Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

ORGANISASI

TUGAS MATA KULIAH


ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN

AIDIL SUKRI
132310510

PPPP

PROGRAM STUDI D3-MANAJEMEN INFORMATIKA


AMIK DIAN CIPTA CENDIKIA
BANDAR LAMPUNG2
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memahami apa yang dimaksud dengan
Organisasi secara umum dan apa saja masalah yang ditimbulkan dari organisasi
tersebut serta bagaimana memecahkan solusinya.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan hal-hal lain
sehingga makalah ini dirasa belum sempurna. Hal ini disebabkan keterbatasan
pengetahuan dan kemampuan penyusun. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan yang meningkatkan kualitas
makalah ini.

Kalianda, 17 November 2014

Penulis

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1

Latar belakang .......................................................................................... 1

1.2

Rumusan masalah ..................................................................................... 2

1.3

Tujuan penulisan ...................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3


2.1

Pengertian Unsur-Unsur Organisasi ......................................................... 3

2.1.1

Pengertian organisasi ........................................................................ 3

2.1.2

Unsur-Unsur Organisasi .................................................................... 4

2.2

Pengertian Prilaku Keorganisasian ........................................................... 5

2.2.1

Tingkat Analisa Dalam Keorganisasian ............................................ 5

2.2.2

Tiga tingkatan analisis atas kejadan organisasi ................................ 5

2.2.3

Faktor Lingkungan ............................................................................ 6

2.2.4

Karakteristik-Karakteristik Perilaku Keorganisasian ........................ 6

2.2.5
Sumbangan Beberapa Bidang Ilmu Terhadap Perilaku
Keorganisasian ................................................................................................. 8
2.3

Kepemimpinan ......................................................................................... 9

2.3.1

Pengertian Kepemimpinan ................................................................ 9

2.3.2

Metode kepemimpinan .................................................................... 11

2.3.3

Teori Teori Kepemimpinan ........................................................... 13

1.

Teori Genetis (Keturunan). ..................................................................... 13

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 15


3.1

Kesimpulan ............................................................................................. 15

3.2

Saran ....................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 17

iii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang

Dalam menghadapi era globalisasi ini, organisasi perlu meningkatkan


kinerjanya agar mampu bersaing dalam banyak konteks, yang bermakna bahwa
kapasitas untuk ' berubah 'dari sebuah organisasi penting sekali. Dikarenakan
individu adalah segalanya bagi perkembangan organisasi, mungkin bisa dikata
bahwa organisasi tanpa individu adalah suatu kebohongan belaka atau tak
mungkin. Dari hal ini maka kita lihat mengenai sebagian sifat dan pemikiran
individu yang harus dimiliki demi terwujudnya suatu organisasi yang baik.
Walaupun tanpa meniadakan komponen - komponen lain seperti teknologi.
Kehidupan manusia di dunia tidak dapat terlepas dari organisasi. Setiap hari kita
berhubungan dan terlibat dengan organisasi dan hidup kita dipengaruhi
dan mempengaruhi organisasi dalam derajat yang berbeda-beda. Secara sadar
kita terlibat dalam organisasi sebagai siswa, karyawan, anggota gereja, warga
negara dan lain-lain. Organisasi dapat didefinisikan sebagai suatu
kelompok individu yang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan
bersama. Definisi yang lain menyatakan organisasi sebagai kesatuan yang
memungkinkan masyarakat mencapai suatu tujuan yang tidak dapat
dicapai individu secara perorangan. Dari dua definisi di atas dapat
disimpulkan bahwa organisasi dibentuk by design untuk melayani
kebutuhan

manusia

yang

tidak

dapat

dicapai

secara

individu.

Organisasi lebih dari sekedar alat untuk menyediakan barang dan jasa
tetapi juga menyediakan lingkungan di mana sebagian besar dari kita
menghabiskan kehidupan

1.2

Rumusan masalah
Agar masalah atau pembahasan kita tidak melenceng dan lari dari sub judul
ada baiknya pemakalah akan merumuskan masalah-masalah yang akan
dibahas dalam makalah ini. Adapun rumusan masalahnya adalah :

1.3

Pengertian organisasi

Prinsip prinsip organisasi

Tujuan organisasi

Teori-teori organisasi

Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan ini adalah ; agar mahasiswa mampu dan mengerti
serta dapat menjelaskan pengertian organisasi, prinsip-prinsip yang ada di
dalamnya, pola-pola organisasi, tujuan organisasi sert teori-teori yang
terdapat dalam organisasi.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1
2.1.1

Pengertian Unsur-Unsur Organisasi


Pengertian organisasi
Organisasi adalah suatu sistem yang terdiri dari pola aktivitas kerjasama
yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang oleh sekelompok orang
untuk mencapai suatu tujuan (Indriyo Gitosudarmo, 1997). Sebuah
organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti
penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan
eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang
dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh
masyarakat

disekitarnya,

karena

memberikan

kontribusi

seperti;

pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggotaanggotanya sehingga menekan angka pengangguran. Orang-orang yang ada
di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus menerus.
Rasa keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup. Akan tetapi
sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam
keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orangorang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.

Menurut para ahli terdapat beberapa pengertian organisasi sebagai berikut:


Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan
yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar
tujuan bersama
Stephen P. Robbins (2009: 5)

menyatakan bahwa Organisasi adalah

kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah


batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif
terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok
tujuan.

2.1.2

Unsur-Unsur Organisasi

Dari pengertian diatas menunjukkan bahwa organisasi memiliki empat


unsur yaitu sistem, pola aktivitas, sekelompok orang dan tujuan.

A. Organisasi Merupakan Suatu Sistem


Organisasi merupakan suatu sistem yang terdiri dari sub-subsistem
atau bagian-bagian yang saling berkaitan satu sama lainnya dalam
melakukan aktivitasnya. Organisasi sebagai suatu sisitem adalah
sistem terbuka, dimana batas organisasi adalah lentur dan menganggap
bahwa faktor lingkungan sebagai input. Organisasi selalu peka dan
berupaya untuk selalu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang
terjadi pada faktor linkungan eksternal.

B. Pola Aktivitas
Aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang di dalam organisasi dalam
pola tertentu. Urur-urutan pola aktivitas yang dilakukan oleh
organisasi dilaksanakan secar relative teratur dan berulang-ulang.

C. Sekelompok Orang
Organisasi pada dasarnya merupakan kumpulan orang-orang. Adanya
keterbatasan-keterbatasan

pada

manusia

mendorongnya

untuk

membentuk organisasi. Kemampuan manusia baik fisik maupun daya


pikirnya terbatas, demikian juga waktu yang ada terbatas, sementara
aktivitas yang harus dilakukan selalu meningkat maka mendorong
manusia untuk membentuk sekelompok orang/organisasi.

D. Tujuan Organisasi
Tujuan organisasi pada dasarnya dibedakan menjadi dua yaitu tujuan
yang sifatnya abstrak dan berdimensi jangka panjang, yang menjadi
landasan dan nilai-nilai yang melandasi organisasi itu didirikan.

2.2

Pengertian Prilaku Keorganisasian


Perilaku keorganisasian merupakan bidang ilmu yang mempelajari tentang
interaksi manusia dalam organisasi yang meliputi studi secara sistematis
tentang perilaku, struktur dan proses didalam organisasi. Organisasi
diciptakan oleh manusia untuk mencapai suatu tujuan. Organisasi
membutuhkan orang-orang untuk melakukan aktivitas organisasi, begitu
juga manusia membutuhkan organisasi untuk menghasilkan sesuatu yang
lebih besar dari yang dapat dilakukannya sendiri.

Perilaku keorganisasian adalah sebuah bidang studi, berarti perilaku


keorganisasian adalah sebuah bidang keahlian khusus yang mempunyai
pokok ilmu pengetahuan yang umum. Perilaku keorganisasian mengajarkan
tiga factor penentu perilaku dalam organisasi yaitu individu, kelompok, dan
pengaruh dari struktur terhadap perilaku untuk membuat organisasi bekerja
secara lebih efektif.
Tujuan Mempelajari Perilaku Keorganisasian yaitu :
1. Memahami perilaku yang terjadi di dalam organisasi.
2. Meramalkan kejadian-kejadian yang terjadi di dalam organisasi.
3. Mengendalikan perilaku.
2.2.1

Tingkat Analisa Dalam Keorganisasian


Dalam mempelajari perilaku keorganisasian dapat dilakukan dengan tiga
tingkat analisis yaitu tingkat individu, kelompok dan organisai.. Hal itu
tergantung

apakah

konflik

tersebut

dipandang

sebagai

konflik

antarindividu, atau merupakan konflik antargugus tugas pada tingkat


kelompok atau konflik antar dua kepala bagian pada tingkat organisasi.
2.2.2

Tiga tingkatan analisis atas kejadan organisasi

Tingkat Individu

Dalam analisis pada tingkat individu, kejadian-kejadian yang terjadi


dalam organisasi dianalisis dalam hubungannya dengan perilaku
seseorang dan interaksi kepribadian dalam suatu situasi.

Tingkat Kelompok
Sekalipun kelompok terbentuk dari kumpulan individu-individu,
kejadian-kejadian yang terjadi pada suatu kelompok bukan sekedar
penjumlahan

dari

perilaku-perilaku

individu.

Kelompok

mengembangkan norma-normanya sendiri tentang perilaku-perilaku


yang dapat diterima oleh para anggotanya.

Tingkat Organisasi
Organisasi lebih dari sekedar penjumlahan individu-individu maupun
kelompok. Struktur dan posisis seseorang dalam organisasi membawa
pengaruh pada setiap interaksi sosial dalam organisasi. Struktur
organisasi mempengaruhi bagaimana informasi dikomunikasikan dan
keputusan dibuat.

2.2.3

Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan eksternal memiliki pengaruh yang kuat pada masingmasing tingkatan analisis. Misalnya rendahnya produktivitas, karyawan
yang malas, seringnya karyawan tidak masuk kerja, dan masalah-masalah
organisasi lainnya, memerlukan analisis lebih dari sekedar analisis pada
tingkat individu, kelompok dan organisasi. Organisasi begitu banyaknya
menghadapi desakan dari faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi
efektivitasnya,termasuk didalamnya tuntutan konsumen akan produk yang
berkualitas tinggi, persaingan yang bersifat global, fluktuasi ekonomi,
tuntutan gaya hidup dan lain sebagainya.

2.2.4

Karakteristik-Karakteristik Perilaku Keorganisasian


Dalam mempelajari perilaku keorganisasian dipusatkan pada tiga
karakteristik yaitu :

Perilaku (Perilaku individu dan organisasi)


Focus dari perilaku keorganisasian adalah perilaku individu dalam
organisasi. Untuk dapat memahami perilaku keorganisasian maka
harus mampu memahami perilaku berbagai individu dalam organisasi.

Struktur (organisasi dan kelompok)


Struktut berkaitan dengan hubungan yang bersifat tetap dalam
organisasi, bagaimana pekerjaan itu diatur dalam bagan organisasi.
Struktur organisasi berpengaruh besar terhadap perilaku individu atau
orang-orang dalam organisasi serta efektivitas dari organisasi tersebut.

Proses
Proses organisasi berkaitan dengan interaksi yang terjadi antara
anggota organisasi. Proses organisasi antara lain meliputi kominikasi,
kepemimpinan, proses pengambilan keputusan dan kekuasaan.

2.2.5

Sumbangan

Beberapa

Bidang

Ilmu

Terhadap

Perilaku

Keorganisasian
A. Psikologi
Psikologi
mengukur,

merupakan

ilmu

menjelaskan,dan

pengetahuan
kadang

yang

berusaha

mengubah

perilaku.

Kontribusinya ilmu ini terhadap perilaku keorganisasian


adalah dalam hal: pembelajaran, motivasi, kepribadaian,
persepsi, pelatihan,

efektifitas

kepemimpinan,

kepuasan

kerja,

pengambilan keputusan individu, penilaian kinerja, pengukuran sikap,


seleksi karyawan, desain kerja, stress kerja.

B. Sosiologi
Sosiologi adalah studi tentang orang-orang dalam hubungannya
dengan sesama.Terkait pemahaman tentang sistem sosial dan
interaksi manusia dalam suatu sistem s o s i a l .
S u m b a n g a n n ya m e l i p u t i : d i n a m i k a k e l o m p o k , t i m - t i m
kerja, kekuasaan,konflik, perilaku antar kelompok,
t e o r i o r g a n i s a s i f o r m a l , p e r u b a h a n o r g a n i s a s i , budaya
organisasi.
C. Antropologi
Antropologi adalah studi tentang masyarakat khususnya tentang
manusia beserta kegiatannya. Jadi sumbangannya yang tidak
kecil terhadap Perilaku Keorganisasian adalah dalam hal: nilai
komparatif, analisis lintas budaya, lingkungan organisasional.

D. Ilmu Politik, Sejarah dan Ekonomi


Ilmu politik adalah pengetahuan tentang perilaku individu
dan kelompok dalam suatu lingkungan politik. Sumbangan dari
ilmu politik terutama dalam proses mempengaruhi, pengalokasian
wewenang dan pengelolaan konflik. Ilmu sejarah terutama tentang
sejarah

dari

pemimpin-pemimpin

besar

dimasa

lampau

atas

keberhasilan dan kegagalannya. Dan ilmu ekonomi mencoba


menjelaskan perilaku individu ketika mereka dihadapkan pada suatu
pilihan. Ilmu Ekonomi tersebut memberikan sumbangan yang berarti
terutama dalam proses pengambilan keputusan.

2.3
2.3.1

Kepemimpinan
Pengertian Kepemimpinan
Menurut Tead, Terry, Hoyt (Kartono, 2003) kepemimpinan yaitu kegiatan
atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan
pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam
mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.

Menurut Young (Kartono, 2003), kepemimpinan yaitu bentuk dominasi


yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau
mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan
oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi
yang khusus.

Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya


sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki
kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya.
Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung
memandang sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak
langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan
keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).

Kepemimpinan adalah pengaruh tambahan yang melebihi dan berada di


atas kebutuhan mekanis dalam mengarahkan organisasi secara rutin (D.
Katz & Khan, 1978, h.528). Atas dasar itu dapatlah kiranya disusun
definisi kepemimpinan yang mudah dipahami, yaitu rangkaian kegiatan
penataan berupa kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain dalam
situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telh
ditetapkan.

Kepemimpinan juga bisa di artikan Kemampuan untuk mempengaruhi


suatu kelompok untuk pencapaian tujuan. Bentuk pengaruh tersebut dapat
secara formal seperti manajerial pada suatu organisasi. Nonsanctioned
Leadership merupakan kemampuan untuk member pengaruh di luar
struktur formal organisasi yang kepentingannya sama atau bahkan
melebihi pengaruh struktur formal. Dengan kata lain, seorang pemimpin
dapat saja muncul dalam suatu kelompok walaupun tidak diangkat secara
formal.
Dalam arti yang luas kepemimpinan dapat digunakan setiap orang dan
tidak hanyaterbatas berlaku dalam suatu organisasi atau kantor tertentu.
Kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain,
atau seni mempengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun
kelompok. Disini, menurut kami ,kepemimpinan tidak harus dibatasi oleh
aturan-aturan atau tata karma birokrasi. Kepemimpinan tidak harus diikat
dalam suatu organisasi tertentu. Melainkan kepemimpinan bisa terjadi di
manasaja, asalkan seseorang menunjukkan kemampuannya mempengaruhi
orang-orang lain ke arah tercapainya tujuan tertentu.

10

2.3.2

Metode kepemimpinan
Setiap pemimpin memiliki kecenderungan yang berbeda-beda dalam gaya
kepemimpinan ini. Ada yang cenderung pada penyelesaian pekerjaan,
namun juga ada yang lebih kepada membangun relasi sosial.Pemimpin
dalam organisasi-organisasi bisnis umumnya lebih memfokuskan pada
fungsi yang terkait pada pekerjaan, manakala pemimpin di organisasiorganisasi kemahasiswaan atau organisasi non profit umumnya lebih
memfokuskan pada fungsi yang terkait pada relasi sosial.
Gaya kepemimpinan akan ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu dari segi
latar belakang, pengetahuan, nilai, dan pengalaman dari pemimpin
tersebut. Pemimpin yang menilai bahwa kepentingan organisasi harus
didahulukan dari kepentingan individu akan memiliki kecenderungan
untuk memiliki gaya kepemimpinan yang berorientasi pada pekerjaan.
Demikian pula sebaliknya, pemimpin yang dibesarkan dalam lingkungan
yang

Menghargai perbedaan dan relasi antar manusia akan memiliki


kecenderungan untuk bergaya kepemimpinan yang berorientasi pada
orang-orang. Namun selain keempat faktor tersebut, karakteristik dari
bawahan atau orang-orang yang dipimpin juga perlu dipertimbangkan
sebelum menentukan gaya kepemimpinan apa yang sebaiknya digunakan.
Jika orang-orang yang dipimpin cenderung untuk menyukai keterlibatan
dalam berbagai hal, memiliki inisiatif yang tinggi, barang kali gaya yang
perlu dilakukan lebih cenderung memadukan kedua gaya kepemimpinan
yang ada melalui apa yang dinamakan sebagai manajemen partisipatif,
dimana dalam pendekatan manajemen partisipatif ini faktor orientasi sosial
diakomodasi melalui keterlibatan orang-orang (apakah dalam penyusunan
tujuan, penyelesaian masalah, dan lain sebagainya) dalam menyelesaikan
pekerjaan.

11

Telah terjadi perdebatan dalam waktu cukup lama untuk mencari jawaban
apakah ada gaya kepemimpinan normatif atau ideal. Perdebatan ini
biasanya terpusat pada gagasan bahwa gaya ideal itu ada: yaitu gaya yang
secara aktif melibatkan bawahan dalam penetapan tujuan dengan
menggunakan teknik-teknik manajemen partisipatif dan memusatkan
tujuan

baik

terhadap

karyawan

dan

tugas.

Penelitian-Penelitian

teorimotivasi sebelumnya juga mendukung bahwa pendekatan manajemen


partisipatif sebagai yang ideal. Banyak praktisi manajemen merasa
konsep-konsep tersebut membuat peningkatan prestasi dan perbaikan
sikap.
Di lain pihak, beberapa penelitian membuktikan pula bahwa pendekatan
otokratik dibawah berbagai kondisi, pada kenyataannya lebih efektif
dibandingkan

pendekatan

lain.

Jadi,

pengalaman-pengalaman

kepemimpinan mengungkapkan bahwa dalam berbagai situasi pendekatan


otokratik mungkin yang paling baik, dalam berbagai situasi lain
pendekatan partisipatif yang lebih efektif atau pendekatan orientasi-tugas
dibanding pendekatan orientasi-karyawan dari sisi lain. Kesimpulan yang
dapat dibuat, bahwa kepemimpinan adalah kompleks dan gaya
kepemimpinan yang paling tepat tergantung pada beberapa variabel yang
saling berhubungan.

12

A. Gaya Kepemimpinan Direktif (pemimpin pengarah)


Pemimpin seperti ini mengutamakan pemberian pedoman dan petunjuk
kepada bawahan bagaimana melakukan pekerjaan serta memberitahukan
mengenai apa yang diharapkan dari mereka.
B. Gaya Kepemimpinan Suportif (pemimpin pendukung)
Pemimpin seperti ini memberi pertimbangan atas kebutuhan bawahan,
memberi perhatian bagi kesejahteraan dan menciptakan keakraban dengan
bawahan dan lingkungan kerja yang menyenangkan.
C. Gaya kepemimpinan partisipatif (pemimpin partisipatif)
Gaya kepemimpinan ini, yaitu beruding dengan bawahan, memberi
peluang kepada bawahan untuk memberi masukan berupa saran dan
gagasan sebelum mengambil keputusan atau mempengaruhi keputusan
yang telah dan akan dibuat.
D. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada prestasi (pemimpin yang
berorientasi pada prestasi)
Pemimpin ini menetapkan tujuan menantang, mengupayakan bawahan
meningkatkan prestasi, serta mendorong bawahan untuk mencapai tujuan
dan hasil karya yang lebih tinggi.
2.3.3

Teori Teori Kepemimpinan


1. Teori Genetis (Keturunan).
Inti dari teori menyatakan bahwa Leader are born and nor made
(pemimpin itu dilahirkan (bakat) bukannya dibuat). Para penganut aliran
teori ini mengetengahkan pendapatnya bahwa seorang pemimpin akan
menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan.
Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang ditempatkan karena ia telah
ditakdirkan menjadi pemimpin, sesekali kelak ia akan timbul sebagai
pemimpin. Berbicara mengenai takdir, secara filosofis pandangan ini
tergolong pada pandangan fasilitas atau determinitis.

13

2. Teori Sosial
Jika teori pertama di atas adalah teori yang ekstrim pada satu sisi,
maka teori inipun merupakan ekstrim pada sisi lainnya. Inti aliran teori
sosial ini ialah bahwa Leader are made and not born (pemimpin itu
dibuat atau dididik bukannya kodrati). Jadi teori ini merupakan
kebalikan inti teori genetika. Para penganut teori ini mengetengahkan
pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin
apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.

3. Teori Ekologis
Kedua teori yang ekstrim di atas tidak seluruhnya mengandung
kebenaran, maka sebagai reaksi terhadap kedua teori tersebut timbullah
aliran teori ketiga. Teori yang disebut teori ekologis ini pada intinya
berarti bahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang
baik apabila ia telah memiliki bakat kepemimpinan. Bakat tersebut
kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan
pengalaman yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut.
Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori terdahulu
sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling mendekati
kebenaran. Namun demikian, penelitian yang jauh lebih mendalam
masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa saja faktor
yang menyebabkan timbulnya sosok pemimpin yang baik.

Selain pendapat-pendapat yang menyatakan tentang timbulnya gaya


kepemimpinan tersebut,. Dalam suatu organisasi, bawahan mempunyai
peranan yang sangat strategis, karena sukses tidaknya seseorang
pimpinan bergantung kepada para pengikutnya ini. Oleh sebab itu,
seorang pemimpinan dituntut untuk memilih bawahan dengan secermat
mungkin

14

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Individu dan kelompok individu adalah aset terpenting dalam membentuk,
mencorak, membudaya, mengurus, menentukan haluan dan juga kegagalan
atau kejayaan sebuah organisasi. Dalam memainkan dan menghidupkan
peranan dan tanggung jawabnya, seorang individu perlu tahu tempatnya
dalam sistem terdekatnya dan juga interaksi sistem itu dengan sistem-sistem
lain serta meningkatkan upaya ke arah pencapaian sinergi positif dalam
organisasi. Pembinaan kemahiran baru dan budaya baru perlu ditanamkan
dalam diri melalui kesadaran tentang perubahan di sekeliling yang menuntut
kepada perubahan dalam cara kita berfikir dan bertindak.

P e r i l a k u k e o r g a n i s a s i a n a d a l a h b i d a n g s t u d i ya n g m e n c o b a
m e n ye l i d i k i

d a m p a k individu, kelompok, dan struktur terhadap

perilaku di dalam organisasi, dan kemudian berusaha


mengaplikasikannya agar organisasi dapat bekerja lebih efektif.
Perilaku Keorganisasian memberika tantangan sekaligus peluang bagi
anggota organisasi untuk menapak karir yang lebih tinggi. Perilaku
Keorganisasian targetnya bukanlah semata-mata para pimpinan tetapi juga
para bawahan. Dalam perspektif manajemen apabila perilaku keorganisasian
sukses diterapkan akan mampu mewujudkan system imbalan rangkap
tiga, dimana tujuan manusia, organisasi, dan masyarakat menyatu.
3.2

Saran
Penulis mencoba untk menyampaikan saran sebagai input tambahan bagi
organisasi dan perilaku keorganisasian yang diharapkan dapat bermanfaat,
diantaranya yaitu:
-

Dalam organisasi perlu adanya keterkaitan satu sama lainnya dalam


melakukan aktivitas, agar tujuan organisasi dapat tercapai.

15

dalam perilaku keorganisasian diharapkan adanya tiga karakteristik


yaitu perilaku, struktur, dan proses. Dengan ketiga karakteristik tersebut
organisasi dapat bekerja dengan efektif dan efisien.

Organisasi harus mempertahankan hubungan baiknya dengan bawahan,


memperhatikan dan menghargai bawahannnya sehinngga karyawan
dapat bekerja dengan baik dan loyal sehingga organisasi juga merasa
diuntungkan.

16

DAFTAR PUSTAKA

Robbins, Stephen P. 2009. Perilaku Organisasi. Jakarta : Salemba Empat.


Gitosudarmo, Indriyo. 1997. Perilaku Keorganisasian. Yogyakarta : BPFE
Yogyakarta.
http://putriajengjanuarti.blogspot.com/2012/03/perilaku-keorganisasian.html
http://anekamakalahkita.blogspot.com/2013/01/makalah-perilakukeorganisasian.html
http://missdeanyta.blogspot.com/2012/09/artikel-perilaku-keorganisasian.html
http://www.scribd.com/doc/34718089/PERILAKU-KEORGANISASIAN

17