Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM II

PENENTUAN KADAR Cu DALAM KABEL


DENGAN ATOMIC ABSORPTION SPECTROPHOTOMETRY (AAS)

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah


Praktikum Kimia
yang dibina oleh Dr. H. Sutrisno, M.Si.

Oleh:
Dwi Agustina Romiyatun

130331811071

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
Oktober 2014

A. JUDUL/TEMA
Penentuan kadar Cu dalam kabel dengan metode Atomic Absorption
Spectrophotometry (AAS)
B. LATAR BELAKANG
Kabel listrik adalah salah satu media yang digunakan untuk
menyalurkan arus listrik (Anonim, 2014). Kabel listrik terbuat dari bahan isolator
dan konduktor. Konduktor pada kabel dapat terbuat dari logam tembaga,
aluminium atau logam lain yang berfungsi sebagai media penghantar energi
listrik. Isolator berfungsi untuk melindungi kabel bersentuhan dengan kabel lain
atau dengan manusia. Isolator kabel dapat terbuat dari karet atau plastik.

Gambar 1. Kawat Tembaga dalam Kabel


Sebagian besar konduktor yang digunakan dalam kabel adalah kawat
tembaga. Tembaga merupakan konduktor yang baik dibandingkan dengan
logam lain seperti aluminium dan besi dikarenakan tembaga memiliki daya
hantar yang paling tinggi. Tembaga yang ada di dalam kabel memiliki beragam
kadar. Untuk menentukan kadar tembaga, kawat tembaga harus didestruksi
terlebih dahulu.
Destruksi merupakan suatu perlakuan pemecahan senyawa menjadi
unsur-unsurnya sehingga dapat dianalisis. Pada dasarnya ada dua jenis
destruksi yang dikenal dalam ilmu kimia yaitu destruksi basah (oksida basah)
dan destruksi kering (oksida kering). Kedua destruksi ini memiliki teknik
pengerjaan dan lama pemanasan atau pendestruksian yang berbeda
(Kristianingrum, 2012).
Destruksi kering merupakan suatu metode penguraian (perombakan)
senyawa logam dalam sampel menjadi logam-logam unsurnya dengan jalan
pengabuan sampel dan memerlukan suhu pemanasan tertentu. Pada destruksi
kering digunakan alat furnace untuk mengabukan sampel padat dengan suhu
yang sangat tinggi. Jika suhu yang digunakan tidak sesuai maka sampel tidak
terabukan dengan sempurna. Destruksi basah lebih sering dilakukan dalam
penelitian dikarenakan kemudahannya. Dalam pendestruksian tembaga dalam
kabel digunakan destruksi basah. Destruksi basah adalah perombakan sampel
dengan asam-asam kuat baik tunggal maupun campuran. Dalam melakukan

destruksi basah logam tembaga dapat digunakan HNO3 pekat. Reaksi yang
terjadi sebagai berikut.
Cu(s) + 4HNO3(aq) Cu(NO3)2(aq) + 2NO2(g) + 2H2O(l)
Kesempurnaan destruksi ditandai dengan diperolehnya larutan jernih
pada larutan destruksi, yang menunjukkan bahwa semua konstituen yang ada
telah larut sempurna atau perombakan senyawa-senyawa organik telah berjalan
dengan baik. Setelah tembaga didestruksi, kadar tembaga dapat ditentukan
dengan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). AAS merupakan
metode analisis unsur secara kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan
penyerapan cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam dalam
keadaan bebas (Skoog et al., 2013: 750). Banyaknya energi yang diserap
berhubungan dengan konsentrasi atom logam yang terdapat di dalam sampel.
Oleh karena itu, analisis sampel di lakukan melalui pengukuran absorbansi
sebagai fungsi konsentrasi standar dan menggunakan hukum Lambert-Beer
untuk menentukan konsentrasi sampel yang tidak diketahui.
C. RUMUSAN MASALAH
Berapa kadar Cu dalam kabel?
D. TUJUAN PEMECAHAN MASALAH
Mengetahui kadar Cu dalam kabel.
E. ALAT DAN BAHAN YANG AKAN DIGUNAKAN
Alat yang akan digunakan antara lain sebagai berikut.
No Alat
Kuantitas
1.
Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)
1 buah
2.
Neraca analitik
1 buah
3.
Gelas arloji
1 buah
4.
Gelas kimia 50 mL
1 buah
5.
Labu ukur 50 mL
1 buah
6.
Labu ukur 100 mL
1 buah
7.
Labu ukur 1 L
1 buah
8.
Pipet volume 10 mL
1 buah
9.
Pipet volume 5 mL
1 buah
10. Pipet volume 1 mL
1 buah
11. Pipet ukur 5 mL
1 buah
12. Pipet tetes
1 buah
13. Corong kaca
1 buah
14. Spatula
1 buah
15. Pengaduk
1 buah
16. Botol semprot
1 buah
Bahan yang akan digunakan antara lain sebagai berikut:
No
Bahan
Kuantitas

1.
2.
3.
No
4.
5.
6.

Tembaga dalam kabel


Kristal Cu(NO3)2.3H2O
HNO3 pekat
Bahan
Akuades
Kertas saring
Aluminium foil

0,0511 gram
0,3784 gram
5 mL
Kuantitas
2L

F. METODE DAN LANGKAH PERCOBAAN


1. Destruksi sampel
a. Menimbang 0,0511 gram tembaga dalam kabel.
b. Memasukkan tembaga ke dalam gelas kimia 50 mL.
c. Menambahkan 5 mL larutan HNO3 13 M ke gelas kimia di dalam lemari
asam.
d. Mengaduk larutan dan menunggu selama 30 menit sampai semua
tembaga larut dalam larutan HNO3.
e. Menutup gelas kimia dengan aluminium foil dan mendiamkan selama
24 jam.
f. Memasukkan larutan sampel ke dalam labu ukur 100 mL.
g. Menambahkan akuades ke dalam labu ukur hingga garis batas.
h. Mengocok larutan hingga homogen.
2. Pembuatan larutan induk 100 ppm
a. Menimbang 0,3784 gram Cu(NO3)2.3H2O
b. Memasukkan Cu(NO3)2.3H2O ke dalam labu ukur 1 L.
c. Menambahkan akuades hingga tanda batas labu
mengocoknya hingga homogen.
3. Pembuatan larutan standar
a. Pembuatan larutan standar 0,2 ppm
1) Mengambil 0,1 mL larutan induk
dalam labu ukur 50 mL.
2) Menambahkan akuades hingga
hingga homogen.
b. Pembuatan larutan standar 0,4 ppm
1) Mengambil 0,2 mL larutan induk
dalam labu ukur 50 mL.
2) Menambahkan akuades hingga
hingga homogen.
c. Pembuatan larutan standar 0,6 ppm
1) Mengambil 0,3 mL larutan induk
dalam labu ukur 50 mL.
2) Menambahkan akuades hingga
hingga homogen.
d. Pembuatan larutan standar 0,8 ppm
1) Mengambil 0,4 mL larutan induk
dalam labu ukur 50 mL.

ukur

dan

100 ppm dan memasukkannya ke


tanda batas dan mengocoknya
100 ppm dan memasukkannya ke
tanda batas dan mengocoknya
100 ppm dan memasukkannya ke
tanda batas dan mengocoknya
100 ppm dan memasukkannya ke

2) Menambahkan akuades hingga tanda batas dan mengocoknya


hingga homogen.
e. Pembuatan larutan standar 1 ppm
1) Mengambil 0,5 mL larutan induk 100 ppm dan memasukkannya ke
dalam labu ukur 50 mL.
2) Menambahkan akuades hingga tanda batas dan mengocoknya
hingga homogen.
f. Pembuatan larutan standar 2 ppm
1) Mengambil 1 mL larutan induk 100 ppm dan memasukkannya ke
dalam labu ukur 50 mL.
2) Menambahkan akuades hingga tanda batas dan mengocoknya
hingga homogen.
g. Pembuatan larutan standar 4 ppm
1) Mengambil 2 mL larutan induk 100 ppm dan memasukkannya ke
dalam labu ukur 50 mL.
2) Menambahkan akuades hingga tanda batas dan mengocoknya
hingga homogen.
h. Pembuatan larutan standar 6 ppm
1) Mengambil 3 mL larutan induk 100 ppm dan memasukkannya ke
dalam labu ukur 50 mL.
2) Menambahkan akuades hingga tanda batas dan mengocoknya
hingga homogen.
i. Pembuatan larutan standar 8 ppm
1) Mengambil 4 mL larutan induk 100 ppm dan memasukkannya ke
dalam labu ukur 50 mL.
2) Menambahkan akuades hingga tanda batas dan mengocoknya
hingga homogen.
4. Pengukuran absorbansi dengan AAS
a. Mengukur absorbansi larutan standar.
b. Membuat kurva standar.
c. Mengukur absorbansi larutan sampel secara duplo.
d. Mengeplot absorbansi yang diperoleh dari kurva standar untuk
mengetahui kadar Cu dalam sampel.
G. HASIL PENGAMATAN
Dengan menggunakan AAS diperoleh data absorbansi dan kurva standar
larutan standar, serta data absorbansi dan konsentrasi larutan sampel sebagai
berikut:
No
1.
2.
3.
4.
5.

Larutan
Blanko
Standar
Standar
Standar
Standar

Konsentrasi (ppm)
0,0000
0,2000
0,4000
0,6000
0,8000

Absorbansi
0,0001
0,0038
0,0052
0,0085
0,0121

6.
7.
No
8.
9.
10.
11.

Standar
Standar
Larutan
Standar
Standar
Sampel 1
Sampel 2

2,0000
4,0000
Konsentrasi (ppm)
6,0000
8,0000
3,9465
3,9575

0,0362
0,0681
Absorbansi
0,0991
0,1327
0,0657
0,0659

Gambar 2. Kurva standar


H. ANALISIS DATA
1. Pembuatan larutan induk
a. Pembuatan larutan induk 100 ppm
100 ppm
=
Massa Cu

= 100 ppm 1 L
= 100
1L
= 100 mg
= 0,1 g
Massa Cu(NO3)2.3H2O yang dibutuhkan untuk mendapat larutan Cu
100 ppm yaitu:
Massa Cu(NO3)2.3H2O =
=

x massa Cu
x 0,1 g

Massa Cu(NO3)2.3H2O = 0,378125 g


Jadi di gunakan 0,378125 g Cu(NO3)2.3H2O untuk membuat larutan Cu
100 ppm sebanyak 1 L. Berdasarkan hasil timbangan, digunakan 0,3784
g Cu(NO3)2.3H2O.
2. Pembuatan larutan standar
Larutan standar dibuat dengan melakukan pengenceran dari larutan 100
ppm, menggunakan rumus:

M1 x V1= M2 x V2
Keterangan: M1 = konsentrasi larutan induk 100 ppm
M2 = konsentrasi larutan standar
V1 = volume larutan induk 100 ppm
V2 = volume larutan standar
a. Pembuatan larutan standar 0,2 ppm
M1 x V1
= M2 x V2
100 ppm x V1 = 0,2 ppm x 50 mL
V1
= 0,1 mL
Jadi volume larutan 100 ppm yang diambil sebanyak 0,1 mL.
b. Pembuatan larutan standar 0,4 ppm
M1 x V1
= M2 x V2
100 ppm x V1 = 0,4 ppm x 50 mL
V1
= 0,2 mL
Jadi volume larutan 100 ppm yang diambil sebanyak 0,2 mL.
c. Pembuatan larutan standar 0,6 ppm
M1 x V1
= M2 x V2
100 ppm x V1 = 0,6 ppm x 50 mL
V1
= 0,3 mL
Jadi volume larutan 100 ppm yang diambil sebanyak 0,3 mL.
d. Pembuatan larutan standar 0,8 ppm
M1 x V1
= M2 x V2
100 ppm x V1 = 0,8 ppm x 50 mL
V1
= 0,4 mL
Jadi volume larutan 100 ppm yang diambil sebanyak 0,4 mL.
e. Pembuatan larutan standar 1 ppm
M1 x V1
= M2 x V2
100 ppm x V1 = 1 ppm x 50 mL
V1
= 0,5 mL
Jadi volume larutan 100 ppm yang diambil sebanyak 0,5 mL.
f. Pembuatan larutan standar 2 ppm
M1 x V1
= M2 x V2
100 ppm x V1 = 2 ppm x 50 mL
V1
= 1 mL
Jadi volume larutan 100 ppm yang diambil sebanyak 1 mL.
g. Pembuatan larutan standar 4 ppm
M1 x V1
= M2 x V2
100 ppm x V1 = 4 ppm x 50 mL
V1
= 2 mL
Jadi volume larutan 100 ppm yang diambil sebanyak 2 mL.
h. Pembuatan larutan standar 6 ppm
M1 x V1
= M2 x V2
100 ppm x V1 = 6 ppm x 50 mL
V1
= 3 mL
Jadi volume larutan 100 ppm yang diambil sebanyak 3 mL.
i. Pembuatan larutan standar 8 ppm
M1 x V1
= M2 x V2

100 ppm x V1 = 8 ppm x 50 mL


V1
= 4 mL
Jadi volume larutan 100 ppm yang diambil sebanyak 4 mL.
3. Perhitungan kadar Cu dalam sampel
a. Perhitungan kadar Cu setelah pengenceran
Dari pengujian larutan standar dengan menggunakan AAS akan
didapatkan absorbansi dan dibuat kurva standar.
Dari kurva standar menghasilkan persamaan regresi linear:
Abs = 0,0166472 Conc + 0,0000358988
Keterangan:
Abs = absorbansi
Conc = konsentrasi (ppm)
Dari pengujian larutan sampel dengan menggunakan AAS, dapat
dihitung nilai absorbansi rata-rata larutan sampel:
Absorbansi rata-rata larutan sampel =
= 0,0658
Dengan mensubstitusikan nilai absorbansi rata-rata larutan sampel pada
persamaan regresi linear, maka akan diperoleh kadar Cu setelah
pengenceran:
Abs
= 0,0166472 Conc + 0,0000358988
0,0658
= 0,0166472 Conc + 0,0000358988
0,0658 - 0,0000358988 = 0,0166472 Conc
0,0657641 = 0,0166472 Conc
Conc
= 3,9505 ppm
Jadi diperoleh kadar Cu setelah pengenceran sebesar 3,9505 ppm.
b. Perhitungan kadar Cu sebelum pengenceran:
Faktor pengenceran = 20 kali
Diperoleh dari :
Pengenceran 5 mL larutan sampel menjadi 100 mL.
Kadar Cu
= faktor pengenceran x kadar Cu setelah pengenceran
= 20 x kadar Cu setelah pengenceran
= 20 x 3,9505 ppm
= 79,01 ppm
c. Massa Cu dalam larutan sampel
= kadar Cu sebelum pengenceran volume larutan awal
= 79,01 ppm x 0,005 L
= 79,01 x 0,005 L
= 0,39505 mg
= 0,00039505 gram
d. Kadar Cu dalam 0,0511 gram sampel adalah:
% kadar Cu

=
= 0,77309 %
I. PEMBAHASAN
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kadar tembaga (Cu) dalam
kabel. Sebelum menentukan kadar tembaga dalam kabel, tembaga didestruksi
secara basah yaitu menggunakan larutan HNO3 13 M. Sebanyak 5 mL larutan
HNO3 13 M dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi potongan kecil-kecil
tembaga sebesar 0,0511 gram. Percobaan ini menggunakan destruksi basah agar
mudah dalam proses oksidasi logam tembaga. Jika menggunakan destruksi
kering, maka diggunakan alat furnace untuk mengabukan sampel padat dengan
suhu yang sangat tinggi. Jika suhu yang digunakan tidak sesuai maka sampel
dikhawatirkan tidak terabukan dengan sempurna.

Gambar 3. Potongan kecil-kecil tembaga dalam kabel


Reaksi yang terjadi antara logam Cu dan larutan HNO3 pekat adalah
sebagai berikut.
Cu(s) + 4HNO3(aq) Cu(NO3)2(aq) + 2NO2(g) + 2H2O(l)
Potongan kecil-kecil tembaga yang awalnya berwarna cokelat kemerahan
kemudian ditambahkan larutan HNO3 pekat yang tidak berwarna akan
menghasilkan larutan Cu(NO3)2 yang berwarna hijau, air, serta gas NO2 yang
berwarna cokelat.

Gambar 4. Tembaga yang dilarutkan dengan larutan HNO3 pekat

Larutan Cu(NO3)2 yang awalnya berwarna hijau, diencerkan ke dalam


labu ukur 100 mL dengan menambahkan akuades hingga 100 mL, larutan
Cu(NO3)2 berwarna biru setelah diencerkan. Hal ini dikarenakan, molekulmolekul air menggantikan ion nitrat yang berkoordinasi dengan ion Cu2+ dan
menyebabkan larutan berubah warna menjadi biru. Reaksi yang terjadi pada
proses pengenceran Cu(NO3)2 adalah sebagai berikut.
Cu(NO3)2(aq) Cu2+ (aq) + 2(NO3)-(aq)
hijau

biru

Kadar tembaga dalam kabel dapat ditentukan dengan menggunakan


metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Metode Atomic Absorption
Spectrophotometry (AAS) adalah metode analisis unsur secara kuantitatif yang
pengukurannya berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang
tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas (Skoog et al., 2013: 750).
Banyaknya energi yang diserap berhubungan dengan konsentrasi atom logam
yang terdapat di dalam sampel. Cahaya yang diserap oleh atom digunakan oleh
elektron untuk tereksitasi ke tingkat-tingkat energi lain yang ada dengan
memberikan pola serapan yang khas sehingga dapat diperoleh nilai absorbansi
yang berbanding lurus dengan konsentrasi.
Sebelum melakukan analisis kadar tembaga dalam kabel, diukur
absorbansi larutan blanko terlebih dahulu untuk menentukan limit deteksi dari
alat AAS yang digunakan. Dalam percobaan ini larutan blanko yang digunakan
adalah akuades. Absorbansi dari larutan blanko seharusnya sebesar 0, namun
pada percobaan ini absorbansi larutan blanko sebesar 0,0001. Larutan standar
Cu(NO3)2 dengan konsentrasi 0,2 ppm, 0,4 ppm, 0,6 ppm, 0,8 ppm, 2 ppm, 4
ppm, 6 ppm, dan 8 ppm kemudian dianalisis absorbansinya dengan
menggunakan AAS pada panjang gelombang maksimum Cu yaitu 324,7 nm.
Hasil dari pengukuran absorbansi larutan standar didapatkan kurva standar
yang memiliki persamaan regresi linear:
Abs = 0,0166472 Conc + 0,0000358988
Dengan koefisien korelasi (r) = 0,9995.
Keterangan:
Abs
= absorbansi
Conc = konsentrasi (ppm)
Dengan menggunakan persamaan regresi linear tersebut kemudian
dimasukkan nilai absorbansi rata-rata dari sampel 1 dan 2, dan didapatkan kadar
Cu setelah pengenceran sebesar 3,9505 ppm. Berdasarkan perhitungan yang
telah dilakukan, dalam 0,0511 gram sampel terdapat Cu sebesar 0,00039505
gram, sehingga kadar Cu dalam sebesar 0,77309%. Hal ini menyatakan bahwa
kabel listrik yang digunakan dalam percobaan ini memiliki kadar Cu yang
sangat rendah.
J. KESIMPULAN

10

Berdasarkan pembahasan, dapat diperoleh kesimpulan yaitu terdapat


0,00039505 gram Cu dalam 0,0511 gram sampel. Sehingga kadar Cu dalam 0,0511
gram sampel sebesar 0,77309%.
K. REFERENSI
Anonim.
2014.
Kabel
Listrik,
(Online),
(http://id.wikipedia.org/wiki/Kabel_listrik), diakses 24 Oktober 2014.
Kristianingrum, S. 2012. Kajian Berbagai Proses Destruksi Sampel dan Efeknya.
Makalah disajikan pada seminar nasional penelitian, pendidikan dan
penerapan MIPA di Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni
2012.
Laverman, L.E. 2013. Chemistry 116 Lab Manual: Experiments in Analytical, Physical
and
Inorganic
Chemistry

3rd
Edition,
(Online),
(http://web.chems.ucsb.edu/~Laverman/Chem116/CHEM%2520116%2
520LAB%2520MANUAL%25203RD%2520EDITION.pdf),
diakses
28
September 2014.
Skoog, D. A., West, D. M., Holler, F. J., & Crouch S. R. 2013. Fundamentals of
Analytical Chemistry Eight Edition. Belmont: Thomson-Brooks/Cole.
Wikipedia.
2014.
Kabel
Listrik,
(Online),
(http://id.wikipedia.org/wiki/Kabel_listrik), diakses 24 Oktober 2014.

11