Anda di halaman 1dari 14

Infeksi Saluran Kemih pada Dewasa

Arista Juliani Walay/102010274


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara no. 6 Jakarta Barat 11470
No. Telp. 021-56942061.
Email: aristawalay@gmail.com

Pendahuluan
Infeksi saluran kemih merupakan penyakit infeksi yang cukup sering terjadi di
masyarakat yang dapat mengenai baik laki-laki maupun perempuan dari semua kelompok umur
anak, remaja, dewasa, maupun usia lanjut. Infeksi saluran kemih sering terjdi pada wanita. Salah
satu penyebabnya adalah uretra wanita yang lebih pendek sehingga bakteri kontaminan lebih
mudah melewati jalur ke kandung kemih. Infeksi saluran kemih pada pria jarang terjadi, pada
pria dengan usia yang sudah lanjut, penyebab yang paling sering adalah prostatitis atau
hyperplasia prostat. Prostat adalah sebuah kelenjar seukuran kenari yang terletak tepat di bawah
saluran keluar kandug kemih. Hiperplasia prostat dapat menyebabkan obstruksi aliran yang
merupakan predisposisi untuk timbulnya infeksi dalam keadaan normal, sekresi prostat memiliki
efek protektif antibakteri.1
Secara anatomi, ISK dibagi menjadi infeksi saluran kemih bagian atas dan infeksi saluran
kemih bagian bawah. ISK bagian atas mencakup semua infeksi yang menyerang ginjal,
sedangkan ISK bagian bawah mencakup semua infeksi yang menyerang uretra, kandung kemih
dan prostat. Dalam keadaan normal saluran kemih tidak mengandung bakteri, virus, atau
mikroorganisme lainnya. Dengan kata lain bahwa diagnosis ISK ditegakkan dengan
membuktikan adanya mikroorganisme di dalam saluran kemih. Pada pasien dengan simptom
ISK, jumlah bakteri dikatakan signifikan jika lebih besar dari 105/ml urin. Infeksi ini juga lebih
sering dijumpai pada wanita daripada laki-laki, pada wanita dapat terjadi pada semua umur,
sedangkan pada laki-laki di bawah umur 50 tahun jarang terjadi.
1

Anamnesis
Pada anamnesis kita dapat menanyakan keluhan keluhan apa saja yang dirasakan pasien
tersebut untuk menegakkan diagnosis terhadap pasien.
Pada kasus ini, hal hal yang perlu ditanyakan utnuk menegakkan diagnosis adalah :
Apakah berkemih lebih sering (frekuensi)?
Apakah merasa seperti terbakar atau nyeri saat berkemih (disuria)?
Apakah terbangun saat malam untuk berkemih (nokturia)?
Apakah timbul rasa sangat ingin ke toilet, dan harus segera melakukannya (urgensi)?
Adakah bau urine yang menyengat?
Bagaimana volume urine, warna (keabu-abuan) dan konsentrasi urine?
Adakah nyeri suprapubik? Nyeri suprapubik menunjukkan adanya infeksi pada saluran
kemih bagian bawah.
Adakah nyeri panggul atau pinggang? Nyeri panggul atau pinggang biasanya pada infeksi
saluran kemih bagian atas.
Adakah peningkatan suhu tubuh?

Adakah riwayat batu saluran kemih, penyakit ginjal, atau diabetes mellitus?

Pemeriksaan Fisik

Inspeksi

: melihat genitalia apakah terdapat benjolan, luka, dan juga melihat meatus

uretra apakah terdapat cairan atau lendir dan laporkan seperti apa

Palpasi

melakukan palpasi ginjal secara bimanual dan balotemen, yang

dianjurkan memakai cara bimanual. Palpasi pula bagian suprapubik apakah terdapat nyeri

Perkusi

: melakukan perkusi pada CVA. Apabila terdapat nyeri laporkan, untuk

mengetahui distensi kandung kemih dapat melakukan perkusi pada daerah suprapubik.
Bila kandung kemih terisi penuh oleh udara, maka suara perkusi di daerah kandung
kemih pekak diikuti oleh suara timpani pada usus.2
Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada kasus adalah:

Tekanan Darah :120/80 mmHg

Nadi : 105 x/menit


2

Respiration Rate : 20x/menit

Suhu : 380C

Abdomen: nyeri tekan suprapubik (+)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan urine
Pemeriksaan urine merupakan salah satu pemeriksaan yang sangat penting pada infeksi
saluran kemih. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan urinalisis dan pemeriksaan kultur
urine.

Sel-sel

darah

putih

dapat

diperiksa

dengan

dipstick

maupun

secara

mikroskopik.Urine gandung leukosit atau piuria juka mikroskopik didapatkan >10


leukosit per mm3 atau >5 leukosit per lapangan pandang besar. Pemeriksaan kultur urine
dimaksudkan untuk menentukan keberadaan kuman, jenis kuman, dan sekaligus
menentukan jenis antibiotic yang cocok untuk membunuh kuman itu.

Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah lengkap diperlukan untuk mengungkapkan adanya proses inflamasi
atau infeksi. Didapatkannya leukositosis, peningkatan laju endap darah, atau
didapatkannnya sel-sel muda pada sediaan hapus darah menandakan adanya proses
inflamasi akut. Pada keadaan infeksi berat, perlu diperiksa faal ginjal, faal hepar, faal
hemostasis, elektrolit darah, analisis gas darah, serta kultur kuman untuk penanganan ISK
secara intensif.3

Pemeriksaan radiologi
Pada ISK uncomplicated tidak diperlukan pemeriksaan pencitraan, tetapi pada ISK
complicated perlu dilakukan pemeriksaan pencitraan untuk mencari penyebab/sumber
terjadinya infeksi.3
o Foto polos abdomen
Pembuatan foto polos berguna untuk mengetahui adanya batu radioopak pada
saluran kemih atau adanya distribusi gas yang abnormal pada pielonefritis akut.
Adanya kekaburan atau hilangnya bayangan garis psoas dan kelainan dari
bayangan bentuk ginjal merupakan petunjuk adanya abses perirenal atau abses
3

ginjal. Batu kecil atau batu semiopak kadangkala tidak tampak pada foto ini,
sehingga perlu dilakukan pemeriksaan foto tomografi
o PIV
PIV adalah pemeriksaan rutin untuk mengevaluasi pasien yang menderita ISK
complicated. Pemeriksaan ini dapat mengungkapkan adanya pielonefritis akut dan
adanya obstruksi saluran kemih; tetapi pemeriksaan ini sulit untuk mendeteksi
adanya hidronefrosis, pielonefrosis, ataupun abses ginjal pada ginjal yang
fungsinya sangat jelek
o Ultrasonografi
Ultrasonografi adalah pemeriksaan yang sangat berguna untuk mengungkapkan
adanya hidronefrosis, pionefrosis, ataupun abses pada perirenal/ginjal terutama
pada pasien gagal ginjal. Pada pasien gemuk, adanya luka operasi, terpasangnya
pipa drainase, atau pembalut luka pasca operasi dapat menyulitkan pemeriksaan
ini
o CT Scan
Pemeriksaan ini lebih sensitive dalam mendeteksi penyebab ISK daripada PIV
atau ultrasonografi tetapi biaya yang diperlukan untuk pemeriksaan ini relative
mahal.
Diagnosis Kerja
Gambaran klinis infeksi saluran kemih sangat bervariasi mulai dari tanpa gejala hingga
menunjukkan gejala yang sangat berat akibat kerusakan pada organ-organ lain. Pada umumnya
infeksi akut yang mengenai organ padat memberikan keluhan yang sangat hebat sedangkan
infeksi pada organ-organ berongga memberikan keluhan yang lebih ringan.3
Infeksi saluran kemih dibagi menjadi dua bagian, yakni infeksi saluran kemih bagian atas dan
bagian bawah:3
Infeksi Saluran Kemih Bawah (Sistitis)
Sistitis adalah inflamasi akut pada mukosa buli-buli yang sering disebabkan oleh infeksi
oleh bakteri. Mikroorganisme penyebab infeksi ini terutama adlaah E.coli, Enterococci,
Proteus, dan Stafilococcus aureus yang masuk ke dalam buli-buli terutama melalui uretra.
Sistitis akut mudah terjadi jika pertahanan local tubuh menurun.
4

Wanita lebih sering megalami serangan sistitis daripada pria karena uretra wanita lebih
pendek daripada pria. Disamping itu getah cairan prostat pada pria mempunyai sifat
bakterisidal sehingga relative tahan terhadap infeksi saluran kemih. Diperkirakan bahwa
paling sedikit 10-20% wanita pernah mengalami serangan sistitis selama hidupnya dan
kurang lebih 5% dalam satu tahun pernah mengalami serangan ini.
Inflamasi pada buli-buli juga dapat disebabkan oleh bahan kimia, seperti pada detergent
yang dicampurkan ke dalam air untuk rendam duduk, deodorant yang disemprotkan pada
vulva atau obat-obatan yang dimasukan intravesika untuk terapi kanker buli-buli
(siklofosfamid).
Gambaran klinis
Reaksi inflamasi menyebabkan mukosa buli-buli menjadi kemerahan (eritema), edema, dan
hipersensitif sehingga juka buli-buli terisi urine, akan mudah terangsang untuk segera
mengeluarkan isinya ; hal ini menimbulkan gejala frekuensi. Kontraksi buli-buli akan
menyebabkan rasa sakit/nyeri di daerah suprapubik dan eritema mukosa buli-buli mudah
berdarah dan menimbulkan hematuria. Tidak seperti gejala pada infeksi saluran kemih
sebelah atas, sistitis jarang disertai demam, mual, muntah, badan lemah, dan kondisi umum
yang menurun.
Pemeriksaan urine berwarna keruh, berbau, dan pada urinalisis terdapat piuria, hematuria,
dan bakteriuria. Kultur urine sangan penting utuk mengetahui jenis kuman penyebab infeksi.
Jika sistitis sering mengalami kekambuhan, perlu dipikirkan adanya kelainan lain pada bulibuli sehingga diperlukan pemeriksaan radiologi atau sitoskopi.2 Gejala dan tanda klasik
terdiri atas miksi sering yang tidak dapat ditunda, dysuria, nikturia, dan kadang hematuria.4
Infeksi Saluran Kemih Atas (Pielonefritis)
Pielonefritis akut adalah reaksi inflamasi akibat infeksi yang terjadi pada pielum dan
parenkim ginjal. Pada umumnya kuman yang menyebabkan infeksi ini berasal dari saluran
kemih bagian bawah yang naik ke ginjal melalui ureter. Kuman-kuman itu adalah E.coli,
Proteus, Klebsiella, dan kokus gram positif : Streptococcus faecalis dan enterokokus. Kuman

Stafilokokus aureus dapat menyebabkan pielonefritis melalui penularan secara hematogen,


meskipun sekarang jarang dijumpai.
Gambaran Klinis
Gambaran klasik dari pielonefritis akut adalah demam tinggi dan disertai menggigil, nyeri
daerah perut dan pinggang, disertai mual dan muntah. Kadang-kadang terdapat gejala iritasi
pada buli-buli yaitu berupa dysuria, frekuensi, atau urgensi.
Pada pemeriksaan fisik terdapat nyeri pada pinggang dan perut, suara usus melemah seperti
ileus paralitik. Pada pemeriksaan darah menunjukkan adanya leukositosis disertai
peningkatan laju endap darah, urinalisis terdapat piuria, bakteriuria, dan hematuria. Pada
pielonefritis akut yang mengenai kedua sisi ginjal terjadi penururan faal ginjal dan pada
kultur urine terdapat bakteriuria.
Pemeriksaan foto polos perut menunjukkan adanya kekaburan dari bayangan otot psoas dan
mungkin terdapat bayangan radio-opak dari batu saluran kemih. Pada PIV terdapat bayangan
ginjal membesar dan terdapat keterlambatan pada fase nefrogram.3
Diagnosis Banding
Batu saluran kemih
Batu saluran kemih merupakan kondisi dimana terbentuknya batu di saluran keluarnya urin. ia
dapat berada di ginjal, ureter, kandung kemih maupun uretra. Sering pula masyarakat mengenali
dengan batu ginjal, secara khusus maksudnya batu itu hanya terdapat diginjal. Adapun
penyebabnya antara lain: gangguan aliran urin, gangguan metabolik, infeksi saluran
kemih, dehidrasi, dan keadaan-keadan lain.Biasanya beberapa faktor yang mempengaruhi adalah
jenis kelamin, ras/etnis, usia, geografis, iklim, pekerjaan, berat dan tinggi badan, serta air.
Penyakit batu diketahui lebih sering terjadi pada pria dewasa dibanding wanita, hal ini terkait
dengan kondisi anatomi saluran urinaria pria yang lebih panjang dan sempit.
Mekanisme pembentukan batu adalah di mulai terjadinya hambatan aliran urin yang biasanya
terjadi di tempat-tempat yang lebih sempit dan berkelok, seperti di penyempitan pelvikalises
ataupun penyempitan di ureter yang masuk ke kandung kemih. Adanya kelainan bawaan

seperti stenosis, divertikel, hiperplasia

prostat

benigna, striktur ataupun buli-buli

neurogenik dapat memudahkan terjadinya pembentukan batu.


Batu terdiri atas kristal-kristal yang tersusun oleh bahan-bahan organik maupun anorganik dalam
urin. Kristal-kristal tersebut mengendap dan berkumpul menjadi inti batu. Batu saluran kemih
terdiri atas batu kalsium oksalat, batu kalsium fosfat, batu asam urat, batu sistein, batu maupun
magnesium-amonium-fosfat dan xanthyn.
Gejala klinis yang dapat dirasakan yaitu :

Rasa Nyeri

Lokasi nyeri tergantung dari letak batu. Rasa nyeri yang berulang (kolik) tergantung dari lokasi
batu. Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan diseluruh area kostovertebratal,
tidak jarang disertai mual dan muntah, maka pasien tersebut sedang mengalami kolik ginjal. Batu
yang berada di ureter dapat menyebabkan nyeri yang luar biasa, akut, dan kolik yang menyebar
ke paha dan genitalia. Pasien sering ingin merasa berkemih, namun hanya sedikit urine yang
keluar, dan biasanya air kemih disertai dengan darah, maka pasien tersebut mengalami kolik
ureter.

Demam

Demam terjadi karena adanya kuman yang beredar di dalam darah sehingga menyebabkan suhu
badan meningkat melebihi batas normal. Gejala ini disertai jantung berdebar, tekanan darah
rendah, dan pelebaran pembuluh darah di kulit.

Infeksi

BSK jenis apapun seringkali berhubungan dengan infeksi sekunder akibat obstruksi dan statis di
proksimal dari sumbatan. Infeksi yang terjadi di saluran kemih karena kuman Proteus spp,
Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphiloccocus.

Hematuria dan kristaluria

Terdapatnya sel darah merah bersama dengan air kemih (hematuria) dan air kemih yang berpasir
(kristaluria) dapat membantu diagnosis adanya penyakit BSK.

Mual dan muntah

Obstruksi saluran kemih bagian atas (ginjal dan ureter) seringkali menyebabkan mual dan
muntah.3
Uretritis
Urethritis merupakan peradangan pada saluran kencing atau urethra, yang terjadi pada lapisan
kulit uretra, di sebabkan oleh bakteri-bakteri yang menyerang saluran kemish seperti
Chlamydia trachomatis, neisseria gonorrhoae, tricomonalvaginalis dan lain-lain. peradangan ini
biasanya

terjadi

pada

ujung

uretra

atau

urethra

bagian

posterior,

urethritis juga merupakan salah satu dari infeksi dari saluran kemih yaitu urethra, prostate, vas
deferens, testis atau ovarium, buli-buli, ureter sampai ginjal.Dan dapat dikatakan sebagai bagian
dari infeksi saluran kemih superficial atau mukosa yang tidak menandakan invasi pada jaringan.
Gejala Klinis
Mukosa memerah dan edema
Terdapat cairan exudat yang purulent
Ada ulserasi pada uretra
Adanya rasa gatal yang menggelitik
Adanya pus pada awal miksi
Nyeri pada saat miksi
Kesulitan untuk memulai miksi
Nyeri pada abdomen bagian bawa3,4
Etiologi
Hampir semua infeksi saluran kemih disebabkan oleh satu spesies bakteri. Paling tidak
80% dari cystitis uncomplicated dan pielonefritis disebabkan oleh E.coli, dengan strain patologi
terbanyak pada serogrup O. bakteri pathogen saluran kemih lainnya yang lebih jarang termasuk
Klebsiella, Proteus, dan Enterobacter dan Enterococci. Pada infeksi nosocomial ISK, varietas
yang lebih luas penyebab penyakit lebih banyak termasuk Pseudomonas dan Staphylococcus.ISK
yang disebabkan oleh

S.aureus

biasanya

ditemukan sebagai

hasil

dari diseminasi

hematogen.Streptococcus grup B beta-hemolitikus dapat menyebabkan ISK pada wanita


8

hamil.S.saprophyticus dapat menyebabkan ISK pada wanita muda.Pada anak-anak, spektrum


bakteri penyebab agak berbeda dengan dewasam dengan Klebsiella dan Enterobacter sebagai
bakteri tersering penyebab ISK.4

Tabel 1.Famili, Genus dan Spesies Mikroorganisme (MO) yang Paling Sering Sebagai
Penyebeb ISK.4

Epidemiologi
ISK tergantung banyak faktor; seperti usia, gender, prevalensi bakteriuria, dan faktor
predisposisi yang menyebabkan perubahan struktur saluran kemih termasuk ginjal. Selama
periode usia beberapa bulan dan lebih dari 65 tahun perempuan cenderung menderita ISK
dibandingkan laki-laki. ISK berulang pada laki-laki jarang dilaporkan, kecuali disertai faktor
predisposisi (pencetus).Prevalensi bakteriuria asimtomatik lebih sering ditemukan pada
perempuan.Prevalensi selama periode sekolah (school girls) 1 % meningkat menjadi 5% selama
periode aktif secara seksual. Prevalensi infeksi asimtomatik meningkat mencapai 30%, baik lakilaki maupun perempuan bila disertai faktor predisposisi seperti berikut litiasis, obstruksi saluran
kemih, penyakit ginjal polikistik, nekrosis papilar, diabetes mellitus pasca transplantasi ginjal,

nefropati analgesik, penyakit sickle-cell, senggama, kehamilan dan peserta KB dengan table
progesterone, serta kateterisasi.5
Patofisiologi
Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus
urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : endogen yaitu kontak langsung dari tempat
infeksi terdekat (ascending), hematogen, limfogen, dan eksogen ( akibat pemakaian kateter). Ada
dua jalur utama terjadinya ISK yaitu asending dan hematogen.

Secara asending yaitu:


1) Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih, antara lain: faktor anatomi dimana
pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden
terjadinya ISK lebih tinggi, faktor tekanan urine saat miksi, kontaminasi fekal,
pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian
kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi.
2) Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal.

Secara hematogen yaitu:


Sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran
infeksi secara hematogen Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal
sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan total urine yang
mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan parut, dan
lain-lain.

Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya:
Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang
tidak lengkap atau kurang efektif.
Mobilitas menurun
Nutrisi yang sering kurang baik
Sistem imunitas yang menurun
Adanya hambatan pada saluran urin
Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat.

10

Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensi yang
berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi
terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya
akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen
menyebar ke seluruh traktus urinarius. Selain itu, beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK,
antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang menGakibtakan penimbunan cairan
bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefrosis. Penyebab umum
obstruksi adalah: jaringan parut ginjal, batu, neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering
ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun.1,6,7

Gejala Klinis
Uretritis biasanya memperlihatkan gejala:

Mukosa merah dan edema

Terdapat cairan eksudat pada uretra

Ada ulserasi pada uretra

Adanya rasa gatal

Adanya nanah awal miksi

Nyeri pada saat miksi

Kesulitan untuk memulai miksi

Nyeri pada suprapubik

Sistitis biasanya memperlihatkan gejala:

Disuria atau rasa panas pada kemaluan

Polakisuria

Urgensi

Leukosuria

Nyeri suprapubic

Kadang-kadang disertai hematuria

Pielonefritis akut biasanya memperlihat gejala:

Demam
11

Menggigil

Nyeri pinggang (kebanyakan pada CVA kanan)

Disuria

Pielonefritis

kronik

mungkin

memperlihatkan

gambaran

mirip

dengan

pielonefritis akut tetapi dapat juga menimbulkan hipertensi.


Penatalaksannaan
Infeksi Saluran Kemih (ISK) Bawah
Prinsip manajemen ISK bawah meliputi intake cairan yang banyak, antibiotika yang adekuat, dan
kalau perlu terapi simptomatik untuk alkalinisasi urin :
Hampir 80% pasien akan memberikan respon setelah 48 jam dengan antibiotik tunggal;
seperti ampisilin 3 gram, trimetoprim 200 mg
Bila infeksi menetap disertai kelainan urinalisis (lekosuria) diperlukan terapi konvensional
selama 5-10 hari
Pemeriksaan mikroskopik urin dan biakan urin tidak diperlukan bila semua gejal hilang dan
tanpa lekosuria
Reinfeksi berulang (frequent re-infection)
Disertai faktor predisposisi. Terapi antimikroba yang intensif diikuti koreksi faktor resiko.
Tanpa faktor predisposisi
o Asupan cairan banyak
o Cuci setelah melakukan senggama diikuti terapi antimikroba takaran tunggal (misal
trimetoprim 200 mg)
Terapi antimikroba jangka lama smapai 6 bulan.
Sindrom uretra akut (SUA). Pasien dengan sindrom uretra akut dengan hitung kuman 103 105
memerlukan antibiotika yang adekuat. Infeksi klamidia memberikan hasil yang baik dengan
tetrasiklin. Infeksi disebabkan MO anaerobik diperlukan antimikroba yang serasi, misal
golongan kuinolon.1
Infeksi Saluran Kemih (ISK) Atas
Pielonefritis akut. Pada umumnya pasien dengan pielonefritis akut memerlukan rawat inap untuk
memelihara status hidrasi dan terapi antibiotika parenteral paling sedikit 48 jam. Indikasi rawat
inap pielonefritis akut seperti terungkap pada Tabel 2.1
12

Tabel 2. Indikasi Rawat Inap Pasien dengan Pielonefritis Akut

Kegagalan mempertahankan hidrasi normal atau toleransi terhadap antibiotika


oral

Pasien sakit berat atau debilitasi

Terapi antibiotika oral selama rawat jalan mengalami kegagalan

Diperlukan investigasi lanjutan

Faktor predisposisi untuk ISK tipe berkomplikasi

Komorbiditas seperti kehamilan, diabetes melitus, usia lanjut

The Infectious Disease Society of America menganjurkan satu dari tiga alternatif terapi antibiotik
IV sebagai terapi awal selama 48-72 jam sebelum diketahui MO sebagai penyebabnya :

Fluorokuinolon

Aminoglikosida dengan atau tanpa ampisilin

Sefalosporin dengan spektrum luas dengan atau tanpa aminoglikosida.1

Komplikasi
Komplikasi ISK tergantung dari tipe yaitu ISK tipe sederhana (uncomplicated) dan tiper
berkomplikasi (complicated)
1) ISK sederhana (uncomplicated). ISK akut tipe sederhana (sistitis) yaitu non-obstruksi dan
bukan perempuan hamil merupakan penyakit ringan (selflimited disease) dan tidak
menyebabkan akibat lanjut jangka lama
2) ISK tipe berkomplikasi (complicated)
a. ISK selama kehamilan. ISK selama kehamilan dari umur kehamilan; tabel 3.
b. ISK pada diabetes melitus. Penelitian epidemiologi klinik melaporkan bakteriuria dan
ISK lebih sering ditemukan pada DM dibandingkan perempuan tanpa DM.1
Kesimpulan
Infeksi saluran kemih bagian bawah yang tersering adalah cystitis atau peradangan pada
dinding kandung kemih dengan cirri khas nyeri pada suprapubic. Kelainan dari cystitis ini
disebabkan oleh invasi dari kuman yang dikarenakan invasi langsung dari kuman tersebut atau
komplikasi dari batu yang terbentuk. Batu ginjal dapat terbentuk karena kurangnya asupan cairan

13

dan mineral yang tinggi yang melewati ginjal. Keadaan infeksi saluran kemih yang disertai
penyulit ini akan menjadi komplikatif bila tidak segera ditindaklanjuti.
Daftar Pustaka
1) Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing ; 2009. h.1009-13.
2) Burnside John W,McGlynn Thomas J. Diagnosis fisik, edisi 17. Jakarta: penerbit buku
kedokteran EGC; 2006.hlm 292-295.
3) Purnomo BB. Dasar-dasar urologi. Edisi 2. Jakarta : Sagung Seto ; 2007. h.35-49, 62-6.
4) Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 2. Jakarta : penerbit buku
kedokteran EGC ; 2005. h.750-1.
5) Gleadle J. At a glance: anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: EGC; 2003. h.98-9.
6) Grace PA, Borley NR. At a glance ilmu bedah. Edisi ke-3. Jakarta: Erlangga; 2006. h.166-7.
7) Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit volume 2. Edisi
ke-6. Jakarta: EGC; 2006. h.918-24.

14