Anda di halaman 1dari 8

KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT

DI KABUPATEN BANYUMAS

Oleh :
FEBRI YATMIKO
0103513022

PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR IPS
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Soerjanto Poespowardojo budaya secara harfiah berasal dari bahasa latin
yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang.
Budaya merupakan keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam
rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara
belajar. Budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk
jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi
dan akal manusia. Indonesia sendiri merupakan negara yang multicultur artinya terdapat
banyak suku bangsa , agama , bahasa, ras. Dari banyaknya suku bangsa tentu banyak pula
budaya, adat istiadat disetiap suku maupun daerah, yang berbeda antara yang satu dengan
yang lain.
Masalah yang kerap muncul dalam negara dengan multikultur adalah masalah
primordial. Suku, agama, golongan, ataupun ras yang berbeda-beda kerap bersitegang satu
dengan lainnya guna mempertahankan eksistensi mereka. Manifestasi dari hal tersebut
adalah maraknya konflik antar masyarakat Indonesia seperti di Poso, Papua, Sampit,
Maluku, atau kerusuhan antara golongan pribumi versus etnis Cina. Karna latar belakang
tersebut Integrasi nasional merupakan pekerjaan rumah yang amat berat dan harus
diselesaikan oleh seluruh elemen yang mengaku sebagai bagian dari nation Indonesia.
Walaupun integrasi harus dibangun akan tetapi kita juga tidak boleh melupakan
budaya tradisi adat dan bahasa lokal. Kita tetap harus mempertahankan dan
mengembangan budaya dan tradisi kita dengan diiringi penyesuain terhadap budaya luar.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah berdirinya kabupaten Banyumas ?
2. Bagaimana budaya masyarakat Banyumas ?
3. Bagaimana adat istiadat dan tradisi masyarakat kabupaten Banyumas ?
4. Apa saja kesenian asli dari kabupaten Banyumas ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah berdirinya kabupaten banyumas.
2. Untuk mengetahui budaya masyarakat Banyumas.
3. Untuk mengetahui adat istiadat dan tradisi apa saja yang ada di Banyumas.
4. Untuk mengetahui kesenian asli dari banyumas.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Kabupaten Banyumas
Kabupaten Banyumas berdiri pada tahun 1582, tepatnya pada hari Jum'at Kliwon
tanggal 6 April 1582 Masehi, atau bertepatan tanggal 12 Robiul Awwal 990 Hijriyah.
Kemudian ditetapkan dengan Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Daerah Tingkat II
Banyumas Nomor 2 tahun 1990.Keberadaan sejarah Kabupaten Banyumas tidak terlepas
dari pendirinya yaitu Raden Joko Kahiman yang kemudian menjadi Bupati yang pertama
dikenal dengan julukan atau gelar ADIPATI MARAPAT (ADIPATI MRAPAT).
Riwayat singkatnya diawali dari jaman Pemerintahan Kesultanan PAJANG, di
bawah Raja Sultan Hadiwijaya. Kisah pada saat itu telah terjadi suatu peristiwa yang
menimpa diri

(kematian) Adipati Wirasaba ke VI (Warga Utama ke I) dikarenakan

kesalahan paham dari Kanjeng Sultan pada waktu itu, sehingga terjadi musibah
pembunuhan di Desa Bener, Kecamatan Lowano, Kabupaten Purworejo (sekarang)
sewaktu Adipati Wirasaba dalam perjalanan pulang dari pisowanan ke Paiang. Dari
peristiwa tersebut untuk menebus kesalahannya maka Sultan Pajang, memanggil putra
Adipati Wirasaba namun tiada yang berani menghadap.
Kemudian salah satu diantaranya putra menantu yang memberanikan diri
menghadap dengan catatan apabila nanti mendapatkan murka akan dihadapi sendiri, dan
apabila mendapatkan anugerah/kemurahan putra-putra yang lain tidak boleh iri hati. Dan
ternyata diberi anugerah diwisuda menjadi Adipati Wirasaba ke VII.Semenjak itulah putra
menantu yaitu R. Joko Kahiman menjadi Adipati dengan gelar ADIPATI WARGA
UTAMA II.
Kemudian sekembalinya dari Kasultanan Pajang atas kebesaran hatinya dengan
seijin Kanjeng Sultan, bumi Kadipaten Wirasaba dibagi menjadi empat bagian diberikan
kepada iparnya.
1. Wilayah Banjar Pertambakan diberikan kepada Kyai Ngabei Wirayuda.
2. Wilayah Merden diberikan kepada Kyai Ngabei Wirakusuma.
3. Wilayah Wirasaba diberikan kepada Kyai Ngabei Wargawijaya.
4. Wilayah Kejawar dikuasai sendiri dan kemudian dibangun dengan membuka hutan
Mangli dibangun pusat pemerintahan dan diberi nama Kabupaten Banyumas.
Karena kebijaksanaannya membagi wilayah Kadipaten menjadi empat untuk para
iparnya maka dijuluki Adipati Marapat. M.R. Joko Kahiman adalah putra R. Banyaksasro

dengan ibu dari Pasir Luhur. R. Banyaksosro adalah putra R. Baribin seorang pangeran
Majapahit yang karena suatu kesalahan maka menghindar ke Pajajaran yang akhirnya
dijodohkan dengan Dyah Ayu Ratu Pamekas putri Raja Pajajaran. Sedangkan Nyi
Banyaksosro ibu R. Joko Kahiman adalah putri Adipati Banyak Galeh (Mangkubumi II)
dari Pasir Luhur semenjak kecil R. Joko Kahiman diasuh oleh Kyai Sambarta dengan Nyai
Ngaisah yaitu putrid R. Baribin yang bungsu.
1. Sejarah Kesultanan Demak
Periode: Akhir Kesultanan Demak hingga Awal Mataram. Pada jaman
Kesultanan Demak (1478 - 1546), wilayah Banyumasan terdiri dari beberapa
Kadipaten, diantaranya Kadipaten Pasirluhur dengan Adipatinya Banyak Belanak, juga
Kadipaten Wirasaba dengan Adipatinya Wargo Utomo I. Luasnya kekuasaan
Kesultanan Demak membuat Sultan Trenggono (Sultan Demak ke III) merasa perlu
memiliki angkatan perang yang kuat, untuk itu wilayah-wilayah Kesultanan Demak pun
dibagi-bagi secara militer menjadi beberapa daerah komando militer. Untuk wilayah
Barat, Sultan Trenggono mengangkat Adipati Banyak Belanak sebagai Panglima
Komando Wilayah Pertahanan Barat dengan cakupan wilayah meliputi Kerawang
sampai gunung Sumbing (Wonosobo). Sebagai salah seorang Panglima Perang
Kesultanan Demak,

Adipati

Pasirluhur dianugrahi

gelar Pangeran Senopati

Mangkubumi I sedangkan adiknya yang bernama Wirakencana diangkat menjadi Patih.


Setelah Sultan Trenggono wafat, Kesultanan Demak terpecah menjadi 3 bagian,
salah satunya adalah Pajang yang diperintah oleh Joko Tingkir dan bergelar Sultan
Adiwijaya (1546-1587). Pada masa ini, sebagian besar wilayah Banyumasan termasuk
dalam kekuasaan Pajang. Mengikuti kebijakan pendahulunya, Sultan Adiwijaya juga
mengangkat Adipati Pasirluhur yang saat itu dijabat Wirakencana, menjadi Senopati
Pajang dengan gelar Pangeran Mangkubumi II. Sementara itu Adipati Kadipaten
Wirasaba, Wargo Utomo I wafat dan salah seorang putranya bernama R. Joko Kaiman
diangkat oleh Sultan Adiwijaya menjadi Adipati Wirasaba dengan gelar Wargo Utomo
II, beliau menjadi Adipati Wirasaba ke VII. Menjelang berakhirnya kejayaan kerajaan
Pajang dan mulai berdirinya kerajaan Mataram (1587), Adipati Wargo Utomo II
menyerahkan kekuasaan Kadipaten Wirasaba ke saudara-saudaranya, sementara beliau
sendiri memilih membentuk Kadipaten baru dengan nama Kadipaten Banyumas dan
beliau menjadi Adipati pertama dengan gelar Adipati Marapat.
Selanjutnya, Kadipaten Banyumas inilah yang berkembang pesat, telebih setelah
pusat Kadipatennya dipindahkan ke Sudagaran - Banyumas, pengaruh kekuasaannya

menyebabkan Kadipaten-Kadipaten lainnya semakin mengecil. Seiring dengan


berkembangnya Kerajaan Mataram, Kadipaten-Kadipaten di wilayah Banyumasan pun
tunduk pada kekuasaan Mataram.Kekuasaan Mataram atas Kadipaten-Kadipaten di
wilayah Banyumasan tidak secara otomatis memasukkan wilayah Banyumasan ke
dalam lingkar dalam kekuasaan Mataram sehingga Kadipaten-Kadipaten di wilayah
Banyumasan tersebut masih memiliki otonomi dan penduduk Mataram pun menyebut
wilayah Banyumasan sebagai wilayah Mancanegara Kulon.
2. Awal Pembentukan Karesidenan dan Kabupaten-Kabupaten
Sebelum Belanda masuk, wilayah Banyumasan disebut sebagai daerah
Mancanegara Kulon dengan rentang wilayah meliputi antara Bagelen (Purworejo)
sampai Majenang (Cilacap). Disebut Mancanegara Kulon karena pusat pemerintahan
waktu itu memang berada di wilayah Surakarta atau wilayah wetan. Terhitung sejak
tanggal 22 Juni 1830, daerah Mancanegara Kulon ini secara politis masuk di bawah
kontrol pemerintah kolonial Belanda, itulah awal penjajahan Belanda, sekaligus akhir
dari pendudukan kerajaan Mataram atas bumi Banyumasan. Selanjutnya para Adipati di
wilayah Banyumasan pun tidak lagi tunduk pada Raja Mataram, mereka selanjutnya
dipilih dan diangkat oleh Gubernur Jenderal dan dipilih dari kalangan penduduk
pribumi, umumnya putera atau kerabat dekat Adipati terakhir.

B. Budaya Masyarakat Banyumas


Budaya Banyumasan memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan wilayah lain
di Jawa Tengah, walaupun akarnya masih merupakan budaya Jawa. Hal ini sangat terkait
dengan karakter masyarakatnya yang sangat egaliter tanpa mengenal istilah ningrat atau
priyayi. Hal ini juga tercermin dari bahasanya yaitu bahasa Banyumasan yang pada
dasarnya tidak mengenal tingkatan status sosial. Penggunaan bahasa halus (kromo) pada
dasarnya merupakan serapan akibat interaksi intensif dengan masyarakat Jawa lainnya
(wetanan) dan ini merupakan kemampuan masyarakat Banyumasan dalam mengapresiasi
budaya luar. Penghormatan kepada orang yang lebih tua umumnya ditampilkan dalam
bentuk sikap hormat, sayang serta sopan santun dalam bertingkah laku. Tidak dapat
dipungkiri bahwa pengaruh feodalisme memang terasa tetapi itu bukan merupakan
karakter asli masyarakat Banyumasan. Selain egaliter, masyarakat Banyumasan dikenal
memiliki kepribadian yang jujur serta berterus terang atau biasa disebut Cablaka /
Blakasuta.

C. Adat istiadat dan Tradisi dari Banyumas


D. Kesenian dari Banyumas
Kesenian khas Banyumasan tumbuh dan berkembang seusia dengan peradaban Jawa
Kuna. Budaya Banyumasan juga diperkaya dengan masuknya gaya budaya Mataram
(Yogya-Solo) dan Sunda (Pasundan/Priangan). Berikut ini merupakan kesenian-kesenian
yang berasal dari banyumas.
1. Ebeg
Ebeg adalah jenis tarian rakyat yang berkembang di wilayah Banyumasan. Varian
lain dari jenis kesenian ini di daerah lain dikenal dengan nama kuda lumping atau jaran
kepang, ada juga yang menamakannya jathilan (Yogyakarta) juga reog (Jawa Timur).
Tarian ini menggunakan anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna
hitam atau putih dan diberi kerincingan. Penarinya mengenakan celana panjang dilapisi
kain batik sebatas lutut dan berkacamata hitam, mengenakan mahkota dan sumping
ditelinganya. Pada kedua pergelangan tangan dan kaki dipasangi gelang-gelang
kerincingan sehingga gerakan tangan dan kaki penari ebeg selalu dibarengi dengan
bunyi kerincingan.
Dalam prakteknya biasanya terdapat beberapa pemain yang mengalami wuru atau
mendhem yaitu mengalami kesurupan. Malam sebelum pertunjukan para penari
didampingi seorang dukun untuk melakukan sebuah ritual sebelum pertunjukan. Pada
saat para pemain wuru atau mendhempara pemain tidak sadar dan dalam keadaan
tersebut mereka biasanya meminta hal-hal yang aneh seperti meminta makan kaca,
bunga mawar, dedek atau minta dicambuk.
2. Laisan
Laisan adalah jenis kesenian yang melekat pada kesenian ebeg. Laisan dilakukan
oleh seorang pemain pria yang sedang mendem, badannya ditindih dengan lesung terus
dimasukkan ke dalam kurungan, biasanya kurungan ayam, di dalam kurungan itulah
Laisan berdandan seperti wanita. Setelah terlebih dulu dimantra-mantara, kurunganpun
dibuka, dan munculah pria tersebut dengan mengenakan pakaian wanita lengkap.
Laisan muncul di tengah pertunjukan ebeg.
Pada pertunjukan ebeg komersial, salah seorang pemain biasanya melakukan
thole-thole yaitu menari berkeliling arena sambil membawa tampah untuk mendapatkan
sumbangan. Laisan juga dikenal di wilayah lain (wetan) dan mereka biasa menyebutnya
Sintren.

3. Lengger
Kesenian tradisional lengger-calung tumbuh dan berkembang diwilayah ini.
Sesuai namanya, tarian lengger-calung terdiri dari lengger (penari) dan calung (gamelan
bambu), gerakan tariannya sangat dinamis dan lincah mengikuti irama calung. Diantara
gerakan khas tarian lengger antara lain gerakan geyol, gedheg dan lempar sampur. Tari
Lengger dulu penari lengger adalah pria yang berdandan seperti wanita, kini penarinya
umumnya wanita cantik sedangkan penari prianya hanyalah sebagai badut pelengkap
yang berfungsi untuk memeriahkan suasana, badut biasanya hadir pada pertengahan
pertunjukan. Jumlah penari lengger antara 2 sampai 4 orang, mereka harus berdandan
sedemikian rupa sehingga kelihatan sangat menarik, rambut kepala disanggul, leher
sampai dada bagian atas biasanya terbuka, sampur atau selendang biasanya dikalungkan
dibahu, mengenakan kain/jarit dan stagen.
Lengger menari mengikuti irama khas Banyumasan yang lincah dan dinamis
dengan didominasi oleh gerakan pinggul sehingga terlihat sangat menggemaskan.
Peralatan gamelan calung terdiri dari gambang barung, gambang penerus, dhendhem,
kenong dan gong yang semuanya terbuat dari bambu wulung (hitam), sedangkan
kendang atau gendang sama seperti gendang biasa. Dalam penyajiannya calung diiringi
vokalis yang lebih dikenal sebagai sinden. Satu grup calung minimal memerlukan 7
orang anggota terdiri dari penabuh gamelan dan penari/lengger.

E. Bahasa Banyumasan
1. Bahasa Banyumasan / Ngapak
Bahasa Banyumasan terkenal dengan cara bicaranya yang khas. Dialek ini disebut
Banyumasan karena dipakai oleh masyarakat yang tinggal di wilayah Banyumasan.
Seorang ahli bahasa Belanda, E.M. Uhlenbeck, mengelompokan dialek-dialek yang
dipergunakan di wilayah barat dari Jawa Tengah sebagai kelompok (rumpun) bahasa
Jawa bagian barat (Banyumasan, Tegalan, Cirebonan dan Banten Utara). Kelompok
lainnya adalah bahasa Jawa bagian Tengah (Surakarta, Yogyakarta, Semarang dll) dan
kelompok bahasa Jawa bagian Timur. Kelompok bahasa Jawa bagian barat (harap
dibedakan dengan Jawa Barat/ Bahasa Sunda) inilah yang sering disebut bahasa
Banyumasan (ngapak-ngapak). Secara geografis, wilayah Banten utara dan CirebonIndramayu memang berada di luar wilayah berbudaya Banyumasan tetapi menurut
budayawan Cirebon TD Sudjana, logat bahasanya memang terdengar sangat mirip
dengan bahasa Banyumasan.

Hal ini menarik untuk dikaji secara historis. Dibandingkan dengan bahasa Jawa
dialek Yogyakarta dan Surakarta, dialek Banyumasan banyak sekali bedanya.
Perbedaan yang utama yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'. Jadi jika di Solo
orang makan 'sego' (nasi), di wilayah Banyumasan orang makan 'sega'. Selain itu, katakata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh, misalnya kata enak oleh dialek lain
bunyinya ena, sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k'
yang jelas, itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan bahasa Ngapak atau
Ngapak-ngapak.
2. Sejarah Bahasa Banyumas
Menurut para pakar bahasa, sebagai bagian dari bahasa Jawa maka dari waktu ke
waktu, bahasa Banyumasan mengalami tahap-tahap perkembangan sebagai berikut:
1. Abad ke-9 - 13 sebagai bagian dari bahasa Jawa kuno
2. Abad ke-13 - 16 berkembang menjadi bahasa Jawa abad pertengahan
3. Abad ke-16 - 20 berkembang menjadi bahasa Jawa baru
4. Abad ke-20 - sekarang, sebagai salah satu dialek bahasa Jawa modern.
(Tahap-tahapan ini tidak berlaku secara universal) Tahap-tahapan perkembangan
tersebut sangat dipengaruhi oleh munculnya kerajaan-kerajaan di pulau Jawa yang juga
menimbulkan tumbuhnya budaya-budaya feodal. Implikasi selanjutnya adalah pada
perkembangan bahasa Jawa yang melahirkan tingkatan-tingkatan bahasa berdasarkan
status sosial. Tetapi pengaruh budaya feodal ini tidak terlalu signifikan menerpa
masyarakat di wilayah Banyumasan.
Itulah sebabnya pada tahap perkembangan di era bahasa Jawa modern ini,
terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara bahasa Banyumasan dengan bahasa
Jawa standar sehingga di masyarakat Banyumasan timbul istilah bandhekan untuk
merepresentasikan gaya bahasa Jawa standar, atau biasa disebut bahasa wetanan
(timur).Menurut M. Koderi (salah seorang pakar budaya & bahasa Banyumasan), kata
bandhek secara morfologis berasal dari kata gandhek yang berarti pesuruh (orang
suruhan/yang diperintah), maksudnya orang suruhan Raja yang diutus ke wilayah
Banyumasan. Para pesuruh ini tentu menggunakan gaya bahasa Jawa standar
(Surakarta/Yogyakarta) yang memang berbeda dengan bahasa Banyumasan.