Anda di halaman 1dari 13

TUGAS TEKNOLOGI POLIMER

Produk Lembaran Acrylic

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Polimer

OLEH :
KELOMPOK 10
1. FATIKHATUL K. IKA S.

NIM. 21030111120001

2. GILAS GIGIH PRASETYO NIM .21030111120003

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

BAB II
ISI

2.1 Polimetil Metakrilat (Resin Akrilik)


Polimetil metakrilat (Polymethyl methacrylate) atau poli (metil 2-metilpropenoat)
adalah polimer sintetis dari metil metakrilat. Bahan yang bersifat thermoplastis (mencair bila
dipanasi) dan transparan ini dijual dengan merek dagang Plexiglas, Vitroflex, Perspex,
Limacryl, Acrylite, Acrylplast, Altuglas, dan Lucite serta pada umumnya disebut dengan
'kaca akrilik' atau sekedar 'akrilik'. Bahan ini dikembangkan pada tahun 1928 di berbagai
laboratorium dan dibawa ke pasaran oleh Rohm and Haas Company pada tahun 1933.
PMMA (polimetil metakrilat) adalah istilah kimia yang diberikan kepada resin yang
dihasilkan dari MMA (metil metakrilat Monomer). MMA adalah cairan berwarna dan
transparan substansi, transparansi yang tinggi merupakan salah satu karakteristik utama dari
PMMA. PMMA memiliki tahan cuaca yang sangat tinggi sinar matahari tidak mudah
mengubahnya kuning atau membuatnya hancur.
Resin akrilik adalah suatu polimer yang berbentuk bubuk dan monomer yang
berbentuk cair. Nama acrylic berasal dari bahasa latin yaitu acrolain yang berarti bau tajam.
Bahan ini berasal dari asam acrolain atau gliserin aldehida. Secara kimia dinamakan polymetil
metakrilat yang terbuat dari minyak bumi, gas bumi atau arang batu.

Karakteristik Polimetil metakrilat


PMMA adalah polimer yang kuat dan ringan. . Beberapa sifat fisik dari Acrylic
(PMMA) adalah memiliki densitas sekitar 1,17 1,20g / cm3, atau kira kira kurang dari
separuh daripada kaca konvensional, hardness 96 HRC dan tensile strength 696 Kg/cm.
Meskipun begitu, kekuatan yang dimiliki PMMA lebih kuat daripada kaca konvensional,
meskipun tidak sekuat polimer buatan seperti polikarbonart dan lain lain.
Sifat-sifat Polimetil Metakrilat
-

Berat Molekul Powder : 500.000-1.000.000

BM Monomer : 100

BM Polimer yang telah kiur, hingga 1.200.000

PMMA adalah bahan yang transparan namun keras dengan ketahanan yang sangat baik
terhadap radiasi ultraviolet dan pelapukan. Bahan ini dapat dicetak, diwarnai, dipotong, dan
dibentuk sesuai keinginan. Sifat-sifat tersebut membuatnya ideal untuk berbagai aplikasi
termasuk untuk aplikasi di luar ruangan. PMMA memiliki temperature transisi gelas (Tg)
pada 105oC, sehingga PMMA harus dipanaskan di atas 105oC agar dapat dibentuk/ dicetak
menjadi bentuk/ produk yang diinginkan.
2.2 Monomer Metil Metakrilat

Sifat Fisik
Tekanan uap (25,5 )

: 5.33kPa/25

Titik nyala

: 10 (cawan terbuka)

Titik Lebur

: -48

Titik Didih

: 100-101 24 (4.3kPa)

Kepadatan Relatif

: 0,9440 (20/4 )

Indeks bias

: 1,4142

Penampilan

: tak berwarna, cairan yang mudah menguap, dan memiliki kuat

pedas, mudah terbakar.


Kelarutan

: larut dalam alkohol, eter, aseton dan pelarut organik lainnya,

sedikit larut dalam etilena glikol dan air

Sifat kimia
Rumus

: C5H8O2

Berat

: 100.12

Mudah terbakar, stabilitas, stabil, cahaya, panas, radiasi pengion dan katalis polimerisasi
mudah.

Bercampur dengan udara dapat meledak, dalam kasus kebakaran, suhu tinggi, oksidan yang
mudah terbakar, asap pembakaran iritasi, oksidan, asam bereaksi secara kimia, penyimpanan
tidak lama untuk mencegah polimerisasi.
Metil 2-metilpropenoat (metal metakrilat) dibuat dari propanon melalui jalur yang
diperlihatkan pada gambar 22. Sebagaimana dapat dilihat monomer ini merupakan ester metal
dari asam 2-metil propenoat (asam metakrilat).
Reaksi pembuatan metil-metakrilat :

2.3 Proses Polimerisasi


Polymetilmetakrilat (PMMA) merupakan senyawa homopolimer yang dibentuk dari
reaksi polimerisasi adisi senyawa metil metakrilat. Resin menjadi padat bila berpolimerasi
(philis, 2003). Polimerasi terjadi melalui serangkaian reaksi kimia, dimana molekul mikro
atau polimer dibentuk dari sejumlah molekul-molekul yang dikenal sebagai monomer
(philips, 2003).
Perbandingan polimer dan monomer yang tepat sangat penting, bila terlalu banyak
polimer dan tidak semua polimer terbasahi oleh monmer, maka, akan terjadi butiran-butiran
serbuk resin akriik. Sedangkan bila terlalu banyak monomer mempunyai peranan yang
penting pada struktur resin. Umumnya perbandingan volume polimer dan monomer adalah
3:1 atau perbandingan berat adalah 2,5:1 (philips, 2003).
Sifat fisik suatu polimer dipengaruhi oleh perubahan dalam temperatur dan lingkungan
serta komposisi, struktur dan berat molekul suatu polimer. Umumnya semakin tinggi
temperatur polimer maka, keadannya akan semakin lunak.

Polymetyl metacrylate (PMMA) disebut juga resin Akrilik. Polimetil metakrilat


(polymethyl methacrylate) atau poli (metil 2-metilpropenoat) atau PMMA merupakan
senyawa homopolimer yang dibentuk dari reaksi polimerisasi adisi senyawa metil metakrilat
dimana melibatkan reaksi rantai. Bahan terdiri dari cairan (monomer) metil metakrilat dengan
campuran dari bubuk (polimer). Monomer ini adalah bahan plastis dan polimer ini dicampur
untuk mendapatkan konsistensi yang lebih muda
Metakrilat hanya mempunyai monomer tunggal atau homopolimer yaitu metil
metakrilat. Turunan etilen yang mengandung gugus vinil dalam rumus strukturnya. Polymetyl
metacrylate murni tidak berwarna, transparan, dan padat. Polimerisasi dalam resin akrilik
lebih mengarah pada polimerisasi tambahan. Hal ini terlihat dari tahap-tahap yang terdapat
pada polimerisasi resin akrilik, yaitu:
a. Induksi ( Aktivasi )
b. Pemicuan ( Inisiasi )
c. Penyebaran ( Propagasi )
d. Pengakhiran (Terminasi)
a. Induksi (Aktivasi)
Digunakan benzoil peroksida sebagai inisiator radikal bebas. Radikal bebas
diperoleh dengan pemanasan benzoil peroksida. Radikal bebas diperoleh dengan pemanasan

sampai suhu suhu 80C benzoil peroksida. Selama pemanasan molekul benzoil peroksida
pecah menjadi 2 radikal bebas yang kemudian mengawali atau memicu polimerisasi
monomer metal metakrilat. Inisiator ini akan terurai menghasilkan radikal benzoiloksi.
Radikal ini dapat mengawali (menginisiasi) rantai atau dapat kehilangan karbondioksida
menghasilkan radikal fenil yang juga dapat mengawali rantai.
Pembentukan Radikal bebas Benzoil Peroksida

b. Inisiasi
Inisiasi merupakan tahap penggerak awal dari proses polimerisasi yang
membutuhkan radikal bebas. Radikal bebas di atas kemudian bereaksi dengan metil
metaakrilat (Metil 2-metilpropenoat) yang membentuk radikal bebas juga sehingga dapat

bergabung dengan metil metaakrilat yang lain sehingga menimbulkan radikal bebas lagi.
Reaksi ini akan berjalan terus menerus sampai monomer habis kecuali bila ada inhibitor
atau penghambat yang dapat menghambat lajunya polimerisasi. Reaksinya adalah sebgai
berikut :

Proses Inisiasi Polimerisasi Polimerisasi Metil Metaakrilat

c. Propagasi
Tahap ini terjadi reaksi antara monomer dengan radikal bebas sebagai awal dari
terbentuknya rantai polimer. Monomer yang teraktivasi mengaktifkan monomer lainnya
agar dapat membentuk rantai polimer secara terus menerus. Reaksi ini akan berjalan terus
menerus sampai monomer habis kecuali bila ada inhibitor atau penghambat yang dapat
menghambat lajunya polimerisasi.

Reaksi Propagasi Metil Metaakrilat

d. Terminasi
Tahap ini tercapai bilamana dua radikal bebas bereaksi membentuk molekul yang
stabil. Perubahan dari rantai polimer satu ke yang lain, yang dalam beberapa situasi terdiri
atas monomer-monomer dan beberapa oligomer.

Polimerisasi adisi ini dipengaruhi oleh :


1. Reaksi kimia

2. Adanya inhibitor/pemicu
3. Terjadinya tingkat polimerisasi aktivasi, inisiasi, propagasi, dan terminasi
4. Cahaya
5. Panas (pemanasan)

2.4 Proses Pembentukan Produk


Acrylic adalah istilah yang digunakan untuk produk-produk yang mengandung zat
yang berasal dari asam acrylic atau senyawa terkait. Paling sering, istilah ini digunakan untuk
menggambarkan kaca seperti plastik yang dikenal sebagai poli (metil) metakrilat (PMMA).
PMMA, juga disebut kaca acrylic, memiliki sifat yang membuatnya menjadi pilihan yang
lebih baik untuk banyak produk yang mungkin akan terbuat dari kaca.
Dalam pembuatan lembaran Acrylic, semua proses molding dapat digunakan,
termasuk injeksion molding, compression molding dan ekstrusi. Kualitas tertinggi lembaran
Acrylic diproduksi dengan cara sel pengecoran (cell casting).
Terdapat dua jenis dasar akrilik: ekstrusi dan cetakan.
1. Akrilik ekstrusi
Dibuat dari granulat (bijiplastik) yang kemudian digerus dan dicairkan dalam mesin
extruder. Lalu plastik cair didorong melewati roller, yang kemudian akan menekan
plastik tersebut menjadi lembaran saat dilakukan pendinginan. Proses ini relatif
murah, tapi lembaran yang dihasilkan lebih lembut daripada akrilik cetakan, lebih
mudah tergores, dan mungkin mengandung kotoran. Tetapi, banyak akrilik ekstrusi
bermutu sangat baik, dan akrilik yang bermutu sangat baik ini merupakan mayoritas
akrilik ekstrusi yang terdapat di pasaran. Akrilik ekstrusi merupakan pilihan yang baik
untuk membuat plang, display, dan kegunaan lainnya.
2. Akrilik cetak sel (cell cast)
cenderung memiliki mutu yang lebih baik daripada jenis ekstrusi, tapi juga lebih
mahal karena dalam pencetakan menggunakan dies/cetakan kaca yang mahal. Dalam
pencetakan sel, lembar-lembar akrilik tunggal dibuat dengan cara menekan plastik cair
diantara dua potong pencetak tekan ( mold) , biasanya terbuat dari kaca, yang
kemudian dibawa melewati proses pemanasan bertahap. Lembar yang dihasilkan lebih
kuat daripada akrilik ekstrusi. Jenis ini seringkali dipergunakan untuk akuarium dan

produk-produk lain yang membutuhkan pembentukan atau penghalusan mesin dari


produk finalnya.

Karena perbedaan proses pembuatannya ini maka sifat properties lembaran acrylic
yang diproses secara extrusi cukup berbeda dengan lembaran acrylic yang diproses secara
casting. Perbedaan yang mendasar, acrylic proses casting tegangan antar molekulnya lebih
rendah dibanding acrylic proses extruded. Sel acrylic ekstrusi tidak sekuat casting , dan
cenderung retak ketika sedang dikerjakan, sehingga mutu produk yang paling tinggi terbuat
dari acrylic casting. Strukturnya juga dapat dibuat tanpa sambungan, sebagaimana pengelasan
kimia pada tingkat molekuler benar-benar "melebur" sambungan menjadi satu bagian dari
bahan padat. Sambungan yang dilas dan dipoles dengan benar tidak terlihat.

Perbedaan Casting acrylic dengan extruded acrylic


1.Casting acrylic lebih kuat, lebih tahan terhadap impak dibanding extruded
2.Casting acrylic lebih jernih glossy (mengkilap) dibanding extruded
3.Casting acrylic lebih tahan pressure / tekanan ataupun vacuum dibanding extruded
4.Casting acrylic lebih mudah diproses/ dimachining dibanding extruded
5.Casting acrylic lebih tahan terhadap temperature dan kimia disbanding extruded
6.Casting acrylic daya serap air lebih tinggi dibanding extruded acrylic
7.Casting acrylic hasil polesan lebih baik; dibanding acrylic extruded
8.Casting acrylic thermoforming proses lebih mudah karena range temperature
thermoforming yang lebih lebar dibanding acrylic extruded.
9.Casting acrylic sedikit kurang presisi dibanding extruded acrylic

2.5 Produk
PMMA berupa plastik bening, keras dan kuat, namun ringan dan fleksibel. Dalam
kehidupan sehari-hari polymetil metakrilat biasa digunakan untuk kaca atap, dudukan lampu,
bahan pengupam, bagian-bagian otomotif, molding papan dekorasi, tanda perasa dan gigi
palsu. Penggunaan acrylic sheet antara lain: akuarium, peralatan rumah tangga, perlengkapan
kantor, furniture, interior gedung, kanopi/roofing, noise barrier, dll. Penggunaan material
acrylic sheet untuk pembuatan cabinet/case sangat dominan di industri manufacture.
Pemanfaatannya sebagai bahan pencampur gelas dan pencampur logam, dan yang paling

mudah kita amati adalah digunakan untuk lampu belakang mobil ataupun kaca jendela
pesawat terbang.

Gambar Acrylic Sheet

Aplikasi Produk
Berbagai produk yang menunjukkan penggunaan lembaran acrylic pada berbagai bidang
antara lain :
-

Tempat Brosur

- Aquarium Acrylic

Display

- Plakat Acrylic

Rack Acrylic

- Neon Box

Signboard

- Gantungan Kunci

Digital Print

- Sablon Acrylic

Frame

Plakat

Tempat Brosur

Furniture

Sign Board

Aquarium

2.6 Kelebihan Acrylic


Berbagai produk terbuat dari acrylic, termasuk pintu kamar mandi, sekat kamar mandi,
jendela, dan atap kaca. Acrylic berkali-kali lebih kuat dari kaca biasa, sehingga jauh lebih
tahan dan lebih aman. Kaca biasa yang sangat tebal akan memiliki warna hijau, sedangkan
acrylic tetap bening. Acrylic juga lebih tahan terhadap cuaca, tetap bening selama bertahuntahun tanpa menjadi kuning atau retak saat terkena sinar matahari dalam jangka waktu yang
panjang.
Keuntungan lain dari acrylic adalah beratnya yang hanya setengah dari berat kaca
biasa. Hal ini membuat bahan ini lebih mudah untuk digunakan dalam pekerjaan, dan menjadi
pilihan yang lebih baik untuk proyek-proyek di mana berat bahan menjadi masalah penting.
Acrylic juga dapat digergaji, sedangkan kaca biasa harus dicetak. Akrilik seringkali dipilih
sebagai material pengganti kaca untuk akuarium. Akrilik sangat bening, memungkinkan 92%
cahaya bisa menembusya. Kaca sekalipun hanya melewatkan 80-90% cahaya, tergantung
jenis kaca dan produsennya.
Akrilik tidak terlalu padat. Kepadatan akrilik berkisar antara 1150-1190 kg/ m3. Ini
adalah kurang dari setengah kepadatan kaca, yang berkisar antara 2400 hingga 2800 kg/ m3.
Oleh karena itu, transportasi dan pemasangan bahan bangunan akrilik lebih mudah dan
murah. Akrilik memiliki kekuatan tumbuk yang lebih besar daripada kaca dan tidak akan
pecah. Sifat tahan pecah ini menjadikan akrilik material yang ideal untuk dipergunakan pada
aplikasi di tempat-tempat dimana pecahnya material akan berakibat fatal, seperti pada jendela
kapal selam.

2.7 Kekurangan Acrylic dan Kesalahpahaman Tentang Acrylic

Ada beberapa kesalahpahaman tentang acrylic, yaitu bahwa acrylic itu kuning, rapuh,
dan akan retak dalam jangka waktu tertentu. Meskipun ini mungkin benar untuk plastik yang
murah, tapi tidak begitu dengan acrylic. Jika diurus, bahan ini dapat tetap baru selama
beberapa dekade, tanpa memandang usia atau intensitas sinar matahari. Beberapa orang
khawatir bahwa terlalu mudah terjadi goresan, tapi tidak seperti kaca biasa, goresan pada
acrylic dapat hilang dengan digosok.
Dari segala kelebihannya, ada dua kekurangan dari acrylic: acrylic lebih mahal dari
kaca biasa, dan jika terkena api langsung, acrylic akan meleleh dan akhirnya terbakar.
Pembakarannya menghasilkan asap beracun, sehingga tindakan pencegahan keselamatan
harus selalu diambil ketika sedang dipotong dengan alat-alat listrik atau dibengkokkan
menggunakan pemanasan. Bila tidak dirawat dengan baik, atau ketika menggunakan acrylic
bermutu rendah, maka bisa terjadi goresan, dan lipatan yang tidak sesuai bisa sangat terlihat.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Polimetil metakrilat atau PMMA merupakan senyawa homopolimer yang dibentuk
dari reaksi polimerisasi adisi senyawa metil metakrilat dimana melibatkan reaksi rantai. Metil
metakrilat adalah cairan berwarna dengan transparansi yang tinggi merupakan salah satu
karakteristik utama dari PMMA. Polimetil metakrilat adalah bahan yang transparan namun
keras dengan ketahanan yang sangat baik terhadap radiasi ultraviolet dan pelapukan. Proses
polimerisasi PMMA dapat dilakukan dengan bahan Metil Metakrilat dengan inisiator Benzoil
Peroksida melalui empat tahapan yaitu Induksi ( Aktivasi ), Pemicuan ( Inisiasi ), Penyebaran
(Propagasi ), Pengakhiran (Terminasi). Dalam pembuatan lembaran Acrylic, semua proses
molding dapat digunakan, termasuk injeksion molding, compression molding dan ekstrusi.
Terdapat dua jenis dasar akrilik yaitu ekstrusi dan cetakan. Kualitas tertinggi lembaran
Acrylic diproduksi dengan cara sel pengecoran (cell casting). Penggunaan acrylic sheet antara
lain: akuarium, peralatan rumah tangga, perlengkapan kantor, furniture, interior gedung,
kanopi/roofing, noise barrier, dll.