Anda di halaman 1dari 109

BREVET AB TERPADU

PAJAK PENGHASILAN
ORANG PRIBADI

BREVET PAJAK AB TERPADU

IKATAN AKUNTAN
INDONESIA ( IAI )
2012
2012

DASAR HUKUM
UU No. 7 TAHUN 1983 TENTANG
PAJAK PENGHASILAN
SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH
TERAKHIR DENGAN
UU No. 36 TAHUN 2008

PERATURAN PEMERINTAH
PERATURAN MENKEU
PERATURAN DIRJEN PAJAK
2

PAJAK PENGHASILAN (PPh)


Pasal 1

ADALAH

PAJAK YANG DIKENAKAN TERHADAP SUBJEK PAJAK


ATAS PENGHASILAN YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEHNYA
DALAM TAHUN PAJAK

SUBJEK PAJAK
Pasal 2 ayat (1)

- ORANG PRIBADI
- WARISAN YG BELUM TERBAGI

BADAN

BENTUK USAHA TETAP (BUT)

SUBJEK PAJAK
Pasal 2 ayat (2)

SUBJEK PAJAK

DALAM NEGERI

LUAR NEGERI

SUBJEK PAJAK
DALAM NEGERI
Pasal 2 ayat (3)

ORANG PRIBADI :
- BERTEMPAT TINGGAL / BERADA DI INDONESIA LEBIH
DARI 183 HARI DLM 12 BULAN; ATAU
- DALAM SUATU TAHUN PAJAK BERADA DI INDONESIA
DAN MEMPUNYAI NIAT BERTEMPAT TINGGAL DI
INDONESIA
BADAN
YANG DIDIRIKAN ATAU BERTEMPAT KEDUDUKAN DI
INDONESIA
WARISAN YANG BELUM TERBAGI

Bukan Subyek Pajak


kantor perwakilan negara asing;
 Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat lain dari negara asing,
dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan
bertempat tinggal bersama mereka, dengan syarat bukan warga negara
Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain
di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut, serta negara yang bersangkutan
memberikan perlakuan timbal balik;
 organisasi-organisasi internasional dengan syarat:
 Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut;dan
 tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan
dari Indonesia selain memberikan pinjaman kepada pemerintah yang
dananya berasal dari iuran para anggota;
 Pejabat perwakilan organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat (1) huruf c UU PPh, yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan,
dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha
atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari
Indonesia.


OBJEK PAJAK
Pasal 4 ayat (1)

PENGHASILAN

SETIAP TAMBAHAN KEMAMPUAN EKONOMIS YANG :


- Diterima atau diperoleh Wajib Pajak,
- Berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia,
- Dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib
Pajak,

DENGAN NAMA DAN DALAM


BENTUK APAPUN

PENGHASILAN
OBYEK
PAJAK
DIBAYAR
SENDIRI

Tidak FINAL
(Pasal 4 ayat 1)
PEMOTONGAN

Tahun Berjalan =
Kredit Pajak.
Pada akhir tahun
PPh Dihit. kembali
atas seluruh
pengghasilan
setahun.

DIBAYAR
SENDIRI

FINAL
(Pasal 4 ayat 2)

BUKAN OBJEK PAJAK


(Pasal 4 ayat 3)

Th Berjalan =
Pelunasan Pajak
PEMOTONGAN

Sumber Penghasilan DN





Dilihat dari mengalirnya tambahan kemampuan ekonomis kepada Wajib


Pajak, penghasilan dapat dikelompokkan menjadi:
penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas
seperti gaji, honorarium, penghasilan dari praktek dokter, notaris,
aktuaris, akuntan, pengacara, dan sebagainya;
penghasilan dari usaha dan kegiatan;
penghasilan dari modal, yang berupa harta gerak ataupun harta tak
gerak, seperti bunga, dividen, royalti, sewa, dan keuntungan penjualan
harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha; dan
penghasilan lain-lain, seperti pembebasan utang dan hadiah.

Penghasilan Luar Negeri




penghasilan yang berasal dari luar negeri dengan nama dan


dalam bentuk apa pun harus dilaporkan di Indonesia.

Obyek PPh Tidak Final


Penghasilan yang merupakan obyek Pajak :
Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi,
bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali
ditentukan lain dalam UU PPh
 hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan;
 laba usaha;
 keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk:
1.
keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan,
dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;
2.
keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham,
sekutu, atau anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan
badan lainnya;


Obyek PPh Tidak Final


3.

4.

5.

keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,


pemecahan, pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dengan nama
dan dalam bentuk apa pun;
keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau
sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam
garis keturunan lurus satu derajat dan badan keagamaan, badan
pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi
yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada
hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di
antara pihak-pihak yang bersangkutan; dan
keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh
hak penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau
permodalan dalam perusahaan pertambangan;

Obyek PPh Tidak Final













penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan
pembayaran tambahan pengembalian pajak;
bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian
utang;
dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari
perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha
koperasi;
royalti atau imbalan atas penggunaan hak;
sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu
yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah;
keuntungan selisih kurs mata uang asing;
selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;

Obyek PPh Tidak Final









premi asuransi;
iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari
Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan
pajak;
penghasilan dari usaha berbasis syariah;
imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur
mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan; dan
surplus Bank Indonesia.

Obyek PPh Final


Penghasilan di bawah ini dapat dikenai pajak bersifat final:
 penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan
surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada
anggota koperasi orang pribadi;
 penghasilan berupa hadiah undian;
 penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang
diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan
penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh
perusahaan modal ventura;
 penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan,
usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau
bangunan; dan
 penghasilan tertentu lainnya,
yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.

PENGHASILAN TERTENTU YANG PENGENAAN PAJAKNYA


TELAH DIATUR DGN PERATURAN PEMERINTAH (PP)
1. PENGHASILAN DARI TRANSAKSI PENJUALAN AHAM DI BURSA EFEK
( PP No. 41 TAHUN 1994 sttd PP No. 14 TAHUN 1997)
2. PENGHASILAN DARI HADIAH UNDIAN ( PP No. 132 TAHUN 2000)
3. PENGHASILAN DARI PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU
BANGUNAN (PP No. 48 TAHUN 1994 sttd PP No.71 TAHUN 2008)
4. PENGHASILAN DARI BUNGA DEPOSITO DAN TABUNGAN SERTA
DISKONTO SBI ( PP No. 131 TAHUN 2000 jo KMK No.51/KMK.04/2001)
5. PENGHASILAN DARI PERSEWAAN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN
( PP No. 29 TAHUN 1996 sttd PP No 5 tahun 2002)
6. PENGHASILAN BERUPA OBLIGASI ( PP No. 16 tahun 2009)
7. PENGHASILAN DARI USAHA JASA KONSTRUKSI
( PP No. 51 TAHUN 2008 sttd PP 40 Tahun 2009)

PENGHASILAN TERTENTU YANG PENGENAAN PAJAKNYA


TELAH DIATUR DGN PERATURAN PEMERINTAH (PP)
8. PENGHASILAN ATAS DIVIDEN YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH
WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DALAM NEGERI (PP No 19 tahun 2009)
9. PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI TRANSAKSI DERIVATIF
BERUPA KONTRAK BERJANGKA YANG DIPERDAGANGKAN DI BURSA
(PP No 17 tahun 2009)
10. PENGHASILAN ATAS BUNGA SIMPANAN YANG DIBAYARKAN OLEH
KOPERASI KEPADA ANGGOTA KOPERASI ORANG PRIBADI
(PP No 15 tahun 2009)
11. PENGHASILAN ATAS DISKONTO SURAT PERBENDAHARAN NEGARA (
(PP No 27 tahun 2008)

Bukan Obyek Pajak


a. Pasal 4 ayat 1 huruf a :
1. bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat
atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan
yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan
yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang
diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh
pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak, yang
ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah; dan
2. harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus
satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk
yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil,
yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan,
sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan;

Bukan Obyek Pajak


warisan;
c. harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b UU PPh sebagai pengganti saham
atau sebagai pengganti penyertaan modal;
d. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib
Pajak atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak,
Wajib Pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak yang
menggunakan norma penghitungan khusus (deemed profit) sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 UU PPh;
e. pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan
dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi
dwiguna, dan asuransi bea siswa;
b.

Bukan Obyek Pajak


f.

g.

dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas
sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara,
atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan
usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan
syarat:
1. dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
2. bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha
milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan
yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen)
dari jumlah modal yang disetor;
iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja
maupun pegawai;

Bukan Obyek Pajak


h.

i.

j.

penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun


sebagaimana dimaksud pada huruf g, dalam bidang-bidang tertentu
yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;
bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham,
persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit
penyertaan kontrak investasi kolektif;
bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan reksadana
selama 5 (lima) tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau
pemberian ijin usaha (th 2009 dihapus)

Bukan Obyek Pajak


k.

penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura


berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan
menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan
pasangan usaha tersebut:
1.

2.

l.

merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang menjalankan


kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan
sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia;

beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur


lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;

Beasiswa yang merupakan bukan


obyek PPh





Penghasilan berupa beasiswa yang diterima atau diperoleh Warga Negara Indonesia dari
Wajib Pajak pemberi beasiswa dalam rangka mengikuti pendidikan formal dan/atau
pendididikan nonformal yang dilaksanakan di dalam negeri dan/atau di luar negeri
dikecualikan dari objek Pajak Penghasilan.
Pendidikan formal yang dimaksud adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan
berjenjang yang terdiri atas tingkat pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan
pendidikan tinggi.
Pendidikan nonformal yang dimaksud adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal
yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
Ketentuan tsb tidak berlaku apabila penerima beasiswa mempunyai hubungan istimewa
dengan : 1) Pemilik; 2) Komisaris; 3) Direksi; atau 4) Pengurus, dari Wajib Pajak
pemberi beasiswa.
Komponen beasiswa tsb terdiri dari biaya pendidikan yang dibayarkan ke sekolah (tuition
fee), biaya ujian, biaya penelitian yang berkaitan dengan bidang studi yang diambil, biaya
untuk pembelian buku, dan/atau biaya hidup yang wajar sesuai dengan daerah lokasi
tempat belajar.

Bukan Obyek Pajak


m.

n.

sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang
bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan
pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya,
yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan
pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu
paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang
ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan; dan
bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur
lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

PTKP
Kepada orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri diberikan
pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak
 Besarnya PTKP per tahun adalah sebagai berikut :
 Rp 15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah)
untuk diri Wajib Pajak orang pribadi;
 Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) tambahan
untuk Wajib Pajak yang kawin;
 Rp15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah)
tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya digabung dengan
penghasilan suami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) UU PPh
 Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) tambahan
untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis
keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya,
paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.


Penentuan PTKP
Besarnya PTKP ditentukan berdasarkan
keadaan pada awal tahun kalender.
 Untuk subyek pajak yang baru datang dan
menetap di Indonesia dalam bagian tahun
kalender ditentukan berdasarkan keadaan
pada awal bulan dari bagian tahun kalender
yang bersangkutan.


Table PTKP
No

Status

Besarnya PTKP

TK/0

15.840.000

2.

TK/1

15.840.000 + 1.320.000

3.

TK/2

15.840.000 + (1.320.000x2)

4.

TK/3

15.840.000 + (1.320.000x3)

5.

K/0

15.840.000 + 1.320.000

6.

K/1

15.840.000 + 1.320.000 + 1.320.000

K/2

15.840.000 + 1.320.000 + (1.320.000x2)

K/3

15.840.000 + 1.320.000 + (1.320.000x3)

Status PTKP
WP Tidak Kawin

Kode

WP Kawin

Jumlah

Kode

Jumlah

0 Tanggungan

TK/0

15.840.000

0 Tanggungan

K/0

17.160.000

1 Tanggungan

TK/1

17.160.000

1 Tanggungan

K/1

18.480.000

2 Tanggungan

TK/2

18.480.000

2 Tanggungan

K/2

19.800.000

3 Tanggungan

TK/3

19.800.000

3 Tanggungan

K/3

21.120.000

WP Kawin + Penghasilan Istri Digabung

Kode

Jumlah

0 Tanggungan

K/I/0

33.000.000

1 Tanggungan

K/I/1

34.320.000

2 Tanggungan

K/I/2

35.640.000

3 Tanggungan

K/I/3

36.960.000

Tanggungan


Anggota keluarga
sedarah dalam garis
keturunan lurus
Anggota keluarga
semenda dalam garis
keturunan lurus
Anak angkat yang
menjadi tanggungan
sepenuhnya.

Tidak Termasuk



Adik/Kakak Wajib Pajak


Ipar dari Wajib Pajak

Penghasilan Keluarga


Sistem pengenaan pajak berdasarkan UU PPh


menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis,
artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota
keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenai
pajak dan pemenuhan kewajiban pajaknya dilakukan oleh
kepala
keluarga.

Namun, dalam hal-hal tertentu pemenuhan kewajiban pajak


tersebut dilakukan secara terpisah.

PENGHASILAN ATAU KERUGIAN BAGI WANITA KAWIN


Pasal 8 ayat (1)

PENGHASILAN ATAU KERUGIAN BAGI WANITA YANG TELAH KAWIN

DIANGGAP SEBAGAI PENGHASILAN ATAU


KERUGIAN SUAMINYA

KECUALI
1. PENGHASILAN TSB SEMATA-MATA DITERIMA ATAU DIPEROLEH DARI
SATU PEMBERI KERJA YG TELAH DIPOTONG PPh PASAL 21,
DAN
2. PEKERJAAN TSB TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN USAHA ATAU
PEKERJAAN BEBAS SUAMI ATAU ANGGOTA KELUARGA LAINNYA

Pemisahan Penghasilan





Penghasilan suami-isteri dikenai pajak secara terpisah


apabila :
suami-isteri telah hidup berpisah berdasarkan putusan
hakim;
dikehendaki secara tertulis oleh suami-isteri berdasarkan
perjanjian pemisahan harta dan penghasilan; atau
dikehendaki oleh isteri yang memilih untuk menjalankan
hak dan kewajiban perpajakannya sendiri.

Penghasilan Anak


Penghasilan anak yang belum dewasa dari mana pun sumber


penghasilannya dan apa pun sifat pekerjaannya digabung dengan
penghasilan orang tuanya dalam tahun pajak yang sama.

Yang dimaksud dengan anak yang belum dewasa adalah anak yang
belum berumur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah menikah.
Apabila seorang anak belum dewasa, yang orang tuanya telah
berpisah, menerima atau memperoleh penghasilan, pengenaan
pajaknya digabungkan dengan penghasilan ayah atau ibunya
berdasarkan keadaan sebenarnya.

Tarif PPh WP Orang Pribadi


No

1
2

Lapisan Penghasilan Kena Pajak (Rp)

sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh


juta rupiah)
di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00
(dua ratus lima puluh juta rupiah)

Tarif

5%
15%

di atas Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima


puluh juta rupiah) sampai dengan
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

25%

di atas Rp500.000.000,00 (lima ratus juta


rupiah)

30%

Perhitungan PPh WP
Orang Pribadi

Type WP Orang Pribadi




WP Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha/ pekerjaan


bebas.




WP Orang Pribadi yang melakukan kegiatan Usaha, misalnya :






Pegawai Negeri Sipil/TNI/ABRI


Pegawai Swasta
Pensiunan

Dagang
Bidang Jasa
Industri / Manufaktur

WP Orang Pribadi yang melakukan pekerjaan Bebas, misalnya :




Pengacara, Akuntan , Dokter, Notaris, Aktuaris, Konsultan

Pembukuan dan Pencatatan




Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan


usaha atau pekerjaan bebas di Indonesia wajib
menyelenggarakan pembukuan
Dikecualikan dari kewajiban pembukuan :


Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha


atau pekerjaan bebas yang sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan diperbolehkan
menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Neto (Omzet Max 4,8 M/Thn)

Wajib Pajak orang pribadi yang tidak melakukan


kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.

Pembukuan dan Pencatatan




Pembukuan
atau
pencatatan
tersebut
harus
diselenggarakan dengan memperhatikan iktikad baik dan
mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang
sebenarnya.
Pembukuan atau pencatatan harus diselenggarakan di
Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab,
satuan mata uang Rupiah, dan disusun dalam bahasa
Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh
Menteri Keuangan.
Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan
dengan stelsel akrual atau stelsel kas

Pembukuan dan Pencatatan




Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan


mengenai harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya,
serta penjualan dan pembelian sehingga dapat dihitung
besarnya pajak yang terutang.
Pencatatan terdiri atas data yang dikumpulkan secara
teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/atau
penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah
pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan
objek pajak dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final.

Penyimpanan Dokumen


Buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar


pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain
termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan
yang dikelola secara elektronik atau secara
program aplikasi on-line wajib disimpan selama 10
(sepuluh) tahun di Indonesia, yaitu di tempat
kegiatan atau tempat tinggal Wajib Pajak orang
pribadi, atau di tempat kedudukan Wajib Pajak
badan.

Pencatatan
Pencatatan harus diselenggarakan secara teratur
dan mencerminkan keadaan yang sebenarnya
dengan menggunakan huruf latin, angka Arab,
satuan mata uang Rupiah, dan disusun dalam
bahasa Indonesia.
 Pencatatan
dalam
satu
tahun
harus
diselenggarakan secara kronologis.
 Catatan dan dokumen yang menjadi dasar
pencatatan harus disimpan di tempat tinggal
Wajib Pajak selama 10 (sepuluh)


Pencatatan



Pencatatan dalam satu tahun harus diselenggarakan secara


kronologis
Pencatatan harus dapat menggambarkan antara lain:
1)
Jumlah penghasilan bruto yang diterima dan/atau diperoleh;
2)
Penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau penghasilan
yang pengenaan pajaknya bersifat final.
Bagi Wajib Pajak yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha
dan/atau
tempat
usaha,
pencatatan
harus
dapat
menggambarkan secara jelas untuk masing-masing jenis usaha
dan/atau tempat usaha yang bersangkutan.
Wajib Pajak Orang pribadi juga harus menyelenggarakan
pencatatan atas harta dan kewajiban.

Norma Perhitungan Penghasilan


Neto


Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha


atau pekerjaan bebas yang peredaran brutonya dalam 1
(satu) tahun kurang dari Rp4.800.000.000,00 (empat miliar
delapan ratus juta rupiah) boleh menghitung penghasilan
neto dengan menggunakan Norma Penghitungan
Penghasilan Neto sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dengan syarat memberitahukan kepada Direktur
Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan
pertama dari tahun pajak yang bersangkutan

Norma Perhitungan Penghasilan


Neto


Wajib Pajak yang menghitung penghasilan netonya dengan


menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto
wajib menyelenggarakan pencatatan
Wajib Pajak yang tidak memberitahukan kepada Direktur
Jenderal Pajak untuk menghitung penghasilan neto dengan
menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto,
dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan.

PENYESUAIAN BATAS PENGGUNAAN NORMA


PERHITUNGAN BAGI WP ORANG PRIBADI DN.
( Pasal 14 UNDANG-UNDANG No. 36 Tahun 2008-PPh)
1. MULAI TAHUN PAJAK 2009, WP ORANG PRIBADI DN, YANG
DIPERKENANKAN MENGHITUNG PENGHASILAN NETO UNTUK
MENDAPATKAN BESARNYA PAJAK TERUTANG, DITINGKATKAN
DARI PEREDARAN/PENGHASILAN BRUTO Rp 600.000.000.
MENJADI Rp 4.800.000.000.- (EMPAT MILYAR DELAPAN RATUS
JUTA) SETAHUN.
2. PENGHASILAN NETO YANG TELAH DIHITUNG DENGAN NORMA
PERHITUNGAN TSB, HANYA DAPAT DIKURANGKAN DENGAN
PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK (PTKP), SESUAI DENGAN
KONDISI WP (TK, K/0, K/1, K/2, ATAU K/3).

3. WAJIB PAJAK YANG AKAN MENGGUNAKAN NORMA PERHITUNGAN DIMAKSUD HARUS MEMBERITAHUKAN
KE KANTOR PELAYANAN PAJAK SETEMPAT DALAM TEMPO 3 (TIGA) BULAN PERTAMA DARI TAHUN PAJAK
YANG BERSANGKUTAN, ( CONTOH UNTUK TAHUN PAJAK 2009 SELAMBAT-LAMBATNYA TGL 31 MARET 2009)
4. KEPADA WP MASIH DIWAJIBKAN UNTUK MENYELENGGARAKAN PENCATATAN OMZET/PEREDARAN/PENG
HASILAN BRUTONYA GUNA DILAMPIRKAN PADA PENYAMPAIAN SPT TAHUNANNYA.( BUKAN PEMBUKUAN )
5. CONTOH PENERAPAN NORMA PERHITUNGAN :
TUAN DARNOTO ( STATUS K/3 ) MEMILIKI USAHA BENGKEL MOBIL DI JALAN IKAN GURAMI 27 JAKARTA
UTARA, PENERIMAAN BRUTO BENGKEL TAHUN 2009 BESARNYA Rp 1 . 650 . 000.000.
MISALNYA NORMA PERHITUNGAN BERDASARKAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDRAL PAJAK UNTUK USAHA
BENGKEL DIDAERAH TERSEBUT 8% ( DELAPAN PROSEN ) .
PENGHASILAN NETO =
8% x Rp 1.650.000.000. = Rp 132 . 000.000.
PENGURANGAN PTKP DENGAN STATUS ( K/3 ) =
Rp 21. 120.000.
PENGHASILAN KENA PAJAK =
Rp 11 0 . 880.000.
880.000
PAJAK PENGHASILAN TERUTANG :
5 % x Rp 50.000.000.
= Rp 2.500. 000..
15 % x Rp 60.880.000-.
= Rp 9. 1 32.000.JUMLAH

Rp 11 . 632 . 000.000.-

JENIS-JENIS PEMBAYARAN PPH YANG DAPAT


DIKREDITKAN BAGI WPDN/BUT
a. PASAL 21

PEMOTONGAN PAJAK ATAS PENGHASILAN


DARI PEKERJAAN,JASA, DAN KEGIATAN LAIN

b. Pasal 22

PEMUNGUTAN PAJAK ATAS PENGHASILAN


DARI KEGIATAN DIBIDANG IMPOR ATAU KE
GIATAN USAHA DIBIDANG LAINNYA

c. PASAL 23

PEMOTONGAN PAJAK ATAS PENGHASILAN


BERUPA DEVIDEN, BUNGA, SEWA, ROYALTY,
HADIAH, DAN PENGHARGAAN & IMBALAN
JASA LAINNYA .

d.PASAL 24

PAJAK YG DIBAYAR ATAU TERUTANG ATAS


PENGHASILAN DARI LN YG BLH DIKREDITKAN

e. PASAL 25

PEMBAYARAN YG DILAKUKAN WP SENDIRI.

f. PASAL 26
Ayat (5)

PEMOTONGAN PAJAK ATAS PENGHASILAN


YANG TIDAK BERSIFAT FINAL

TIDAK BOLEH
DIKREDITKAN

SANKSI ADMINISTRASI BERUPA BUNGA,


DENDA DAN KENAIKAN PAJAK

PASAL 28 Ayat (1) dan (2)

KELEBIHAN PEMBAYARAN
PAJAK PENGHASILAN

PAJAK TERUTANG
PADA
SATU TAHUN PAJAK

LEBIH
KECIL

DARI JUMLAH KREDIT


PAJAK SEBAGAIMANA
DIMAKSUD PASAL 28 (1)
SETELAH DILAKUKAN
PEMERIKSAAN.

SETELAH DIPERHITUNG
KAN DG UTANG PAJAK
BERIKUT SANKSINYA

KELEBIHAN PEMBA
YARAN PAJAK
DIKEMBALIKAN

PASAL 28 A

APABILA PAJAK YANG


TERUTANG UNTUK
SUATU TAHUN PAJAK

TERNYATA

LEBIH BESAR
DARI PADA

KREDIT
PAJAK
SEBAGAIMANA DIMAKSUD
DALAM PASAL 28 AYAT (1)

KEKURANGAN PEMBAYARAN PAJAK


YANG TERUTANG HARUS DILUNASI
SEBELUM SPT PAJAK PENGHASILAN
DISAMPAIKAN.
PASAL 29

FORMULA PENGHITUNGAN PPh OP








TOTAL PENGHASILAN NET


.................................................. .... ..XXXXXXXXX
PTKP................................................................................................ ...... (XXXXXXXXX )
PENGHASILAN KENA PAJAK................................................................ ..XXXXXXXXX
DIKALIKAN TARIF PPh WP ORANG PRIBADI (TARIF PROGRESIF)
PPh TERHUTANG..................................................................................... XXXXXXXXX
- KREDIT PAJAK
- PPh 21
- PPh 22
- PPh 23
- PPh 24
- PPh 26 (5)
- PPh 25 dibayar Sendiri
- Pokok STP PPh Pasal 25
TOTAL KREDIT PAJAK...................................................................... .( XXXXXXXXX)
PPh Kurang dibayar (Psl 29 ) atau lebih bayar.........................................XXXXXXXXXX

Jenis-Jenis SPT PPh Orang Pribadi

1770

BAGI ORANG PRIBADI YANG PENGHASILANNYA BERSUMBER ANTARA


LAIN DARI USAHA DAN/ATAU PEKERJAAN BEBAS, SEPERTI DOKTER
PRAKTEK, PENGACARA, PEDAGANG, PENGUSAHA, BIRO JASA,
KONSULTAN DAN LAIN-LAIN YANG PEKERJAANNYA TIDAK TERIKAT.

BAGI ORANG PRIBADI

1770 S

1770 SS

YANG SUMBER PENGHASILANNYA DIPEROLEH DARI


SATU ATAU LEBIH PEMBERI KERJA DAN MEMLIKI PENGHASILAN LAINNYA
YANG BUKAN DARI KEGIATAN USAHA DAN/ATAU PEKERJAAN BEBAS.
CONTOHNYA KARYAWAN, PNS, TNI, POLRI, PEJABAT NEGARA, YANG
MEMILIKI PENGHASILAN LAINNYA ANTARA LAIN SEWA RUMAH, HONOR
PEMBICARA/PENGAJAR/PELATIH DAN SEBAGAINYA

BAGI ORANG PRIBADI YANG SUMBER PENGHASILANNYA DARI SATU PEMBERI


KERJA (SEBAGAI KARYAWAN) DAN JUMLAH PENGHASILAN BRUTONYA TIDAK
MELEBIHI RP60.000.000 SETAHUN SERTA TIDAK TERDAPAT PENGHASILAN
LAINNYA KECUALI PENGHASILAN DARI BUNGA BANK DAN BUNGA KOPERASI

Formulir SPT Tahunan bagi Suami Istri yang memiliki NPWP Terpisah
(melaksanakan hak dan kewajibannya sendiri-sendiri & penghasilan di
atas 60 juta setahun)
SUAMI

ISTRI

FORMULIR
SPT SUAMI

FORMULIR
SPT ISTRI

KETERANGAN

PNS/
Swasta

PNS/
Swasta

1770S

1770S

Suami dan Isteri masing-masing mengisi


SPT Tahunan
Suami dan Isteri masing-masing
mengisi SPT Tahunan;

PNS/
Swasta

Usaha

Usaha

PNS/
Swasta

1770S

1770

1770

1770S

Besarnya PPh yg harus dilunasi oleh


masing-masing suami-isteri dihitung
berdasarkan penggabungan
penghasilan neto suami-isteri dan
disesuai dengan perbandingan
penghasilan neto mereka
Suami dan Isteri masing-masing
mengisi SPT Tahunan;
Besarnya PPh yg harus dilunasi oleh
masing-masing suami-isteri dihitung
berdasarkan penggabungan
penghasilan neto suami-isteri dan
disesuai dgn perbandingan penghasilan
neto mereka

Formulir SPT WP OP
Formulir SPT Tahunan bagi WP OP terdiri
dari :
 Form 1770-SS
 Form 1770-S
 Form 1770

Form 1770-SS
Digunakan untuk :
 WP Orang Pribadi yang tidak melakukan
kegiatan usaha/ pekerjaan bebas,
 Memperoleh Penghasilan hanya dari satu
pemberi kerja Maksimal 60Jt/thn, dan
 Tidak memperoleh penghasilan lain, kecuali
penghasilan bunga bank dan/atau bunga
koperasi

Form 1770
Digunakan untuk :
 WP OP yang melakukan kegiatan usaha /
Pekerjaan Bebas
 Baik menyelenggarakan pembukuan
 Maupun menggunakan Norma perhitungan
penghasilan neto

Form 1770-S
Digunakan oleh WP selain ,
 yang menggunakan SPT 1770-SS
 yang menggunakan SPT 1770
Yaitu :
 WP OP yang tidak melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas
 WP yang memperoleh penghasilan dari satu pemberi kerja dan
memperoleh penghasilan lain selain bunga bank dan/atau bunga
koperasi, baik yang merupakan obyek PPh Final maupun obyek
PPh tidak final
 WP yang memperoleh penghasilan yang berasal dari lebih dari
satu pemberi kerja
 Penghasilannya lebih dari 60Jt

WP OP yang tidak melakukan


Kegiatan Usaha/Pekerjaan Bebas

WPOP yang tidak memperoleh


penghasilan lain
WP Orang Pribadi yang tidak melakukan
kegiatan usaha/ pekerjaan bebas.
 Memperoleh Penghasilan hanya dari satu
pemberi kerja
 Tidak memperoleh penghasilan lain, kecuali


penghasilan bunga bank dan/atau bunga koperasi


 Penghasilan maksimal 60 Jt/thn

Kewajiban Pajak








Tidak memiliki kewajiban untuk membayar pajak sendiri setiap


bulan atas penghasilan yang diterima/ diperoleh seubungan
dengan pekerjaan.
Tidak memiliki kewajiban untuk membuat laporan (Surat
Pemberitahuan Masa) ke Kantor Pelayanan Pajak setiap bulan.
Pemberi kerja (Pemberi penghasilan) Wajib untuk memotong
pajak atas penghasilan sehubungan yang dibayarkan / terutang
kepada WPOP tsb (pegawai / Penerima Pensiun)  PPh 21
WPOP tsb wajib menyampaikan SPT Tahunan PPh Orang
Pribadi) dengan formulir yang telah disediakan (Form 1770-SS
Tidak terdapat PPh Kurang/Lebih Bayar *)

Pengisian SPT 1770-SS


Formulir SPT Tahunan yang digunakan form
SPT 1770-SS (Sangat Sederhana)
 Formulir tsb hanya terdiri dari halaman
folio
 Hanya mengisi jumlah harta & kewajiban
pada akhir tahun
 Lampiran 1721-A1 atau 1721-A2
 Lampiran Daftar Keluarga jika ada

Form 1770-SS

WP OP yang melakukan Kegiatan


Usaha/Pekerjaan Bebas

WP OP yang tidak wajib


menyelenggarakan pembukuan

Norma Penghitungan Penghasilan


Neto






WPOP yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang


peredaran brutonya dalam 1 (satu) tahun kurang dari
Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) boleh
menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Neto
WPOP tsb Wajib memberitahukan kepada Dirjen Pajak dalam jangka
waktu 3 (tiga) bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan.
WPOP wajib menyelenggarakan pencatatan sebagaimana dimaksud
dalam UU KUP.
Apabila WPOP tsb tidak memberitahukan kepada Dirjen Pajak untuk
menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Neto, dianggap memilih menyelenggarakan
pembukuan.

Norma Penghitungan Penghasilan


Neto
Norma Penghitungan penghasilan Neto sebagaimana
diatur dalam KEP-536/PJ./2000 tgl 29 Desember 2000
 Norma Penghitungan Penghasilan Neto dikelompokkan
menurut wilayah sebagai berikut :
 10
(sepuluh) ibukota propinsi yaitu Medan,
Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya,
Denpasar, Manado, Makassar, dan Pontianak;
 ibukota propinsi lainnya;
 daerah lainnya.


Norma Penghitungan Penghasilan


Neto
Daftar
Persentase
Penghasilan
Neto
adalah
sebagaimana tercantum dalam Lampiran I KEP536/PJ./2000
 Penghitungan penghasilan neto WPOP yang mempunyai
lebih dari satu jenis usaha atau pekerjaan bebas,
dilakukan terhadap masing-masing jenis usaha dengan
memperhatikan pengelompokan wilayah
 Penghasilan neto WP yang mempunyai lebih dari satu
jenis usaha adalah penjumlahan penghasilan neto dari
masing-masing jenis usaha atau pekerjaan bebas


Norma Penghitungan Penghasilan


Neto
Penghasilan neto bagi tiap jenis usaha dihitung
dengan cara mengalikan angka persentase Norma
Penghitungan Penghasilan Neto dengan peredaran
bruto atau penghasilan bruto dari kegiatan usaha
atau pekerjaan bebas dalam 1 (satu) tahun.
 Dalam menghitung besarnya Pajak Penghasilan
yang terutang oleh WPOP, sebelum dilakukan
penerapan tarif umum terlebih dahulu dihitung
Penghasilan Kena Pajak dengan mengurangkan
PTKP.


Contoh





Wajib Pajak A kawin dan mempunyai 3 (tiga) orang anak. Ia seorang


dokter bertempat tinggal di Jakarta yang juga memiliki industri rotan di
Cirebon.
Peredaran Usaha dari Industri Rotan (setahun) di Cirebon Rp.
400.000.000,00
Penerimaan bruto sebagai dokter (setahun) di Jakarta Rp.
720.000.000,00
Penghasilan neto dihitung sebagai berikut :
Dari industri rotan :
12,5% X Rp. 400.000.000,00
=
Sebagai dokter :
45% X Rp. 720.000.000,00
=
jumlah penghasilan Neto

Rp. 50.000.000,00
Rp. 324.000.000,00
Rp. 374.000.000,00

Contoh
Penghasilan Kena Pajak = Penghasilan Neto dikurangi Penghasilan
Tidak Kena Pajak Rp. 374.000.000,00 - Rp. 21.120.00000 = Rp.
352.880.000,00
 Pajak penghasilan yang terutang :
5% X Rp. 50.000.000,00
Rp. 2.500.000,00
15% x Rp 200.000.000,00
Rp 30.000.000,00
25% x Rp 102.880.000
Rp 25.720.000,00
Jml PPh Terutang
Rp 58.220.000,00
Catatan :
 a. Angka 12,5% untuk industri rotan, lihat kode 33100
 b. Angka 45% sebagai dokter, lihat kode 93213
 c. Istri tidak punya penghasilan.


WP OP yang wajib
menyelenggarakan pembukuan

WAJIB PAJAK OP
Pembukuan
Laporan R/L
Laba Komersial
Biaya

Penghasilan
Bukan Objek Pajak

Objek Pajak Final

Objek Pajak Tidak


Final

Deductible

Non Deductible

KOREKSI FISKAL
LABA FISKAL
POSITIF
Berakibat
menambah Laba
Fiskal

NEGATIF
Berakibat
mengurangi Laba
Fiskal

Dasar Perhitungan
Pajak Penghasilan
Di SPT Tahunan
72

Penghitungan penghasilan neto




Bagi Wajib Pajak yang menyelenggarakan


pembukuan, penghasilan Neto dihitung
berdasarkan laporan Laba/rugi (fiskal)

Biaya 3 M


Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi


Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha
tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan
bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan

Biaya 3 M


Beban-beban yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dapat


dibagi dalam 2 (dua) golongan, yaitu :



Beban atau biaya yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 1 (satu) tahun dan
Beban atau biaya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun.

Beban yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 1 (satu) tahun
merupakan biaya pada tahun yang bersangkutan, misalnya gaji, biaya
administrasi dan bunga, biaya rutin pengolahan limbah dan
sebagainya.
Sedangkan pengeluaran yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1
(satu) tahun, pembebanannya dilakukan melalui penyusutan atau
melalui amortisasi.
Disamping itu apabila dalam suatu tahun pajak didapat kerugian
karena penjualan harta atau karena selisih kurs, maka kerugiankerugian tersebut dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

Deductable Expenses
a.

biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan


dengan kegiatan usaha, antara lain:












biaya pembelian bahan;


biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji,
honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk
uang;
bunga, sewa, dan royalti;
biaya perjalanan;
biaya pengolahan limbah;
premi asuransi;
biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan;
biaya administrasi; dan
pajak kecuali Pajak Penghasilan;

Deductable Expenses
Biaya-biaya yang dimaksud dalam point a di atas lazim disebut
biaya sehari-hari yang boleh dibebankan pada tahun
pengeluaran. Untuk dapat dibebankan sebagai biaya,
pengeluaran-pengeluaran tersebut harus mempunyai hubungan
langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan Objek
Pajak.
 Dengan
demikian
pengeluaran-pengeluaran
untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang
bukan merupakan Objek Pajak, tidak boleh dibebankan sebagai
biaya


Deductable Expenses
b.

c.
d.

e.
f.
g.

penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan


amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya
lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 11A UU PPh;
iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh
Menteri Keuangan;
kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan
digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan;
kerugian selisih kurs mata uang asing;
biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di
Indonesia;
biaya beasiswa, magang, dan pelatihan;

Deductable Expenses
h.

piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat:


1.
telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi
komersial;
2.
Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat
ditagih kepada Direktorat Jenderal Pajak; dan
3.
telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan
Negeri atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara;
atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan
piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang
bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum
atau khusus; atau adanya pengakuan dari debitur bahwa
utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu;

Deductable Expenses
h.
i.

j.
k.
l.

sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang


ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;
sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang
dilakukan di Indonesia yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
Pemerintah;
biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur
dengan Peraturan Pemerintah;
sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan
Peraturan Pemerintah; dan
sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya
diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Non Deductable Expenses


a.
b.

c.

pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali untuk industri


tertentu yang diatur berdasarkan PMK
premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa,
asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa, yang dibayar oleh Wajib
Pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi
tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang
bersangkutan;
penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa
yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali
penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta
penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di
daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan
yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan

Non Deductable Expenses


d.

e.

jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang


saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa
sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan;
harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b UU
PPh, kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat
(1) huruf i sampai dengan huruf m UU PPh serta zakat yang diterima
oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau
disahkan oleh pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya
wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima
oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh
pemerintah, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Pemerintah

Non deductable Expenses


Pajak Penghasilan;
g. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk
kepentingan pribadi Wajib Pajak atau orang yang
menjadi tanggungannya;
h. sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan
serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan
dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang
perpajakan
i. Biaya untuk mendapatkan,menagih dan memelihara
penghasilan yang telah dikenakan PPh Final & bukan
obyek Pajak
f.

KOMPENSASI KERUGIAN

KERUGIAN
DAPAT
DIKOMPENSASIKAN
DENGAN
PENGHASILAN MULAI TAHUN PAJAK BERIKUTNYA
BERTURUT-TURUT SAMPAI DENGAN 5 (LIMA) TAHUN

PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU


ATAU DI DAERAH-DAERAH TERTENTU,
KOMPENSASI KERUGIAN PALING LAMA
10 TAHUN

Contoh



WP
A dalam tahun 2009 menderita kerugian fiskal sebesar
Rp1.200.000.000,00 (satu miliar dua ratus juta rupiah).
Dalam 5 (lima) tahun berikutnya laba rugi fiskal WP A sebagai berikut :
2010
: laba fiskal
Rp 200.000.000,00
2011
: rugi fiskal
(Rp 300.000.000,00)
2012
: laba fiskal
Rp N I H I L
2013
: laba fiskal
Rp 100.000.000,00
2014
: laba fiskal
Rp 800.000.000,00

Kompensasi Kerugian
Kompensasi kerugian dilakukan sebagai berikut :
 Rugi fiskal tahun 2009
(Rp1.200.000.000,00)
 Laba fiskal tahun 2010
Rp 200.000.000,00 (+)
 Sisa rugi fiskal tahun 2009
(Rp1.000.000.000,00)
 Rugi fiskal tahun 2011
(Rp 300.000.000,00)
 Sisa rugi fiskal tahun 2009
(Rp1.000.000.000,00)
 Laba fiskal tahun 2012
Rp
NIHIL
(+)
 Sisa rugi fiskal tahun 2009
(Rp1.000.000.000,00)
 Laba fiskal tahun 2013
Rp 100.000.000,00 (+)
 Sisa rugi fiskal tahun 2009
(Rp 900.000.000,00)
 Laba fiskal tahun 2014
Rp 800.000.000,00 (+)
 Sisa rugi fiskal tahun 2009
(Rp 100.000.000,00)

Kompensasi Kerugian


Rugi fiskal tahun 2009


sebesar Rp100.000.000,00
(seratus juta rupiah) yang masih tersisa pada akhir tahun
2014 tidak boleh dikompensasikan lagi dengan laba
fiskal tahun 2015, sedangkan rugi fiskal tahun 2011
sebesar Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) hanya
boleh dikompensasikan dengan laba fiskal tahun 2015
dan tahun 2016, karena jangka waktu lima tahun yang
dimulai sejak tahun 2012 berakhir pada akhir tahun
2016.

Zakat


zakat yang dibayarkan kepada badan amil zakat atau


lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh
pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya
wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia,
yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk
atau disahkan oleh pemerintah, dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto

Penyesuaian Fiscal


Penyesuaian fiskal dimaksudkan untuk menyesuaikan


penghasilan neto komersial menjadi penghasilan neto fiskal.
Penghasilan neto fiskal ini merupakan dasar pengitungan
Pajak Penghasilan Terutang. Penyesuaian fiskal dilakukan
atas penghasilan Orang Pribadi yang berasal dari usaha dan
atau pekerjaan bebas
Dasar penyelenggaraan pembukuan Orang Pribadi yang
melakukan usaha dan atau pekerjaan bebas biasanya adalah
Standar Akuntansi Keuangan. Oleh karena itu, untuk
menyesuaikan
jumlah
penghasilan,
sebagai
dasar
penghitungan Pajak Penghasilan Terutang, pembukuan orang
pribadi tersebut harus disesuaikan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan.

Koreksi Fiskal

Koreksi
Fiskal
Positif

Koreksi yang sifatnya


menambah
besarnya
penghasilan kena Pajak

Koreksi
Fiskal
Negatif

Koreksi yang sifatnya


mengurangi
besarnya
penghasilan kena Pajak

Contoh Koreksi Fiskal Positif


Biaya-biaya yang tidak dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto (Non deductable Expenses)
 Penyusutan menurut perhitungan komersial lebih
besar dibandingkan dengan penyusutan fiskal
 Penghasilan menurut perhitungan komersial lebih
kecil dibandingkan dengan penghasilan menurut
perhitungan fiskal


Contoh Koreksi Fiscal Negatif


Penghasilan yang telah dikenakan PPh Final dan
bukan obyek pajak
 Penyusutan menurut perhitungan komersial lebih
kecil dibandingkan dengan penyusutan fiskal
 Penghasilan menurut perhitungan komersial lebih
besar dibandingkan dengan penghasilan menurut
perhitungan fiskal


PTKP


Dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak


Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri,
kepadanya diberikan pengurangan berupa
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
berdasarkan
ketentuan
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 UU PPh.

PTKP


Besarnya PTKP per tahun adalah sebagai berikut :


 Rp 15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu
rupiah) untuk diri Wajib Pajak orang pribadi;
 Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah)
tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin;
 Rp15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu
rupiah) tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya
digabung dengan penghasilan suami sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 ayat (1) UU PPh
 Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah)
tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga
semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang
menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang
untuk setiap keluarga.

Penentuan PTKP
Besarnya PTKP ditentukan berdasarkan
keadaan pada awal tahun kalender.
 Untuk subyek pajak yang baru datang dan
menetap di Indonesia dalam bagian tahun
kalender ditentukan berdasarkan keadaan
pada awal bulan dari bagian tahun kalender
yang bersangkutan.


Tarif PPh WP Orang Pribadi


No

1
2

Lapisan Penghasilan Kena Pajak (Rp)

sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh


juta rupiah)
di atas Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) sampai dengan Rp250.000.000,00
(dua ratus lima puluh juta rupiah)

Tarif

5%
15%

di atas Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima


puluh juta rupiah) sampai dengan
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

25%

di atas Rp500.000.000,00 (lima ratus juta


rupiah)

30%

Tarif PPh WP Orang Pribadi




Untuk keperluan penerapan tarif jumlah


Penghasilan Kena Pajak dibulatkan ke
bawah dalam ribuan rupiah penuh

Kredit Pajak


Bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, pajak yang terutang
dikurangi dengan kredit pajak untuk tahun pajak yang bersangkutan, berupa :
 pemotongan pajak atas penghasilan dari pekerjaan, jasa, dan kegiatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21;
 pemungutan pajak atas penghasilan dari kegiatan di bidang impor atau
kegiatan usaha di bidang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22;
 pemotongan pajak atas penghasilan berupa deviden, bunga, royalti, sewa,
hadiah dan penghargaan, dan imbalan jasa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23;
 pajak yang dibayar atau terutang atas penghasilan dari luar negeri yang
boleh dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24;
 pembayaran yang dilakukan oleh Wajib Pajak sendiri sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25;
 pemotongan pajak atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
26 ayat (5).

PPh Lebih Bayar/ PPh pasal 28A




Apabila pajak yang terutang untuk suatu


tahun pajak ternyata lebih kecil dari jumlah
kredit pajak, maka setelah dilakukan
pemeriksaan, kelebihan pembayaran pajak
dikembalikan setelah diperhitungkan dengan
utang pajak berikut sanksi-sanksinya

PPh Kurang Bayar/PPh Pasal 29




Apabila pajak yang terutang untuk suatu


tahun pajak ternyata lebih besar daripada
kredit pajak, kekurangan pembayaran pajak
yang terutang harus dilunasi sebelum Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
disampaikan.

Kredit Pajak Luar Negeri


Pada dasarnya Wajib Pajak dalam negeri terutang pajak
atas seluruh penghasilan, termasuk penghasilan yang
diterima atau diperoleh dari luar negeri.
 Untuk meringankan beban pajak ganda yang dapat
terjadi karena pengenaan pajak atas penghasilan yang
diterima atau diperoleh di luar negeri, Pasal 24 UU PPh
mengatur tentang perhitungan besarnya pajak atas
penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri
yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang
atas seluruh penghasilan Wajib Pajak dalam negeri.


Kredit Pajak Luar Negeri


Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan
dari luar negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam
negeri boleh dikreditkan terhadap pajak yang terutang
berdasarkan UU PPh dalam tahun pajak yang sama
 Besarnya kredit pajak Luar Negeri adalah sebesar pajak
penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri tetapi tidak
boleh melebihi penghitungan pajak yang terutang
 Apabila pajak atas penghasilan dari luar negeri yang dikreditkan
ternyata kemudian dikurangkan atau dikembalikan, maka pajak
yang terutang harus ditambah dengan jumlah tersebut pada
tahun pengurangan atau pengembalian itu dilakukan


Kredit Pajak Luar Negeri




Pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri


yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang di
Indonesia hanyalah pajak yang langsung dikenakan atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak.
Contoh:
PT A di Indonesia merupakan pemegang saham tunggal dari Z
Inc. di Negara X. Z Inc. tersebut dalam tahun 2009 memperoleh
keuntungan sebesar US$100,000.00. Pajak Penghasilan yang
berlaku di negara X adalah 48% dan Pajak Dividen adalah 38%.

Kredit Pajak Luar Negeri




Penghitungan pajak atas dividen tersebut adalah sebagai berikut:


Keuntungan Z Inc
Corporate income tax atas Z Inc.: (48%)
Laba Bersih Z Inc (setelah PPh)
Pajak atas dividen (38%)
Dividen yang dikirim ke Indonesia

US$ 100,000.00
US$ 48,000.00 (-)
US$ 52,000.00
US$ 19,760.00 (-)
US$ 32,240.00

Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan terhadap seluruh Pajak Penghasilan


yang terutang atas PT A adalah pajak yang langsung dikenakan atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri, dalam contoh di atas
yaitu jumlah sebesar US$19,760.00.
 Pajak Penghasilan (Corporate income tax) atas Z Inc. sebesar US$48,000.00
tidak dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang atas PT A,
karena pajak sebesar US$48,000.00 tersebut tidak dikenakan langsung atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh PT A dari luar negeri, melainkan
pajak yang dikenakan atas keuntungan Z Inc. di negara X.


Kredit Pajak Luar Negeri




Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikreditkan, sumber


penghasilan ditentukan sebagai berikut:


penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari


pengalihan saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan yang
menerbitkan saham atau sekuritas tersebut didirikan atau bertempat
kedudukan;
penghasilan berupa bunga, royalti, dan sewa sehubungan dengan
penggunaan harta gerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau
dibebani bunga, royalti, atau sewa tersebut bertempat kedudukan atau
berada;
penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak
gerak adalah negara tempat harta tersebut terletak;
penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan
kegiatan adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani
imbalan tersebut bertempat kedudukan atau berada;

Kredit Pajak Luar Negeri




penghasilan bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap
tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan;
penghasilan dari pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan atau
tanda turut serta dalam pembiayaan atau permodalan dalam perusahaan
pertambangan adalah negara tempat lokasi penambangan berada;
keuntungan karena pengalihan harta tetap adalah negara tempat harta
tetap berada; dan
keuntungan karena pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu
bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap berada.

ANGSURAN PAJAK DALAM TAHUN BERJALAN


Pasal 25 ayat (1)

BESAR ANGSURAN PPh PASAL 25 SETIAP BULAN

SAMA DENGAN PPh TERUTANG MENURUT


SPT TAHUNAN PPh THN PAJAK YG LALU

DIKURANGI
PPh YANG DIPOTONG
ATAU DIPUNGUT :
PPh PSL 21
PPh PSL 22
PPh PSL 23

PPh YANG TERUTANG


ATAU DIBAYAR
DI LUAR NEGERI
YANG BOLEH DIKREDITKAN
(PPh PSL 24)

DIBAGI
12 (DUA BELAS) ATAU BANYAKNYA BULAN DALAM BAGIAN TAHUN PAJAK

CONTOH PENGHITUNGAN ANGSURAN PPh 25

PPh TERUTANG  SPT TAHUNAN PPh 2009 SEBESAR Rp 50.000.000,00


DIKURANGI :
a. PPh YG DIPOTONG
PEMBERI KERJA
Rp 15.000.000,00
(PPh PSL. 21)
b. PPh YG DIPUNGUT
PIHAK LAIN
Rp 10.000.000,00
(PPh PSL. 22)
c. PPh YANG DIPOTONG
PIHAK LAIN
(PPh PSL 23)
Rp 2.500.000,00
d. KREDIT PPh
LUAR NEGERI
Rp 7.500.000,00
(PPh PSL. 24)
JUMLAH KREDIT PAJAK
(Rp 35.000.000,00)
SELISIH
Rp 15.000.000,00
BESARNYA ANGSURAN YG HRS DIBAYAR SENDIRI SETIAP BULAN UTK THN 2010
SEBESAR 1/12 X Rp 15.000.000,00 YAITU Rp 1.250.000,00
108

ANGSURAN BULANAN UNTUK BULAN SEBELUM


BATAS WAKTU PENYAMPAIAN SPT TAHUNAN PPh
Pasal 25 ayat (2)

SAMA BESARNYA DENGAN :


- Angsuran pajak untuk bulan terakhir dari tahun pajak yang lalu

CONTOH :
SPT TAHUNAN PPh 2009 DISAMPAIKAN MARET 2010.
ANGSURAN PPh
DESEMBER 2009 Rp 1.000.000,00
BESARNYA ANGSURAN UNTUK BULAN
JANUARI - PEB 2010 SEBESAR Rp 1.000.000,00
APABILA BULAN SEPTEMBER 2009 DITERBITKAN KEPUTUSAN PENGURANGAN
ANGSURAN PAJAK
MENJADI NIHIL SEHINGGA ANGSURAN PAJAK SEJAK
OKTOBER 2009 S.D DESEMBER 2009
MENJADI NIHIL
BESARNYA ANGSURAN UNTUK BULAN JANUARI PEBRUARI 2010 NIHIL