Anda di halaman 1dari 20

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Menurut Rubatzky dan Yamaguchi (1998), sistematika dari tanaman jagung


adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Subdivisio

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Poales

Family

: Poaceae

Genus

: Zea

Spesies

: Zea mays L.

Morfologi tumbuhan berbiji dengan variasi meliputi akar (radix), batang


(cauli), daun (folium), bunga (flos), buah (fructus), dan biji (semen) (Yudianto,
1992).

Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8


meter meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m
(http://numairunizar.blogspot.com, 2008).

Batang tanaman yang kaku ini tingginya berkisar antara 1,5 m dan 2,5 m
dan terbungkus oleh pelepah daun yang berselang-seling yang berasal dari setiap
buku. Buku batang mudah terlihat (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Kedudukan daunnya distik (dua baris daun tunggal yang keluar dalam
kedudukan berselang) dengan pelepah-pelepah daun yang saling bertindih dan
daunnya lebar yang relatif panjang. Epidermis daun bagian atas biasanya berambut
halus dan mempunyai baris-baris sel membuyar membentuk gelembung (buliform)
yang dengan perubahan turgor, menyebabkan daun-daun menggulung atau

membuka permukaan daun bagian bawah glabrus (tanpa rambut-rambut) dan


biasanya mempunyai agak lebih banyak stomata daripada permukaan bagian atas.
Kemiringan daun sangat bervariasi antara genotif dan kedudukan daun yang
berkisar dari hampir datar sampai tegak dalam 1 mutan (Goldsworthy dan Fisher,
1992).

Bunga jagung bersifat protandry, dimana bunga jantan disebut malai


umumnya tumbuh 1 4 hari sebelum muncul rambut pada bunga betina (tongkol).
Bunga betina berbentuk gada, putih panjang dan disebut rambut jagung, letaknya
di bawah malai (bunga jantan) (Nurmala, 1994).

Tongkol tumbuh dari buku diantara batang dan pelepah daun. Pada
umumnya, satu tanaman jagung hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif
meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat
menghasilkan lebih banyak dari satu tongkol produktif (http://en.wikipedia.org,
2009).

Biji-biji jagung tertempel kuat pada suatu proses yang sangat kuat janggel
dan tidak seluruhnya tertutup oleh daun pelindung bunga atau sekam-sekam
sebagaimana kebanyakan graminae lainnya (Goldsworthy dan Fisher, 1992).

Syarat Tumbuh

Iklim

Agar tumbuh dengan baik, tanaman jagung memerlukan temperature ratarata antara 14 30o C pada daerah dengan ketinggian sekitar 2200 m dpl, dengan
curah hujan sekitar 600 1200 mm/tahun yang terdistribusi rata selama musim
tanam (Kartasapoetra, 1988).

Suhu optimal untuk pertumbuhan jagung berkisar antara 24 25o C. Suhu


optimal yang diperlukan untuk perkecambahan jagung adalah 30 32o C, untuk
pembungaan sampai pemasakan adalah 30o C. Intensitas radiasi matahari sangat

diperlukan dalam jumlah yang cukup, sesuai dengan sifat tanaman jagung sebagai
golongan tanaman C4. Sebaiknya jagung mendapat cahaya matahari yang
langsung tanpa adanya ruangan (Nurmala, 1994).

Curah hujan yang ideal untuk tanaman jagung adalah sekitar 100 200
mm/bulan. Curah hujan paling optimum adalah sekitar 100 125 mm/bulan dengan
distribusi yang merata. Angin dibutuhkan tanaman jagung untuk membantu proses
penyerbukan (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).

Keadaan basah memang diperlukan ketika biji jagung mulai ditanam,


keadaan kering pada waktu penanaman pemula adalah jelek, baik bagi
pertumbuhannya selanjutnya maupun bagi pertumbuhannya (Kartasapoetra, 1988).

Tanah

Tanaman jagung dapat ditanam di dataran rendah atau di dataran tinggi


sampai ketinggian 2000 m di atas permukaan laut. Jagung yang diusahakan di
dataran tinggi biasanya berumur lebih panjang daripada jagung yang diusahakan di
dataran rendah. Tanaman ini juga tidak terlalu menuntut jenis tanah yang khusus
untuk pertumbuhannya. Tanah-tanah yang mengandung kadar lempung sedang,
disertai dengan drainase yang baik serta banyak mengandung bahan organik yang
tinggi adalah cocok untuk tanaman jagung. Keasaman tanah (pH) yang diinginkan
berkisar antara 5,5 6,8. Tanaman jagung yang ditumbuhkan pada tanah-tanah
yang terlalu asam akan memberikan hasil yang rendah (Sutarya dan Grubben,
1995).

Keadaan basah memang diperlukan ketika biji jagung mulai ditanam,


keadaan kering pada waktu penanaman pemula adalah jelek, baik bagi
pertumbuhannya selanjutnya maupun bagi pembuahannya. Demikian pula keadaan
yang terlalu basah tidak menguntungkan tanaman karena cenderung dapat
mengandung berbagai penyakit tanaman (Kartasapoetra, 1988).

Tanaman jagung dapat ditanam di dataran rendah atau di dataran tinggi,


keasaman tanah (pH) yang diinginkan berkisar antara 5,5 sampai 6,8 (Sutarno,
1995).

Macam tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah tanah
alluvial atau lempung yang subur, terbebas pengairannya karena tanaman jagung
tidak toleran pada genangan air (Kartasapoetra, 1988).
Jagung dapat tumbuh pada semua jenis tanah, akan tumbuh lebih baik pada
tanah yang gembur dan kaya humus, mempunyai aerasi dan drainase yang baik
(Nurmala, 1994).

Karakter Morfologi dan Produksi Tanaman Jagung

Jagung (Zea mays L.) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis
rumputan/graminae yang mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan
munculnya cabang anakan pada beberapa genotip dan lingkungan tertentu. Bagian
batang jagung terdiri atas buku dan ruas. Daun jagung tumbuh pada setiap buku
berhadapan satu sama lain. Bunga jantan terletak pada bagian terpisah pada satu
tanaman sehingga lazim terjadi penyerbukan silang (http://itcenter_purwodadi,
2009).

Morfologi pokok jagung, ia adalah tanaman semusim yang mengambil masa


lebih kurang 3 bulan untuk matang. Akar serabut, akar sokong pada pangkal batang
menolong menyokong pokok. Rambut jagung yang terdapat di ujung batang pokok
menghasilkan biji-biji sebelum bunga betina matang. Tongkol terdapat di ketiak
daun pokok matang mengandung benih jagung. Penyerbukan dibantu oleh angin
(http://zalehahalimi.tripod.com, 2009).

Pada ekologi lahan kering umumnya petani menanam varietas lokal, baik
jagung putih (konsumsi rumah tangga), maupun jagung kuning (dijual). Saat ini
jagung varietas hibrida telah sampai kepada semua petani yang menanam jagung
(http://balitsereal.litbang.deptan.go.id, 2009).
Ada beberapa jenis varietas tanaman jagung yang tingkat produksinya tinggi.
Varietas jaya-1 potensi hasil 15,5 t/ha pipilan kering, pada varietas pioneer-12
potensi hasil 10-11 t/ha pipilan kering, dan pada varietas bisi-2 potensi hasil 9-10
t/ha pipilan kering (http://ntb.litbang.deptan.go.id, 2009).

Persilangan atau polinasi (dari bahasa Inggris, pollination cf. pollen, "serbuk sari"),
adalah jatuhnya serbuk sari pada permukaan putik. Serbuk sari dan putik pada
suatu tanaman akan timbul pada masa generatif. Pada sebagian besar bunga,
peristiwa ini berarti "jatuh pada bagian kepala putik" (http://id.wikipedia.org, 2009).

Penyerbukan pada jagung terjadi bila serbuk sari dari bunga jantan
menempel pada rambut tongkol. Hampir 95% dari persarian tersebut berasal dari
serbuk sari tanaman lain, dan hanya 5% yang berasal dari serbuk sari tanaman
sendiri. Dan biasanya hasil produksi dari penyerbukan silang lebih besar daripada
penyerbukan sendiri. Terlepasnya serbuk sari berlangsung 3 6 hari, bergantung
pada varietas, suhu, dan kelembaban. Rambut tongkol tetap reseptif dalam 3 8
hari. Serbuk sari masih tetap hidup dalam 4 16 jam sesudah terlepas.
Penyerbukan selesai dalam 24 36 jam dan biji mulai terbentuk sesudah 10 15
hari. Tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas.
Setiap tongkol terdiri atas 10 16 baris biji yang jumlahnya selalu genap (Subekti
dkk, 2008).

Benih jagung hibrida yang dikembangkan petani mampu memberi hasil 6 7


ton/ha. Hal ini berarti peningkatan produksi jagung di Indonesia lebih banyak
ditentukan oleh peningkatan produktivitas daripada perluasan areal tanam. Sejak
tahun 1995 penanaman jenis varietas jagung hibrida di Indonesia mengalami
perkembangan pesat. Hingga tahun 2006 terdapat enam perusahaan benih jagung
hibrida telah melepas dua varietas jagung hibrida dengan potensi hasil 9,0 10,0
ton/ha (Takdir, 2007).

Varietas bersari bebas merupakan populasi campuran hibrida silang tunggal yang
kompleks. Produktivitas suatu varietas bersari bebas adalah rata-rata produktivitas
hibrida penyusunannya. Dengan demikian mudah dimengerti bahwa hibrida yang
tertinggi hasilnya akan lebih tinggi daripada varietas bersari bebas yang paling
tinggi hasilnya. Namun, karena bahan asal varietas hibrida dan karena lingkungan
tumbuh berbeda satu dengan yang lain maka untuk suatu agroekologi ada saja
varietas bersari bebas yang hasilnya sama atau bahkan lebih tinggi dari varietas
hibrida (Subandi, 2009).

Tanaman jagung adalah protandry dimana pada sebagian besar varietas, bunga
jantannya muncul (anthesis) 1-3 hari sebelum rambut bunga betina muncul (silking)
(http://id.wikipedia.org, 2009).

A. Sistematika Tanaman JagungDalam sistematika Tumbuh-tumbuhan (taksonomi),


Jagung diklasifikasikan sebagai berikut :

Kerajaan : Plantae
Divisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L.

B. Morfologi Tanaman Jagung.

1. Akar.

Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun
sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa
muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu
menyangga tegaknya tanaman.

2. Batang jagung .

Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun
tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh
pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus
pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak
banyak mengandung lignin.

3. Daun.

Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan
helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan
daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stomata pada daun jagung berbentuk
halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stomata dikelilingi sel-sel
epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman
menanggapi defisit air pada selsel daun.

4. Bunga.

Jagung memiliki bunga jantandan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu
tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku
Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae
(tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa
karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas.
Bunga betina tersusun dalam tongkol.

5. Tongkol.

Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya,
satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki
sejumlah bunga betina. Buah Jagung siap panen Beberapa varietas unggul dapat
menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik.
Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada
bunga betinanya (protandri).
DAFTAR PUSTAKA

Arya, P.S., 1999. Vegetable Seed Introduction. Kalyani Publisher, New York

Ashari, S., 1998. Pengantar Biologi Reproduksi Tanaman. Rineka Cipta, Jakarta.

Goldsworthy, P.R dan N.M. Fisher., 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik.
Diterjemahkan oleh Ir. Tohari, MSc. UGM-Press, Yogyakarta.

Heddy, S., 2001. Ekofisiologi Tanaman. PT.RajaGrafindo Persada, Jakarta.

http://balitsereal.litbang.deptan.go.id., 2009. Karakterisasi Sistem Produksi Jagung.


Diakses pada tanggal 26 April 2009.

http://bdpundip.org., 2009. Persilangan Dalam. Diakses pada tanggal 26 April 2009.

http://id.wikipedia.org., 2009. Tanaman Jagung. Diakses pada tanggal 26 April 2009.

http://en.wikipedia.org., 2009. Tanaman Jagung. Diakses pada tanggal 26 April


2009.

http://itcenter-purwodadi.net.,, 2009. Morfologi Jagung. Diakses pada tanggal 26


April 2009.

http://ntb.litbang.deptan.go.id., 2009. Varietas Tanaman Jagung. Diakses pada


tanggal 26 April 2009.

http;//numairunizar.blogspot.com., 2008. Tanaman Jagung. Diakses pada tanggal 26


April 2009.

http://zalehahalimi.tripod.com., 2009. Tanaman Jagung. Diakses pada tanggal 26


April 2009.

Kartasapoetra, A.G., 1988. Teknologi Budidaya Tanaman Pangan di Daerah Tropik.


Bina Aksara, Jakarta.

Nurmala, T., 1994. Serealia Sumber Karbohidrat Utama. Rineka Cipta, Jakarta
Makmur, A., 2003. Pemuliaan Tanaman bagi Lingkungan Spesifik. IPB-Press, Bogor.

Rubatzky, V.E dan M. Yamaguchi., 1998. Sayuran Dunia. ITB-Press, Bandung.

Splittstoesser, W.E., 1984. Vegetable Growing Handbook. Van Nostrand Reinhold


Company, New York.

Subekti, N.A.; Syafruddin, R.; R. Effendi.; dan S. Sunarti, 2008. Morfologi Tanaman
dan Fase Pertumbuhan Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros.

Suhadi, 2009. Varietas Bersari Bebas vs Varietas Hibrida pada Tanaman Jagung.
Diakses dari http://www.tanindo.com pada tanggal 26 april 2009.

Sutarno, H., 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Datarn Rendah. UGM-Press dan
Prosea Indonesia, Yogyakarta.

Sutarya, R. dan G. Grubben., 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah.


UGM-Press, Yogyakarta.

Sutherland, J.A., 1999. Introduction to Tropical Agriculture. Angus and Robertson,


London.

Takdir, A.S.; Suharti; dan M.J. Mejaya., 2007. Pembentukan Varietas Jagung Hibrida.
Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros.

Tim Penulis PS., 2002. Baby Corn. Penebar Swadaya, Jakarta.

Walden, D.B., 1978. Maize Breeding and Genetics. John Willey and Sons, New York.

Yudianto, S.A., 1992. Mengerti Morfologi Tumbuhan. Tarsito, Bandung.


Morfologi Cabai Rawit

Oleh

: Nurul Sofiati (2009-41-003)

Cabai rawit (capsicum frustescens L.) tergolong dalam famili terung-terungan


(solanaceae). Tanaman ini termasuk golongan tanaman semusim atau tanaman
berumur pendek yang tumbuh sebagai perdu/semak, dengan tinggi tanaman dapat
mencapai 1,5 m.
A.

Klasifikasi

Divisi

: Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Subdivisi : Angiospermae (biji berada dalam buah)


Kelas

: Dicotyledoneae (biji berkeping dua/biji belah)

Ordo (bangsa)

: Corolliforea

Famili (suku)

: Solanaceae

Genus (marga)

: Capsium

Spesies

: Capsium frustescens L.

B.

Deskripsi dan Morfologi

1.

Batang

Batang tanaman cabai rawit memiliki struktur yang keras dan berkayu, berwarna
hijau gelap, berbentuk bulat, halus dan bercabang banyak. Batang utama tumbuh
tegak dan kuat. Percabangan terbentuk setelah batang tanaman mencapai
ketinggian berkisar antara 30-45 cm. cabang tanaman beruas-ruas, setiap ruas
ditumbuhi daun dan tunas (cabang).
2.

Daun

Daun berbentuk bulat telur dengan ujung runcing dan tepi daun rata (tidak
bergerigi/berlekuk) ukuran daun lebih kecil dibandingkan dengan daun tanaman
cabai besar. Daun merupakan daun tunggal dengan kedudukan agak mendatar,
memiliki tulang daun menyirip dan tangkai tunggal yang melekat pada
batang/cabang. Jumlah daun cukup banyak sehingga tanaman tampak rimbun.
3.

Bunga

Bunga tanaman cabai rawit merupakan bunga tunggal yang berbentuk bintang.
Bunga tumbuh menunduk pada ketiak daun dengan mahkota bunga berwarna
putih. Penyerbukan bunga termasuk penyerbukan sendiri (self pollinated crop),
namun dapat juga terjadi secara silang, dengan keberhasilan sekitar 56%.
4.

Buah

Buah cabai rawit akan terbentuk stelah terjadi penyerbukan. Buah memiliki
keanekaragaman dalam hal ukuran, bentuk, warna dan rasa buah. Buah cabai rawit
dapat berbentuk bulat pendek dengan ujung runcing/berbentuk kerucut. Ukuran
buah bervariasi, menurut jenisnya cabai rawit yang kecil-kecil memiliki ukuran
panjang antara 2-2,5 cm dan lebar 5 mm. sedangkan cabai rawit yang agak besar
memiliki ukuran yang mencapai 3,5 cm dan lebar mencapai 12 mm.
Warna buah cabai rawit bervariasi buah muda berwarna hijau/putih sedangkan buah
yang telah masak berwarna merah menyala/merah jingga (merah agak kuning)
pada waktu masih muda, rasa buah cabai rawit kurang pedas, tetapi setelah masak
menjadi pedas.
5.

Biji

Biji cabai rawit berwarna putih kekuningan-kuningan, berbentuk bulat pipih,


tersusun berkelompok (bergerombol) dan saling melekat pada empulur. Ukuran biji
cabai rawit lebih kecil dibandingkan dengan biji cabai besar. Biji-biji ini dapat
digunakan dalam perbanyakan tanaman (perkembangbiakan).
6.

Akar

Perakaran cabai rawit terdiri atas akar tunggang yang tumbuh lurus ke pusat bumi
dan akar serabut yang tumbuh menyebar ke samping. Perakaran tanaman tidak
dalam sehingga tanaman hanya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada
tanah yang gembur, porous (mudah menyerap air) dan subur.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Cabai atau lombok (bahasa Jawa) adalah sayuran buah semusim yang termasuk
dalam anggota genus Capsicum yang banyak diperlukan oleh masyarakat sebagai
penyedap rasa masakan. Salah satu tanaman cabai yang banyak dibudidayakan di
Indonesia adalah tanaman cabai merah. Cabai merah (Capsicum annuum L.)
merupakan komoditas sayuran yang banyak digemari oleh masyarakat. Ciri dari
jenis sayuran ini adalah rasanya yang pedas dan aromanya yang khas, sehingga
bagi orang-orang tertentu dapat membangkitkan selera makan. Karena merupakan
sayuran yang dikonsumsi setiap saat, maka cabai akan terus dibutuhkan dengan
jumlah yang semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan
perekonomian nasional .
Cabai merah mengandung berbagai macam senyawa yang berguna bagi kesehatan
manusia. Kandungan vitamin dalam cabe adalah A dan C serta mengandung
minyak atsiri, yang rasanya pedas dan memberikan kehangatan bila kita gunakan
untuk rempah-rempah (bumbu dapur). Sun et al. (2000). melaporkan cabai merah
mengandung anti oksidan yang berfungsi untuk menjaga tubuh dari radikal bebas.
Radikal bebas yaitu suatu keadaan dimana suatu molekul kehilangan atau
kekeurangan elektron, sehingga elektron tersebut menjadi tidak stabil dan selalu
berusaha mengambil elektron dari sel-sel tubuh kita yang lainnya. Kandungan
terbesar anti oksidan dalam cabai terdapat pada cabai hijau. Cabai juga
mengandung Lasparaginase dan Capsaicin yang berperan sebagai zat anti kanker.
Menurut data statistik Indonesia tahun 2009, luas panen, produksi dan hasil
perhektar cabai besar NTB adalah 8,08 ton/ha, masih jauh di atas Bali yang hasil
panen perhektaranya 11,55 ton/ha. Namun jika kita bandingkan dengan hasil panen
perhektar cabai merah NTT yang jumlahnya sebesar 5,87 ton/ha, maka produksi
cabai merah NTB masih jauh lebih besar. Begitupun jika kita bandingkan dengan
pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku yang rata-rata hasil panen
perhektarnya sebesar 6,03 ton/ha, 7,56 ton/ha, 5,19 ton/ha, 4,00 ton ha dan 4,57
ton/ha, maka hasil produksi tanaman cabai besar NTB masih jauh lebih .

Data statistik produksi tanaman cabai provinsi NTB pada tahun 2007 adalah
sebesar 2.676 ton/ha dengan luas areal panen sebesar 446 ha. Jika dibandingkan
dengan data hasil sensus Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat tahun 20032006 tentang produksi tanaman cabai NTB dengan luas areal tanam dimana pada
tahun 2003 adalah sebesar 488 ha meningkat menjadi 810 ha pada tahun 2004.
Pada tahun 2005 luas areal tanaman menurun menjadi 549 ha sampai pada tahun
2006 menurun lagi menjadi 455 ha. Produksi tanaman cabai merah berturut-turut
adalah sebesar 2.179 ton pada tahun 2003 meningkat menjadi 3.904 ton pada
tahun 2004. Kemudian pada tahun 2005 produksinya menurun sebesar 1.867 ton
dan pada tahun 2006 produksinya menurun menjadi 1.825 ton. Data diatas
menununjukkan bahwa produksi tanaman cabai mengalami penurunan dari tiap
tahunnya. Penurunan produksi ini disebabkan karena semakin berkurangnya luas

areal tanam cabai merah. Dengan semakin sempitnya luas areal tanam cabai ini
menujukkan bawa peluang bisnis tanaman cabai merah meimilki prospek karena
suplai dari tahun ke tahun belum mencukupi.
Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko) diantaranya: teknis
budidaya, kekahatan hara dalam tanah, serangan hama dan penyakit. Maka dari itu
perlu dukungan teknologi budidaya intensif baik itu terkait dengan pemupukan,
proses pengolahan lahan, pemeliharaan, maupun penerapan-penerapan teknologi
tepat guna sederhana dalam membudidayakannya. Pemberian unsur hara yang
tepat sesuai dengan kebutuhan, waktu tanam dan penempatan hara pada daerah
serapan akar juga menjadi pendukung dalam keberhasilan budidaya tanaman cabai.
Salah satu cara untuk meningkatkan produksi cabai besar sekaligus menanggulangi
bayaknya permintaan masyarakat tersebut adalah dengan manajemen pemupukan
yang menjadi bagian dari intensifikasi pertanian .
Pemupukan merupakan tindakan yang bertujuan untuk menambah unsur hara yang
sudah berada dalam tanah, memberikan unsur hara yang memang belum tersedia
dalam tanah dan mengganti unsur hara yang diangkut oleh tanaman melalui panen.
Sedangkan bahan penyubur tanaman yang ditambahkan kedalam tanah atau
diberikan langsung kepada tanaman melalui penyemprotan pada permukaan daun
disebut dengan pupuk. Sejarah mencatat bahwa penggunaan pupuk kimia
meningkatkan produksi pertanian karena terbukti mampu memenuhi kebutuhan
pangan penduduk dunia yang terus meningkat populasinya. Namun akibat
penggunaan pupuk kimia yang terus menerus tersebut dapat mengganggu
keseimbangan kimia tanah sehingga produktifitas tanah menurun.
Pemakain pupuk kimia secara terus menerus menyebabkan terjadinya residu yang
berlebihan dalam tanah. Tumpukan residu pupuk ini dalam tanah akan menjadi
racun tanah yang mengakibatkan tanah menjadi sakit. Pada tanah yang sakit ini
akan terjadi degradasi mikrobia pengendali keseimbangan kesuburan tanah, ketidak
seimbangan hara, dan munculnya mutan-mutan hama dan penyakit tanaman.
Menurut Go Ban Hong (1998), berbagai upaya program intensifikasi pada lahan
sawah tidak lagi memberikan kontribusi pada peningkatan produktifitas lahan
karena telah mencapai titik jenuh (Leveling Off) tetapi sebaliknya produktifitas
lahan justru cenderung menurun. Disamping itu juga penggunaan pupuk sebagai
salah satu sumber nutrisi tanaman apabila diberikan secara tidak bijaksana dapat
menyebabkan penurunan kualitas dan produksi tanaman, dapat menimbulkan
pencermaran lingkungan hidup dan dapat menurunkan ketahanan alami tanaman
melawan gangguan lingkungan, hama dan penyakit.
Dampak dari Leveling off ini terjadi salah satunya pada penurunan produksi
tanaman cabai merah. Hal ini terbukti dari penurunan kadar total karbon (C) dan
pemadatan atau pengerasan lapisan olah tanah dibeberapa sentra produksi cabai di
Indonesia. Di Berebes, Jawa Tengah, dosis penggunaan pupuk buatan tanaman
cabai merah ditingkat petani adalah sangat tinggi, yakni 320 kg Urea, 150 kg KCL,

686 kg CaO, 123 kg MgO, dan 919kg S/ha. Jumlah pemakain pupuk ini sangat jauh
melebihi dosis pupuk berimbang yang direkomendasikan oleh Balai Penelitian
Tanaman Sayuran (Balitsa), yaitu 200 kg N, 150 kg P205 dan 100 K2O/ha
(Martodireso, 2011). Widadi (2011) Juga mengungkapkan bahwa dampak lain dari
penggunaan pupuk buatan pada dosis yang sangat tinggi adalah terjadinya
penumpukan (Akumulasi) beberapa logam berat dan nitrat pada produk sayuran
cabai merah. Karena pemakaian pupuk buatan yang berlebihan sangat berbahaya
maka aplikasi pupuk organik dan pupuk alam menjadi alternatif dalam
mengemabangkan pertanian yang ramah lingkungan.
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa tanaman, hewan atau
manusia seperti pupuk kandang, pupuk hijau, dan kompos baik yang berbentuk cair
maupun padat. Pupuk organik bersifat bulky dengan kandungan hara makro dan
mikro rendah sehingga perlu diberikan dalam jumlah banyak. Manfaat utama pupuk
organik adalah dapat memperbaiki kesuburan kimia, fisik dan biologis tanah, selain
sebagai sumber hara bagi tanaman. Secara lebih spesifik keuntungan dari
penggunaan pupuk organik antara lain: memperbaiki struktur tanah, sumber unsur
hara bagi tanaman, menambah kandungan humus tanah, meningkatkan aktifitas
jasad renik, meningkatkan kapasitas menahan air (water holding capacity),
mengurangi erosi dan pencucian nitrogen terlarut, meningkatkan kapasitas tukar
kation dalam tanah (Deviana, 2000), meningkatkan daya sangga (buffering
capasity) terhadap perubahan drastis sifat tanah, meningkatkan kerja mikrobia
tanah dalam proses dekomposisi bahan organik. Suriadikarta (2006) menambahkan
bahwa pupuk organic akan membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang
meracuni tanaman seperti Al, Fe, dan Mn. Salah satu sumber pupuk orgnaik yang
paling sering digunakan sebagai pupuk organik adalah pupuk kandang sapi. Satu
ekor sapi dewasa dapat menghasilkan 23,59 kg kotoran tiap harinya. Dan dengan
kandungan unsur N, P dan K yang tertera seperti pada tabel berikut.
Tabel Kandungan unsur hara pada pupuk kandang yang berasal dari beberapa
ternak.
Jenis ternak Unsur hara (kg/ton)
NPK
Sapi perah 22,0 2,6 13,7
Sapi potong 26,2 4,5 13,0
Domba 50,6 6,7 39,7
Unggas 65,8 13,7 12,8
Sumber: http://www.disnak.jabarprov.go.id/data/arsip/

Disamping menghasilkan unsur-unsur makro tersebut, pupuk kandang sapi juga


menghasilkan sejumlah unsur hara mikro, seperti Fe, Zn, Bo, Mn, Cu, dan Mo. Jadi
dapat dikatakan bahwa, pupuk kandang ini dapat dianggap sebagai pupuk alternatif
untuk mempertahankan produksi tanaman (Pujianto, 2011).
Pemanfaatn limbah biogas urin sapi yang selajutnya di sebut Bio Sllurry merupakan
salah satu bentuk dan alternatif lain dari penggunaan pupuk organik bagi tanaman
cabai merah. Pemanfaatn limbah biogas urin sapi sebagai pupuk tidak mengurangi
nilai pentingnya sebagai pupuk, karena pada saat dimanfaatkan sebagai bahan
bakar yang diambil cuma metananya saja (CH4). Dari sekian banyak kotoran
ternak yang terdapat di daerah sentra produksi ternak banyak yang belum
dimanfaatkan secara optimal sebagian diantaranya terbuang begitu saja, sehingga
sering merusak lingkungan yang akibatnya akan menghasilkan bau yang tidak
sedap. Begitupula untuk limbah biogas urin sapi ini. Jika tidak mendapat
penanganan yang tepat tentu akan menimbulkan pencemaran bagi lingkungan
sekitar (Rahayu, 2005).
Dari uraian diatas maka perlu dilakukan penelitian mengenai Aplikasi Pupuk Organik
(Limbah Biogas) Sebagai Alternatif untuk Mengurangi Penggunaan Pupuk Anorganik
Pada Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum L.).
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
TujuanPenelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis perbandingan pupuk organik
dengan anorganik dalam menekan penggunaan pupuk anorganik aplikasinya
terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai besar.
Kegunaan Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan untuk
menggunakan pupuk organik dalam budidaya cabai merah serta tambahan
informasi bagi peneliti selanjutnya.
Hipotesis
Untuk mengarahkan jalannya penelitian ini maka diajukan hipotesis bahwa
penggunaan jenis pupuk dengan dosis perbandingan yang berbeda pada tanaman
cabai merah akan memberikan hasil yang berbeda-beda.

TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanaman Cabai

Cabai merupakan tanaman sayuran buah semusim yang diperlukan oleh seluruh
lapisan masyarakat sebagi bumbu atau penyedap makanan. Tanaman cabai
memiliki banyak nama populer diberbagai negara. Namun secara umum tanaman
cabai disebut sebagai pepper atau chili. Nama pepper lebih umum digunakan untuk
menyebut berbagai jenis cabai besar, cabai manis, atau paprika. Sedangkan chili,
biasanya digunakan untuk menyebut cabai pedas, misalnya cabai rawit. Di
Indonesia sendiri, penamaan cabai juga bermacam-macam tergantung daerahnya.
Cabai sering disebut dengan berbagai nama lain, misalnya, lombok, mengkreng,
rawit, cengis, cengek, Sebie dan sebutan lainnya
1. Sejarah Penyebaran
Ditinjau dari segi sejarahnya. Tanaman cabai berasal dari dunia baru (Meksiko,
Amerika Tengah dan Pegunungan Andes di Amerika Selatan), kemudian menyebar
ke Eropa pada abad ke-15. Kini tanaman cabai sudah mulai menyebar ke berbagai
Negara tropik, terutama di Asia, Afrika Tropika, Amerika Selatan dan Karibia. Di
Indonesia, tanaman cabai tersebar luas diberbagai daerah seperti: Purworejo,
Kebumen, Tegal, Pekalongan, Pati, Padang, Bengkulu dan lain sebaginya.

2. Klasifikasi tanaman cabai


Secara umum klasifikasi tanaman cabai adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum annum L.

Cabai masuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman


yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai

banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri


capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan dan panas
bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan
mudah sehingga bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya
di pasar. Tanaman cabai cocok ditanam pada tanah yang kaya humus, gembur dan
sarang serta tidak tergenang air

3. Morfologi tanaman cabai besar


Cabai merah termasuk tanaman semusim (setahun) yang berbentuk perdu,
tingginya bisa mencapai 11/2 m atau lebih.
Daun,
Daunnya bervariasi menurut spesies dan varietasnya. Ada daun yang berbentuk
oval, lonjong, bahkan ada yang lanset. Warna permukaan daun bagian atas
biasanya hijau muda, hijau, hijau tua, bahkan hijau kebiruan. Sedangkan permukaan
daun pada bagian bawah umumnya berwarna hijau muda, hijau pucat atau hijau.
Permukaan daun cabai ada yang halus adapula yang berkerut-kerut. Ukuran
panjang daun cabai antara 3 11 cm, dengan lebar antara 1 5 cm .
Batang,
batang pada tanaman cabai merah tidak berkayu. Bentuknya bulat sampai agak
persegi dengan posisi yang cenderung agak tegak. Warna batang kehijaun sampai
keunguan dengan ruas berwarna hiaju atau ungu. Pada batang-batang yang telah
tua (batang paling bawah), akan muncul warna coklat seperti kayu. Ini merupakan
kayu semu yang diperoleh dari pengerasan jaringan parenkim. Biasanya batang
akan tumbuh sampai ketinggian tertentu, kemudian membentuk banyak
percabangan
Akar,
akar tanaman cabai memiliki perakaran yang cukup rumit. Akar tunggangnya dalam
dengan susunan akar sampingnya (serabut) yang baik. Biasanya di akar terdapat
bintil-bintil yang merupakan hasil simbiosis dengan beberapa mikroorganisme
Bunga,
Bunga tanaman cabai merupakan bunga sempurna. Artinya dalam satu tanaman
terdapat bunga jantan dan bunga betina. Pemasakan bunga jantan dan bunga
betina dalam waktu yang sama (atau hampir sama), sehingga tanaman dapat
melakukan penyerbukan sendiri. Bunga berbentuk bintang, biasanya tumbuh pada
ketiak daun, dalam keadaan tunggal atau bergerombol dalam tandan. Dalam satu
tandan biasanya terdapat 2 3 bunga saja. Mahkota bunga tanaman cabai

warnanya putih, putih kehijauan, dan ungu. Diameter bunga antara 5 20 mm. Tiap
bunga memiliki 5 daun buah dan 5 6 daun mahkota
Buah,
Buah cabai merupakan bagian tanaman cabai yang paling banyak dikenal dan
memiliki banyak variasi. Menurut Sanders et. al. (1998), buah cabai terbagi dalam
11 tipe bentuk, yaitu serrano, cubanelle, cayenne, pimento, anaheim chile, cherry,
jalapeno, elongate bell, ancho, banana, dan blocky bell. Namun menurut Peet
(2001), hanya ada 10 tipe bentuk buah cabai, di mana tipe elongate bell dan blocky
bell dianggap sama.

4. Syarat Tumbuh Tanaman Cabai Merah


Beberapa syarat tumbuh tanaman cabai merah diantaranya adalah keadaan iklim,
suhu dan keadaan tanah, uraian ketiganya adalah sebagai berikut:
Keadaan Iklim
Tanama cabai lebih senang tumbuh di daerah yang tipe iklimnya lembab sampai
agak lembab, daerah yang memiliki tipe iklim ABACD, BABC, CABC, DABC (Menrut
Schmidt dan Ferguson). Tanaman cabai tidak senang terhadap curah hujan lebat,
tetapi pada stadia tertentu perlu banyak air. Di daerah yang iklimnya sangat basah
tanaman mudah terserang penyakit daun seperti bercak hitam (Antraknosa). Oleh
karena itu tanaman cabai sangat baik ditanam pada awal musim kemarau. Pada
musim hujan tanaman juga mudah mengalami tekanan (stress), sehingga bunganya
sedikit, dan banyak bunga yang tidak mampu menjadi buah. Kalaupun bisa
berbuah, buahnya akan mudah sekali gugur karena tekanan air hujan yang lebat.
Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai
berkisar antara 600 1200 mm/tahun dengan jumlah bulan basah 3-9 bulan.
Walaupun demikian apabila pada waktu berbunga tanaman cabai kekuranga air,
maka banyak bunganya yang akan gugur tidak mampu menjadi buah. Pada
umumnya tanaman cabai lebih senang ditanaman di daerah yang terbuka.

Suhu Udara
Suhu udara yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai
berkisar antara 210C 280C. Suhu harian yang terlalu terik, yakni di atas 320C
menyebabkan tepung sari tanaman cabai tidak berfungsi untuk melakukan
pembuahan. Selain itu juga suhu harian yang terik dapat menyebabkan bunga dan
buahnya terbakar. Suhu tanahpun juga berpengaruh terhadap penyerapan unsur
hara terutama N dan P. Apabila pada waktu berbunga suhu turun di bawah 150C,
maka pembuahan dan pembijiannya terganggu. Pada suhu ini, unsur mikro yang

penting untuk pertumbuhan buah sukar diserap oleh tanaman cabai sehingga
terjadi buah tanpa biji atau parteokarpi. Suhu udara yang rendah, menyebabkan
banyak cendawan penyakit daun menyerang tanaman cabai, teutama apabila
disertai dengan kelembaban tinggi.

Tanah
Tanah yang subur dan banyak mengandung humus (bahan organik), gembur dan
memiliki drainase baik sanagt cocok untuk budidaya tanaman cabai merah.
Tanaman cabai sebenarnya dapat tumbuh disegala macam tipe tanah, dan
ketinggian tempat. Tanaman cabai merah akan tumbuh baik pada ketinggian 0
1300 m dpl. Bahkan pada ketinggian 1500 m dpl pun tanaman cabai merah masih
mampu tumbuh dan berbuah baik. Tanah yang air tanahnya dangkal dan
prositasnya rendah menyebabkan tanaman cabai mudah terserang hama dan
penyakit akar, penyakit layu dan keguguran pada daun dan buahnya. pH tanah
yang baik untuk tanaman cabai berkisar antara 51/2 61/2. Namun begitu tanaman
cabai sangat toleran terhadap tanah masam yang pH-nya kurang dari 5 hanya saja
buahnya kurang lebat dan pertumbuhannya kerdil.

5. Fase Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Cabai Merah


Fase vegetative
Fase muda/vegetatif adalah fase yang dimulai sejak perkecambah biji, tumbuh
menjadi bibit dan dicirikan oleh pembentukan daun-daun yang pertama dan
berlangsung terus sampai masa berbunga dan atau berbuah yang pertama
(Anonim, 2008 b). Pada tanaman cabai merah fase ini dimulai dari perkecambahan
benih sampai tanaman membentuk primordia bunga (Sudarman, 2006).

Fase generative
Fase generatif adalah fase yang ditandai dengan lebih pendeknya pertumbuhan
ranting dan ruas, lebih pendeknya jarak antar daun pada pucuk tanaman, dan
pertumbuhan pucuk terhenti (Prihmantoro, 2005). Pada fase ini terjadi
pembentukan dan perkembangan kuncup bunga, buah, biji dan dan pembentukan
struktur penyimpanan makanan (Setiati, 1996).
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011 a. Budidaya Cabai Merah. http://epetani.deptan.go.id/budidaya/ 909.


1 h. (15 Januari 2011)
.2011b. Membudidayaka Tanaman Cabai. http://tipspetani.blogspot.com/2010/04. 1
ha (20 januari 2011)
.2011c. Jenis Jenis Pupuk Dan Cara Aplikasinya.
http://eone87.wordpress.com/2010/04/03/. 3h (15 Januari 2011).
.2011d. Pupuk Organik Sebagai Jembatan Pertanian Berkelanjutan.
http://www.ipb.ac.id/ edit.pdf. 7ha.(15 Januari 2011).
.2011e. Nutrisi Tanaman. http://berasorganikmerden.wordpress.com/2010/07/01. 2
ha. (19 Januari 2011)
Badan Pusat Statistik NTB, 2007. Statistik Produksi Tanaman Horticultural Provinsi
NTB. Mataram, NTB.
Badan Pusat Statistik NTB, 2010. Statistik Tanaman Sayuran Dan Buah Semusim
Indonesia. Jakarta. Indonesia.
Hadiyanto, Iskandar. 2005. Bertanam Cabai. Balai Pustaka (Persero). Jakarta. 35 ha
Martodireso, sudadi dan Widada Agus Suryanto.2011. Terobosan Teknologi
Pemupukan Dalam Era Pertanian Organik. Kanisius. Cetakan ke VII. Yoyakarta. 78h.
Mashum Mansur. 2005. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. UPT Mataram University
press. Cetakan IV. Mataram.
Mulyati dan Lolita E.S. 2006. Pupuk Dan Pemupukan. UPT Mataram University press.
Cetakan I. Mataram.
Prajanata, Final. 2007. Kiat Sukses Bertanam Cabai Di musim Hujan. Penebar
Swadaya. Cetakan ke XII. Jakarta 64h.
Prajanata, Final. 2006. Agribisnis Cabai Hibrida. Penebar Swadaya. Jakarta. 162 ha.