Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

ILMU KESEHATAN THT

FARINGITIS
Oleh :
Achwana Sri Arundany
082011101043

Pembimbing :
dr. Bambang Indra H., Sp.THT
dr. Maria Kwarditawati, Sp.THT
dr. Djoko Kuntoro, Sp.THT

Disusun untuk melaksanakan tugas Kepaniteraan Klinik Madya


Lab/SMF Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok
RSD dr. Soebandi Jember

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2013

FARINGITIS

Faring merupakan suatu kantong fibromuskuler yang bentuknya seperti corong, yang
besar di bagian atas dan sempit di bagian bawah. Kantong ini mulai dari dasar tengkorak
kemudian menyambung ke esofagus setinggi vertebra servikal ke-6. Ke atas, faring
berhubungan dengan rongga hidung melalui koana, ke depan berhubungan dengan rongga
mulut melalui ismus orofaring, sedangkan dengan laring di bawah berhubungan melalui
aditus laring dan ke bawah berhubungan dengan esofagus. Dinding faring dibentuk oleh
selaput lendir, fasia faringobasiler, pembungkus otot dan sebagian fasia bukofaringeal. Faring
terbagi menjadi nasofaring, orofaring, dan laringofaring (hipofaring). Unsur-unsur faring
meliputi mukosa, mucous blanket, dan otot. Fungsi faring antara lain untuk respirasi,
berperan dalam proses menelan, resonansi suara dan artikulasi. 4
Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan oleh virus
(60%), bakteri (5-40%), alergi, trauma, toksin, dan lain-lain.4

1. Faringitis Akut
Faringitis akut adalah radang akut yang mengenai mukosa faring dan jaringan
limfonodular di dinding faring. 3
Etiologi
o Penyebab utama adalah virus, antara lain : rhinovirus (20%), coronaviruses (5%),
adenovirus, enterovirus, EBV, herpes simpleks, HIV, virus influenza A dan B.
o Infeksi bakteri, terutama gram positif, antara lain : streptococcus, pneumococcus, dan
Haemophilus influenza.
o Infeksi campuran bakteri gram positif dan negatif, bahkan golongan anaerob.
o Menyertai penyakit ISPA, antara lain : rinitis akut, nasofaringitis, laringitis.
o Permulaan penyakit lainnya : morbili, influenza, rubela, pneumoni, parotitis. 2,3,4
Patofisiologi
Penularan infeksi melalui sekret hidung dan ludah (droplet infection) atau makanan dan
minuman. Virus atau bakteri melakukan invasi ke faring dan menimbulkan reaksi inflamasi
lokal. Pada stadium awal, terdapat hiperemia pada mukosa faring, kemudian edema dan
sekresi yang meningkat. Eksudat mulanya serosa kemudian menjadi mukus dan akan
cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Pembuluh darah dinding
faring melebar, sehingga nampak hiperemia. Maka inkubasi 12 jam-4 hari. 1,4

Diagnosis

Anamnesis
Rasa kering atau gatal, nyeri tenggorok, odinofagi, malaise, sakit kepala, dan demam. 2,4

Pemeriksaan Fisik
-

Mukosa faring hiperemia dan edema, terutama di lateral band.

Kadang-kadang didapatkan eksudat. Sekret yang terbentuk awalnya bening, lamakelamaan menjadi kental berwarna kuning.

Pada dinding posterior faring tampak granula yang besar dan merah.

Dapat disertai pembengkakan kelenjar limfe regional pada leher. 1,2,4

Pemeriksaan Penunjang
-

Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap.

Biakan tenggorok

: mencari kuman penyebab. 4

Diagnosis Banding
Tonsilitis akut, Difteri, Exanthemata, Ulserasi pada dinding posterior faring karena
penyakit sistemik (agranulositosis, pernicious anaemia, AIDS). 3,4
Penatalaksanaan
-

Istirahat, banyak minum air hangat, analgetika/antipiretik 3-4 x 500 mg, 3-5 hari, obat
kumur Gargarisma Kan, antibiotik (apabila disebabkan oleh bakteri). 3,4

Macam-Macam Faringitis Akut Berdasarkan Penyebabnya 2,4


Viral
Etiologi

Bakterial

Fungal

Gonorea

rhinovirus, coronaviruses,

Infeksi grup A Streptococcus

Candida dapat tumbuh di

Hanya terdapat

adenovirus, enterovirus,

hemolitikus merupakan

mukosa rongga mulut dan

pada pasien yang

EBV, herpes simpleks, virus

penyebab faringitis akut pada

faring.

melakukan kontak

influenza A dan B.

orang dewasa (15%), dan pada

orogenital.

anak (30%).
Gejala

Pemeriksaan

Nyeri tenggorokan, malaise,

Nyeri kepala yang hebat,

Keluhan nyeri tenggorok

Sebagian besar

demam disertai rinorea, mual,

muntah, kadang-kadang

dan odinofagi

bersifat

odinofagi

disertai demam dengan suhu

asimtomatis, nyeri

yang tinggi, jarang disertai

tenggorok yang

batuk, odinofagi

bersifat transien

Tampak faring dan tonsil

Tampak tonsil membesar,

Tampak plak putih di

Dapat

hiperemis.

faring dan tonsil hiperemis

orofaring dan mukosa

menyebabkan

a. Virus influenza,

dan terdapat eksudat di

faring lainnya hiperemis.

nodus limfa

coxsachievirus dan

permukaannya. Beberapa hari

Pembiakan jamur :

servical

cytomegalovirus tidak

kemudian timbul bercak

agar Sabouroud dextrosa

membesar

menghasilkan eksudat

petechiae pada palatum dan

b. Coxsachievirus dapat

faring. Kelenjar limfa leher

menimbulkan lesi

anterior membesar, kenyal,

vesikular di orofaring dan

dan nyeri pada penekanan.

lesi kulit berupa


maculopapular rash
c. Adenovirus menimbulkan
gejala faringitis serta
gejala konjungtivitis
terutama pada anak.
d. EBV : produksi eksudat
pada faring banyak.
Terdapat pembesaran
kelenjar limfa di seluruh
tubuh terutama
retroservikal dan
hepatosplenomegali.
e. HIV-1 : keluhan nyeri
tenggorok, nyeri menelan,
mual, dan demam. Tampak
faring hiperemis, terdapat
eksudat, limfadenopati
akut di leher dan pasien
tampak lemah.
Terapi

- Meningkatkan daya tahan

Antibiotik : terutama bila

Nystatin 100.000-

Sefalosporin

tubuh : Istirahat dan minum

diduga penyebabnya grup A

400.000 2 kali/hari dan

generasi ketiga,

yang cukup, gizi cukup

Streptococcus hemolitikus

analgetika

ceftriakson

(tinggi protein)
- Kumur dengan air hangat.
- Analgetika jika perlu dan
tablet hisap

- Penicilin G Banzatin 50.000


U/kgBB, IM dosis tunggal
- Amoksisilin 50 mg/kgBB
dosis dibagi 3 kali/hari

- Vitamin C

selama 10 hari dan pada

- Antivirus

dewasa 3x500 mg selama 6-

- Imunomodulator :

10 hari

metisoprinol (Isoprenosine)

- eritromisin 4x500mg/hari.

pada infeksi herpes simpleks

- Kortikosteroid :

Dosis :

Deksametason 8-16 mg, IM 1

Dewasa : 60-100mg/kgBB

kali. Pada anak 0,08-0,3

dibagi dalam 4-6 kali

mg/kgBB, IM 1 kali

pemberian/hari

- Analgetika

Anak <5 tahun diberikan 50

- Kumur dengan air hangat atau

mg/kgBB dibagi dalam 4-6


kali pemberian/hari

antiseptik.

250 , IM

2. Faringitis Kronis
Faringitis kronis adalah radang kronis yang mengenai mukosa faring dan jaringan
limfonodular di dinding faring. 4
Etiologi
o Rhinitis kronis, sinusitis, iritasi kronis oleh rokok, polusi, caries dentis, dan minuman
alkohol,
o Inhalasi uap yang merangsang mukosa faring dan debu,
o Kebiasaan bernafas melalui mulut karena hidung yang tersumbat. 2,4
Diagnosis

Anamnesis
-

Tenggorok terasa kering, batuk

Nyeri saat menelan, terasa mengganjal sejak lama,

Biasanya penderita memiliki riwayat penyakit rinitis kronis dan atau sinusitis kronis. 4

Pemeriksaan Fisik
-

Ditemukan adanya penebalan mukosa dinding belakang faring.

Hipertrofi kelenjar limfe di bawah mukosa dan di belakang arcus faring posterior
(lateral band) / granula. 2,4

Pemeriksaan Penunjang
-

Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap. 2

Penatalaksanaan
-

Mengobati penyakit yang mendasari : bila didapatkan penyakit di hidung dan sinus
paranasalis maka harus diobati.

Kaustik : AgNO3, Albothyl, elektrokauter.

Simptomatik : Gargarisma, antitusif, ekspektoran, analgesik dan antiinflamasi. 2,4

Macam-Macam Faringitis Kronis 4


Faringitis Kronik Hiperplastik
Etiologi

Gejala dan
Pemeriksaan

Faringitis Kronik Atrofi

perubahan mukosa dinding posterior faring.

Faringitis kronik atrofi sering timbul bersamaan

Tampak kelenjar limfa di bawah mukosa faring

dengan rinitis atrofi. Pada rinitis atrofi, udara

dan lateral band hiperplasi. Pada pemeriksaan

pernapasan tidak diatur suhu serta kelembabannya,

tampak mukosa dinding posterior tidak rata,

sehingga menimbulkan rangsangan serta infeksi pada

bergranular.

faring.

Tenggorok kering gatal dan akhirnya batuk yang

Tenggorok kering dan tebal serta mulut berbau.

produktif

Pemeriksaan : mukosa faring ditutupi oleh lendir yang


kental dan bila diangkat tampak mukosa kering.

Terapi

- Terapi lokal : kaustik faring dengan memakai zat

Pengobatan ditujukan pada rinitis atrofinya dan untuk

kimia larutan nitras argenti atau dengan listrik

faringitis kronik atrofi ditambahkan dengan obat

(electro cauter)

kumur dan menjaga kebersihan mulutnya.

- Simptomatis : obat kumur atau tablet hisap. Jika


diperlukan dapat diberikan obat batuk antitusif
atau ekspektoran. Penyakit di hidung dan sinus
paranasal harus diobati.

3. Faringitis Spesifik
a. Faringitis Tuberkulosis
Merupakan proses sekunder dari tuberkulosis paru. Cara infeksi eksogen yaitu kontak
dengan sputum yang mengandung kuman atau inhalasi kuman melalui udara. Cara infeksi
endogen yaitu penyebaran melalui darah pada tuberkulosis miliaris. Bila infeksi timbul
secara hematogen maka tonsil dapat terkena pada kedua sisi, serta lesi berupa ulkus
dangkal yang multipel dan sangat nyeri sering ditemukan pada dinding posterior faring,
arkus faring anterior, dinding lateral hipofaring, palatum mole dan palatum durum.
Kelenjar regional leher membengkak. 2,4,5
Gejala
Keadaan umum pasien buruk karena anoreksi dan odinofagia. Nyeri yang hebat di
tenggorok, nyeri di telinga atau otalgia serta pembesaran kelenjar limfa servikal. 4
Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis diperlukan pemeriksaan sputum basil tahan asam, foto
toraks untuk melihat adanya tuberkulosis paru dan biopsi jaringan yang terinfeksi untuk
menyingkirkan proses keganasan serta mencari kuman basil tahan asam di jaringan. 4
Terapi
Sesuai dengan terapi tuberkulosis paru. 4
b. Faringitis Luetika
Treponema palidum dapat menimbulkan infeksi di daerah faring seperti juga penyakit
Lues di organ lain. Gambaran kliniknya tergantung pada stadium penyakitnya. 4
Stadium primer
Pada lidah, palatum mole, tonsil dan dinding posterior faring terdapat bercak keputihan.
Bila infeksi terus berlangsung maka timbul ulkus pada daerah faring yang tidak nyeri.
Didapatkan juga pembesaran kelenjar mandibula yang tidak nyeri tekan.
Stadium sekunder
Jarang ditemukan. Terdapat eritema pada dinding faring yang menjalar ke arah laring.

Stadium tersier
Pada stadium ini terdapat guma. Predileksinya pada tonsil dan palatum. Jarang pada
dinding posterior faring. Guma pada dinding posterior faring dapat meluas ke vertebra
servikal dan bila pecah dapat menyebabkan kematian. Guma yang terdapat di palatum
mole, bila sembuh akan terbentuk jaringan parut yang dapat menimbulkan gangguan
fungsi palatum secara permanen. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan serologik.
Terapi penisilin dalam dosis tinggi merupakan obat pilihan utama. 4
c. Faringitis Difteri
Insidensi dari difteri sudah menurun drastis karena keberhasilan dari imunisasi.
1. Sering terjadi pada anak-anak usia 2-5 tahun.
2. Penyebabnya adalah Corynebacterium diphtheriae.
3. Penularan melalui airbone dan kontak langsung dengan penderita difteri. 1
Penatalaksanaan :
1. Isolasi dan bed rest.
2. Antitoxin : serum anti difteri (ADS) dosis 20.000-100.000 unit.
3. Antimikroba : Penisilin prokain 50.000-100.000 iu/kgBB/hari selama 7-10 hari atau
eritromisin 500 mg, 4x1 selama 2 minggu.
4. Imunisasi DPT dan pengobatan carrier.
5. Trakeostomi dilakukan apabila ada obstruksi jalan nafas. 1
d. Thrush (Monilia)
Disebabkan oleh infeksi jamur terutama Candida albicans, yang biasanya terjadi pada
anak-anak. Terdapat plak berwarna putih (curd like creamy white) yang menutupi faring.
Plak mudah lepas dengan perdarahan minimal. Penatalaksanaan dengan nystatin atau
klotrimazol. 1
e. Faringitis Sifilis
Sifilis primer jarang terjadi pada faring. Sifilis sekunder memberikan gambaran Mucous
patches, Snail-track ulceration, dan Limfadenitis serta skin rash. Sifilis tersier
memberikan gambaran gummatous ulcer pada palatum durum, palatum mole, dan dinding
faring. 1
f. Leprosy Of The Pharynx
Keterlibatan faring biasanya merupakan efek sekunder dari lesi nasal dan kulit. Nodul
Leprous mengalami ulserasi, sehingga terjadi destruksi dan perforasi dari palatum yang
akan menimbulkan jaringan parut. 1

DAFTAR PUSTAKA

1. Bhargava, B.K., Bhargava, S.K, dan Shah, M.T. 2002. Pharyngitis : A Short text Book Of
E.N.T Disease. Sixth Edition. Usha Publication : Mumbai : 241-245.
2. Cowan, D.I., Hibbert, J. 1997. Acute and Cronic Infection Of The Pharynx and Tonsils :
Scoot Browns Otolaringology. Fifth Edition. Butter Worth-Heinemann : Oxford.
3. Hoetomo, Roekmini, S., Pawarti, dan D.R. 2005. Faringitis Akut : Pedoman Diagnosis
dan Terapi Ilmu Penyakit Telinga, Hidung, dan Tenggorokan. Edisi Ketiga. Rumah Sakit
Umum Dokter Soetomo : Surabaya : 44-45.
4. Rusmarjono, Soepardi, E.A. 2006. Faringitis, Tonsilitis, dan Hipertrofi Adenoid : Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala Leher. Edisi Keenam. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta : 217-219.
5. Soepardi, E.A., dkk. 2000. Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan THT. Edisi
kedua. FK-UI : Jakarta.