Anda di halaman 1dari 13

Apr 21, '09 2:22 AM

Bai'at Kepada Jamaah Minal Muslimin Bukan BId'ah


for everyone
Apakah Berbaiat Kepada Jamaah Minal Muslimin Merupakan Bid’ah?

Raddusy Syubuhat

25/12/2006 | 3 Dhul-Hijjah 1427 H |

Oleh: Abi AbduLLAAH

(Hal Al-Bay’ah Lil Jama’ah Minal Muslimin Hiyal Bid’ah?)

Bai’ah Menurut Arti Lughah

Berasal dari kata ba-ya-’a yang artinya menjual atau juga membeli. Dikatakan bi’tu-
syai’in artinya syaraytuhu (aku telah menjualnya); ia juga bisa berarti isytaraytuhu (aku
telah membelinya), sehingga ia memiliki arti ganda [1].

Juga dapat bermakna ketaatan, al-bay’ah (Indonesia: bai’ah atau bai’at) artinya al-
mutaba’ah (mengikuti) wa ath-tha’ah (mentaati) [2]. Disebut Al-Bay’ah karena kesiapan
sang penerima bay’ah tersebut untuk mengikuti & taat [3].

Juga berarti akad atau janji, al-aqdu / al-’ahdu, sebagaimana dalam hadits disebutkan:
Dosa yang paling besar dari dosa-dosa besar adalah kalian memerangi kaum yang ada
perjanjian dengan kalian [4].

Ia juga dapat berarti gereja, al-bii’ah, sebagaimana dalam kitab Shahih Al-Bukhari, dalam
bab “Ash-Shalatu fil Bi’ah (Hukum Shalat di dalam Gereja) [5]”

Bai’ah Dalam Al-Qur’an

Kedua makna bai’ah di atas dapat kita temukan dalam Al-Qur’an Al-Karim, sementara
makna yang ketiga kita dapatkan dalam Al-Hadits.
Dalam makna pertama (jual-beli), seperti dalam QS Al-Baqarah 2/282 berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk
waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya dan hendaklah seorang penulis
di antara kamu menuliskannya dengan benar dan janganlah penulis enggan
menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan
hendaklah orang yang berhutang itu mendiktekan (apa yang akan ditulis itu), dan
hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun
daripada hutangnya jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah
(keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mendiktekan, maka hendaklah walinya
mendiktekan dengan jujur dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang
lelaki (di antaramu) jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua
orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang
seorang mengingatkannya, janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan)
apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil
maupun besar sampai batas waktu membayarnya, yang demikian itu, lebih adil di sisi
Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan)
keraguanmu, (tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai
yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak
menulisnya dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan
saksi saling sulit menyulitkan, jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya
hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu dan bertakwalah kepada Allah; Allah
mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Dalam makna kedua (ketaatan & mengikuti perintah) terbagi menjadi 2, yaitu bay’ah-
nisa’ (hanya mendengar & taat) sebagaimana dalam QS Al-Mumtahanah 60/12 sbb:

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk


mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan
mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat
dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan
mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan
mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam QS Al-Fath 48/10 dan ayat 18-nya sbb:

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia [6] kepada kamu Sesungguhnya mereka
berjanji setia kepada Allah, tangan Allah di atas tangan mereka [7], maka barangsiapa
yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya
sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya
pahala yang besar.”
“Sesungguhnya Allah Telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji
setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka
lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan
kemenangan yang dekat (waktunya) [8].”

Bai’ah Dalam As-Sunnah

Bai’ah yang disebutkan dalam As-Sunnah adalah sangat banyak, di antaranya adalah
sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih & hasan berikut ini:

1. “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh ALLAH SWT pada Hari Kiamat… dan
orang yang telah mem-bai’at seorang Imam lalu jika Imam itu memberi kepadanya maka
iapun setia dan jika Imam itu tidak memberinya maka iapun tidak setia kepadanya. [9]”

2. “Barangsiapa mem-bai’at seorang Imam lalu Imam tersebut memberikan buah hatinya
dan mengulurkan tangannya, maka hendaklah ia mentaatinya sedapat mungkin dan
apabila ada Imam lain yang menyainginya maka hendaklah mereka memukul leher Imam
yang datang belakangan itu. [10]”

3. “Adalah Bani Isra’il dipimpin oleh para Nabi, tiap kali sang nabi wafat, maka
digantikan oleh Nabi berikutnya. Dan sesungguhnya tidak ada lagi Nabi setelahku, tetapi
akan ada para Khalifah, mereka banyak jumlahnya. Para sahabat bertanya: Apa yang
Anda perintahkan kepada kami? Nabi SAW bersabda: Patuhilah bai’ah pertama,
berikanlah hak mereka, karena ALLAH akan menanyakan kepada mereka apa yang
menjadi tanggungjawab mereka. [11]”

4. “… Lalu apa yang anda perintahkan kepadaku wahai RasuluLLAH? Maka Nabi SAW
bersabda: Penuhilah bai’ah yang pertama karena itulah yang utama dan berikanlah pada
mereka hak mereka, karena sesungguhnya ALLAH SWT akan menanyakan pada mereka
tentang tanggungjawab mereka. [12]”

5. “Barangsiapa mem-bai’at seorang Amir tanpa bermusyawarah dengan kaum muslimin,


maka tidak ada bai’at baginya dan tidak ada bai’at bagi yang mem-bai’at-nya. [13]”

6. “Apabila di-bai’at 2 orang Khalifah, maka bunuhlah Khalifah yang terakhir dari
keduanya. [14]”

7. “Barangsiapa yang meninggal dan di lehernya tidak ada bai’ah maka ia mati dalam
keadaan Jahiliyyah. [15]”

Bai’ah Boleh Dilakukan Kepada Selain Imamah-’Uzhma Pada Masa As-Salafus-Shalih

1. Sebagian kaum muslimin mem-bai’ah Mu’awiyah – semoga ALLAH meridhoinya -


saat Ali bin Abi Thalib – semoga ALLAH meridhoinya - masih menjabat sebagai
khalifah yang sah [16], dan hal ini tidak diingkari oleh Nabi – semoga shalawat & salam
selalu tercurah pada beliau -, beliau hanya menyebut Ali – semoga ALLAH meridhoinya
- “lebih dekat pada kebenaran” [17].

2. Bahkan sebagian Ulama yang tajam bashirahnya, menyatakan bahwa terdapat hikmah
besar dari peristiwa peperangan di masa Ali – semoga ALLAH meridhoinya - karena
dengan keluhuran & keluasan ilmunya sebagai sahabat generasi pertama kita dapat
meletakkan dasar-dasar & kaidah-kaidah syariat yang amat berharga tentang jika terjadi
perselisihan antara 2 kelompok kaum muslimin serta hukum-hukum fiqh di sekitar
peperangan antara sesama Ahli Kiblat [18].

3. Sebagian kaum muslimin ber-bai’ah pada Ummul Mu’minin Aisyah – semoga


ALLAH meridhoinya - dan berperang bersamanya melawan Khalifah Ali – semoga
ALLAH meridhoinya - dan Nabi – semoga shalawat & salam selalu tercurah pada beliau
- tidak mencaci Aisyah – semoga ALLAH meridhoinya - bahkan meminta Ali – semoga
ALLAH meridhoinya - agar memperlakukannya dengan halus [19].

4. Sebagian kaum muslimin juga mem-bai’ah Al-Hasan bin Ali – semoga ALLAH
meridhoinya - di masa pemerintahan Mu’awiyyah – semoga ALLAH meridhoinya -
masih berkuasa, dan tidak diingkari oleh para shahabat yang lainnya – semoga ALLAH
meridhoinya [20]. Dan Nabi – semoga shalawat & salam selalu tercurah pada beliau -
menamakan kedua kelompok tersebut keduanya muslim, sebagaimana dalam sabdanya:
“Cucuku ini adalah pemimpin pemuda Ahli Syurga, semoga ALLAH mendamaikan 2
kelompok kaum muslimin yang berselisih melalui dirinya. [21]”

5. Sebagian kaum muslimin juga mem-bai’ah Yazid bin Mu’awiyah, sementara


sebagiannya mem-bai’ah Al-Husein bin Ali – semoga ALLAH meridhoinya [22].

6. Kaum muslimin mem-bai’ah para tokoh selain Khalifah, seperti yang dilakukan oleh
qabilah Nakha’i terhadap Al-Asytar, menjelang perang Shiffin [23].

Menolak Ber-Bai’ah Pada Penguasa Yang Sah Karena Sesuatu Hal Juga Tidak Diingkari
Oleh As-Salafus-Shalih

1. Ali – semoga ALLAH meridhoinya - berkata pada Sa’ad bin Abi Waqqash – semoga
ALLAH meridhoinya: “Ber-bai’atlah Engkau!” Sa’ad menjawab: “Aku tidak akan ber-
bai’at sebelum orang-orang semua ber-bai’at. Tapi demi ALLAH tidak ada persoalan
apa-apa bagiku.” Mendengar itu Ali – semoga ALLAH meridhoinya - berkata:
“Biarkanlah dia.” Lalu Ali – semoga ALLAH meridhoinya - menemui Ibnu Umar –
semoga ALLAH meridhoinya - dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umar – semoga
ALLAH meridhoinya: “Aku tidak akan ber-bai’at sebelum orang-orang semua ber-
bai’at.” Jawab Ali – semoga ALLAH meridhoinya: “Berilah aku jaminan.” Jawab Ibnu
Umar – semoga ALLAH meridhoinya: “Aku tidak punya orang yang mampu memberi
jaminan.” Lalu Al-Asytar berkata: “Biar kupenggal lehernya!” Jawab Ali – semoga
ALLAH meridhoinya: “Akulah jaminannya, biarkan dia. [24]”

2. Imam Al-Waqidi mencatat ada 7 orang shahabat besar – semoga ALLAH meridhoinya
- yang tidak memberikan bai’at pada Khalifah Ali – semoga ALLAH meridhoinya -
yaitu: Sa’d bin Abi Waqqash, AbduLLAH bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin
Tsabbit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa’ dan Usamah bin Zaid – semoga
ALLAH meridhoinya [25].
Keluar dari Ketaatan dan Memberontak Kepada Imamah ‘Uzhma Juga Dibenarkan Oleh
As-Salafus-Shalih Sepanjang Bisa Menghasilkan Mashlahat Da’wah yang Lebih Besar

1. Sa’id bin Jubair, Syurahbil bin Amir Asy-Sya’biy, dan Al-Asy’ats bin Qays
memerangi Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafiy, di antaranya pada peperangan yang
terkenal sebagai peristiwa Dairul Jamahim [26].

2. Bahkan di dalam kitab-kitab Ash-Shahih selain hadits-hadits tentang perintah agar


kaum muslimin bersabar kepada penguasa yang zhalim, dibolehkan juga memberontak
kepada Khalifah jika telah ditemui tanda-tanda kekufuran yang terang-terangan [27].
Batasan Sahnya Jumlah Orang yang Mem-Bai’at Menurut Para Ulama Ushul

1. Sebagian Ahli Ushul berpendapat bahwa bai’ah shah dilakukan oleh minimal 5 orang,
baik kelimanya yang mengusulkan maupun salah satu mengusulkan dan disepakati oleh
yang lainnya, hal ini berdasarkan dalil pengangkatan Abubakar – semoga ALLAH
meridhoinya - dilakukan oleh 5 orang shahabat. Bahkan para fuqaha Kufah berpendapat 3
orang sudah sah, karena didasarkan pada sahnya akad nikah [28].

2. Imam Al-Mawardi berkata bahwa pengangkatan Imam ini hukumnya fardhu kifayah,
dan kewajiban ini sejajar dengan kewajiban jihad & menuntut ilmu. Sehingga jika
seseorang telah melakukannya dan ia memang mememnuhi syarat sesuai syari’ah, maka
lepas kewajiban masyarakat pada umumnya [29].

Bahayanya Berpegang Kepada Zhahir Hadits Saja dan Mengabaikan Fiqh Maqashid-
Syari’ah dalam Masalah Ini

Disebutkan dalam hadits-hadits shahih bahwa jika kaum muslimin saling berperang maka
kedua kelompok yang berperang tersebut masuk neraka, sbb:

1. “Apabila 2 orang muslim berhadapan dengan pedangnya masing-masing maka yang


membunuh & terbunuh di neraka.” [30]

2. “Dunia ini tidak akan Kiamat sebelum datang pada manusia suatu zaman saat
pembunuh tidak tahu kenapa ia membunuh & yang dibunuh pun tidak tahu kenapa ia
dibunuh. Tanya para sahabat – semoga ALLAH meridhoinya: “Bagaimana nasib mereka
wahai RasuluLLAH?” Jawab Nabi – semoga shalawat & salam selalu tercurah pada
beliau: “Binasa! Pembunuh & yang dibunuh akan masuk neraka.” [31]

Jelaslah jika kita hanya berpegang kepada zhahir hadits saja, tanpa mendalami ilmu fiqh,
maka berdasarkan zhahir hadits di atas kedua kelompok para sahabat – semoga ALLAH
meridhoinya - yang berperang sebagaimana disebutkan di atas, keduanya akan masuk
neraka,
kita berlindung kepada ALLAH – Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi - dari pemahaman
seperti ini..

Wahai ikhwan wa akhwat fiLLAH, takutlah kepada ALLAH dari sikap su’uzhan kepada
sesama kaum muslimin yang berijtihad, dan hendaklah kita berperasangka baik kepada
saudara-saudara kita dari kelompok muslimin yang lain, karena ilmu itu bukan monopoli
seseorang atau sekelompok orang saja, wa fawqa kulla dzii ‘ilmin ‘aliim..

WaLLAHu a’lam bish Shawab

Catatan Kaki:

[1] Ash-Shihhah fil Lughah, Al-Jauhary, I/60; Lisanul Arab, Ibnu Manzhur, VIII/23;
Tajul ‘Arus, Az-Zubaidi, I/5119

[2] Al-Mukhashshish, Ibnu Sayyidihi, I/276

[3] Tahdzibu Al-Lughah, Al-Azhariy, I/392


[4] Al-Qamus Al-Fiqhi, I/213

[5] Al-Jami’us-Shahih, Al-Bukhari, II/213

[6] Pada bulan Zulkaidah tahun keenam Hijriyyah nabi Muhammad s.a.w. beserta
pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Mekkah
untuk melakukan ‘umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama
ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Utsman bin Affan
lebih dahulu ke Mekah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kamu
muslimin. Mereka menanti-nanti kembalinya Utsman, tetapi tidak juga datang Karena
Utsman ditahan oleh kaum musyrikin kemudian tersiar lagi kabar bahwa Utsman Telah
dibunuh. Karena itu nabi menganjurkan agar kamu muslimin melakukan bai’ah (janji
setia) kepada beliau. Merekapun mengadakan janji setia kepada nabi dan mereka akan
memerangi kamu Quraisy bersama nabi sampai kemenangan tercapai. perjanjian setia ini
telah diridhai Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat ini, Karena itu disebut
Bai’atur Ridwan. Bai’atur Ridwan ini menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka
melepaskan Utsman dan mengirim utusan untuk mengadakan perjanjian damai dengan
kaum muslimin. Perjanjian ini terkenal dengan Shulhul Hudaibiyah.

[7] Orang yang berjanji setia biasanya berjabatan tangan, caranya berjanji setia dengan
Rasul ialah meletakkan tangan Rasul di atas tangan orang yang berjanji itu. Jadi maksud
tangan Allah di atas mereka ialah untuk menyatakan bahwa berjanji dengan Rasulullah
sama dengan berjanji dengan Allah. Jadi seakan-akan Allah di atas tangan orang-orang
yang berjanji itu, hendaklah diperhatikan bahwa Allah Maha Suci dari segala sifat-sifat
yang menyerupai makhluknya.

[8] Yang dimaksud dengan kemenangan yang dekat ialah kemenangan kaum muslimin
pada perang Khaibar.

[9] HR Al-Bukhari, V/9; lih. juga dalam Al-Fath, XIII/35

[10] HR Muslim III/1472-1473; Nasa’i, VII/152-153; Abu Daud, IV/97; Ibnu Majah,
II/1306

[11] HR Bukhari, V/401; Muslim, III/1471; Ibnu Majah, II/958; Ahmad, II/297

[12] HR Muslim, III/1472 ini adalah lafazh-nya; Bukhari, V/403; Al-Fath, VI/495; Ibnu
Majah, II/958-959; Ahmad, II/297

[13] HR Ahmad dalam Al-Musnad, dan ini adalah lafzh-nya; Al-Fath, XII/145

[14] HR Muslim, III/1480; Ahmad, III/95

[15] HR Muslim, III/1478


[16] Usud Al-Ghabah, Ibnul Atsir, I/113

[17] HR Muslim, VII/168

[18] At-Tamhid fi Ar-Radd ‘alal Mulhidah, Al-Baqillani, hal. 229

[19] HR Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Shahihain, III/119

[20] Ibid, I/265

[21] HR Al-Bukhari, VIII/94

[22] Ibid, II/193

[23] HR Ibnu Abi Syaibah & Al-Hakim, dari Umar bin Sa’id An-Nakha’i

[24] Al-Milal wa An-Nihal, Ibnu Hazm, IV/103 dari riwayat Imam At-Thabari

[25] Tarikh Ar-Rusul, Al-Waqidi, IV/429

[26] Tarikh Ar-Rusul wal Mulk, At-Thabary, VI/346

[27] HR Al-Bukhari, VIII/88

[28] Tarikh Ar-Rusul wal Mulk, At-Thabary, IV/497-498

[29] Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, Al-Mawardi, hal. 4

[30] Fathul Bari’, Ibnu Hajar, XIII/34

[31] Fathul Bari’, XIII/34

http://www.al-ikhwan.net/apakah-ber-baiat-kepada-jamaah-minal-muslimin-merupakan-
perbuatan-bidah-108/

Bai’at dan Kedudukannya Dalam Islam

Mukadimah

Kita patut bergembira atas bergairahnya kehidupan berislam hari ini, di pelosok dunia, termasuk
di negeri kita baik desa maupun kota , kesadaran beragama menunjukkan kemajuan. Walau kita akui,
kekuatan kejahiliyahan juga mengalami peningkatan.

Hal ini ditunjukkan oleh maraknya acara-acara keislaman di sekolah-sekolah, berbagai kajian
keislaman di kampus-kampus dan perkantoran, gelombang jilbabisasi, kesadaran terhadap ekonomi
syariah, keinginan yang tinggi untuk menerapkan syariat Islam, dan maraknya kelahiran kelompok-
kelompok keislaman yang hendak memperjuangankan Islam.

Di tengah rasa syukur tersebut, terbersit juga rasa khawatir, yakni ketika semangat beragama
tidak dibarengi oleh ilmu yang memadai yang akhirnya justru membawa kerusakan dibanding manfaat. Di
antaranya adalah sikap saling menyerang sesama aset umat, sesama aktifis Islam, hanya karena tidak
sejalan, sepemikiran, dan beda kelompok.

Fitnatut Takfir (fitnah pengkafiran) ini sering dilakukan oleh orang atau kelompok muslim yang
memiliki pemahaman agama secara tidak utuh (juz’i), dalam menyikapi berbagai teks agama. Di antaranya
adalah pemahaman yang tidak utuh terhadap bai’at. Kita melihat, ada dua kelompok umat ini yang telah
bersikap zalim terhadap bai’at. Pertama, ada di antara mereka yang menyalahgunakan bai’at, menjadikan
bai’at sebagai upaya mensucikan diri sendiri dan mengkafirkan orang lain yang belum berbai’at dengan
pemimpinnya. Kedua, ada pula di antara umat Islam yang sama sekali anti bai’at, bahkan sangat alergi dan
ketakutan dengan istilah ini. Keduanya sama-sama keliru, tidak seimbang dan keluar dari manhaj Ahlus
Sunnah wa Jamah yang pertengahan.

Penulis Syarh al Aqidah al Wasithiyah mengatakan, “Umat Islam adalah pertengahan antara
agama-agama (milal), sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan kami jadikan kalian sebagai umat
pertengahan (umatan wasathan).” (QS. Al Baqarah:143), sedangkan Ahlus Sunnah adalah pertengahan
antara firaq (kelompok-kelompok) yang disandarkan kepada Islam. (Said bin Ali bin Wahf al Qahthany,
Syarh al Aqidah al Wasithiyah Lisyaikhil Islam Ibni Taimiyah rahimahullah, hal.48. muraja’ah. Syaikh
Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin. Cet.2, Rabiul Awal 1411H. Penerbit: Ri-asah Idarat al Buhuts
al ‘Ilmiyah wal Ifta’ wad Da’wah wal Irsyad)

Lalu bagaimanakah sebenarnya bai’at itu?

Definisi (Arti)

1. Secara Bahasa ٍ
A. ‫البيُع ضّد الشراء والَبْيع الشراء َأيضًا‬ (Al Bai’u (menjual), lawan dari membeli (Asy
Syira’) dan juga berarti jual beli) (Lisanul ‘Arab, Juz. 8, Hal. 23. Al Maktabah As Syamilah)
B. ‫التولية و عقدها‬ At Tauliyah wa ‘aqduha artinya menjadikannya sebagai wali (pemimpin) dan
ikatan terhadapnya (Munjid Fil Lughah wal A’lam, Hal. 57)

C. Perjanjian dan saling bersepakat, dikatakan‫باَيعه عليه ُمباَيعة‬ (baaya’ahu ‘alahi


mubaaya’atan) yakni saling mengadakan perjanjian. (Lisanul ‘Arab, Juz. 8, hal. 23. Al Maktabah Asy
Syamilah)

2. Makna Menurut Syariat


Imam Ibnu Khaldun berkata: “Ketahuilah bahwasanya bai’at adalah berjanji dalam ketaatan,
seakan seorang yang berbai’at tidak akan menentang sedikitpun serta akan selalu mentaatinya dalam semua
perkara yang dibebankan baik dalam keadaan giat maupun malas. Dan mereka ketika berbai’at kepada
seorang pemimpin serta mengokohkan ikatan janjinya meletakkan tangan mereka dalam tangannya sebagai
penguat atas janji mereka, yang demikian itu sama dengan perilaku penjual dan pembeli, maka disebutkan
bai’at yang merupakan bentuk masdar dari baa’a, sehingga proses bai’at akhirnya selalu dilakukan dengan
berjabat tangan. Inilah landasan bai’at dalam dalam konteks bahasa dan syari’at sebagaimana yang
dimaksudkan dalam hadits bai’at. Lafadz ini juga tampak dalam beberapa riwayat di antaranya bai’atul
Khulafa (pembaiatan para pengganti Rasulullah) dan Aimaanul Bai’ah (sumpah setia bai’at) seakan-akan
para pengganti Rasulullah bersumpah setia dalam janji dan mereka memahami bahwasanya sumpah setia
seluruhnya hanyalah untuk baiat itu, pemahaman inilah yang akhirnya dikenal dengan sebutan Aimaanul
Bai’ah.” (Imam Ibnu Khaldun, Muqaddimah, Hal. 229)
Hukum Bai’at
Tidak ragu lagi bai’at memiliki masyru’iyah (pensyariatan) yang kuat di dalam Islam. Bai’at
merupakan salah satu proses penting dari pengangkatan seorang pemimpin di dalam Islam, baik
kepemimpinan kubra (Khalifah) atau sughra (selain khalifah). Hal ini di tunjukkan oleh berbagai dalil
sebagai berikut.
Allah Ta’ala berfirman:

 

  


  

    
  

       

  
 
    
  
 
 
     
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia
kepada Allah. tangan Allah di atas tangan mereka, Maka Barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya
akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan Barangsiapa menepati janjinya kepada
Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (QS. Al Fath : 10)
Pada bulan Zulkaidah tahun keenam Hijriyyah Nabi Muhammad s.a.w. beserta pengikut-
pengikutnya hendak mengunjungi Mekkah untuk melakukan 'umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka
yang telah lama ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Utsman bin Affan
lebih dahulu ke Mekah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kamu muslimin. mereka
menanti-nanti kembalinya Utsman, tetapi tidak juga datang karena Utsman ditahan oleh kaum musyrikin
kemudian tersiar lagi kabar bahwa Utsman telah dibunuh. karena itu Nabi menganjurkan agar kamu
muslimin melakukan bai'ah (janji setia) kepada beliau. merekapun Mengadakan janji setia kepada Nabi dan
mereka akan memerangi kaum Quraisy bersama Nabi sampai kemenangan tercapai. Perjanjian setia ini
telah diridhai Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat ini, karena itu disebut Bai'atur Ridwan.
Bai'atur Ridwan ini menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka melepaskan Utsman dan mengirim
utusan untuk Mengadakan Perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian ini terkenal dengan Shulhul
Hudaibiyah.
Orang yang berjanji setia biasanya berjabatan tangan. Caranya berjanji setia dengan Rasul ialah
meletakkan tangan Rasul di atas tangan orang yang berjanji itu. Jadi maksud tangan Allah di atas mereka
ialah untuk menyatakan bahwa berjanji dengan Rasulullah sama dengan berjanji dengan Allah. Jadi seakan-
akan Allah di atas tangan orang-orang yang berjanji itu. hendaklah diperhatikan bahwa Allah Maha suci
dari segala sifat-sifat yang menyerupai makhluknya.
Rasulullah Shallalalhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
‫جاِهِلّيًة‬
َ ً‫ت ِميَتة‬
َ ‫عُنِقِه َبْيَعٌة َما‬
ُ ‫س ِفي‬
َ ‫ت َوَلْي‬
َ ‫ن َما‬
ْ ‫َوَم‬
“Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan
jahiliyah.” (HR. Muslim, Juz. 9, Hal. 393, No. 3441. Al Maktabah Asy Syamilah)
Hadits ini menunjukkan kewajiban berbai’at jika telah ada imamatul ‘uzhma yakni khalifah bagi
seluruh umat Islam, bukan amir sebuah jamaah yang umat Islam secara umum tidak mengenalnya.
Mati Jahiliyah = Kafir?
Banyak manusia dan kelompok Islam teracuni pemikiran takfir (mudah mengkafirkan) gara-gara
permasalahan ini. Hal ini terjadi karena penafsiran mereka yang keliru dan menyimpang terhadap makna
hadits tersebut, dan tidak merujuk kepada penafsiran para Ahli, yakni para ulama, tapi merujuk tafsiran
guru ngaji mereka dan bujuk rayuan yang membius.
Kita lihat, apa sih makna miitatan jahiliyah (mati dalam keadaan jahiliyah) dalam hadits tersebut.
Apakah orang yang belum berbai’at lalu dia mati, matinya terhukum kafir. Sebagaimana sangkaan sebagian
kelompok?
Saya akan kutip syarah (penjelasan) yang dilakukan bebeapa imam terpercaya umat ini, di
antaranya Al Imam An Nawawi dalam Syarah-nya atas Shahih Muslim, tentang makna miitatan jahiliyah
berikut:
‫ضى َل ِإَمام َلُهْم‬
َ ‫ث ُهْم َفْو‬
ُ ‫حْي‬
َ ‫ن‬
ْ ‫صَفة َمْوتهْم ِم‬
ِ ‫عَلى‬
َ :‫ي‬
ْ ‫ َأ‬، ‫سِر اْلِميم‬
ْ ‫ي ِبَك‬
َ ‫ِه‬
Dengan huruf mim dikasrahkan (jadi bacanya miitatan bukan maitatan), artinya kematian
mereka disifati sebagaimana mereka dahulu tidak memiliki imam (pada masa jahiliyah). (Syarah An
Nawawi ‘ala Shahih Muslim, Juz. 6, Hal. 322, No. 3436. Al Maktabah Asy Syamilah)
Sekarang penjelasan Imam Asy Syaukani dalam Nailul Authar ,sebagai berikut:
ِ‫ت َأْهل‬
ِ ‫حاُلُه ِفي اْلَمْوتِ َكَمْو‬ َ ‫ن‬
َ ‫ن َيُكو‬ ْ ‫سِر اْلِميِم َأ‬
ْ ‫ي ِبَك‬َ ‫جاِهِلّيِة َوِه‬
َ ‫َواْلُمَراُد ِباْلِميَتِة اْل‬
ْ ‫س اْلُمَراُد َأ‬
‫ن‬ َ ‫ َوَلْي‬، ‫ك‬َ ‫ن َذِل‬
َ ‫ع َِلّنُهْم َكاُنوا َل َيْعِرُفو‬
ٌ ‫طا‬َ ‫س َلُه إَماٌم ُم‬َ ‫لٍل َوَلْي‬َ‫ض‬ َ ‫عَلى‬ َ ‫جاِهِلّيِة‬ َ ‫اْل‬
. ‫صًيا‬
ِ ‫عا‬َ ‫ت‬ َ ‫ت َكاِفًرا َبْل َيُمو‬ َ ‫َيُمو‬
Dan yang dimaksud dengan miitatan jahiliyah dengan huruf mim yang dikasrahkan adalah dia
mati dalam keadaan seperti matinya ahli jahiliyah yang tersesat di mana dia tidak memiliki imam yang
ditaati karena mereka tidak mengenal hal itu, dan bukanlah yang dimaksud matinya kafir tetapi mati
sebagai orang yang bermaksiat. (Imam Asy Syaukani, Nailil Authar, Juz. 11, Hal. 399. Al Maktabah
Asy Syamilah)
Saya kutipkan Fatwa Lajnah Da’imah (Komisi Tetap Fatwa) di Saudi Arabia , tentang makna
hadits di atas:
‫ أنه ل يجوز الخروج على الحاكم )ولي المر( إل أن يرى منه كفًرا‬:‫ومعنى الحديث‬
‫ كما أنه يجب على المة أن يؤمروا عليهم‬،‫ كما جاء ذلك في الحديث الصحيح‬،‫حا‬ً ‫بوا‬
.‫أميًرا يرعى مصالحهم ويحفظ حقوقهم‬
“Makna hadits tersebut: bahwa tidak boleh keluar dari kepemimpinan Al hakim (waliyul amri -
pemimpin) kecuali jika dilihat dari pemimpin itu perilaku kufur yang jelas, sebagaimana diterangkan hal
itu dalam hadits shahih, sebagaimana wajib pula bagi umat untuk mengangkat amir (pemimpin) bagi
mereka supaya terjaga maslahat mereka dan hak-hak mereka.” (Al Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah Lil
Buhuts wal Ifta’, Juz. 6, Hal, 323, No fatwa. 8225)
Dengan demikian, jika ada umat Islam yang tidak berbai’at kepada khalifah yang sah, maka jika
dia mati, matinya seakan manusia jahiliyah yang dahulu tidak miliki imam, dan bermaksiat kepada Allah
Ta’ala. Bukan kafir sebagaimana tuduhan sebagian manusia. Itu pun jika berbai’at kepada khalifah yang
sah dan diakui seluruh dunia Islam, lalu bagimana dengan pemimpin sebuah kelompok dari umat Islam,
yang kita tidak mengenalnya? Tentu berbai’at kepada mereka tidak wajib!
Kepada Siapa Kita Wajib Berbai’at?
Sebelumnya, akan saya bagi dulu, bahwa kepemimpinan dalam Islam ada dua macam.
1. Imamah Al Kubra,yakni Khalifah yang memimpin seluruh umat Islam.
2. Imamah Al Sughra, yakni pemimpin selain itu seperti pemimpin rombongan haji (Amirul Haj),
pemimpin dalam safar, pemimpin dalam jihad, pemimpin dalam organisasi. Dalil untuk ini sangat banyak.
Imamah Al Kubra
Kepada pemimpin yang menaungi seluruh umat Islam, maka bai’at hukumnya wajib berdasarkan
hadits riwayat Imam Muslim di atas. Dan penjelasan atas hadits tersebut sudah kami paparkan. Namun,
apakah saat ini ada khalifah yang menaungi seluruh umat Islam? Jawabannya: tidak! Karena itu, bai’at
jenis ini, untuk realita saat ini belum bisa dijalankan, karena ketiadaan khalifah. Yang mejadi kewajiban
kita saat ini adalah bahu-membahu agar kekhilafahan kembali terwujud. Bagaimana bisa bai’at,
khalifahnya saja belum ada?
Maka, pemikiran yang mengkafirkan sesama umat Islam sebagaimana yang dilakukan oleh
beberapa kelompok Islam –semoga Allah meluruskan mereka- dengan alasan umat Islam saat ini belum
berbai’at kepada pemimpin mereka, adalah pemikiran yang keliru, menyimpang, bahkan menyesatkan.
Mereka telah mewajibkan yang Allah Ta’ala tidak wajibkan. Tidak memiliki dasar dan pijakan atas Al
Quran dan As Sunnah, perjalanan sejarah Islam, dan pandangan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Berkata Al Imam Abul hasan al Mawardi dalam kitabnya Al Ahkam As Sultahniyah:
‫ن َيُقققوُم‬
ْ ‫عْققُدَها ِلَمق‬
َ ‫ َو‬، ‫سِة القّدْنَيا‬
َ ‫سَيا‬
ِ ‫ن َو‬
ِ ‫سِة الّدي‬
َ ‫حَرا‬
ِ ‫لَفِة الّنُبّوِة ِفي‬َ‫خ‬ ِ ‫عٌة ِل‬
َ ‫ضو‬ ُ ‫الَِْماَمُة َمْو‬
ِ ‫جَما‬
‫ع‬ ْ ‫ب ِباِْل‬
ٌ ‫ج‬ ِ ‫ِبَها ِفي اُْلّمِة َوا‬
“Al Imamah (kepemimpinan) merupakan tema yang diadakan dalam rangka mengambil peran
kenabian dalam upaya menjaga agama dan mengatur dunia. Menegakkan kepemimpinan bagi siapa yang
mampu melakukannya untuk umat adalah wajib menurut ijma’ (kesepakatan).” (Al Ahkam As
Sulthaniyah, Hal. 3. Al Maktabah Asy Syamilah)
Nah, sekarang kita harus tahu bagaimana kriteria seorang khalifah? Hal ini penting saya
sampaikan agar kelompok-kelompok Islam itu mau menyadari kekeliruan mereka. Bahwa pemimpin yang
mereka anggap khalifah itu, bukan khalifah sesungguhnya, hanya sekedar pemimpin jamaah saja.
Demikian ini syarat-syarat Khalifah:
‫طَها‬ ِ ‫شُرو‬ ُ ‫عَلى‬ َ ‫ اْلَعَداَلُة‬: ‫حُدَها‬ َ ‫ َأ‬: ‫سْبَعٌة‬ َ ‫ط اْلُمْعَتَبَرُة ِفيِهْم‬ ُ ‫شُرو‬ ّ ‫َوَأّما َأْهُل اِْلَماَمِة َفال‬
. ‫جاِمَعِة‬َ ‫اْل‬
. ‫حَكاِم‬ْ ‫جِتَهاِد ِفي الّنَواِزِل َواَْل‬ ْ ‫ اْلِعْلُم اْلُمَؤّدي إَلى اِل‬: ‫َوالّثاِني‬
. ‫ك ِبَها‬ ُ ‫شَرُة َما ُيْدَر‬ َ ‫ح َمَعَها ُمَبا‬ ّ‫ص‬ ِ َ‫ن ِلي‬ ِ ‫سا‬َ ‫صِر َوالّل‬ َ ‫سْمِع َواْلَب‬ ّ ‫ن ال‬ ْ ‫س ِم‬ ّ ‫حَوا‬ َ ‫لَمُة اْل‬
َ‫س‬ َ ‫ث‬ ُ ‫َوالّثاِل‬
. ِ‫عِة الّنُهوض‬ َ ‫سْر‬
ُ ‫حَرَكِة َو‬ َ ‫سِتيَفاِء اْل‬ ْ ‫نا‬ ْ‫ع‬ َ ‫ص َيْمَنُع‬ ٍ ‫ن َنْق‬ ْ ‫ضاِء ِم‬ َ ‫ع‬ ْ ‫لَمُة اَْل‬ َ‫س‬َ : ‫َوالّراِبُع‬
.‫ح‬ ِ ‫صاِل‬َ ‫عّيِة َوَتْدِبيِر اْلَم‬ ِ ‫سِة الّر‬َ ‫سَيا‬ ِ ‫ضي إَلى‬ ِ ‫ي اْلُمْف‬ ُ ‫ الّرْأ‬: ‫س‬ ُ ‫خاِم‬ َ ‫َواْل‬
. ‫جَهاِد اْلَعُدّو‬ِ ‫ضِة َو‬ َ ‫حَماَيِة اْلَبْي‬ِ ‫جَدُة اْلُمَؤّدَيُة إَلى‬ ْ ‫عُة َوالّن‬َ ‫جا‬ َ‫ش‬ ّ ‫ ال‬: ‫س‬ ُ ‫ساِد‬ ّ ‫َوال‬
، ‫عَلْيِه‬َ ‫ع‬ ِ ‫جَما‬ ْ ‫ص ِفيِه َواْنِعَقاِد اِْل‬ ّ ‫ش ِلُوُروِد الّن‬ ٍ ‫ن ُقَرْي‬ ْ ‫ن ِم‬َ ‫ن َيُكو‬ ْ ‫ب َوُهَو َأ‬ ُ ‫س‬ َ ‫ الّن‬: ‫ساِبُع‬ ّ ‫َوال‬
ُّ ‫ي ا‬
‫ل‬ َ‫ض‬ ِ ‫ق َر‬ ِ ‫صّدي‬ ّ ‫ن َأَبا َبْكٍر ال‬ ّ ‫ َِل‬، ‫س‬ ِ ‫جِميِع الّنا‬ َ ‫جّوَزَها ِفي‬ َ ‫شّذ َف‬َ ‫ن‬ َ ‫حي‬
ِ ‫ضَراٍر‬ ِ ‫عِتَباَر ِب‬ْ ‫َولَ ا‬
‫ن عَُباَدَة‬ َ ‫سْعَد ْب‬َ ‫لَفِة َلّما َباَيُعوا‬ َ‫خ‬ ِ ‫ن اْل‬
ْ‫ع‬ َ ‫صاِر ِفي َدْفِعِهْم‬ َ ‫عَلى اَْلْن‬ َ ‫سِقيَفِة‬ ّ ‫ج َيْوَم ال‬ ّ ‫حَت‬
ْ ‫عْنُه ا‬َ
‫ن الّتَفّرِد ِبَها‬ْ‫ع‬ َ ‫ن ُقرَْيشٍ { َفَأْقَلُعوا‬ ْ ‫سّلَم } اَْلِئّمُة ِم‬ َ ‫عَلْيِه َو‬َ ‫ل‬ ُّ ‫صّلى ا‬ َ ‫ي‬ ّ ‫عَلْيَها ِبَقْوِل الّنِب‬
َ
‫صِديًقا‬ْ ‫سِليًما ِلِرَواَيِتِه َوَت‬ ْ ‫ن َقاُلوا ِمّنا َأِميٌر َوِمْنُكْم َأِميٌر َت‬ َ ‫حي‬ِ ‫شاَرَكِة ِفيَها‬ َ ‫ن اْلُم‬ْ‫ع‬ َ ‫جُعوا‬ َ ‫َوَر‬
: ‫سّلَم‬ َ ‫عَلْيِه َو‬َ ‫ل‬ ُّ ‫صّلى ا‬ َ ‫ي‬ ّ ‫ َوَقاَل الّنِب‬، ‫ن اُْلَمَراُء َوَأْنُتْم اْلُوَزَراُء‬ ُ‫ح‬ ْ ‫ َن‬: ‫ضوا ِبَقْوِلِه‬ ُ ‫خَبِرِه َوَر‬ َ ‫ِل‬
. { ‫شا َوَل َتَقّدُموَها‬ ً ‫} َقّدُموا ُقَرْي‬
. ‫ف َلُه‬
ٍ ‫خاِل‬ َ ‫ع ِفيِه َوَل َقْولٌ ِلُم‬ ٍ ‫شْبَهٌة ِلُمَناِز‬ ُ ‫سّلِم‬ َ ‫ص اْلُم‬
ّ ‫س َمَع َهَذا الّن‬ َ ‫َولَْي‬

Ada pun syarat-syarat Imamah yang legal, yang harus ada pada mereka ada tujuh:
1. Adil dengan syarat-syaratnya yang menyeluruh
2. Berilmu yang membuatnya dapat berijtihad terhadap permasalahan dan hukum-hukum
3. Sehatnya inderawi (telinga, mata, dan mulut), yang dengan itu dia bias langsung menangani
permasalahan yang telah diketahuinya
4. Sehat organ tubu dari cacat yang bias menghalanginya bertindak secara sempurna dan cepat
5. Pandangan yang luas yang dengannya mampu memimpin rakyat dan mengurus kemaslahatan mereka
6. Berani dan berwibawa, yang dengannya dia mempu melindungi wilayah Negara dan mampu melawan
musuh
7. Keturunan dari Quraisy berdasarkan nash-nash yang ada dan ijma’ (kesepakatan) ulama. Kita tidak
perlu hiraukan kerusakan yang disampaikan dengan pendapat yang janggal yang membolehkan imamah
(khalifah) dipegang oleh setiap orang. Karena Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu meminta kaum Anshar
(bukan Quraisy) yang telah mebai’at Sa’ad bin Ubadah untuk mundur dari jabatan imamah (khalifah) pada
peristiwa saqifah, karena Abu Bakar berdalil dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Pemimpin-pemimpin itu berasal dari Quraisy.”
Kemudian kaum Anshar mengurungkan keinginan terhadap jabatan khalifah dan mundur darinya.
Mereka berkata: “ Para gubernur dari kami, dan pemimpin dari kalian.” Mereka menerima riwayat dari
Abu Bakar dan membenarkan informasinya. Mereka menerima dengan lapang dada ucaoan Abu Bakar
Radhiallahu ‘Anhu, “ Para pemimpin berasal dari kami, sedangkan menteri-menteri berasal dari kalian.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Dahulukanlah Quraisy, dan jangan kalian mendahuluinya.”
Terhadap nash yang kuat ini, kita tidak menerima pengaburan dan pendapat orang yang
menentangnya. (Imam Abul Hasan al Mawardi, Al Ahkam As Sulthaniyah, Hal. 5. Al Maktabah As
Sulthaniyah)
Sekarang bandingkan kriteria khalifah di atas, dengan ‘khalifah’ jadi-jadian zaman sekarang.
Mereka majhul (tidak dikenal identitasnya, nama, kecerdasan, keberanian, fisiknya, bahkan bisa jadi
tetangganya sendiri tidak tahu kalau dia itu dianggap ‘khalifah’ oleh jamaahnya sendiri, dan ditambah lagi
dia bukan Quraisy). Dari sini maka jelaslah kesalahan yang dilakukan jamaah-jamaah tersebut. Seandainya
satu saja yakni syarat ketujuh, mereka bukan orang Quraisy tetapi orang Indonesia , sudah cukup untuk
menyingkap kekeliruan (bahkan kebohongan mereka). Maka tertipulah orang-orang awam yang masuk ke
dalamnya …
Imamah Ash Shughra
Yakni kepemimpinan tidak setaraf khalifah. Seperti pemimpin haji, jihad, perjalanan, organisasi,
jamaah, atau direktur, kepemimpinan seperti ini diakui keberadaannya oleh syariat, karena mereka
hakikatnya bukanlah negara di dalam Negara. Kita mengetahui bahwa pegawai ketika awal memasuki masa
kerja pun memiliki sumpah jabatan, yang hakikatnya adalah bai’at. Nah, bai’at kepada mereka hukumnya
mubah, bukan wajib. Ada beberapa dalil yang menunjukkan pengakuan syariat atas kepemimpinan Ash
Shughra ini, yakni:
ْ ‫ن َم‬
‫ن‬ ّ َ‫ف َأِميُر الّرْفَقِة { ُيِريُد أ‬
ُ ‫ضَع‬
ْ ‫ } اْلُم‬: ‫سّلَم َأّنُه َقاَل‬
َ ‫عَلْيِه َو‬
َ ‫ل‬ُّ ‫صّلى ا‬ َ ‫ي‬ّ ‫ن الّنِب‬
ْ‫ع‬ َ ‫ي‬ َ ‫َوُرِو‬
. ‫سْيِرِه‬
َ ‫سيُروا ِب‬ ِ ‫ن َي‬
ْ ‫عَلى اْلَقْوِم َأ‬
َ ‫ن‬
َ ‫ت َداّبُتُه َكا‬
ْ ‫ضَُعَف‬
Dan diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa dia bersabda: “Yang dianggap
lemah adalah menjadi pemimpin bagi teman seperjalanan.” Maksudnya: barangsiapa yang membawa
kendaraan hewan yang lemah, hendaknya manusia berjalan mengikuti jalannya hewan tersebut. (Ibid, Hal.
59)
Hadits di atas berbicara tentang pengangkatan pemimpin dalam perjalanan.
Adapun tentang Amirul Haj (pemimpin haji) Imam Abul Hasan al Mawardi berkata:
.‫ج‬ ِ ‫جي‬ِ‫ح‬َ ‫سِييِر اْل‬
ْ ‫عَلى َت‬ َ ‫ن‬ َ ‫ن َتُكو‬
ْ ‫حُدُهَما َأ‬
َ ‫ َأ‬: ‫ن‬ِ ‫ضْرَبا‬
َ ‫ج‬ ّ‫ح‬َ ‫عَلى اْل‬َ ‫َهِذِه اْلِوَلَيُة‬
. ‫عاَمٍة َوَتْدِبيٍر‬
َ ‫سٍة َوَز‬ َ ‫سَيا‬ِ ‫ج َفُهَو ِوَلَيُة‬ ِ ‫جي‬ِ‫ح‬َ ‫سِييُر اْل‬
ْ ‫ َفَأّما َت‬، ‫ج‬ّ‫ح‬
َ ‫عَلى إَقاَمِة اْل‬َ : ‫َوالّثاِني‬
. ‫عٍة َوَهْيَبٍة َوِهَداَيٍة‬َ ‫جا‬َ‫ش‬َ ‫ي َو‬ ٍ ‫عا َذا َرْأ‬ً ‫طا‬
َ ‫ن ُم‬َ ‫ن َيُكو‬ْ ‫ َأ‬: ‫ط اْلُمْعَتَبَرُة ِفي اْلُمَوّلى‬
ُ ‫شُرو‬ّ ‫َوال‬
Kepemimpinan haji ini ada dua wewenang: Pertama, memudahkan para jamaah haji. Kedua,
menyelenggarakan haji. Adapun memudahkan para jamaah haji itu merupakan kekuasaan poltik dan
kepemimpinan. Syarat yang harus ada pada amirul haj agar dia ditaati adalah cerdas, berani, berwibawa,
dan memiliki kemampuan untuk membimbing. (Ibid, Hal. 193)
Nah, dari dua contoh ini jelaslah bahwa Imamah Ash Shughra memang diakui syariat Islam.
Namun, bai’at kepada mereka bukan wajib syariat, melainkan boleh boleh saja. Sekali pun wajib, itu
hanyalah kewajiban yang sifatnya administratif organisasi, seperti kontrak kerja dengan perusahaan, pada
hakikatnya itu adalah bai’at seorang pegawai terhadap pimpinan perusahaannya.

Realita saat ini


Kenyataan hari ini tidak ada Jama’atul Muslimin (Jamaah seluruh kaum muslimin) yang hakiki,
yang ada hanyalah jamaah minal muslimin (jamaah dari kelompok umat Islam), seperti adanya Ikhwanul
Muslimin, Hizbut Tahrir, Ansharus Sunnah Muhamamdiyah, Nahdhatul Ulama’, Jamaatul Muslimin
(dulunya Hizbullah) dan lain-lain.
Berbai’at kepada mereka dalam rangka beramal memperjuangkan Islam dan berjihad,
boleh-boleh saja, selama tidak dianggap berbai’at sebagaimana Imamatul Kubra. Namun, demikian
juga tidak ada kewajiban. Tetapi, jika sudah membai’at maka dia wajib memnuhi tuntutannya
yakni memperjuangankan Islam dan berjihad. Maka, sikap sebagian jamaah yang mengkafirkan
jamaah lain karena tidak membai’at pemimpinnya adalah tindakan keliru, melampaui batas, dan
tidak mamahami syariat, dan membawa benih perpecahan umat.
Semua itu merupakan perjanjian (mubaya’ah) antar manusia yang harus ditepati, dalam rangka
ketaatan kepada Allah dan RasulNya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
‫لِئّمِة ؛‬
َْ ‫عُقوِد اْلَبْيَعِة ِل‬
ُ ‫ َوالّنُذوِر ؛ َو‬، ‫ف‬ ِ ‫ َواْلُوُقو‬، ‫ت‬ ِ ‫ َواْلِهَبا‬، ‫ع‬ ِ ‫ط اْلُبُيو‬
ِ ‫شُرو‬ُ ‫َوَكَذا ِفي‬
‫ َوَأْمَثاِل َذِلكَ ؛‬، ‫سابِ َواْلَقَباِئِل‬َ ‫عُقوِد َأْهِل اَْلْن‬
ُ ‫ َو‬، ‫ن‬ِ ‫خَيْي‬
ِ ‫عُقوِد اْلُمَتآ‬
ُ ‫يخ ؛ َو‬ِ ِ ‫شا‬
َ ‫َوعُُقوِد اْلَم‬
ِ‫ل‬
ّ ‫صَيَة ا‬ ِ ‫ب َمْع‬َ ‫جَتِن‬ْ ‫يٍء ؛ َوَي‬ ْ ‫ش‬
َ ‫سوَلُه ِفي ُكّل‬ُ ‫ل َوَر‬ َّ ‫طيَع ا‬ِ ‫ن ُي‬
ْ ‫حٍد َأ‬
َ ‫عَلى ُكّل َأ‬َ ‫ب‬ ُ ‫ج‬ِ ‫َفِإنُّه َي‬
ُّ ‫ن ا‬
‫ل‬ َ ‫ن َيُكو‬ ْ ‫ب َأ‬
ُ ‫ج‬
ِ ‫ َوَي‬. ‫ق‬ ِ ‫خاِل‬
َ ‫صَيِة اْل‬
ِ ‫ق ِفي َمْع‬ِ ‫خُلو‬ْ ‫عَة ِلَم‬
َ ‫طا‬َ ‫يٍء ؛ َوَل‬ ْ ‫ش‬َ ‫سوِلِه ِفي ُكّل‬ ُ ‫َوَر‬
. ‫عَلُم‬ْ ‫ل َأ‬
ُّ ‫ َوَا‬. ‫سوِلِه‬ ُ ‫ل َوَر‬ ِّ ‫ن آَمنَ ِبَا‬
ْ ‫طيُع إّل َم‬
ِ ‫ َوَل ُي‬، ‫يٍء‬ ْ ‫ش‬َ ‫ن ُكّل‬ ْ ‫ب إَلْيِه ِم‬
ّ ‫ح‬َ ‫سوُلُه َأ‬ُ ‫َوَر‬
“Demikian juga dalam syarat-syarat jual beli, hibah, wakaf, nazdar, baiat kepada para imam dan
para masyayikh (para tokoh agama), perjanjian persaudaraan, akad anggota keluarga, suku atau kabilah
serta perkara-perkara yang lain, semua itu wajib dalam kerangka mentaati Allah dan Rasul-Nya dalam
segala hal, serta menjauhi kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya sebab tidak ada ketaatan kepada
makhluk untuk mendurhakai Khaliq. Dan wajib mencintai Allah dan RasulNya lebih dicintainya di atas
segalanya. Dan tidak ada ketaatan kecuali bagi siapa saja yang beriman kepada Allah dan RasulNya.
Wallahu A’lam (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa’, Juz. 9, Hal. 211. Al Maktabah Asy
Syamilah)
Dari keterangan Imam Ibnu Taimiyah ini, menunjukkan bolehnya berbai’at dan bermu’ahadah
kepada selain khalifah, namun sekedar boleh. Karena itu, sekali lagi, tidak benar dan melampaui batas jika
ada sekelompok jamaah mengkafirkan umat Islam lainnya yang tidak masuk dan berbai’at dengan
pemimpin kelompoknya.
ْ ‫حُدُهَما ِإ‬
‫ن‬ َ ‫فر َفَقْد َباَء ِبَها َأ‬
ُ ِ ‫خيِه َيا َكا‬
ِ ‫ئ َقاَل َِل‬
ٍ ‫سّلَم َأّيَما اْمِر‬
َ ‫عَلْيِه َو‬َ ‫ل‬
ُّ ‫صّلى ا‬َ ‫ل‬ ِّ ‫سوُل ا‬ ُ ‫َقاَل َر‬
‫عَلْيِه‬
َ ‫ت‬ْ ‫جَع‬
َ ‫ن َكَما َقاَل َوِإّل َر‬
َ ‫َكا‬
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya,
“Wahai Kafir,” maka itu akan kembali kepada satu dari mereka berdua jika benar seperti yang dia katakan,
jika tidak benar maka kekafiran itu kembali kepada yang mengatakannya.” (HR. Muslim, Juz.1, Hal. 195,
No. 92. Ahmad, Juz. 10, Hal. 328, No. 4792. Al Maktabah Asy Syamilah)
Wallahu A'lam

Sumber:

http://abuhudzaifi.multiply.com/journal/item/36