Anda di halaman 1dari 2

Pengaruh Penerapan Combined Assurance Terhadap Kinerja Auditor

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong seluruh industri untuk segera menerapkan Combined
Assurance (governance, risk management, compliance/GRC). Hal ini dilakukan OJK sebagai langkah
awal untuk mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) bagi
seluruh sektor jasa keuangan.
Ketua Dewan Audit OJK Ilya Avianti mengatakan pihaknya akan mengajak seluruh industri untuk
menerapkan konsep tersebut.
Dengan ini saya mengajak seluruh industri untuk menerapkan Combined Assurance. Upaya ini
untuk memperkuat aspek good (corporate) governance sebagai langkah awal, kata Ilya. Ilya
menjelaskan Combined Assurance adalah sebuah konsep untuk mengintegrasikan fungsi GRC ke
dalam suatu framework (kerangka kerja) yang komprehensif.
Secara best practice konsep dan terminologi ini pernah disampaikan dalam King III Report Principles
oleh Mervin King pada tahun 2009 sebagai respon adanya krisis keuangan dunia di 2008,
ungkapnya.
Dalam diskusi panel yang dihadiri oleh 250 asosiasi dan industri jasa keuangan itu, Anggota Dewan
Komisioner OJK ini mengatakan Combined Assurance memungkinkan efisiensi pekerjaan dan biaya
karena dapat menghindari adanya duplikasi proses assurance yang dilakukan oleh manajemen risiko,

audit internal, kepatuhan, pengendalian kualitas, serta komite audit. juga diharapkan mampu
memitigasi risiko, baik risiko internal maupun eksternal hingga pada tingkat yang minimal melalui
konsep three lines of defense.
Ilya mengatakan, saat ini OJK telah menerapkan Combined Assurance Model agar assurance yang
dilakukan oleh OJK dapat berjalan secara efektif dan efisien serta mampu memenuhi harapan
stakeholders.
Penerapan Combined Assurance Model di OJK dilakukan dengan pendekatan satu atap, yakni
mengintegrasikan ketiga fungsi assurance dan meyakini bahwa profesionalisme dapat menjamin
masing-masing fungsi berjalan secara independen, ujanya.
Selain itu, sambung Ilya, OJK mendorong pelaku industri jasa keuangan untuk menerapkan dan
mengembangkan Combined Assurance Model agar pada akhirnya dapat mendorong terciptanya
industri jasa keuangan yang sehat dan stabil sehingga dapat memberikan rasa kepercayaan kepada
konsumen dan stakeholders.
Diharapkan seluruh upaya bersama dengan stakeholders bidang Governance khususnya profesi
GRC akan memberikan sumbangan signifikan bagi upaya mewujudkan industri keuangan yang sehat,
stabil dan mampu bersaing di tingkat global, katanya.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad, menambahkan penerapan GRC menjadi bagian
terpenting bagi lembaga jasa keuangan untuk mengimplementasikan GCG yang mengarah pada
kesehatan lembaga.

Menurutnya, Rencana GRC sebenarnya sudah cukup lama dan saat ini menjadi topik yang ramai
dibahas industri jasa keuangan, terutama pasca krisis ekonomi pada tahun 2008. Krisis itu
memberikan pelajaran penting bagi kita dalam menghadapi persoalan perusahaan, kata Muliaman.
Saat ini, OJK sudah memberikan tenggat waktu bagi penerapan GRC oleh lembaga jasa keuangan
paling lambat akhir 2014. Dengan demikian, lanjut Muliaman, industri jasa keuangan Indonesia
diharap akan lebih sehat dan stabil serta mampu bersaing di jajaran internasional.
Diharapkan, seluruh upaya bersama dengan stakeholder bidang governance, khususnya profesi
GRC, akan memberikan sumbangan signifikan bagi upaya mewujudkan industri keuangan yang sehat,
stabil, dan mampu bersaing di tingkat global, pungkasnya.