Anda di halaman 1dari 40

FORMULASI SEDIAAN STERIL

DEFENISI
Sediaan steril yaitu sediaan terapetis yang bebas mikroroganisme baik vegetatif atau bentuk
sporanya baik patogen atau nonpatogen.
Produk steril adalah sediaan terapetis dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas dari
mikroorganisme hidup.
Sediaan parenteral ini merupakan sediaan yang unik diantara bentuk obat terbagi-bagi, karena
sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa kebagian dalam tubuh. Karena
sediaan mengelakkan garis pertahanan pertama dari tubuh yang paling efisien, yakni
membran kulit dan mukosa, sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari
komponen toksik dan harus mempunyai tingkat kemurnian tinggi dan luar biasa. Semua
komponen dan proses yang terlibat dalam penyediaan produk ini harus dipilih dan dirancang
untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi secara fisik, kimia atau mikrobiologi
Sediaan steril secara umum adalah : sediaan farmasi yang mempunyai kekhususan sterilitas
dan bebas dari mikroorganisme
Sterilitas khusus ini disebabkan :
Metode, tempat atau saluran pemberiannya
Yang termasuk dalam sediaan steril antara lain sediaan parenteral volum besar, sediaan
parenteral volum kecil (injeksi), sediaan mata (tetes/salep mata)
INDIKASI UMUM
Berdasarkan penggunaan
a. Injeksi
Suatu larutan obat dalam pembawa yang cocok dengan atau tanpa bahan tambahan yang
dimaksudkan untuk penggunaan parenteral
b. Cairan Infus
Merupakan injeksi khusus karena cara pemberiannya dan volumenya besar Berguna untuk :
1. Nutrisi dasar, contoh : infus dekstrosa
2. Perbaikan keseimbangan elektrolit, contoh : infus ringer mengandung ion Na+, K+, Ca2+
dan Cl3. Pengganti cairan tubuh, contoh iInfus dekstrosa dan NaCl
4. Membantu diagnosis, contoh untuk penentuan fungsi ginjal : injeksi mannitol
c.

Radiopharmaceutical
Suatu injeksi yang mengandung bahan radioaktif. Berfungsi untuk diagnosis dan pengobatan
dalam jaringan organ. Pembuatan dan penggunaannya berbeda dengan bahan obat biasa (non
radioaktif)

d. Zat Padat Kering Atau Larutan Pekat


Bahan yang tidak stabil dalam bentuk cair/lrt disimpan dalam bentuk zat padat kering yang
dilarutkan pada waktu akan digunakan. _ Jika bahan padat kering tidak mengandung dapar,
pengencer atau zat tambahan lain, dan bila ditambah pelarut lain yang sesuai, memberikan
larutan yang memenuhi semua aspek persyaratan untuk obat suntik. Sediaan diberi label obat
steril.
Contoh : Ampicillin Sodium Steril
Jika bahan padat kering mengandung satu atau lebih, dapar, pengencer atau zat tambahan
lain, sediaan diberi label obat suntik/injeksi. Contoh : Amphotericin B Injeksi

e.

Larutan Irigasi
Persyaratan seperti larutan parenteral
Dikemas dalam wadah volume besar dengan tutup dapat berputar
Digunakan untuk merendam luka/mencuci luka, sayatan bedah atau jaringan/organ tubuh
Diberi label sama seperti injeksi.
Contoh : Sodium chlorida untuk irigasi, Ringers untuk irigasi, Steril water untuk irigasi
Label/etiket : bukan untuk obat suntik
f. Larutan Dialisis
Untuk menghilangkan senyawa-senyawa toksis yang secara normal disekresikan oleh ginjal.
Pada kasus keracunan atau gagal ginjal atau pada pasien yang menunggu transplantasi ginjal,
dialysis adalah prosedur darurat untuk menyelamatkan hidup. Dialisis adalah proses, dimana
senyawa-senyawa dapat dipisahkan satu dengan lainnya dalam larutan berdasarkan perbedaan
kemampuan berdifusi lewat membran. Larutan yang tersedia di perdagangan mengandung
dekstrosa sebagai sumber utama kalori, vitamin, mineral, elektrolit, dan asam amino/peptida
sebagai sumber nitrogen.

g. Bahan Diagnostik
Diagnostik merupakan salah satu metode pemeriksaan dalam ilmu pengobatan pencegahan
(preventive medicine) penyakit infeksi, didasarkan atas reaksi antara suatu antibodi dengan
antigen yang bersangkutan. Untuk ini digunakan suntikan intrakutan diatas kulit (imunity
skin test) dengan suatu antigen dengan kadar serendah2nya yang masih memungkinkan
adanya reaksi.
Reaksi positip dalam bentuk semacam benjolan diatas kulit, menunjukkan bahwa tubuh sudah
mengandung antibodi tertentu. _ Hasil negatip, berarti tubuh tidak memiliki antibodi tsb, dlm
keadaan ini orang harus diberi vaksin untuk mengebalkan tubuh secara aktif
Reaksi TUBERKULIN, merupakan salah satu tes kekebalan yg terkenal untuk mendiagnosa
penyakit tuberculose (Mantoux skin test )
Zat-zat yang diberikan kepada pasien secara oral/parenteral untuk menentukan keadaan
fungsional dari suatu organ tubuh atau untuk membantu dokter menentukan diagnosa
penyakit dan juga digunakan dalam reaksi imunisasi
Contoh : Injeksi Evans Blue, yang digunakan dalam penentuan volume darah
h. Allergi Ekstrak (Ekstrak allergen)
Merupakan larutan pekat alergen steril untuk maksud diagnosis atau pengobatan reaksi alergi
i.

Larutan, suspensi dan salep untuk mata


Obat-obatan dalam larutan atau suspensi yang diberikan dengan meneteskan ke dalam mata
termasuk sediaan steril, meskipun batasan steril biasanya tidak dimasukkan dalam pada
namanya, seperti : Sulfacetamide larutan mata atau Hydrocortison Acetat Suspensi mata.

j.

Pelet steril atau implantasi subkutan


Pelet atau implan steril merupakan tablet berbentuk silindris, kecil, padat dengan diameter
lebih kurang 3,2 mm dan panjang 8 mm, dibuat dengan mengempa dan dimaksud untuk
ditanam subkutan (paha atau perut) untuk tujuan menghasilkan pelepasan obat terus menerus
selama jangka waktu panjang.3-5 bln. Obat antihamil dlm bentuk inplan dapat bekerja sampai
3 thn. (Implanon mengandung etonogestrel 68 mg/susuk KB). Menggunakan penyuntikan
khusus (trocar)/dengan sayatan digunakan untuk hormon yang kuat sampai 100x dari
pemakaian biasa (oral/parenteral). Pelet tidak boleh mengandung bahan pengikat, pengencer

atau pengisi yang ditujukan untuk memungkinkan seluruhnya melarut dari absorbsi pelet di
tempat penanaman.
Contoh : pelet estradiol, biasanya mengandung 10 dan 25 mg estrogen estradiol (dosis lazim
oral dan parenteral 250 mcg).
k. Antikoagulan
Larutan untuk mencegah pembekuan darah, butuh syarat seperti injeksi dan bebas pirogen.
Contoh : Larutan Natrium sitrat Steril, ACDP, Heparin, ACD
l.

Sediaan vaksin
Merupakan produk biologi (pembantu diagnostik) untuk tujuan mencegah penyakit dan
pengobatan

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN


Keuntungan sediaan parenteral:
1. Aksi obat lebih cepat
2. Cocok untuk obat inaktif jika diberikan oral
3. Obat yang mengiritasi bila diberikasn secara oral
4. Kondisi pasien (pingsan, dehidrasi) sehingga tidak memungkinkan obat diberikan secar oral.
5. Dapat digunakan secara depo terapi.
6. Kemurniaan dan takaran zat berkhasiat lebih terjamin.
Kerugian sediaan parenteral:
1. Karena bekerja cepat, jika terjadi kekeliruan sukaar dilakukan pencegahan.
2. Secara ekonomi lebih mahal dibandingkan sediaan per oral
3. Risiko, kalau alergi atau salah obat maka tidak bisa langsung dighilangkan
4. Cara pemberian lebih sukar, butuh personil khusus, misal di rumah sakit oleh dokter atau
perawat.
Alasan obat dibuat sediaan parenteral:
1. Kadar obat sampai ke target
Jumlah obat yang sampai ke jaringan target sesuai dengan jumlah yang diinginkan untuk
terapi.
2. Parameter farmakologi
Meliputi waktu paruh, C maks., onset.
3. Jaminan dosis dan kepatuhan
Terutama untuk pasien-pasien rawat jalan
4. Efek biologis
Efek biologis tidak dapat dicapai karena obat tidak bisa dipakai secara oral. Contoh:
amphoterin B (absorbsi jelek) dan insulin (rusak oleh asam lambung).
5. Alternatif rute, jika tidak bisa lewat oral.
6. Dikehendaki efek lokal dengan menghindari efek atau reaksi toksik sistemik.
Contoh: methotreksat, penggunaan secara intratekal untuk pengobatan leukimia.
7. Kondisi pasien
Untuk pasien-pasien yang tidak saar, tidak kooperatif, atau tidak bisa dikontrol
8. Inbalance (cairan badan dan elektrolit)
Contoh: muntaber serius, sehingga kekurangan elektrolit yang penting dan segera harus
dikembalikan
9. Efek lokal yang diinginkan. Contoh: anestesi lokal
Injeksi merupakan salah satu bentuk sediaan parenteral dimana memiliki :
1. Keuntungan

o Obat memiliki onset ( mulai kerja ) yang cepat


o Efek obat dapat diramalkan dengan pasti
o Bioavailabilitas sempurna atau hampir sempurna
o Kerusakan obat dalam tractus gastrointestinalis dapat dihindarkan
o Obat dapat diberikan kepada penderita yang sakit keras atau yang sedang dalam keadaan koma
2. Kerugian
o Rasa nyeri saat disuntik, apalagi kalau harus diberikan berulang kali
o Memberikan efek psikologis pada penderita yang takut disuntik
o Kekeliruan pemberian obat atau dosis hampir tidak mungkin diperbaiki, terutama sesudah
pemberian intravena
o Obat hanya dapat diberikan kepada penderita di rumah sakit atau tempat praktek dokter oleh
dokter dan perawat yang kompeten.
RUTE PENGGUNAAN
Rute Pemberian
1. Intravena
Merupakan larutan yang dapat mengandung cairan yang tidak menimbulkan iritasi yang
dapat bercampur dengan air, volume 1 ml sampai 10 ml. Larutan ini biasanya isotonis dan
hipertonis. Bila larutan hipertonis maka disuntikkan perlahan-lahan. Larutan injeksi intravena
harus jernih betul, bebas dari endapan atau partikel padat, karena dapat menyumbat kapiler
dan menyebabkan kematian. Penggunaan injeksi intravena tidak boleh mengandung
bakterisida dan jika lebih dari 10 ml harus bebas pirogen.
2. Pemberian Subkutis (Subkutan)
Lapisan ini letaknya persis dibawah kulit, yaitu lapisan lemak (lipoid) yang dapat
digunakan untuk pemberian obat antara lain vaksin, insulin, skopolamin, dan epinefrin atau
obat lainnya. Injeksi subkutis biasanya diberikan dengan volume samapi 2 ml (PTM
membatasi tak boleh lebih dari 1 ml) jarum suntik yang digunakan yang panjangnya samapi
sampai 1 inci (1 inchi = 2,35 cm)
Cara formulasinya harus hati-hati untuk meyakinkan bahwa sediaan (produk) mendekati
kondisi faal dalam hal pH dan isotonis. FN (1978) mensyaratkan larutannya isotoni dan dapat
ditambahkan bahan vasokontriktor seperti Epinefrin untuk molekulisasi obat (efek obat)
Cara pemberian subkutis lebih lambat apabila dibandingkan cara intramuskuler atau
intravena. Namun apabila cara intravena volume besar tidak dimungkinkan cara ini seringkali
digunakan untuk pemberian elektrolit atau larutan infuse i.v sejenisnya. Cara ini disebut
hipodermoklisis, dalam hal ini vena sulit ditemukan. Karena pasti terjadi iritasi maka
pemberiannya harus hati-hati. Cara ini dpata dimanfaatkan untuk pemberian dalam jumlah
250 ml sampai 1 liter.
3.

Pemberian Intramuskuler
Intramuskuler artinya diantara jaringan otot. Cara ini keceparan absorbsinya terhitung
nomor 2 sesudah intravena. Jarum suntik ditusukkan langsung pada serabut otot yang
letaknya dibawah lapisan subkutis. Penyuntikan dapat di pinggul, lengan bagian atas. Volume
injeksi 1 sampai 3 ml dengan batas sampai 10 ml (PTMvolume injeksi tetap dijaga kecil,
biasanya tidak lebih dari 2 ml, jarum suntik digunakan 1 samai 1 inci. Problem klinik yang
biasa terjadi adalah kerusakan otot atau syaraf, terutama apabila ada kesalahan dalam teknik
pemberian (ini penting bagi praktisi yang berhak menyuntik). Yang perlu diperhatikan bagi
Farmasis anatara lain bentuk sediaan yang dapat diberikan intramuskuler, yaitu bentuk
larutan emulsi tipe m/a atau a/m, suspensi dalam minyak atau suspensi baru dari puder steril.

Pemberian intramuskuler memberikan efek depot (lepas lambat), puncak konsentrasi dalam
darah dicapai setelah 1-2 jam. Faktor yang mempengaruhi pelepasan obat dari jaringan otot
(im) anatar lain : rheologi produk, konsentrasi dan ukuran partikel obat dalam pembawa,
bahan pembawa, volume injeksi, tonisitas produk dan bentuk fisik dari produk. Persyaratan
pH sebaiknya diperhatikan, karena masalah iritasi, tetapi dapat dibuat pH antara 3-5 kalau
bentuk suspensi ukuran partikel kurang
Pemberian obat intramuscular menghasilkan efek obat yang kurang cepat, tetapi biasanya
efek berlangsung lebih lama dari yang dihasilkan oleh pemberian lewat IV.
Syarat pemberian obat secara IM :
Dapat berupa larutan, air, minyak, atau suspensi. Biasanya dalam bentuk air lebih cepat
diabsorbsi dari pada bentuk suspensi dan minyak.
Dilakukan dengan cara memasukkan ke dalam otot rangka
Tempat penyuntikan sebaiknya sejauh mungkin dari syaraf- syaraf utama dan pembuluhpembuluh darah utama.
Pada orang dewasa, tempat yang paling sering digunakan utnuk suntik IM, adalah seperempat
bagian atas luar otot gluteus max. pada bayi, daerah glutel sempit dan komponen utama
adalah lemak, Bukan otot
Tempat suntikan lebih baik dibagian atas atau bawah deltoid, karena lebih jauh dari syaraf
radial.
Volume yang umum diberikan IM, sebaiknya dibatasi maximal 5 mili, bila disuntikkan di
daerah glutel dan 2 ml bila di deltoid.
Beberapa contoh Injeksi:
Injeksi Antibiotik untuk Meningitis
Meningitis merupakan peradangan meningen biasanya disebabkan bakteri atau
virus.Bakteri yang dapat menimbulkan penyakit ini adalah antara lain : Haemophilus
influenzae, Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae, Mycobacterium tuberculosis.
Sedangkan virus yang dapat menyebabkan meningitis antara lain: virus coxsackie, virus
gondongan dan virus koriomeningitis limfositik.
Ampisilin merupakan salah satu antibiotik yang dapat digunakan untuk mengobati
meningitis. Penggunaanya biasa dikombinasi dengan sulbaktam untuk meningkatkan
aktivitas nya. Dosis lazim yang digunakan adalah: 1,5 gr 3gr kombinasi antara ampisilin
dengan sulbaktam dengan perbandingan 2:1. berdasarkan literatur 375 mg kombinasi tersebut
larut dalam 1 ml air. Sehingga bentuk sediaan yang dipakai adalah ampul rekonstitusi karena
ampisilin tidak stabil pada air pada waktu yang lama.
Injeksi Antibiotik Golongan Beta Laktam
Suspensi kering adalah sediaan khusus dengan preparat berbentuk serbuk kering yang
baru dirubah menjadi suspensi dengan penambahan airr sesaat sebelum digunakan.
Kebanyakan dari obat-obat yang dibuat dari campuran kering untuk suspensi oral adalah
obat-obat anatibiotik karena obat-obat seperti antibiotik tidak stabil untuk disimpan dalam
periode tertentu dengan adanya cairan pembawa air maka lebih sering diberikan sebagai
campuran serbuk keringuntuk dibuat suspensi pada waktu pada waktu akan diberikan. Alasan
pembuatan suspensi kering salah satunya adalah karena obat-obat tertentu tidak stabil secara
kimia bila ada dalam larutan tapi stabil bila disuspensi.
Suspensi kering dibuat dengan granulasi maupun tanpa granukasi. Granulasi adalah suatu
metode yang memperbesar ukuran partikel serbuk guna memperbaiki sifat alir serbuk.
Persyaratan pada sebuah granulat sebaiknya :
Dalam bentuk dan warana yang sedapat mungkin teratur
Memiliki sifat alir yang baik

Tidak terlalu kering


Hancur baik dalam air
Menunjukkan kekompakan mekanis yang memuaskan
Injeksi Oxytocin (Intramuskular)
Oksitosin (k's-t'sn) (bahasa Yunani: "kelahiran cepat") adalah hormon pada manusia
yang berfungsi untuk merangsang kontraksi yang kuat pada dinding rahim/uterus sehingga
mempermudah dalam membantu proses kelahiran.
Injeksi oksitosin adalah larutan steril dalam pelarut yang sesuai, bahan yang mengandung
hormon polipeptida yang mempunyai sifat yang menyebabkan kontraksi otot rahim, otot
vaskular, dan otot halus lain, yang dibuat dengan sintesis atau diperoleh dari globus posterior
kelenjar pituitaria hewan peliharaan sehat yang biasa dimakan.
Injeksi Vitamin C
Vitamin C tidak boleh diberikan secara oral kepada pasien dalam kondisi tertentu seperti
pasien penderita maag. Namun pada keaadaan defisiensi vitamin C pasien tersebut harus
segera diberikan suplemen vitamin C. Oleh sebab itu vitamin c dibuat dalam bentuk sediaan
injeksi. Injeksi intravena vitamin C dapat menyebabkan pusing dan pingsan, oleh sebab itu
vitamin C dibuat dalam bentuk injeksi intra muscular, walaupun pemberian secara IM akan
meninggalkan rasa sakit ditempat suntikan. Pemerian obat IM memberikan efek obat yang
kurang tepat, tetapi biasanya efek berlangsung lebih lama dari yang dihasilkan
4. Pemberian intrathekal-intraspinal
Penyuntikan langsung ke dalam cairan serebrospinal pada beberapa temapt. Cara ini
berbeda dengan cara spinal anastesi. Kedua pemberian ini mensyaratkan sediaan dengan
kemurniaannya yang sangat tinggi, karena daerah ini ada barier (sawar) darah sehingga
daerahnya tertutup.
Sediaan intraspinal anastesi biasanya dibuat hiperbarik yaitu cairannya mempunyai
tekanan barik lebih tinggi dari tekanan barometer. Cairan sediaan akan bergerak turun karena
gravitasi, oleh sebab itu harus pada posisi pasien tegak.
5. Intraperitoneal
Penyuntikan langsung ke dalam rongga perut, dimana obat secara cepat diabsorbsi.
Sediaan intraperitoneal dapat juga diberikan secara intraspinal, im,sc, dan intradermal
6. Intradermal
Cara penyuntikan melalui lapisan kulit superficial, tetapi volume pemberian lebih kecil
dari sc, absorbsinya sangat lambat sehingga onset yang dapat dicapai sangat lambat.
7. Intratekal
Digunakan khusus untuk bahan obat yang akan berefek pada cairan serebrospinal.
Digunakan untuk infeksi ssp seperti meningitis, juga untuk anestesi spinal. Intratekal
umumnya diinjeksikan secara langsung pada lumbar spinal atau ventrikel sehingga sediaan
dapat berpenetrasi masuk ke dalam daerah yang berkenaan langsung pada SSP.

USPENSI
1. A.

Pembahasan

1. I.

Pengertian

Jenis utama dari preparat cair yang mengandung obat yang tidak larut, disebarkan ke dalam
cairan pembawa dan dimaksudkan untuk pemberian secara oral. Dalam preparat ini bahan
yang didistribusikan disebut sebagai dispers atau fase terdispers dan pembawanya disebut
fase pendispersi atau medium disperse. Preparat oral dengan tipe ini, paling banyak medium
dispersinya adalah air.Partikel dari fase dispers biasanya bahan padat yang tidak larut dalam
medium dispers. Fase terdispers adalah bahan cair yang tidal larut maupun bercampur dengan
cairan dari fase pendispersi
Umumnya karena ukuran yang lebih besar, partikel terdispers dalam suatu dipersi kasar
kecenderungannya lebih besar untuk memisah dari medium disperse daripada yang terjadi
pada partikel dari disperse halus. Penyebaran ulang secara sempurna dan homogeny dari fase
terdispers diperlukan supaya dapat diberikan dosis yang homogeny secara tepat.Untuk
keuntungan dispersi yang dibuat harus dicapai dengan pengocokan wadah dengan sungguhsungguh. Pada disperse dari obat yang diberikan secara oral, pemakaian topical untuk kulit,
suspensi optalmik, dan suspensi steril untuk injeksi.

1. 1.

Suspensi Oral

Suspensi dapat didefinisikan sebagai preparat yang mengandung partikel obat yang terbagi
secara halus yang dikenal sebagai suspensoid yang disebarkan secara merata dalam pembawa
dimana obat menunjukkan kelarutan yang sangat minimum. Preparat lain yang tesedia adalah
serbuk kering yang dimaksudkan untuk disuspensikan dalam cairan pembawa. Jenis produk
ini umumnya campuran serbuk yang mengandung obat dan bahan pensuspensi maupun
pendispersi, yang dengan melarutkan dan pengocokan dengan sejumlah tertera cairan
pembawa (biasanya air murni) menghasilkan bentuk suspensi yang cocok untuk diberikan.
Obat seperti ini tidak stabil untuk disimpan dalam periode waktu tertentu dengan adanya
cairan pembawa air untuk dibuat suspensi pada waktu akan diberikan.

Alasan Pembuatan Suspensi Oral


Alasan pembuatan suspense oral salah satunya adalah karena obat-obat tertentu tidak stabil
secara kimia bila ada dalam larutan tapi stabil bila disuspensi.Dalam hal seperti ini, suspensi
oral menjamin stabilitas kimia dan memungkinkan terapi dengan cairan. Untuk banyak
pasien, bentuk cair lebih disukai ketimbang bentuk padat (tablet atau kapsul), karena
mudahnya menelan cairan dan keluwesan dalam pemberian dosis, pemberian lebih mudah
serta lebih mudah untuk memberikan dosis yang relatif sangat besar, aman, mudah diberikan
untuk anak-anak, juga mudah diatur penyesuaian dosisnya untuk anak. Kerugian dari obat
yang mempunyai rasa tidak enak bila diberikan dalam bentuk larutan akan tidak terasa bila
diberikan sebagai partikel yang tidak larut dalam suspensi. Untuk obat-obat yang tidak enak
rasanya telah dikembangkan bentuk-bentuk kimia khusus menjadi bentuk yang tidak larut

dalam pemberian yang diinginkan sehingga didapatkan sediaan cair yang rasanya
enak.Kebanyakan suspensi oral berupa sediaan air dengan pembawa yang diharumkan dan
dimaniskan untuk memenuhi selera pasien.

Sifat-Sifat yang Diinginkan dalam suatu Suspensi Farmasi


Di samping khasiat terapeutik, stabilitas kimia dari komponen-komponen formulasi,
kelanggengan sediaan dan bentuk estetik dari sediaan, sifat-sifat yang diinginkan dalam
semua sediaan farmasi dan sifat-sifat lain yang lebih spesifik untuk suspensi farmasi :
1. Suatu suspensi farmasi yang dibuat dengan tepat mengendap secara lambat dan harus
rata bila dikocok.
2. Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel dari
suspensoid tetap agak konstan untuk yang lama pada penyimpanan.
3. Suspensi harus bisa dituang dari wadah dengan cepat dan homogen.

Pengemasan dan Penyimpanan


Semua suspense harus dikemas dalam wadah mulut lebar yang mempunyai ruang udara yang
memadai diatas cairan sehingga dapat dikocok dan mudah dituang.Kebanyakan suspense
harus disimpan dalam wadah tertutup rapat dan terlindung dari pembekuan, panas yang
berlebihan, dan cahaya.Suspensi perlu dikocok setiap kali sebelum digunakan untuk
menjamin distribusi zat padat yang merata dalam pembawa sehingga dosis yang diberikan
setiap kali tepat dan seragam.
Contoh-contoh Suspensi Oral
Contoh-contoh suspensi oral diantaranya preparat-preparat antasida, antelmintika, dan
antibakteri merupakan preparat-preparat yang menarik dari segi farmasetika dan terapeutik.
Suspensi Oral Antasida
Antasida dimaksudkan untuk menetralkan efek dari kelebihan asam lambung dan hal seperti
ini digunakan oleh seseorang, seperti pasien tukak lambung, yang harus mengurangi
derajat keasaman dalam lambung. Kebanyakan preparat antasida disusun dari bahan-bahan
yang tidak larut dalam air yang bekerja di dalam membatasi saluran cerna dengan asam dan
atau meredakan iritasi atau peradangan pada batas dinding saluran cerna.Kemampuan
masing-masing dalam menetralkan asam lambung berbeda-beda dengan bahan
kimia.Misalnya natrium karbonat, kalsium karbonat dan magnesium hidroksida menetralkan
asam secara efektif, sedangkan magnesium trisilikat dan aluminium hidroksida efektivitasnya
lebih kecil dan jauh lebih lambat.
Tiap zat mempunyai potensi yang khusus dalam efek yang merugikan. Umpamanya natrium
bikarbonat memiliki kemampuan untuk kelebihan natrium dan alkalosis sistemik dengan
kadar yang membahayakan pasien yang membatasi diet natrium. Preparat-preparat

magnesium dapat menyebabkan diare dan berbahaya pada pasien dengan fungsi ginjal kurang
yang disebabkan oleh ketidakmampuan pasien mengeskresi semua magnesium yang mungkin
diabsorbsi (asam lambung mengubah magnesium hidroksida yang tidak larut menjadi
magnesium klorida yang larut dalam air dan sebagian diabsorpsi).
Suspensi Oral Antelmintika
Suspensi oral antelmintika mengerahkan aktivitas kerja terhadap gangguan cacing, secara
langsung ke dalam saluran usus.Infeksi cacing kerawit (pinworm) mudah menular dari satu
orang ke yang lainnya dengan perpindahan telur-telurnya melalui kontak langsung,
mengerjakan sesuatu yang telah terkontaminasi, bahkan bila berpanaskan udara dan debu
yang mengandung telur.

Suspensi Oral Antibakteri


Suspensi oral antibakteri mencakup preparat-preparat bahan antibiotika (umpamanya
kloramfenikol palmitat, turunan eritromisin, tetrasiklin dan turunannya), sulfonamida, dan
zat-zat kemoterapeutik lainnya.Kebanyakan bahan-bahan antibiotika tidak stabil bila berada
dalam larutan, untuk waktu lama yang diinginkan dan oleh sebab itu dilihat dari stabilitas,
bahan obat dengan bentuk tidak larut dalam suspense berair atau sebagai serbuk kering untuk
dioplos sangat menarik bagi pabrik obat. Fase pendispersi dari suspensi antibiotik adalah air
dan biasanya diberi warna, pemanis, pewangi, dan perasa, untuk memberikan cairan lebih
menarik dan menambah selera.
1. 2.

Suspensi Topikal

sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang
ditujukkan untuk penggunaan pada kulit.
1. 3.
Suspensi Optalmik sediaan cair steril yang mengandung partikelpartikel yang terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukkan untuk penggunaan
pada mata.
2. 4.
Suspensi tetes telinga
sediaan cair yang mengandung partikel-partikel halus yang ditujukkan untuk diteteskan pada
telinga bagian luar.

1. 5.

Suspensi untuk injeksi

sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara
intravena atau kedalam saluran spinal.
1. 6.

Suspensi untuk injeksi terkontinyu

sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang
memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang
sesuai.

STABILITAS SUSPENSI
Laju Endapan (Laju Sedimentasi) dari Partikel Suspensi
Berbagai faktor yang terlibat dalam laju dari kecepatan mengendap partikel-partikel suspensi
tercakup dalam persamaan hukum Stoke:

di mana

V = kecepatan jatuhnya suatu partikel bulat.

g = konstanta gravitasi,

r = jari-jari partikel,
= kerapatan partikel bulat,
= kerapatan cairan dan,
= viskositas medium disperse.

Persamaan Stoke diturunkan untuk suatu keadaan ideal di mana partikel-partikel yang benarbenar bulat dan seragam dalam suspensi yang encer mengendap tanpa mengakibatkan
turbulensi pada waktu turun ke bawah, tanpa tumbukan antara partikel-partikel suspensoid
dan tanpa gaya tarik-menarik kimia atau fisika atau afinitas untuk medium dispersi.
Kecepatan jatuhnya suatu partikel yang tersuspensi lebih besar bila ukuran partikel lebih
besar, jika semua faktor lain dibuat konstan. Dengan mengurangi ukuran partikel dari fase
terdispers, seseorang dapat mengharapkan laju turunan lebih lambat dari partikel tersebut.
Juga makin besar kerapatan partikel makin besar laju turunnya, asalkan kerapatan pembawa
tadak diubah. Karena umumnya tidak digunakan pembawa air dalam suspensi farmasi untuk
pemberian oral, kerapatan partikel umumnya lebih besar dari kerapatan pembawa, suatu sifat
yang diinginkan, karena bila partikel-partikel lebih ringan dari pembawa, partikel-partikel
cenderung untuk mengambang dan partikel-partikel ini sangat sukar didistribusikan secara
seragam dalam pembawa. Laju endap dapat dapat berkurang cukup besar dengan menaikkan
viskositas medium dispersi dan dalam batas-batas tertentu secara praktis ini bisa
dilakukan.Tetapi suatu produk yang mempunyai viskositas tinggi umumnya tidak diinginkan
karena sukar dituang dan juga sukar untuk diratakan kembali.Karena itu bila viskositas
suspense dinaikkan biasanya dilakukan sedemikian rupa sampai viskositas sedang saja untuk
menghindari kesulitan-kesulitan seperti disebutkan tadi.
Sifat khas viskositas dari suspense dapat diubah tidak hanya dengan penggunaan pembawa,
tetapi juga dengan kandungan padatnya. Sebagai mana proporsi dari partikel padat dinaikkan
dalam suspensi, maka begitu pula viskositasnya. Viskositas dari preparat farmasetik dapat
ditentukan dengan menggunakan Viskometer Brookfield, yang mengukur viskositas dengan
gaya dibutuhkan untuk memutar poros dalam cairan yang diuji.
Kebanyakan stabilitas fisik dari suatu suspense sediaan farmasi kelihatannya paling cocok
untuk disesuaikan dengan mengadakan perubahan pada fase terdispers dan bukan pada
medium disperse. Dalam banyak hal medium disperse menyokong fase terdispers yang
disesuaikan tersebut. Penyesuaian ini terutama mengenai ukuran partikel, keseragaman
ukuran partikel dan pemisahan partikel-partikel tersebut hingga tidak mungkin untuk menjadi
lebih besar atau membentuk padatan pada pendiaman.

Sifat-sifat Fisik Fase Terdispers Dari Suatu Dispensi


Mungkin pertimbangan satu-satunya yang paling penting dalam membicarakan suspense
adalah ukuran dari satu partikel obat.

Pengurangan ukuran partikel umumnya diperoleh dengan penggilingan kering sebelum


pencampuran fase terdispers ke dalam medium disperse. Alat mikropulverisasi adalah
penggiling yang bekerja dengan mengurangi ukuran serbuk ke ukuran yang dapat diterima
untuk kebanyakan suspensi oral atau topical. Proses penghalusan dengan energi cair yang
kadang-kadang disebut jet-milling atau micronizing adalah sangat efektif. Partikel-partikel
yang ukurannya sangat kecil bisa juga dihasilkan dengan teknik spray-drying (pengeringan
semprot).Suatu pengering semprot adalah sebuah alat yang bentuknya seperti keracut yang ke
dalamnya disemprotkan larutan obat yang dikeringkan dengan cepat oleh arus udara kering
dan hangat yang berputar di dalam kerucut tersebut, kemudian serbuk kering yang dihasilkan
dikumpulkan.
Seperti ditunjukan dalam rumus Stokes, pengecilan ukuran partikel dari suatu suspensoid
berguna untuk kestabilan suspensi karena laju endapan dari partikel padat berkurang kalau
ukuran partikel dikurangi.Seseorang harus menghindari pengurangan ukuran partikel yang
terlalu besar karena partikel-partikel yang halus mempunyai kecenderungan membuat suatu
padatan (cake) yang kompak pada waktu mengendap ke dasar wadah.
Satu carayang umum untuk mencegah kohesi yang kuat dari partikel-partikel tersebut dengan
menggunakan daya ikat antarpartikel yang lemah. Penggumpulan partikel seperti itu disebut
flok atau flokula, di mana partikel-partikel yang terflokulasi itu membuat sejenis struktur kisi
yang dapat menghalangi pengendapan sempurna (walaupun flok mengendap lebih cepat
daripada masing-masing partikel yang halus) sehingga tidak mudah menjadi kompak
dibandingkan dengan partikel partikel yang tidak terflokulasi. Flok tersebut mengendap
membentuk sedimen dengan volume yang lebih besar, struktur yang lebih lemah
memungkinkan gumpalan tersebut pecah lagi dengan mudah dan tersebar lagi bila dikocok
sedikit saja.
Ada beberapa cara untuk membuat suspensi terflokulasi, pemilihannya tergantung pada jenis
obat yang digunakan dan jenis produk yang diinginkan. Sebagai contoh, dalam pembuatan
suatu suspensi oral dari suatu obat, tanah liat (clay)seperti magma bentonit encer biasanya
digunakan sebagai zat pemflokulasi. Bila tanah liat (clay) yang digunakan tidak cocok seperti
untuk suspensi parenteral seringkali suatu flok dari fase terdispersi dihasilkan dengan cara
mengubah pH dari sediaan (umumnya kea rah pH di mana kelarutan obat minimum).
Konsentrasi zat aktf permukaan nonionik dan ionik yang ditentukan dengan hati-hati dapat
juga merangsang flokulasi partikel-partikel dalam suspensi dan menaikkan volume
sedimenstasi.

Medium Dispersi
Karboksi metilselulosa, metilselulosa, dan bentonit merupakan beberapa di antara zat
pensuspensi yang digunakan untuk mengentalkan medium dispersi dan membantu
tersuspensinya suspensoid.Bila zat polimer dan koloid hidrofilik digunakan sebagai zat

pensuspensi, harus dilakukan tes yang tepat untuk membuktikan bahwa zat tersebut tidak
mengganggu availabilitas dari zat aktif obat dalam suspensi tersebut.Bahan-bahan ini ternyata
mungkin zat obat tertentu, merintaginya sehingga tidak terdapat di dalam saluran sirkulasi
dan atau memperlambat jalannya obat tersebut sehingga fungsi terapeutisnya pun
diperlambat.Juga jumlah atau banyaknya zat pensuspensi tidak boleh menyebabkan suspense
tersebut terlalu kental dan tidak bisa dikocok (untuk mendistribusikan suspensoid) atau untuk
menuang.
Dukungan suspensoid oleh medium dispersi bisa tergantung pada beberapa faktor: kerapatan
suspensoid, apakah ia diflokulasi, dan jumlah bahan yang memerlukan dukungan.
Isi padat dari suatu suspensi untuk pemberian oral bisa sangat bervariasi, tergantung pada
dosis obat yang akan diberikan, volume produk yang diinginkan untuk diberikan, dan juga
pada kemampuan medium pendispersi dalam menyokong konsentrasi obat sambil menjaga
sifat viskositas dan aliran yang diinginkan. Untuk diberikan kepada bayi dosisnya dibuat
dalam ukuran tetes dan diformulasi sedemikian rupa sehingga tetesan yang diberikan tidak
terlalu banyak, jumlah tetesan biasanya ditentukan oleh berat badan dan persyaratan
terapeutik dari masing-masing pasien.Pada pemberian tetesan bisa diberikan lansung ke
mulut bayi atau dicampurkan dengan sedikit makanannya. Karena banyak suspensi antibiotik
yang dimaksudkan untuk diberikan dibuat dalam dasar yang diberi rasa harum dan manis
serta diberi warna, sediaan tersebut dikenal sebagai sirup, walaupun kenyataannya sediaan
tersebut adalah suspense.
Dalam hal tersebut tidak mungkin membuat suatu suspensi sehingga dosis lazimnya tersedia
dalam ukuran sendok kecil, semata-mata karena jumlah obat yang biasa dipaki besar.
Salah satu masalah yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara
memperlambat penimbunan partikel serata menjaga homogenitas partikel. Cara tersebut
merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi, Beberapa faktor yang
mempengaruhi stabilitas suspensi.
PERTIMBANGAN TEORETIS
Pertimbangan teoris yang menyangkut teknologi suspensi harus dapat membantu pembuat
formulasi dalam memilih bahan-bahan yang paling tepat untuk suspensi, dan dalam
menggunakan alat pencampur serta penggiling yang paling menguntungkan.Pengertian dasar
mengenai pembahasan, interaksi partikel, elektrokinetik, agregasi, dan sedimentasi dapat
membantu menentukan formula yang baik.

Pembahasan
Faktor yang amat penting dalam formulasi suspensi, adalah pembahasan fase padat oleh
medium suspensi. Secara definisi, suspense pokoknya adalah suatu sistem yang tidak dapat
tercampur, tetapi untuk keberadaannya suspensi memerlukan beberapa derajat kompatibilitas,
dan pembahasan bahan-bahan tersuspensi dengan baik sangat pentig dalam pencapaian akhir
ini.

Bila antara cairan dan zat padat ada suatu afinitas kuat, cairan dengan mudah membentuk
lapisan tipis pada permukaan zat padat. Tetapi bila afinitas ini tidak ada atau lemah, cairan
sulit untuk memindahkan udara atau zat-zat lain di sekitar zat padat tersebut, dan di sana ada
suatu sudut kontak antara cairan dan zat padat. Sudut kontak ini, , dihasilkan dari suatu
kesetimbangan yang melibatkan tiga tegangan antarmuka, secara spesifik, yang beraksi pada
antarmuka antara fase padat dan fase uap. Tegangan-tegangan ini disebabkan karena
ketidakseimbangan gaya antar molekul dalam berbagai fase yang sama dengan fenomena
yang terkenal analog dari pembentukan kulit konveks di atas permukaan segelas air yang
diisi sampai ke bibir gelas tersebut. Konsep suatu kontak adalah penting karena ia
menghasilkan metode pertimbangan derajat dari daya basah, dan menunjukan bahwa sifatsifat permukaan adalah penting.
Ada zat padat yang mudah dibasahi dengan cairan da nada pula yang tidak.Dalam batasan
suspensiair, zat padat dikatakan hidrofilik (liofilik atau suka pelarut, kadang-kadang disebut
liotropik) atau hidrofobik (liofobik).Zat padat hidrofilik biasanya dapat digabung menjadi
suspensi tanpa menggunakan zat pembasah, tetapi bahan-bahan hidrofobik sangat sukar
untuk mendispersi dan seringkali mengambang pada permukaan cairan karena pembasahan
yang buruk dari partikel-partikel, atau adanya kantung-kantung udara yang sangat kecil.
Teknik farmasi yang seringkali berguna untuk memodifikasi karakteristik-karakteristik
pembasahan dari serbuk meliputi penggunaan surfaktan (kaang-kadang dengan shearing)
untuk mengurangi tegangan antarmuka pada-cair.Bahan-bahan lain yang dapat digunakan
untuk membantu disperse zat padat hidrofobik adalah polimer-polimer hidrofilik seperti
natrium hidroksimetilselulosa, dan bahan-bahan hidrofilik tertentu yang tidak larut dalam air
seperti bentonit, aluminium-magnesium silikat, dan silika koloid, baik sendiri atau dalam
kombinasi. Bahan-bahan ini juga mempengaruhi pembentukan visikositas, tergantung pada
tipe dan konsentrasi spesifik yang digunakan. Zat-zat hidrofilik ini, jika digunakan dalam
konsentrasi yang terlalu tinggi, menyebabkan pembentukan gel yang tidak dikehendaki, dan
bukannya derajat viskositas atau thiksotropi yang dikehendaki; batasan terakhir menunjukan
pembentukan struktur seperti gel yang pecah dengan mudah dan menjadi cair pada
pengadukan.
Laju penetrasi relatife dari zat yang berbeda dapat langsung diamati, zat-zat yang lebih baik
menunjukan laju yang lebih cepat. Teknik lain melibatkan pengukuran kemampuan relatife
larutan dari zat pembasah yang berbeda untuk membawa serbuk melalui suatugauze(kassa)
ketika larutan tersebut jatuh ke atas gauze yang menopang serbuk. Jelaslah, pembasah yang
lebih baik sanggup berfungsi lebih efektif sebagai pembawa, dan membawa lebih banyak
serbuk melewati gauze dibandingkan dengan pembawa yang lebih buruk.
Dengan melihat pada penentuan daya membasahi, menarik untuk dicatat bahwa sudah
dikembangkan metode pembandingan pembasah serbuk dengan pembawa cair bukan air
dengan ditambahkan penurunan-penurunan lanolit tertentu.Turunnan lanolit yang ada dalam
tipe-tipe lipofilik dan hidrofilik banyak digunakan pada pereparat yang dipakai secara
tropikal. Dua teknik yang dikembangkan oleh industri cat yang dapat diterapkan secara
farmasi dengan meliputi penentuan apa yang disebut titik basah dan titik alir. Titik basah
mengukur jumlah pembawa yang diperlukan untuk membasahi seluruh serbuk.Penguranhgan
titik basah olh suatu bahan penambah menunjukan pembasahan permukaan awal dengan zat
itu dalam kombinasi serbuk terbawa.Titik alir mengukur jumlah pembawa yang diperlukan
untuk menghasilkan kemampuan tuang.

Metode titik basah meliputi pengambungan aditif dalam serbuk denganmenggosokkan


campuran tersebut pada suatu lempeng gelas dengan sebuah sudip. Pembawa kemudian
ditambahkan tetes demi tetes dan dikerjakan pada seluruh massa sesudah penambahan
masing-masing. Titik akhir dicapai bila pembawa digabungkan membentuk massa yang
saling melengket, tidak pecah atau memisah. Dalam penentuan titik akhir dapat diperoleh
hasil ulang yang baik.Ketajaman harga titik akhir tergantung pada serbuk pembawa, dan
aditif yang digunakan. Titik basah mempunyai harga 15 sampai 45 dengan konsentrasi bahan
penambah 10% makin baik zat pembasah, makin kecil harga titik basahnya.
Titik alir juga diukur dengan mencampur bahan penambah dengan serbuk tetapi, dalam suatu
gelas piala (beker gelas), bukan diatas lempeng.Pembawa ditambahkan dan digabungkan
dengan pencampuran menyeluruh.Titik akhir dicapai bila cukup pembawa ditambahkan
untuk menyebabkan campuran tersebut mengalir dari sudip dalam aliran yang seragam.Titik
alir bisa dinyatakan sebagai mililiter per 100 gram.Ketajaman titik akhir berfariasi, seperti
dalam penentuan titik basah, tergantung pada serbuk, dan penambah. Titik akhir bisa
mempunyai harga dalam kisaran 50 250 pada level penambah10%, bila digunakan zat
pembasah yang lebih baik akan menghasilkan harga yang lebih rendah.
Menguji suatu baha penambah hanya pada satu konsentrasi, mungkin tidak menampilkan
evaluasi tepat dari efektivitasnya sebagai suatu dispersan, karena berkurangnya titik alir dan
titik basah secara dramatis yang mungkin disebabkan oleh perubahan konsentrasi dari hanya
suatu presentase kecil.Adalah bijaksana apabila beberapa konsentrasi bahan penambah diteliti
dahulu sebelum menarik kesimpulan sehubungan dengan penggunaaan zat tertentu.
Teknik serupa dapat diterapkan ke sistem air. Air ditambahkan ke campuran bahan yang akan
dibasahkan dan berbagai bahan pembawa yang akan dievaluasi. Beberapa modifikasi metode
uji dibutuhkan untuk menjamin bahwa serbuk dengan bahan penambah dicampur dengan
baik dan harus kontak dengan baik.Titik ini mungkin paling baik dicapai dengan melapisi
serbuk tersebut dengan bahan penambah dalam alkohol, kemudian diuapkan dari bubur
tersebut.Bila turunan-turunan lanolin digunakan dengan serbuk-serbuk seperti talk, titanium
dioksida, harga untuk titik alir dan titk basahnya berada dalam kisaran sebelumnya, walaupun
cenderung melihat harga-harga yang lebih rendah.
Interaksi Partikel dan Perilaku Partikel
Batasan-batasan liofobik (hidrofobik) dan liofilik (hidrofilik) disebutkan dalam bagian
sebelum ini. Batasa-batasan ini kadang-kadang dianggap sama dengan bahan yang tidak
membasahi dan bahan yang membasahi. Perbedaan perilaku utama dari kedua golongan
bahan ini adalah sensitivitas terhadap adanya elektrolit.Bahan-bahan liofobik dalam suspensi
sensitife terhadap penambahan garam-garam, sedangkan bahan-bahan liofilik tidak.Suatu
bahan liofilik seperti gom, dengan mudah dibasahi oleh air, walaupun dalam hal ini elekrolit
dalam jumlah besar dapat mempengaruhi larutan dengan efek salting out.Berbeda dengan
bahan-bahan liofobik, pengenceran dengan pembawa membalik pengendapan zat padat
liofilik.Seseorang tidak bisa mengamati mengamati agregasi, bentuk yang dikehendaki dari
pembentukan matriks selama sedimentasi, dalam hal partikel-partikel liofobik.Kestabilan
koloid liofobik juga berkurang derajat hidrasi.
Selain penolakan antarpartikel yang dihasilkan dari lapisan difusi rangkap, kekuatan ion dan
valensi serta ukuran ion pada permukaan dan dalam lapisan rangkap tersebut mempengaruhi
muatan total (kisaran 0 50 milivolt) dan ketebalan lapisan rangkap; faktor-faktor ini juga

mempengaruhi hidrasi.Perlu dicatat bahwa peningkatan konsentrasi ion dalam larutan


mengurangi ketebalan lapisan difusi rangkap dengan pembanjiran, sehingga agregasi
dirangsang.Adsorpsi spesifik dari suatu ion dengan sistem tersebut juga menetralkan muatan
permukaan dari partikel dan menyebabkan agregasi. Konsentrasi elektrolik yang diperlukan
untuk mempengaruhi agregasi optimal tergantung pada keseimbangan dan tipe ion yang
berinteraksi; penambahan elektrolik melewati titik ini bisa mengakibatkan suatu muatan
balik, yang pada gilirannya akan menyebabkan deagregasi dan caking akhir dari sistem
tersebut. Efek ion ini dapat disistemasikan dengan melihat pada aturan Schulze-Hardy.
Aturan Schulze-Hardy menyatakan bahwa valensi ion-ion yang mempunyai muatan yang
berlawanan dengan muatan partikel hidrofobik tampak menentukan keefektifan elektrolit
dalam partikel-partikel yang mengagregasi. Karena itu harga mengagregasi atau efisiensi
meningkat dengan meningkatnya valensi ion-ion tersebut.ion-ion bivalen sepuluh kali lebih
efektif dari ion-ion monovalent;ion-ion trivalent seribu kali lebih efektif dari ion-ion
monovalent.Penting untuk di ingat bahwa aturan ini berlaku hanya untuk sistem-sistemdi
mana tidak ada interaksi kimia antara elektrolit yang mengagregasi dan ion-ion lapisan
rangkap dari permukaan partakel. Gaya mengagregasi besarnya cukup untuk berlimpahnya
penolakan elektrostatis antara partikel-partikel yang mempunyai muatan netto dari tanda yang
sama. Agregasi yang baik sekali terjadi pada konsentrasi-konsentrasi ion kira-kira sebagai
berikut: 25 150 mmol/L untuk ion-ion monovalen,0,52,0 mmol/L untuk ion-ion bivalen,
dan 0,01 0,1 mmol/L untuk ion-ion trivalen.
Walaupun tidak banyak digunakan secara farmasi, aturan seri Hofmeister atau seri liotropik
berlaku untuk partikel-partikel hidrofilik dalam cara yang agak mirip dengan aturan SchulzeHardy, dan tidak hanya memperhatikan muatan, tetapi juga ukuran ion serta kemampuan
hidrasi. Agar kemampuan mengagregasi berkurang, deret kation dan anion bervalensi satu
berturut-turut.
Walaupun telah ada beberapa usaha dalam literatur untuk menjelaskan batasan yang tepat
untuk menggambarkan fenomena agregasi, masalah definisi agak sulit.Batasan-batasan yang
digunakan dalam ilmu koloid dan ilmu farmasi tidak serupa, dan yang membuat keadaan
lebih buruk, peneliti secara sendiri-sendiri cenderung menggunakan batasan flokulasi,
koagulasi, dan agregasi dipertukarkan.Tanpa melihat mekanisme agregasi, mudah saja untuk
menggolongkan hasil akhir dari agregasi partikel-partikel suspensi berdasarkan karakteristik
morfologis agregasi tersebut.
Jaringan terbuka atau flokula, agregat dikarakterisasinya lunak dan berserat dari partikelpartikel yang teragregasi. Strukturnya kaku sekali; maka agregat-agregat ini mengendap
dengan cepat membentuk sedimen (endapan) yang tinggi dan mudah dapat didispersikan
kembali, karena partikel-partikel yang membentuk agregat masing-masing cukup jauh
terpisah satu dengan yang lainnya untuk menghindarkan caking.
Jaringan tertutup atau koagula, agregat dikarakterisasinya oleh suatu kemasan kuat yang
dihasilkan oleh pengikatan lapisan permukaan.Agregat ini mengendap perlahan-lahan ke
ketinggian sedimen rendah yang mendekati kerapatan sedimen dari suatu sistem partikel kecil
yang terdispersi.Afinitas dari lapisan tipis permukaan satu dengan yang lainnya bertanggung
jawab untuk keuletan agregat, tidak hanya dalam agregat masing-masing, tetapi juga ke
agregat sekitarnya.Sedimentasi agregat cenderung membentuk suatu agregat tunggal besar
yang terikat lapisan, yang sulit untuk terdispersi kembali (jika mungkin).Lapisan tipis

permukaan yang mengakibatkan pembentukan koagula seringkali adalah surfaktan, gas,


cairan-cairan yang tidak saling bercampur, dan air (dalam hal suspense bukan air).
Sedimen-sedimen tipe suspensi ini secara perlahan (jika dibandingkan dengan tipe agregat
terbuka dan tertutup) mencapai ketinggian sedimen yang mungkin terendah, dan karena
permukaan partikel berdekatan dengan sedimentasi, maka memiliki kristal yang luas. Jelaslah
bahwa suspensi farmasi harus dapat terdispersi kembali hanya dengan pengadukan ringan
untuk menjaga keseragaman pemberian dosis.
Kecenderungan partikel-partikel untuk mengagregasi tergantung pada gaya tarik-menarik dan
gaya tolak antara partikel-partikel tersebut. Jika gaya tolak cukup kuat, partikel-partikel tetap
terdispersi; jika tidak partikel-partikel tersebut mengagregasi.
Laju sedimentasi dan agregasi merupakan sifat dari sistem-sistem suspensi yang diatur oleh
ukuran partikel, kerapatan partikel dan medium, dan viskositas dari fase kontinu.Kesurutan
adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan pengendapan suatu sistem
teragregasi, dan menunjukan laju pengendapan atau penurunan batas antara sedimen dan
supernatan jernih diatasnya.Dalam sistem-sistem polidispersi (yakni sistem-sistem yang
ukuran partikelnya berbeda-beda), pengukuran ini bernilai kecil karena batas tidak dapat
didefinisikan dengan baik.Partikel-partikel besar mengendap ke bawah lebih cepat daripada
partikel-partikel yang lebih kecil; sedangkan dalam suspensi yang teragregasi pekat, partikelpartikel yang lebih besar memperlihatkan pengendapan yang terganggu, dan endapan yang
lebih kecil mengendap lebih cepat.Dalam suspensi yang teragregasi, partikel-partikel terikat
bersama-sama menjadi floc (gumpalan yang terbentuk karena agregasi sejumlah partikel
halus yang tersuspensi), yang mula-mula mengendap menurut ukuran floc dan porositas dari
massa yang teragregasi.
Untuk menentukan apakah suatu suspensi diagregasi, suatu manometer diferensial bisa
digunakan untuk membandingkan tekanan dari suspensi dekat dasar dan bagian atas dalam
suatu wadah.Suatu suspensi teragregasi menunjukan tekanan yang sama pada kedua titik
ketika digunakan sedikit atau tidak digunakan tekanan pada cairan tersebut, karena partikelpartikel pada dasarnya saling menunjang.
Caking didefinisikan sebagai pembentukan sedimen yang tidak dapat didispersikan kembali
dalam suatu sistem suspensi. Sebab utama caking adalah pembentukan jembatan kristal dan
agregattertutup (koagula).
Dalam pembentukan jembatan kristal, pertumbuhan partikel kristal permukaan terjadi pada
dua partikel atau lebih secara serentak, dan mengakibatkan pembentukan keseimbangan yang
terikat, akhirnya mengakibatkan sedimen yang terikat kuat seperti baja atau plester. Dengan
cara yang umumnya sama, hasil pertumbuhan kristal dapat dioptimumkan dengan secara
bergantian memanaskan dan mendinginkan cairan induk kristalisasi. Proses ini, dikenal
dengan pematangan Ostwald, tidak dapat dihindarkan dalam suspensi farmasi dari tipe
terdispersi tersebut.

Pembentukan Suspensi

Metode Pengendapan
Tiga metode pengendapan akan dibicarakan dalam bagian ini, yakni: pengendapan pelarut
organik, pengendapan yang dipengaruhi oleh perubahan ph dari medium, dan penguraian
rangkap
Obat-obat yang tidak larut dalam iar dapat diendapkan dengan melarutkananya dalam
pelarut-pelarut organik yang bercampur dengan air dan kemudian menambakan fase organik
ke air murni dibawah kondisi standar, contoh pelarut organic yang di gunakan adalah etanol,
methanol,propilen glikol, dan polietilen glikol.Beberapa pertimbangan penting terlibat bila
metode ini digunakan barangkali factor terpenting sehubungan dengan control ukuran partikel
adalah memperoleh bentuk polimorfis yang tepat atau hidrat dari Kristal tersebut sebagai
contoh, bentuk-bentuk yang berbeda diperoleh bila prednisolon di endapkan dari methanol
dalam air sebagai reaksi terhadap aseton. Endapan metanolik membentuk suatu seskuihidrat
bila dikeringkan sedangkan endapan aseton membentuk suatu produk Kristal anhidrat yang
metastabil; hanya yang terdahulu di suspensikan dengan mudah dalam air. Di samping
pengaruh pelarut terhadap karakteristik Kristal, factor-faktor tambahan berikut mungkin perlu
di pertimbangkan: kemungkinan penyiapan di bawah kondisi steril penjeratan pelarut yang
melekat dan akibat tiksisitas, rasio volume dari fase organik ke fase air lalu dan metode
penambahan satu fase ke fase lainya, pengontrolan temperature (laju pendinginan dan kondisi
pengeringan), metode pengeringan endapan (udara yang di teka, vakum, atau pengeringan
beku) dan akhirnya pencucian endapan tersebut kadang-kadang diperlukan suatu kisaran
ukuran partikel yang sempit bagi terapi parenteral atau terapi inhalasi. Berkenaan dengan hal
yang terakhir, partikel-partikel harus dalam kisaran 1-5 mikron. Jika partikel-partikel terlalu
kecil, partikel akan dihembuskan ke luar; jika terlalu besar partikel tidak bisa masuk dan
diabsorbsi dari daerah paru-paru. Penggunaan kombinasi dari pengendapa steril, pengeringan,
mikronisasi, sterilisasi etilen oksida, dan suspensi kembali dalam keadaan steril mungkin
perlu, dimana residu steril yang bersangkutan harus tidak boleh di abaikan (misalnya etilen
glikol dari prosedur sterilisasi gas etilen oksida).
Metode pengubahan pH medium bisa jadi lebih membantu dan tidak menimbulkan kesulitan
yang serupa dengan endapan pelarut organik.Tetapi teknik ini hanya dapat diterapkan ke
obat-obat yang kelarutanya tergantung pada harga pH.sebagai contoh, suspensi estradiol
dapay dibuat dengan mengubah pH larutan airnya; estradiol lebih mudah larut dalam alkali
seperti larutan kalium dan natrium hidroksida.Jika suatu larutan pekat estradiol dibuat dan
ditambahkan ke suatu larutan asam lemah dari asam klorida, asam sitrat atau asam asetat di
bawah kondisi pengocokan yang tepat, estradiol diendapkan dalam keadaan bagian-bagian
yang sangat halus. Tipe Kristal atau tipe polimorfis tergantung pada faktor-faktor seperti
konsentrasi asam dan basa serta derajat dan tipe cairan yang dimasukkan ke sistem tersebut.
Suspense insulin juga bisa dibuat dengan metode perubahan pH .Insulin mempunyai titik
isoelektrik kira-kira pada pH 5. Jika insulin dicampur dengan suatu protein basa, seperti
protamin, ia akan mudah diendapkan bila pH antara titik isoelektrik dari dua komponen,
yakni pada pH antara 6,9 sampai 7,3 protamin zink berlebih untuk menahan absorbs. Menurut
British Pharmacopoeia 1958, suatu dapar fosfat ditambahkan ke masing-masing vial sehingga
pH-nya antara 6,9 dan 7,3; penyiapan digabung dalam wadah akhir dengan mencampur PZI
dan dapar dalam pengisian. Suspensi zink Adrenokortikotropin (ACTH) dibuat dengan cara
yang sama. Endapan yang terbentuk dalam proses tersebut adalah zink hidroksida atau zink
fosfat, di mana ACTH diabsorbsi; kombinasi ini menghasilkan preparat dengan lama kerja

panjang (long-acting) bila diberikan. Penambahan garam-garam fosfat dan fosfat organik
untuk membuat suatu preparat ACTH dengan lama kerja lebih panjang juga memungkinkan.
Bila metode pengubahan pH atau metode pengendapan pelarut organik digunakan untuk
membuat suatu suspensi, suatu derajat lewat jenuh secara tiba-tiba dalam proses batch
tersebut menyebabkan kenaikan pada pembentukan inti dan pertumbuhan Kristal, sesudah itu
lewat jenuh awal berkurang. Jadi derajat lewat jenuh berubah pada seluruh proses tersebut,
serta laju pembentukan inti dan laju pertumbuhan Kristal tidak konstan; oleh karena itu,
distribusi ukuran partikel bervariasi. Derajat lewat jenuh dan laju pembentukan inti terbesar
terjadi pada awal proses tersebut, sehingga Kristal-kristal yang dibentuk mula-mula menjadi
paling besar karena krisyal-kristal tersebut dipaparkan ke larutan lewat jenuh untuk waktu
yang paling lama. Oleh karena itu terlihat bahwa bila larutan yang digunakan kurang pekat,
distribusi ukuran partikel lebih luas ketimbang bila digunakan larutan yang lebih pekat.
Membuat suspensi dengan penguraian ganda hanya melibatkan proses kimia yang sederhana,
walaupun beberapa faktor fisika yang disebutkan sebelumnya juga berperan. Pembaca diacu
ke teks standar farmasi untuk mengulas pembuatan White Lotion (NF XIII), yakni
pembentukan zink polisulfida dengan mencampur zink sulfat dan larutan kalium
tersulfurasi.

Metode Dispersi
Bila metode dispersi digunakan untuk pembuatan suspensi, pembawa harus diformulasi
sehingga fase padat dengan mudah dibasahi dan didispersikan.Surfaktan dapat digunakan
untuk menjamin pembasahan zat padat hidrofobik dengan seragam.Penggunaan zat
pensuspensi, seperti polielektrolit polimeris sintetis, gom alam, atau tanah liat, bisa diusulkan,
tergantung pada penggunaan spesifik. Metode sebenarnya dari pendispersian zat padat
merupakan salah satu pertimbangan yang lebih penting, karena pengurangan ukuran partikel
mungkin dihasilkan atau mungkin tidak dihasilkan dari proses disperse. Jika terjadi
pengurangan ukuran partikel, partikel-partikel yang diperoleh bisa mempunyai kelarutan
yang berbeda jika melibatkan keadaan metastabil, dan ini bisa mengakibatkan kejenuhan
system tersebut terhenti sejenak. Sejumlah metode disperse digunakan untuk membuat
produk suspensi. Untuk tujuan sekarang tidak perlu menguraikan atau mendiskusikan alat
pengecilan dan shearing yang ada di perdagangan, karena keterangan tentang alat tersebut
dapat diperoleh dengan mudah. Pembaca hanya perlu mengingat kembali bahwa kebanyakan
dari apa yang sudah dan akan dibicarakan berkenaan dengan penerapan teknologi suspensi
dasar, tanpa melihat bagaimana suspensi itu dibuat.

Formulasi Suspensi
Sejauh yang tersirat dalam pembicaraan tersebut, banyak faktor yang harus dipertimbangkan
dalam mengembangkan suatu bentuk sediaan suspensi.Pemikiran dasar meliputi kenyataan
bahwa suspensi mengendap, dan perlu untuk mendistribusikanya kembali sebelum
menggunakan atau memberikanya sebagai produk.Suatu suspensi yang diinginkan harus
dengan mudah didispersikan kembali dengan pengocokan, harus tetap tersuspensi cukup lama
untuk menarik dosis yang tepat pada pemberian, dan harus mempunyai sifat-sifat aliran yang

dikehendaki.dalam fase permulaan formulasi, harus dibuat keputusan mengenai tipe umum
sistem suspensi yang diinginkan.Sebagai catatan, sistem teragregasi biasanya memperlihatkan
pemisahan serius minimum, tergantung pada isi zat padat dan derajat agregasi yang
berlangsung.Sering kali suatu sistem teragregasi bisa tampak kasar karena terbentuknya
agregat.Sebaliknya dalam suatu sistem terdispersi, partikel-partikel didistribusikan dengan
baik dan mengendap dengan sendirinya, tetapi lebih lambat dari sistem teragregasi.Tetapi
partikel-partikel mempunyai kecenderungaan untuk membentuk endapan atau cake yang
sukar untuk didispersikan kembali.

BAHAN PENSUSPENSI DARI ALAM


Bahan alam dari jenis gom sering disebut gom atau hidrokoloid gom dapat larut atau
mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk musilago atau
lendir. Dengan terbentuknya musilago, viskositas cairan tersebut bertambah dan akan
menambah stabilitas suspensi. Kekentalan musilago sangat dipengaruhi oleh panas, Ph, dan
proses fermentasi bakteri. Hal ini dapat dibuktikan dengan percobaan berikut.
Simpan dua botol yang berisi musilago sejenis. Satu botol ditambah dengan asam dan
dipanaskan, kemudian keduanya disimpan di tempat yang sama. Setelah beberapa hari
diamati, ternyata botol yang ditambahkan asam dan dipanaskan mengalami penurunan
viskositas yang lebih cepat dibandingkan dengan botol tanpa pemanasan.
Golongan gom meliputi:
1. a.

Akasia (Pulvis Gummi Arabic)

Bahan ini diperoleh dari eksudat tanaman Acasia sp., dapat larut dalam air, tidak larut dalam
alkohol, dan bersifat asam.Viskositas optimum musilagonya adalah antara Ph 5-9. Jika ada
suatu zat yang menyebabkan pH tersebut menjadi di luar pH 5-9 akan menyebabkan
penurunan viskositas yang nyata. Musilago Gom arab dengan kadar 35% memiliki
kekentalan kira-kira sama dengan gliserin. Gom ini mudah dirusak oleh bakteri sehingga
dalam suspensi harus ditambahkan zat pengawet (preservative).
1. b.

Chondrus

Diperoleh dari tanaman Chondrus crispus atau Gigartina mamilosa, dapat larut dalam air,
tidak larut dalam alkohol, dan bersifat basa.Ekstrak dari Chondrus disebut karagen, yang
banyak dipakai oleh industri makanan.Karagen merupakan derivat dari sakarida sehingga
mudah dirusak oleh bakteri dan memerlukan penambahan pengawet untuk suspensi tersebut.
1. c.

Tragakan

Merupakan eksudat dari tanaman Astragalus gummifera.Tragakan sangat lambat mengalami


hidrasi sehingga untuk mempercepat hidrasi biasanya dilakukan pemanasan. Musilago
tragakan lebih kental dari pada musilago dari Gom arab. Musilago tragakan hanya baik
sebagai stabilisator suspensi, tetapi bukan sebagai emulgator.
1. d.

Algin

Diperoleh dari beberapa spesies ganggang laut.Diperdagangan terdapat dalam bentuk


garamnya, yaitu natrium alginat.Algin merupakan senyawa organik yang mudah mengalami
fermentasi bakteri sehingga suspensi dengan algin memerlukan bahan pengawet.Kadar yang
di pakai sebagai bahan pensuspensi umumnya 1-2%.

Bahan Pensuspensi Alam Bukan Gom


Suspending agent alam yang bukan Gom adalah tanah liat.Tanah liat yang sering
dipergunakan untuk tujuan menambah stabilitas suspensi ada 3 macam yaitu bentonit,
hectorite, dan vegum. Jika tanah liat dimasukkan ke dalam air, mereka akan mengembang
dan mudah bergerak jika dilakukan pengocokan. Peristiwa ini disebut tiksotrofi. Karena
peristiwa tersebut, kekentalan cairan akan bertambah sehingga stabilitas suspensi menjadi
lebih baik.
Ketiga tanah liat tersebut bersifat tidak larut dalam air sehingga penambahan bahan tersebut
kedalam suspensi adalah dengan menaburkan pada campuran suspensi.Keuntungan
penggunaan bahan suspensi dari tanah liat adalah tidak dipengaruhi oleh suhu atau panas dan
fermentasi dari bakteri, karena bahan-bahan tersebut merupakan senyawa anorganik, bukan
golongan karbohidrat.

Bahan Pensuspensi Sintetis


1. a.

Derival selulosa

Termasuk ke dalam golongan ini adalah metil selulosa (methosol, tylose),


karboksimetilselulosa (CMC), hidroksimetil selulosa.Di belakang nama tersebut biasanya
terdapat angka atau nomor, misalnya methosol 1500. Angka ini menunjukan kamampuan
cairan pelarut untuk meningkatkan viskositasnya.Semakin besar angkanya, kemampuannya
semakin tinggi.Golongan ini tidak diabsorpsi oleh usus halus dan tidak beracun sehingga
banyak dipakai dalam produkasi makanan.Dalam farmasi selain untuk bahan pensuspensi
juga digunakan sebagai laksansia dan bahan penghancur atau desintegrator dalam pembuatan
tablet.

1. b.

Golongan organik polimer

Yang paling terkenal dalam kelompok ini adalah Carbophol 934 (nama dagang suatu pabrik).
Organik polimer berupa serbuk putih, bereaksi asam, sedikit larut dalam air, tidak beracun
dan tidak mengiritasi kulit, serta sedikit pemakaianya sehingga bahan tersebut banyak
digunakan sebagai bahan pensuspensi. Untuk memperoleh viskositas yang baik diperlukan
kadar kurang lebih 1%. Carbophol sangat peka terhadap panas dan elektrolit. Hal tersebut
akan mengakibatkan penurunan viskositas larutanya.

Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi,
suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum
digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit
atau melalui selaput lendir.(FI.III.1979)
Sedangkan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, injeksi adalah injeksi yang
dikemas dalam wadah 100 mL atau kurang. Umumnya hanya larutan obat dalam air yang
bisa diberikan secara intravena. Suspensi tidak bisa diberikan karena berbahaya yang dapat
menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kapiler.(FI.IV.1995)
Sediaan steril injeksi dapat berupa ampul, ataupun berupa vial. Injeksi vial adalah
salah satu bentuk sediaan steril yang umumnya digunakan pada dosis ganda dan memiliki
kapasitas atau volume 0,5 mL 100 mL. Injeksi vial pun dapat berupa takaran tunggal atau
ganda dimana digunakan untuk mewadahi serbuk bahan obat, larutan atau suspensi dengan
volume sebanyak 5 mL atau pun lebih. (Anonim.Penuntun Praktikum Farmasetika I.2011)
Berdasarkan R.VOIGHT(hal 464) menyatakan bahwa, botol injeksi vial ditutup
dengan sejenis logam yang dapat dirobek atau ditembus oleh jarum injeksi untuk menghisap
cairan injeksi.
Injeksi intravena memberikan beberapa keuntungan :
a.

Efek terapi lebih cepat .

b. Dapat memastikan obat sampai pada tempat yang diinginkan.


c.

Cocok untuk keadaan darurat.

d. Untuk obat-obat yang rusak oleh cairan lambung.


Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sediaan injeksi
adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau
disusupensikan terlebih dahulu sebelum digunakan secara perenteral, suntikan dengan cara
menembus, atau merobek jaringan kedalam atau melalui kulit atau selaput lendir.
Sediaan steril untuk sedian perenteral digolongkan menjadi lima jenis yang berbeda
yaitu :
a.

Obat larutan, atau emulsi yang digunakan untuk injeksi ditandai dengan nama injeksi,
contohnya adalah injeksi insulin.

b. Sediaan padat kering atau cairan pekat yang tidak mengandung dapar, pengencer atau bahan
tambahan lain dan larutan yang diperoleh setelah penambahan pelarut yang memenuhi
persyaratan injeksi. Sediaan ini dapat membedakannya dari nama bentuknya yaitu steril,
contohnya Ampicilin Sodium steril.
c.

Sediaan seperti tertera pada no b, tetapi mengandung satu atau lebih dapar, pengencer atau
bahan tambahan lain dan dapat dibedakan dari nama bentuknya.yaitu untuk injeksi,
contohnya Methicillin Sodium untuk injeksi.

d. Sediaan berupa susupensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkansacara
intravena atau di dalam saluran spinal, dan dapat dibedakan dari nama bentuknya yaitu
susupensi steril. Contoh Cortisao Suspensi steril.
e.

Sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai membentuk larutan yang
memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan pembawanya yang
sesuai. Dan dapat membedakannya dari nama bentuknya yaitu steril untuk suspensi.
Contohnya Ampicilin steril untuk suspensi.

Rute-rute Injeksi

1. Parenteral Volume Kecil


a.

Intradermal
Istilah intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti lipis dan "dermis" yang
berarti sensitif, lapisan pembuluh darah dalam kulit. Ketika sisi anatominya mempunyai
derajat pembuluh darah tinggi, pembuluh darah betul-betul kecil. Makanya penyerapan dari
injeksi disini lambat dan dibatasi dengan efek sistemik yang dapat dibandingkan karena
absorpsinya terbatas, maka penggunaannya biasa untuk aksi lokal dalam kulit untuk obat
yang sensitif atau untuk menentukan sensitivitas terhadap mikroorganisme.

b. Intramuskular
Istilah intramuskular (IM) digunakan untuk injeksi ke dalam obat. Rute intramuskular
menyiapkan kecepatan aksi onset sedikit lebih normal daripada rute intravena, tetapi lebih
besar daripada rute subkutan.
c.

Intravena
Istilah intravena (IV) berarti injeksi ke dalam vena. Ketika tidak ada absorpsi, puncak
konsentrasi dalam darah terjadi dengan segera, dan efek yang diinginkan dari obat diperoleh
hampir sekejap.

d. Subkutan
Subkutan (SC) atau injeksi hipodermik diberikan di bawah kulit. Parenteral diberikan
dengan rute ini mempunyai perbandingan aksi onset lambat dengan absorpsi sedikit daripada
yang diberikan dengan IV atau IM.
e.

Rute intra-arterial
Disuntikkan langsung ke dalam arteri, digunakan untuk rute intravena ketika aksi
segera diinginkan dalam daerah perifer tubuh.

f.

Intrakardial

Disuntikkan langsung ke dalam jantung, digunakan ketika kehidupan terancam dalam


keadaan darurat seperti gagal jantung.
g. Intraserebral
Injeksi ke dalam serebrum, digunakan khusus untuk aksi lokal sebagaimana
penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal neuroligia.
h. Intraspinal
Injeksi ke dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat dalam daerah
lokal. Untuk pengobatan penyakit neoplastik seperti leukemia.
i.

Intraperitoneal dan intrapleural


Merupakan rute yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin rabies. Rute ini juga
digunakan untuk pemberian larutan dialisis ginjal.

j.

Intra-artikular
Injeksi yang digunakan untuk memasukkan bahan-bahan seperti obat antiinflamasi
secara langsung ke dalam sendi yang rusak atau teriritasi.

k. Intrasisternal dan peridual


Injeksi ke dalam sisterna intracranial dan durameter pada urat spinal. Keduanya
merupakan cara yang sulit dilakukan, dengan keadaan kritis untuk injeksi.
Intrakutan (i.c). Injeksi yang dimasukkan secara langsung ke dalam epidermis di bawah
stratum corneum. Rute ini digunakan untuk memberi volume kecil (0,1-0,5 ml) bahan-bahan
diagnostik atau vaksin.
l.

Intratekal
Larutan yang digunakan untuk menginduksi spinal atau anestesi lumbar oleh larutan
injeksi ke dalam ruang subarachnoid. Cairan serebrospinal biasanya diam pada mulanya
untuk mencegah peningkatan volume cairan dan pengaruh tekanan dalam serabut saraf spinal.

Volume 1-2 ml biasa digunakan. Berat jenis dari larutan dapat diatur untuk membuat anestesi
untuk bergerak atau turun dalam kanal spinal, sesuai keadaan tubuh pasien.
2. Parenteral Volume Besar
Untuk pemberian larutan volume besar, hanya rute intravena dan subkutan yang
secara normal digunakan.
a.

Intravena
Keuntungan rute ini adalah

a)

jenis-jenis cairan yang disuntikkan lebih banyak dan bahkan bahan tambahan banyak
digunakan IV daripada melalui SC

b) cairan volume besar dapat disuntikkan relatif lebih cepat


c) efek sistemik dapat segera dicapai
d) level darah dari obat yang terus-menerus disiapkan
e)

kebangkitan secara langsung untuk membuka vena untuk pemberian obat rutin dan
menggunakan dalam situasi darurat disiapkan.
Kerugiannya adalah meliputi :

a)

gangguan kardiovaskuler dan pulmonar dari peningkatan volume cairan dalam sistem
sirkulasi mengikuti pemberian cepat volume cairan dalam jumlah besar;

b) perkembangan potensial trombophlebitis;


c) kemungkinan infeksi lokal atau sistemik dari kontaminasi larutan atau teknik injeksi septic
d) pembatasan cairan berair.
b. Subkutan
Penyuntikan subkutan (hipodermolisis) menyiapkan sebuah alternatif ketika rute
intravena tidak dapat digunakan. Cairan volume besar secara relatif dapat digunakan tetapi
injeksi harus diberikan secara lambat. Dibandingkan dengan rute intravena, absorpsinya lebih

lambat, lebih nyeri dan tidak menyenangkan, jenis cairan yang digunakan lebih kecil
(biasanya dibatasi untuk larutan isotonis) dan lebih terbatas zat tambahannya.

Keuntungan injeksi
1.

Respon fisiologis yang cepat dapat dicapai segera bila diperlukan, yang menjadi
pertimbangan utama dalam kondisi klinik seperti gagal jantung, asma, shok.

2.

Terapi parenteral diperlukan untukobat-obat yang tidak efektif secara oral atau yang dapat
dirusak oleh saluran pencernaan, seperti insulin, hormon dan antibiotik.

3. Obat-obat untuk pasien yang tidak kooperatif, mual atau tidak sadar harus diberikan secara
injeksi.
4. Bila memungkinkan, terapi parenteral memberikan kontrol obat dari ahli karena pasien harus
kembali untuk pengobatan selanjutnya. Juga dalam beberapa kasus, pasien tidak dapat
menerima obat secara oral.
5. Penggunaan parenteral dapat menghasilkan efek lokal untuk obat bila diinginkan seperti pada
gigi dan anestesi.
6.

Dalam kasus simana dinginkan aksi obat yang diperpanjang, bentuk parenteral tersedia,
termasuk injeksi steroid periode panjang secara intra-artikular dan penggunaan penisilin
periode panjang secara i.m.

7.

Terapi parenteral dapat memperbaiki kerusakan serius pada keseimbangan cairan dan
elektrolit.

8.

Bila makanan tidak dapat diberikan melalui mulut, nutrisi total diharapkan dapat dipenuhi
melalui rute parenteral.

9. Aksi obat biasanya lebih cepat.


10. Seluruh dosis obat digunakan.

11. Beberapa obat, seperti insulin dan heparin, secara lengkap tidak aktif ketika diberikan secara
oral, dan harus diberikan secara parenteral.
12. Beberapa obat mengiritasi ketika diberikan secara oral, tetapi dapat ditoleransi ketika
diberikan secara intravena, misalnya larutan kuat dektrosa.
13. Jika pasien dalam keadaan hidrasi atau shok, pemberian intravena dapat menyelamatkan
hidupnya.

Kerugian Injeksi
1. Bentuk sediaan harus diberikan oleh orang yang terlatih dan membutuhkan waktu yang lebih
lama dibandingkan dengan pemberian rute lainPada pemberian parenteral dibutuhkan
ketelitian yang cukup untuk pengerjaan secara aseptik dari beberapa rasa sakit tidak dapat
dihindari
2. Obat yang diberikan secara parenteral menjadi sulit untuk mengembalikan efek fisiologisnya.
3.

Yang terakhir, karena pada pemberian dan pengemasan, bentuk sediaan parenteral lebih
mahal dibandingkan metode rute yang lain.

4.

Beberapa rasa sakit dapat terjadi seringkali tidak disukai oleh pasien, terutama bila sulit
untuk mendapatkan vena yang cocok untuk pemakaian i.v.

5. Dalam beberapa kasus, dokter dan perawat dibutuhkan untuk mengatur dosis.
6.

Sekali digunakan, obat dengan segera menuju ke organ targetnya. Jika pasien
hipersensitivitas terhadap obat atau overdosis setelah penggunaan, efeknya sulit untuk
dikembalikan lagi.

7.

Pemberian beberapa bahan melalui kulit membutuhkan perhatian sebab udara atau
mikroorganisme dapat masuk ke dalam tubuh. Efek sampingnya dapat berupa reaksi
phlebitis, pada bagian yang diinjeksikan.

Komposisi Injeksi
1. Bahan aktif
Data zat aktif yang diperlukan (Preformulasi)
a.

Kelarutan
Terutama data kelarutan dalam air dari zat aktif sangat diperlukan, karena bentuk
larutan air paling dipilih pada pembuaan sediaan steril. Data kelarutan ini diperlukan untuk
menentukan bentuk sediaan. Zat aktif yang larut air membentuk sediaan larutan dalam air, zat
aktif yang larut minyak dibuat larutan dalam pembawa minyak. Sedangkan zat yang tidak
larut dalam kedua pembawa tersebut dibuat sediaan suspensi. Jika zat aktif tidak larut dalam
air ada beberapa alternatif yang dapat diambil sebelum memutuskan untuk membuat sediaan
suspensi atau larutan minyak yaitu dengan mencari bentuk garam dari zat aktif, melakukan
reaksi penggaraman, atau dicari bentuk kompleksnya

b. pH stabilita
pH stabilita adalah pH dimana penguraian zat aktif paling minimal, sehingga
diharapkan kerja farmakologinya optimal. pH stabilita dicapai dengan menambahkan asam
encer, basa lemah atau dapar.
c.

Stabilitas zat aktif


Data ini membantu menentukan jenis sediaan, jenis bahan pembawa, metoda
sterilisasi atau cara pembuatan. Beberapa factor yang mempengaruhi penguraian zat aktif
adalah:

a) Oksigen (Oksidasi) Pada kasus ini, setelah air dididihkan maka perlu dialiri gas nitrogen dan
ditambahkan antioksidan.
b) Air (Hidrolisis) Jika zat aktif terurai oleh air dapat dipilih alternatif :

Dibuat pH stabilitanya dengan penambahan asam/basa atau buffer

Memilih jenis pelarut dengan polaritas lebih rendah daripada air, seperti campuran pelarut
air-gliserin-propilenglikol atau pelarut campur lainnya.

Dibuat dalam bentuk kering dan steril yang dilarutkan saat disuntikkan.

c) Suhu Jika zat aktif tidak tahan panas dipilih metode sterilisasi tahan panas, seperti filtrasi.
d) Cahaya Pengaruh cahaya matahari dihindari dengan penggunaan wadah berwarna cokelat.
e) Tak tersatukannya (homogenitas) zat aktif ,
f)

Baik ditinjau dari segi kimia, fisika, atau farmakologi.

d. Dosis
Data ini menentukan tonisitas larutan dan cara pemberian. Rute pemberian yang akan
digunakan akan berpengaruh pada formulasi, dalam hal: Volume maksimal sediaan yang
dapat diberikan pada rute tersebut (Lihat datanya pada bagian rute pemberian).
Pemilihan pelarut disesuaikan dengan rute pemberian
Isotonisitas dari sediaan juga dipengaruhi oleh rute pemberian. Pada larutan intravena
isotonisitas menjadi kurang penting selama pemberian dilakukan dengan perlahan untuk
memberikan waktu pengenceran dan adjust oleh darah. Injeksi intraspinal mutlak harus
isotonis.
2. Bahan tambahan
a.

Antioksidan : Garam-garam sulfurdioksida, termasuk bisulfit, metasulfit dan sulfit adalah


yang paling umum digunakan sebagai antioksidan. Selain itu digunakan :Asam askorbat,
Sistein, Monotiogliseril, Tokoferol.

b.

Bahan antimikroba atau pengawet : Benzalkonium klorida, Benzil alcohol, Klorobutanol,


Metakreosol, Timerosol, Butil p-hidroksibenzoat, Metil p-hidroksibenzoat, Propil phidroksibenzoat, Fenol.

c.

Buffer : Asetat, Sitrat, Fosfat.

d. Bahan pengkhelat : Garam etilendiamintetraasetat (EDTA).

e.

Gas inert : Nitrogen dan Argon.

f.

Bahan penambah kelarutan (Kosolven) : Etil alcohol, Gliserin, Polietilen glikol.

g. Propilen glikol, Lecithin


h. Surfaktan : Polioksietilen dan Sorbitan monooleat.
i.

Bahan pengisotonis : Dekstrosa dan NaCl

j.

Bahan pelindung : Dekstrosa, Laktosa, Maltosa dan Albumin serum manusia.

k. Bahan penyerbuk : Laktosa, Manitol, Sorbitol, Gliserin.


3. Bahan Pembawa
Bahan pembawa injeksi dapat berupa air maupun non air. Sebagian besar produk
parenteral menggunakan pembawa air. Hal tersebut dikarenakan kompatibilitas air dengan
jaringan tubuh, dapat digunakan untuk berbagai rute pemberian, air mempunyai konstanta
dielektrik tinggi sehingga lebih mudah untuk melarutkan elektrolit yang terionisasi dan ikatan
hydrogen yang terjadi akan memfasilitasi pelarutan dari alkohol, aldehid, keton, dan amin.
Syarat air untuk injeksi menurut USP :
a.

Harus dibuat segar dan bebas pirogen.

b. Tidak mengndung lebih dari 10 ppm dari total zat padat.


c.

pH antara 5-7

d.

Tidak mengandung ion-ion klorida, sulfat, kalsium dan amonium, karbondioksida, dan
kandungan logam berat serta material organik (tanin, lignin), partikel berada pada batas yang
diperbolehkan.

Air Pro Injeksi


Aqua bidest dengan pH tertentu, tidak mengandung logam berat (timbal, Besi, Tembaga),
juga tidak boleh mengandung ion Ca, Cl, NO3, SO4, amonium, NO2, CO3. Harus steril dan
penggunaan diatas 10 ml harus bebas pirogen. Aqua steril Pro Injeksi adalah air untuk injeksi

yang disterilisasi dan dikemas dengan cara yang sesuai, tidak mengandung bahan antimikroba
atau bahan tambahan lainnya
Cara pembuatan : didihkan air selama 30 menit dihitung dari setelah air mendidih di
atas api lalu didinginkan. Cara : Aqua p.i + karbon aktif 0,1% dari volume, dipanaskan 6070oC selama 15 menit. Tidak boleh menggunakan Aqua DM karena ada zat-zat organik yang
tidak bermuatan dapat lolos, ditanggulangi dengan filtrasi karbon adsorben dan filtrasi
bakteri.
1. Air Pro Injeksi Bebas CO2
CO2 mampu menguraikan garam natrium dari senyawa organic seperti barbiturate
dan

sulfonamide

kembali

membentuk

asam

lemahnya

yang

mengendap.

Cara pembuatan : Mendidihkan air p.i selama 20-30 menit lalu dialiri gas nitrogen sambil
didinginkan. (Rep. Tek Fa. Steril hal 4)
2. Air Pro Injeksi bebas O2
Dibuat dengan mendidihkan air p.i selama 20-30 menit dan pada saat pendinginannya
dialiri gas nitrogen. Dipakai untuk melarutkan zat aktif yang mudah teroksidasi, seperti
apomorfin,

klorfeniramin,

klorpromazin,

ergometrin,

ergotamine,

proklorperazin, promazin, promesatin HCl, sulfamidin, turbokurarin.


3. Pembawa Non Air
Pembawa non air digunakan jika:
a.

Zat aktif tidak larut dalam air

b. Zat aktif terurai dalam air


c.

Diinginkan kerja depo dalam sediaan Syarat umum pembawa non air .

d. Tidak toksik, tidak mengiritasi dan menyebabkan sensitisasi


e.

Dapat tersatukan dengan zat aktif

f.

Inert secara farmakologi

metilergotamin,

g. Stabil dalam kondisi di mana sediaan tersebut biasa digunakan


h. Viskositasnya harus sedemikian rupa sehingga dapat disuntikan dengan muda
i.

Harus tetap cair pada rentang suhu yang cukup lebar

j.

Mempunyai titik didih yang tinggi sehingga dapat dilakukan sterilisasi dengan panas

k. Dapat bercampur dengan air atau cairan tubuh

Syarat-syarat Injeksi
1. Bebas dari mikroorganisme, steril atau dibuat dari bahan-bahan steril di bawah kondisi yang
kurang akan adanya kombinasi mikroorganisme (proses aseptik).
2. Bahan-bahan bebas dari endotoksin bakteri dan bahan pirogenik lainnya.
3. Bahan-bahan yang bebas dari bahan asing dari luar yang tidak larut.
4. Sterilitas
5. Bebas dari bahan partikulat
6. Bebas dari Pirogen
7. Kestabilan
8. Injeksi sedapat mungkin isotonis dengan darah.

Wadah Injeksi
Wadah untuk injeksi termasuk penutup tidak boleh berinteraksi melalui berbagai cara baik
secara fisik maupun kimiawi dengan sediaan, yang dapat mengubah kekuatan, mutu atau
kemurnian di luar persyaratan resmi dalam kondisi biasa pada waktu penanganan,
pengangkutan, penyimpanan, penjualan, dan penggunaan. Wadah terbuat dari bahan yang
dapat mempermudah pengamatan terhadap isi. Tipe kaca yang dianjurkan untuk tiap sediaan
umumnya tertera dalam masing-masing monografi. (FI Ed. IV, hal 10).

Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan di dalamnya
baik secara kimia maupun secara fisika, yang dapat mengakibatkan perubahan khasiat, mutu
dan kemurniannya. (FI ed. III, hal XXXIV)
Bagaimanapun bentuk dan komposisi wadah, wadah pengemas merupakan sumber
dari masalah stabilitas sediaan, bahan partikulat, dan sumber pirogen. (Diktat Steril, hal 82)
Ada dua tipe utama wadah untuk injeksi yaitu dosis tunggal dan dosis ganda. Wadah
dosis tunggal yang paling sering digunakan adalah ampul dimana kisaran ukurannya dari 1100 ml. pada kasus tertentu, wadah dosis ganda dan sebagainya berupa vial serum atau botol
serum. Kapasitas vial serum 1-50 ml, bentuknya mirip ampul tetapi disegel dengan
pemanasan. Ditutup dengan penutup karet spiral. Botol serum juga dapat sebagai botol tipe
army dengan kisaran ukuran dari 75-100 ml dan memiliki mulut yang lebar dimana ditutup
dengan penutup karet spiral. Labu atau tutup yang lebih besar mengandung 250-2000 ml,
digunakan untuk cairan parenteral yang besar seperti NaCl isotonis.
1. Gelas
Gelas digunakan untuk sediaan parenteral dikelompokkan dalam tipe I, Tipe II, dan
Tipe III (tabel 8). Tipe I adalah mempunyai derajat yang paling tinggi, disusun hampir
ekslusif dan barosilikat (silikon dioksida), membuatnya resisten secara kimia terhadap
kondisi asam dan basa yang ekstrim. Gelas tipe I, meskipun paling mahal, ini lebih disukai
untuk produk terbanyak yang digunakan untuk pengemasan beberapa parenteral. Gelas tipe II
adalah gelas soda-lime (dibuat dengan natrium sulfit atau sulfida untuk menetralisasi
permukaan alkalinoksida), sebaliknya gelas tipe III tidak dibuat dari gelas soda lime. Gelas
tipe II dan III digunakan untuk serbuk kering dan sediaan parenteral larutan berminyak. Tipe
II dapat digunakan untuk produk dengan pH di bawah 7,0 sebaik sediaan asam dan netral.
USP XXII memberikan uji untuk tipe-tipe gelas berbeda.

Formulator harus mengetahuidan sadar bahwa masing-masing tipe gelas adalah


berbeda dan level bahan tambahannya (boron, sodium, potassium, kalsium, besi, dan
magnesium) yang berefek terhadap sifat kimia dan fisika. Oleh karena itu, formulator
sebaiknya mempunyai semua informasi yang diperlukan dari pembuatan gelas untuk
memastikan bahwa formulasi gelas adalah konsisten dan dari batch dan spesifikasi bahan
tambahan adalah konsisten ditemukan.
Gelas untuk parenteral volume kecil Tabel 8
Batas

Tipe

Definisi Umum
I

Test USP

Paling resisten, gelas Gelas serbuk


borosilikat
Gelas dibuat dari soda Attack water
lime

II

III
IV

Ukuran (ml)
Semua

ml 0,02
asam
1,0

100
atau 0,7
kurang
0,2
lebih 100
Semua
8,5
Semua
15,0

Gelas soda lime


Gelas serbuk
Gelas soda lime-tujuan Gelas serbuk
umum
Wadah gelas ambar digunakan untuk produk yang sensitif terhadap cahaya. Warna

ambar dihasilkan dengan penambahan besi dan mangan oksida untuk formulasi gelas. Namun
demikian, dapat leach ke dalam formulasi dan mempercepat reaksi oksidasi.
Keuntungan wadah gelas :
a.

mempunyai daya tahan kimia yang baik sehingga tidak bereaksi dengan kandungan wadah
dan tidak mengabsorbsi atau mengeluarkan senyawa organik.

b.

Bersifat tidak permeable sehingga apabila ditutup dengan baik maka pemasukan atau
hilangnya gas-gas dapat diabaikan.

c.

Wadah gelas mudah dicuci karena permukannya licin

d. Bersifat transparan sehingga dapat diamati kandungnnya dalam wadah.


e.

Mempunyai sifat kaku, kuat dan bentuknya stabil. Tahan terhadap tusukan dapat
divakumkan, dapat dipanaskan pada suhu 121O C pada sterilisasi uap dan 2600 C pada
sterilisasi kering tanpa mengalami perubahan bentuk.

Kerugian wadah gelas:


a.

mudah pecah dan bobotnya relatif berat.

b. Wadah yang biasa digunakan untuk sedian injeksi adalah berupa vial atau ampul. Untuk zat
aktif yang mudah teroksidasi biasanya digunakan ampul berwarna gelap (biasanya coklat)
untuk melindungi sediaan dari cahaya.
c.

Gelas tipe I untuk membuat wadah tiup dalam bentuk tabung, misalnya vial, ampul, badan
alat suntik (syringe) dan bagian infus set. Beberapa sediaan parenteral volume kecil dikemas
dalam alat suntik gelas sekali pakai (disposable one-trip glass syringe).

2. Karet
Formulasi karet digunakan dalam sediaan parenteral volume kecil untuk penutup vial
dan catridge dan penutup untuk pembedahan. Formulasi ini betul-betul kompleks. Tidak
hanya mereka mengandung basis polimer karet, tetapi juga banyak bahan tambahan seperti
bahan pelunak, pelunak, vulkanishing, pewarna, aktivator dan percepatan, dan antioksidan.
Banyak bahan-bahan tambahan ini tidak dikarakteristikkan untuk isi atau pemurnian dan
dapat bersumber dari masalah degradasi fisika dan kimia dalam produk parenteral. Seperti
gelas, formulator harus bekerja dengan tertutup dengan pembuat karet untuk memilih
formulasi karet yang tepat dengan spesifikasi tetap dan karakteristik untuk mempertahankan
kestabilan produk.
Paling banyak polimer karet digunakan dalam penutup sediaan parenteral volume
kecil adalah alami dan butil karet dengan silikon dan karet neopren digunakan jarang. Butil
karet lebih disukai karena ini diinginkan sedikit bahan tambahan, mempunyai penyerapan uap
air rendah (oleh karena itu, baik untuk serbuk kering steril sensitif terhadap kelembaban) dan
sifat sederhana dengan penghormatan penyerapan gas dan reaktivitas dengan produk
farmasetik.

Masalah dengan penutup karet termasuk leaching bahan ke dalam produk, penyerapan
bahan aktif atau pengawet antimikroba oleh elastomer dan coring karet oleh pengulangan
insersi benang. Coring menghasilkan partikel karet yang berefek terhadap kualitas dan
keamanan potensial produk.
Silikonisasi penutp karet adalah umum dilakukan untuk memfasilitasi pergerakan
karet melalui peralatan sepanjang proses dan peletakan ke dalam vial. Akan tetapi, silikon
tidak bercampur dengan obat hidrofilik, khususnya protein. Kontak yang luar biasa dengan
karet tersilikonisasi dapat menghasilkan agregasi protein. Pembuatan elastomer mempunyai
perkembangan formulasi yang tidak menginginkan penggunaan silikon untuk menggunakan
dalam operasi produksi kecepatan tinggi.
3. Plastik
Pengemasan plastik adalah sangat penting untuk bentuk sediaan mata yang diberikan
oleh botol plastic fleksibel, orang yang bersangkutan memeras untuk mengeluarkan tetesan
larutan steril, suspensi atau gel. Wadah plastic parenteral volume kecil lain dari produk mata
menjadi lebih luas dipakai karena pemeliharaan harga, eliminasi kerusakan gelas dari
kenyamanan penggunaan. Seperti formulasi karet, formulasi plastik dapat berinteraksi dengan
produk, menyebabkan masalah fisika dan kimia.
Formulasi plastik adalah sedikit. Kompleks daripada karet dan cenderung mempunyai
potensial lebih rendah untuk bahannya. Paling umum digunakan plastik polimer untuk
sediaan mata adalah polietilen densitas rendah. Untuk sediaan parenteral volume kecil yang
lain, formulasi polyolefin lebih luas digunakan sebaik polivinil klorida, polipropilen,
poliamida (nilon), polikarbonat dan kopolimer (seperti etilen-vinil asetat).
Tabel 9- Komponen karet Dapat Diautoklaf Digunakan Dalam Sediaan Parenteral
Volume Kecil
Tipe

Bahan
Tambahan

Penyerapan Uap Reaksi Potensial


Air
Dengan Produk

Butil
Natural
Neupren
Polisopren
Silikon
4. Container / wadah

Sederhana
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Sederhana

Rendah
Sederhana
Sederhana
Sederhana
Sangat tinggi

Sederhana
Tinggi
Tinggi
Sederhana
Rendah

Tipe wadah yang paling umum digunakan untuk sediaan parenteral volume kecil
adalah gelas atau vial polietilen dengan penutup karet dan besi. Gelas ampul digunakan
paling banyak untuk sistem pengemasan parenteral volume kecil, tetapi jarang digunakan
sekarang karena masalah aprtikel gelas ketika leher ampul dibuka. Masing-masing
pembedahan dan wadah catridge mempunyai peningkatan popularitas dan penggunaan karena
kenyamanan mereka dibandingkan vial dan ampul. Vial dan ampul menginginkan
kemunduran produk dari kemasan. Injeksi, sebaliknya produk-produk dalam pembedahan dan
catridge adalah siap untuk diberikan. Keduanya digunakan untuk parenteral volume besar
(LVP).

Evaluasi
Dilakukan setelah sediaan disterilkan dan sebelum wadah dipasang etiket dan dikemas
1. Evaluasi Fisika
a.

Penetapan pH . (FI ed. IV, hal 1039-1040)

b. Bahan Partikulat dalam Injeksi <751> ( FI> ed IV, hal. 981-984).


c.

Penetapan Volume Injeksi Dlam Wadah <1131> (FI ed. IV Hal 1044).

d. Uji Keseragaman Bobot dan Keseragaman Volume (FI ed III hal. 19)
e.

Uji Kejernihan Larutan (FI ED. IV, hal 998)

f.

Uji Kebocoran (Goeswin Agus, Larutan Parenteral.


Pada pembuatan kecil-kecilan hal ini dapat dilakukan dengan mata tetapi untuk produksi
skala besar hal ini tidak mungkin dikerjakan. Wadah-wadah takaran tunggal yang masih
panas setelah selesai disterilkan dimasukkan kedalam larutan biru metilen 0,1%. Jika ada

wadah-wadah yang bocor maka larutan biru metilen akan dimasukkan kedalamnya karena
perbedaan tekanan di luar dan di dalam wadah tersebut. Cara ini tidak dapat dilakukan untuk
larutan-larutan yang sudah berwarna. Wadah-wadah takaran tunggal disterilkan terbalik, jika
ada kebocoran maka larutan ini akan keluar dari dalam wadah. Wadah-wadah yang tidak
dapat disterilkan, kebocorannya harus diperiksa dengan memasukkan wadah-wadah tersebut
ke dalam eksikator yang divakumkan. Jika ada kebocoran akan diserap keluar.
g. Uji Kejernihan dan Warna ( Goeswin Agus, Larutan Parenteral, HAL 201)
h. Umumnya setiap larutan suntik harus jernih dan bebas dari kotoran-kotoran. Uji ini sangat
sulit dipenuhi bila dilakukan pemeriksaan yang sangat teliti karena hampir tidak ada larutan
jernih. Oleh sebab itu untuk uji ini kriterianya cukup jika dilihat dengan mata biasa saja yaitu
menyinari wadah dari samping dengan latar belakang berwarna hitam dan putih. Latar
belakang warna hitam dipakai untuk menyelidiki kotoran-kotoran berwarna muda, sedangkan
latar belakang putih untuk menyelidiki kotoran-kotoran berwarna gelap.
2. Evaluasi Biologi
a.

Uji Efektivitas Pengawet Antimikroba <61> (FI ed IV, HAL 854-855)

b. Uji Sterilitas <71> (FI ed. IV, HAL 855-863)


c.

Uji Endotoksin Bakteri <201> (FI ed. IV, HAL 905-907)

d. Uji Pirogen <231> (FI ed. IV, HAL. 908-909)


e.

Uji Kandungan Zat Antimikroba <441> (FI ed. IV, HAL. 939-942)

3. Evaluasi Kimia
a.

Uji Identifikasi (Sesuai dengan monografi sediaan masing-masing)

b. Penetapan Kadar (Sesuai dengan monografi sediaan masing-masing

Penandaaan

Pada etiket tertera nama sediaan, untuk sediaan cair tertera persentase atau jumlah zat aktif
dalam volume tertentu, cara pemberian, kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluarsa, nama
pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau bets yang menunjukkan identitas.
Nomor lot dan nomor bets dapat memberikan informasi tentang riwayat pembuatan lengkap
meliputi seluruh proses pengolahan, sterilisasi, pengisian, pengemasan, dan penandaan.
Bila dalam monografi tertera berbagai kadar zat aktif dalam sediaan parenteral
volume besar, maka kadar masing-masing komponen disebut dengan nama umum misalnya
injeksi Dekstrosa 5% atau Injeksi Dekstrosa (5%).
Bila formula lengkap tidak tertera dalam masing-masing monografi, Penandaan
mencakup informasi berikut :
1. Untuk sediaan cair, persentase isi atau jumlah tiap komponen dalam volume tertentu, kecuali
bahan yang ditambahkan untuk penyesuaian pH atau untuk membuat larutan isotonik, dapat
dinyatakan nama dan efek bahan tersebut
2. Sediaan kering atau sediaan yang memerlukan pengenceran sebelum digunakan, jumlah tiap
komponen, komposisi pengencer yang dianjurkan, jumlah yang diperlukan untuk mendapat
konsentrasi tertentu zat aktif dan volume akhir larutan yang diperoleh , uraian singkat
pemerian larutan terkonstitusi, cara penyimpanan dan tanggal kadualarsa.
3. Pemberian etiket pada wadah sedemikian rupa sehingga sebagian wadah tidak tertutup oleh
etiket, untuk mempermudah pemeriksaan isi secara visual.