Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Pendahuluan
Penyakit infeksi saluran pencernaan dapat disebabkan oleh virus, bakteri dan protozoa.
Infeksi yang disebabkan oleh bakteri dikenal sebagai disentri basiler yang disebabkan
oleh bakteri shigella, sedangkan infeksi yang disebab-kan oleh protozoa dikenal sebagai
disentri amuba. Adapun yang dimaksud dengan penyakit infeksi saluran pencernaan yang
dapat menyebabkan diare adalah buang air besar dengan tinja yang berbentuk cair atau
lunak dengan frekuensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam.': 2. Penyebab diare yang terpenting
dan tersering adalah Shigella, khusus-nya S. flexneri dan S. dysenteriae. Entamoeba
histolytica (E. histolytica) merupakan penyebab disentri pada anak yang usianya di atas
lima tahun dan jarang ditemukan pada balita. 1, 3 Disentri amuba adalah penyakit infeksi
saluran pencernaan akibat tertelannya kista E. histolytica yang me-rupakan
mikroorganisme an-aerob bersel tunggal dan bersifat pathogen.(1)

Berdasarkan data statistik, di Negara berkembang, termasuk Indonesia, diare menyebabkan


kematian tiga juta penduduk setiap tahunnya. Analisa dari beberapa kota seperti Jakarta, Padang,
Medan, Batam, Pontianak, Denpasar, Makasar dari tahun 1995 sampai dengan 2001 penyebab
terbanyak diare infeksi adalah Vibrio cholera O1, diikuti Shigella spp, Salmonella spp, V.
parahaemoliticus, Salmonella typhi, Campylobacter jejuni, V. cholerae non O1 dan Salmonella
paratyphi A.1
Shigella dysenteriae merupakan intestinal patogen yang menyebabkan penyakit disentri
basiler. Bakteri ini menyebabkan disentri yang berat dan invasif. Manifestasi klinis yang
ditimbulkannya dapat berupa diare sedang sampai banyak, yang disertai panas dan mual, dengan
sifat watery (diare dengan komposisi feses didominan cairan/air) ataupun diare berdarah. Selama
ini digunakan antibiotik untuk mengobati bloody diarrhea (diare disertai darah) dengan tujuan
memperpendek masa sakit, menurunkan morbiditas, dan mengurangi durasi perubahan siklus

hidupnya.
Terjadinya resistensi bakteri penyebab bloody diarrhea (diare disertai darah) juga mengalami
peningkatan secara luas di dunia. Dengan meningkatnya kejadian resistensi ini menyebabkan
morbiditas meningkat, durasi sakit lebih lama, dan resiko kematian juga akan meningkat.3 Oleh
karena itu, perlu adanya alternatif untuk m engatas i hal ters ebut, yang logis , ilmiah sesuai
metode scientific knowledge. Salah satu pendekatan yang mungkin dilakukan adalah dengan
memanfaatkan tanaman (herbal) yang telah diketahui atau masih dalam bentuk dugaan
mempunyai efek anti mikroba sehingga dapat digunakan secara luas, dengan tingkat keamanan
yang baik atau tanpa efek samping.
Menurut farmakope Belanda, Zingiber rhizoma (Rhizoma zingiberis- akar jahe) yang berupa
umbi Zingiber officinale mengandung 6% bahan obat- obatan yang sering dipakai sebagai
rumusan obat- obatan atau sebagai obat resmi di 23 negara. Menurut daftar prioritas W HO, jahe
merupakan tanaman obat- obatan yang paling banyak dipakai di dunia.4
Tanaman jahe termasuk Suku Zingiberaceae, merupakan salah satu tanaman rempahrempahan yang telah lama digunakan sebagai bahan baku obat tradisional. Kandungan senyawa
metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak tanaman jahe terutama golongan flavonoid, fenol,
terpenoid, dan minyak atsiri dapat digunakan sebagai antibakteri.5
Di Indonesia, berdasarkan bentuk, warna, aroma rimpang, dan komposisi kimianya dikenal 3
varian jahe yaitu jahe putih besar (Zingiber officinale varian Officinarum), jahe emprit (Zingiber
officinale varian Amarum), dan jahe merah (Zingiber officinale varian Rubrum). Di antara ketiga
varian jahe tersebut, yang kandungan minyak atsirinya paling besar adalah jahe merah yaitu 2,58
2,72%.6
Berdasarkan alasan- alasan di atas, ingin diteliti lebih lanjut mengenai efek antibakteri
ekstrak rimpang jahe merah (Zingiber officinale var. Rubrum) terhadap Shigella dysenteriae.
Dalam penelitian ini, akan digunakan ekstrak etanol karena diperkirakan kandungan bahan aktif
di dalam rimpang jahe merah banyak terlarut dalam ethanol.(2)

Jahe (Zingiber officinale Roscoe) merupakan salah satu tanaman


temu- temuan yang tergolong tanaman apotek hidup. Menurut Rukmana

(2004), jahe dipercaya secara tradisional dapat menghilangkan masuk


angin, mengurangi atau mencegah influenza, rematik dan batuk serta
mengurangi rasa sakit (analgesik) dan bengkak (antiinflamasi).
Menurut Ariviani (1999), jahe memiliki berbagai kandungan zat yang
diperlukan oleh tubuh. Beberapa kandungan zat yang terdapat pada jahe
adalah minyak atsiri (0,5 - 5,6%), zingiberon, zingiberin, zingibetol,
barneol, kamfer, folandren, sineol, gingerin, vitamin (A, B1, dan C),
karbohidrat (20 60%) damar (resin) dan asam asam organik (malat,
oksalat). Selain sebagai antimikroba, jahe juga memiliki kemampuan
sebagai antioksidan (Uhl, 2000 dalam Irfan,2008).(3)
Disentri merupakan salah satu masalah kesehatan yang ada di negara berkembang termasuk
Indonesia. Shigella dysenteriae adalah bakteri yang sering menyebabkan disentri. Shigella
menimbulkan polemik dalam kebijakan terapi diare di Indonesia, karena banyak ditemukan
resistensi Shigella bersifat multi resisten terhadap 4 jenis antibiotik yaitu terhadap kloramfenikol,
tetrasiklin, kanamisin dan ampisilin. Banyak dari masyarakat Indonesia menggunakan bahan alam
sebagai terapi untuk berbagai penyakit karena bahan yang mudah didapat dan dengan efek
samping yang lebih minimal dibandingkan obat sintetis.
Disentri merupakan salah satu masalah kesehatan yang ada di negara
berkembang termasuk Indonesia. Shigella dysenteriae adalah bakteri yang
sering menyebabkan disentri dan gejala yang dominan adalah demam disertai
diare. Disentri merupakan suatu sindrom yang memiliki karakteristik sering
buang air besar (biasanya 10-30 kali per hari) dengan feces yang mengandung
darah, mucus, dan pus, jenis diare ini biasanya disertai dengan kram perut yang
parah
Shigella lebih sering ditemukan selama akhir musim panas, tetapi sifat ini kurang
menonjol sebagaimana Salmonella. Di Indonesia tahun 1989 1990 angka
kejadian disentri sebesar 15%, meskipun proporsi Shigella dysenteriae rendah
perlu diwaspadai karena dapat muncul sebagai epidemic, epidemik ini dapat
disebabkan oleh Shigella dysenteriae yang telah resisten terhadap berbagai
antibiotik. Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia,
prevalensi diare di Indonesia 10,4% secara umum masih menjadi tempat
pertimbangan sebagai tempat wabah penyakit yang berisiko tinggi.
Shigella mengeluarkan toksin (Shiga toksin) yang bersifat nefrotoksik (berpotensi
merusak ginjal), sitotoksik (berpotensi merusak sel) dan enterotoksik
(merangsang sekresi usus) sehingga menyebabkan sel epithelium mukosa usus
menjadi nekrosis. Shigella berkolonisasi di ileum terminalis/kolon, terutama kolon
distal, invasi ke sel epitel mukosa usus, melakukan multiplikasi dan menyebar di

intrasel dan intersel kemudian memproduksi enterotoksin


(eksotoksin yang aktivitasnya memengaruhi usus halus, sehingga umumnya
menyebabkan sekresi cairan secara berlebihan ke dalam rongga usus,
menyebabkan diare dan muntah- muntah) menyebabkan meningkatnya cAMP.
cAMP yang meningkat mengakibatkan hipersekresi pada usus (diare cair, diare
sekresi). Selain memproduksi enterotoksin, Shigella dysenteriae juga
memproduksi eksotoksin (Shiga toxin) yang bersifat sitotoksik sehingga
mengakibatkan infiltrasi sel radang, terjadi nekrosis sel epitel mukosa, eritrosit
dan plasma keluar ke lumen usus sehingga tinja bercampur darah.
Shigella dysenteriae memproduksi eksotoksin tidak tahan panas yang dapat
mempengaruhi saluran pencernaan dan susunan saraf pusat. Eksotoksin
merupakan protein yang bersifat antigenik (merangsang produksi antitoksin).
Sebagai enterotoksin, zat ini dapat menimbulkan diare. Pada manusia,
eksotoksin ini juga menghambat absorbsi gula dan asam amino pada usus kecil,
toksin ini menyebabkan diare awal yang encer dan tidak berdarah, dan invasi
usus besar mengakibatkan disentri lebih lanjut dengan tinja yang disertai darah
dan nanah (Jawetz, 1996).
Shigella menimbulkan polemik dalam kebijakan terapi diare di Indonesia, karena
banyak ditemukan resistensi oleh Shigella yang bersifat multiresisten terhadap 4
jenis antibiotik yaitu terhadap kloramfenikol, tetrasiklin, kanamisin dan ampisilin.
Oleh karena itu, penulis ingin mencari alternative pengobatan dari ekstrak
tumbuhan yang mempunyai kandungan efek antibakteri.
Salah satu tanaman tradisional adalah (4)

Shigella dysenteriae adalah bakteri penyebab utama Shigellosis yang


merupakan penyakit infeksi yang tersebar di seluruh dunia. Shigella
dysenteriae bersifat multi resisten terhadap beberapa antimikroba
tertentu, sehingga menimbulkan masalah terapi yang sulit. Oleh
karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mendapatkan antimikroba
alternatif dari bahan alam, salah satunya adalah
Shigellosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang tersebar
diseluruh dunia. Di dunia sekurang- kurannya 200 juta kasus dan
650.000 kematian terjadi setiap tahun akibat shigellosis pada anakanak di bawah umur 5 tahun. Shigellosis kebanyakan ditemukan di
negara-negara berkembang, yang kesehatan lingkungannya masih
kurang karena lingkungan yang jelek akan menyebabkan mudahnya
penularan penyakit.1 Penyebaran shigellosis dari manusia ke manusia

melalui oral-fecal route. Karena oral habits, anak-anak dibawah 5 tahun


merupakan separuh penderita dari semua kasus dan anak- anak di
bawah 10 tahun dua pertiga dari semua kasus yang dilaporkan.2
Shigella sp adalah penyebab utama shigellosis atau disentri basiler,
suatu penyakit yang ditandai dengan nyeri perut hebat, diare yang
sering dan sakit dengan volume tinja sedikit disertai lendir dan darah.2
Prinsip dalam melakukan tindakan pengobatan adalah istirahat,
mencegah atau memperbaiki
dehidrasi dan pada kasus yang berat diberi antibiotika. Menurut WHO
pasien diberi pengobatan antibiotika bila telah terdiagnosis
shigellosis.1 Sekitar 50% galur spesies Shigella pada berbagai belahan
dunia bersifat multi resisten (resisten terhadap beberapa obat).3 Di
negara-negara berkembang, S.dysenteriae tipe 1 (memiliki cytotoxin
protein, dikenal sebagai Shiga toxin) telah multi resisten terhadap obatobatan. Berdasarkan penelitian, Shigella dysenteriae menunjukan
resistensi tinggi terhadad co-trimoxazole dan ampicillin (>86%).4 Di
Bangladesh dilaporkan S.dysenteriae (100%) resisten terhadap asam
nalidiksik.5
Selain adanya permasalahan resistensi antibiotika, adanya efek
samping dari penggunaan antibiotika untuk pengobatan shigellosis
tentunya juga menjadi kendala utama penatalaksanaan penyakit
shigellosis. Seperti antibiotika Norfloxacin dan Ciprofloxacin memiliki
efek samping ringan yaitu pusing, hipotensi dan dyspepsia. Untuk
antibiotika ampicillin dan ceftriaxone dapat menyebabkan
reaksi hipersensitivitas, sedangkan antibiotika Co-trimoxazole atau
trimethoprim-sulphamethoxazole dapat menyebabkan Stevens-Johnson
syndrome.6 Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan
pengobatan penyakit shigellosis diperlukan suatu penelitian terhadap
bahan alam yang berpotensi sebagai antimikroba, sehingga dapat
digunakan sebagai alternatif pengobatan.
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luas. Dari sekian
banyak keanekaragaman tersebut banyak diantaranya yang
berpotensi sebagai antimikroba, salah satunya adalah delima (Punica
granatum L). Kandungan buah delima yang berfungsi sebagai

antimikroba adalah flavonoids, tannin dan asam fenolik.7 Berdasarkan


penelitian yang dilakukan oleh Duman et al., (2009) melaporkan
bahwa kandungan ekstrak buah delima memiliki aktivitas tinggi
sebagai antibakterial dan antifungal. Aktivitas antibakterial ekstrak
buah delima salah satunya mampu menghambat pertumbuhan bakteri
Pseudomonas aeruginosa.8 Di Indonesia, penelitian mengenai aktivitas
ekstrak buah delima sebagai
antimikroba masih jarang dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui apakah buah delima memiliki aktivitas
antimikroba terhadap Shigella dysenteriae.(5)

B.

Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah efek pemberian ekstrak jahe terhadap bakteri shigella dysentri
2. Bagaimanakah efek pemberian antobiotik.. terdap bakteri shigella dysentri.

C.

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu:
1. Mengetahui efek pemberian ekstrak jahe terhadap bakteri shigella dysentri
2. Mengetahui efek pemberian antibiotik terhadap bakteri shigella dysentri

D.

Manfaat Penelitian
1.

Sebagai bahan informasi bagi para akademisi mengenai fungsi ekstrak jahe terhadap
mikroba

2.

Sebagai bahan informasi bagi masyarakat agar masyarakat bisa lebih mengetahui lagi
akan manfaat dari jahe

Daftar Pustaka

1. KAJIAN EPIDEMIOLOGI PENYAKIT INFEKSI SALURAN PENCERNAAN YANG


DISEBABKAN OLEH AMUBA DI INDONESIA Anorital, * Lelly Andayasari** 2011
2. UJIANTIBAKTERIEKSTRAKETANOLRIMPANGJAHEMERAH (Zingiber officinale
varian Rubrum) TERHADAP Shigella dysenteriae ISOLAT 2312-F SECARA INVITRO Sri Winarsih*, Imam Sarwono**, Pandu Santiko B.*** 2010
3. PENAMBAHAN EKSTRAK JAHE (Zingiber officinale rosc.) DALAM PEMBUATAN
SUSU KEDELAI BUBUK INSTAN DENGAN METODE SPRAY DRYING :
KOMPOSISI KIMIA, SIFAT SENSORIS DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Dika
Pramitasari. 2010
4. Uji Ekstrak Bunga Kamboja (Plumeria acuminatae, Ait) Sebagai Antimikroba Terhadap
Shigella dysenteriae Secara In Vitro Andreas Teguh Santoso*, Noorhamdani**,
Bambang Sidharta***
5. UJI EFEKTIFITAS EKSTRAK ETANOL BUAH DELIMA (Punica granatum)
SEBAGAI ANTIMIKROBA TERHADAP Shigella dysenteriae SECARA IN VITRO dr.
Aulia Abdul Hamid, M.Sc, Sp.M ; dr. Rita Rosita, M.Kes. ; Yuriska Mayda
Sumantri. 2013