Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN


NEOPLASMA
OLEH
BEKTI SETIAWAN

A. Pengertian
adalah massa abnormal dari sel-sel yang
mengalami proliferasi. Sel-sel neoplasma
berasal dari sel-sel yang sebelumnya adalah
sel-sel normal, selama mengalami perubahan
neoplastik mereka memperoleh derajat
otonomi tertentu. ( Sylvia A Price, 1994 ).

PATOFISIOLOGI

D. PENATALAKSANAAN
1.
2.
3.
4.

MEDIS
OPERATIF
RADIASI
KEMOTERAPI

Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan Neoplasma menurut Doenges,
Marilynn E (2000) diperoleh data sebagai berikut:
1. Aktifitas/istirahat:
Gejala: kerja, aktifitas yang melibatkan banyak gerakan
tangan/pengulangan, pola tidur (contoh, tidur tengkurap).
2. Sirkulasi
Tanda: kongestif unilateral pada lengan yang terkena (sistem
limfe).
3. Makanan/cairan
Gejala: kehilangan nafsu makan, adanya penurunan berat
badan.
4. Integritas Ego
Gejala: stresor konstan dalam pekerjaan/pola di rumah.
Stres/takut tentang diagnosa, prognosis, harapan yang akan
datang.

5. Nyeri/kenyamanan
Gejala: nyeri pada penyakit yang luas/metastatik
(nyeri lokal jarang terjadi pada keganasan dini).
Beberapa pengalaman ketidaknyamanan atau
perasaan lucu pada jaringan payudara. Payudara
berat, nyeri sebelum menstruasi biasanya
mengindikasikan penyakit fibrokistik.
6. Keamanan
Tanda: massa nodul aksila. Edema, eritema pada
kulit sekitar

7. Seksualitas
Gejala: adanya benjolan payudara, perubahan pada
ukuran dan kesimetrisan payudara. Perubahan pada
warna kulit payudara atau suhu, rabas puting yang
tak biasanya, gatal, rasa terbakar atau puting
meregang. Riwayat menarke dini (lebih muda dari
usia 12 tahun), menopause lambat (setelah 50
tahun), kehamilan pertama lambat (setelah usia 35
tahun). Masalah tentang seksualitas/keintiman.
Tanda: perubahan pada kontur/massa payudara,
asimetris. Kulit cekung, berkerut, perubahan pada
warna/tekstur kulit, pembengkakan, kemerahan
atau panas pada payudara. Puting retraksi, rabas
dari puting (serosa, serosangiosa, sangiosa, rabas
berair
meningkatkan kemungkinan kanker, khususnya bila
disertai benjolan)

8. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: riwayat kanker dalam keluarga (ibu,
saudara wanita, bibi dari ibu atau nenek). Kanker
unilateral sebelumnya kanker endometrial atau
ovarium.
Pertimbangan
Rencana
Pemulangan:
DRG
menunjukkan rata-rata lama dirawat 4 hari.
Membutuhkan
bantuan
dalam
pengobatan/rehabilitasi,
keputusan,
aktivitas
perawatan diri, pemeliharaan rumah.

Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan
analisa
data
menurut
Doengoes (2000) dan Brunner & Suddarth
(1999), ditemukan diagnosa keperawatan
sebagai berikut :
Pra operasi :
Ansietas berhubungan dengan diagnosis
kanker, pengobatannya dan prognosis.

Pasca operasi :
1. Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan,
trauma jaringan, interupsi saraf, diseksi otot.
2.
Kerusakan
integritas
kulit
berhubungan
dengan
pengangkatan jaringan, perubahan
sirkulasi,
adanya
edema,
perubahan
pada
elastisitas kulit, sensasi, destruksi jaringan
(
radiasi ).
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan
mastektomi dan efek samping radiasi dan
kemoterapi.
4. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan
gangguan neorumuskular, nyeri, pembentukan
edema.

5. Kurang perawatan diri berhubungan


dengan imobilitas parsial lengan atas pada
tempat yang dioperasi.
6.
Kurang
pengetahuan
berhubungan
dengan
kurang
informasi
mengenai
penyakitnya.

F. Intervensi
Setelah diagnosa keperawatan ditemukan,
dilanjutkan dengan perencanaan untuk setiap
diagnosa keperawatan menurut Doengoes (2000)
dan Brunner dan Suddarth (1999) sebagai berikut
:
Pra operasi :
Ansietas berhubungan dengan diagnosis kanker,
pengobatannya dan prognosis.

Kriteria evaluasi : menunjukan rentang perasaan


yang tepat
Intervensi :
a. Yakinkan informasi pasien tentang diagnosis,
harapan intervensi pembedahan, dan terapi yang
akan datang.

b. Jelaskan tujuan dan persiapan untuk tes diagnostik.


c. Berikan perhatian, keterbukaan dan penerimaan juga privasi
orang terdekat.
d. Berikan informasi tentang sumber komunitas bila ada

Pasca operasi
1. Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, trauma
jaringan, interupsi saraf, diseksi otot.
Kriteria evaluasi:
Tampak rileks, mampu tidur atau istirahat dengan tepat,
mengekspresikan penurunan nyeri.
Intervensi :
a. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya, dan
intensitas (skala 0-10)
b. Diskusikan sensasi masih adanya payudara normal.
c. Bantu pasien menemukan posisi nyaman.
d. berikan tindakan kenyamanan dasar tehnik relaksasi.
e. Sokong dada saat latihan nafas dalam.
f. Berikan obat nyeri yang tepat pada jadwal teratur sebelum
nyeri berat dan sebelum aktivitas dijadwalkan.
g. Berikan analgetik sesuai dengan indikasi.

2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pengangkatan


jaringan, perubahan sirkulasi, adanya edema, perubahan pada
elastisitas kulit, sensasi, destruksi jaringan (radiasi).
Kriteria evaluasi :
Meningkatkan waktu penyembuhan luka, menunjukan
prilaku/tehnik untuk meningkatkan penyembuhan/mencegah
komplikasi.
Intervensi:
a. Kaji balutan luka, awasi jumlah edema, kemerahan, dan nyeri
pada insisi dan lengan. Awasi suhu.
b. Tempatkan pada posisi semi fowler pada punggung atau sisi
yang tidak sakit dengan lengan tinggi dan disokong dengan
bantal.
c. Jangan melakukan pengukuran TD, menginjeksikan obat atau
memasukan IV Line pada lengan yang sakit.

d. Dorong untuk menggunakan pakaian yang tidak sempit , beritahu


pasien untuk tidak menggunakan jam tangan atau perhiasaan lain
pada tangan yang sakit.
e. Berikan antibotik sesuai indikasi.

3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan mastektomi dan efek


samping radiasi dan kemoterapi.
Kriteria evaluasi : menunjukan gerakan ke arah penerimaan diri dalam
situasi, pengenalan dan ketidaktepatan perubahan
dalam konsep diri tanpa menegatifkan harga diri,
menyusun tujuan yang realistik dan secara aktif
berpartisipasi dalam program terapi.
Intervensi:
a. Identifikasi masalah peran sebagai wanita, istri, ibu, wanita karier
dan sebagainya.
b. Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan misal marah,
bermusuhan dan berduka.
c. Diskusikan tanda dan gejala depresi dengan orang terdekat.
d. Yakinkan perasaan pasangan sehubungan dengan aspek seksual, dan
memberikan informasi dan dukungan.

4.

Kerusakan mobilitas fisik berhubungan


neuromuskular, nyeri, pembentukan edema.

dengan

gangguan

Kriteria evaluasi : Menunjukan keinginan untuk berpartisipasi dalam


terapi, menunjukan tehnik yang memampukan
melakukan aktivitas, peningkatan kekuatan bagian
tubuh yang sakit.
Intervensi:
a. Tinggikan lengan yang sakit sesuai indikasi.
b. Dorong pasien untuk menggunakan lengan untuk kebersihan diri,
makan, menyisir rambut, mencuci muka.
c. Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai keperluan.
d.Tingkatkan latihan sesuai indikasi, contoh ekstensi aktif lengan dan
rotasi bahu saat berbaring di tempat tidur, mengangkat lengan untuk
menyentuh ujung jari di belakang kepala.

5. Kurang perawatan diri berhubungan dengan imobilitas parsial


lengan atas pada tempat yang dioperasi.
Kriteria evaluasi :
Menghindari kerusakan mobilitas dan pencapaian perawatan
diri hingga tingkat yang paling tinggi.
Intervensi :
a. Dorong pasien untuk berparstisipasi secara aktif dalam
perawatan pasca operasi.
b. Dorong agar pasien bersosialisasi, terutama dengan orangorang yang telah secara berhasil mengatasi keadaan serupa.
c. Buat modifikasi progresif dalam program latihan pasien
sesuai tingkat kenyamanan dan toleransi.
d. Beri pujian pada pasien ketika tampak kreatif atau rapih.

6.

Kurang pengetahuan berhubungan


informasi mengenai penyakitnya.

dengan

kurangnya

Kriteria evaluasi : Menyatakan pemahaman proses penyakit dan


pengobatan melakukan prosedur yang perlu
dengan benar dan menjelaskan alasan
tindakan, melakukan perubahan pola hidup
dan berpartisipasi pada program pengobatan.
Intervensi :
a. Kaji proses penyakit, prosedur pembedahan, dan harapan
yang akan datang.
b. Diskusikan perlunya keseimbangan kesehatan, nutrisi, makan
dan pemasukan cairan yang adekuat.
c. Anjurkan pasien untuk melindungi tangan dan lengan bila
berkebun. Anjurkan menggunakan alat waspada medik.
d. Tunjukan penggunaan kompres intermiten sesuai kebutuhan.
e. Dorong pemeriksaan diri teratur pada payudara yang masih
ada.

G. Implementasi
Pelaksanaan merupakan tindakan mandiri dasar
berdasarkan
ilmiah,
masuk
akal
dalam
melaksanakan yang bermanfaat bagi klien yang
diantisipasi
berhubungan
dengan
diagnosa
keperawatan dan tujuan yang telah ditetapkan
(Bulechek and Closkey 1985). Pelaksanaan
merupakan pengelolaan dan perwujudan dari
rencana keperawatan yang telah disusun pada
tahap perencanaan. Tindakan keperawatan yang
dilakukan pada klien dapat berupa tindakan
mandiri maupun tindakan kolaborasi.

H. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan
yang mengukur seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan
dapat tercapai berdasarkan standar atau kriteria yang telah
ditetapkan
Evaluasi merupakan aspek penting didalam proses
keperawatan, karena menghasilkan kesimpulan apakah
intervensi keperawatan diakhiri atau ditinjau kembali atau
dimodifikasi kembali. Dalam evaluasi prinsip obyektifitas,
reliabilitas dan validitas dapat dipertahankan agar keputusan
yang diambil tepat.
Evaluasi bersifat
a. evaluasi proses ( formatif ), segera
b. evaluasi hasil ( sumatif ) , sesuai tujuan yang ditetapkan