Anda di halaman 1dari 11

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Ekosistem air terdiri dari perairan pedalaman yang terdapat di daratan,
perairan lepas pantai dan perairan laut. Ekosistem laut berfungsi dalam
menyeimbangkan ekologis planet bumi pada umumnya. Ekosistem air tawar
melingkupi ekosistem air tenang (lentik) dan ekosistem air mengalir (lotik).
Organisme air berdasarkan habitat dan kebiasaan hidupnya dapat digolongkan
yaitu, plankton, bentos, dan nekton (Barus, 2004).
Ekosistem dengan tingkat keragaman jenis yang tinggi akan lebih stabil
dan kurang terpengaruh oleh tekanan dari luar dibandingkan dengan ekosistem
dengan

keragaman

yang

rendah.

Karena

ekosistem

dengan

tingkat

keanekaragaman yang tinggi tidak memiliki organisme yang dominan di suatu


perairan (Purnami dkk., 2010).
Hewan bentos memegang beberapa peran penting dalam proses
dekomposisi material organik yang memasuki perairan serta menduduki beberapa
tingkat tropik dalam rantai makanan (Tanjung dkk., 2012).
Bentos merupakan semua organisme air yang terdapat pada substrat dasar
suatu perairan, baik yang bersifat sesil (melekat) maupun vigil (bergerak bebas).
Berdasarkan sifat hidupnya dibedakan antara fitobentos, yaitu organisme bentos
yang bersifat tumbuhan dan zoobentos, yaitu organisme bentos yang bersifat
hewan. Kelompok ini masih dibedakan menjadi epifauna, yaitu bentos yang
hidupnya diatas substrat dasar perairan dan infauna, yitu bentos yang hidupnya
terbenam di dalam substrat dasar perairan. Selanjutnya berdasarkan siklus
hidupnya bentos dapat dibagi menjadi holobentos, yaitu kelompok bentos yang
seluruh siklus hidupnya bersifat bentos dan marobentos, yaitu kelompok bentos
yang hanya bersifat bentos pada fase-fase tertentu dari siklus hidupnya. Misalnya
sejenis Echinodermata yang bersifat plankton pada stadia larva dan menjadi
bentos setelah mencapai bentuk dewasa. Berdasarkan ukuran tubuhnya, bentos
dapat dibagi menjadi makrobentos (>2mm), meibentos (0,2-2 mm) dan
mikrobentos (<0,2 mm) (Barus, 2004).

Makrozoobenthos juga merupakan sumber makanan utama bagi organisme


lainnya seperti ikan demersal (Fadli dkk., 2012). Makrozoobentos merupakan
salah satu organisme akuatik menetap di dasar perairan yang memiliki pergerakan
relatif lambat serta daur hidup relatif lama sehingga memiliki kemampuan
merespon kondisi kualitas air secara terus menerus. Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa komponen biota akuatik yaitu ikan, plankton, dan bentos
dapat difungsikan untuk biomonitori kondisi lingkungan (Zulkifli, 2008).
Makrozoobenthos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus
hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali
lubang. Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti
dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki
perairan serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan.
Makrozoobenthos dapat bersifat toleran maupun bersifat sensitif terhadap
perubahan lingkungan. Organisme yang memiliki kisaran toleransi yang luas akan
memiliki penyebaran yang luas juga. Sebaliknya organisme yang kisaran
toleransinya sempit (sensitif) maka penyebarannya juga sempit (Dwirastina,
2013).
Menurut Purnami dkk (2010), faktor utama yang mempengaruhi jumlah
bentos, keragaman jenis, dan dominasi, antara lain adanya kerusakan habitat
alami, pencemaran kimiawi, dan perubahan iklim.
Peranan bentos di perairan sangat penting dan dalam penelitian bentos
berperan dalam menentukan indikator kualitas perairan karena sifat bentos yang
diam atau menetap dan tidak banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan baik arus
ataupun gelombang. Kehidupan bentos dipengaruhi oleh berbagai macam faktor.
Adapun faktorfaktor yang mempengaruhi kehidupan bentos tersebut yaitu tipe
sedimen, salinitas dan kedalaman (Dwirastina, 2013).
Zulkifli (2008) menyatakan bahwa pH dan tipe substrat adalah faktor
utama yang mengendalikan distribusi bentos. Adaptasi terhadap substrat akan
menentukan morfologi, cara makan, daya tahan dan adaptasi fisiologis organisme
bentos terhadap suhu, salinitas, reaksi enzimatik serta faktor kimia lainnya.
Bentos juga merupakan sumber makanan bagi berbagai jenis ikan dan
menempati urutan kedua dan ketiga dalam rantai makanan di suatu komunitas

perairan. Bentos dapat di jumpai pada berbagai tipe perairan seperti sungai,
kolam, danau, estuaria dan laut. Umumnya bentos dijumpai di suatu perairan
adalah dari taksa Crustaceae, Mollusca, Insekta dan sebagainya. Bentos tidak saja
berperan sebagai komunitas perairan, tetapi juga dapat digunakan dalam studi
kuantitatif untuk mengetahui kualitas suatu perairan (Barus, 2004).
Adapun jenis bentos yang umumnya yang dapat hidup pada perairan tawar
tercemar yaitu genus Gastropoda (Thiara, Brotia, Fontigens, Lepyrium,
Melanoides, Pachydrobiella, Pleurocera, Tolutoma). Karena kelas gastropoda
untuk fertilisasi atau pembuahan internalnya terjadi di tanah berlumpur dan yang
bisa dikategorikan agak keruh. Sedangkan kelas Insekta hanya terdapat 5 genus
yaitu : Kogotus, Psephenus, Progompus,Stenonema, dan Rhyacophilla, ini di
sebabkan karena kondisi stasiun dengan substratnya yang berbatu dan berpasir
sehingga sangat cocok untuk kehidupan kelas ini. Kelas insekta sangat menyukai
substrat berbatu dan berpasir di mana pada batu menyediakan mikro habitat yang
luas serta menyediakan makanan untuk kelas ini sekaligus sebagai tempat
berkembang biak (Tanjung dkk., 2014).

Tujuan
1. Mempelajari organisme bentos dan memahami tentang ekosistem perairan
daratan maupun laut.
2. Mempelajari tentang bentos.
3. Mempelajari tentang cara pengambilan bentos.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Bentos
Bentos merupakan kelompok organisme yang hidup di dalam atau di
permukaan sedimen dasar perairan. Bentos memiliki sifat kepekaan terhadap
beberapa bahan pencemar, mobilitas yang rendah, mudah ditangkap dan memiliki
kelangsungan hidup yang panjang. Oleh karena itu peran bentos dalam
keseimbangan suatu ekosistem perairan dapat menjadi indikator kondisi ekologi
terkini pada kawasan tertentu (Purnami dkk., 2010).
Komunitas organisme yang hidup,atau dalam, bagian bawahbadan air
dikenal sebagai Benthos. Istilah"benthos" (dari Yunani kuno
makna"kedalaman, kedalaman laut, bawah") diperkenalkan oleh naturalis
Jerman

terkemuka

dan

artis

Ernst

Haeckel

(1834-1919),

yang

juga

memperkenalkan istilah ekologi. Bentos hewan umumnya diklasifikasikan


menurut ukuran: microbenthos <0.063 mm, meiobenthos 0,063-1,0 (atau 0,5)
mm, makrobentos >1,0 (atau 0,5) mm dan megabenthos >10.0 mm. Hewan bentik
yang sebagian besar invertebrata dan ukurannya lebih dari satu milimeter, yaitu
makrozoobentos. Kelompok terkenal hewan bentos adalah cacing seperti
polychaetes dan Oligochaeta, moluska seperti kerang dan gastropoda, dan
krustasea seperti amphipods dan dekapoda. Invertebrata bentik dapat dibedakan
oleh posisi mereka tempati pada atau dibawah sedimen:

Infauna adalah hewan yang hidup disedimen, hampir semua cacing dan
bivalvia.

Pifauna adalah organisme yang hidup di permukaan sedimen bawah;


banyak kepiting dan gastropoda dianggap epifauna.

Di antara epifauna tersebut, hewan juga dapat ditemukan hidup yang melekat pada
permukaan keras seperti batu. Ini tidak begitu umum dimuara dan laguna.
Epifauna termasuk juga invertebrata epifit, organisme yaitu yang hidup di
permukaan terendam vegetasi, seperti banyak amphipods. Invertebrata bentik
memainkan

peran

penting

dalam

ekosistemtransisi,

dengan

menyaring

fitoplankton dan kemudian bertindak sebagai sumber makanan bagi organisme

yang lebih besar seperti ikan, sehingga menghubungkan produksi primer dengan
tingkat trofik yang lebih tinggi. Mereka juga menyusun dan mengoksidasi bawah
byreworking sedimen dan memainkan peranan penting dalam mogokorganik
material sebelum bakteri remineralisasi (Tagliapietra dan Marco, 2010).
Bentos sebagai bioindikator
Kedalaman air adalah pengaruh tunggal terbesar pada komposisi komunitas
bentik danau, seperti diharapkan. Skema pengambilan sampel melibatkan garis
pantai, pesisir dan profundal. Sampel littoral dikumpulkan pada kedalaman yang
tepat di atas termoklin yang khas dan mewakili zona kelimpahan tinggi dan
aktivitas biologis sehingga tinggi untuk danau. Ada tidak ada kesesuaian yang
jelas antara sampel yang dikumpulkan di pesisir dan sampel yang dikumpulkan
dekat pantai, menunjukkan bahwa sampel pesisir memberikan informasi yang
unik tentang kualitas habitat. Sampel dari zona profundal memberikan informasi
tentang kualitas air danau secara keseluruhan. Sampel Profundal menjadi di
bawah termoklin merupakan kondisi terburuk. Perkiraan presisi menunjukkan
bahwa kurang pengambilan sampel bisa dilakukan di setiap stasiun, sementara
masih menyediakan jumlah yang wajar presisi untuk memperkirakan indeks
komposisi. Stasiun yang terletak di seluruh danau untuk mengkarakterisasi
komunitas bentos di setiap cekungan besar dan di seberang gradien konsentrasi
nutrisi yang ada di danau. Konsentrasi hara yang terbawa air akan berhubungan
dengan indeks dari bentos komposisi komunitas, dan bahwa hubungan antara
konsentrasi nutrisi dan bentik metrik dapat digunakan untuk mengidentifikasi
konsentrasi nutrisi penting yang sesuai dengan yang sehat atau gangguan
komunitas bentos (Clarkin dan Bruce, 2006).
Diantara bentos yang relatif mudah diidentifikasidan peka terhadap
perubahan

lingkungan

perairanadalah

jenis-jenis

yang

termasuk

dalam

kelompokinvertebrate, dikenal dengan makrozoobenthos (Dwirastina, 2013).


Parameter biologi dalam hal ini bioindikator sering dipergunakan sebagai
salah satu parameter kualitas perairan. Bioindikator dapat berupa organisme atau
respon biologi yang keberadaannya menjadi penanda kondisi lingkungan. Kriteria

organisme indikator dalam lingkup spesies atau diantaranya yaitu, dikenal secara
taksonomi dan stabil, sehingga diketahui toleransi dan requirements-nya, tinggal
menetap di suatu wilayah, dapat diteliti dengan mudah, spesises bersifat khusus
pada habitat tertentu dan spesies berhub-ungan dekat dengan kelompok taksa lain
yang juga bisa sebagai indikator. Secara khusus bahwa bioindikator adalah
kelompok atau komunitas organisme yang keberadaannya atau perilakunya di
alam berhubungan dengan kondisi lingkungan, apabila terjadi perubahan kualitas
air maka akan berpengaruh terhadap keberadaaan dan perilaku organisme
tersebut, sehingga dapat digunakan sebagai penunjuk kualitas lingkungan.
Keragaman jenis dan kerapatan makhluk hidup di perairan sungai merupakan
sebagian dari bioindikator yang dapat menunjukkan kualitas lingkungan. Plankton
dan bentos merupakan dua golongan makhluk hidup yang dapat digunakan
sebagai bioindikator kualitas perairan. Plankton memiliki sifat unik karena
posisinya yang berada di dasar piramida makanan, sehingga pengetahuan akan
kondisi jenis dan kerapatan plankton dapat menjadi dasar analisa kemelimpahan
sumber daya serta. Sementara itu bentos juga memiliki sifat istimewa di mana
kondisi makroskopisnya memungkinkan untuk digunakan sebagai biomonitor
yaitu metode pemantauan kualitas air dengan menggunakan indikator biologis
dengan memanfaatkan partisipasi masyarakat. memegang peran penting dalam
mempengaruhi produktifitas primer perairan sungai (Indrowati dkk., 2012).
Bentos juga dapat dijadikan sebagai indikator biologis dalam pencemaran
air sungai bila keanekaragaman bentos di ekosistem sungai tinggi, ini menandakan
kualitas air yang bersih dan tidak tercemar oleh pembuangan bahan fisika, kimia,
tidak berwarna, tidak berbau dan air tersebut dapat digunakan untuk berbagai
kegiatan. Perubahan kondisi sungai dapat mengganggu kehidupan organisme baik
yang berukuran kecil maupun yang berukuran besar, salah satu organismenya
adalah bentos (Tanjung dkk. 2014).
Menurut Zulkifli (2008), timbulnya variasi dalam suatu populasi tergantung
pada sensitifitasnya terhadap fluktuasi perubahan lingkungan, yakni interaksi
antarspesies yang ada. Setiap spesies akan menunjukkan efek yang berbeda dalam
menanggapi suatu kompetisi, dan biodiversitas yang meningkat pada suatu
komunitas akan sangat mendukung terwujudnya stabilitas komunitas tersebut.

Menurut Barus ada beberapa alasan dalam pemilihan bentos sebagai


indikator kualitas di suatu ekosistem air, yaitu:

Pergerakannya yang sangat terbatas sehingga memudahkan dalam


pengambilan sampel.

Ukuran tubuh relatif besar sehingga relative mudah diidentifikasi.

Hidup di dasar perairan serta relatif diam sehingga secara terus menerus
terdedah oleh kondisi air disekitarnya.

Pendedah yang terus menerus mengakibatkan bentos sangat terpengaruh


oleh berbagai perubahan lingkungan yang mempengaruhi kondisi air
tersebut.

Perubahan

faktor-faktor

lingkungan

ini

akan

mempengaruhi

keanekaragaman komunitas bentos.


Dari kelompok Bivalvia dengan jenis Corbicula sp. ditemukan dengan
kelimpahan rendah disebabkan sifatnya tidak dapat bergerak aktif dan menetap di
suatu tempat. Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa kelompok Mollusca
dapat difungsikan sebagai bioindikator pencemaran air tawar (Zulkifli, 2008).
Beberapa gastropoda dan bivalvia memiliki habitat di perairan sepanjang
pantai dan umumnya banyak ditemukan pada perairan dangkal dan merupakan
indikator polutan. Semakin besar polusi yang terdapat pada suatu perairan maka
gastropoda dan bivalvia yang mampu bertahan hidup akan lebih sedikit atau hanya
jenis tertentu saja yang akan ditemukan (Riniatsih dan Edi, 2009).
Jika polusi masih sedikit atau bahkan tidak ada maka gastropoda dan
bivalvia

yang

hidup

akan

jauh

lebih

banyak

dan

beragam

dengan

mempertimbangkan tekstur substrat dasar, kandungan bahan organik pada substrat


dasar serta parameter oseanografi yang mendukung untuk tumbuh berkembangnya
gastropoda dan bivalvia itu sendiri. Bivalvia mempunyai beberapa cara hidup, ada
yang menggali substrat untuk perlindungan, ada yang tumbuh pada substrat
dengan melekatkan diri pada substrat dengan alat perekat, ada yang
membenamkan diri pada pasir atau lumpur bahkan adapula yang membenamkan
diri di dalam kerang kakarang-karang batu. Berbagai jenis tertentu melekatkan diri
ke substratnya dengan menggunakan organ bernama byssus yang berupa benangbenang yang kuat ( Riniatsih dan Edi, 2009).

Pengambilan Sampel Bentos


Menurut Tanjung dkk (2012) setelah pengambilan sampel di lapangan,
selanjutnya sampel diidentifikasi di Laboratorium. Metode yang di gunakan
adalah metode directcount atau menghitung langsung jumlah individu dari tiap
genus pada masing-masing stasiun. Identifikasi bentos dilakukan di laboratorium,
identifikasi dilakukan sampai tingkat genus dengan panduan buku acuan yaitu,
Anonimous (2007), Pennak (1978).
Menurut Mirna (2013) dalam pelaksanaan pengambilan bentos dilapangan
diperlukan alat dan bahan sebagai berikut:
1. Eckman Grab, merupakan alat untuk mengambil bentos yang ada di dasar
perairan. Eckman Grabter terbuat dari baja tahan karat dengan berat 3.2 kg
dengan ukuran 30 cm x 30 cm; 23 cm x 23 cm ;dan 15 cm x 15 cm
(APHA, 2005).
2. Saringan bentos berbentuk kotak dengan ukuran kasa 0.5 1 mm berguna
untuk memisahkan dari serasah atau sedimen yang ada. Sampel yang akan
diamati adalah sampel makrozoobentos yang berukuran > 1 mm.
3. Plastik wadah bentos (Plastik bening ukuran 5 Kg), sebagai wadah bentos
yang telah disaring sementara dilapangan.
4. Karet dan spidol atau karkir untuk label, berguna untuk memberi label atau
tanda lokasi penelitian agar data tidak hilang jejak.
5. Formalin 70 %, sebagai pengawet sampel bentos yang dibawah dari
lapangan. Formalin dituangkankira-kira 100 ml.
6. Larutan Rosbengal, larutan yang berguna untuk memberikan warna agar
mudah pelaksanaan sortirdi labolatorium.
Cara kerja pengambilan bentos di lapangan adalah pertama menentukan
lokasi pengambilan sampel, kemudian sediakan Eckman greb untuk mengambil
bentos dengan cara memasukkan Eckman greb ke dasar perairan dan diulang
sebanyak 5 titik pada lokasi yang sama dan dimasukkan dalam saringan kotak
dengan ukuran kasa 1 mm. Mengayak bentos tersebut kemudian sampel bentos
dimasukkan dalam plastik ukuran 5 kg. Setelah dimasukkan dalam plastik lalu
tuangkan formalin pekat (70%) kira-kira 100 ml sampai bentos terendam dan
teteskan larutan rosbengal untuk memudahkan menyortir di labolatorium. Setelah

sampai di labolatorium maka sampel bentos dikeluarkan dalam plastik dan


disaring lagi menggunakan saringan bentos size 3 mm. Setelah disaring dan
dibilas dengan air lalu disortir. Proses penyortiran dilakukan menggunakan lup
dan lampu dan menggunakan baki dan cawan petri. Setelah semua selesai disortir
maka sampel bentos mulai di buat spesimen.
Proses pembuatan spesimen dengan cara sebagai berikut:
a) Pilih dan amati di bawah mikroskop jenis-jenis Oligochaeta.
b) Organime tersebut direndam dengan alkohol 70 % selama 15 menit.
c) Kemudian rendam dengan alkohol 90 % selama 15 menit.
d) Organisme diletakkan di atas gelas objek.
e) Ambil cacing jenis Oligochaeta dan diamati menggunakan mikroskop
stereo dan organisme tersebut diposisikan terlentang .
f) Setelah posisi cacing keadaan terlentang tetesi CMCP-10 lalu gelas objek
tersebut ditutup dengan cover glass sehingga menutupi organime tersebut.
g) Panaskan hotplate dengan suhu 60 0C dan letakkan objek gelass yang
berisi organism tersebut diatasnya selama 24 jam.
h) Angkat objek gelas dan dinginkan serta diidentifikasi serta diberi label.
Sampel diamati menggunakn mikroskop binokuler dan diidentifikasi
menggunakan buku-buku identifikasi antara lain: Milligan (1997), Pennak
(1978).

10

PENUTUP
Kesimpulan
1. Bentos merupakan kelompok organisme yang hidup di dalam atau di
permukaan sedimen dasar perairan.
2. Invertebrata bentik dapat dibedakan oleh posisi mereka tempati pada atau
dibawah sedimen yaitu infauna dan pifauna.
3. Diantara bentos yang relatif mudah diidentifikasidan peka terhadap
perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk dalam
kelompokinvertebrate, dikenal dengan makrozoobenthos.
4. Timbulnya variasi dalam suatu populasi tergantung pada sensitifitasnya
terhadap fluktuasi perubahan lingkungan, yakni interaksi antar spesies
yang ada.
5. Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa kelompok Mollusca dapat
difungsikan sebagai bioindikator pencemaran air tawar.

Saran
Adapun saran dari penulis tentang materi makalah ini adalah diharapkan
adanya ketelitian dan kesadaran dari penulis dalam melaksanakan kegiatan
praktikum selanjutnya agar mendapatkan data sesuai dengan yang dibutuhkan
dalam kegiatan praktikum.

11

DAFTAR PUSTAKA
Barus, T.A. 2004.Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem Air Darat. USU
PRESS.
Clarkin, Charity dan Bruce Kilgour. 2006. Benthic Macro-invertebrate Sampling
and Analysis of Lake Simcoe. Stantec.
Dwirastina, Mirna. 2013. Teknik Pengambilan Dan Identifikasi Bentos Kelas
Oligochaeta di Daerah Indakiat Riau Pekanbaru. Balai Riset Perairan
Umum. Palembang.
Indrowati, M., Tjahjadi P., Estu R., Raras I.Y., Siti N., Dwito P., Pandu H.W.
2012. Identifikasi Jenis, Kerapatan Dan Diversitas Plankton Bentos
Sebagai Bioindikator Perairan Sungai Pepe Surakarta. Pendidikan Biologi
FPKIP UNS dan Biologi FMIPA UNS.
Purnami, A.T., Sunarto dan P.Setyono. 2010. Study Of Benthos Community
Based On Diversity Similarity Index In Cengklik Dam Boyolali.
Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences.
Sebelas Maret University Surakarta.
Raposa, K.B. dan Christine R.C. Plankton and Benthos. An Ecological Profile of
the Narragansett Bay National Estuarine Research Reserve.
Riniatsih, Ita dan Edi W.K. 2009. Substrat Dasar dan Parameter Oseanografi
Sebagai Penentu Keberadaan Gastropoda dan Bivalvia di pantai Sluke
Kabupaten Rembang. Jurusan Ilmu Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
kelautan. Universitas Diponegoro. Semarang.
Tagliapietra, Davide dan Marco Sigovini. 2010. Benthic Fauna: Collection and
Identification of Macrobenthic Invertebrates. Istituto di Scienze Marine.
Venice Italy.
Tanjung, A.U., Nursyahra dan Abizar. Komposisi Bentos di Sungai Sikabau
Kecamatan Koto Balingka Kabupaten Pesaman Barat. Program Studi
Pedidikan Biologi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP)
PGRI Sumatera Barat.
Zulkifli, Hilda dan Doni Setiawan.Struktur Komunitas Makrozoobentos di
Perairan Sungai Musi Kawasan Pulokerto Sebagai Instrumen Biomotoring.
Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan.