Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI PERAIRAN
ISOLASI MIKROBA

Disusun oleh:

Adil Nurdiman

230210130004

Adnan Kresna Rengga

230210130041

Rivanna J H

230210130046

Aini Iftinaan

230210130069

Vega Kharisma N

230210130072

Gadza Bhara Tama

230210130079

Mala Septiani

230210130082

Hanani Adiwira

230210130084

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2014

KATA PENGANTAR

AssalamualaikumWr. Wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah berkenan
member petunjuk kepada kami sehingga laporan praktikum mengenai Isolasi Mikroba
ini dapat diselesaikan. Laporan ini kami buat guna memenuhi salah satu tugas
praktikum mata kuliah Mikrobiologi Perairan.
Di dalam pembuatan makalah ini dapat terselesaikan tentu berkat bantuan dan
tuntunan Allah SWT dan teman-teman yang terlibat. Dalam kesempatan ini kami
mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang terlibat. Akhir kata
semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
WassalamualaikumWr. Wb.

Jatinangor, November 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang

1.2 Tujuan

1.3 Manfaat

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1

Isolasi Mikroba

2.2

Teknik Isolasi Mikroba

2.3

Inokulasi Mikroba

2.4

Teknik Inokulasi

BAB III. METODOLOGI PRAKTIKUM


3.1 Tempat dan Waktu Praktikum

3.2

Alat dan Bahan

3.3

Prosedur Kerja

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1

Hasil

11

4.2

Pembahasan

13

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1

Kesimpulan

15

5.2

Saran

15

DAFTAR PUSTAKA

iv

LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mikroba yang hidup di alam terdapat dalam bentuk populasi campuran. dan
dijumpai sebagai spesies yang tunggal. Dengan demikian, agar mikroba tersebut
dapat diidentifikasikan, sehingga mudah dipelajari sifat pertumbuhan, morfologis,
dan fisiologis masing-masing mikroba maka langkah pertama yang harus dilakukan
yaitu spesies tersebut dipisahkan dari organisme lain yang umum dijumpai dalam
habitatnya, kemudian ditumbuhkan menjadi biakan murni yaitu suatu biakan yang
terdiri dari sel-sel dari satu spesies.
Populasi mikroba di alam tidak terpisah sendiri menurut jenisnya, tetapi terdiri
dari campuran berbagai macam sel. Populasi bakteri ini di dalam laboratorium dapat
diisolasi menjadi kultur murni yang terdiri dari satu jenis yang dapat dipelajari
morfologinya, sifat dan kemampuan biokimiawinya. Dalam mempelajari mikroba
tidak bisa dilakukan secara kasat mata. Sedangkan dalam suatu lokasi yang menurut
manusia sudah cukup kecil, disana masih terdapat bakteri dalam jumlah besar dan
juga bermacammacam jenisnya. Selain itu, di alam mikrobia pada umumnya tidak
hidup tersendiri sebagai individu tunggal dan terlepas dari spesies yang lain, mikroba
lebih sering ditemukan dalam bentuk koloni dan bersama-sama dengan mikroba yang
lain (Sailer, 2000).
Pemindahan bakteri dari medium lama ke medium yang baru atau dikenal
dengan istilah inokulasi bakteri ini memerlukan banyak ketelitian. Terlebih dahulu
kita harus mengusahakan agar semua alat-alat yang akan digunakan untuk pengerjaan
medium dan pengerjaan inokulasi benar-beanr steril.

Hal ini untuk menghindari terjadinya kontaminasi, yaitu masuknya mikroba


lain yang tidak diinginkan sehinggabiakan yang tumbuh di dalam medium adalah
benar-benar biakan murni (Dwidjoseputro, 1980). Ada berbagai cara untuk
mengisolasi bakteri dalam biakan murni yaitu, cara pengenceran, cara penuangan,
cara penggesekan atau penggoresan, cara penyebaran, cara pengucilan 1 sel, dan cara
inokulasi pada hewan. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan
(Dwidjoseputro, 1990).

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan
praktikan dalam mengisolasi mikroba.

1.3 Manfaat
Mampu melakukan isolasi mikroba yang baik sehingga didapatkan biakan murni
mikroba yang diinginkan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Isolasi Mikroba
Isolasi adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam dan
menumbuhkannya dalam suatu medium buatan. Proses pemisahan atau pemurnian
dari mikroorganisme lain perlu dilakukan karena semua pekerjaan mikrobiologis,
misalnya telaah dan identifikasi mikroorganisme, memerlukan suatu populasi yang
hanya terdiri dari satu macam mikroorganisme saja. Prinsip dari isolasi mikroba
adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari
campuran

bermacam-macam

mikroba.

Hal

ini

dapat

dilakukan

dengan

menumbuhkannya dalam media padat sel-sel mikroba akan membentuk suatu koloni
sel yang tetap pada tempatnya. Jika sel-sel tersebut tertangkap oleh media padat pada
beberapa tempat yang terpisah, maka setiap sel atau kumpulan sel yang hidup akan
berkembang menjadi suatu koloni yang terpisah, sehingga memudahkan pemisahan
selanjutnya (Dwidjoseputro, 1998).
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam mengisolasi mikroorganisme
menurut Dwidjoseputro, (1998) adalah sebagai berikut:
1. Sifat dan jenis mikroorganisme;
2. Habitat mikroorganisme;
3. Medium pertumbuhan;
4. Cara menginokulasi dan inkubasi;
5. Cara mengidentifikasi;
6. Cara pemeliharaannya.

2.2 Teknik Isolasi Mikroba


Menurut Pradhika (2008), ada beberapa teknik isolasi mikrobia, yaitu:
1. Teknik penanaman dari suspense
Teknik penanaman ini merupakan lajutan dari pengenceran bertingkat.
Pengambilan suspensi dapat diambil dari pengenceran mana saja tapi biasanya
untuk tujuan isolasi (mendapatkan koloni tunggal) diambil beberapa tabung
pengenceran terakhir.
2. Spread plate (agar tabur ulas)
Spread plate adalah teknik menanam dengan menyebarkan suspensi
bakteri di permukaan agar, agar diperoleh kultur murni. Prosedur kerjanya
adalah suspensi cairan diambil sebanyak 0,1 ml dengan mikropipet kemudian
teteskan diatas permukaan agar yang telah memadat. Trigalski kemudian
dibakar diatas bunsen dan didinginkan beberapa detik. Kemudian suspensi
diratakan dengan menggosokannya pada permukaan agar , penyebaran akan
lebih efektif bila cawan ikut diputar.
3. Pour plate (agar tuang)
Teknik ini memerlukan agar yang belum padat dan dituang bersama
suspensi bakteri ke dalam cawan petri dan dihomogenkan lalu dibiarkan
memadat. Hal ini akan menyebabkan sel-sel bakteri tidak hanya terdapat pada
permukaan agar saja tapi juga di dalam atau dasar agar sehingga bisa
diketahui sel yang dapat tumbuh dipermukaan agar yang kaya O2 dan di
dalam agar yang tidak banyak begitu banyak mengandung O2. Prosedur
kerjanya adalah petridish, tabung pengenceran yang akan ditanam dan media
padat yang masih cair disiapkan. Kemudian 1 ml suspensi bakteri diteteskan
secara aseptis ke dalam cawan kosong Lalu medium yang masih cair dituang
ke dalam petridish lalu petridish di putar membentuk angka 8 agar suspensi
bakteri dan media homogen, kemudian diinkubasi.
Pada spread plate diteteskannya bakteri sebanyak 0,1 ml dan pada pour
plate diteteskan

sebanyak

ml
7

karena spread

plate bertujuan

untuk

menumbuhkan dipermukaanya saja, sedangkan pour plate membutuhkan


ruang yang lebih luas untuk penyebarannya sehingga diberikan lebih banyak
dari pada spread plate.
4. Teknik Penanaman dengan Goresan (Streak)
Bertujuan untuk mengisolasi mikroorganisme dari campurannya atau
meremajakan kultur ke dalam medium baru.
5. Goresan Sinambung
Prosedur kerjanya adalah inokulum loop (ose) disentuhkan pada koloni
bakteri dan gores secara kontinyu sampai setengah permukaan agar. Lalu
petridish diputar 180o dan dilanjutkan goresan sampai habis. Goresan
sinambung umumnya digunakan bukan untuk mendapatkan koloni tunggal,
melainkan untuk peremajaan ke cawan atau medium baru.
6. Goresan T
Prosedur kerjanya adalah petridish dibagi menjadi 3 bagian menggunakan
spidol dan daerah tersebut diinokulasi dengan streak zig-zag. Ose dipanaskan
dan didinginkan, lalu distreak zig-zag pada daerah berikutnya.
7. Goresan Kuadran (Streak quadrant)
Hampir sama dengan goresan T, namun berpola goresan yang berbeda
yaitu dibagi empat. Daerah 1 merupakan goresan awal sehingga masih
mengandung banyak sel mikroorganisma. Goresan selanjutnya dipotongkan
atau disilangkan dari goresan pertama sehingga jumlah semakin sedikit dan
akhirnya terpisah-pisah menjadi koloni tunggal.

2.3 Inokulasi Mikroba


Inokulasi mikroba dimaksudkan untuk menumbuhkan, meremajakan mikroba
dan mendapatkan populasi mikroba yang murni. Inokulasi adalah pekerjaan
memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat
ketelitian yang sangat tinggi. Media untuk membiakkan bakteri haruslah steril
sebelum digunakan. Pencemaran terutama berasal dari udara yang mengandung
8

banyak mikroorganisme. Pemindahan biakan mikroba yang dibiakkan harus sangat


hati-hati dan mematuhi prosedur laboratorium agar tidak terjadi kontaminasi. Oleh
karena itu, diperlukan teknik-teknik dalam pembiakan mikroorganisme yang disebut
dengan teknik inokulasi biakan. Teknik inokulasi merupakan suatu pekerjaan
memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat
ketelitian

yang

sangat

tinggi.

Dengan

demikian

akan

diperoleh

biakan

mikroorganisme yang dapat digunakan untuk pembelajaran mikrobiologi.

2.4 Teknik Inokulasi


Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi biakan murni
mikroorganisme yaitu:
1. Metode gores
Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan
waktu, tetapi memerlukan ketrampilan-ketrampilan yang diperoleh dengan
latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah.
Inokulum digoreskan di permukaan media agar nutrien dalam cawaan petri
dengan jarum pindah (lup inokulasi). Di antara garis-garis goresan akan
terdapat sel-sel yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni.
Cara penggarisan dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk lempeng.
Bila dilakukan dengan baik teknik inilah yang paling praktis. Dalam
pengerjaannya terkadang berbeda pada masing-masing laboratorium tapi
tujuannya sama yaiitu untuk membuat goresan sebanyak mungkin pada
lempeng medium pembiakan.
2. Metode tebar
Setetes inokolum diletakan dalam sebuah medium agar nutrien dalam
cawan petridish dan dengan menggunakan batang kaca yang bengkok dan
steril. Inokulasi itu disebarkan dalam medium batang yang sama dapat
digunakan dapat menginokulasikan pinggan kedua untuk dapat menjamin

penyebaran bakteri yang merata dengan baik. Pada beberapa pinggan akan
muncul koloni koloni yang terpisah-pisah.
3. Metode tuang
Isolasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran. Dasar
melakukan pengenceran adalah penurunan jumlah mikroorganisme sehingga
pada suatu saat hanya ditemukan satu sel di dalam tabung (Winarni, 1997).
4. Metode tusuk
Metode tusuk yaitu dengan dengan cara meneteskan atau menusukan
ujung jarum ose yang didalamnya terdapat inokolum, kemudian dimasukkan
ke dalam media (Winarni, 1997).

10

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Mikrobiologi Perairan dengan judul Isolasi Mikroba dilakukan
pada:
Waktu

: Rabu, 12 November 2014 Pukul 9.50 WIB

Tempat

: Laboratorium TIHP Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan


Universitas Padjadjaran

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1

Alat
Adapun peralatan utama yang dibutuhkan pada proses inokulasi

mikroba adalah sebagai berikut:


1. Inkubator:

Peralatan

yang

dilengkapi

dengan

sistem

untuk

mempertahankan suhu dan kelembaban selama masa inkubasi sehingga


mikroba dapat tumbuh secara baik.
2. Jarum ose: Prinsip kerjanya yaitu ose disentuhkan pada bagian mikrobia
kemudian menggosokkan pada kaca preparat untuk diamati
3. Lampu bunsen: Prinsip kerja alat ini

bekerja berdasarkan metode

pemanasan bakteri dengan nyala api langsung


4. Suryakanta: Dalam penggunaan lup seseorang harus menempatkan benda
yang akan dilihat pada ruang satu (antara lensa dan fokus lensa) sehingga
akan dihasilkan bayangan yang diperbesar dan maya. Perbesaran yang
dihasilkan oleh lup adalah perbesaran anguler atau perbesaran sudut.

11

5. Tabung reaksi: Prinsip kerjanya yaitu sebagai wadah

penyimpanan

medium dengan volume tidak diketahui karena tidak memiliki skala


6. Cawan petri: Prinsip kerjanya yaitu, medium diletakkan di dalam cawan
petri kemudian ditutup dengan menggunakan penutup cawan

3.2.2

Bahan
Adapun bahan utama yang dibutuhkan pada proses isolasi mikroba

adalah sebagai berikut:


1. Media kultur steril;
2. Ikan sebagai sumber mikroba;
3. Media berisi inokulan.

3.3 Prosedur Kerja


Untuk menghasilkan kultur murni melalui proses isolasi mikroba dapat
dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:
1. Siapkan ikan yang akan dijadikan sumber mikroba.
2. Cuci bagian luar ikan dengan 50 ml akuabides dan tampung air hasil
pencucian.
3. Keluarkan insang ikan dan letakkan pada cawan petri steril. Tambahkan 10
ml akuabides. Aduk hingga rata.
4. Ambil 10 mg saluran pencernaan ikan dan letakkan pada mortal steril.
Lumatkan dan tambahkan 10 ml akuabides. Aduk hingga rata.
5. Lakukan serial pengenceran 10-1 sampai 10-6.
6. Ambil 1 ml dari masing-masing hasil pengenceran di atas (luar tubuh ikan,
insang dan saluran pencernaan), masukan secara aseptik ke cawan petri.
7. Tambahkan 15 ml media agar yang masih hangat dan aduk dengan
menggerak-gerakan cawan petri di atas meja hingga membentuk pola angka
delapan.

12

8. Lakukan inkubasi selama 2 x 24 jam. Lakukan pengamatan terhadap mikroba


yang tumbuh.
9. Apabila mikroba yang tumbuh lebih dari satu jenis populasi, harus dilakukan
isolasi tahap kedua hingga didapatkan populasi sejenis (biakan murni).
10. Siapkan media kultur yang telah berisi inokulan. Tentukan dua jenis populasi
mirkoba yang akan dipilih. Pemilihan mikroba sebaiknya didasarkan pada
karakter bentuk atau warna yang khas.
11. Siapkan media kultur steril yang akan digunakan untuk menginokulasi
mikroba.
12. Ambil ose dan lakukan sterilisasi panas dengan menggunakan lampu
bunsen/spirtus.
13. Dinginkan beberapa saat dengan cara menggerak-gerakan ose di udara.
Tempelkan ose tersebut ke populasi mikroba terpilih secara aseptik.
14. Inokulasikan mikroba yang menempel pada ose ke media kultur steril yang
telah disediakan dengan menggunakan metode gores (streak methods).
15. Masukan media kultur yang telah diinokulasi mikroba terpilih ke dalam
inkubator. Lakukan proses inkubasi selama dua hari.
16. Amati populasi mikroba yang tumbuh. Apabila telah didapat populasi sejenis,
lakukan identifikasi.

13

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

BENTUK

FISIK
(MORFOLOGIS)

KOLONI 1

KOLONI 2

Filamentous

Irregular

Lobate

Smooth

Smooth

Smooth

1. Bentuk Koloni
Mikroba

2. Bentuk Tepi
Koloni Mikroba

3. Bentuk Permukaan
Koloni

14

15

4.2 Pembahasan
Pada praktikum isolasi mikroba yang dilakukan, sumber mikroba didapat dari
air cucian ikan, insang, dan saluran pencernaan. Masing-masing kelompok
melakukan pengenceran sesuai dengan sampel yang diinstruksikan. Pengenceran
yang dilakukan adalah dari larutan 10-1 sampai 10-6. Kelompok 6 mendapat sampel
mikroba yang berasal dari insang dan melakukan pengenceran sampai 10-4. Sampel
hasil pengenceran disimpan di tabung reaksi. Setelah nutrient agar (NA) siap, lampu
bunsen dinyalakan dan cawan petri yang sebelumnya disterilisasi dibuka untuk
selanjutnya digunakan sebagai media untuk isolasi. Cawan petri diletakan di dekat
lampu Bunsen sambil diputar agar panas dari lampu Bunsen mengenai seluruh bagian
cawan petri. Tujuannya agar media untuk isolasi mikroba berada dalam kondisi yang
steril sehingga tidak ada kontaminasi dari mikroba lainnya. Sembari masih berada di
dekat lampu Bunsen, tutup cawan petri dibuka lalu 1 ml sampel mikroba yang berada
di tabung reaksi dituangkan ke cawan petri. Setelah itu, sebanyak + 15 ml NA juga
dituangkan ke dalam cawan petri. Cawan petri kembali diputar di dekat lampu
Bunsen. Setelah itu, lampu Bunsen dimatikan dan cawan petri digerakan searah angka
8, tujuannya agar mikroba dan NA menyatu di dalam cawan petri. Setelah dirasa
merata, cawan petri kembali dibungkus oleh kertas untuk selanjutnya dilakukan
inkubasi selama 2x24 jam.
Tujuan dari inkubasi adalah agar mikroba yang telah diinokulasi pada media,
mendapat suhu optimum untuk tumbuh dengan baik sehingga nantinya didapatkan
mikroba yang diinginkan. Setelah mikroba diinkubasi, mikroba kemudian
dipindahkan ke cawan petri lain yang telah terisi oleh NA yang baru. Pemindahan
mikroba ini dilakukan dengan teknik penggoresan, yakni dengan menggunakan jarum
ose yang sebelumnya disterilisasi di lampu Bunsen. Jarum ose kemudian ditempelkan
di cawan petri yang telah diinkubasi untuk mengambil sampel mikroba yang akan
dibiakan. Lalu pada cawan petri berisi NA yang baru, jarum ose digoreskan pada
permukaan NA secara zig zag. Sebelumnya cawan petri baik yang setelah diinkubasi
maupun yang berisi NA baru, dipanaskan di dekat lampu Bunsen bagian pinggirnya.
16

Cawan petri yang berisi NA baru, pada bagian bawahnya diberi garis untuk membagi
ke dalam dua sisi. Tujuannya adalah untuk membuat biakan murni dari dua jenis
mikroba yang berbeda (apabila pada hasil inkubasi terdapat berbagai jenis mikroba
yang berbeda). Kedua sisi sama-sama digoreskan mikroba secara zig zag oleh jarum
ose. Pada saat penggoresan jangan sampai jarum ose terlalu dalam mengenai NA
sebab akan merusak NA yang dijadikan media tumbuh mikroba. Setelah mikroba
dipindahkan ke cawan petri yang baru, kedua cawan petri sama-sama diinkubasi.
Setelah inkubasi pada cawan petri baru selesai, barulah terlihat mikroba hasil
inokulasi yang telah dilakukan. Pada kelompok 6, biakan murninya berwarna putih
dan koloni mikroba pada sisi pertama adalah flamentous dan pada sisi kedua bentuk
koloninya irregular. Bentuk tepi koloni satu adalah lobate dan koloni dua adalah
smooth. Bentuk permukaan koloni satu dan dua adalah smooth.

17

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Isolasi adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam dan
menumbuhkannya dalam suatu medium buatan. Dalam isolasi perlu dilakukan
inokulasi dan inkubasi. Metode yang digunakan dalam isolasi adalah metode tuang
dan metode gores. Selama proses inokulasi, media harus selalu dalam keadaan steril
agar media biakan murni tidak terkontaminasi oleh mikroba lainnya. Hasil dari isolasi
mikroba pada praktikum ini diperoleh bentuk koloni pada sisi pertama yaitu
filamentous dan pada sisi kedua yaitu irregular.

5.2 Saran
Sebaiknya praktikan dalam melakukan isolasi lebih teliti dan selalu dalam
keadaan steril agar mikroba hasil biakan murni tidak terkontaminasi mikroba lainnya
yang tidak diinginkan. Dalam metode penggoresan, praktikan harus lebih berhati-hati
agar jarum ose tidak merusak media agar untuk biakan murni.

18

DAFTAR PUSTAKA

Buckle. 2007. Mikrobiologi Terapan. Universitas Gajah Mada: Yogyakarta


Plezar.2006. Dasar-Dasar-Mikrobiologi. Jakarta : UI Press
Rusdimin. 2003. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: Pt Gramedia
Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinanti, Jakarta
Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. Penerbit Universitas Muhammadiyah
Malang.

19

LAMPIRAN 1

Pendalaman

1. Jelaskan oleh Anda, kemungkinan apa yang dapat menyebabkan kegagalan


pembuatan biakan murni mikroba.
-

Penyebab kegagalan bisa saja karena kurang teliti dan hati-hati dalam
melakukan teknik pembuatan biakan murni, seperti penggunaan jarum
ose yang tidak pengerjaanya yang tidak aseptik atau tidak dilakukan
dibelakang lampu bunsen sehingga mengakibatkan masuknya zat atau
mikroba lain yang mengganggu pertumbuhan biakan murni.

2. Mengapa tidak dilakukan proses pengenceran inokulan pada saat melakukan


isolasi mikroba?
-

Karena pada pengenceran inokulan, kemungkinan besar kita akan


mendapatkan beberapa koloni yang akan tumbuh dalam medium tersebut,
akan tetapi mungkin juga kita hanya akan memperoleh satu koloni saja.
Kemungkinan ini juga menyebabkan koloni yang dihasilkan bukan
merupakan biakan murni seperti yang diinginkan dari tujuan isolasi
mikroba.

3. Apakah hasil isolasi yang Anda lakukan belum berhasil mendapatkan biakan
murni. Jelaskan alasan Anda?
-

Mikroba yang telah diisolasi didapatkan biakan yang murni. Hal ini
ditunjukkan dengan warna mikroba pada cawan petri yang sama warnanya
yaitu putih. Dalam satu koloni hanya terdapat satu bentuk koloni yang
menandakan bahwa mikroba murni yang diinginkan berhasil dibiakan. Hal

20

ini dapat berhasil karena pada saat inokulasi dilakukan dalam keadaan
yang aseptik.
4. Menurut Anda, apakah isolasi mikroba hanya dilakukan pada media agar
lempeng, tidak bisa dilakukan pada media agar tegak atau agar miring?
-

Isolasi mikroba juga dapat dilakukan pada media agar tegak atau agar
miring. Kedua teknik ini memiliki keuntungannya masing-masing. Pada
media agar tegak, dilakukan untuk meminimalisir pertumbuhan mikroba
dalam keadaan kekurangan oksigen. Pada media agar miring, digunakan
untuk menguji gerak mikroba secara makroskopis.

5. Mengapa pada proses inokulasi mikroba, ose hanya ditempelkan pada


populasi mikroba terpilih?
-

Agar nantinya biakan murni yang dihasilkan adalah jenis mikroba yang
benar-benar kita inginkan tanpa adanya kontaminasi mikroba lainnya.

21

LAMPIRAN 2

22

23