dengan kenyataan-kenyataan serta tindakan-tindakan
sosial. Artinya, ada kepincangan-kepincangan antara anggapan-anggapan masyarakat tentang
apa yang seharusnya terjadi, dengan apa yang terjadi dalam kenyataan pergaulan hidup.
Pekerjaan pemulung merupakan jenis pekerjaan yang masih diperdebatkan kehadirannya di
masyarakat. Hal ini dikarenakan, dibalik pekerjaannya sebagai pemungut sampah atau barang
bekas, terdapat banyak hal yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan nilai-nilai atau
peraturan yang tumbuh di tengah masyarakat. Jika persoalan pemulung ini dibahas lebih
dalam, tentu akan didapatkan penjelasan serta pemecahan dari fenomena pemulung tersebut.
Di Banjarmasin, tidak sulit untuk menemukan pemulung. Hampir di setiap sudut kota
orang-orang yang bekerja sebagai pemulung dapat dijumpai. Keberadaan pemulung tidak
lepas dari banyaknya sumber pencaharian mereka, yaitu sampah. Sebagai kota yang pernah
mendapat predikat kota terkotor, sampah sudah menjadi hal yang paling sering dijumpai, baik
1

Sorjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003,
hal:358

itu sampah yang masih dapat didaur ulang maupun tidak. Sampah yang bagi masyarakat tidak
berguna lagi apabila masih dapat di daur ulang maka sama dengan uang bagi pemulung.
Sebenarnya, secara tidak langsung masyarakat memerlukan pemulung untuk
mengelola sampah, di mana bagi sampah yang masih dapat didaur ulang dapat benar-benar
terseleksi untuk kemudian diolah kembali. Sehingga, volume sampah yang harus dilebur atau
total dihancurkan oleh (TPST) berkurang. Hasil pengolahan daur ulang dari sampah maupun
barang bekas warga pun dapat dirasakan kembali oleh masyarakat di kemudian hari.
Namun, sayangnya keberadaan pemulung sering ditanggapi negatif oleh kebanyakan
masyarakat. Hal ini tidak salah. Pada kenyataanya, memang beberapa pemulung sering kali
bertindak semaunya pada saat memungut sampah, seperti ketika bekerja sebagai pemulung,
terkadang beberapa oknum menggunakan kesempatan untuk mengambil apa yang bukan
haknya. Tentu tindakan ini membuat resah masyarakat. Apalagi jika jumlah pemulung tidak
terkendali, kemungkinan pencurian dibalik identitas pemulung dikhawatirkan lebih marak
terjadi di masyarakat.
Penghasilan ekonomi yang menempatkan mereka di golongan ekonomi kebawah,
membuat pemulung turut dipandang sebelah mata dan berada di lapisan masyarakat bawah.
Ketidakmampuan dalam segi ekonomi bukanlah salah mereka, mereka hanya melakukan apa
yang dapat mereka lakukan. Akan tetapi masyarakat yang berada pada golongan menengah
ke atas senantiasa memberi label mereka adalah orang-orang yang malas sehingga mereka
miskin.
Kurangnya perhatian pemerintah kota terhadap keberadaan pemulung menambah
parah citra pemulung. Penanganan dari pemerintah terhadap keberadaan pemulung masih
terasa minim, padahal pemerintah adalah lembaga nomor satu yang perlu melakukan
pembinaan individu dan lingkungan sekitar tempat tinggal pemulung. Mereka yang tidak
mendapatkan pengarahan dari pemerintah tentu akan merasa apapun boleh mereka lakukan,
termasuk bertindak yang tidak semestinya.
Selain itu, jaminan kesejahteraan terhadap seluruh warga kota seolah-olah tidak untuk
mereka dan masyarakat miskin lainnya. Banyak pemulung yang mengeluhkan andil
pemerintah terhadap kesejahteraan mereka. Bagaimanapun juga mereka adalah warga kota
Banjarmasin yang seharusnya memperoleh perlindungan kesejahteraan mereka. Di sisi lain,
mereka juga memerlukan perhatian dan pengelolaan optimal terhadap bentuk dan lahan

pekerjaan mereka agar lebih terorganisir serta tidak mengganggu lingkungan masyarakat
seperti yang saat ini sering terjadi.
Saat ini, jumlah pemulung sudah begitu banyak, jika tidak dikendalikan tentunya akan
semakin banyak yang menjadikan pemulung sebagai pilihan pekerjaan terakhir yang dapat
mereka lakukan karena keterbatasan yang dimiliki. Keberadaan pemulung yang semakin
banyak perlu dibatasi agar keberadaanya sesuai dengan apa yang diperlukan oleh lingkungan
masyarakat. Jangan dibiarkan terus-menerus tanpa ada pengendalian lebih lanjut.
Fenomena sosial pemulung di kota Banjarmasin perlu dibahas lebih dalam agar
didapatkan penjelasan dan penanganan yang tepat. Pemulung memang hanya sebuah
pekerjaan, akan tetapi jika dikaji lebih dalam akan didapati berbagai masalah sosial yang
menyangkut orang banyak. Keberadaan pemulung di kota Banjarmasin perlu segera ditangani
agar tidak menjadi masalah di kemudian hari karena tidak terawasinya pemulung di kota
Banjarmasin.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang menyebabkan pekerjaan pemulung menjadi pilihan pekerjaan?
2. Bagaimanakah kehidupan dan keberadaan pemulung di tengah-tengah warga
Banjarmasin?
3. Apa saja permasalahan yang timbul dari keberadaan pemulung di kota Banjarmasin?
4. Apa saja dampak adanya pemulung bagi warga Banjarmasin?
5. Apa saja upaya yang telah dilakukan pemerintah kota Banjarmasin terhadap
pemulung di kota Banjarmasin?
6. Apa sajakah solusi yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat?

1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Mempelajari dan mengidentififkasi keberadaan pemulung di kota Banjarmasin.
2. Menganalisa masalah sosial yang berkaitan dengan keberadaan pemulung di kota
Banjarmasin.
3. Memahami kondisi kehidupan pemulung di kota Banjarmasin.
4. Mencari pemecahan terbaik terhadap masalah sosial yang terkait dengan keberadaan
pemulung di kota Banjarmasin.
1.4 Metode Penelitian

Dalam upaya untuk menghasilkan makalah ini, penulis menggunakan metode


wawancara langsung dengan dua orang pemulung yang dipilih secara acak di dua TPS
berbeda, yaitu TPS yang berada di Jalan Sultan Adam, Banjarmasin dan di TPS yang berada
di dekat Komp. Malkontemon, Banjarmasin.
Dalam wawanacara tersebut, ditanyakan kepada narasumber mengenai kegiatan
mereka, penghasilan, dan tanggapan mereka tentang peran pemerintah terhadap mereka. Dari
hasil wawancara tersebut ditemukan fakta-fakta yang kemudian dideskrisipsikan ke dalam
makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pemulung dalam Masalah Sosial


Masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh setiap masyarakat manusia tidaklah sama
antara yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan
tingkat perkembangan kebudayaan dan masyarakatnya, dan keadaan lingkungan alamnya di
mana masyarakat itu hidup. Masalah-masalah tersebut dapat terwujud sebagai masalah sosial,
masalah moral, masalah politik, masalah ekonomi, masalah agama, ataupun masalah-masalah
lainnya.2
Yang membedakan masalah-masalah sosial dari masyarakat masalah lainnya adalah
bahwa masalah-masalah sosial selalu ada kaitannya yang dekat dengan nilai-nilai moral dan
pranta-pranata sosial, serta selalu ada kaitannya dengan hubungan-hubungan manusia dan
dengan konteks-konteks normative di mana hubungan-hubungan manusia itu terwujud
(Nisbet, 1961).3
Pengertian masalah sosial ada dua pengertian:
1. Menurut umum atau warga masyarakat bahwa segala sesuatu yang menyangkut
kepentingan umum adalah masalah sosial.
2. Menurut para ahli masalah sosial adalah suatu kondisi atau perkembangan
yangterwujud dalam masyarakat yang berdasarkan atas studi mereka mempunyai sifat
yang dapat menimbulkan kekacauan terhadap kehidupan warga masyarakat secara
keseluruhan.4
Menurut definisi pertama, pemulung bukan masalah sosial, karena di satu pihak para
pemulung tersebut dapat memperoleh nafkah untuk dapat melangsungkan kehidupannya, dan
di lain pihak masyarakat sendiri secara tidak langsung dapat menerima manfaat dari hasil
daur ulang barang bekas pungutan pemulung, sebaliknya para ahli perencaan kota, ahli
sosiologi dan ahli antropologi akan menyatakan bahwa pemulung menjadi sumber utama dari
suatu kondisi di mana kejahatan seperti pencurian dengan mudah dapat terjadi.
Berdasarkan pengertian di atas, maka masalah-masalah sosial ini pengertiannya
terutama ditekankan pada adanya kondisi atau sesuatu keadaan tertentu dalam kehidupan
sosial warga masyarakat yang bersangkutan. Kondisi atau keadaan sosial tertentu, sebenarnya
merupakan proses hasil dari proses kehidupan manusia yang berusaha untuk memenuhi
2
3
4

Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar, Jakarta:PT. Rineka Cipta, 2003, hal:12
Ibid.
Ibid.

kebutuhan-kebutuhan jasmaniahnya (manusia harus makan, minum, buang air, bernafas, dan
sebagainya), kebutuhan-kebutuhan sosial (berhubungan dengan orang lain, membutuhkan
bantuan orang lain untuk memecahkan berbagai masalah, dan sebagainya) dan kebutuhankebutuhan kejiwaan (untuk dapat merasakan aman dan tenteram, membutuhkan cinta kasih
dan sayang, dan sebagainya).5
Sebenarnya masalah sosial merupakan hasil dari proses perkembangan masyarakat.
Artinya, problema tadi memang sewajarnya timbul, apabila tidak diinginkan adanya
hambatan-hambatan terhadap penemuan-penemuan baru atau gagasan baru.6 Perkembangan
masyarakat yang begitu pesat bisa saja menyebabkan keterbatasan dalam berbagai hal.
Seseorang menjadi pemulung dapat pula disebabkan karena itulah satu-satunya hal yang
dapat mereka lakukan. Keberadaan sampah maupun barang bekas warga kota yang banyak
secara tidak langsung membutuhkan orang-orang yang bekerja sebagai pemulung untuk
memungutnya agar jumlah sampah atau barang bekas yang ditimbun tidak semakin
bertambah.
Pemulung bisa menjadi masalah sosial ketika pekerjaan tersebut meresahkan
masyarakat karena pekerjaannya yang semaunya, tidak sesuai dengan peraturan kebersihan di
lingkungan masyarakat setempat. Menjadi masalah sosial yang lebih besar di masyarakat
ketika pekerjaan pemulung tersebut berubah menjadi tindakan kriminal pencurian.
Masalah sosial sendiri tidak hanya ada pada hubungan antara pemulung dengan
masyarakat, melainkan juga terdapat pada pemulung itu sendiri. Di mana taraf kehidupan
pemulung masih di bawah standar kehidupan yang layak. Hal ini menjadi masalah sosial baru
yaitu berupa kemiskinan. Kemiskinan dan pemulung merupakan dua hal yang identik. Sulit
menemukan pemulung dengan penghasilan yang mencukupi untuk menghidupi ia dan
keluarganya. Pemulung masih memerlukan penanganan pihak terkait agar terlepas dari
kemiskinan.
Yang kemudian dikhawatirkan adalah apabila pemulung menjadi pekerjaan yang
semakin banyak dipilih sebagai alternatif oleh masyarakat karena tidak memiliki pekerjaan
lain. Keterampilan dan kemampuan masyarakat harus terus ditingkatkan agar mereka tidak
menjadikan pemulung sebagai pilihan pekerjaan satu-satunya. Jika jumlah pemulung semakin

5
6

Ibid, hal.13-14
Soerjono, Op.Cit., hal. 358

banyak, kemungkinan persaingan antar pemulung semakin ketat dan jika terus terjadi
masalah bentuk persaingan baru akan lahir dari komunitas pemulung itu sendiri.
Masalah sosial lain adalah tidak adanya batasan usia bagi siapa pun yang ingin jadi
pemulung. Hal ini menyebabkan anak-anak di bawah umur terkadang harus berprofesi
sebagai pemulung mengikuti orang tuanya. Kondisi ini tentu tidak akan baik bagi
perkembangan anak tersebut. Pekerjaan pemulung seolah-olah menjadi pekerjaan turunmenurun. Memperkenalkan pekerjaan pemulung dan menjadikan anak-anak di bawah umur
sebagai pemulung hanya akan memperburuk perkembangan dan pertumbuhan mereka ke
depannya. Hal ini pula yang turut menyumbang jumlah pemulung tidak pernah habis dari
tahun ke tahun.
2.2 Pemulung di Kota Banjarmasin
Berapa orang yang menjadi pemulung di Banjarmasin memang sulit untuk ditentukan
dengan pasti jumlahnya. Hal ini disebabkan karena pemulung di Banjarmasin terbagi menjadi
dua jenis, yaitu pemulung yang dibawahi pengumpul dan pemulung lepas. Pemulung yang di
bawahi pengumpul akan menyerahkan hasil pungutannya berupa sampah maupun barang
bekas yang masih bisa di daur ulang kepada pengumpul dan tinggal bersama dengan
pemulung-pemulung lainnya di satu tempat yang disediakan pengumpul atau bandar.
Sedangkan pemulung lepas adalah pemulung yang bekerja atas keinginannya sendiri dan
tidak terikat dengan pengumpul tertentu serta tidak tinggal tempat yang disediakan
pengumpul. Pemulung lepas inilah yang sulit dipantau. Mereka bekerja berdasaran
keinginannya sendiri. Ada yang menjadikannya sebagai pekerjaan utama dan ada yang
menjadikannya pekerjaan sampingan. Tetapi dari yang dilihat di lapangan, jumlah pemulung
di kota Banjarmasin tidak juga mengalami pengurangan.
Pekerjaan pemulung di kota Banjarmasin dilakukan oleh kaum pria dan wanita
bahkan anak-anak. Mereka memungut sampah maupun barang bekas pada TPS/TPST di kota
Banjarmasin atau memungut langsung sampah-sampah warga dari rumah ke rumah.
Biasanya, pemulung yang memungut sampah di TPS/TPST hanya memungut sampah di
TPS/TPST tertentu yang telah terbagi secara tidak langsung dalam komunitasnya sendiri dan
bekerja dengan sistem kelompok serta pada jam-jam tertentu sesuai dengan ketentuan di TPS/
TPST tersebut.

Pemulung di kota Banjarmasin, dari hasil wawancara, rata-rata bekerja pada sore hari
mulai dari jam 3 sore sampai jam 6 sore. Adapun yang berprofesi sekaligus penjaga TPS
bekerja dari pagi sampai sore. Di saat bekerja terkadang dari mereka mengajak anak mereka
untuk menemani sambil sesekali membantu orang tuanya. Meskipun sifatnya membantu,
yang ditakutkan adalah anak mereka secara sengaja maupun tidak sengaja terarahkan menjadi
pemulung sehingga orientasi masa depannya adalah pemulung. Jika orientasi anak-anak
tersebut kepada pemulung maka tidak akann ada perkembangan masa depan yang baik bagi
mereka. Ketika mereka dewasa, mereka akan merasa tidak perlu untuk mencari pekerjaan
yang lebih layak daripada pemulung. Selain itu, ditakutkan mereka tidak mencari
keterampilan lain sebagai penunjang pekerjaan lain yang lebih baik karena merasa sudah
cukup hanya menjadi pemulung.
Pemulung dan Kemiskinan
Pemulung sendiri di mata masyarakat Banjarmasin masih dipandang sebelah mata.
Mereka ditempatkan pada lapisan masyarakat bawah. Lapisan-lapisan masyarakat ditentukan
oleh empat faktor yaitu: (1) ukuran kekayaan, (2) ukuran kekuasaan, (3) ukuran kehormatan,
dan (4) ukuran ilmu pengetahuan. Ukuran kekayaan merupakan alasan utama dalam
menempatkan pemulung berada pada lapisan masyarakat bawah. Tidak dapat disanggah
memang sebagian besar pemulung di kota Banjarmasin masih tergolong rakyat miskin.
Suparlan (1981) menyatakan kemiskinan adalah sebagai suatu standar tingkat hidup
yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan
orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang
bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini secara langsung nampak pengaruhnya
terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moral dan rasa harga diri dari mereka yang
tergolong sebagai orang miskin.7
Klasifikasi atau penggolongan seseorang atau masyarakat itu dikatakan miskin,
ditetapkan dengan menggunakan tolok ukur yang umumnya dipakai adalah: (1) tingkat
pendapatan, (2) kebutuhan relatif. Di Indonesia, tingkat pendapatan digunakan ukuran waktu
kerja sebulan. Dengan adanya tolak ukur ini, maka jumlah dari siapa yang tergolong sebagai
orang miskin dapat diketahuinya. Tolak ukur yang telah dibuat dan digunakan di Indonesia

Abu, Op.Cit, hal. 326

untuk menentukan besarnya jumlah orang miskin adalah batasan tingkat pendapatan per
waktu kerja (Rp. 30.000, - perbulan atau lebih rendah) yang dibuat pada tahun 1976/1977.8
Dari data yang diperoleh, pendapatan pemulung yang diwawancari sekitar 150.000
per minggu dengan 2 jam kerja yang berarti hanya memperoleh sekitar 11.000 perjamnya.
Jika dimasukkan dalam perhitungan sebelumnya, maka dapat diperoleh hasil bahwa
pemulung di kota Banjarmasin masih dalam kategori miskin.
Tolak ukur yang lain ialah yang dinamakan tolak ukur kebutuhan relatif per keluarga,
yang batasan-batasanya dibuat berdasarkan atas kebutuhan minimal yang harus dipenuhi
guna sebuah keluarga dapat melangsungkan kehidupannya secara sederhana tapi memadai
sebagai warga masyarakat yang layak. Tercakupnya tolak ukur ini adalah kebutuhankebutuhan yang berkenaan dengan biaya dewa rumah dnegan peralatan rumah tangga yang
sederhana tapi memadai, biaya untuk memelihata kesehatan dan untuk pengobatan, biaya
untuk menyekolahkan anak-anak, biaya untuk sandang dan pangan sederhana tetapi
mencukupi dan memadai.9
Jika dilihat dari penghasilan yang diperoleh dari memulung dan fakta yan terlihat di
lapangan, dapat dilihat pemulung-pemulung di Banjarmasin sebagian besar tidak dapat
mencukupi kebutuhan ia dan keluarganya. Bahkan untuk memenuhi kebutuhannya, sebagian
dari mereka mencari penghasilan tambahan, misalnya sebagai penyapu jalanan. Penghasilan
tersebut jika dibanding dengan harga kebutuhan primer yang semakin mahal tentu tidak
seimbang. Dari biaya pangan, sandang, dan papan sampai biaya kesehatan dan sekolah tidak
akan cukup, terkecuali dengan batuan pihak lain. oleh karena itu, terdapat harapan dari
pemulung agar kesejahteraan mereka diperhatikan oleh pemerintah kota. Diharapkan
pemerintah mengambil bagian dalam usaha penorganisasian pekerjaan mereka, baik itu
berupa pengelolaan gaji untuk mereka atau dalam bentuk bantuan lain berupa jaminan
kesehatan dan pendidikan bagi anak-anak mereka.
Pemulung dan Tindak Kriminal
Hidup di bawah garis kemiskinan tentulah tidak nyaman, apalagi jika ditambah
dengan tekanan untuk memenuhi kebutuhan yang terus-menerus terjadi. Kemiskinan memang
hal yang paling rentan menyebabkan seseorang melakukan tindakan kriminal. Hal ini terjadi
pada sebagian pemulung.
8
9

Ibid, hal. 327


Abu, Op.Cit., hal.328

Di kota Banjarmasin sering terjadi pencurian yang dilakukan oleh pemulung.


Pemulung yang biasanya mencuri ini adalah pemulung lepas yang memulung dari rumah ke
rumah. Oknum akan pura-pura mencari barang bekas yang masih bisa didaur ulang. Di saat
masyarakat lengah dengan rumahnya, oknum ini segera masuk dan mengambil barang-barang
pemilik rumah. Barang-barang curian tersebut dimasukkan ke dalam karung, seolah-olah
barang bekas pungutan dari warga. Tentu sulit untuk membedakan antara barang pungutan
denan barang curian karena semua barang yang oknum tempatkan di gerobak biasanya
terbungkus dalam karung. Inilah yang menjadi cara pemulung untuk mengalihkan perhatian
masyarakat.
Pemulung yang menjadi oknum ini jika diperhatikan benar-benar akan terlihat ciricirinya. Ciri-ciri yang paling jelas adalah oknum akan menutup wajahnya dengan kain agar
wajahnya tidak terlihat saat beroperasi. Sehingga jika terlihat pemulung yang menutup
wajahnya, maka mereka perlu diwasapadai.
Tindakan kriminal inilah yang menyebabkan warga Banjarmasin merasa risih dengan
keberadaan pemulung di sekitar mereka. Masyarakat menjadi takut apabila pemulungpemulung tersebut mencuri barang-barang di rumah mereka. Salah satu bentuk ketidaksukaan
masyarakat atas keberadaan pemulung adalah dengan adanya larangan masuk lingkungan
tempat tinggal warga yang dikeluarkan oleh pihak RT atau RW dengan tulisan PEMULUNG
DILARANG MASUK. Sebenarnnya larangan ini bukan sebagai penolakan terhadap
pemulung, namun sebagai bentuk kewaspadaan masyarakat terhadap keberadaan pemulung.
Apa yang dilakukan masyarakat dapat disebut dengan prasangka. Prasangka awalnya
hanya menyangkut dua orang, namun lama-kelamaan meluas dan menajalar pada masyarakat
yang lain. Pencurian yang dilakukan oleh oknum pemulung tidak terjadi pada semua
masyarakat, hanya beberapanya saja. Akan tetapi prasangka itu menyebar ke masyarakat lain
sehingga dibentuklah peraturan dari masyarakat.
Prasangka sebagai suatu sikap tidaklah merupakan wawasan dasar dari individu
melainkan merupakan hasil proses interaksi antar individu atau golongan. Atau lebih tepat
kalau prasangka itu merupakan hasil proses belajar dan pengenalan individu dalam
perkembangannya. Pada prinsipnya seseorang akan bersikap tertentu terhadap orang lain atau
terhadap suatu kelomppok apanila ia telah memiliki pengetahuan itu tidak dapat kita pastikan
apakah bersifat positif atau negatif. Pengetahuan itu akan membuat seseorang atau satu

kemlompok berpersepsi, berpikir dan merasa terhadap obyek tertentu. Dari sinilah lahirnya
suatu sikap sikap dalam bentuk tingkah laku yang cenderung negatif.10
Tindakan masyarakat memang tidak berlebihan. Namun, desakan ekonomi dan
kebutuhan mereka juga perlu dipahami menjadi alasan mereka, para oknum, melakukan itu.
Meskipun memang, tidak dapat dihindari kemungkinan sikap kriminal itu kemungkinan juga
berasal dari individu itu sendiri yang sudah terbiasa mencuri.
Tindakan kriminal maupun kejahatan mudah tumbuh dalam lingkungan masyarakat
ekonomi ke bawah. Di lingkungan tempat tinggal pemulung, terutama di daerah kumuh,
tindakan kriminal tumbuh dan berkembang dengan sendirinya dan dipelajari oleh masyarakat
sekitarnya dengan spontan. Faktor lingkungan yang keras dan identik dengan kejahatan,
apabila tidak ditanggulangi pada akhirnya akan membentuk karakter individu yang keras dan
jahat pula. Pada dasarnya pemulung bukanlah penjahat atau pencuri. Mereka adalah orangorang yang bekerja dan mengerti caranya mencari uang dengan cara yang baik. Namun,
faktor internal berupa ekonomi dan faktor eksternal berupa pengaruh dari luar yang
mengajarkan cara memperoleh uang lebih cepat tetapi salah, membuat mereka tergoda.
Seperti yang diungkapkan oleh Muchtar Lubis bahwa salah satu tipe masyarakat Indonesia
adalah tidak suka bekerja keras, kecuali terpaksa. Peryataaan ini telah menyiratkan bahwa
orang Indonesia lebih suka cara pintas untuk mendapatkan sesuatu. Namun kemudian tipe itu
bisa dikendalikan dengan sikap jujur dan berbudi. Termasuk ke dalamnya, pemulung. Hanya
saja pemulung yang menjadi oknum tersebut tidak dapat mengendalikannya dengan kejujuran
dan budi.
Penyebab Adanya Pemulung
Sampah dan barang bekas merupakan sumber penghasilan utama pemulung. Selagi
masih ada sampah dan barang bekas yang masih bisa diolah kembali, maka pemulung akan
tetap ada. Ada beebrapa hal yang membuat seseorang akhirnya bekerja sebagai pemulung,
yaitu:
1. Keterampilan yang minim.
Untuk memperoleh pekerjaan, keterampilan memang menjadi suatu hal yang wajib.
Tanpa keterampilan, seseorang tidak akan bisa menghasilkan sesuatu. Keterampilan
sebenarnya bisa dicari dan dipelajari. Tidak harus berasal dari bakat turunan. Rata-rata
10

Ibid, hal. 272

mereka yang menjadi pemulung memang tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk
mendapatkan pekerjaan atau membuat pekerjaan baru.
Jika dilihat, menjadi pemulung sepertinya tidak memerlukan keterampilan khusus.
Hanya perlu bisa membedakan mana sampah atau barang bekas yang bisa dijual kepada
pengumpul dan mana yang tidak. Inilah mungkin yang membuat pekerjaan pemulung terlihat
mudah. Modal menjadi pemulung hanyalah rasa tidak malu dan keberanian menghadapi
kerasnya lingkungan pemulung itu sendiri. Sebab, terkadang lingkungan pemulung itu sama
kerasnya dengan jalanan. Banyak persaingan yang terjadi di sana.
Seandainya, pemulung-pemulung tersebut mendapatkan pembinaan keterampilan
mungkin saja mereka akan berhenti menjadi pemulung dan mendapatkan perkerjaan yang
lebih layak. Walaupun pembinaan tidak mudah dilakukan kepada mereka, karena sebagian
dari mereka telah merasa hidup nyaman dengan pekerjaan pemulung. Tidak perlu kerja berat
bisa mendapatkan uang. Tetap saja pemulung tidak akan memberikan penghidupan yang
lebih baik bagi mereka ke depannya.
2. Kurangnya tingkat pendidikan.
Keterampilan yang minim sebenarnya memiliki garis lurus dengan tingkat pendidikan
yang kurang. Dari wawancara yang dilakukan, pemulung di Banjarmasin sebagiannya hanya
lulusan sekolah dasar. Sekolah dasar bukanlah tingkat pendidikan yang cukup untuk bisa
memperoleh pekerjaan. Di zaman sekarang untuk bisa mendapatkan pekerjaan minimal
pendidikan adalah sekolah menengah atas. Karena itu, mereka yang tidak berpendidikan
tinggi mau tidak mau hanya bisa bekerja seadanya, termasuk menjadi pemulung. Setidaknya
menjadi pemulung tidak memerlukan latar belakang pendidikan.
Tingkat pendidikan yang diperoleh, jika dilihat saat ini, memang tidak dapat lagi
diubah. Sudah terlanjur terjadi di masa dulu. Yang dapat mereka lakukan untuk memperoleh
kehidupan yang lebih baik sekarang adalah dengan menambah keterampilan mereka di
lembaga pendidikan nonformal yang disediakan oleh pemerintah, misalnya melalui Tim
Penggerak PKK pada tingkat kelurahan bagi pemulung-pemulung wanita. Keterampilan
yang diperoleh mereka dari pendidikan nonformal tentunya akan membantu mereka untuk
mencari pekerjaan di tempat yang lain yang lebih layak.
3. Lingkungan yang mengajarkan

Lingkungan merupakan faktor eksternal yang menyebabkan seseorang menjadi


pemulung. Sejak kecil tinggal di daerah pemulung, terbiasa dengan kehidupan pemulung,
mendengar pendapat orang lain bahwa pemulung adalah pekerjaan yang mudah, secara tidak
langsung akan menstimulus seseorang untuk ikut melakukan hal yang sama. Apalagi jika
seseorang tersebut tidak memiliki keterampilan dan latar belakang yang cukup untuk mencari
pekerjaan yang lain.
Keluarga juga menjadi faktor lingkungan yang dapat membentuk diri seseorang. Bagi
anak yang hidup di keluarga pemulung, di mana orangtuanya tidak dapat memenhi kebutuhan
sekolahnya sampai tinggi, kebanyakan akan melakukan pekerjaan yang tidak jauh dari apa
yang orangtuanya kerjakan. Menurut Drs. Soewaryo Wangsanegara, salah satu fungsi
keluarga adalah pembentukan kepribadian; dalam lingkungan keluarga, para orang tua
meletakkan

dasar-dasar

kepribadian

kepada

anak-anaknya,

dengan

tujuan

untuk

memproduksikan serta melestarikan kepribadian mereka dengan anak cucu dan keturuan
mereka. Seperti pada umumnya, anak-anak akan bercita-cita seperti apa yang ayahnya
lakukan. Bagi anak-anak pemulung, peluang itu ada. Mereka secara tidak sadar juga akan
menginginkan untuk bekerja seperti ayahnya, karena itulah yang mereka lihat sehari-hari.
Ditambah dengan lingkungan rumah mereka yang juga rata-rata menjadi pemulung.
Meskipun, itu hanyalah keinginan pada seorang anak kecil, namun apabila dibiarkan akan
memperngaruhi ke masa depannya.
Selain itu, keluarga juga berfungsi sebagai pusat pengasuhan dan pendidikan. Anakanak pemulung mendapatkan pendidikan informal dari keluarganya tentang cara memulung.
Pendidikan informal ini diperoleh anak-anak ketika anak-anak tersebut ikut orangtuanya
membantu memungut sampah ketika bekerja. Di saat itulah ada mereka terpengaruh untuk
melakukan hal yang sama.
Anak-anak yang menjadi pemulung juga dapat disebabkan karena permintaan
orangtuanya. Demi mencukupi kebutuhan keluarga, anak-anak tersebut terpaksa ikut
memulung dan memperoleh uang dari hasil memulung untuk diberikan kepada orang tuanya.
Intinya, kepribadian dan orientasi seseorang akan tergantung pada lingkungan tempat
ia tinggal dan berkembang. Apa yang ia lihat, ia dengar dan ia rasakan ikut berperan dalam
menentukan kepribadian individu dan ikut andil dalam memperngaruhi keputusan seseorang.
4. Penghasilan Tambahan

Selain dijadikan pekerjaan utama, sebagian pemulung di Banjarmasin ada yang


menjadikan pemulung sebagai pekerjaan untuk mencari penghasilan tambahan. Mereka ini
kebanyakan adalah pemulung lepas. Mereka yang menjadikan pemulung sebagai pekerjaan
sampingan umunya karena pekerjaan utama mereka tidak mencukupi untuk kebutuhan seharihari. Pekerjaan utamanya pun sebenarnya bukan pula termasuk pekerjaan yang bisa dijadikan
pegangan. Misalnya, pekerjaan pembantu rumah tangga. Bagi ibu-ibu yang menjadi
pembantu rumah tangga dan merasa tidak cukup dengan penghasilannya, setelah selesai dari
pekerjaan membantu rumah tangga, sore harinya mereka bisa saja memulung di TPS/TPST,
tetapi jarang memulung dari rumah ke rumah.

2.3 Peran Pemerintah Terhadap Pemulung


Sampai saat ini peran aktif Pemerintah Kota terhadap pengelolaan pemulung di kota
Banjarmasin belum terasa. Dalam Perda Kota Banjarmasin No 21 tahun 2011 tentang
Pengelolaan Persampahan/Kebersihan dan Pertamanan tidak mnegatur tentang keberadaan
pemulung. Dalam Perda tersebut hanya dibahas mengenai pengelolaan sampah yang
dilakukan secara bersama oleh masyarakat dengan pengarahan pemerintah.
Keberadaan pemulung di kota Banjarmasin sudah semestinya di bawah pengawasan
pemerintah. Keberadaan pemulung di kota Banjarmasin harus bisa dikelola Pemerintah Kota
melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan agar tidak terjadi over quantity dan pekerjaannya
menjadi teratur di tengah-tengah masyarakat.
Melakukan pengaturan terhadpa pemulung di kota Banjarmasin memang terlihat sulit,
apalagi keberadaan mereka yang menyebar. Akan tetapi, memalui TPS/TPST pemerintah bisa
melakukan pengaturan tahap awal kepada pemulung-pemulung tersebut agar pemulungpemulung tidak bekerja secara sembarangan yang hanya akan menyebabkan keluhan kepada
masyarakat.
Pembinaan terhadap pemulung secara khusus juga belum diberikan oleh Pemkot.
Pemulung sampai saat ini masih mendapatkan pembinaan sebagai warga miskin kota
Banjarmasin. Termasuk pula jaminan kesejahteraan dan kesehatan, pemulung termasuk dalam
program jaminan kesejahteraan dan kesehatan bagi rakyat miskin. Padahal resiko terkena
penyakitna lebih besar karena dekat dengan sampah. Pembinaan yang tidak terspesialisasi
menyebabkan pembinaan yang diberikan tersebut tidak menyentuh pekerjaan pemulung
secara lebih dalam. Pemulung semestinya perlu mendapat pembinaan bagaimana cara mereka

bekerja. Bagaimana kemudian yang seharusnya mereka lakukan ketika memungut sampah di
TPS/TPST atau dari sampah-sampah warga.
Selain pembinaan kerja, pembinaan kepribadian juga perlu diberikan kepada mereka.
Mengingat kekhawatiran masyarakat atas tindakan pencurian yang dilakukan pemulung,
Pemkot harus bisa memberikan pengarahan agar kejadian tersebut tidak terjadi kembali. Jika
dilihat pada kasus ini, peraturan daerah tentang cara kerja pemulung sepertinya perlu
dibentuk. Perlu ada peraturan yang mengatur jam kerja pemulung, siapa saja yang boleh
menjadi pemulung (termasuk di dalamnya batasan usia), daerah mana saja yang boleh
menjadi wilayah kerja pemulung, dan sanksi apa yang diberikan jika terjadi pelanggaran.
Pembinaan kepribadian juga sebenarnya dapat memperbaiki citra pemulung di
masyarakat. Apabila program itu berhasil maka masyarakat tidak perlu takut lagi terhadap
keberadaan pemulung. Pemulung pun lebih terarah dan tidak lagi bertindak semaunya.
2.4 Dampak Keberadaan Pemulung
1.5.1 Dampak Positif
Sebenarnya, secara tidak langsung masyarakat memerlukan pemulung untuk
mengelola sampah, di mana bagi sampah yang masih dapat didaur ulang dapat benar-benar
terseleksi untuk kemudian diolah kembali. Hasil pengolahan daur ulang dari sampah maupun
barang bekas warga pun dapat dirasakan kembali manfaatnya oleh masyarakat di kemudian
hari. Selain itu, pemulung juga merupakan komponen masyarakat yang mempunyai peranan
besar dalam masalah penyelamatan lingkungan. Mereka, memilah-milah sampah, sehingga
benda-benda yang dianggap sampah oleh masyarakat dapat dimanfaatkan kembali melalui
proses daur ulang sampah. Dengan demikian, volume sampah yang menggunung dan yang
harus dilebur atau dihancurkan oleh (TPST) berkurang.

1.5.2 Dampak Negatif


Keberadaan pemulung sering ditanggapi negatif oleh kebanyakan masyarakat. Hal ini
tidak salah karena pada kenyataanya, memang beberapa pemulung sering kali bertindak
semaunya pada saat memungut sampah, seperti ketika bekerja sebagai pemulung, terkadang
beberapa oknum menggunakan kesempatan untuk mengambil apa yang bukan haknya. Tentu
tindakan ini membuat resah masyarakat. Apalagi jika jumlah pemulung tidak terkendali,

kemungkinan pencurian dibalik identitas pemulung dikhawatirkan lebih marak terjadi di


masyarakat. Selain itu, hampir di semua TPS di kota Banjarmasin, sering kita temui
pemulung yang mengacak-acak dan membuka bungkusan sampah, hal ini tentu sangat
menganggu pengguna jalan, karena sampah-sampah tersebut berserakan di pinggir jalan
bahkan hampir mamakan separuh badan jalan. Bahkan, ketakutan penyakit yang
menghampiri mereka karena selalu berada dilingkungan yang kotor itu membawa penyakit,
juga tumpukan sampah yang diacak-acak mengeluarkan bau yang tidak sedap.
2.5 Solusi Terhadap Keberadaan Pemulung di Kota Banjarmasin
Pemerintah provinsi Kalimantan Selatan hendaknya berinisiatif memberikan pembinaan yang
sasarannya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup dan menjamin masa depan yang baik.
Misalnya para pemulung diajarkan membuat kerajinan tangan atau sesuatu yang bisa
dihasilkan dari barang bekas plastik dan sebagainya agar menjadi suatu barang ekonomi.
Sehingga selain menjadi pemulung, mereka juga menjadi produsen.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Profesi pemulung sangat dibutuhkan karena mereka aset utama industri daur ulang,
pengurai limbah plastik, hingga sebagai profesi atas minimnya lapangan pekerjaan. Limbah
plastik semakin hari semakin bertambah, bukan semakin berkurang. Jika dibiakan dalam
jangka panjang, sampah-sampah itu akan berubah menjadi bencana alam seperti banjir,
rusaknya ekosistem tanah, dan lainnya. Dengan demikian, sebenarnya tidak ada alasan untuk
mengurangi atau meniadakan keberadaan pemulung. Meski sikap hati-hati terhadap
pemulung-pemulung yang nakal adalah wajar.
Sekecil apapun itu, pemulung sangat berperan aktif dalam menggerakkan dan
memberdayakan ekonomi masyarakat kecil.

LAMPIRAN
Berikut kutipan wawancara yang kami lakukan terhadap beberapa pemulung di kota
Banjarmasin:
A. TPS Malkon Temon (Ibu Elin, 32 tahun)
Penanya

: Apa alasan Anda bekerja sebagai pemulung?

Narasumber

: Saya bekerja sebagai pemulung hanya sebagai sambilan untuk tambahan


uang belanja, di samping sebagai Ibu Rumah Tangga.

Penanya

B. (Bapak Mualid, 45 tahun)


Penanya

: Apa alasan anda bekerja sebagai pemulung?

Narasumber

: Saya penjaga TPS ini, bukan pemulung.

Penanya

: Sudah berapa lama anda bekerja sebaga penjaga TPS?

Narasumber

: 3 bulan

Penanya

: Berapa pendapatan perbulan anda?

Narasumber

: Tujur ratus lima puluh ribu perbulan

Penanya

: Berapa jam waktu kerja anda?

Narasumber

: Dari jam enam sampai jam delapan

Penanya

: Apakah ada profesi lain selain sebagai penjaga TPS?

Narasumber

: Ada, mengangkut sampah dari kampung-kampung dan tukang sapu di Pasar


Lama

Penanya

: Alasan anda bekerja sebagai penjaga TPS?

Narasumber

: Karena saya sudah lama tinggal disini.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Marzali, Amri. 2005. Antropologi dan Pembangunan Indonesia. Jakarta: Prenada Media.
Peraturan Daerah No. 21 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Persampahan/Kebersihan dan
Pertamanan Kota Banjarmasin.
Soekanto, Soerjono. 2003. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.