Anda di halaman 1dari 4

Coromandel Cements Ltd

Studi Kasus
Penurunan Kecepatan Pada Saluran Keluaran Penggiling Batu Bara

Oleh : Suci Setyaningsih


NIM : 11. 21. 00. 27

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDOCEMENT


2012

Coromandel Cements Ltd


Studi Kasus
Penurunan Kecepatan Pada Saluran Keluaran Penggiling Batu Bara

Ringkasan Masalah
Coromandel Cements Ltd., yang notabene merupakan produsen semen kecil di India
Selatan terus berusaha untuk meningkatkan efisiensi operasional dalam proses pembuatan
semen agar memperoleh laba yang lebih besar. Usaha perusahaan membuahkan hasil setelah
mengadopsi metodologi Cleaner Production and Energy Efficiency untuk konservasi energi
dan sumber daya plant.
Pada area focus CP-EE yang diterapkan oleh perusahaan, batu bara digiling hingga
menjadi tepung halus dengan ukuran mesh hopper 200 mm2 kemudian dibawa dengan
conveyor ke storage hopper secara pneumatis dengan menggunakan udara dari Circulating
Air Fan.
Konsumsi energi fan tergantung pada jumlah batu bara yang diangkut dan penurunan
tekanan yang harus diatasi selama proses dari Coal Mill outlet ke hopper.
Seperti diketahui bahwa kecepatan yang tinggi, dalam kasus ini antara 18 m/s hingga 20 m/s
serta kecilnya diameter saluran udara akan menghasilkan tekanan udara yang tinggi, sehingga
konsumsi energi pun akan tinggi pula.
Untuk mengatasi hal tersebut di atas, dilakukan pengurangan kecepatan pada Coal
Mill outlet dengan cara mengganti motor AC menjadi motor DC.

Pengamatan
Dari studi kasus yang dilakukan oleh Mr. Asthana selaku Kepala Regu Pengelolaan
Energi, diketahui bahwa motor penggerak yang digunakan untuk memutar CAF sebelum
modifikasi berupa induksi motor AC squirrel cage yang memiliki kecepatan sebesar 1.440
rpm dengan pemasangan pully, sehingga kecepatan pada as fan adalah 875 rpm dengan
konsumsi energy sebesar 28 kW yang mampu menyuplai udara untuk Coal Mill outlet
dengan kecepatan 24 m/s.
Setelah modifikasi motor penggerak dilakukan, kecepatan fan mengalami penurunan
menjadi 750 rpm, sehingga terjadi penurunan kecepatan udara pada Coal Mill outlet menjadi
20 m/s, akibatnya konsumsi energi untuk CAF berkurang menjadi 20 kW.
Maka keuntungan yang diperoleh perusahaan dari modifikasi motor penggerak ini
adalah, sebagai berikut :
Kontribusi terhadap lingkungan
Penurunan konsumsi energi
= 28 kW 20 kW
= 8 kW
Penghematan energi/ tahun
= 8 kW * 4.000 jam/tahun
= 32.000 kWh
Penurunan emisi gas rumah kaca tiap tahun
= 32.000 kWh * 0,000893 ton CO2/kWh
= 29 ton CO2

Laba Finansial
Keuntungan tiap tahun

Waktu Pengembalian Modal


Investasi

= 32.000 kWh * Rs.3,71/kWh


= Rs.118.720 / US $ 43
= US $ 2.761
= Singkat
= Tidak ada

Analisa
Menurut saya, alasan Mr. Asthana memodifikasi motor penggerak AC menjadi DC
karena Motor DC dapat digunakan pada penggunaan khusus dimana diperlukan penyalaan
torsi yang tinggi atau percepatan yang tetap untuk kisaran kecepatan yang luas. Keuntungan
utama motor DC adalah kecepatannya yang mudah dikendalikan dan tidak mempengaruhi
kualitas pasokan daya.
Motor DC dapat dikendalikan dengan mengatur:
Tegangan dinamo meningkatkan tegangan dinamo akan meningkatkan kecepatan.
Arus medan menurunkan arus medan akan meningkatkan kecepatan.
Motor DC tersedia dalam banyak ukuran, namun pada umumnya dibatasi untuk
beberapa penggunaan berkecepatan rendah, serta penggunaan daya rendah hingga sedang,
seperti peralatan mesin dan rolling mills, sebab sering terjadi masalah dengan perubahan arah
arus listrik mekanis pada ukuran yang lebih besar.
Hubungan antara kecepatan, flux medan dan tegangan dinamo ditunjukkan dalam
persamaan berikut:
Gaya elektromagnetik: E = KN
Torsi: T = KIa
Dimana:
E
= gaya elektromagnetik yang dikembangkan pada terminal dinamo (volt)

= flux medan yang berbanding lurus dengan arus medan


N
= kecepatan dalam RPM (putaran per menit)
T
= torsi electromagnetik
Ia
= arus dinamo
K
= konstanta persamaan
Dilihat dari persamaan di atas, sumber energi berbanding lurus terhadap kecepatan
putaran per menit, sehingga bila kecepatan putaran fan diturunkan akan mengurangi
konsumsi energy yang dibutuhkan.
Sedangkan dengan motor induksi AC, listrik dipasok ke stator yang akan
menghasilkan medan magnet yang bergerak dengan kecepatan sinkron disekitar rotor. Arus
rotor menghasilkan medan magnet kedua yang berusaha untuk melawan medan magnet
stator, sehingga menyebabkan rotor berputar. Walau demikian, dalam prakteknya motor tidak
pernah bekerja pada kecepatan sinkron, namun pada kecepatan dasar yang lebih rendah.
Terjadinya perbedaan antara dua kecepatan tersebut disebabkan adanya slip yang meningkat

dengan meningkatnya beban. Hal inilah yang menyebabkan konsumsi energi dengan motor
induksi AC lebih besar dibandingkan dengan motor penggerak DC. Selain itu, meskipun
motor induksi merupakan motor yang paling umum digunakan pada berbagai peralatan
industri karena rancangannya yang sederhana, murah dan mudah didapat, namun
kecepatannya lebih sulit dikendalikan.
Konsekuensi yang harus ditanggung perusahaan tersebut adalah motor DC dibatasi
hanya untuk penggunaan di area yang bersih dan tidak berbahaya sebab resiko percikan api
pada sikatnya, sehingga perusahaan harus rutin dalam pelaksanaan house keeping demi
menjaga keamanan pekerja dan operasional.