Anda di halaman 1dari 15

TEKNOLOGI BAHAN BANGUNAN

SEMEN PORTLAND

KELOMPOK 1
UTARI NUR RAMADHANI
YOAN FEBRIANA SARY
SRI KUMALA YANTI
NUNUK ENDANG PURWANTI
ANDI ROSITA EVIANI
DETA INDRAYANI
INDRA GAMA PAMUNGKAS
TEDDY ARIYADI SETIYANTO
ANNISAUL MAGHFIRAH
FEBRINA GITTA DEVITA LUBIS
ANGGI T. ANUGRAH

S1 TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2014

1309025025
1309025021
1309025037
1309025001
1309025026
1309025009
1309025035
1309025008
1309025040
1309025020
1009015062

DAFTAR ISI
I.

PENDAHULUAN ................................................................................................. 1
A. DEFINISI ........................................................................................................ 1
B. SEJARAH SEMEN ........................................................................................ 1
C. KONSEP DASAR ........................................................................................... 2

II.

ISI ........................................................................................................................... 2
A. PEMBAHASAN .............................................................................................. 2
B. PENELITIAN-PENELITIAN 10 TAHUN TERAKHIR ........................... 12

III.

PENUTUP ............................................................................................................. 12
A. KESIMPULAN .............................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 13

I.

PENDAHULUAN

A. Definisi
Semen portland adalah semen hidrolisis yang dihasilkan dengan cara menggiling
terak/klinker yang mengandung senyawa kalsium Silikat yang bersifat hidrolisis ditambah
dengan bahan tambahan gypsum yang berfungsi sebagai pengatur pengikatan (memperlambat
pengikatan).
Semen Portland adalah bahan konstruksi yang paling banyak digunakan dalam
pekerjaan beton pada suatu konstruksi sipil. Semen Portland yang digunakan di Indonesia
harus memenuhi syarat SII.0013-81 atau Standar Uji Bahan Bangunan Indonesia 1986 dan
harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam standar tersebut (PB.1989:3.2-8)
B. Sejarah Semen
Pada awalnya perekat dan penguat bangunan merupakan hasil percampuran batu kapur
dan abu vulkanis. Pertama kali ditemukan pada zaman kerajaan Romawi, tepatnya di Pozzuoli,
dekat teluk Napoli, Italia. Bubuk itu kemudian diberi nama pozzuolana. Sedangkan kata
semen sendiri berasal dari kata caementum (bahasa latin) yang artinya memotong menjadi
bagian-bagian kecil tak beraturan. Namun dengan runtuhnya kerajaan Romawi sekitar abad
pertengahan (tahun 1100-1500 M) resep ramuan pozzuolana sempat menghilang dari
peredaran. Kemudian pada tahun sekitar 1700-an atau sekitar abad ke-18 John Smeaton
insinyur asal Inggris menemukan kembali ramuan kuno berkhasiat luar biasa ini . Dia
membuat adonan dengan memanfaatkan campuran batu kapur dan tanah liat saat membangun
menara suar Eddystone di lepas pantai Cornwall, Inggris.
Tahun 1979 James Parker, berkebangsaan Inggris membuat semen hydraulic dengan
cara membakar batu kapur. Pada tahun 1802 Edgar Dobbs, dari Inggris membuat semen dari
batu kapur dan tanah liat. Pada tahun1813 Vicat, dari Prancis. Pada tahun 1822 James Frost,
dari Inggris membuat semen dari batu kapur dan tanah liat. Pada tahun 1850 David O Saylor,
dari Pennysylvania batuan semen diproduksi dengan tungku tegak. Ironisnya buka Smeaton
yang akhirnya mematenkan proses pembuatan cikal-bakal semen ini. Joseph Aspadin juga
seorang insinyur berkebangsaan Inggris pada tahun 1824 mengurus hak paten ramuan yang
1

kemudia dikenal dengan nama semen Portland ini. Dinamai begitu karena warna hasil akhir
olahannya mirip dengan tanah liat di pulau Portland, Inggris.Hasil Rekayasa Aspadin inilah
yang kemudian banyak di pajang di took-toko bangunan hingga sekarang ini.
C. Konsep Dasar
Pada makalah ini akan dibahas mengenai semen Portland, meliputi: defines, bahan
dasar, proses pembuatan semen, senyawa kimia yang menyusunnya, reaksi hidrasi, panas
hidrasi, pengikatan dan pengerasan, jenis semen Portland, perbedaan produk semen, cara
penyimpanan semen dan penelitian yang berkait dengan semen Portland selama 10 (sepuluh)
tahun terakhir.
II. ISI
A. Pembahasan
o Bahan Dasar
Komposisi utama semen portland adalah kalsium dan alumunium silikat. Dalam
pembentukan semen portland dibutuhkan bahan yaitu kapur (CaO), silika (SiO3), alumunia
(Al2O3), sedikit magnesia (MgO), dan sedikit alkali. Untuk mengontrol komposisinya,
ditambahkan pula (Fe2O3) yang terdapat pada pasir besi apabila kadar (Fe2O3) pada batu
lempung lebih kecil dari 10%. Semen portland mengandung satu atau lebih senyawa kalsium
sulfat. Pada waktu penggilingan senyawa kalsium sulfat terbentuk karena adanya penambahan
bahan-bahan mentah. Clinker dibuat dari batu kapur (CaCO3), tanah liat (tanah lempung), dan
bahan dasar berkadar besi. Campuran clinker yang kemudian ditambah dengan gypsum
(CaSO4.2H2O) guna mengatur waktu ikat semen. Di Indonesia terdapat gunung kapur yang
sangat melimpah yang memudahkan kita untuk memproduksi semen. Oleh karena itu,
kebanyakan pabrik semen Indonesia dibangun di dekat gunung kapur guna mempermudah
proses produksi. Berikut adalah penjelasan bahan-bahan dasar semen portland secara lebih
mendetail:
1. Batu gamping (Batu Kapur)
Batu gamping atau batu kapur mengandung CaCO3 batu yang memiliki kadar antara
80%-85% sangat baik sebagai bahan baku semen karena lebih mudah digiling untuk menjadi

homogen. Batu gamping yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat tertentu, antara lain:
(1) Mempunyai kadar karbonat tinggi (> 48%); (2) Mempunyai kadar Mg rendah (< 1,8%);
(3) Tidak mengandung Zn dan Pb; (4) Mempunyai kadar air kurang dari 20% (5) Sedikit
mengandung sulfat, sulfit dan alkali.
2 Tanah lempung (Tanah liat)
Tanah lempung yang akan dipakai sebagai bahan baku semen sebaiknya mempunyai
kadar SiO2 lebih besar dari 70% dan Al2O3 lebih kecil dari 10%.
Batu lempung yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1.

Mempunyai kadar SiO2 tinggi (> 48%)

2.

Sedikit mengandung sulfit, sulfat dan alkali

3 Gypsum
Gypsum (CaSO4.2H2O) dipergunakan sebagai bahan tambahan (additve material) pada
pembuatan semen portland dengan jumlah antara 4%-6%. Fungsi gipsum disini sebagai
redater, yaitu bahan yang dapat mengendalikan waktu pengerasan semen dan juga untuk
menentukan kualitas semen. Komposisi kimia gipsum untuk bahan baku semen portland
disyaratkan sebagai berikut :
4 Pasir besi
Pasir besi adalah sejenis pasir dengan konsentrasi besi yang signifikan. Pasir ini
biasanya berwarna abu-abu gelap atau berwarna kehitaman. Digunakan untuk memudahkan
proses pelelehan bahan-bahan mentah pada saat pengilingan dan juga jika kadar Fe2O3 dalam
tanah lempung lebih kecil dari 10% maka perlu memakai pasir besi sebagai bahan pengoreksi.
5 Pasir Kuarsa
Pasir kuarsa digunakan sebagai bahan pengoreksi komposisi SiO2 dan mengandung
senyawa pengotor yang terbawa selama proses pengendapan. Pasir kuarsa juga dikenal dengan

nama pasir putih. Merupakan hasil pelapukan batuan yang mengandung mineral utama, seperti
kuarsa dan feldspar. Pasir ini berguna apabila kandungan kwarsa pada batu lempung rendah.
o Proses Pembuatan Semen
Proses Basah
Pada proses basah, sebelum dibakar bahan dicampur dengan air (slurry) dan digiling
hingga berupa bubur halus. Proses basah umumnya dilakukan jika yang diolah merupakan
bahan-bahan lunak seperti kapur dan lempung.
Bubur halus yang dihasilkan selanjutnya dimasukan dalam sebuah pengering (oven)
berbentuk silinder yang dipasang miring (ciln). Suhu ciln ini sedikit demi sedikit dinaikkan
dan diputar dengan kecepatan tertentu. Bahan akan mengalami perubahan sedikit demi sedikit
akibat naiknya suhu dan akibat terjadinya sliding di dalam ciln. Pada suhu 100C air mulai
menguap; pada suhu 850C karbondioksida dilepaskan. Pada suhu sekitar 1400C,
berlangsung permulaan perpaduan di daerah pembakaran, dimana akan terbentuk klinker yang
terdiri dari senyawa kalsium silikat dan kalsium aluminat. Klinker tersebut selanjutnya
didinginkan, kemudian dihaluskan menjadi butir halus dan ditambah dengan bahan gipsum
sekitar 1%-5%.
Proses Kering
Pada proses ini bahan dicampur dan digiling dalam keadaan kering menjadi bubuk
kasar. Selanjutnya, bahan tersebut dimasukkan ke dalam ciln dan proses selanjutnya sama
dengan proses basah.
Secara ringkas, proses pembuatan semen portland dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Bahan baku yang berasal dari tambang (quarry) berupa campuran CaO SiO-2, dan
Al2O3 digiling (blended) bersama-sama beberapa bahan tambah lainnya, baik dalam
proses basah maupun dalam proses kering.
2. Hasil campuran tersebut dituangkan ke ujung atas ciln yang diletakan agak miring.

3. Selama ciln berputar dan dipanaskan, bahan tersebut mengalir dengan lambat dari
ujung atas ke ujung bawah.
4. Temperatur dalam ciln dinaikkan secara perlahan hingga mencapai temperatur klinker
(clincer temperature) dimana difusi awal terjadi. Temperatur mi dipertahankan sampai
campuran membentuk butiran semen portland pada suhu 1400 0C (2700 0F). Butiran
yang dihasilkan disebut sebagai klinker (clincer) dan memiliki diameter antara 1.5-50
mm.
5. Klinker tersebut kemudian didinginkan dalam clinker storage dan selanjutnya
dihancurkan menjadi butiran-butiran yang halus.
6. Bahan tambah, yakni sedikit gipsum (sekitar 1%-5%) ditambahkan untuk mengontrol
waktu ikat semen, yakni waktu pengerasan semen di lapangan.
7. Hasil yang diperoleh kemudian disimpan pada sebuah cement silo untuk penggunaan
yang kecil, yakni kebutuhan masyarakat. Pengolahan selanjutnya adalah pengepakan
dalam packing plant. Untuk kebutuhan pekerjaan besar, pndistribusian semen dapat
dilakukan menggunakan capsule truck.
o Senyawa Kimia
Sebagai hasil perubahan susunan kimia yang terjadi diperoleh susunan kimia yang
komplek. 4 unsur yang paling utama sebagai penyusun semen Portland yaitu:

Trikalsium silikat (3CaO.SiO2) atau C3S

Dikalsium silikat (2CaO.SiO2) atau C2S

Trikalsium aluminat (3CaO.SiO2) atau C3A

Tetrakalsium aluminoferrit (4CaO.Al2O3.Fe2OE) atau C4AF

Komposisi trikalsium silikat dan dikalsium silikat adalah 70%-80% dari berat semen
dan merupakan bagian yang paling dominan memberikan sifat semen. Bila semen terkena air
C2S segera berhidrasi menghasilkan panas. Selain itu juga berpengaruh besar terhadap
pengerasan semen, terutama sebelum hari ke-14. Sebaliknya C2S lebih lambat bereaksi lambat
dengan air sehingga berpengaruh terhadap pengerasan semen setelah hari ke-7. Senyawa C2S
memberikan ketahanan terhadap serangan kimia (chemical attack) dan juga mempengaruhi

susut terhadap pengaruh panas akibat lingkungan seperti mengurangi besar susutan akibat
pengeringan.
Kedua senyawa utama tadi membutuhkan air sekitar 21%-24% dari beratnya untuk
bereaksi. Senyawa C3S membebaskan kalsium hodroksida hampir tiga kali dari yang
dibebaskan C2S . jika kandungan C3S lebih banyak maka terbentuk semen dengan kekuatan
tekan awal yang tinggi dan panas hidrasi yang tinggi, sebaliknya jika kandungan C2S lebih
banyak maka akan terbentuk tekanan awal yang rendah dan ketahanan terhadap serangan
kimia yang tinggi.
Senyawa C3A berhidrasi secara exothermic dan bereaksi sangat cepat memberikan
kekuatan sesudah 24 jam. Semen yang mengandung unsur ini lebih dari 10% akan kurang
tahan terhadap asam sulfat (SO4). Oleh karena itu semen tahan sulfat tidak boleh mengandung
senyawa C3A terlalu banyak (maksimum 5 %). Semen yang terkena SO4 di dalam air atau
tanah disebabkan karena keluarnya C3A yang bereaksi dengan sulfat dan mengembang
sehingga terjadi retak-retak pada betonnya.
Senyawa keempat yakni C4AF kurang begitu besar pengaruhnya terhadap kekerasan
semen atau beton sehingga kontribusinya dalam peningkatan kekuatan kecil.
o Reaksi Hidrasi
Reaksi hidrasi semen yaitu reaksi yang terjadi antara senyawa silikat dan senyawa
aluminat yang terdapat pada semen portland dengan air sehingga menjadi suatu campuran zat
yang padat dan kemudian mengalami pengerasan.
Mekanisme Hidrasi Semen Portland:

Reaksi dengan senyawa C3S dan C2S

Perbedaan dari kedua senyawa tersebut dalam hal kecepatan dan temperatur reaksi.
Panas reaksi C3S yang ditimbulkan sekitar 500 J/gram. Panas reaksi C2S yang ditimbulkan
sekitar 350 J/gram. Senyawa C3S merupakan komponen penentu kekuatan awal semen
portland, pada umur 1 28 hari, hal ini disebabkan reaksi hidrasinya yang berlangsung cepat

dan kadarnya yang tinggi. Sedangkan C2S merupakan komponen penentu kekuatan akhir
semen Portland yang akan terlihat 28 hari setelah pengikatan. Kalsium silikat akan terhidrasi
menjadi gel kalsium silikat hidrat (gel tobermorite) dan kalsium hidroksida. Gel kalsium
silikat hidrat , sering disingkat gel C-S-H memiliki komposisi yang bervariasi berbentuk
rongga sebanyak 70% dari semen. Kalsium hidroksida yang dihasilkan akan membuat sifat
basa kuat (ph=12,5). Ini menyebabkan semen sensitive terhadap asam dan akan mencegah
timbulnya karat pada besi baja.
2(3CaO.SiO2) + 6 H2O
2C3S

+ 6H

Trikalsium silikat
2(2 CaO.SiO2) + 4H2O
2C2S

+ 4H

Dikalsium silikat

3CaO.2SiO2.3H2O + 3Ca(OH) 2
C-S-H gel
gel tobermorite

+ 3 CH
kalsium hidroksida

3 CaO.2SiO2.2H2O +Ca(OH) 2
C-S-H gel

+ CH

gel tobermorite

kalsium hidroksida

Reaksi dengan senyawa C3A

Senyawa C3A adalah senyawa yang paling reaktif dibandingkan senyawa ini bereaksi
dengan cepat, panas sekitar 1350 J/gram. Senyawa C3A memainkan peranan yang sangat
penting dalam pengembangan kekuatan awal, 1 sampai dengan 3 hari, hal ini disebabkan
karena panas hidrasinya yang cukup tinggi sehingga dapat mempercepat reaksi hidrasi. Hidrasi
C3A terjadi secara mendadak dengan disertai pengeluaran panas yang banyak. Akan terbentuk
kristal kalsium aluminat hidrat yang menyebabkan pengerasan dan pasta semen. Kejadian ini
disebut flash set. Itu sebabnya perlu ditambahkan gypsum pada saat penggilingan klinker,
untuk memperkecil reaktivitas C3A
3CaO.Al2o.Al2O3 +10 H2O + CaSO4.2H2O 3 CaO.Al2O3.CaSO4.12H2O
Trikalsium aluminat

gypsum

ettringite

3CaO.Al2O3 + 12H2O + Ca(OH) 2


Trikalsium aluminat

3 CaO.Al2O3.Ca(OH) 2.12H2O

kalsium aluminat hidrat

Reaksi dengan senyawa kalsium aluminoferrit (C4AF)

Reaksi hidrasi senyawa C4AF berlangsung cepat dan menghasilkan panas sekitar160
J/gram. Reaksi yang terjadi terdiri dari beberapa tahap tergantung pada lingkungannya.
4CaO.Al2O3.Al2O3.Fe2O3 + 10H2O +2 Ca(OH)2 6 CaO.Al2O3.FeO3.12H2O
Tetrakalsium alumina-ferrit

kalsium

aluminoferrit hidrat

o Panas Hidrasi
Reaksi hidrasi semen merupakan reaksi eksoterm. Sehingga sistem melepaskan kalor
kelingkungan yang akan menyebabkan lingkungan mengalami kenaikan suhu. Kenaikan suhu
oleh reaksi hidrasi tersebut dinamakan panas hidrasi. Panas Hidrasi

dinyatakan dalam

kalori/gram. Jumlah panas dan laju hidrasi yang dibentuk antara lain bergantung pada jenis
semen yang dipakai dan kehalusan butiran semen.
Panas hidrasi naik sesuai dengan nilai temperature pada saat hidrasi terjadi. Untuk
semen biasa panas hidrasi bervariasi mulai 37 kalori/gram pada temperature sekitar 5oC
hingga 80kalori/gram pada temperature 40oC.
Semua jenis semen umumnya telah membebaskan sekitar 50% panas totalnya pada
satu hingga tiga hari pertama, 70% pada hari ke tujuh, serta 83-91% setelah 6 bulan. Laju
perubahan ini tergantung pada komposisi semen
Proses hidrasi terjadi dengan arah ke dalam dan keluar. Maksudnya, hasil hidrasi
mengendap dibagian luar, semen yang bagian dalamnya belum terhidrasi,dan secara bertahap
akan terhidrasi sehingga dapat terjadi perbedaan temperatur bagian dalam dan bagian luar
akibat adanya panas hidrasi. Panas yang timbul ini menyebabkan beton mengembang namun
bagian luar lebih cepat mendingin dan menyusut volumenya sedangkan bagian dalam masih
panas dan belum menyusut, maka terjadilah perbedaan volume. Tahap berikutnya lapisan
8

bagian luar mendingin dan menyusut sehingga menarik lapisan luar yang sudah terlebih
dahulu menyusut sehingga timbul kecenderungan retak retak. Proses berlangsungnya retak
retak ini bersamaan dengan proses pengerasan beton.
Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi timbulnya retak retak ini
antara lain :
1.

Menggunakan semen sesedikit mungkin, karena semen adalah sumber panas


menggunakan semen sesedikit mungkin bisa dicapai dengan cara: menggunakan ukuran
agregat kasar sebesar besarnya tentunya sebatas yang diijinkan yaitu 75 150 mm.
Karena dengan menggunakan agregat kasar dengan ukuran maksimum maka jumlah
semen yang diperlukan semakin sedikit. Memakai perbandingan agregat halus dan kasar
yang tepat supaya didapatkan semen minimum dengan kuat tekan yang sama.

2.

Menggunakan semen khusus yang mempunyai panas hidrasi rendah

3.

Berikan aliran air dingin melalui pipa-pipa yang terpendam. Hal ini dimaksudkan agar
panas hidrasi selalu terdistribusi secara merata di dalam beton. Perbedaan tempertaur
dapat terbesar dapat dijaga dengan cara menentukan jarak pipa, lama pengaliran air,
temperatur air yang dimasukkan, dan debit air yang dialirkan
o Pengikatan dan Pengerasan
Setting dan Hardening adalah pengikatan dan pengerasan semen setelah terjadi reaksi

hiderasi. Semen apabila dicampur dengan air akan menghasilkan pasta yang plastis dan dapat
dibentuk (workable) .Waktu pengikatan awal dan akhir dalam semen dalam prakteknya sangat
penting, Waktu pengikatan awal minimum 45 menit sedangkan waktu akhir maksimum 8 jam.
Reaksi pengerasan :
C2S + 5H2O

C2S. 5H2O

C3S + 5H2O

C2S6. 5H2O + 13 Ca(OH)2

C3A+ 3Cs+ 32H2O

C3A. 3Cs+.32H2O

C4AF + 7H2O

C3A.6 H2O+ CF. H2O

MgO+ H2O

Mg(OH)2

Dalam kenyataan di lapangan, waktu setting ini sangat banyak dipengaruhi oleh
kondisi lingkungan yaitu temperatur lapangan dan angin dapat mempercepat waktu
pengikatan. Selain itu, kondisi agregat juga memegang peranan penting terhadap waktu
pengikatan ini, dimana agregat yang kering dan panas dapat juga mempercepat waktu
pengikatan. Faktor yang mempengaruhi waktu ialah :
o Jenis Semen Portland

Semen Portland Tipe I, dipergunakan secara luas untuk konstruksi bangunan yang
tidak memerlukan persyaratan khusus. Tipe ini secara umum digunakan untuk
konstruksi umum, seperti bangunan perumahan, gedung-gedung bertingkat, dan lainlain.

Semen Portland Tipe II. Semen Portland tipe ini digunakan untuk konstruksi bangunan
yang memerlukan ketahanan terhadap sulfat yang cukup tinggi. Semen Portland tipe
ini umumnya digunakan untuk pembangunan dermaga, bendungan, bendungan di
tanah rawa atau bergambut, bangunan di tepi pantai, saluran irigasi, dan sebagainya.

Semen Portland Tipe III, digunakan untuk keperluan konstruksi yang memerlukan
kekuatan tekan awal yang tinggi setelah proses pengecoran dilakukan dan memerlukan
penyelesaian secepat mungkin, digunakan pada pembuatan jalan beton, landasan
lapangan udara, bangunan tingkat tinggi, dan bangunan dalam air yang tidak
memerlukan ketahanan terhadap sulfat

Semen Portland Tipe IV, digunakan untuk konstruksi dengan panas hidrasi rendah,
yang dipakai untuk kondisi dimana percepatan dan jumlah panas yang timbul harus
minimum. Semen Portland tipe ini umumnya digunakan pada bangunan yang
berukuran besar, semisal bendungan gravitasi yang besar.

Semen Portland Tipe V, dipakai untuk konstruksi bangunan-bangunan pada daerah


yang memiliki tanah, air permukaan atau air tanah yang mengandung sulfat tinggi dan
cocok untuk instalasi pengolahan limbah pabrik, konstruksi dalam air, jembatan,
terowongan, pelabuhan, dan pembangkit tenaga nuklir.

10

o Perbedaan Produk Semen

Komposisi dalam persen (%)

Tipe I, Normal

C3 S

C2 S

C3 A

C4AF

49

25

12

CaSO4 CaO MgO


2.9

0.8

2.4

Semen untuk
semua tujuan.

Tipe II,

46

29

12

2.8

0.6

Modifikasi

Relatif sedikit
pelepasan panas,
digunakan untuk
struktur besar.

Tipe III,

56

15

12

3.9

1.4

2.6

Mencapai

Kekuatan Awal

kekuatan awal

Tinggi

yang tinggi pada


umur 3 hari.

Tipe IV, Panas

30

46

13

2.9

0.3

2.7

Hidrasi Rendah
Tipe V, Tahan

Di pakai pada
bendungan beton.

43

36

Sulfat

12

2.

0.4

1.6

Dipakai pada
saluran dan
struktur yang
diekspose
terhadap sulfat.

o Cara Menyimpan Semen


Semen harus disimpan dalam ruang tertutup atau minimal terlindung dari sinar
matahari dan hujan. Permukaan lantai juga harus datar dan rata serta bukan berupa tanah agar
apabila terjadi penguapan air atau pengembunan didalam tanah tidak mengenai semen. Dalam
11

penyimpanan semen sebaiknya memberikan alas berupa kayu atau balok karena bisa
membantu menghentikan hawa dingin yang terdapat pada lantai atau tanah. Selain itu, alas
tersebut juga bisa menghindarkan semen dari percikan air hujan.
Menyimpan semen dalam silo yang portable lebih baik karena lebih murah, lebih
praktis karena tidak perlu membuka kantong, lebih hemat karena tidak ada kemungkinan
semen terbuang karena kantong pecah, dan semen lebih terlindungi di dalam silo. Bila semen
disimpan dalam silo lebih dari 6 bulan, maka akan terbentuk lapisan keras setebal 5 cm diatas
permukaan. Lapisan ini harus dibuang dan jangan sampai tercampur ke dalam beton.
2. Penelitian-Penelitian 10 Tahun Terakhir
Fly ash merupakan bagian dari sisa pembakaran batubara yang berbentuk partikel
halus amorf. Fly ash memiliki sifat fisik berupa bentuk partikel yang halus, yaitu lolos ayakan
45 mili micron. Sifak kimiawi pada fly ash memiliki kemiripan dengan sifat pada semen
Portland. Adanya kemiripan sifat fisik dan kimiawi antara fly ash dan semen Portland
menjadikan material fly ash dapat digunakan sebagai alternatif dalam pembuatan beton mutu
tinggi. Lebih lanjut, bentuk partikel fly ash yang lebih halus memberikan keuntungan, dimana
penggunaannya dapat memperkecil porositas beton. Hal ini memberikan keuntungan dalam
hal peningkatan kekuatan beton. Berbagai penelitian memberikan kesimpulan yang positif
terhadap kegunaan material fly ash dalam produksi beton mutu tinggi. Beberapa penelitian
menunjukkan, kadar optimum fly ash yang dapat digunakan dalam pembuatan beton berkisar
antara 9%- 16 % dari berat semen.
III.

KESIMPULAN

Semen Portland harus memenuhi syarat SII.0013-81 atau Standar Uji Bahan Bangunan
Indonesia 1986 dan harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam standar tersebut.
Komposisi utama semen portland adalah kalsium dan alumunium silikat. Dalam pembentukan
semen portland dibutuhkan bahan yaitu kapur (CaO), silika (SiO3), alumunia (Al2O3), sedikit
magnesia (MgO), dan sedikit alkali.

12

DAFTAR PUSTAKA
Mulyono, T., 2005. Teknologi Beton. Yogyakarta: Andi. 2005
Nugraha, Paul Antoni. Teknologi Beton : Material, Pembuatan, ke Beton Kinerja Tinggi.
Yogyakarta: Andi. 2007
https://dwikusumadpu.wordpress.com/tag/panas-hidrasi/ diakses pada 9 September, 2014
17:32 WITA
http://indbongolz.wordpress.com/2009/04/04/hidrolisis-dan-hidrasi/

diakses

pada 9 September 2014 5.37pm


http://iti.northwestern.edu/cement/monograph/Monograph3_8.html
September 2014, 14:30 WITA

diakses

http://isamas54.blogspot.com/2010/10/semen-bagian-1-si-bahan-perekat-dan.html

pada

11

diakses

pada 9 September 2014 17:30 WITA


http://maulhidayat.wordpress.com/2013/02/25/reaksi-hidrasi-semen/

diakses

pada

september 2014 21:18 WITA


http://www.semenindonesia.com/page/get/jenis-produk-23 diakses pada 11 September 2014,
14:43 WITA
http://www.semenpadang.co.id/index.php?mod=produk diakses pada 11 September 2014,
14:55 WITA
http://zulfahmited.blogspot.com/2012/11/ilmu-bahan-bangunan-semen
September 2014, 19:22 WITA

diakses

pada

12

13