Anda di halaman 1dari 21

TUGAS MAKALAH MATA KULIAH PERENCANAAN

PENGGUNAAN LAHAN (TSL60B)

Pemanfaatan Lahan Rawa Pasang Surut untuk Lahan Sawah:


Studi Pendekatan Sistem Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)

Disusun Oleh:
GILANG SUKMA PUTRA
A151140041

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di
dunia. Tercatat antara sensus tahun 2000 ke 2010 jumlah penduduk Indonesia
bertambah dari 205.1 juta jiwa menjadi 259.9 juta jiwa dengan pertumbuhan
rata-rata sekitar 1.48% (BPS 2010). Dari jumlah tersebut, sekitar 85% penduduk
Indonesia bergantung pada beras sebagai makanan pokok. Kondisi ini menuntut
ketersediaan beras yang berkesinambungan. Di sisi lain, lahan sawah yang
banyak diusahakan di Jawa dan Bali semakin terbatas dan bahkan berkurang dari
tahun ke tahun. Sebagai gambaran berdasarkan BPS (1998) luas lahan di jawa
pada 1987 adalah 3.43 juta ha dan pada 1997 adalah 3.32 juta ha yang berarti
selama 10 tahun terjadi penyusutan luas lahan sebesar 0.11 juta ha dengan
kisaran penyusutan tiap tahun lebih kurang 11 ribu ha. Maka perlu adanya upaya
melalui perluasan lahan (ekstensifikasi) di luar Jawa agar dapat mempertahankan
produksi pangan secara nasional.
Pemanfaatan lahan rawa pasang surut untuk lahan pertanian dapat menjadi
alternatif ekstensifikasi yang prospektif karena ketersediannya yang cukup luas.
Luas lahan rawa pasang surut di Indonesia diperkirakan 20.11 juta hektar terdiri
dari 2.07 juta hektar lahan pasang surut potensial, 6.71 juta hektar lahan sulfat
masam, 10.89 hektar lahan gambut, dan 0.44 juta hektar lahan salin
(Alihamsyah, 2002).
Dalam implementasinya, usaha pemanfaatan lahan harus menerapkan
konsep keberlanjutan dalam arti pengelolaan lahan yang dilakukan mampu
memenuhi kebutuhan pangan nasional saat ini tanpa mengorbankan generasi
mendatang untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Oleh karena itu,
diperlukan suatu pendekatan sistem budidaya pertanian yang menyeluruh, tidak
hanya menitikberatkan pada aspek produksi saja, tetapi juga bersifat partisipatif,
mampu diterima dan dijangkau oleh masyarakat, dan tidak merusak atau
menurunkan kualitas lingkungan lahan tersebut, salah satunya melalui
pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT). PTT bukan
merupakan paket teknologi, melainkan merupakan pendekatan dalam
peningkatan produksi melalui pengelolaan tanaman, tanah, air, hara, dan
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Dalam penerapannya, PTT bersifat (1) partisipatif, (2) dinamis, (3) spesifik
lokasi, (4) terpadu, dan (5) sinergis antar komponen teknologi yang diterapkan
(Balittra, 2012).
Selama ini peningkatan hasil padi melalui pendekatan PTT sudah
berkembang di lahan irigasi. Berbagai perpaduan komponen teknologi yang
sifatnya saling sinergis, kompatibel, dan saling melengkapi telah dianjurkan
sebagia usaha untuk meningkatkan produksi padi yang lebih efisien,
menguntungkan dan berkesinambungan. Dengan pendekatan PTT maka dari 28
kabupaten sejak tahun 2002-2003 produksi padi irigasi mengalami peningkatan
hasil rata-rata 19% dan pendapatan petani 15% (Balitbang Pertanian, 2007).
Oleh karena itu di lahan rawa pasang surut, pendekatan PTT untuk

3
meningkatkan hasil panen padi sudah dirasa perlu untuk diterapkan sehingga
produksi padi dan kesejahteraan petani semakin membaik.
Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mempelajari, mengkaji, dan
memahami sistem budidaya lahan sawah pasang surut
menggunakan
pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tahapan Pelaksanaan PTT Padi di Lahan Pasang Surut
Pengembangan PTT di lahan pasang surut didasarkan kepada masalah dan
kendala yang ada di lokasi setempat yang diketahui melalui penelaahan
pemahaman pedesaaan dalam waktu singkat (Partisipatory Rural Appraisal,
PRA) sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 1.

Gambar 1. Strategi pengembangan model PTT padi lahan pasang surut


Sumber: Pedoman Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Pasang Surut, Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007

Langkah pertama pengembangan PTT ialah dengan pelaksanaan PRA di


daerah pengembangan guna menggali permasalahan utama yang dihadapi petani.
Melalui PRA, keinginan dan harapan petani dapat diidentifikasi, seperti
lingkungan biofisik, kondisi sosial-ekonomi, budaya petani setempat dan
masyarakat sekitarnya.
Langkah kedua adalah penyusunan komponen teknologi yang sesuai
dengan karakteristik dan masalah di daerah pengembangan. Komponen
teknologi tersebut bersifat dinamis karena akan mengalami perbaikan dan
perubahan menyesuaikan dengan perkembangan inovasi dan masukan-masuka
dari petani dan masyarakat setempat.
Langkah ketiga adalah penerapan teknologi utama PTT dalam bentuk
pembuatan demonstrasi plot (demplot) seluas 4.0 ha sebagai percontohan bagi
hamparan sawah yang luasnya 100 ha. Sejalan dengan itu diperagakan

4
komponen teknologi alternatif pada luasan 1 ha dalam bentuk superimpose
trial, sebagai sarana untuk mencari teknologi alternatif yang nanti berguna untuk
mensubstitusi komponen teknologi yang kurang sesuai (Balitbang Pertanian,
2007).
Identifikasi Karakteristik dan Kendala dalam Pengelolaan Lahan Rawa
Pasang Surut untuk lahan sawah
Berdasarkan pengaruh luapan pasang, khususnya pada musim hujan,
wilayah rawa pasang surut dibagi dalam 4 (empat) wilayah tipe luapan, yaitu
tipe luapan A, B, C dan D (Gambar 2). Dalam satuan kawasan rawa pasang surut
terdapat sekitar 10-20% wilayah tipe luapan A, 20-30% wilayah tipe luapan B
dan D, dan 60-70% wilayah tipe luapan C. Berdasarkan sifat tanah dan
kendalanya dalam pengembangan pertanian, lahan rawa pasang surut dibagi
dalam 4 (empat) tipologi lahan, yaitu (1) lahan potensial, (2) lahan sulfat masam,
(3) lahan gambut, dan (4) lahan salin.

Gambar 2. Tipologi lahan rawa pasang surut berdasarkan pengaruh luapan pasang

Disebut lahan potensial karena mempunyai kendala lebih ringan


dibandingkan dengan lahan sulfat masam atau lahan gambut, antara lain
kemasaman tanah sedang (pH tanah > 4,0-4,5), lapisan pirit ada pada kedalaman
> 100 cm, kadar aluminium, dan besi rendah. Disebut lahan sulfat masam karena
mempunyai kendala lebih berat karena pirit berada pada kedalaman antara 50100 cm dan sebagian pada kedalaman > 100 cm, pH tanah 4.0-4.5 yang apabila
teroksidasi menurunkan pH menjadi < 3.5. Selain itu, tipologi lahan sulfat
masam ini juga mempunyai kadar Al dan Fe yang cukup tinggi. Berdasarkan
kedalaman pirit dan tingkat intensitas oksidasi yang terjadi, lahan sulfat masam
dibagi dalam 2 (dua) tipologi yaitu (1) lahan sulfat masam potensial dan (2)
lahan sulfat masam aktual.
Disebut lahan gambut karena adanya lapisan gambut pada lapisan atas
setebal > 50 cm dengan kadar bahan organik > 20%. Berdasarkan ketebalannya,
lahan gambut dibagi dalam 4 (empat) tipologi lahan, yaitu gambut dangkal

5
(apabila tebal gambut > 50 - 100 cm), gambut sedang (tebal gambut 101 - 200
cm), gambut dalam (tebal gambut 201 - 300 cm), dan gambut sangat dalam
(tebal gambut > 300 cm). Lahan gambut mempunyai sifat tersendiri berbeda
dengan tipologi lainnya antara lain adanya lapisan gambut dengan kerapatan
lindak (bulk density) < 0.1 g/cm3 sehingga daya dukung lahan terhadap beban
sangat rendah. Selain itu, sifat khas lainnya yaitu kahat (defisiensi) hara mikro,
terutama Cu dan Zn. Adapun disebut lahan salin karena mempunyai kendala
berupa salinitas akibat pengaruh intrusi air laut dan umumnya tekstur kasar
(berpasir) karena berada pada dataran pantai (coastal plain).
Berdasarkan jenis tanahnya menurut USDA Soil Taxonomy, tanah-tanah
di lahan rawa dapat dimasukan ke dalam kelompok besar (Great group) (1)
tanah alluvial marin (Sulfaquent, Sulfaquept Hydraquent, Fluvaquent), (2) tanah
alluvial
sungai
(Endoaquent,
Endoaquept),
(3)
tanah
gambut
(Haplofibrist/Haplohemist, Sulfohemist/Sulfosaprist, Sulfohemist/Sulfosaprist).
Dari ketiga kelompok besar tanah tersebut, kelompok tanah alluvial marin
banyak ditemukan pada tipologi rawa pasang surut dan rawa pantai, kelompok
tanah alluvial sungai banyak ditemukan di rawa lebak, sedang kelompok tanah
gambut banyak ditemukan baik di rawa pasang surut maupun rawa lebak, dan
sedikit di tipologi rawa pantai (Nursyamsi dan Noor, 2012).
Berdasarkan sifat dan karakteristik tipe lahan yang ada pada lahan rawa
pasang surut, Maka dapat diketahui kendala dan masalah yang umum dihadapi
petani di dalam usahatani padi lahan rawa pasang surut adalah sebagai berikut;
a. Lahan potensial
Masalah kesuburan tanah yang rendah
b. Lahan sulfat masam
pH tanah sangat rendah (sangat masam)
Jumlah ion Fe (besi) dan Al (alumunium) yang cukup tinggi pada tanah
menyebabkan keracunan Fe dan Al pada tanaman
Kahat hara P dan K
c. Lahan gambut
Konsentrasi asam-asam organik tinggi
pH rendah
Kahat hara N, P, K, dan Si
Kahat hara mikro (Cu dan Zn)
d. Lahan salin
Konsentrasi garam (NaCl) pada tanah tinggi, terutama pada musim kemarau
Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah spesifik lokasi untuk pertanaman padi di lahan rawa
pasang surut merupakan kunci keberhasilan pertama dalam tahapan penerapan
PTT selanjutnya. Sebagai petunjuk awal dalam pemecahan permasalahan tanah,
air, dan hara di lahan rawa pasang surut menurut tipe lahan, usaha-usaha
perbaikan (secara teknis) yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Lahan Potensial
Tidak memerlukan penambahan amelioran, praktek budidaya dengan
teknolgi PTT dapat dilakukan dengan kendala yang minimal

6
b.

c.

d.

Lahan sulfat masam


Pengaturan tata air mikro, dengan memasang pintu air (flapgate) searah,
yaitu membiarkan air dari sungai (pH netral) masuk ke lahan
(mendorong pintu air), menggenangi lahan, lalu tidak keluar sewaktu
air surut. Dengan demikian, lambat laun pH tanah naik mendekati netral
Pintu air perlu diatur untuk dapat ditutup pada saat kemarau sehingga
terhindar dari drainase berlebihan
Parit-parit drainase dibuat untuk menampung dan membuang besi di
dalam petakan
Ameliorasi lahan dengan mengaplikasi kapur pertanian (kaptan)
sebanyak 1-2 ton/ha, disebar ke seluruh permukaan tanah, lalu
dibenamkan dengan alat bajak sedalam 10 cm untuk menetralkan Al
tanah.
Pemberian pupuk P (sebaiknya batuan fosfat) dan K (KCl) diberikan
berlebih (1.25 kali dosis normal) untuk mengimbangi pirit.
Lahan gambut
Kapur pertanian sebanyak 0.5 1.0 ton/ha disebarkan di permukaan
lahan lalu dibenamkan 10 cm untuk menetralkan asam-asam organik
dan memperbaiki ketersediaan hara
Pemberian pupuk N (Urea), P (SP36), dan K (KCl)
Perlu juga diberikan hara mikro CuSO4 (terusi besi ) dan ZnSO4 dengan
cara disemprot lewat daun
Parit drainase dan pintu air harus dangkal, untuk mencegah gambut
tidak mengering dan menjadi pseuodosand
Pintu air perlu diatur dan ditutup pada saat musim kemarau sehingga
terhindar dari drainase berlebih (over drain).
Lahan salin
Penanaman padi dilakukan pada musim penghujan dengan varietas
toleran salinitas
Perlu dibuat tanggul-tanggul yang mengelilingi petakan sawah untuk
menahan intrusi air laut masuk langsung ke lahan
Pembasuhan (flushing) perlu dilakukan dengan memasukan air ke lahan
pada saat musim hujan.
Penyiapan Lahan Tanam

Berbeda dengan lahan sawah irigasi, kendala usahatani padi pada lahan
pasang surut lebih beragam, sehingga penyiapan lahan untuk budidaya
memerlukan teknologi yang relatif berbeda. Menurut Simatupang dan Nurita
(2013) sistem pengelolaan tanah konservasi dapat diaplikasikan pada lahan
pasang surut dengan tiga cara yaitu, (1) penyiapan lahan dengan tajak (cara
tradisional), (2) tanpa pengolahan (zero tillage), dan (3) full tillage with
regulations (FTR). Cara pertama dan kedua merupakan inovasi teknologi yang
dapat dikembangkan di lahan rawa pasang surut dimana mampu meningkatkan
produksi tanaman.
Pada cara pengolahan tanah secara tradisional dengan tajak, petani
menebas dan membenamkan gulma pada kedalaman 3 -5 cm saja agar pirit tidak

7
terpapar. Biasanya dilakukan pada saat tanah digenangi air sedalam 5 10 cm.
Namun demikian, cara ini menjadi kurang efisien karena untuk mempersiapkan
lahan sampai siap tanam membutuhkan kira-kira 45 50 orang/hari/ha.
Ditambah lagi, biaya ongkos tenaga kerja dan alat menjadi sangat mahal dan
tidak cocok untuk petani daerah pasang surut yang rata-rata memiliki
pendapatan rendah dan terbatas (Ramli et al. 1992).
Penyiapan lahan dengan teknologi Tanpa Olah Tanah (TOT) atau zero
tillage dapat diaplikasikan untuk penyiapan lahan sawah pada lahan pasang
surut. Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan cara tebas atau penyemprotan
herbisida;
Tebas
Gulma atau rumput ditebas dengan tajak besar di saat lahan berair
Rumput dibiarkan terhampar membusuk selama dua minggu, setelah itu
digumpal dan dibiarkan dua minggu kemudian gumpalan dibalik lagi.
Setelah gumpalan rumput membusuk sepenuhnya, lalu gumpalan tersebut
dihamparkan secara merata pada seluruh permukaan petakan sebagai
sumber bahan organik bagi tanaman.
Herbisida
Sewaktu penyemprotan herbisida, petakan diusahakan tidak
digenangi/tergenang oleh air untuk mencegah kontaminasi bahan beracun
dari herbisida ke dalam air dan dapat menyebabkan polusi
Gulma dapat disemprot dengan herbisida nonselektif seperti Glyphosate
atau Paraquat
Penyemprotan dilakukan lebih awal agar waktu tanam padi tidak tertunda
karena menunggu gulma membusuk.
Menurut Simatupang (2007) dengan pengaplikasian teknologi zero tillage
menggunakan herbisida dapat menekan penggunaan jumlah tenaga kerja sebesar
25% dibandingkan sistem tebas, dan juga mampu mencegah terjadinya
keracunan Fe pada tanaman.
Inovasi teknologi penyiapan lahan lainnya pada lahan pasang surut yaitu
teknologi olah tanah sempurna bersyarat (FTR). Cara ini merupakan sistem
pengolahan tanah secara penuh dengan beberapa syarat antara lain; (1)
kedalaman lapisan pengolahan tidak lebih dari 20 cm atau dilakukan pada
kedalaman 12 15 cm, (2) ketika menyiapkan lahan, lahan harus dalam keadaan
tergenang, dan (3) menjaga kondisi drainase lahan agar tetap tergenang oleh air.
Sistem tata air baik makro maupun mikro menjadi sangat penting dan
merupakan kunci keberhasilan pengelolaan lahan rawa pasang surut.
Salah satu penemuan petani Banjar adalah ilmu pengetahuan teknologi
kearifan lokal dalam pembukaan (reklamasi), pengelolaan, dan pengembangan
pertanian lahan rawa. Lahan rawa pasang surut telah dimanfaatkan selama
berabad-abad oleh penduduk lokal dan pendatang secara cukup berkelanjutan.
Pada sistem kearifan lokal petani Banjar dan Bugis, persiapan lahan dilakukan
cukup dengan sistem bajak atau olah minimum. Tanah tidak diganggu,
sedangkan rumpun dibusukkan lalu ditebarkan atau dihamparkan pada
permukaan petak sebagai sumber hara bagi tanaman. Cara petani tradisional ini
dapat meningkatkan produktifitas padi sekaligus menjaga kelestarian lahan
pasang surut. Menurut Conway (1985) dalam (Haris, 2001) , pemanfaatan secara
tradisional/kearifan lokal itu dicirikan oleh:

Pemanfaatan berganda (multiple use) lahan, vegetasi, dan hewan. Di lahan


rawa, masyarakat tidak hanya menanam dan memanen padi, sayuran, dan
kelapa, tetapi juga menangkap ikan, memungut hasil hutan, dan berburu
hewan liar

Penerapan teknik budidaya dan varietas tanaman yang secara khusus


disesuaikan dengan kondisi lingkungan lahan rawa tersebut.
Sistem orang Banjar merupakan sistem pertanian tradisional lahan rawa
yang akrab dan selaras dengan alam, yang disesuaikan dengan situasi ekologis
lokal seperti tipologi lahan dan keadaan musim yang erat kaitannya dengan
keadaan topografi, kedalaman genangan, dan ketersediaan air. MacKinnon et al.
(1996) menilai sistem ini sebagai sistem multicropping berkelanjutan yang
berhasil pada suatu lahan marjinal, sistem pertanian yang produktif dan self
sustaining dalam jangka waktu lama. Hal ini terlihat dari penerapan sistem
surjan Banjar dan pola suksesi dari pertanaman padi menjadi kelapapohon,
buah-buahanikan yang diterapkan petani Banjar (Haris, 2001).

Gambar 3. Sistem Surjan yang merupakan produk kearifan lokal masyarakat Banjar
sampai saat ini masih terus diterapkan dalam usaha budidaya tanaman terpadu di lahan
pasang surut
Sumber: http://image.google.com

Komponen Teknologi PTT


Komponen teknologi yang dapat diintroduksikan dalam pengembangan
usahatani padi melalui pendekatan PTT pada lahan pasang surut adalah sebagai
berikut;
1. Penggunaan varietas unggul yang toleran terhadap karakteristik lahan,
lingkungan, bentuk gabah maupun rasa nasi yang diinginkan masyarakat
setempat
2. Benih yang berkualitas (kemurnian dan daya kecambah tinggi)
3. Jumlah bibit 2 - 3 batang per lubang dan ditanam dengan sistem jajar
legowo 2:1, 4:1, dan lainnya dengan pupulasi minimum 250 ribu rumpun
/ha, atau ditanam dengan sistem tanam benih langsung (tabela)
4. Pengelolaan tata air mikro dengan sistem tata air satu arah dengan saluran
keliling dan kemalir, pntu-pintu air (flapgate) masuk dan keluar serta
sloplog. Saluran kemalir dibuat dengan interval 6 - 8 m yang disertai
caren-caren
5. Mengaplikasikan pupuk urea tablet/granul dengan dosis 200 kg/ha. Perlu
diperhatikan bahwa pemberian pupuk N berdasarkan pembacaan Bagan

9
Warna Daun (BWD) bisa rancu karena gejala keracunan besi dan
defisiensi hara N sukar dibedakan
6. Pemberian pupuk P dan K didasarkan pada status hara tanah. Pemakaian
Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) atau menggunakan petak omisi di
lahan pasang surut masih perlu penelitian yang lebih mendalam.
7. Ameliorasi lahan dengan mengaplikasi 1 - 2 ton/ha kapur pertanian
8. Pengendalian gulma secara terpadu
9. Pengendalian hama dan penyakit tanaman secara terpadu (PHT)
10. Panen beregu dan pemrosesan pascapanen menggunakan alat perontok.
Berdasarkan sifatnya, komponen-komponen teknologi ini dapat dipilah
menjadi dua bagian. Pertama, teknologi untuk pemecahan masalah setempat
atau spesifik lokasi. Kedua, teknologi untuk perbaikan cara budidaya yang lebih
efisien dan efektif. Dalam pelaksanaanya, tidak semua komponen teknologi
diterapkan sekaligus, terutama di lokasi yang memiliki masalah spesifik. Namun
ada enam komponen teknologi yang dapat diterapkan bersamaan (compulsory
technology) sebagai penciri pendekatan melalui PTT, yaitu:
1.

Varietas unggul baru yang sesuai di lokasi setempat


Varietas unggul merupakan teknologi yang lebih nyata kontribusinya
terhadap peningkatan produktifitas tanaman dan dapat dengan mudah diadopsi
petani karena murah dan penggunaanya lebih praktis. Dengan dilepaskannya
berbagai varietas padi lahan rawa pasang surut (Tabel 1), petani pada
agroekosistem ini dapat memilih varietas yang sesuai dengan kondisi setempat.
Tabel 1. Varietas unggul padi lahan pasang surut
Umur
(Hari)

Tinggi
Tanaman
(cm)

Tekstur
nasi

Banyuasin

120

105

pulen

Batanghari

125

110

Pera

Dendang

125

100

Pulen

Indragiri

117

105

Sedang

Punggur

117

100

Sedang

Martapura
Margasari

125
125

120
120

Pera
Pera

Siak Raya

120

120

Pera

Air
Tenggulang

125

120

Pera

Lambur

115

100

Pulen

Mendawak

115

100

pulen

Sei Lahan

125

100

Pera

IR42

140

110

Pera

Varietas

Tahan/Toleran
Wereng coklat 3, blas, hawar daun,
bakteri III, keracunan Fe, Keracunan Al
Wereng coklat 1&2, blas, hawar daun,
bakteri III, keracunann Fe
Wereng coklat 1 & 2, blas, bercak
coklat, keracunan Fe, Keracunan Al
Wereng coklat 1 & 2, blas, hawar daun,
bakteri III, keracunan Fe, Keracuna Al
Wereng coklat 1 & 2, blas, keracunan
Fe, Keracunan Al
Keracunan Fe, blas
Keracunan Fe, blas
Hawar daun bakteri III & IV, blas,
keracunan Fe, Keracunan Al
Wereng coklat 2, blas, hawar daun
bakteri III & IV, bercak coklat,
keracunan Fe, Keracunan Al
Blas, keracunan Fe, Keracunan Al,
salinitas
Blas, bercak coklat, keracunan Fe,
salinitas
Wereng coklat 2 & 3, blas, bercak coklat,
salinitas
Wereng coklat 1 & 2, hawar daun
bakteri, blas, kemasaman tanah

Sumber: Pedoman Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Pasang Surut, Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007

10
Sebagai contoh pada lahan rawa pasang surut tipe A dan B yang
didominasi sebagian besar oleh tanah salin dan sulfat masam, maka petani dapat
menggunakan varietas padi toleran terhadapat salinitas tinggi seperti Mendawak
dan sei Lahan pada petakan yang lebih dekat dari sumber air pasang surut,
sedangkan pada lahan sulfat masam petani dapat menanam padi dengan varietas
yang toleran terhadap keracunan Fe dan Al seperti Banyuasin, Indragiri, atau
Siak Raya. Pada daerah peralihan dimana lahan sawah sulfat masam yang
dipengaruhi oleh pasang surut intensif sehingga memiliki salinitas tinggi, maka
dipilih padi varietas Lambur yang tahan/toleran terhadap kondisi cekaman
keracunan Fe dan Al serta salinitas tinggi.

Dendang

Tapus

Siak Raya

Banyuasin

Air Tenggulang

Lambur

Batanghari

Gambar 4. Berbagai jenis varietas padi sawah pasang surut


Sumber: http://cybex.deptan.go.id/

2.

Benih bermutu (bersertifkat dan vigor tinggi)


Penggunaan benih bersertifikat dan benih dengan vigor tinggi sangat
dianjurkan, karena (1) benih bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat
dengan perakaran yang baik dan padat, (2) akan menghasilkan perkecambahan
dan pertumbuhan yang seragam, (3) pada saat ditanam pindah dari persemaian,
bibit dari benih yang baik dapat tumbuh lebih cepat dan tegar, dan (4) benih
yang baik akan memperoleh hasil yang tinggi.
Benih yang baik adalah benih yang memiliki kerapatan isi/densitas gabah
yang tinggi, memiliki densitas spesifik gravitasi minimal 1.20. pada benih
dengan gabah densitas tinggi, lebar dan berat daun serta jumlah penggunaan
karbohidrat oleh bibit akan lebih baik dari bibit yang berasal dari gabah dengan
densitas rendah. Gabah dengan densitas tinggi memiliki abnormalitas bibit yang
rendah.
3.

Bibit, Persemaiaan Bibit, dan Sistem Tanam


Hasil penelitian sebenarnya menunjukkan bahwa bibit muda akan
menghasilkan anakan yang lebih baik dibandingkan dengan bibit tua. Namun
pada sawah pasang surut yang sukar dikendalikan airnya dan endemik hama
keong mas yang dapat merusak pertumbuhan bibit muda oleh sebab itu
dianjurkan menggunakan bibit yang lebih tua. Jumlah bibit yang ditanam 1-3 per

11
lubang tanam. Jarak tanam yang digunakan dengan sistem tanam tegel 20 cm x
20 cm (25 rumpun/m2), 25 cm x 25 cm (16 rumpun/m2) atau dengan sistem
legowo 2:1, 4:1, atau tanam dengan sistem tabela (untuk efisiensi tenaga kerja).
Rumpun yang hilang karena tanaman mati, terlewati ditanam, atau rusak karena
hama segera ditanami ulang tidak lebih dari 14 hari setelah tanam. Bibit yang
ditanam berasal dari persemaian yang sama.
Keuntungan Cara Tanam Jajar Legowo (Bobihoe, 2011)

Pada cara tanam Jajar Legowo 2:1, semua tanaman seolah-olah berada
pada barisan pinggir pematang, sedangkan pada cara tanam Jajar Legowo
4:1, separuh tanaman berada pada bagian pinggir (mendapat manfaat
border effect).

Jumlah rumpun padi meningkat sampai 33%/ha

Meningkatkan produktivitas padi 12-22%

Memudahkan pemeliharaan tanaman

Masa pemeliharaan ikan dapat lebih lama, yaitu 70-75 hari dibanding cara
tandur jajar biasa yang hanya 45 hari. Hasil ikan yang diperoleh dapat
menutupi sebagian biaya usaha tani (Sistem Pertanian Terpadu Minapadi)

Dapat meningkatkan pendapatan usahatani antara 30-50%.

Gambar 5. Sistem tanam legowo 4:1 (kiri) dan 2:1 (kanan)


Sumber: http://image.google.com

Sistem tanam Tabela


Pada lahan sawah pasang surut yang sudah memilki pintu air, berarti
jumlah debit air yang keluar masuk lahan dapat dikendalikan, maka cara tanam
dengan sistem tabela dapat diterapkan oleh petani. Dalam sistem tabela petani
membutuhkan jenis benih yang bermutu agar pertumbuhan tanaman merata.
Sebelum disebar ke lahan benih terlebih dahulu direndam selama 24 jam untuk
menginisiasi tumbuhnya kecambah, lalu diangin-anginkan atau diperam selama
24 jam, kemudian baru siap ditanam. Waktu penaburan benih padi tabela
biasanya dilakukan petani pada saat air surut atau pasang kecil agar benih tidak
hanyut terbawa air pasang.
Pada sistem tabela, masalah pengelolaan tanah dan sistem drainase lahan
merupakan kunci pokok untuk mendapatkan pertumbuhan benih yang merata.
Tanah harus diolah sempurna sampai melumpur, dan permukaan tanah pada
petakan harus rata. Kemudian masalah tata air mikro perlu diperhatikan agar
benih tidak mati akibat genangan air berlebih. Kondisi petakan yang didrainase
perlu dikontrol sampai umur 7 10 hari setelah tanam. Setelah masa ini, maka
petakan dapat digenangi air kembali.

12
Menurut Ananto et al (1997) Sistem tabela yang diterapkan pada usahatani
padi dapat mengurangi tenaga kerja. Namun, sistem ini pun menghadapi
kendala, antara lain:
Benih tidak tumbuh bila jatuh di permukaan tanah yang tergenang air
Tanam sebar langsung membutuhkan kondisi tanah yang rata dan sempurna,
sehingga membutuhkan biaya pengolahan tanah lebih banyak
Kebutuhan benih lebih banyak
Benih mudah terserang burung atau tikus
Tanaman mudah rebah
Pada kondisi tergenang benih akan hanyut terbawa air, sehingga
memerlukan tenaga kerja untuk penyulaman
Tenaga untuk penyiangan lebih banyak dibanding tanam pindah

Gambar 6. Aplikasi sistem tabela dengan alat drum seeder


Sumber: http://bbp2tp.litbang.pertanian.go.id/, www.knowledgebank.irri.org

Untuk itu, pada sistem tabela ini dapat digunakan alat tanam larik tipe
drum (drum seeder) yang dirancang untuk mengatasi kelemahan cara tanam
tabela konvensional dengan prinsip kerja yang sangat sederhana (Gambar 6).
Benih dimasukkan ke tabung-tabung (tempat benih berbentuk drum) yang dapat
memuat 2 kg benih. Pada saat alat ditarik, benih akan keluar melalui lubang
yang ada dibagian kanan dan kiri drum. Tiap drum mempunyai dua macam
ukuran lubang, yaitu rapat dan renggang. Kapasitas kerja alat 8 jam/ha dengan
seorang operator dan satu pembantu dengan kebutuhan benih 35-40 kg/ha.
Dengan menggunakan alat tanam ini, benih dikecambahkan terlebih dulu
sebelum disebarkan di lahan yang telah diolah dan diratakan secara baik. Sistem
tabela sangat cocok di daerah yang tenaga kerjanya kurang dan mahal, selain itu
juga dapat menghemat penggunaan air. Kelebihan alat tanam ini bukan hanya
dari segi waktu untuk mempercepat kegiatan tanam dan mengurangi kebutuhan
benih, tetapi juga menguntungkan secara ekonomi. Bila bekerja efektif selama
30 hari per musim dengan kapasitas kerja 8 jam/ha/hari, biaya operasi alat ini
hanya sekitar Rp.150.000,- sampai 200.000/ha. Biaya ini sangat murah bila
dibandingkan dengan biaya tanam pindah yang berkisar Rp.500.000 Rp.700.000 (BPTP Sumsel/ Badan Litbang Pertanian, 2013)
Namun Secara umum, produktifitas padi tabela masih lebih rendah
dibanding padi yang ditanam dengan cara konvensional (tanam pindah).
Menurut Jumakir dan Endrizal (2009) dilihat dari R/C ratio menunjukkan baik
sistem tanam pindah maupun tabela layak secara ekonomi, walaupun dengan

13
input yang lebih rendah dari sistem tanam pindah namun sistem tabela masih
lebih kurang menguntungkan dibanding sistem tanam pindah. Hal Ini
dikarenakan menurut Pane (2003) hingga kini Indonesia belum mempunyai
varietas padi yang sesuai khusus untuk tabela. Karakterisiik benih yang cocok
untuk tabela adalah mampu berkecambah dalam kondisi aerobik, perakaran
dalam dan tidak terlalu tinggi sehingga tidak mudah rebah, jumlah anakan
sedikit tetapi mempunyai malai yang panjang dengan jumlah gabah bernas
tinggi, kemampuan bertunas kurang, umur lebih panjang, daun bendera lebih
luas, malai besar dengan kapasitas sink lebih tinggi, gabah tidak mudah rontok
sehingga kehilangan hasil rendah.
4.

Pemberian urea granul/tablet dan Pemupukkan P dan K berdasarkan


status hara tanah
Lahan rawa pasang surut tipe A yang selalu tergenang, pemupukkan harus
dilakukan dengan hati-hati. Bila mungkin diusahakan mengaplikasikan
penyemprotan pupuk cair langsung melalui daun. Pada prinsipnya, penggunaan
pupuk perlu mengutamakan efektifitas dan efisiensi. Karena itu pemberian
pupuk N berdasarkan BWD kurang efektif karena tidak menggambarkan kondisi
status N tanah aktual. Selain itu, aplikasi pupuk urea prill pada lahan pasang
surut menjadi tidak efisien karena dapat larut dan hanyut terbawa oleh genangan
dan pasang surut air. Di lahan rawa pasang surut, pemberian pupuk N sebaiknya
dalam bentuk urea tablet/granul yang lebih berat dan lambat dalam melepas N,
sehingga N tidak cepat larut ke dalam air dan butiran pupuk tidak mudah hanyut
oleh arus air. Dosis pupuk N yang diberikan harus berdasarkan status hara tanah,
namun rata-rata pemberian pupuk N tablet/granul 200 kg/ha urea atau 20 g/m2
disesuaikan dengan kerapatan jarak tanam. Pemberian pupuk P dan K dosisnya
disesuaikan berdasarkan status hara tanah yang besaranya tersaji pada Tabel 2.
Tabel 2. Acuan umum pemupukan Fosfor dan Kalium pada tanaman padi lahan
rawa pasang surut
Kelas status hara
P dan K tanah

Kadar hara terekstrak HCL 25%

Dosis acuan pemupukam

(mg P2O5/100g)

(mg K2O/100g)

P(kg SP-36/ha)

K (kg KCl/ha)

Rendah

< 20

20

100

100

Sedang

20 40

10 - 20

75

50

Tinggi

> 40

> 20

50

Sumber: Pedoman Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Pasang Surut, Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007

Pemberian pupuk hara mikro seperti CuSO4 dan ZnSO4 sangat diperlukan
terutama pada lahan rawa pasang surut yang memiliki tipe lahan gambut maupun
bergambut. Defisiensi unsur Cu dan Zn ini berhubungan dengan kadar bahan
organik yang tinggi yang mampu mengkelat sebagian besar hara-hara mikro dan
kation-kation polivalen lainnya menjadi kompleks yang stabil dan tidak tersedia
bagi tanaman. aplikasinya bisa disemprotkan ke daun langsung atau dilarutkan
terlebih dahulu dengan dosis yang berbeda-beda berdasarkan nilai pH tanah
seperti tertera pada Tabel 3 dan Tabel 4.

14
Tabel 3. Kebutuhan pupuk Cu tanaman padi pada lahan gambut/bergambut, dan salin
pH Tanah

Nilai uji Cu Tanah (ekstraksi 1 N HCl)


< 1 ppm
2.0 kg CuSO4 diberikan sebagai pupuk
dasar, dilarutkan dalam 250 liter air/ha
lalu disemprotkan ke tanah sewaktu
perataan tanah atau dicampur rata
dengan pupuk SP 36 yang juga
diberikan sebagai pupuk dasar

> 1 ppm
Pemberian Zn melalui daun (foliar
application), yaitu 2.0 kg ZnSO4
dilarutkan dalam 250 liter air/ha lalu
disemprotkan ke tanaman padi pada
fase vegetatif akhir

6.0 6.5

1.0 kg CuSO4 diberikan sebagai pupuk


dasar, dilarutkan dalam 250 liter air/ha
lalu disemprotkan ke tanah sewaktu
perataan tanah atau dicampur rata
dengan pupuk SP 36 yang juga
diberikan sebagai pupuk dasar

Bibit padi dicelupkan sebelum


ditanam pada larutan 5% CuSO4
selama 2 menit

Tidak perlu diberikan Cu

< 6.0

Bibit padi dicelupkan sebelum ditanam


pada larutan 5% CuSO4 selama 2
menit, biasanya disatukan dengan
ZnSO4 bila tanah kahat Zn

> 6.5

Sumber: Pedoman Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Pasang Surut, Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007
Tabel 4. Kebutuhan pupuk Zn tanaman padi pada lahan gambut/bergambut, dan salin
pH Tanah

Nilai uji Zn Tanah (ekstraksi 1 N HCl)


< 1 ppm
5.0 kg ZnSO4 diberikan sebagai pupuk
dasar, dilarutkan dalam 250 liter air/ha
lalu disemprotkan ke tanah sewaktu
perataan tanah atau dicampur rata
dengan pupuk SP 36 yang juga
diberikan sebagai pupuk dasar

> 1 ppm
Pemberian Zn melalui daun (foliar
application), yaitu 2.5 kg ZnSO4
dilarutkan dalam 250 liter air/ha lalu
disemprotkan ke tanaman padi pada
fase vegetatif akhir

6.0 6.5

2.5 kg ZnSO4 diberikan sebagai pupuk


dasar, dilarutkan dalam 250 liter air/ha
lalu disemprotkan ke tanah sewaktu
perataan tanah atau dicampur rata
dengan pupuk SP 36 yang juga
diberikan sebagai pupuk dasar

Bibit padi dicelupkan sebelum


ditanam pada larutan 1% ZnSO4
selama 2 menit

< 6.0

Bibit padi dicelupkan sebelum ditanam


pada larutan 1% ZnSO4 selama 2 menit

Tidak perlu diberikan Zn

> 6.5

Sumber: Pedoman Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Pasang Surut, Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007

Bahan Organik
Lahan rawa pasang surut tipologi potensial dan sulfat masam mempunyai
prospek yang baik untuk diaplikasikan dengan bahan organik. Lapisan pirit
cukup dalam, sehingga pengolahan tanah dapat dilakukan dengan mesin seperti
traktor, sehingga dapat menghemat tenaga dan waktu. Apabila ditanami secara
intensif, maka pemberian pupuk organik sangat dianjurkan.

15
Pupuk organik dalam bentuk yang telah dikomposkan ataupun segar
berperan penting dalam perbaikan sifat kimia, fisika, dan biologi tanah, juga
sebagai sumber nutrisi tanaman walaupun jumlahnya sedikit dan lambat tersedia.
Sumber bahan organik dapat berasal dari sisa-sisa tanaman seperti jerami padi,
bagian batang dan daun tanaman yang tidak dipanen, limbah rumah tangga,
kotoran ternak, dan sekam padi.
5.

Tata air mikro yang intensif


Di lahan rawa pasang surut, pengelolaan air secara makro maupun mikro
sangat penting. Terutama untuk mencuci senyawa beracun seperti pirit/besi atau
untuk mengurangi kemasaman tanah. Penataan dan pengelolaan air secara makro
telah dilakukan pemerintah di bawah Departemen Pekerjaan Umum dengan
membangun saluran-saluran navigasi, primer, dan sekunder dengan sarana pintupintu air di muara saluran tersier. Jaringan tata air di tingkat makro ini sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan di tingkat mikro. Berikut beberapa jenis
sistem tata air (irigasi dan drainase) yang dapat diterapkan di lahan rawa pasang
surut (Lindung, 2014);
Sistem parit/handil
a.
Ketentuan umum
Parit dibuat dari pinggir sungai yang mengarah tegak lurus ke arah daratan
(Gambar 7)
Di kiri dan kanan parit dibuat pematang-pematang, yang biasanya
digunakan juga sebagai jalan sekaligus sebagai tanda batas kepemilikan
lahan
Parit dapat dipandang sebagai saluran sekunder, bila sungai dipandang
sebagai saluran primer
Parit dibuat secara bertahap dan diselaraskan dengan kondisi perubahan
lahan, pengaruh pasang surut (kedalaman permukaan air) dan, ketebalan
gambut
Penerapan sistem parit, diawali dengan pembukaan lahan dengan merintis
dan menebang pohon-pohon besar
Pekerjaan ini dimulai dari tepi sungai tegak lurus ke arah pedalaman.
b. Ciri sistem parit
Lahan usahatani umumnya berjarak 0.5 5 km dari tepi sungai ke arah
pedalaman, atau sampai ke ketebalan gambut maksimum 1 meter.
Di bagian tepi sungai dibuat pematang, karena sudah ada tanggul sungai
yang terbentuk secara alami, sehingga bila sungai pasang atau banjir,
luapan air akan tertahan dan genangan pada lahan usaha yang ditimbulkan
terbatas.
Parit dibuat dengan fungsi ganda, yaitu sebagai saluran drainase
(pembuangan) apabila air surut, dan sebagai saluran irigasi (memasukkan;
mengairi) apabila air pasang. Aliran air dalam parit adalah bolak balik atau
dua arah.
Untuk mempertahankan keberadaan air di petakan lahan, maka pada parit
dipasang tabat untuk mencegah keluarnya air sewaktu surut, tetapi sewaktu
pasang, air dapat leluasa masuk dalam petakan.
Untuk mencegah agar parit tidak tersumbat oleh endapan lumpur, maka
diperlukan pekerjaan pembuangan/pengangkatan lumpur sebulan sekali.

16
Lebar parit berukuran 5 meter dan semakin menyempit ke arah hulu parit.
Pada kanan dan kiri parit dibuat pematang/tanggul untuk ditanami tanaman
penguat (pohon buah-buahan) agar tanggul tidak longsor. Di atas
pematang ini juga dapat dibuat ponsok.
Pada setiap 500 meter dibuat parit cacing yang berfungsi untuk
memasukkan dan mengeluarkan air pada petakan pertanaman. Parit ini
berukuran lebar dan dalam 1 meter.

Gambar 7. Pengelolaan air sistem parit/handil


Sumber: Balai Pelatihan Pertanian Jambi

Sistem saluran garpu (Fork System)


Pengatuan tata air dengan sistem garpu (Gambar 8) dikembangkan oleh
Universitas Gajah Mada (UGM) pada lahan pasang surut, yaitu lahanlahan yang terletak di dataran pantai atau dataran dekat sungai; baik
terpengaruh langsung maupun tidak langsung oleh pasang surut
Untuk mengatur air pasang surut, maka dibuat pintu-pintu air yang dikenal
dengan flapgate yaitu pintu otomatis yang ketika air pasang, air akan
mendorong pintu sehingga air dapat masuk ke dalam parit-parit petakan
lahan. Sewaktu air surut, air akan tertahan di dalam parit-parit petakan
lahan
Struktur tinggi/operasional pintu-pintu air tersebut disesuaikan dengan
penggunaan lahannya, apakah untuk sawah, surjan, atau lahan kering
Kelemahan sistem garpu:
Biaya pembuatannya mahal karena dirancang untuk areal pertanian yang
luas dan menggunakan alat-alat berat. Lumpur yang mengendap dalam ruasruas saluran harus sering-sering diangkat agar tidak terjadi pendangkalan, ini
akan mempersulit proses pergantian air segar. Jika pada saluran terdapat pirit
yang telah teroksidasi dan tidak tercuci keluar, maka senyawa kuat yang
terbentuk akan membahayakan tanaman di atasnya.

17

Gambar 8. Pengelolaan air sistem garpu


Sumber: Balai Pelatihan Pertanian Jambi

Gambar 9. Pengelolaan air pada tingkat petakan sawah


Sumber: Balai Pelatihan Pertanian Jambi

Mengatasi kelemahan sistem garpu adalah dengan adanya pembuatan


saluran yang terpisah antara saluran irigasi (pemasukan air/inlet) dan saluran
drainase (pengeluaran air/outlet), atau dikenal sebagai Sistem Aliran Satu Arah.
Pada sistem ini (Gambar 9), setidaknya memerlukan 2 buah saluran tersier, yang
satu berfungsi sebagai saluran irigasi (inlet) dan yang satu lagi sebagai saluran

18
drainase (outlet). Kedua saluran tersier ini harus dilengkapi dengan pintu air
otomatis (flapgate) yang dapat membuka dan menutup dengan tenaga arus air.
Saluran irigasi akan membuka ketika air pasang, dan akan menutup ketika air
surut. Kondisi demikian diciptakan dengan meletakkan posisi pintu yang
berlawanan arah (Gambar 10). Tinggi rendahnya permukaan air dalam saluran
diatur dengan mengatur pintu outlet (drainase). Keuntungan sistem ini adalah
terjadinya pergantian air segar di dalam saluran secara lebih lancar, potensi
endapan lumpur di dalam saluran kuarter lebih kecil karena tercuci lebih mudah,
serta penumpukan senyawa beracun dan air masam akan dapat dihindari.

Gambar 10. Sistem pintu air otomatis (flapgate)


Sumber: Balai Pelatihan Pertanian Jambi

6. Pengendalian Gulma dan Hama Terpadu


Pengendalian gulma
Penumpukkan gulma dapat dikendalikan dengan cara pengolahan tanah
sempurna. Mengatur air di petakan sawah, menggunakan benih padi
bersertifikat, penggunaan kompos sisa tanaman dan kompos pupuk kandang, dan
menggunakan herbisida, apabila tenaga kerja langka dan mahal. Pengendalian
gulma secara mekanis seperti dengan gasrok sangat dianjurkan, dikarenakan cara
ini sinergis dengan pengelolaan lainnya. Namun cara ini hanya efektif dilakukan
apabila kondisi air di petakan sawah macak-macak atau tanah jenuh air, serta
tenaga kerja murah.

Gambar 11. Aplikasi Pengendalian gulma secara mekanis dengan teknologi

ekonomis Gasrok
Sumber: http://image.google.com

19
Keuntungan penyiangan dengan alat gasrok atau landak (Badan Litbang
Pertanian, 2007);
Ramah lingkungan (tidak menngunakan bahan kimia)
Lebih ekonomis, hemat tenaga kerja dibandingkan dengan penyiangan
biasa dengan tangan
Meningkatkan porositas dan memperbaiki aerasi tanah
Jika dilakukan bersamaan atau sesaat setelah pemupukkan akan
membenamkan pupuk ke dalam tanah sehingga efisiensi pemberian pupuk
lebih besar.
Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHT)
Konsep PHT adalah suatu pendekatan pengelolaan secara ekologik yang
multidisiplin dan memanfaatkan berbagai taktik pengendalian secara kompatibel
dalam satu kesatuan koordinasi sistem pengelolaan, sehingga tidak mengganggu
keseimbangan alami dan tidak menimbulkan kerugian besar. PHT merupakan
paduan dari beberapa cara pengendalian, diantaranya monitoring populasi dan
kerusakan tanaman.
Menurut Badan Litbang Pertanian (2012) strategi pengendalian hama
penyakit terpadu adalah sebagai berikut;
Menggunakan varietas tahan hama dan penyakit
Memilih tanaman yang sehat untuk ditanam
Melakukan pengendalian secara kultur teknis, Seperti: Pola tanam tepat,
Pergiliran tanaman, Waktu tanam yang tepat, Pemupukan yang tepat,
Pengelolaan tanah dan irigasi, Penggunaan tanaman perangkap, dan
Kebersihan lapangan
Pengamatan berkala di lapangan
Pemanfaatan musuh alami (predator)
Pengendalian secara mekanik
Pengendalian secara fisik
Penggunaan pestisida.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpada (PTT) merupakan
pendekatan sistem budidaya yang mengutamakan partisipasi masyarakat
lokal/setempat dalam mengidentifikasi dan mengumpulkan masalah-masalah
spesifik lahan. PTT merupakan suatu sistem yang bersifat komprehensif dan
terpadu dimana setiap komponen teknologi yang diterapkan bersifat sinergis satu
sama lain. PTT juga bersifat dinamis dalam prakteknya dimana input teknologi
yang diaplikasikan dalam PTT menyesuaikan dengan perkembangan
pengetahuan dan tradisi/kearifan lokal serta mengedepankan pemberdayaan
masyarakat.

20
Saran
Penerapan konsep PTT pada lahan sawah pasang surut perlu dukungan
penuh dari berbagai pihak terutama pemerintah. Input teknologi PTT menjadi
lebih kompleks jika diterapkan pada lahan sawah pasang surut. Perlu sosialisasi,
praktek, dan tenaga kerja yang membutuhkan investasi. Oleh karena itu
pemerintah sebagai pemilik kewenangan harus berperan aktif dalam memberikan
dukungan modal baik dana maupun penyediaan lahan. Selain itu, perlu adanya
sosialisasi yang intensif kepada masyarakat petani akan keutamaan dan
keuntungan sistem PTT padi pasang surut. Terakhir adalah dalam keseluruhan
proses implementasi sistem PTT perlu adanya pemantauan bersama dari
berbagai pihak dan evaluasi berkala agar sistem ini dapat terus berlanjut,
meningkatkan hasil produksi, meningkatkan kesejahteraan petani, dan tidak
menyebabkan penurunan kualitas lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Alihamsyah, T. 2002. Optimalisasi Pendayagunaan Lahan Rawa Pasang Surut.
Makalah disajikan pada Seminar Nasional Optimalisasi Pendayagunaan
Sumberdaya Lahan di Cisarua, tanggal 6 - 7 Agustus 2002. Puslitbang Tanah
dan Agroklimat.
Ananto EE, Handaka dan A Setyono. 2004. Mekanisasi dalam perspektif
modernisasi pertanian: Ekonomi Padi dan Beras Indonesia. Jakarta: Badan
Litbang Pertanian. Departemen Pertanian.
Balittra. 2012. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Pasang Surut: PTT
Genjot Produksi Padi Rawa. Diakses tanggal 23 November 2014, jam 20:55.
http://balittra.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=a
rticle&id=186:pengelolaan-tanaman-terpadu-ptt-padi-pasangsurut&catid=70:penelitian-2011&Itemid=67
Bobihoe, Juliastia. 2011. Leaflet Agroinovasi: Keuntungan Sistem Jajar
Legowo. Jambi: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi.
BPTP Sumsel. 2013. Atabela DRUM SEEDER : Biaya tanam padi jadi murah.
http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/atabela-drum-seeder. Diakses tanggal
23 November 2014 jam 22:44 WIB.
Haris, Abdul. 2001. Manajemen Lahan Orang Banjar. Banjarbaru: Fakultas
Pertanian Universitas Lambung Mangkurat
Jumakir dan Endrizal. 2009. Produktivitas padi sistem tapin dan tabela dengan
pendekatan PTT di lahan sawah semiintensif provinsi Jambi. Jambi: Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi, Badan Litbang Pertanian, Departemen
Pertanian.
Lindung. 2014. Teknologi Tata Air di Lahan Gambut untuk Budidaya Pertanian.
Balai Pelatihan Pertanian Jambi. http://www.bppjambi.info/?v=news&id=604
Diakses Tanggal 24 November 2014 jam 1:29 WIB.
Nursyamsi, D dan M. Noor. 2012. Lahan Rawa sebagai Lumbung Pangan Masa
Depan. Banjarbaru: Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Badan Litbang
Pertanian, Departemen Pertanian. 28 pp.

21
Pane H. 2003. Kendala dan peluang pengembangan teknologi padi tanam benih
langsung dalam Jurnal penelitian dan Pengembangan pertanian Vol 22 No 44.
Sukamandi: Balai Penelitian Tanaman Padi. Hlm. 172 178.
Ramli, R., I. Ar-Riza., dan R. S. Simatupang. 1992.Teknologi sistem usahatani
lahan sulfat masam di Kalimantan Selatan. Dalam Pengembangan Terpadu
pertanian Lahan Pasang surut dan Lebak. Risalah Pertemuan Nasional
Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Pasang Surut dan Lebak,
Puslitbangtan, Badan Litbang, Deptan, Cisarua. Hlm. 185-194.
Simatupang, R. S. 2007. Teknologi olah tanah konservasi mengendalikan
keracunan besi pada padi sawah pasang surut di lahan sulfat masam. Dalam
prosiding Seminar Nasional Sumberdaya Lahan dan Lingkungan Pertanian.
BB Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor: Badan Litbang Pertanian,
Departemen Pertanian. Hlm.53-64.
Simatupang, R. Smith dan Nurita. 2013. Conservation soil tillage at rice culture
in acid sulphat soil in Proceedings of International Workshop on Sustainable
Management of Lowland for Rice Production. 2012. Husen et al (ed). Jakarta:
Indonesia Agency for Agriculture Research and Development, Ministry of
Agriculture. Page 287 298.
Tim Penyusun Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2007. Petunjuk
Teknis Lapang: Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Lahan Rawa
Pasang Surut. Jakarta: Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. 37
pp.
Tim Penyusun Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Kep. Riau. 2012. Petunjuk
Teknis Lapang: Pengelolaan Tanam dan Sumberdaya Terpadu Padi Sawah.
Misbah et al (Ed). Tanjung Pinang: Loka Pengkajian Teknologi Pertanian,
Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. 36 pp.