Anda di halaman 1dari 54

PERBANDINGAN SPKN DENGAN ISSAI

SEMINAR PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA

Disusun Oleh :
1. Muhammad Taufiq R. (21)
2. Tri Haska Hafidzi (29)

KELAS 10A
D4 KURIKULUM KHUSUS
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

BAB I
PENDAHULUAN

Standard Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) pada hakikatnya ini merupakan pelaksanaan
dari Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara Jo. Pasal 9 e Jo. Pasal 31 ayat (2) Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan yang menyatakan dalam melaksanakan tugasnya
Badan Pemeriksa Keuangan berwenang/berkewajiban menetapkan SPKN. SPKN ditetapkan dengan
Standard ini wajib digunakan dalam pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan
Negara.
SPKN ini mengatur hal-hal pokok yang memberi landasan operasional pelaksanaan pemeriksaan
oleh BPK. SPKN memuat persyaratan profesional Pemeriksa, mutu pelaksanaan pemeriksaan dan
persyaratan laporan pemeriksaan yang profesional bagi para Pemeriksa dan organisasi Pemeriksa
dalam melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara. Standarstandar ini tidak cukup spesifik untuk dapat dipakai sebagai pedoman kerja oleh para auditor, namun
menggambarkan suatu kerangka sebagai landasan interpretasi oleh auditor. SPKN berbeda dengan
prosedur auditing, standar ini berkaitan dengan kriteria atau ukuran mutu kinerja tindakan tersebut,
dan berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai melalui penggunaan prosedur tersebut.
SPKN ditetapkan dengan Peraturan BPK No. 1 tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan
Keuangan Negara. SPKN tersebut disusun setelah berkonsultasi dengan pemerintah dengan
menggunakan berbagai referensi standar profesi berbagai organisasi pemeriksa, baik dalam maupun
luar negeri.
Dalam pasal 9 Peraturan BPK No. 1 tahun 2007 tersebut disebutkan bahwa BPK membentuk
suatu Komite yang bertugas memantau penerapan dan pengembangan SPKN. Ketentuan ini
ditegaskan dalam Paragraf 09 Pendahuluan Standar Pemeriksaan yang menyatakan bahwa demi
penyempurnaan dan penyesuaian dengan perkembangan kebutuhan maupun perkembangan ilmu
pemeriksaan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) akan memantau penerapan dan perkembangan
standar pemeriksaan. Namun, tidak ada ketentuan atau penjelasan lainnya mengenai batas waktu
penyempurnaan dan penyesuaian dengan perkembangan kebutuhan maupun perkembangan ilmu
pemeriksaan yang dapat dijadikan rujukan untuk melakukan perubahan atau revisi atas SPKN.
Sejak tahun 2007 dimana SPKN ditetapkan, ilmu pemeriksaan telah mengalami perkembangan
yang sangat berarti. Hal ini ditandai dengan perubahan-perubahan berbagai standar pemeriksaan
yang dilakukan oleh organisasi profesi pemeriksa di luar negeri baik organisasi pemeriksa sektor
pemerintahan maupun organisasi pemeriksa sektor privat. Termasuk dalah hal ini adalah standar
profesi dari berbagai organisasi pemeriksa yang dijadikan referensi oleh BPK-RI dalam menyusun
SPKN itu juga telah mengalami perubahan yang luar biasa seiring dengan perkembangan ilmu
pemeriksaaan.
Menurut Muhadi dalam jurnal yang berjudul Perlunya Revisi Atas Standar Pemeriksaan
Keuangan Negara 2007, mengacu kepada berbagai ketentuan tersebut di atas serta adanya
perkembangan ilmu pemeriksaan yang jelaskan di atas, Standar Pemeriksaan Keuangan Negara yang
telah ditetapkan oleh BPK-RI melalui Peraturan BPK-RI Nomor 01 Tahun 2007 sudah saatnya diubah.
Dalam jurnalnya yang berjudul International Standards INTOSAI Alternatif Rujukan untuk
Merevisi SPKN, Muhadi mengusulkan agar dalam perubahan atau revisi SPKN mendatang, BPK-RI
menggunakan standar profesi yang diterbitkan oleh International Organisation of Supreme Audit
Institutions (INTOSAI). Usulan ini didasarkan pada alasan-alasan berikut ini:

1. BPK-RI adalah anggota INTOSAI. Sebagai anggota, seharusnya BPK-RI tunduk pada aturan yang
dibuat oleh organisasi yang diikutinya.
2. Standar profesi yang diterbitkan oleh INTOSAI juga bisa dikatakan sebagai standar pemeriksaan
internasional yang sesuai dengan undang-undang.
3. Standar profesi yang diterbitkan oleh INTOSAI saat ini sudah komprehensif dan terstruktur
sedemikian rupa sehingga kalau diperlukan revisi tidak harus merevisi seluruh standar, tetapi
cukup bagian dari standar saja yang direvisi.
Dalam tulisan ini, kami akan akan mencoba menyampaikan analisis perbedaan antara SPKN
dengan International Standards of Supreme Audit Institutions (ISSAIs) yang merupakan standard
yang diterbitkan oleh INTOSAI. Diharakan, kami dapat mengidentifikasi perbedaan-perbedaan yang
siginifikan diantara kedua standard tersebut. Sehingga, perbedaan-perbededaan tersebut dapat
menjadi landasan dalam pelaksanaan analis atau review untuk pelaksanaan revisi SPKN yang ada
saat ini.
Pada bagian awal, kami akan memaparkan SPKN serta ISSAIs secara terpisah. Pada bagian
selanjutnya kami akan membandingkan keduanya untuk mencari persamaan dan perbedaan di
antara kedua standard tersebut.

BAB II
TANDARD PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA (SPKN)

A. GAMBARAN UMUM SPKN


SPKN ini ditetapkan dengan Peraturan BPK No. 1 tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan
Keuangan Negara. SPKN merupakan acuan untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara dan memuat persyaratan profesional pemeriksa, mutu pelaksanaan
pemeriksaan, dan persyaratan laporan pemeriksaan yang profesional.
SPKN dibentuk dengan mengacu pada beberapa peraturan perundangan berikut ini.
1. Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
3. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
4. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara.
5. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.
SPKN berlaku untuk semua pemeriksaan yang dilaksanakan terhadap entitas, program, kegiatan
serta fungsi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara
sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sehingga, ketika dalam pelaksanaan
pemeriksaannya BPK dibantu oleh akuntan publik atau pihak lainnya, pihak-pihak tersebut tetap
harus mengacu pada SPKN dalam pelaksanaan pemeriksaan tersebut.
Adapun SPKN mencakup beberapa standard pemeriksaan dengan rincian sebagai berikut.
1. PSP Nomor 01 tentang Standar Umum
2. PSP Nomor 02 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Keuangan
3. PSP Nomor 03 tentang Standar Pelaporan Pemeriksaan Keuangan
4. PSP Nomor 04 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja
5. PSP Nomor 05 tentang Standar Pelaporan Pemeriksaan Kinerja
6. PSP Nomor 06 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu
7. PSP Nomor 07 tentang Standar Pelaporan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu
Pada bagian berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai standard-standard tersebut.
Penejelasan dalam bagian berikut ini akan digunakan sebagai dasar dalam perbandingan dengan
ISSAIs untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaannya.
B. PSP NOMOR 01 TENTANG STANDAR UMUM
Pernyataan Standar Pemeriksaan ini mengatur standar umum untuk melaksanakan pemeriksaan
keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Standar umum ini
berkaitan dengan ketentuan mendasar untuk menjamin kredibilitas hasil pemeriksaan serta
merupakan persyaratan kemampuan/keahlian pemeriksa, independensi organisasi pemeriksa dan
pemeriksa secara individual, pelaksanaan kemahiran profesional secara cermat dan seksama dalam
pelaksanaan dan pelaporan hasil pemeriksaan, serta pengendalian mutu hasil pemeriksaan. Standar
umum ini memberikan kerangka dasar untuk dapat menerapkan standar pelaksanaan dan standar
pelaporan secara efektif yang dijelaskan pada pernyataan standar berikutnya. Dengan demikian,
standar umum ini harus diikuti oleh semua pemeriksa dan organisasi pemeriksa yang melakukan
pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan.

1. Pemeriksa secara kolektif harus memiliki kecakapan profesional yang memadai untuk
melaksanakan tugas pemeriksaan.
Organisasi pemeriksa harus memiliki prosedur rekrutmen, pengangkatan, pengembangan
berkelanjutan, dan evaluasi atas pemeriksa untuk membantu organisasi pemeriksa dalam
mempertahankan pemeriksa yang memiliki kompetensi yang memadai. Sifat, luas dan formalitas
dari proses tersebut akan tergantung pada berbagai faktor seperti jenis pemeriksaan, struktur dan
besarnya organisasi pemeriksa. Persyaratan kemampuan tersebut berlaku bagi organisasi pemeriksa
secara keseluruhan, dan tidak dengan sendirinya harus berlaku bagi pemeriksa secara individu.
Suatu organisasi pemeriksa dapat menggunakan pemeriksanya sendiri atau pihak luar yang memiliki
pengetahuan, keahlian, atau pengalaman di bidang tertentu, seperti akuntansi, statistik, hukum,
teknik, disain dan metodologi pemeriksaan, teknologi informasi, administrasi negara, ilmu ekonomi,
ilmu sosial, atau ilmu aktuaria.
Pemeriksa yang ditugasi untuk melaksanakan pemeriksaan menurut Standar Pemeriksaan harus
secara kolektif memiliki:
a. Pengetahuan tentang Standar Pemeriksaan yang dapat diterapkan terhadap jenis pemeriksaan
yang ditugaskan serta memiliki latar belakang pendidikan, keahlian dan pengalaman untuk
menerapkan pengetahuan tersebut dalam pemeriksaan yang dilaksanakan.
b. Pengetahuan umum tentang lingkungan entitas, program, dan kegiatan yang diperiksa (obyek
pemeriksaan).
c. Keterampilan berkomunikasi secara jelas dan efektif, baik secara lisan maupun tulisan.
d. Keterampilan yang memadai untuk pemeriksaan yang dilaksanakan, misalnya:
1) Apabila pemeriksaan dimaksud memerlukan penggunaan sampling statistik, maka dalam
tim pemeriksa harus ada pemeriksa yang mempunyai keterampilan di bidang sampling
statistik.
2) Apabila pemeriksaan memerlukan reviu yang luas terhadap suatu sistem informasi, maka
dalam tim pemeriksa harus ada pemeriksa yang mempunyai keahlian di bidang
pemeriksaan atas teknologi informasi.
3) Apabila pemeriksaan meliputi reviu atas data teknik yang rumit, maka tim pemeriksa perlu
melibatkan tenaga ahli di bidang tersebut.
4) Apabila pemeriksaan menggunakan metode pemeriksaan yang sangat khusus seperti
penggunaan instrumen pengukuran yang sangat rumit, estimasi aktuaria atau pengujian
analisis statistik, maka tim pemeriksa perlu melibatkan tenaga ahli di bidang tersebut.
Pemeriksa yang ditugaskan untuk melaksanakan pemeriksaan keuangan secara kolektif harus
memiliki keahlian yang dibutuhkan serta memiliki sertifikasi keahlian yang berterima umum.
Pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan keuangan harus memiliki keahlian di bidang akuntansi
dan auditing, serta memahami prinsip akuntansi yang berlaku umum yang berkaitan dengan entitas
yang diperiksa. Pemeriksa yang berperan sebagai penanggung jawab pemeriksaan keuangan harus
memiliki sertifikasi keahlian yang diakui secara profesional.
Pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan menurut Standar Pemeriksaan harus memelihara
kompetensinya melalui pendidikan profesional berkelanjutan. Oleh karena itu, setiap pemeriksa
yang melaksanakan pemeriksaan menurut Standar Pemeriksaan, setiap 2 tahun harus
menyelesaikan paling tidak 80 jam pendidikan yang secara langsung meningkatkan kecakapan
profesional pemeriksa untuk melaksanakan pemeriksaan. Sedikitnya 24 jam dari 80 jam pendidikan
tersebut harus dalam hal yang berhubungan langsung dengan pemeriksaan atas pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan negara di lingkungan pemerintah atau lingkungan yang khusus dan unik di

mana entitas yang diperiksa beroperasi. Sedikitnya 20 jam dari 80 jam tersebut harus diselesaikan
dalam 1 tahun dari periode 2 tahun.
2. Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan
pemeriksa, harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi, ekstern,
dan organisasi yang dapat mempengaruhi independensinya.
Pemeriksa perlu mempertimbangkan tiga macam gangguan terhadap independensi, yaitu
gangguan pribadi, ekstern, dan atau organisasi. Apabila satu atau lebih dari gangguan independensi
tersebut mempengaruhi kemampuan pemeriksa secara individu dalam melaksanakan tugas
pemeriksaannya, maka pemeriksa tersebut harus menolak penugasan pemeriksaan. Dalam keadaan
pemeriksa yang karena suatu hal tidak dapat menolak penugasan pemeriksaan, gangguan dimaksud
harus dimuat dalam bagian lingkup pada laporan hasil pemeriksaan.
a. Gangguan Pribadi
Gangguan pribadi dari pemeriksa secara individu meliputi antara lain:
1) Memiliki hubungan pertalian darah ke atas, ke bawah, atau semenda sampai dengan derajat
kedua dengan jajaran manajemen entitas atau program yang diperiksa atau sebagai pegawai
dari entitas yang diperiksa, dalam posisi yang dapat memberikan pengaruh langsung dan
signifikan terhadap entitas atau program yang diperiksa.
2) Memiliki kepentingan keuangan baik secara langsung maupun tidak langsung pada entitas atau
program yang diperiksa.
3) Pernah bekerja atau memberikan jasa kepada entitas atau program yang diperiksa dalam kurun
waktu dua tahun terakhir.
4) Mempunyai hubungan kerjasama dengan entitas atau program yang diperiksa.
5) Terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan obyek pemeriksaan, seperti
memberikan asistensi, jasa konsultasi, pengembangan sistem, menyusun dan/atau mereviu
laporan keuangan entitas atau program yang diperiksa.
6) Adanya prasangka terhadap perorangan, kelompok, organisasi atau tujuan suatu program, yang
dapat membuat pelaksanaan pemeriksaan menjadi berat sebelah.
7) Pada masa sebelumnya mempunyai tanggung jawab dalam pengambilan keputusan atau
pengelolaan suatu entitas, yang berdampak pada pelaksanaan kegiatan atau program entitas
yang sedang berjalan atau sedang diperiksa.
8) Memiliki tanggung jawab untuk mengatur suatu entitas atau kapasitas yang dapat
mempengaruhi keputusan entitas atau program yang diperiksa, misalnya sebagai seorang
direktur, pejabat atau posisi senior lainnya dari entitas, aktivitas atau program yang diperiksa
atau sebagai anggota manajemen dalam setiap pengambilan keputusan, pengawasan atau
fungsi monitoring terhadap entitas, aktivitas atau program yang diperiksa.
9) Adanya kecenderungan untuk memihak, karena keyakinan politik atau sosial, sebagai akibat
hubungan antar pegawai, kesetiaan kelompok, organisasi atau tingkat pemerintahan tertentu.
10) Pelaksanaan pemeriksaan oleh seorang pemeriksa, yang sebelumnya pernah sebagai pejabat
yang menyetujui faktur, daftar gaji, klaim, dan pembayaran yang diusulkan oleh suatu entitas
atau program yang diperiksa.
11) Pelaksanaan pemeriksaan oleh seorang pemeriksa, yang sebelumnya pernah menyelenggarakan
catatan akuntansi resmi atas entitas/unit kerja atau program yang diperiksa.
12) Mencari pekerjaan pada entitas yang diperiksa selama pelaksanaan pemeriksaan.
Organisasi pemeriksa harus mempunyai sistem pengendalian mutu intern yang dapat
mengidentifikasi gangguan pribadi dan memastikan kepatuhannya terhadap ketentuan

independensi yang diatur dalam Standar Pemeriksaan. Untuk itu, organisasi pemeriksa antara lain
harus:
1) Menetapkan kebijakan dan prosedur untuk dapat mengidentifikasi gangguan pribadi terhadap
independensi, termasuk mempertimbangkan pengaruh kegiatan nonpemeriksaan terhadap hal
pokok pemeriksaan dan menetapkan pengamanan untuk dapat mengurangi risiko tersebut
terhadap hasil pemeriksaan.
2) Mengkomunikasikan kebijakan dan prosedur organisasi pemeriksa kepada semua pemeriksanya
dan menjamin agar ketentuan tersebut dipahami melalui pelatihan atau cara lainnya.
3) Menetapkan kebijakan dan prosedur intern untuk memonitor kepatuhan terhadap kebijakan
dan prosedur organisasi pemeriksa.
4) Menetapkan suatu mekanisme disiplin untuk meningkatkan kepatuhan terhadap kebijakan dan
prosedur organisasi pemeriksa.
5) Menekankan pentingnya independensi.
Apabila organisasi pemeriksa mengidentifikasi adanya gangguan pribadi terhadap independensi,
gangguan tersebut harus diselesaikan secepatnya. Dalam hal gangguan pribadi tersebut hanya
melibatkan seorang pemeriksa dalam suatu pemeriksaan, organisasi pemeriksa dapat
menghilangkan gangguan tersebut dengan meminta pemeriksa menghilangkan gangguan tersebut.
b. Gangguan Eksternal
Independensi dan obyektifitas pelaksanaan suatu pemeriksaan dapat dipengaruhi apabila
terdapat:
1) Campur tangan atau pengaruh pihak ekstern yang membatasi atau mengubah lingkup
pemeriksaan secara tidak semestinya.
2) Campur tangan pihak ekstern terhadap pemilihan dan penerapan prosedur pemeriksaan atau
pemilihan sampel pemeriksaan.
3) Pembatasan waktu yang tidak wajar untuk penyelesaian suatu pemeriksaan.
4) Campur tangan pihak ekstern mengenai penugasan, penunjukan, dan promosi pemeriksa.
5) Pembatasan terhadap sumber daya yang disediakan bagi organisasi pemeriksa, yang dapat
berdampak negatif terhadap kemampuan organisasi pemeriksa tersebut dalam melaksanakan
pemeriksaan.
6) Wewenang untuk menolak atau mempengaruhi pertimbangan pemeriksa terhadap isi suatu
laporan hasil pemeriksaan.
7) Ancaman penggantian petugas pemeriksa atas ketidaksetujuan dengan isi laporan hasil
pemeriksaan, simpulan pemeriksa, atau penerapan suatu prinsip akuntansi atau kriteria lainnya.
8) Pengaruh yang membahayakan kelangsungan pemeriksa sebagai pegawai, selain sebab-sebab
yang berkaitan dengan kecakapan pemeriksa atau kebutuhan pemeriksaan.
Pemeriksa harus bebas dari tekanan politik agar dapat melaksanakan pemeriksaan dan
melaporkan temuan pemeriksaan, pendapat dan simpulan secara obyektif, tanpa rasa takut akibat
tekanan politik tersebut.
c. Gangguan Organisasi
Independensi organisasi pemeriksa dapat dipengaruhi oleh kedudukan, fungsi, dan struktur
organisasinya.
3. Dalam pelaksanaan pemeriksaan serta penyusunan laporan hasil pemeriksaan, pemeriksa
wajib menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama.

Pernyataan standar ini mewajibkan pemeriksa untuk menggunakan kemahirannya secara


profesional, cermat dan seksama, memperhatikan prinsip-prinsip pelayanan atas kepentingan publik
serta memelihara integritas, obyektivitas, dan independensi dalam menerapkan kemahiran
profesional terhadap setiap aspek pemeriksaannya. Pernyataan standar ini juga mengharuskan
tanggung jawab bagi setiap pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar
Pemeriksaan untuk mematuhi Standar Pemeriksaan.
Kemahiran profesional menuntut pemeriksa untuk melaksanakan skeptisme profesional, yaitu
sikap yang mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi secara kritis
terhadap bukti pemeriksaan. Pemeriksa tidak boleh menganggap bahwa manajemen entitas yang
diperiksa tidak jujur, tetapi juga tidak boleh menganggap bahwa kejujuran manajemen tersebut
tidak diragukan lagi. Dalam menggunakan skeptisme profesional, pemeriksa tidak boleh puas dengan
bukti yang kurang meyakinkan walaupun menurut anggapannya manajemen entitas yang diperiksa
adalah jujur.
4. Setiap organisasi pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar
Pemeriksaan harus memiliki sistem pengendalian mutu yang memadai, dan sistem
pengendalian mutu tersebut harus direviu oleh pihak lain yang kompeten (pengendalian mutu
ekstern).
Organisasi pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan harus
direviu paling tidak sekali dalam 5 (lima) tahun oleh organisasi pemeriksa ekstern yang kompeten,
yang tidak mempunyai kaitan dengan organisasi pemeriksa yang direviu.

C. PSP NOMOR 02 TENTANG STANDAR PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KEUANGAN


Untuk pemeriksaan keuangan, Standar Pemeriksaan memberlakukan tiga pernyataan standar
pekerjaan lapangan SPAP yang ditetapkan IAI, yaitu sebagai berikut:
1. Pekerjaan harus direncanakan dengan sebaik-baiknya dan jika digunakan tenaga asisten harus
disupervisi dengan semestinya.
2. Pemahaman yang memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan
audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
3. Bukti audit yang kompeten harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan
pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan
keuangan yang diaudit.
Selain ketiga standar tersebut, Standar Pemeriksaan juga menetapkan standar pelaksanaan
tambahan sebagai berikut:
1. Pemeriksa harus mengkomunikasikan informasi yang berkaitan dengan sifat, saat, lingkup
pengujian, pelaporan yang direncanakan, dan tingkat keyakinan kepada manajemen entitas
yang diperiksa dan atau pihak yang meminta pemeriksaan.
Pemeriksa sebaiknya melakukan komunikasi dengan pemeriksa/pengawas dan/atau
manajemen entitas yang diperiksa. Komunikasi tersebut dapat berupa pemahaman atas informasi
yang terkait dengan obyek pemeriksaan dan pengendalian intern entitas yang diperiksa. Pemeriksa
dapat juga menggunakan surat penugasan sebagai media sehingga pihak lain yang berkepentingan
dapat tetap terinformasi.
Pemeriksa harus mengkomunikasikan tanggung jawabnya dalam penugasan pemeriksaan
antara lain kepada:
a. Manajemen entitas yang diperiksa.

b. Lembaga/badan yang memiliki fungsi pengawasan terhadap manajemen atau pemerintah


seperti DPR/DPRD, dewan komisaris, komite audit, dan dewan pengawas.
c. Pihak yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam proses pelaporan keuangan.
Dalam hal BPK menugaskan pemeriksa melaksanakan pemeriksaan berdasarkan permintaan
entitas yang diperiksa dan atau pihak ketiga, BPK atau pemeriksa juga harus melaksanakan
komunikasi dengan pihak tersebut. Komunikasi tersebut harus dilakukan secara tertulis.
2. Pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan sebelumnya serta tindak lanjut atas
rekomendasi yang signifikan dan berkaitan dengan tujuan pemeriksaan yang sedang
dilaksanakan.
Pemeriksa harus memperoleh informasi dari entitas yang diperiksa untuk mengidentifikasi
pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, pemeriksaan dengan tujuan tertentu atau studi lain
yang sebelumnya telah dilaksanakan dan berkaitan dengan tujuan pemeriksaan yang sedang
dilaksanakan. Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi langkah koreksi yang berkaitan dengan
temuan dan rekomendasi signifikan.
3. Pemeriksa harus merancang pemeriksaan untuk memberikan keyakinan yang memadai guna
mendeteksi salah saji material yang disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berpengaruh langsung dan material terhadap penyajian
laporan keuangan. Jika informasi tertentu menjadi perhatian pemeriksa, di antaranya
informasi tersebut memberikan bukti yang berkaitan dengan penyimpangan dari ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berpengaruh material tetapi tidak langsung
berpengaruh terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan, pemeriksa harus menerapkan
prosedur pemeriksaan tambahan untuk memastikan bahwa penyimpangan dari ketentuan
peraturan perundang-undangan telah atau akan terjadi.
Pemeriksa harus waspada pada kemungkinan adanya situasi dan/atau peristiwa yang
merupakan indikasi kecurangan dan/atau ketidakpatutan dan apabila timbul indikasi tersebut
serta berpengaruh signifikan terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan, pemeriksa
harus menerapkan prosedur pemeriksaan tambahan untuk memastikan bahwa kecurangan
dan/atau ketidakpatutan telah terjadi dan menentukan dampaknya terhadap kewajaran
penyajian laporan keuangan.
Standar Pemeriksaan pada dasarnya mensyaratkan bahwa pemeriksa harus menilai risiko salah
saji material yang mungkin timbul karena kecurangan dari informasi dalam laporan keuangan atau
data keuangan lain yang secara signifikan terkait dengan tujuan pemeriksaan.
Ketidakpatutan berbeda dengan kecurangan atau penyimpangan dari ketentuan peraturan
perundang-undangan. Ketidakpatutan terjadi tidak disebabkan oleh kecurangan dan atau
penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan. Namun dalam hal ini,
ketidakpatutan adalah perbuatan yang jauh berada di luar pikiran yang masuk akal atau di luar
praktik-praktik sehat yang lazim. Pemeriksa harus waspada terhadap situasi atau peristiwa yang
dapat mengindikasikan terjadinya ketidakpatutan. Apabila informasi yang diperoleh pemeriksa (hal
ini bisa melalui prosedur pemeriksaan, pengaduan yang diterima mengenai terjadinya kecurangan
atau cara-cara yang lain) mengindikasikan telah terjadi ketidakpatutan, pemeriksa harus
mempertimbangkan apakah ketidakpatutan tersebut secara signifikan mempengaruhi hasil
pemeriksaan.
4. Pemeriksa harus merencanakan dan melaksanakan
mengembangkan unsur-unsur temuan pemeriksaan.

prosedur

pemeriksaan

untuk

Temuan pemeriksaan, seperti kurang memadainya pengendalian intern, penyimpangan dari


ketentuan peraturan perundang-undangan, kecurangan, serta ketidakpatutan biasanya terdiri dari
unsur kondisi, kriteria, akibat dan sebab. Namun demikian, unsur yang dibutuhkan untuk sebuah
temuan pemeriksaan seluruhnya bergantung pada tujuan pemeriksaan tersebut. Jadi, sebuah
temuan atau sekelompok temuan pemeriksaan disebut lengkap sepanjang tujuan pemeriksaannya
telah dipenuhi dan laporannya secara jelas mengaitkan tujuan tersebut dengan unsur temuan
pemeriksaan. Pemeriksa perlu melakukan pembahasan dengan manajemen entitas yang diperiksa
untuk mengembangkan temuan pemeriksaan.
5. Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara dokumentasi pemeriksaan dalam bentuk
kertas kerja pemeriksaan. Dokumentasi pemeriksaan yang berkaitan dengan perencanaan,
pelaksanaan, dan pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk
memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman, tetapi tidak mempunyai hubungan dengan
pemeriksaan tersebut dapat memastikan bahwa dokumentasi pemeriksaan tersebut dapat
menjadi bukti yang mendukung pertimbangan dan simpulan pemeriksa. Dokumentasi
pemeriksaan harus mendukung opini, temuan, simpulan dan rekomendasi pemeriksaan.
Dokumentasi pemeriksaan memberikan tiga manfaat, yaitu:
a. Memberikan dukungan utama terhadap laporan hasil pemeriksaan.
b. Membantu pemeriksa dalam melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan pemeriksaan.
c. Memungkinkan pemeriksa lain untuk mereviu kualitas pemeriksaan.
Bentuk dan isi dokumentasi pemeriksaan harus dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai
dengan kondisi masing-masing pemeriksaan. Informasi yang dimasukkan dalam dokumentasi
pemeriksaan menggambarkan catatan penting mengenai pekerjaan yang dilaksanakan oleh
pemeriksa sesuai dengan standar dan simpulan pemeriksa. Kuantitas, jenis, dan isi dokumentasi
pemeriksaan didasarkan atas pertimbangan profesional pemeriksa.
Organisasi pemeriksa harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang wajar mengenai
pengamanan dan penyimpanan dokumentasi pemeriksaan selama waktu tertentu sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

D. PSP NOMOR 03 TENTANG STANDAR PELAPORAN PEMERIKSAAN KEUANGAN


Untuk pemeriksaan keuangan, Standar Pemeriksaan memberlakukan empat standar pelaporan
SPAP yang ditetapkan IAI sebagai berikut:
1. Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau prinsip akuntansi yang lain yang berlaku
secara komprehensif.
2. Laporan auditor harus menunjukkan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan prinsip
akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan
penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
3. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali
dinyatakan lain dalam laporan audit.
4. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan
secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika
pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan maka alasannya harus dinyatakan. Dalam
hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, laporan auditor harus memuat
petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat
tanggung jawab yang dipikul auditor.

Selain standar IAI tersebut, Standar Pemeriksaan juga menetapkan standar pelaksanaan
tambahan sebagai berikut:
1. Laporan hasil pemeriksaan harus menyatakan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai dengan
Standar Pemeriksaan.
Suatu entitas yang diperiksa berdasarkan Standar Pemeriksaan mungkin juga membutuhkan
pemeriksa untuk menerbitkan laporan pemeriksaan keuangan untuk tujuan lain, misalnya, entitas
yang diperiksa membutuhkan laporan keuangan yang telah diperiksa untuk menerbitkan obligasi
atau untuk tujuan lainnya. Standar pemeriksaan ini tidak melarang pemeriksa untuk menerbitkan
laporan lain yang terpisah.
2. Laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan harus mengungkapkan bahwa pemeriksa
telah melakukan pengujian atas kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundangundangan yang berpengaruh langsung dan material terhadap penyajian laporan keuangan.
Ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang ditemukan dalam
pemeriksaan keuangan, dimuat dalam laporan atas kepatuhan. Apabila pemeriksa tidak menemukan
ketidakpatuhan dalam pengujian kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan,
pemeriksa tidak menerbitkan laporan atas kepatuhan. Laporan atas kepatuhan mengungkapkan:
a. ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan termasuk pengungkapan
atas penyimpangan administrasi, pelanggaran atas perikatan perdata, maupun penyimpangan
yang mengandung unsur tindak pidana, dan
b. ketidakpatutan yang signifikan.
3. Laporan atas pengendalian intern harus mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian
intern atas pelaporan keuangan yang dianggap sebagai kondisi yang dapat dilaporkan.
Dalam menyajikan temuan mengenai kelemahan pengendalian intern atas pelaporan keuangan,
pemeriksa harus mengembangkan unsur-unsur kondisi, kriteria, akibat, dan sebab untuk membantu
manajemen entitas yang diperiksa atau pihak berwenang dalam memahami perlunya mengambil
tindakan perbaikan. Berikut ini adalah pedoman dalam melaporkan unsur-unsur temuan:
a. Kondisi; memberikan bukti mengenai hal-hal yang ditemukan pemeriksa di lapangan. Pelaporan
lingkup atau kedalaman dari kondisi dapat membantu pengguna laporan dalam memperoleh
perspektif yang wajar.
b. Kriteria; memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengguna laporan hasil pemeriksaan
untuk menentukan keadaan seperti apa yang diharapkan. Kriteria akan mudah dipahami apabila
dinyatakan secara wajar, eksplisit, dan lengkap, dan sumber dari kriteria dinyatakan dalam
laporan hasil pemeriksaan.
c. Akibat; memberikan hubungan yang jelas dan logis untuk menjelaskan pengaruh dari perbedaan
antara apa yang ditemukan pemeriksa (kondisi) dan apa yang seharusnya (kriteria). Akibat lebih
mudah dipahami bila dinyatakan secara jelas, terinci, dan apabila memungkinkan, dinyatakan
dalam angka. Signifikansi dari akibat yang dilaporkan ditunjukkan oleh bukti yang meyakinkan.
d. Sebab; memberikan bukti yang meyakinkan mengenai faktor yang menjadi sumber perbedaan
antara kondisi dan kriteria. Dalam melaporkan sebab, pemeriksa harus mempertimbangkan
apakah bukti yang ada dapat memberikan argumen yang meyakinkan dan masuk akal bahwa
sebab yang diungkapkan merupakan faktor utama terjadinya perbedaan. Pemeriksa juga perlu
mempertimbangkan apakah sebab yang diungkapkan dapat menjadi dasar pemberian
rekomendasi. Dalam situasi temuan terkait dengan kepatuhan terhadap ketentuan peraturan

10

perundang-undangan di mana tidak dapat ditetapkan dengan logis penyebab temuan tersebut,
pemeriksa tidak diharuskan untuk mengungkapkan unsur sebab ini.
4. Laporan hasil pemeriksaan yang memuat adanya kelemahan dalam pengendalian intern,
kecurangan, penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan, dan
ketidakpatutan, harus dilengkapi tanggapan dari pimpinan atau pejabat yang bertanggung
jawab pada entitas yang diperiksa mengenai temuan dan rekomendasi serta tindakan koreksi
yang direncanakan.
Pemeriksa harus meminta pejabat yang bertanggung jawab untuk memberikan tanggapan
tertulis terhadap temuan, simpulan dan rekomendasi, termasuk tindakan perbaikan yang
direncanakan oleh manajemen entitas yang diperiksa. Tanggapan yang diperoleh harus dievaluasi
secara seimbang dan obyektif. Tanggapan yang berupa suatu janji atau rencana untuk tindakan
perbaikan tidak boleh diterima sebagai alasan untuk menghilangkan temuan yang signifikan atau
rekomendasi yang berkaitan. Apabila tanggapan dari entitas yang diperiksa bertentangan dengan
temuan, simpulan atau rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan dan menurut pemeriksa,
tanggapan tersebut tidak benar atau apabila rencana tindakan perbaikannya tidak sesuai dengan
rekomendasi, maka pemeriksa harus menyampaikan ketidaksetujuannya atas tanggapan dan
rencana tindakan perbaikan tersebut beserta alasannya. Ketidaksetujuan tersebut harus
disampaikan secara seimbang dan obyektif. Sebaliknya, pemeriksa harus memperbaiki laporannya
apabila pemeriksa berpendapat bahwa tanggapan tersebut benar.
5. Informasi rahasia yang dilarang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan untuk
diungkapkan kepada umum tidak diungkapkan dalam laporan hasil pemeriksaan. Namun
laporan hasil pemeriksaan harus mengungkapkan sifat informasi yang tidak dilaporkan
tersebut dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang menyebabkan tidak
dilaporkannya informasi tersebut.
BPK dapat menerbitkan satu laporan resmi yang berisi informasi rahasia dan
mendistribusikannya kepada pihak yang berhak menerimanya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Apabila memungkinkan, BPK dapat berkonsultasi dengan
konsultan hukum mengenai ketentuan, permintaan atau keadaan yang menyebabkan tidak
diungkapkannya informasi tertentu dalam laporan hasil pemeriksaan.
6. Laporan hasil pemeriksaan diserahkan kepada lembaga perwakilan, entitas yang diperiksa,
pihak yang mempunyai kewenangan untuk mengatur entitas yang diperiksa, pihak yang
bertanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan, dan kepada pihak lain
yang diberi wewenang untuk menerima laporan hasil pemeriksaan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Laporan hasil pemeriksaan harus didistribusikan tepat waktu kepada pihak yang berkepentingan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Namun, dalam hal yang diperiksa
merupakan rahasia negara maka untuk tujuan keamanan atau dilarang disampaikan kepada pihakpihak tertentu atas dasar ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, pemeriksa dapat
membatasi pendistribusian laporan hasil pemeriksaan tersebut.
Apabila suatu pemeriksaan dihentikan sebelum berakhir, namun pemeriksa tidak mengeluarkan
laporan hasil pemeriksaan, maka pemeriksa harus membuat catatan yang mengikhtisarkan hasil
pekerjaannya sampai tanggal penghentian dan menjelaskan alasan penghentian pemeriksaan.
Pemeriksa juga harus mengkomunikasikan secara tertulis alasan penghentian pemeriksaan tersebut
kepada manajemen entitas yang diperiksa, entitas yang meminta pemeriksaan tersebut, atau
pejabat lain yang berwenang.

11

E. PSP NOMOR 04 TENTANG STANDAR PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KINERJA


Pernyataan standar ini mengatur standar pelaksanaan untuk pemeriksaan kinerja.
1. Pekerjaan harus direncanakan secara memadai.
Dalam merencanakan suatu pemeriksaan kinerja, pemeriksa harus:
a. Mempertimbangkan signifikansi masalah dan kebutuhan potensial pengguna laporan hasil
pemeriksaan
b. Memperoleh suatu pemahaman mengenai program yang diperiksa
c. Mempertimbangkan pengendalian intern
d. Merancang pemeriksaan untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan dari ketentuan peraturan
perundang-undangan, kecurangan (fraud), dan ketidakpatutan (abuse)
e. Mengidentifikasikan kriteria yang diperlukan untuk mengevaluasi hal-hal yang harus diperiksa
f. Mengidentifikasikan temuan pemeriksaan dan rekomendasi yang signifikan dari pemeriksaan
terdahulu yang dapat mempengaruhi tujuan pemeriksaan. Pemeriksa harus menentukan apakah
manajemen sudah memperbaiki kondisi yang menyebabkan temuan tersebut dan sudah
melaksanakan rekomendasinya
g. Mempertimbangkan apakah pekerjaan pemeriksa lain dan ahli lainnya dapat digunakan untuk
mencapai beberapa tujuan pemeriksaan yang telah ditetapkan
h. Menyediakan pegawai atau staf yang cukup dan sumber daya lain untuk melaksanakan
pemeriksaan
i. Mengkomunikasikan informasi mengenai tujuan pemeriksaan serta informasi umum lainnya
yang berkaitan dengan rencana dan pelaksanaan pemeriksaan tersebut kepada manajemen dan
pihak-pihak lain yang terkait
j. Mempersiapkan suatu rencana pemeriksaan secara tertulis
2. Staf harus disupervisi dengan baik.
Supervisi mencakup pengarahan kegiatan pemeriksa dan pihak lain (seperti tenaga ahli yang
terlibat dalam pemeriksaan) agar tujuan pemeriksaan dapat dicapai. Unsur supervisi meliputi
pemberian instruksi kepada staf, pemberian informasi mutakhir tentang masalah signifikan yang
dihadapi, pelaksanaan reviu atas pekerjaan yang dilakukan, dan pemberian pelatihan kerja lapangan
(on the job training) yang efektif. Reviu atas pekerjaan pemeriksaan harus didokumentasikan. Sifat
dan luas dari reviu tersebut dapat bervariasi tergantung pada sejumlah faktor seperti: (1) besarnya
organisasi pemeriksa, (2) pentingnya pekerjaan, dan (3) pengalaman staf.
3. Bukti yang cukup, kompeten, dan relevan harus diperoleh untuk menjadi dasar yang memadai
bagi temuan dan rekomendasi pemeriksa.
Bukti harus cukup, kompeten, dan relevan untuk mendukung dasar yang sehat bagi temuan
pemeriksaan dan rekomendasi.
a. Bukti harus cukup untuk mendukung temuan pemeriksaan. Dalam menentukan cukup tidaknya
suatu bukti, pemeriksa harus yakin bahwa bukti yang cukup tersebut akan bisa meyakinkan
seseorang bahwa temuan pemeriksaan adalah valid. Apabila mungkin, metode statistik bisa
digunakan untuk menentukan cukup tidaknya bukti pemeriksaan.
b. Bukti disebut kompeten apabila bukti tersebut valid, dapat diandalkan, dan konsisten dengan
fakta. Dalam menilai kompetensi suatu bukti, pemeriksa harus mempertimbangkan beberapa
faktor seperti apakah bukti telah akurat, meyakinkan, tepat waktu dan asli.

12

c. Bukti disebut relevan, apabila bukti tersebut mempunyai hubungan yang logis dan arti penting
bagi temuan pemeriksaan yang bersangkutan.
Apabila pengujian data oleh pemeriksa mengungkapkan adanya kesalahan data, atau apabila
pemeriksa tidak mampu untuk memperoleh bukti yang cukup, kompeten, dan relevan, maka
pemeriksa mungkin menganggap perlu untuk:
a. Mencari bukti dari sumber lain.
b. Menggunakan data tersebut, tetapi secara jelas menunjukkan dalam laporan hasil
pemeriksaannya mengenai keterbatasan data dan menghindari pembuatan simpulan dan
rekomendasi yang tidak kuat dasarnya.
4. Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara dokumen pemeriksaan dalam bentuk kertas
kerja pemeriksaan. Dokumen pemeriksaan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan,
dan pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk memungkinkan
pemeriksa yang berpengalaman tetapi tidak mempunyai hubungan dengan pemeriksaan
tersebut dapat memastikan bahwa dokumen pemeriksaan tersebut dapat menjadi bukti yang
mendukung temuan, simpulan, dan rekomendasi pemeriksa.
Dokumen pemeriksaan memberikan tiga manfaat, yaitu:
a. Memberikan dukungan utama terhadap laporan hasil pemeriksaan.
b. Membantu pemeriksa dalam melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan pemeriksaan.
c. Memungkinkan orang lain untuk mereviu kualitas pemeriksaan. Tujuan yang ketiga ini penting
karena pemeriksaan yang dilaksanakan sesuai dengan Standar Pemeriksaan ini akan direviu oleh
pemeriksa lain. Dokumen pemeriksaan memungkinkan dilakukannya reviu atas kualitas
pemeriksaan karena merupakan dokumentasi tertulis mengenai bukti yang mendukung temuan
dan rekomendasi pemeriksa.

a.
b.
c.
d.

Dokumen pemeriksaan harus berisi:


Tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan, termasuk kriteria pengambilan uji-petik
(sampling) yang digunakan.
Dokumentasi pekerjaan yang dilakukan digunakan untuk mendukung pertimbangan profesional
dan temuan pemeriksa.
Bukti tentang reviu supervisi terhadap pekerjaan yang dilakukan.
Penjelasan pemeriksa mengenai standar yang tidak diterapkan, apabila ada, alasan, dan
akibatnya.

F. PSP NOMOR 05 TENTANG STANDAR PELAPORAN PEMERIKSAAN KINERJA


Pernyataan standar ini mengatur standar pelaporan untuk pemeriksaan kinerja.
1. Pemeriksa harus membuat laporan hasil pemeriksaan untuk mengkomunikasikan setiap hasil
pemeriksaan.
Laporan hasil pemeriksaan berfungsi untuk:
a. mengkomunikasikan hasil pemeriksaan kepada pihak yang berwenang berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku
b. membuat hasil pemeriksaan terhindar dari kesalahpahaman,
c. membuat hasil pemeriksaan sebagai bahan untuk melakukan tindakan perbaikan oleh instansi
terkait, dan

13

d. memudahkan pemantauan tindak lanjut untuk menentukan pengaruh tindakan perbaikan yang
semestinya telah dilakukan.
2. Laporan hasil pemeriksaan harus mencakup:
a. pernyataan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai dengan Standar Pemeriksaan
b. tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan
c. hasil pemeriksaan berupa temuan pemeriksaan, simpulan, dan rekomendasi
d. tanggapan pejabat yang bertanggung jawab atas hasil pemeriksaan
e. pelaporan informasi rahasia apabila ada.
3. Laporan hasil pemeriksaan harus tepat waktu, lengkap, akurat, obyektif, meyakinkan, serta
jelas, dan seringkas mungkin.
4. Laporan hasil pemeriksaan diserahkan kepada lembaga perwakilan, entitas yang diperiksa,
pihak yang mempunyai kewenangan untuk mengatur entitas yang diperiksa, pihak yang
bertanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan, dan kepada pihak lain
yang diberi wewenang untuk menerima laporan hasil pemeriksaan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Laporan hasil pemeriksaan harus didistribusikan tepat waktu kepada pihak yang berkepentingan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Namun dalam hal yang diperiksa
merupakan rahasia negara maka untuk tujuan keamanan atau dilarang disampaikan kepada pihakpihak tertentu atas dasar ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, pemeriksa dapat
membatasi pendistribusian laporan tersebut.
Apabila suatu pemeriksaan dihentikan sebelum berakhir, tetapi pemeriksa tidak mengeluarkan
laporan hasil pemeriksaan, maka pemeriksa harus membuat catatan yang mengikhtisarkan hasil
pemeriksaannya sampai tanggal penghentian dan menjelaskan alasan penghentian pemeriksaan
tersebut. Pemeriksa juga harus mengkomunikasikan secara tertulis alasan penghentian pemeriksaan
tersebut kepada manajemen entitas yang diperiksa, entitas yang meminta pemeriksaan tersebut,
atau pejabat lain yang berwenang.

G. PSP NOMOR 06 TENTANG STANDAR PELAKSANAAN PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU


Pernyataan standar ini mengatur standar pelaksanaan untuk pemeriksaan dengan tujuan
tertentu. Untuk pemeriksaan dengan tujuan tertentu, Standar Pemeriksaan memberlakukan dua
pernyataan standar pekerjaan lapangan perikatan/penugasan atestasi SPAP yang ditetapkan IAI
sebagai berikut:
1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi
dengan semestinya.
2. Bukti yang cukup harus diperoleh untuk memberikan dasar rasional bagi simpulan yang
dinyatakan dalam laporan.
Selain standar IAI tersebut, Standar Pemeriksaan juga menetapkan standar pelaksanaan
tambahan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu sebagai berikut:
1. Pemeriksa harus mengkomunikasikan informasi yang berkaitan dengan sifat, saat, dan lingkup
pengujian serta pelaporan yang direncanakan atas hal yang akan dilakukan pemeriksaan,
kepada manajemen entitas yang diperiksa dan atau pihak yang meminta pemeriksaan.
Pemeriksa harus mengkomunikasikan tanggung jawabnya dalam penugasan pemeriksaan,
antara lain kepada:

14

a. Manajemen entitas yang diperiksa.


b. Lembaga/badan yang memiliki fungsi pengawasan terhadap manajemen atau pemerintah
seperti DPR/DPRD, dewan komisaris, komite audit, dewan pengawas.
c. Pihak yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab terhadap hal yang diperiksa.
Pemeriksa sebaiknya melakukan juga komunikasi dengan pemeriksa/pengawas dan/atau
manajemen entitas yang diperiksa. Komunikasi tersebut dapat berupa pemahaman atas informasi
yang terkait dengan obyek pemeriksaan dan pengendalian intern entitas yang diperiksa.
2. Pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan sebelumnya serta tindak lanjut atas
rekomendasi yang signifikan dan berkaitan dengan hal yang diperiksa.
Pemeriksa harus memperoleh informasi dari entitas yang diperiksa untuk mengidentifikasi
pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, pemeriksaan dengan tujuan tertentu, atau studi lain
yang sebelumnya telah dilaksanakan yang berkaitan dengan hal yang diperiksa. Hal ini dilakukan
untuk mengidentifikasi tindak lanjut yang telah dilakukan berkaitan dengan temuan dan
rekomendasi yang signifikan. Dengan memahami tindak lanjut atas rekomendasi yang signifikan,
pemeriksa dapat mengevaluasi hal yang diperiksa.
3. Dalam merencanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dalam bentuk eksaminasi dan
merancang prosedur untuk mencapai tujuan pemeriksaan, pemeriksa harus memperoleh
pemahaman yang memadai tentang pengendalian intern yang sifatnya material terhadap
hal yang diperiksa.
Dalam merencanakan suatu Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dalam bentuk eksaminasi,
pemeriksa harus memperoleh suatu pemahaman atas pengendalian intern yang berkaitan dengan
hal yang diuji yang bersifat keuangan maupun non-keuangan. Pengendalian intern tersebut terkait
dengan:
a. Efektivitas dan efisiensi kegiatan, termasuk penggunaan sumber daya entitas.
b. Tingkat keandalan pelaporan keuangan, termasuk laporan pelaksanaan anggaran dan laporan
lain, baik untuk intern maupun ekstern.
c. Kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan.
d. Pengamanan aktiva.
4. Dalam merencanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dalam bentuk eksaminasi,
pemeriksa harus merancang pemeriksaan dengan tujuan untuk memberikan keyakinan yang
memadai guna mendeteksi kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan peraturan
perundang-undangan yang dapat berdampak material terhadap hal yang diperiksa.
Dalam merencanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dalam bentuk reviu atau prosedur
yang disepakati, pemeriksa harus waspada terhadap situasi atau peristiwa yang mungkin
merupakan indikasi kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundangundangan. Apabila ditemukan indikasi kecurangan dan/atau penyimpangan dari ketentuan
peraturan perundang-undangan yang secara material mempengaruhi hal yang diperiksa,
pemeriksa harus menerapkan prosedur tambahan untuk memastikan bahwa kecurangan
dan/atau penyimpangan tersebut telah terjadi dan menentukan dampaknya terhadap hal
yang diperiksa.
Pemeriksa harus waspada terhadap situasi dan/atau peristiwa yang mungkin merupakan
indikasi kecurangan dan/atau ketidakpatutan, dan apabila ditemukan indikasi tersebut serta
berpengaruh signifikan terhadap pemeriksaan, pemeriksa harus menerapkan prosedur

15

tambahan untuk memastikan bahwa kecurangan dan/atau ketidakpatutan tersebut telah


terjadi dan menentukan dampaknya terhadap hasil pemeriksaan.
5. Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara dokumentasi pemeriksaan dalam bentuk
kertas kerja pemeriksaan. Dokumentasi pemeriksaan yang terkait dengan perencanaan,
pelaksanaan, dan pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk
memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman tetapi tidak mempunyai hubungan dengan
pemeriksaan tersebut dapat memastikan bahwa dokumentasi pemeriksaan tersebut dapat
menjadi bukti yang mendukung pertimbangan dan simpulan pemeriksa.
Dokumentasi pemeriksaan memberikan tiga manfaat, yaitu:
a. Memberikan dukungan utama terhadap laporan hasil pemeriksaan.
b. Membantu pemeriksa dalam melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan pemeriksaan.
c. Memungkinkan pemeriksa lain untuk mereviu kualitas pemeriksaan.
Bentuk dan isi dokumentasi pemeriksaan harus dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai
dengan kondisi masing-masing pemeriksaan. Informasi yang dimasukkan dalam dokumentasi
pemeriksaan menggambarkan catatan penting mengenai pemeriksaan yang dilaksanakan oleh
pemeriksa sesuai dengan standar dan simpulan pemeriksa. Kuantitas, jenis, dan isi dokumentasi
pemeriksaan didasarkan atas pertimbangan profesional pemeriksa.
Organisasi pemeriksa harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang wajar mengenai
pengamanan dan penyimpanan dokumentasi pemeriksaan selama waktu tertentu, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

H. STANDAR PELAPORAN PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU


Pernyataan standar ini mengatur standar pelaporan untuk pemeriksaan dengan tujuan tertentu.
Untuk pemeriksaan dengan tujuan tertentu, Standar Pemeriksaan memberlakukan empat
pernyataan standar pelaporan perikatan/penugasan atestasi dalam SPAP yang ditetapkan IAI sebagai
berikut:
1. Laporan harus menyebutkan asersi yang dilaporkan dan menyatakan sifat perikatan atestasi
yang bersangkutan.
2. Laporan harus menyatakan simpulan praktisi mengenai apakah asersi disajikan sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan atau kriteria yang dinyatakan dipakai sebagai alat pengukur.
3. Laporan harus menyatakan semua keberatan praktisi yang signifikan tentang perikatan dan
penyajian asersi.
4. Laporan suatu perikatan untuk mengevaluasi suatu asersi yang disusun berdasarkan kriteria
yang disepakati atau berdasarkan suatu perikatan untuk melaksanakan prosedur yang
disepakati harus berisi suatu pernyataan tentang keterbatasan pemakaian laporan hanya oleh
pihak-pihak yang menyepakati kriteria atau prosedur tersebut.
Selain keempat standar tersebut, Standar Pemeriksaan juga menetapkan standar pelaporan
tambahan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu sebagai berikut:
1. Laporan hasil pemeriksaan harus menyatakan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai dengan
Standar Pemeriksaan.
Jika pemeriksa tidak dapat mengikuti Standar Pemeriksaan, pemeriksa dilarang untuk
menyatakan demikian. Dalam situasi demikian, pemeriksa harus mengungkapkan alasan tidak dapat
diikutinya standar tersebut dan dampaknya terhadap hasil pemeriksaan.
2. Laporan Hasil Pemeriksaan dengan tujuan tertentu harus mengungkapkan:

16

a. kelemahan pengendalian intern yang berkaitan dengan hal yang diperiksa,


b. kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan termasuk pengungkapan
atas penyimpangan administrasi, pelanggaran atas perikatan perdata, maupun
penyimpangan yang mengandung unsur tindak pidana yang terkait dengan hal yang
diperiksa,
c. ketidakpatutan yang material terhadap hal yang diperiksa.
Pemeriksa harus melaporkan lingkup pemeriksaannya mengenai pengendalian intern dan
kelemahan signifikan yang ditemukan selama pemeriksaan. Apabila pemeriksa menemukan
kelemahan pengendalian intern yang tidak signifikan, pemeriksa harus menyampaikan kelemahan
tersebut dengan surat yang ditujukan kepada manajemen entitas yang diperiksa. Jika pemeriksa
sudah menyampaikan hal tersebut, pemeriksa harus menyatakan demikian di dalam laporan hasil
pemeriksaan.
Dalam hal pemeriksa menyimpulkan bahwa ketidakpatuhan atau penyimpangan dari ketentuan
peraturan perundang-undangan telah terjadi atau kemungkinan telah terjadi, maka BPK harus
menanyakan kepada pihak yang berwenang tersebut dan atau kepada penasehat hukum apakah
laporan mengenai adanya informasi tertentu tentang penyimpangan dari ketentuan peraturan
perundang-undangan tersebut akan mengganggu suatu proses penyidikan atau proses peradilan.
Apabila laporan pemeriksaan akan mengganggu proses penyidikan atau peradilan tersebut, BPK
harus membatasi laporannya, misalnya pada hal-hal yang telah diketahui oleh umum (masyarakat).
3. Laporan hasil pemeriksaan yang memuat adanya kelemahan dalam pengendalian intern,
kecurangan, penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan, dan
ketidakpatutan, harus dilengkapi tanggapan dari pimpinan atau pejabat yang bertanggung
jawab pada entitas yang diperiksa mengenai temuan dan simpulan serta tindakan koreksi
yang direncanakan.
Pemeriksa harus meminta pejabat yang bertanggung jawab untuk memberikan tanggapan
tertulis terhadap temuan dan simpulan termasuk mengungkapkan tindakan perbaikan yang
direncanakan oleh manajemen entitas yang diperiksa. Tanggapan yang diperoleh harus dievaluasi
secara seimbang dan obyektif. Tanggapan yang berupa suatu janji atau rencana untuk tindakan
perbaikan tidak boleh diterima sebagai alasan untuk menghilangkan temuan yang signifikan atau
simpulan yang diambil.
Apabila tanggapan dari entitas yang diperiksa bertentangan dengan temuan dan simpulan
dalam laporan hasil pemeriksaan dan menurut pemeriksa, tanggapan tersebut tidak benar atau
apabila rencana tindakan perbaikannya tidak sesuai dengan temuan dan simpulan, maka pemeriksa
harus menyampaikan ketidaksetujuannya atas tanggapan dan rencana tindakan perbaikan tersebut
beserta alasannya. Ketidaksetujuan tersebut harus disampaikan secara seimbang dan obyektif.
Sebaliknya, pemeriksa harus memperbaiki laporannya apabila pemeriksa berpendapat bahwa
tanggapan tersebut benar.
4. Informasi rahasia yang dilarang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan untuk
diungkapkan kepada umum tidak diungkapkan dalam laporan hasil pemeriksaan. Namun
laporan hasil pemeriksaan harus mengungkapkan sifat informasi yang tidak dilaporkan
tersebut dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang menyebabkan tidak
dilaporkannya informasi tersebut.
BPK dapat menerbitkan satu laporan resmi yang berisi informasi rahasia dan
mendistribusikannya kepada pihak yang berhak menerimanya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Apabila memungkinkan, BPK dapat berkonsultasi dengan konsultan hukum
mengenai ketentuan permintaan atau keadaan yang menyebabkan tidak diungkapkannya informasi

17

tertentu dalam laporan hasil pemeriksaan. Pertimbangan pemeriksa mengenai tidak


diungkapkannya informasi tertentu tersebut harus mengacu kepada kepentingan publik. Jika situasi
mengharuskan penghilangan informasi tertentu, pemeriksa harus mempertimbangkan apakah
penghilangan tersebut dapat mengganggu hasil pemeriksaan atau melanggar hukum. Jika pemeriksa
memutuskan untuk menghilangkan informasi tertentu, pemeriksa harus menyatakan sifat informasi
yang dihilangkan dan alasan penghilangan tersebut.
5. Laporan hasil pemeriksaan diserahkan kepada lembaga perwakilan, entitas yang diperiksa,
pihak yang mempunyai kewenangan untuk mengatur entitas yang diperiksa, pihak yang
bertanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan, dan kepada pihak lain
yang diberi wewenang untuk menerima laporan hasil pemeriksaan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Laporan hasil pemeriksaan harus didistribusikan tepat waktu kepada pihak yang berkepentingan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Namun dalam hal yang diperiksa
merupakan rahasia negara maka untuk tujuan keamanan atau dilarang disampaikan kepada pihakpihak tertentu atas dasar ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, pemeriksa dapat
membatasi pendistribusian laporan tersebut.
Apabila suatu pemeriksaan dihentikan sebelum berakhir, tetapi pemeriksa tidak mengeluarkan
laporan hasil pemeriksaan, maka pemeriksa harus membuat catatan yang mengikhtisarkan hasil
pemeriksaannya sampai tanggal penghentian dan menjelaskan alasan penghentian pemeriksaan.
Pemeriksa juga harus mengkomunikasikan secara tertulis alasan penghentian pemeriksaan tersebut
kepada manajemen entitas yang diperiksa, entitas yang meminta pemeriksaan tersebut, atau
pejabat lain yang berwenang.

18

BAB III
INTERNATIONAL STANDARDS OF SUPREME AUDIT INSTITUTIONS (ISSAIs)

A. GAMBARAN UMUM ISSAIs


Standar profesi INTOSAI yang berlaku saat ini merupakan hasil pengembangan Auditing
Standards tahun 1998. Auditing Standards tersebut kemudian dimutakhirkan lagi pada tahun 2001.
Berdasarkan rencana strategis (strategic plan) tahun 2005 2009, INTOSAI memutuskan untuk
menyajikan kerangka standar profesi yang terbaru, sehingga INTOSAI Professional Standards
Committee memutuskan untuk menggabungkan standar dan pedoman INTOSAI yang sudah ada
maupun yang baru ke dalam sebuah kerangka (framework).
Kerangka yang baru terdiri dari dokumen-dokumen yang telah disetujui oleh International
Congres of the Supreme Audit Institutions (INCOSAI) dengan tujuan untuk memberikan arahan bagi
standar profesi yang digunakan oleh Supreme Audit Institutions (SAIs) atau sejenis Badan Pemeriksa
Keungan di Indonesia. Kerangka baru ini membentuk hirarki dengan 4 (empat) tingkatan (level)
berikut ini:
1. Level 1: Founding Principles
Level 1 merupakan tingkatan tertinggi dalam kerangka standar INTOSAI dan berisi prinsipprinsip pendiri INTOSAI atas audit pemerintahan. Level 1 ini hanya berisi satu standar yaitu ISSAI
1 - The Lima Declaration. Deklarasi Lima menyajikan konsep-konsep untuk mendukung
kegiatan-kegiatan INTOSAI di level organisasi.
2.

Level 2: Prerequisites for the Functioning of Supreme Audit Institutions


Pada bagian ini berisi pernyataan-pernyataan INTOSAI tentang prasyarat-prasyarat yang
diperlukan agar SAI dapat berfungsi dan dapat menjalankan profesinya dengan sebaik-baiknya.
Prasyarat-prasyarat tersebut meliputi prinsip-prinsip dan pedoman tentang independensi,
transparansi dan akuntabilitas, kode etik dan pengendalian kualitas. Independensi SAI terhadap
pihak yang diaudit, transparansi organisasi dan manajemen SAI serta perilaku staf SAI yang
diatur dalam prinsip-prinsip dan pedoman di atas sangat perlu untuk memperkuat efektivitas
serta keandalan hasil audit.
Pada level ini terdapat standard-standard sebagai berikut
a. ISSAI 10 - Mexico Declaration on SAI Independence
b. ISSAI 11 - INTOSAI Guidelines and Good Practices Related to SAI Independence
c. ISSAI 12 - Value and Benefit of SAIs Making a Difference to the Life of Citizens
d. ISSAI 20 - Principles of Transparency and Accountability
e. ISSAI 21 - Principles of Transparency Good Practices
f. ISSAI 30 - Code of Ethics
g. ISSAI 40 - Quality Control for SAIs Implementation Guide and Tools

3.

Level 3: Fundamental Auditing Principles


Pada level ini terdapat pernyataan-pernyataan oleh anggota-anggota INTOSAI atas prinsipprinsip profesional yang diakui secara umum yang menjadi fondasi bagi audit sektor publik yang
efektif dan independen. Tujuannya adalah untuk memajukan dan melindungi praktik-praktik
auditing yang baik, mendukung pengembangan SAI yang efektif secara terus menerus dan
menyajikan fondasi profesional untuk kerjasama internasional diantara INTOSAI dan anggotaanggotanya.

19

Level 3 ini secara khusus berisi tentang audit pemerintahan yang terdiri dari Prinsip-prinsip
Dasar, Standar Umum, Standar Pekerjaan Lapangan dan Standar Pelaporan. Prinsip-prinsip audit
sektor publik tersebut dibagi dalam jenis auditnya, yaitu: Audit Keuangan (Financial Auditing),
Audit Kinerja (Performance Auditing), dan Audit Ketaatan (Compliance Audit).
Berikut ini merupakan standard yang terdapat dalam level ini.
a. ISSAI 100 - Fundamental Principles of Public Sector Auditing
b. ISSAI 200 - Fundamental Principles of Financial Auditing
c. ISSAI 300 - Fundamental Principles of Performance Auditing
d. ISSAI 400 - Fundamental Principles of Compliance Auditing
4.

Level 4: General Auditing Guidelines


Level 4 ini adalah tingkat paling rendah dari kerangka standar. The Auditing Guidelines
menjabarkan lebih lanjut prinsip-prinsip audit yang mendasar pada Level 3 ke dalam pedoman
yang lebih spesifik, rinci dan operasional. Oleh karena itu, pedoman ini dapat digunakan sebagai
dasar untuk melaksanakan penugasan audit sehari-hari, juga dapat digunakan untuk
penyusunan petunjuk teknis bagi setiap anggota INTOSAI.
Level ini secara garis besar dibagai menjadi dua kelompok dengan penjelasan detil sebagai
berikut.
a. General audit guidelines:
1) ISSAI 1000-2999 Financial Auditing Guidelines
2) ISSAI 3000-3900 Performance Audit Guidelines
3) ISSAI 4000-4999 Compliance Audit Guidelines
b. Specific guidelines:
1) ISSAI 5000-5099 International Institutions
2) ISSAI 5100-5199 Environmental Audit
3) ISSAI 5200-5299 Privatisation
4) ISSAI 5300-5399 IT-audit
5) ISSAI 5400-5499 Audit of Public Debt
6) ISSAI 5500-5599 Audit of Disaster-related Aid
7) ISSAI 5600-5699 Peer Reviews

Jika kita memperhatikan level-level tersbut, level 3 memiliki karakteristik yang sama dengan
SPKN. Keduanya memberikan prinsip-prinsip profesional yang diakui secara umum yang menjadi
fondasi bagi audit sektor publik yang efektif dan independen. Level 1 dan Level 2 memiliki posisi
yang lebih tinggi dan memiliki sifat yang lebih strategis jika dibadingkan dengan SPKN. Disamping itu,
level 4 memiliki sifat yang lebih operasional atau rendah jika dibandinkan dengan SPKN. Sehingga,
sebagai dasar perbandingan dengan SPKN atas ISSAIs, kami menggunakan standard-standard yang
terdapat di level 3.
Pada bagian berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai standard-standard yang terdapat di
level 3. Penejelasan dalam bagian berikut ini akan digunakan sebagai dasar dalam perbandingan
dengan SPKN untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaannya.
B. ISSAI 100 - FUNDAMENTAL PRINCIPLES OF PUBLIC-SECTOR AUDITING
1. KERANGKA AUDIT SEKTOR PUBLIK
a. Mandat

20

SAI akan melaksanakan fungsi audit sektor publik di dalam penetapan konstitusional yang
spesifik dan berdasarkan kantor dan mandatnya, yang menjamin independensi yang cukup dan
kekuatan kebijaksanaan dalam melaksanakan tugasnya. Mandat dari SAI dapat mendefinisikan
tanggung jawab umum di bidang audit sektor publik dan memberikan rumusan lebih lanjut
mengenai audit dan tugas lain yang akan dilakukan. SAI dapat ditugaskan untuk melakukan
berbagai jenis penugasan yang relevan dengan tanggung jawab manajemen serta pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola dan penggunaan dana dan aset publik yang tepat. Tingkat
atau bentuk penugasan ini dan pelaporan atasnya akan bervariasi sesuai dengan mandat yang
diberikan kepada SAI yang bersangkutan.
b. Tujuan
Lingkungan Audit sektor publik mencakup wilayah di mana pemerintah dan instansi sektor
publik lainnya melaksanakan tanggung jawab atas penggunaan sumber daya yang berasal dari
pajak dan sumber-sumber lain dalam pemberian layanan kepada masyarakat dan penerima
lainnya. Instansi-instansi ini bertanggung jawab atas manajemen dan kinerja mereka, serta atas
penggunaan sumber daya, baik kepada mereka yang menyediakan sumber daya dan kepada
masyarakat yang menerima layanan yang disampaikan dengan menggunakan sumber daya
tersebut. Audit sektor publik membantu menciptakan kondisi yang sesuai dan memperkuat
harapan bahwa instansi sektor publik dan pegawainya akan menjalankan fungsi mereka secara
efektif, efisien, etis dan sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
Secara umum, audit sektor publik dapat digambarkan sebagai suatu proses yang sistematis
dalam mendapatkan dan mengevaluasi bukti secara objektif untuk menentukan apakah
informasi atau kondisi yang sebenarnya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Audit
sektor publik sangat penting karena menyediakan informasi dan penilaian yang independen dan
objektif mengenai pengelolaan dan kinerja kebijakan pemerintah, program atau operasi kepada
badan legislatif dan pengawasan, pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, dan
masyarakat umum.
Semua audit sektor publik dimulai dari tujuan, yang mungkin berbeda tergantung pada jenis
audit yang dilakukan. Namun, semua audit sektor publik memberikan kontribusi bagi
pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara:

menyediakan informasi, simpulan, atau pendapat yang dapat dipercaya, independen, dan
objektif kepada pengguna berdasarkan bukti yang cukup dan tepat yang berkaitan dengan
instansi sektor publik;
meningkatkan akuntabilitas dan transparansi, mendorong perbaikan terus-menerus dan
kepercayaan yang berkelanjutan terkait dengan penggunaan dana dan aset publik secara
tepat dan kinerja administrasi publik;
memperkuat efektivitas lembaga-lembaga dalam penetapan konstitusional yang
melaksanakan fungsi pengawasan dan fungsi korektif secara umum terhadap pemerintah,
serta lembaga-lembaga yang bertanggung jawab atas pengelolaan kegiatan yang didanai
oleh publik;
menciptakan insentif untuk perubahan dengan memberikan pengetahuan, analisis yang
komprehensif, dan rekomendasi untuk perbaikan.

c. Jenis audit sektor publik


1) Audit Keuangan berfokus pada penentuan apakah informasi keuangan suatu entitas
disajikan sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan dan peraturan yang berlaku. Hal ini

21

dilakukan dengan mendapatkan bukti audit yang cukup dan tepat yang memungkinkan
auditor untuk menyatakan pendapat apakah informasi keuangan bebas dari salah saji
material karena kecurangan atau kesalahan.
2) Audit Kinerja berfokus pada apakah intervensi, program, dan lembaga telah melakukan
tugasnya sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi, efisiensi dan efektivitas dan apakah ada
ruang untuk perbaikan. Kinerja dibandingkan dengan kriteria yang sesuai, dan dilakukan
analisis terhadap penyebab penyimpangan dari kriteria tersebut atau masalah lain.
Tujuannya adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan audit yang penting dan
memberikan rekomendasi untuk perbaikan.
3) Audit Kepatuhan berfokus pada apakah subjek tertentu telah sesuai dengan otoritas yang
ditentukan sebagai kriteria. Audit Kepatuhan dilakukan dengan menilai apakah kegiatan,
transaksi keuangan, dan informasi, dalam semua hal yang material, sesuai dengan otoritas
yang mengatur entitas yang diaudit. Otoritas ini mungkin termasuk aturan, hukum dan
peraturan, resolusi anggaran, kebijakan, kode yang didirikan, persyaratan yang disetujui,
atau prinsip-prinsip umum yang mengatur pengelolaan keuangan sektor publik yang sehat
dan perilaku pejabat publik.
2. ELEMEN AUDIT SEKTOR PUBLIK
a. Tiga pihak dalam Audit Sektor Publik
a. Auditor: Dalam audit sektor publik peran auditor diisi oleh Kepala SAI dan orang-orang
yang mendapatkan tugas melakukan audit. Tanggung jawab keseluruhan untuk audit
sektor publik tetap seperti yang didefinisikan oleh mandat SAI.
b. Penanggung jawab: Dalam audit sektor publik tanggung jawab yang relevan ditentukan
oleh penetapan konstitusi dan legislatif. Para pihak yang bertanggung jawab dapat
bertanggung jawab atas informasi subjek, pengelolaan subjek atau tindak lanjut
rekomendasi, dan mungkin individu atau organisasi.
c. Pengguna: Individu-individu, organisasi, atau kumpulan yang memerlukan laporan audit.
Pengguna yang dimaksud mungkin berupa badan legislatif atau pengawasan, pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola, atau masyarakat umum.
b. Subjek kriteria
Subjek mengacu pada informasi, kondisi, atau kegiatan yang diukur atau dievaluasi
menggunakan kriteria tertentu. Bentuknya bermacam-macam dan karakteristiknya berbeda
tergantung pada tujuan audit. Sebuah subjek yang tepat dapat diidentifikasi dan dapat
dievaluasi secara konsisten dengan menggunakan kriteria, sehingga dapat dilakukan atasnya
prosedur untuk mengumpulkan bukti audit yang cukup dan tepat untuk mendukung opini audit
atau kesimpulan.
Kriteria adalah tolok ukur yang digunakan untuk mengevaluasi subjek. Setiap audit harus
memiliki kriteria yang sesuai dengan keadaan audit itu. Dalam menentukan kesesuaian kriteria
auditor mempertimbangkan relevansinya dan mudahnya dimengerti oleh pengguna, serta
kelengkapan, keandalan, dan objektivitasnya (netralitas, penerimaan umum, dan komparabilitas
terhadap kriteria yang digunakan dalam audit serupa). Kriteria yang digunakan tergantung pada
berbagai faktor, termasuk tujuan dan jenis audit. Kriteria dapat spesifik atau lebih umum, dan
dapat diambil dari berbagai sumber, termasuk undang-undang, peraturan, standar, prinsip-

22

prinsip dan praktik terbaik. Kriteria harus disediakan untuk para pengguna agar memungkinkan
mereka untuk memahami bagaimana subjek telah dievaluasi atau diukur.
Informasi subjek mengacu pada hasil evaluasi atau pengukuran subjek terhadap kriteria.
Bentuknya bermacam-macam dan karakteristiknya berbeda tergantung pada tujuan audit dan
lingkup audit.
c. Jenis Penugasan
d. Dalam penugasan atestasi, pihak yang bertanggung jawab mengukur subjek terhadap
kriteria dan menyajikan informasi subjek, di mana auditor kemudian mengumpulkan bukti
audit yang cukup dan tepat untuk memberikan dasar memadai untuk menyatakan
simpulan.
e. Dalam penugasan pelaporan langsung, auditorlah yang mengukur atau mengevaluasi
subjek terhadap kriteria. Auditor memilih subjek dan kriteria, dengan risiko pertimbangan
dan materialitas. Hasil pengukuran subyek terhadap kriteria disajikan dalam laporan audit
dalam bentuk temuan, kesimpulan, rekomendasi atau pendapat. Audit terhadap subjek
tersebut juga dapat memberikan informasi, analisis, atau wawasan baru.
Audit keuangan selalu merupakan penugasan atestasi, karena didasarkan pada informasi
keuangan yang disajikan oleh pihak yang bertanggung jawab. Audit kinerja biasanya berupa
penugasan pelaporan langsung. Audit kepatuhan mungkin berupa penugasan atestasi atau
pelaporan langsung, atau keduanya sekaligus.
d. Confidence and assurance in performance auditing
Pengguna ingin diyakinkan tentang keandalan dan relevansi dari informasi yang mereka gunakan
sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu audit memberikan informasi
berdasarkan bukti yang cukup dan tepat, dan auditor harus melakukan prosedur untuk
mengurangi atau mengelola risiko timbulnya simpulan yang tidak sesuai. Tingkat jaminan yang
dapat diberikan kepada pengguna harus dikomunikasikan secara transparan. Namun, karena
keterbatasan, audit tidak pernah memberikan jaminan penuh.
Sesuai kebutuhan audit dan pengguna, jaminan dapat dikomunikasikan dengan dua cara:
f.

Melalui pendapat dan simpulan yang secara eksplisit menyampaikan tingkat jaminan. Hal
ini berlaku untuk semua penugasan atestasi dan penugasan pelaporan langsung tertentu.
g. Dalam bentuk lain. Dalam beberapa penugasan pelaporan langsung, auditor tidak
memberikan pernyataan eksplisit jaminan atas subjek. Dalam kasus seperti itu, auditor
menyediakan tingkat kepercayaan yang diperlukan kepada pengguna dengan secara
eksplisit menjelaskan bagaimana temuan, kriteria, dan simpulan dikembangkan secara
seimbang dan beralasan, dan mengapa kombinasi dari temuan dan kriteria menghasilkan
simpulan keseluruhan tertentu atau rekomendasi.
Jaminan memadai memiliki tingkat keyakinan tinggi tetapi tidak mutlak. Simpulan audit
dinyatakan positif, dengan kata lain, dalam opini auditor, subjek telah sesuai atau tidak sesuai
dalam kaitannya dengan semua hal yang material, atau, jika relevan, bahwa informasi subjek
memberikan pandangan yang benar dan adil, sesuai dengan kriteria yang berlaku.
Saat memberikan jaminan terbatas, simpulan audit menyatakan bahwa berdasarkan prosedur
yang dilakukan, tidak ada hal yang menjadi perhatian auditor dan menyebabkan auditor untuk
meyakini bahwa subjek tidak sesuai dengan kriteria yang berlaku. Prosedur yang dilakukan
dalam audit jaminan terbatas lebih terbatas dibandingkan dengan apa yang diperlukan untuk

23

memperoleh jaminan memadai, namun tingkat kepastian yang diharapkan, menurut


pertimbangan profesional auditor, menjadi berarti bagi pengguna. Sebuah laporan jaminan
terbatas menyampaikan sifat terbatas dari jaminan yang diberikan.
3. PRINSIP AUDIT SEKTOR PUBLIK
a. Kebutuhan Organisasi
SAI harus menetapkan dan memelihara prosedur yang sesuai untuk etika dan kendali mutu.
Setiap SAI harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk etika dan kendali mutu pada
tingkat organisasi yang akan memberikan keyakinan memadai bahwa SAI dan personelnya
mematuhi standar profesional dan etika, hukum, dan peraturan persyaratan yang berlaku.
Adanya prosedur ini pada tingkat SAI merupakan prasyarat untuk menerapkan atau
mengembangkan standar nasional berdasarkan Fundamental Auditing Principles.
b. Prinsip Umum
1) Etika dan independensi
Auditor harus mematuhi ketentuan etika yang relevan dan menjadi independen
Prinsip-prinsip etika harus diwujudkan dalam perilaku profesional auditor ini. SAI harus memiliki
kebijakan menangani persyaratan etika dan menekankan perlunya kepatuhan oleh setiap
auditor. Auditor harus tetap independen sehingga laporan mereka akan berimbang dan dilihat
seperti itu oleh pengguna.
2) Pertimbangan profesional, kehati-hatian dan skeptisisme
Auditor harus menjaga perilaku profesional yang sesuai dengan menerapkan skeptisisme
profesional, pertimbangan profesional, dan kehati-hatian sepanjang pelaksanaan audit
Sikap auditor harus ditandai dengan skeptisisme profesional dan pertimbangan profesional, yang
harus diterapkan ketika membuat keputusan tentang tindakan yang tepat. Auditor harus
berhati-hati untuk memastikan bahwa perilaku profesional mereka adalah tepat.
Skeptisisme profesional berarti menjaga jarak profesional serta peringatan dan pertanyaan sikap
ketika menilai kecukupan dan kesesuaian bukti yang diperoleh selama audit. Kegiatan ini juga
meliputi tetap berpikiran terbuka dan mau menerima semua pandangan dan argumen.
Pertimbangan profesional menyiratkan penerapan pengetahuan kolektif, keterampilan, dan
pengalaman untuk proses audit. Kehati-hatian berarti bahwa auditor harus merencanakan dan
melakukan audit secara rajin. Auditor harus menghindari perilaku yang mungkin
mendiskreditkan pekerjaan mereka.
3) Kendali mutu
Auditor harus melakukan audit sesuai dengan standar profesional pada kendali mutu
Kebijakan dan prosedur harus sesuai dengan standar profesional kendali mutu SAI, tujuannya
adalah untuk memastikan audit yang dilakukan pada tingkat tinggi telah konsisten. Prosedur
kendali mutu harus mencakup hal-hal seperti arah, review, dan pengawasan proses audit dan
kebutuhan untuk konsultasi untuk mencapai keputusan mengenai hal-hal yang sulit atau
kontroversial.
4) Manajemen dan keterampilan tim audit

24

Auditor harus memiliki akses ke keterampilan yang diperlukan


Individu-individu dalam tim audit harus secara kolektif memiliki pengetahuan, keterampilan, dan
keahlian yang diperlukan untuk berhasil menyelesaikan audit. Ini termasuk pemahaman dan
pengalaman praktis dari jenis audit yang dilakukan, kebiasaan dengan standar yang berlaku dan
undang-undang, pemahaman tentang operasi entitas, serta kemampuan dan pengalaman untuk
melakukan penilaian yang profesional. Yang umum terdapat dalam semua audit adalah
kebutuhan untuk merekrut personil dengan kualifikasi yang sesuai, penawaran pengembangan
dan pelatihan staf, persiapan manual dan pedoman tertulis lainnya serta instruksi mengenai
pelaksanaan audit, dan menetapkan sumber daya audit yang cukup. Auditor harus menjaga
kompetensi profesional mereka melalui pengembangan profesional berkelanjutan.
5) Risiko Audit
Auditor harus mengelola risiko memberikan laporan yang tidak sesuai dalam situasi audit
Risiko Audit adalah risiko bahwa laporan audit mungkin tidak sesuai. Auditor melakukan
prosedur untuk mengurangi atau mengelola risiko mencapai simpulan yang tidak sesuai,
mengakui bahwa keterbatasan yang melekat pada semua audit berarti bahwa audit tidak dapat
memberikan kepastian yang mutlak terhadap kondisi subjek.
6) Materialitas
Auditor harus mempertimbangkan materialitas seluruh proses audit
Materialitas relevan dalam semua audit. Sesuatu dapat dinilai material jika pengetahuan atasnya
akan cenderung mempengaruhi keputusan pengguna. Menentukan materialitas merupakan
masalah pertimbangan profesional dan tergantung pada interpretasi auditor terkait kebutuhan
pengguna. Penilaian ini mungkin berhubungan dengan item individu atau kelompok item yang
diambil bersama-sama. Materialitas sering dianggap dalam hal nilai, tetapi juga memiliki aspek
kuantitatif lainnya serta aspek kualitatif. Karakteristik yang melekat pada item atau kelompok
item dapat membuat sesuatu menjadi bersifat material. Sesuatu mungkin juga bersifat material
karena konteks yang terjadi. Pertimbangan materialitas mempengaruhi keputusan mengenai
sifat, waktu, dan luasnya prosedur audit dan evaluasi hasil audit. Pertimbangan mungkin
termasuk kekhawatiran pemangku kepentingan, kepentingan umum, persyaratan peraturan,
dan konsekuensi bagi masyarakat.
7) Dokumentasi
Auditor harus menyiapkan dokumentasi audit yang cukup rinci untuk memberikan pemahaman
yang jelas tentang pekerjaan yang dilakukan, bukti yang diperoleh, dan kesimpulan yang dicapai
Dokumentasi audit harus mencakup strategi audit dan rencana audit. Dokumentasi harus
mencatat prosedur yang dilakukan dan bukti yang diperoleh dan mendukung hasil audit.
Dokumentasi harus cukup rinci sehingga memungkinkan auditor yang berpengalaman, tanpa
pengetahuan sebelumnya tentang audit, untuk memahami sifat, waktu, ruang lingkup, dan hasil
prosedur yang dilakukan, bukti yang diperoleh untuk mendukung kesimpulan audit dan
rekomendasi, alasan di balik semua hal-hal signifikan yang memerlukan pelaksanaan
pertimbangan profesional, dan simpulan terkait.
8) Komunikasi
Auditor harus membangun komunikasi yang efektif di seluruh proses audit

25

Adalah penting bahwa entitas yang diaudit selalu diinformasikan mengenai semua hal yang
berhubungan dengan audit. Ini adalah kunci untuk mengembangkan hubungan kerja yang
konstruktif. Komunikasi harus mencakup mendapatkan informasi yang relevan dengan audit dan
menyediakan pengamatan yang tepat waktu dan temuan di seluruh penugasan kepada
manajemen dan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola. Auditor juga mungkin memiliki
tanggung jawab untuk mengomunikasikan hal-hal yang terkait dengan audit kepada pemangku
kepentingan lainnya, seperti badan legislatif dan pengawasan.
c. Prinsip Terkait Proses Audit
1) Perencanaan audit
Auditor harus memastikan bahwa persyaratan audit telah jelas
Audit mungkin diwajibkan oleh undang-undang, diminta oleh badan legislatif atau pengawasan,
diprakarsai oleh SAI atau dilakukan berdasarkan perjanjian sederhana dengan entitas yang
diaudit. Dalam semua kasus, auditor, manajemen entitas yang diaudit, pihak yang bertanggung
jawab atas tata kelola, dan lain-lain yang berlaku harus mencapai pemahaman yang sama terkait
persyaratan audit serta peran dan tanggung jawab masing-masing. Informasi penting dapat
mencakup subjek, ruang lingkup dan tujuan audit, akses ke data, laporan yang akan dihasilkan
dari audit, proses audit, kontak person, serta peran dan tanggung jawab dari berbagai pihak
dalam penugasan.
Auditor harus memperoleh pemahaman tentang sifat dari entitas/program yang akan diaudit
Ini termasuk memahami tujuan yang relevan, operasi, lingkungan peraturan, pengendalian
internal, sistem keuangan dan lainnya dan proses bisnis, serta meneliti potensi sumber bukti
audit. Pengetahuan dapat diperoleh dari interaksi rutin dengan manajemen, pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola, dan pemangku kepentingan terkait lainnya. Bentuknya
dapat berupa konsultasi ahli dan pemeriksaan dokumen (termasuk studi sebelumnya dan
sumber-sumber lain) untuk mendapatkan pemahaman yang luas dari subjek yang akan diaudit
dan konteksnya.
Auditor harus melakukan penilaian risiko atau analisis masalah dan merevisinya apabila
diperlukan dalam menanggapi temuan audit
Sifat dari risiko yang teridentifikasi akan bervariasi sesuai dengan tujuan audit. Auditor harus
mempertimbangkan dan menilai risiko dari berbagai jenis kekurangan, penyimpangan, atau
salah saji yang dapat terjadi dalam kaitannya dengan subjek. Kedua risiko umum dan khusus
harus dipertimbangkan. Hal ini dapat dicapai melalui prosedur yang berfungsi untuk
memperoleh pemahaman tentang entitas atau program dan lingkungannya, termasuk
pengendalian internal yang relevan. Auditor harus menilai respon manajemen untuk risiko yang
teridentifikasi, termasuk pelaksanaan dan desain pengendalian internal untuk mengatasinya.
Dalam analisis masalah auditor harus mempertimbangkan indikasi masalah sebenarnya atau
penyimpangan dari apa yang seharusnya atau diharapkan. Proses ini melibatkan pemeriksaan
berbagai indikator masalah dalam rangka menentukan tujuan audit. Identifikasi risiko dan
dampaknya terhadap audit harus dipertimbangkan selama proses audit.
Auditor harus mengidentifikasi dan menilai risiko penipuan relevan dengan tujuan audit

26

Auditor harus membuat pertanyaan dan melakukan prosedur untuk mengidentifikasi dan
menanggapi risiko penipuan yang relevan dengan tujuan audit. Mereka harus mempertahankan
sikap skeptisisme profesional dan waspada terhadap kemungkinan penipuan selama proses
audit.
Auditor harus merencanakan pekerjaan mereka untuk memastikan bahwa audit dilakukan
secara efektif dan efisien
Secara strategis, perencanaan harus mendefinisikan lingkup, tujuan, dan pendekatan audit.
Tujuan merujuk pada apa yang harus dicapai oleh audit. Ruang lingkup berkaitan dengan subjek
dan kriteria yang akan digunakan auditor untuk menilai dan melaporkan subjek, dan secara
langsung berkaitan dengan tujuan. Pendekatan akan menggambarkan sifat dan luasnya prosedur
yang akan digunakan untuk mengumpulkan bukti audit. Audit harus direncanakan untuk
mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah.
Secara operasional, perencanaan memerlukan pengaturan jadwal audit dan menentukan sifat,
waktu, dan luasnya prosedur audit. Selama perencanaan, auditor harus menetapkan anggota
tim mereka yang sesuai dan mengidentifikasi sumber informasi lainnya yang mungkin
diperlukan, seperti ahli.
2) Pelaksanaan audit
Auditor harus melaksanakan prosedur audit yang memberikan bukti audit yang cukup dan tepat
untuk mendukung laporan audit
Keputusan auditor atas sifat, waktu dan luasnya prosedur audit akan berdampak pada bukti yang
diperoleh. Pilihan prosedur akan tergantung pada penilaian risiko atau analisis masalah.
Bukti audit adalah setiap informasi yang digunakan oleh auditor untuk menentukan apakah
subjek sesuai dengan kriteria yang berlaku. Bukti dapat memiliki banyak bentuk, seperti catatan
elektronik dan kertas transaksi, komunikasi tertulis dan elektronik dengan pihak luar,
pengamatan oleh auditor, dan kesaksian lisan atau tertulis oleh entitas yang diaudit. Metode
untuk memperoleh bukti audit dapat mencakup inspeksi, observasi, penyelidikan, konfirmasi,
perhitungan kembali, pengerjaan kembali, prosedur analitis, dan/atau teknik penelitian lainnya.
Bukti harus cukup (kuantitas) untuk meyakinkan orang yang berpengetahuan bahwa temuan ini
masuk akal, dan sesuai (kualitas) - yaitu relevan, valid dan dapat diandalkan. Penilaian auditor
atas bukti harus objektif, adil, dan seimbang. Temuan awal harus dikomunikasikan dan
didiskusikan dengan entitas yang diaudit untuk mengkonfirmasi validitasnya. Auditor juga harus
menghormati semua persyaratan mengenai kerahasiaan.
Auditor harus mengevaluasi bukti audit dan menarik simpulan
Setelah menyelesaikan prosedur audit, auditor akan meninjau dokumentasi audit untuk
menentukan apakah subyek telah cukup dan tepat diaudit. Sebelum penarikan simpulan, auditor
mempertimbangkan kembali penilaian awal risiko dan materialitas terkait bukti yang
dikumpulkan dan menentukan apakah prosedur audit tambahan perlu dilakukan.
Auditor harus mengevaluasi bukti audit dengan tujuan untuk memperoleh temuan audit. Ketika
mengevaluasi bukti audit dan menilai materialitas temuan auditor harus mempertimbangkan
faktor-faktor kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan temuan, auditor harus melakukan penilaian
yang profesional untuk mencapai simpulan pada subjek atau informasi subjek.

27

3) Pelaporan dan tindak lanjut


Auditor harus membuat laporan berdasarkan simpulan yang dicapai
Proses audit melibatkan penyiapan laporan untuk mengkomunikasikan hasil audit kepada
pemangku kepentingan, orang lain yang bertanggung jawab atas tata kelola, dan masyarakat
umum. Tujuannya juga untuk memudahkan tindak lanjut dan tindakan korektif. Dalam beberapa
SAI, ini mungkin termasuk mengeluarkan laporan yang mengikat secara hukum atau keputusankeputusan pengadilan. Laporan harus mudah dimengerti, bebas dari ketidakjelasan atau
ambiguitas dan lengkap. Laporan harus objektif dan adil, hanya termasuk informasi yang
didukung oleh bukti audit yang cukup dan tepat dan memastikan bahwa temuan telah sesuai
dengan perspektif dan konteks.
Penugasan atestasi:
Dalam penugasan atestasi laporan audit dapat mengungkapkan pendapat apakah informasi
subjek, dalam semua hal yang material, bebas dari salah saji dan/atau apakah subjek sesuai,
dalam semua hal yang material, dengan kriteria yang telah ditetapkan. Dalam penugasan
atestasi laporan tersebut umumnya disebut sebagai Laporan Auditor.
Penugasan langsung:
Dalam penugasan langsung laporan audit harus menyatakan tujuan audit dan menjelaskan
bagaimana tujuan tersebut dibahas dalam audit. Ini termasuk temuan dan simpulan atas subjek
dan bisa juga menyertakan rekomendasi. Informasi tambahan tentang kriteria, metodologi, dan
sumber data juga dapat diberikan, dan setiap keterbatasan ruang lingkup audit harus dijelaskan.
Laporan audit harus menjelaskan bagaimana bukti yang diperoleh digunakan dan mengapa
simpulan yang dihasilkan ditarik. Hal ini akan memungkinkan untuk memberikan tingkat
keyakinan yang diperlukan kepada pengguna.
Opini audit:
Apabila opini audit digunakan untuk menyampaikan tingkat jaminan, opini harus dalam format
standar. Opini tersebut mungkin dimodifikasi atau tidak dimodifikasi. Opini yang dimodifikasi
digunakan ketika jaminan baik terbatas atau wajar telah diperoleh. Opini dimodifikasi dapat
berupa:
a. Wajar (dengan pengecualian) - di mana auditor tidak setuju dengan, atau tidak dapat
memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang, item-item tertentu di subjek yang,
atau mungkin, material tetapi tidak merembet;
b. Tidak wajar - di mana auditor, yang telah mendapat bukti audit yang cukup dan tepat,
menyimpulkan bahwa penyimpangan atau salah saji, baik secara individu maupun secara
agregat, keduanya material dan merembet;
c. Tidak Menyatakan Opini di mana auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup
dan tepat karena adanya ketidakpastian atau pembatasan ruang lingkup yang material dan
merembet.
Apabila opini tersebut dimodifikasi, alasan harus dimasukkan ke dalam perspektif dengan
menjelaskan, dengan mengacu pada kriteria yang berlaku, sifat dan tingkat modifikasi.
Tergantung pada jenis audit, rekomendasi untuk tindakan korektif dan setiap kontribusi
kekurangan pengendalian internal juga dapat dimasukkan dalam laporan.

28

Tindak lanjut:
SAI memiliki peran dalam tindakan pengawasan yang dilakukan oleh pihak yang bertanggung
jawab dalam menanggapi masalah yang diajukan dalam laporan audit. Tindak lanjut berfokus
pada apakah entitas yang diaudit telah memperhatikan masalah yang diajukan, termasuk
implikasi yang lebih luas. Kurangnya atau tidak memuaskannya tindakan oleh entitas yang
diaudit dapat menghasilkan laporan lebih lanjut oleh SAI.
C. ISSAI 200 - FUNDAMENTAL PRINCIPLES OF FINANCIAL AUDITING
1. KERANGKA AUDIT KEUANGAN
a. Tujuan
Tujuan audit atas laporan keuangan adalah untuk meningkatkan tingkat kepercayaan pengguna
terhadap laporan keuangan. Hal ini dicapai melalui pernyataan pendapat oleh auditor apakah
laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku, atau - dalam kasus laporan keuangan yang disusun sesuai dengan
penyajian wajar kerangka pelaporan keuangan - apakah laporan keuangan disajikan secara
wajar, dalam semua hal yang material, atau memberikan pandangan yang benar dan adil, sesuai
dengan kerangka itu.
b. Penerapan ISSAI 200 pada sektor publik
1) Prasyarat untuk audit laporan keuangan sesuai dengan ISSAI
Auditor harus menilai apakah prasyarat untuk audit atas laporan keuangan tersebut telah
terpenuhi.
Audit keuangan yang dilakukan sesuai dengan ISSAI didasari oleh kondisi berikut:
d. kerangka pelaporan keuangan yang digunakan untuk penyusunan laporan keuangan
dianggap dapat diterima oleh auditor.
e. manajemen entitas mengakui dan memahami tanggung jawabnya:
o Untuk penyusunan laporan keuangan sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan
yang berlaku, termasuk, jika relevan, penyajiannya secara wajar;
o Untuk pengendalian internal dianggap perlu oleh manajemen untuk penyusunan
laporan keuangan yang bebas dari salah saji material, baik karena kecurangan atau
kesalahan; dan
o Untuk memberikan auditor akses tak terbatas ke semua informasi yang diketahui dan
yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan.
2) Audit atas laporan keuangan yang disusun berdasarkan kerangka tujuan khusus
Prinsip-prinsip ISSAI 200 berlaku untuk audit atas laporan keuangan yang disusun berdasarkan
kerangka tujuan umum dan tujuan khusus. Selain menyiapkan laporan keuangan untuk tujuan
umum, entitas sektor publik dapat menyusun laporan keuangan untuk pihak lain (seperti badan
pemerintah, legislatif atau pihak lain dengan fungsi pengawasan), yang mungkin memerlukan
laporan keuangan yang disesuaikan untuk memenuhi informasi spesifik yang mereka butuhkan.
Dalam beberapa lingkungan laporan keuangan semacam ini adalah satu-satunya laporan
keuangan yang disusun oleh entitas sektor publik. Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan
khusus tidak sesuai untuk masyarakat umum. Auditor harus berhati-hati dalam memeriksa

29

apakah kerangka pelaporan keuangan dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi


keuangan dari berbagai pengguna (kerangka tujuan umum) atau pengguna tertentu, atau
persyaratan badan penetapan standar.
3) Audit atas laporan keuangan tunggal dan elemen, akun, atau item tertentu dari laporan
keuangan
Prinsip-prinsip ISSAI 200 juga berlaku untuk audit entitas sektor publik yang mempersiapkan
informasi keuangan, termasuk laporan keuangan tunggal atau unsur-unsur, akun, atau item
tertentu dari laporan keuangan, untuk pihak lain (seperti badan pemerintah, legislatif atau
pihak lain dengan fungsi pengawasan). Informasi tersebut mungkin berada di bawah mandat
audit SAI. Auditor juga dapat terlibat untuk mengaudit laporan keuangan tunggal atau unsurunsur, akun, atau item tertentu - seperti proyek yang dibiayai oleh pemerintah - meskipun
mereka tidak terlibat untuk mengaudit set lengkap laporan keuangan entitas yang
bersangkutan.
2. ELEMEN AUDIT KEUANGAN
a. Tiga pihak dalam audit keuangan
Pihak yang bertanggung jawab biasanya adalah cabang eksekutif pemerintah dan/atau hierarki
instansi sektor publik yang bertanggung jawab atas pengelolaan dana publik, pelaksanaan
kewenangan di bawah kendali legislatif, dan isi dari laporan keuangan. Legislator mewakili
masyarakat, yang merupakan pengguna utama laporan keuangan di sektor publik. Pengguna
terutama adalah parlemen, yang mewakili masyarakat dengan membuat keputusan dan
menentukan prioritas keuangan publik serta tujuan dan isi dari pengeluaran dan pendapatan
sebagai bagian dari proses demokrasi publik.
b. Kriteria yang sesuai
Kriteria adalah tolok ukur yang digunakan untuk mengevaluasi atau mengukur subjek, termasuk
juga untuk penyajian dan pengungkapan. Kriteria yang digunakan dalam menyusun laporan
keuangan biasanya bersifat formal dan dapat berupa IPSAS, IFRS, atau kerangka pelaporan
keuangan nasional lainnya yang biasa digunakan di sektor publik.
c. Informasi subjek
Posisi keuangan, kinerja keuangan, arus kas, dan catatan atas laporan keuangan (informasi
subjek) merupakan hasil dari penerapan kerangka pelaporan keuangan dalam hal pengakuan,
pengukuran, penyajian, dan pengungkapan (kriteria) pada data keuangan instansi sektor publik
(subjek).
d. Penugasan untuk memperoleh jaminan yang dapat diterima

3. PRINSIP-PRINSIP DALAM AUDIT KEPATUHAN


1. Prinsip Umum
1) Etika dan independensi
Auditor harus memenuhi persyaratan etis yang relevan, termasuk yang terkait dengan
independensi, dalam melaksanakan audit atas laporan keuangan
2) Kendali mutu

30

Auditor harus menerapkan prosedur pengendalian mutu pada penugasan yang


menyediakan jaminan yang dapat diterima bahwa audit telah memenuhi standar
profesional serta persyaratan hukum dan peraturan yang berlaku, serta bahwa laporan
auditor telah sesuai dengan kenyataan.
3) Manajemen dan keterampilan tim audit
Auditor harus memastikan bahwa keseluruhan tim audit termasuk tenaga ahli eksternal
secara kolektif memiliki kompetensi dan kemampuan untuk:
i.
Melaksanakan audit berdasarkan standar yang relevan serta persyaratan hukum dan
peraturan yang berlaku;
ii.
Memungkinkan auditor menerbitkan laporan yang sesuai dengan kenyataan.
4) Risiko Audit
Auditor harus meminimalisasi risiko audit sampai tingkat rendah yang dapat diterima dalam
audit untuk mendapatkan jaminan yang dapat diterima sebagai dasar pernyataan opini
positif.
5) Pertimbangan dan skeptisisme profesional
Auditor harus merencanakan dan melaksanakan audit dengan skeptisisme profesional untuk
memahami bahwa terdapat kemungkinan salah saji material dalam laporan keuangan.
Dalam merencanakan, melaksanakan, menyimpulkan, dan melaporkan audit atas laporan
keuangan, auditor harus menggunakan pertimbangan profesional.
6) Materialitas
Auditor harus mempertimbangkan materialitas selama proses audit. Menentukan
materialitas merupakan pertimbangan profesional dan tergantung pada interpretasi auditor
atas kebutuhan pengguna. Suatu hal dapat dinilai material jika hal itu akan cenderung
mempengaruhi keputusan pengguna yang dituju.
7) Komunikasi
Auditor harus menjaga komunikasi yang efektif selama proses audit. Auditor harus
menentukan kontak person yang sesuai dalam struktur tata kelola instansi yang diaudit dan
melakukan komunikasi dengannya mengenai lingkup dan waktu audit yang direncanakan
serta temuan-temuan yang signifikan. Komunikasi berlangsung pada semua tahap audit;
sebelum audit dimulai, selama perencanaan awal, selama audit yang tepat, dan pada tahap
pelaporan.
8) Dokumentasi
Auditor harus menyiapkan dokumentasi audit yang memadai. Dokumentasi harus disiapkan
pada waktu yang tepat dan harus memberikan pemahaman yang jelas tentang kriteria yang
digunakan, ruang lingkup audit, penilaian yang dibuat, bukti yang diperoleh dan kesimpulan
yang dicapai.
2. Prinsip terkait Proses Audit
1) Persetujuan atas persyaratan penugasan
Auditor harus memiliki pemahaman yang sama dengan manajemen atau pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola terkait dengan syarat penugasan audit. Biasanya syarat
ini telah tercantum dalam mandat yang diberikan.

31

2) Perencanaan
Auditor harus mengembangkan strategi audit secara keseluruhan yang mencakup ruang
lingkup, waktu, dan arah audit, serta rencana audit. Auditor harus merencanakan audit
dengan baik untuk memastikan audit dilaksanakan secara efektif dan efisien. Baik strategi
maupun rencana audit harus didokumentasikan dan diperbaharui selama proses audit
apabila diperlukan.
3) Memahami instansi yang diaudit
Auditor harus memahami instansi yang diaudit dan lingkungannya, termasuk prosedur
pengendalian internal yang relevan. Hal ini akan membantu auditor dalam merencanakan
dan melaksanakan audit secara efektif.
4) Penilaian risiko
Auditor harus menilai risiko salah saji material dalam laporan keuangan dan asersi untuk tiap
kelas transaksi, saldo akun, dan pengungkapan agar dapat menyediakan dasar untuk
prosedur audit selanjutnya. Risiko yang dinilai signifikan harus mendapat prioritas utama.
Proses identifikasi dan penilaian ini harus didokumentasikan dengan baik.
5) Tanggapan atas risiko
Auditor dapat menanggapi risiko yang ditemukan dengan cara merancang prosedur audit
yang mengatasi risiko tersebut, misalnya prosedur substantif dan uji pengendalian. Jenis,
waktu, dan jangkauan tanggapan ini tergantung pada risiko yang akan diatasi.
6) Pertimbangan terkait kecurangan dalam audit atas laporan keuangan
Auditor harus mengidentifikasi dan menilai risiko salah saji material dalam laporan keuangan
yang disebabkan oleh kecurangan, harus mendapatkan bukti audit yang cukup dan tepat
terkait risiko tersebut, dan harus menanggapi kecurangan yang diidentifikasi selama audit
dengan tepat. Hal-hal yang patut diwaspadai terjadi kecurangan antara lain pengadaan,
hibah, privatisasi,dan sebagainya.
7) Pertimbangan keberlanjutan
Konsep keberlanjutan mungkin memiliki sedikit atau tidak ada relevansinya untuk instansi
sektor publik yang didanai melalui anggaran pemerintah. Meskipun demikian, auditor tetap
perlu melakukan penilaian atas keberlanjutan instansi.
8) Pertimbangan terkait hukum dan peraturan dalam audit atas laporan keuangan
Auditor harus mengidentifikasi risiko salah saji material yang disebabkan oleh
ketidakpatuhan terhadap hukum dan peraturan. Identifikasi tersebut harus disertai dengan
bukti audit yang cukup dan tepat.
9) Bukti audit
Auditor harus mengumpulkan bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyediakan dasar
bagi kesimpulan atau pendapat. Kecukupan adalah ukuran kuantitas bukti, sedangkan
kesesuaian berkaitan dengan kualitas bukti (relevansinya, validitas dan reliabilitas)
10) Pertimbangan terkait peristiwa setelah tanggal laporan keuangan

32

Auditor harus mengumpulkan bukti audit yang cukup dan tepat bahwa semua peristiwa yang
terjadi antara tanggal laporan keuangan dengan tanggal laporan audit yang memerlukan
penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan keuangan telah diidentifikasi. Auditor juga
harus menanggapi dengan tepat fakta-fakta yang baru diketahui setelah tanggal laporan
audit yang apabila diketahui sebelumnya dapat mengubah isi laporan audit.
11) Mengevaluasi salah saji
Auditor harus membuat dan menyimpan catatan lengkap atas salah saji yang diidentifikasi
selama audit serta mengomunikasikannya ke manajemen dan pihak-pihak yang bertanggung
jawab atas tata kelola secara tepat dan tepat waktu. Salah saji yang tidak dikoreksi harus
dievaluasi terkait materialitasnya secara individu ataupun agregat untuk menentukan
akibatnya bagi opini auditor dalam laporan audit.
12) Membentuk simpulan dan melaporkan
Auditor harus membentuk opini berdasarkan evaluasi atas simpulan yang ditarik dari bukti
audit yang diperoleh mengenai kesesuaian laporan keuangan dengan kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku. Opini harus dinyatakan secara jelas dalam laporan tertulis yang juga
menjelaskan dasar opini tersebut.
Laporan audit keuangan harus mencakup unsur-unsur berikut:
Judul
Alamat auditee
Paragraf perkenalan
Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan
Tanggung jawab auditor
Opini
Laporan terkait persyaratan hukum dan peraturan lainnya (apabila diperlukan)
Tanda tangan
Tanggal
Lokasi
13) Pertimbangan terkait audit atas laporan keuangan grup (termasuk laporan keuangan
pemerintah secara keseluruhan)
Auditor yang ditugaskan untuk mengaudit laporan keuangan grup harus memperoleh bukti
audit yang cukup dan tepat terkait informasi keuangan seluruh komponen dan proses
konsolidasi sebelum menyatakan opininya mengenai apakah laporan keuangan pemerintah
secara keseluruhan telah disusun berdasarkan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.

D. ISSAI 300 - FUNDAMENTAL PRINCIPLES OF PERFORMANCE AUDITING


4. KERANGKA AUDIT KINERJA
d. Definisi
Audit kinerja adalah pemeriksaan yang independen, obyektif dan dapat diandalkan untuk
menilai apakah usaha pemerintah, sistem, operasi, program, kegiatan atau organisasi beroperasi
sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi, efisiensi dan efektif dan apakah ada peluang untuk
perbaikan.
e. Ekonomi, Efisiensi, Efektifitas

33

1) Ekonomi, meminimalisasi biaya sumberdaya. Sumberdaya harus tersedia tepat waktu, dalam
kualitas dan kuantitas yang tepat dengan harga yang terbaik.
2) Efisiensi, memperoleh yang terbaik dari sumberdaya yang ada. Hal ini terkait dengan
hubungan antara sumberdaya yang digunakan dengan output yang diberikan dalam kualitas,
kuantitas, dan waktu yang ditentukan.
3) Efektifitas, memenuhi tujuan yang ditetapkan dan memperoleh hasil yang diharapkan.
f.

Tujuan
Tujuan utama dari audit kinerja adalah secara konstruktif untuk meningkatkan ekonomis, efektif
dan efisien dari tata kelola. Audit kinerja juga berkontribusi untuk akuntabilitas dan transparansi.

g. Penggunaan ISSAI 300


Standard ini memberikan dasar untuk adopsi atau pengembangan standar oleh SAI. Standard ini
telah dirumuskan dengan mempertimbangkan untuk latar belakang kelembagaan SAI, termasuk
independensinya, mandat konstitusional dan kewajiban etika dan persyaratan atas prasyarat
untuk berfungsinya SAI (ISSAIs 10-99).
5. ELEMEN AUDIT KINERJA
a. Tiga pihak dalam Audit Kinerja
Audit didasarkan pada hubungan tiga pihak antara auditor, pihak yang dituju serta pihak yang
bertanggung jawab. Auditor bertujuan untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat
untuk mengekspresikan kesimpulan dirancang untuk meningkatkan tingkat kepercayaan dari
pengguna yang dituju, selain pihak yang bertanggung jawab, tentang pengukuran atau evaluasi
dari subyek terhadap kriteria.
b. Subjek kriteria
Subyek audit kinerja tidak perlu terbatas pada program-program tertentu, entitas atau dana
tetapi bisa termasuk kegiatan (dengan output mereka, hasil dan dampak) atau situasi yang ada
(termasuk sebab dan akibat). Dalam audit kinerja, auditor kadang-kadang terlibat dalam
mengembangkan atau memilih kriteria yang relevan dengan audit.
c. Confidence and assurance in performance auditing
Seperti hanya dalam semua audit, pengguna laporan audit kinerja akan ingin menjadi yakin
tentang keandalan informasi yang mereka gunakan untuk mengambil keputusan. Oleh karena
itu mereka akan mengharapkan laporan yang handal dari auditor berdasarkan bukti yang
diperiksa.
Namun, auditor kinerja biasanya tidak diharapkan untuk memberikan pendapat secara
keseluruhan, dibandingkan dengan pendapat atas laporan keuangan, atas prestasi entitas yang
diaudit terkait ekonomi, efisiensi dan efektivitas. Tingkat jaminan yang diberikan oleh audit
kinerja harus dikomunikasikan secara transparan. Tingkat ekonomi, efisiensi dan efektivitas
yang dicapai dapat disampaikan dalam laporan audit kinerja dengan cara yang berbeda:
6. PRINSIP AUDIT KINERJA
a. Prinsip Umum
Prinsip umum ini memberikan pedoman atas aspek-aspek dalam Aduit Kinerja yang relevan
dalam proses audit dengan ketentuan sebagai berikut.

34

Beberapa hal tidak tercakup dalam ISSAI 100 seperti: pemilihan topik audit, identifikasi
tujuan audit dan definisi pendekatan audit dan kriteria.
Di area lain, seperti risiko audit, komunikasi, keterampilan, pertimbangan profesional,
kontrol kualitas, materialitas dan dokumentasi, prinsip-prinsip umum mengacu pada
prinsip-prinsip ISSAI 100 dan menjelaskan bagaimana mereka secara khusus berlaku dalam
audit kinerja.
Terakhir, beberapa area, seperti etika dan independensi, saat ini ditangani oleh ISSAI 100
dan oleh standard lainnya dalam ISSAI di level 2.

Berikut ini merupakan prinsip umum dalam ISSAI 300.


1) Tujuan Audit
Auditor harus menetapkan tujuan audit didefinisikan dengan jelas yang berkaitan dengan
prinsip-prinsip ekonomi, efisiensi dan efektivitas
2) Pendekatan Audit
Auditor harus memilih pendekatan hasil, pendekatan masalah atau pendekatan yang
berorientasi sistem, atau kombinasinya, untuk memfasilitasi desain audit yang baik. Adapun
definisi dari pendekatan-pendekatan tersebut adalah sebagai berikut.
pendekatan yang berorientasi sistem meneliti berfungsinya sistem manajemen,
misalnya sistem manajemen keuangan
pendekatan yang berorientasi hasil menilai apakah tujuan hasil atau output telah
tercapai sebagaimana yang diharapkan atau program dan layanan telah beroperasi
sebagaimana yang diharapkan
pendekatan yang berorientasi masalah menguji, memverifikasi dan menganalisis
penyebab masalah tertentu atau penyimpangan dari kriteria.
3) Kriteria
Auditor harus menetapkan kriteria yang cocok yang sesuai dengan pertanyaan audit dan
terkait dengan prinsip-prinsip ekonomi, efisiensi dan efektivitas. Adapun yang dimaksud
dengan kriteria adalah adalah tolok ukur yang digunakan untuk mengevaluasi bukti audit.
Sedangkan kriteria audit kinerja adalah standar yang wajar dan khusus terkait audit kinerja
atas aspek ekonomi, efisiensi dan efektivitas operasi yang dapat dievaluasi dan dinilai.
4) Risiko Audit
Auditor harus secara aktif mengelola risiko audit, yaitu risiko mendapatkan kesimpulan yang
salah atau tidak lengkap, memberikan informasi yang tidak seimbang atau gagal untuk
menambah nilai bagi pengguna.
5) Komunikasi
Auditor harus menjaga komunikasi yang efektif dan tepat dengan entitas yang diaudit dan
pihak terkait selama proses audit dan menentukan isi, proses dan penerima komunikasi
untuk setiap audit
6) Keterampilan
Secara kolektif, tim audit harus memiliki kompetensi profesional yang diperlukan untuk
melaksanakan audit. Hal ini termasuk pengetahuan tentang audit, desain penelitian, metode
ilmu sosial dan teknik investigasi atau evaluasi, serta kompetensi individu seperti
kemampuan analitis, menulis dan komunikasi.

35

Auditor juga harus memiliki pengetahuan tentang organisasi, program dan fungsi
pemerintah. Hal ini untuk memastikan bahwa area yang tepat dipilih untuk audit dan auditor
secara efektif dapat melakukan kajian terhadap program dan kegiatan pemerintah.
7) Pertimbangan dan skeptisisme profesional
Auditor harus memiliki skeptisisme profesional, tetapi juga mau menerima dan bersedia
untuk berinovasi. Sangat penting bahwa auditor melaksanakan skeptisisme profesional dan
mengadopsi pendekatan yang kritis, serta selalu objektif atas informasi yang diterimanya.
Auditor diharapkan untuk membuat penilaian rasional dan mengurangi preferensi pribadi
mereka sendiri dan orang lain.
Pada saat yang sama, auditor harus menerima pandangan dan argumen. Hal ini diperlukan
untuk menghindari kesalahan penilaian atau bias-bias kognitif. Menghormati, fleksibilitas,
rasa ingin tahu dan kemauan untuk berinovasi sama pentingnya. Inovasi tidak hanya berlaku
untuk proses audit itu sendiri, tetapi juga untuk proses atau kegiatan yang diaudit.
8) Kontrol kualitas
Auditor harus menerapkan prosedur untuk menjaga kualitas, memastikan bahwa
persyaratan yang berlaku terpenuhi dan menempatkan penekanan pada laporan yang tepat,
seimbang dan adil yang menambah nilai dan menjawab pertanyaan-pertanyaan audit.
9) Materialitas
Auditor harus mempertimbangkan materialitas pada semua tahap proses audit. Pemikiran
harus diberikan tidak hanya untuk uang, tetapi juga aspek sosial dan politik materi pelajaran,
dengan tujuan memberikan nilai tambah sebanyak mungkin. Isu akan dianggap material
ketika topik dianggap penting dan di mana perbaikannya akan memiliki dampak yang
signifikan. Ini akan menjadi kurang material di mana aktivitas bersifat rutin dan dampak dari
kinerja yang buruk akan terbatas pada wilayah kecil atau minimal.
10) Dokumentasi
Auditor harus mendokumentasikan audit sesuai dengan keadaan tertentu tersebut.
Informasi harus cukup lengkap dan rinci untuk memungkinkan auditor yang berpengalaman
tidak memiliki hubungan sebelumnya dengan audit tersebut pada waktu kemudian
menentukan apakah pekerjaan audit tersebut telah dilakukan dalam rangka untuk
menemukan temuan audit, kesimpulan dan rekomendasi audit.
b. Prinsip Terkait Proses Audit
Proses dalam audit kinerja meliputi perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan tindak lanjut.
Berikut ini merupakan bahasan lebih lanjut mengenai prinsip-prinsip terkait keempat proses
tersebut.
4) Perencanaan
Pemilihan topik
Auditor harus memilih topik pemeriksaan melalui proses perencanaan strategis SAI
dengan menganalisis topik potensial dan melakukan penelitian untuk mengidentifikasi
risiko dan masalah. Proses pemilihan topik harus bertujuan untuk memaksimalkan
dampak yang diharapkan dari audit dengan tetap mempertimbangkan kapasitas audit.

36

Teknik formal untuk mempersiapkan proses perencanaan strategis, seperti analisis


risiko atau penilaian masalah, dapat membantu proses pemilihan tersebut. Namun, hal
ini perlu dilengkapi dengan pertimbangan profesional untuk menghindari penilaian
sepihak.

Merancang audit
Auditor harus merencanakan audit dengan cara yang memberikan kontribusi untuk
audit berkualitas tinggi yang akan dilaksanakan secara ekonomis, efisien, efektif dan
tepat waktu dan sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen proyek yang baik. Untuk
memastikan audit direncanakan dengan baik, auditor perlu mendapatkan pengetahuan
yang cukup tentang objek audit.
Metode audit yang dipilih harus orang yang terbaik memungkinkan data audit yang
akan dikumpulkan dengan cara yang efisien dan efektif. Disamping itu, dalam
perencanaan, auditor harus menilai risiko fraud. Jika hal ini adalah signifikan dalam
konteks tujuan audit, auditor harus memperoleh pemahaman tentang sistem
pengendalian internal yang relevan dan memeriksa apakah ada tanda-tanda
penyimpangan yang menghambat kinerja.

5) Pelaksanaan
Bukti, temuan dan kesimpulan
Auditor harus memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menetapkan
temuan, mencapai kesimpulan dalam sesuai tujuan audit dan memberikan
rekomendasi.
6) Pelaporan
Isi laporan
Auditor harus berusaha untuk memberikan laporan audit yang komprehensif,
meyakinkan, tepat waktu, mudah dipahami dan seimbang. Laporan ini harus mencakup
informasi tentang tujuan audit, pertanyaan audit dan jawaban atas pertanyaanpertanyaan itu, objek audit, kriteria, metodologi, sumber data, setiap keterbatasan data
yang digunakan, dan temuan audit.
Ini harus jelas menjawab pertanyaan-pertanyaan audit atau menjelaskan mengapa hal
ini tidak mungkin. Atau, auditor harus mempertimbangkan ulang pentyusunan
pertanyaan audit agar sesuai dengan bukti yang diperoleh dan dengan demikian sampai
pada posisi di mana pertanyaan dapat dijawab.
Temuan audit harus dimasukkan ke dalam perspektif, dan keselarasan harus dipastikan
antara tujuan audit, pertanyaan audit, temuan dan kesimpulan. Laporan tersebut harus
menjelaskan mengapa dan bagaimana masalah dicatat dalam temuan kinerja yang
terhambat dalam rangka mendorong entitas yang diaudit atau melaporkan pengguna
agar melakukan tindakan korektif. Seharusnya, bila sesuai, termasuk rekomendasi untuk
perbaikan kinerja.

Rekomendasi
Jika relevan dan diperbolehkan oleh mandat SAI, auditor harus berusaha untuk
memberikan rekomendasi konstruktif yang mungkin memberikan kontribusi yang
signifikan untuk mengatasi kelemahan atau masalah yang diidentifikasi oleh audit.

37

Rekomendasi harus beralasan dan menambah nilai. Rekomendasi harus mengatasi


penyebab masalah dan/atau kelemahan. Bagaimanapun juga, rekomendasi harus
diungkapkan sedemikian rupa yang menghindari ambiguitas, dan mereka melanggar
batas tanggung jawab manajemen.
Rekomendasi harus jelas dan disajikan dengan cara yang logis dan beralasan. Mereka
harus dikaitkan dengan tujuan audit, temuan dan kesimpulan. Bersama dengan laporan
seluruhnya, rekomendasi harus meyakinkan pembaca bahwa rekomendasi tersebut
secara signifikan dapat meningkatkan pelaksanaan operasi dan program-program
pemerintah

Distribusi laporan
Auditor harus berusaha untuk membuat laporan mereka dapat diakses secara luas,
sesuai dengan amanat SAI. Auditor harus mengingat bahwa laporan audit yang
distribusikan secara luas dapat meningkatkan kredibilitas fungsi audit. Laporan oleh
karena itu harus didistribusikan kepada entitas yang diaudit, eksekutif dan / atau
legislatif dan, bila relevan, dapat diakses oleh masyarakat umum secara langsung dan
melalui media dan pemangku kepentingan lainnya.

7) Tindak Lanjut
Auditor harus menindaklanjuti temuan audit sebelumnya dan rekomendasi dimanapun
yang sesuai. Tindak lanjut harus dilaporkan secara tepat untuk memberikan umpan balik
kepada legislatif bersama-sama, jika mungkin, dengan kesimpulan dan dampak dari semua
tindakan korektif yang relevan.
Ketika melakukan tindak lanjut dari laporan audit, auditor harus berkonsentrasi pada
temuan dan rekomendasi yang masih relevan pada saat tindak lanjut dan mengadopsi
pendekatan tidak bias dan independen. Menindaklanjuti hasil dapat dilaporkan secara
individu atau sebagai laporan konsolidasi, yang pada gilirannya mencakup analisis audit
yang berbeda, mungkin menyoroti kecenderungan umum dan tema di sejumlah daerah
pelaporan.
E. ISSAI 400 - FUNDAMENTAL PRINCIPLES OF COMPLIANCE AUDITING
4. KERANGKA KEPATUHAN PEMERIKSAAN
c. Tujuan
Audit kepatuhan adalah penilaian independen apakah subjek audit sesuai dengan otoritas yang
berlaku yang diidentifikasikan sebagai kriteria. Audit kepatuhan dilakukan dengan menilai
apakah kegiatan, transaksi keuangan dan informasi mematuhi, dalam semua hal yang material,
otoritas yang mengatur entitas yang diaudit.
d. Karakteristik
Audit kepatuhan dapat mencakup berbagai objek audit dan dapat dilakukan untuk
menyediakan assurance baik yang masuk akal atau terbatas, dengan menggunakan beberapa
jenis kriteria, prosedur pengumpulan bukti dan format pelaporan. Audit kepatuhan bisa berupa
atestasi atau penugasan pelaporan langsung, atau keduanya sekaligus. Laporan auditnya dapat
berbentuk panjang atau pendek, dan kesimpulan dapat dinyatakan dalam berbagai cara:
sebagai pernyataan tunggal yang jelas tertulis pendapat tentang kepatuhan atau sebagai
jawaban yang lebih rumit untuk pertanyaan audit tertentu.

38

e. Perspektif yang berbeda dari audit kepatuhan


Audit dapat menjadi bagian dari audit gabungan yang juga dapat mencakup aspek-aspek lain.
Meskipun kemungkinan ada bentuk lainnya, audit kepatuhan umumnya dilakukan dalam
bentuk sebagai berikut
1) Audit kepatuhan dalam kaitannya dengan audit atas laporan keuangan
2) Audit Kepatuhan yang dilakukan secara terpisah
3) Audit kepatuhan yang dilakukan bersama dengan audit kinerja

5. ELEMEN AUDIT KEPATUHAN


e. Otoritas dan kriteria
Otoritas bisa termasuk aturan, hukum dan peraturan, resolusi anggaran, kebijakan, aturanaturan yang dibangun, persyaratan persetujuan atau prinsip-prinsip umum yang mengatur
pengelolaan keuangan sektor publik yang sehat dan perilaku pejabat publik. Sebagian besar
otoritas berasal dari tempat dasar dan keputusan legislatif nasional, tetapi mereka bisa
dikeluarkan pada tingkat yang lebih rendah dalam struktur organisasi dari sektor publik.
Kriteria adalah tolok ukur yang digunakan untuk mengevaluasi atau mengukur materi pelajaran
secara konsisten dan cukup. Auditor mengidentifikasi kriteria atas dasar otoritas terkait. Untuk
cocok, kriteria audit kepatuhan harus relevan, dapat diandalkan, lengkap, objektif, dimengerti,
sebanding, dapat diterima dan tersedia. Tanpa kerangka acuan yang diberikan oleh kriteria yang
cocok, kesimpulan terbuka untuk interpretasi dan kesalahpahaman individu
f.

Subyek
Subyek audit kepatuhan didefinisikan dalam lingkup audit. Ini dapat berupa kegiatan, transaksi
keuangan atau informasi. Untuk penugasan atestasi kepatuhan lebih relevan dalam
mengidentifikasi informasi subjek ini, yang mungkin menjadi pernyataan kesesuaian disusun
sesuai dengan kerangka pelaporan yang ditetapkan dan standar.

g. Tiga pihak dalam audit kepatuhan


Audit didasarkan pada hubungan tiga pihak antara auditor, pihak yang dituju serta pihak yang
bertanggung jawab. Auditor bertujuan untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat
untuk mengekspresikan kesimpulan dirancang untuk meningkatkan tingkat kepercayaan dari
pengguna yang dituju, selain pihak yang bertanggung jawab, tentang pengukuran atau evaluasi
dari subyek terhadap kriteria.
h. Assurance dalam audit kepatuhan
Seorang auditor melakukan prosedur untuk mengurangi atau mengelola risiko yang dapat
memberikan kesimpulan yang salah, karena keterbatasan yang melekat dalam semua audit,
tidak ada audit yang bisa memberikan jaminan penuh terhadap kondisi materi pelajaran. Hal ini
harus dikomunikasikan secara transparan. Dalam kebanyakan kasus, audit kepatuhan tidak akan
mencakup semua elemen dari subjek pemeriksaan tetapi akan bergantung pada tingkat
kualitatif atau kuantitatif sampel yang dipilih.
6. PRINSIP-PRINSIP DALAM AUDIT KEPATUHAN
3. Prinsip Umum
Prinsip-prinsip di bawah ini merupakan dasar bagi pelaksanaan audit kepatuhan. Sifat audit
adalah berulang dan kumulatif, tetapi untuk tujuan penyajian bagian ini dibagi menjadi prinsip

39

dimana auditor harus mempertimbangkan sebelum dimulainya dan pada lebih dari satu titik
selama proses audit (prinsip umum) dan yang berkaitan dengan langkah-langkah dalam proses
audit itu sendiri.
9) Pertimbangan dan skeptisisme profesional
Auditor harus merencanakan dan melaksanakan audit dengan skeptisisme profesional dan
melakukan penilaian yang profesional di seluruh proses audit. Pertimbangan profesional
dan skeptisisme digunakan selama proses audit kepatuhan untuk menilai unsur-unsur audit,
subyek, kriteria yang sesuai, ruang lingkup audit, risiko, materialitas dan prosedur audit yang
akan digunakan dalam menanggapi risiko didefinisikan. Keduanya kosep ini digunakan
dalam evaluasi bukti dan contoh ketidakpatuhan, dalam pelaporan dan dalam menentukan
bentuk, isi dan frekuensi komunikasi selama audit
10) Kontrol kualitas
Auditor harus bertanggung jawab terhadap kualitas keseluruhan audit. Auditor bertanggung
jawab atas kinerja audit dan harus menerapkan prosedur pengendalian mutu di seluruh
proses audit
11) Audit manajemen tim dan keterampilan
Auditor harus memiliki akses ke keterampilan yang diperlukan. Individu-individu dalam tim
audit harus secara kolektif memiliki pengetahuan, keterampilan dan keahlian yang
diperlukan untuk berhasil menyelesaikan audit. Ini termasuk pemahaman dan pengalaman
praktis dari jenis audit yang dilakukan, terbiasa dengan standar yang berlaku dan peraturan,
pemahaman tentang operasi entitas yang diaudit dan kemampuan dan pengalaman untuk
melakukan penilaian yang professional.
12) Risiko Audit
Auditor harus mempertimbangkan risiko audit selama proses audit. Audit harus dilakukan
sedemikian rupa untuk mengelola, atau mengurangi risiko audit ke tingkat yang dapat
diterima. Risiko Audit adalah risiko bahwa laporan audit - atau lebih khusus kesimpulan
auditor atau opini - akan tidak tepat dalam situasi audit.
Pertimbangan risiko audit relevan dalam atestasi dan penugasan langsung. Auditor harus
mempertimbangkan tiga dimensi yang berbeda dari risiko audit (risiko yang melekat, risiko
pengendalian dan risiko deteksi) dalam kaitannya dengan subjek audit dan format
pelaporan
13) Materialitas
Auditor harus mempertimbangkan materialitas selama proses audit. Menentukan
materialitas merupakan pertimbangan profesional dan tergantung pada interpretasi auditor
atas kebutuhan pengguna. Suatu hal dapat dinilai material jika hal itu akan cenderung
mempengaruhi keputusan pengguna yang dituju.
14) Dokumentasi
Auditor harus menyiapkan dokumentasi audit yang memadai. Dokumentasi harus disiapkan
pada waktu yang tepat dan harus memberikan pemahaman yang jelas tentang kriteria yang
digunakan, ruang lingkup audit, penilaian yang dibuat, bukti yang diperoleh dan kesimpulan
yang dicapai.

40

15) Komunikasi
Auditor harus menjaga komunikasi yang efektif selama proses audit. Komunikasi
berlangsung pada semua tahap audit; sebelum audit dimulai, selama perencanaan awal,
selama audit yang tepat, dan pada tahap pelaporan. Setiap kesulitan yang berarti ditemui
selama audit, serta ketidakpatuhan, harus dikomunikasikan kepada tingkat yang tepat dari
manajemen atau pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola. Auditor juga harus
memberitahu pihak yang bertanggung jawab dari kriteria audit.
4. Prinsip terkait Proses Audit
14) Perencanaan dan desain audit kepatuhan
Ruang lingkup audit., auditor harus menentukan ruang lingkup audit.
Subyek dan kriteria, auditor harus mengidentifikasi subyek dan kriteria yang sesuai.
Pemahaman entitas, auditor harus memahami entitas yang diaudit dalam secara jelas
termasuk otoritas terkait
Pemahaman pengendalian internal dan lingkungan pengendalian, auditor harus
memahami lingkungan pengendalian dan pengendalian internal yang relevan dan
mempertimbangkan apakah keduanya akan memastikan kepatuhan.
Penilaian risiko, untuk mengidentifikasi risiko ketidakpatuhan
Risiko fraud. Fraud di audit kepatuhan berkaitan terutama dengan penyalahgunaan
wewenang publik, serta laporan palsu terkait kepatuhan
Strategi audit dan rencana audit. Perencanaan Audit harus melibatkan diskusi antara
anggota tim audit dengan tujuan untuk mengembangkan strategi audit secara
keseluruhan dan rencana audit. Tujuan dari strategi audit adalah untuk menyusun
respon yang efektif terhadap risiko ketidakpatuhan.
15) Bukti audit
Auditor harus mengumpulkan bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyediakan dasar
bagi kesimpulan atau pendapat. Kecukupan adalah ukuran kuantitas bukti, sedangkan
kesesuaian berkaitan dengan kualitas bukti (relevansinya, validitas dan reliabilitas)
16) Mengevaluasi bukti audit dan membentuk kesimpulan
Auditor harus mengevaluasi apakah bukti yang diperoleh cukup dan tepat sehingga dapat
mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah. Proses evaluasi mensyaratkan
mempertimbangkan bukti yang mendukung dan memperlihatkan pertentangan dengan
laporan audit, kesimpulan atau pendapat atas kepatuhan atau ketidakpatuhan. Ini juga
mencakup pertimbangan materialitas.
17) Pelaporan
Auditor harus mempersiapkan laporan berdasarkan prinsip-prinsip kelengkapan,
objektivitas, ketepatan waktu dan proses yang timbal balik. Prinsip kelengkapan
mengharuskan auditor untuk mempertimbangkan semua bukti audit yang relevan sebelum
mengeluarkan laporan. Prinsip objektivitas mengharuskan auditor untuk menerapkan
pertimbangan dan skeptisisme profesional untuk memastikan bahwa semua laporan benar
secara faktual dan bahwa temuan atau kesimpulan disajikan dalam cara yang relevan dan
seimbang. Prinsip ketepatan waktu berarti mempersiapkan laporan pada waktunya. Prinsip
proses timbal balik menyiratkan memeriksa keakuratan fakta dengan entitas yang diaudit
dan menggabungkan tanggapan dari pejabat yang bertanggung jawab yang sesuai.

41

Laporan audit Kepatuhan harus mencakup unsur-unsur berikut (meskipun tidak harus dalam
urutan ini):
Judul
Auditee
Lingkup audit, termasuk periode waktu yang dicakup
Identifikasi atau deskripsi subyek
kriteria Diidentifikasi
Identifikasi standar audit yang kami terapkan dalam melakukan pekerjaan
Ringkasan pekerjaan yang dilakukan
Temuan
Kesimpulan / pendapat
Tanggapan dari entitas yang diaudit (yang sesuai)
Rekomendasi (yang sesuai)
Tanggal laporan
Tanda tangan
18) Tindak lanjut
Auditor harus menindaklanjuti kasus ketidakpatuhan saat yang tepat. Proses tindak lanjut
memfasilitasi pelaksanaan yang efektif dari tindakan korektif dan memberikan umpan balik
yang berguna bagi entitas yang diaudit, para pengguna laporan audit dan auditor (untuk
perencanaan audit masa depan).

42

BAB IV
PERBANDINGAN SPKN DAN ISSAIs

Pada bagian ini akan dibahas hal-hal mengenai perbedaan antara SPKN dengan ISSAIs.
Perbandingan dilakukan dengan meggunakan ISSAIs level 2 sebagai benchmark. Sehingga,
selanjutnya akan dilihat apakah poin-poin dalam ISSAIs telah diikuti oleh SPKN atau tidak. Pada
bagian berikut ini akan dibahs lebih lanjut mengenai perbandingan kedua standard tersebut.
A. PERBEDAAN TERKAIT SISTEMATIKA PENYAJIAN
ISSAIs (Level 3) disajikan dengan sistematika seperti berikut.
ISSAI 100
Prinsip Dasar Audit Sektor
Publik
Prinsip Umum
Prinsip Terkait Proses Audit
Perencanaan
Pelaksanaan
Pelaporan
Tindak Lanjut

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

ISSAI 200
Prinsip Dasar Audit
Keuangan
Prinsip Umum
Prinsip Terkait Proses Audit

ISSAI 300
Prinsip Dasar Audit
Kinerja
Prinsip Umum
Prinsip Terkait Proses Audit
Perencanaan
Pelaksanaan
Pelaporan
Tindak Lanjut

ISSAI 400
Prinsip Dasar Audit
Kepatuhan
Prinsip Umum
Prinsip Terkait Proses Audit
Perencanaan
Pelaksanaan
Pelaporan
Tindak Lanjut

Sedangkan SPKN disajikan dengan sistematika seperti berikut.


PSP Nomor 01 tentang Standar Umum
PSP Nomor 02 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Keuangan
PSP Nomor 03 tentang Standar Pelaporan Pemeriksaan Keuangan
PSP Nomor 04 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja
PSP Nomor 05 tentang Standar Pelaporan Pemeriksaan Kinerja
PSP Nomor 06 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu
PSP Nomor 07 tentang Standar Pelaporan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu

Berdasarkan kedua penyajian tersebut, terdapat beberapa perbedaan sistematika penyajian


kedua standard sebagai berikut.
PERBEDAAN
Prinsip Dasar
Dasar klasifikasi

ISSAIs
Menjelaskan prinsip dasar Audit Sekotor Publik
Berdasarkan jenis pemeriksaan

Jumlah pengelompokan
Standard Umum

4 standard
Dipaparkan di dalam masing-masing
standard. ISSAI 100 menjelaskan prinsip
umum dalam audit sektor publik.
Sedangkan
pada
standard
lainnya
menambahkan prinsip umum yang berlaku
khusus pada masing-masing jenis audit
Secara eksplisit disebutkan adanya tindak
lanjut atas masing-masing proses audit

Tindak Lanjut

Pelaporan

Disampaikan di masing-masing standard

SPKN
Tidak Ada
Berdasarkan jenis pemeriksaan dan
klasifikasi berdasarkan standard umum,
pelaksanaan, dan pelaporan
7 standard
Dipaparkan hanya di Standard
Umum untuk semua jenis audit.
Seluruh jenis audit memiliki
standard umum yang sama

Tindak lanjut tidak disebutkan secara


eksplisit dalam SPKN, namun kewajiban
terkait pelaksanaan tindak lanjut telah
disebutkan di dalam Pasal 20 dan Pasal
21 UU No. 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan
Pengelolaan
dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara
Secara khusus dibuat standard
tersendiri.

43

B. PERBEDAAN STANDARD UMUM


Berikut ini disampikan perbedaan terkait standard umum. Kami menggunakan ISSAI 100 Prinsip Dasar Audit Sektor Publik sebagai dasar perbandingan
ISSAI 100
The three main types of public-sector audit are defined as
follows:

SPKN
Jenis pemeriksaan yang diatur oleh standar ini adalah
sebagai berikut:

Financial Audit
Performance Audit
Compliance Audit

Pemeriksaan Keuangan
Pemeriksaan Kinerja
Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu

SAIs should establish and maintain appropriate procedures


for ethics and quality control

Organisasi pemeriksa mempunyai tanggung jawab untuk


meyakinkan bahwa:
a. independensi dan obyektivitas dipertahankan dalam
seluruh tahap pemeriksaan,
b. pertimbangan profesional (professional judgment)
digunakan dalam perencanaan dan pelaksanaan
pemeriksaan dan pelaporan hasil pemeriksaan,
c. pemeriksaan dilakukan oleh personil yang mempunyai
kompetensi profesional dan secara kolektif mempunyai
keahlian dan pengetahuan yang memadai, dan
d. peer-review yang independen dilaksanakan secara
periodik dan menghasilkan suatu pernyataan, apakah
sistem pengendalian mutu organisasi pemeriksa
tersebut dirancang dan memberikan keyakinan yang
memadai sesuai dengan Standar Pemeriksaan.
Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan
pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan pemeriksa, harus
bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan
pribadi, ekstern, dan organisasi yang dapat mempengaruhi
independensinya.
Kemahiran profesional menuntut pemeriksa untuk
melaksanakan skeptisme profesional, yaitu sikap yang
mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan
melakukan evaluasi secara kritis terhadap bukti
pemeriksaan.
Pemeriksa bertanggung jawab untuk menggunakan
pertimbangan profesional dalam menetapkan lingkup dan
metodologi, menentukan pengujian dan prosedur yang akan
dilaksanakan, melaksanakan pemeriksaan, dan melaporkan
hasilnya.
(tidak dinyatakan secara eksplisit)

Auditors should comply with


requirements and be independent

the

relevant

ethical

Auditors should maintain appropriate professional


behaviour by applying professional scepticism, professional
judgment and due care throughout the audit

Auditors should perform the audit in accordance with


professional standards on quality control
Auditors should possess or have access to the necessary
skills
Auditors should manage the risks of providing a report that
is inappropriate in the circumstances of the audit
Auditors should consider materiality throughout the audit
process
Auditors should prepare audit documentation that is
sufficiently detailed to provide a clear understanding of the
work performed, evidence obtained and conclusions
reached
Auditors should establish effective communication
throughout the audit process
Auditors should ensure that the terms of the audit have
been clearly established

Pemeriksa secara kolektif harus memiliki kecakapan


profesional yang memadai untuk melaksanakan tugas
pemeriksaan.
(tidak diatur)
(Tidak dinyatakan secara eksplisit namun berkali-kali
ditekankan)
(di PSA No. 01 lebih dijelaskan)
Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara
dokumentasi pemeriksaan dalam bentuk kertas kerja
pemeriksaan.
(ditekankan berkali-kali di beberapa poin)
Dalam rangka membantu pihak manajemen dan para
pengguna laporan hasil pemeriksaan lainnya memahami
tujuan, jangka waktu dan data yang diperlukan dalam
pemeriksaan, pemeriksa harus mengkomunikasikan

44

Auditors should obtain an understanding of the nature of


the entity/programme to be audited
Auditors should conduct a risk assessment or problem
analysis and revise this as necessary in response to the
audit findings
Auditors should identify and assess the risks of fraud
relevant to the audit objectives

Auditors should plan their work to ensure that the audit is


conducted in an effective and efficient manner
Auditors should perform audit procedures that provide
sufficient appropriate audit evidence to support the audit
report
Auditors should evaluate the audit evidence and draw
conclusions
Auditors should prepare a report based on the conclusions
reached

informasi yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan,


dan pelaporan pemeriksaan tersebut kepada pihak-pihak
yang terkait selama tahap perencanaan pemeriksaan.
Pemahaman yang memadai atas pengendalian intern harus
diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat,
saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
(tidak dinyatakan secara eksplisit)

Pemeriksa harus waspada pada kemungkinan adanya situasi


dan/atau peristiwa yang merupakan indikasi kecurangan
dan/atau ketidakpatutan dan apabila timbul indikasi
tersebut serta berpengaruh signifikan terhadap kewajaran
penyajian laporan keuangan, pemeriksa harus menerapkan
prosedur pemeriksaan tambahan untuk memastikan bahwa
kecurangan dan/atau ketidakpatutan telah terjadi dan
menentukan dampaknya terhadap kewajaran penyajian
laporan keuangan.
Pekerjaan harus direncanakan dengan sebaik-baiknya dan
jika digunakan tenaga asisten harus disupervisi dengan
semestinya.
Bukti audit yang kompeten harus diperoleh melalui inspeksi,
pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai
dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan
keuangan yang diaudit.
Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan
disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia atau prinsip akuntansi yang lain yang
berlaku secara komprehensif.

C. PERBEDAAN STANDARD AUDIT KEUANGAN


Berikut ini disampikan perbedaan terkait standard audit keuangan. Kami menggunakan ISSAI
200 - Prinsip Dasar Audit Keuangan sebagai dasar perbandingan
ISSAI 200
The auditor should comply with the relevant ethical
requirements, including those pertaining to independence,
when carrying out audits of financial statements.

The auditor should implement quality control procedures


at the engagement level that provide reasonable
assurance that the audit complies with professional
standards and the applicable legal and regulatory
requirements, and that the auditors report is appropriate
in the circumstances.
The auditor should be satisfied that the entire audit team,
and any external experts, collectively have the competence
and capabilities to:
a. carry out the audit in accordance with the relevant
standards and the applicable legal and regulatory
requirements; and
b. enable the auditor to issue a report that is
appropriate in the circumstances.
The auditor should reduce audit risk to an acceptably low
level in the circumstances of the audit so as to obtain
reasonable assurance as the basis for an opinion expressed
in a positive form.
The auditor should plan and perform the audit with

SPKN
Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan
pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan pemeriksa, harus
bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan
pribadi, ekstern, dan organisasi yang dapat mempengaruhi
independensinya.
Setiap organisasi pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan
berdasarkan Standar Pemeriksaan harus memiliki sistem
pengendalian mutu yang memadai, dan sistem pengendalian
mutu tersebut harus direviu oleh pihak lain yang kompeten
(pengendalian mutu ekstern).
Pemeriksa secara kolektif harus memiliki kecakapan
profesional yang memadai untuk melaksanakan tugas
pemeriksaan.

(Tidak dinyatakan secara eksplisit)

Penjelasan standar kemahiran:

45

professional scepticism, recognising that circumstances


may exist that cause the financial statements to be
materially misstated. When planning, performing,
concluding and reporting an audit of financial statements,
the auditor should exercise professional judgement.
The auditor should apply the concept of materiality in an
appropriate manner when planning and performing the
audit.
The auditor should identify the appropriate contact
person(s) within the audited entitys governance structure
and communicate with them regarding the planned scope
and timing of the audit and any significant findings.
The auditor should prepare audit documentation that is
sufficient to enable an experienced auditor, with no prior
knowledge of the audit, to understand the nature, timing
and extent of the audit procedures performed to comply
with the relevant standards and the applicable legal and
regulatory requirements, the results of those procedures
and the audit evidence obtained, as well as significant
matters arising during the audit, the conclusions reached
in their regard, and significant professional judgments
made in reaching those conclusions. The documentation
should be prepared at the appropriate time.
The auditor should agree or, if the terms of the
engagement are clearly mandated, establish a common
understanding of the terms of the audit engagement with
management or those charged with governance.
The auditor should develop an overall audit strategy that
includes the scope, timing and direction of the audit, as
well as an audit plan.
The auditor should plan the audit properly to ensure that it
is conducted in an effective and efficient manner.
The auditor should have an understanding of the audited
entity and its environment, including internal control
procedures that are relevant to the audit.
The auditor should assess the risks of material
misstatement at the financial statement level and the
assertion level for classes of transactions, account balances
and disclosures so as to provide a basis for further audit
procedures.
The auditor should act appropriately to address the
assessed risks of material misstatement in the financial
statements.
The auditor should design and perform substantive
procedures for each material class of transactions, account
balance and disclosure, irrespective of the assessed risks of
material misstatement.
The auditor should identify and assess the risks of material
misstatement in the financial statements due to fraud,
should obtain sufficient appropriate audit evidence
regarding the assessed risks of material misstatement due
to fraud and should respond appropriately to fraud or
suspected fraud identified during the audit.

The auditor should consider whether there are events or


conditions that may cast significant doubt on the audited
entitys ability to continue as a going concern.

Kemahiran profesional menuntut pemeriksa untuk


melaksanakan skeptisme profesional, yaitu sikap yang
mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan
melakukan evaluasi secara kritis terhadap bukti
pemeriksaan.
(Tidak dinyatakan secara eksplisit namun berkali-kali
ditekankan)
(di PSA No. 01 lebih dijelaskan)
Pemeriksa harus mengkomunikasikan informasi yang
berkaitan dengan sifat, saat, lingkup pengujian, pelaporan
yang direncanakan, dan tingkat keyakinan kepada
manajemen entitas yang diperiksa dan atau pihak yang
meminta pemeriksaan.
Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara
dokumentasi pemeriksaan dalam bentuk kertas kerja
pemeriksaan. Dokumentasi pemeriksaan yang berkaitan
dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan
pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk
memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman, tetapi tidak
mempunyai hubungan dengan pemeriksaan tersebut dapat
memastikan bahwa dokumentasi pemeriksaan tersebut
dapat menjadi bukti yang mendukung pertimbangan dan
simpulan pemeriksa. Dokumentasi pemeriksaan harus
mendukung opini, temuan, simpulan dan rekomendasi
pemeriksaan.
Pemeriksa harus mengkomunikasikan informasi yang
berkaitan dengan sifat, saat, lingkup pengujian, pelaporan
yang direncanakan, dan tingkat keyakinan kepada
manajemen entitas yang diperiksa dan atau pihak yang
meminta pemeriksaan.
Pekerjaan harus direncanakan dengan sebaik-baiknya dan
jika digunakan tenaga asisten harus disupervisi dengan
semestinya.

Pemahaman yang memadai atas pengendalian intern harus


diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat,
saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
(tidak dinyatakan secara eksplisit)

(tidak dinyatakan secara eksplisit)

Pemeriksa harus merencanakan dan melaksanakan prosedur


pemeriksaan untuk mengembangkan unsur-unsur temuan
pemeriksaan.
Pemeriksa harus waspada pada kemungkinan adanya situasi
dan/atau peristiwa yang merupakan indikasi kecurangan
dan/atau ketidakpatutan dan apabila timbul indikasi tersebut
serta berpengaruh signifikan terhadap kewajaran penyajian
laporan keuangan, pemeriksa harus menerapkan prosedur
pemeriksaan tambahan untuk memastikan bahwa
kecurangan dan/atau ketidakpatutan telah terjadi dan
menentukan dampaknya terhadap kewajaran penyajian
laporan keuangan.
(Tidak dinyatakan secara eksplisit)
(Karena yang diaudit adalah instansi pemerintah, going
concern tidak menjadi masalah yang harus diperhatikan)

46

The auditor should identify the risks of material


misstatement due to direct and material non-compliance
with laws and regulations. Identification of such risks
should be based on a general understanding of the legal
and regulatory framework applicable to the specific
environment in which the audited entity operates,
including how the audited entity complies with that
framework.
The auditor should obtain sufficient appropriate audit
evidence regarding compliance with the laws and
regulations that are generally recognised to have a direct
and material effect on the determination of material
amounts and disclosures in financial statements.
The auditor should perform audit procedures in such a way
as to obtain sufficient appropriate audit evidence and thus
draw conclusions on which to base the auditors opinion.
The auditor should obtain sufficient appropriate audit
evidence that all events occurring between the date of the
financial statements and the date of the auditors report
that require an adjustment to, or disclosure in, the
financial statements have been identified. The auditor
should also respond appropriately to facts that became
known after the date of the auditors report and which,
had they been known at that date, might have caused the
auditor to amend the auditors report.
The auditor should keep a full record of misstatements
identified during the audit, and communicate to
management and those charged with governance, as
appropriate and on a timely basis, all misstatements
recorded during the course of the audit.
The auditor should form an opinion based on an evaluation
of the conclusions drawn from the audit evidence obtained,
as to whether the financial statements as a whole are
prepared in accordance with the applicable financial
reporting framework. The opinion should be expressed
clearly in a written report that also describes the basis for
the opinion.
Auditors engaged to audit group financial statements
should obtain sufficient appropriate audit evidence
regarding the financial information of all components and
the consolidation process to express an opinion as to
whether the whole-of-government financial statements
are prepared, in all material respects, in accordance with
the applicable financial reporting framework.

Pemeriksa harus merancang pemeriksaan untuk memberikan


keyakinan yang memadai guna mendeteksi salah saji
material yang disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap
ketentuan
peraturan
perundang-undangan
yang
berpengaruh langsung dan material terhadap penyajian
laporan keuangan. Jika informasi tertentu menjadi perhatian
pemeriksa, di antaranya informasi tersebut memberikan
bukti yang berkaitan dengan penyimpangan dari ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berpengaruh material
tetapi tidak langsung berpengaruh terhadap kewajaran
penyajian laporan keuangan, pemeriksa harus menerapkan
prosedur pemeriksaan tambahan untuk memastikan bahwa
penyimpangan dari ketentuan peraturan perundangundangan telah atau akan terjadi.
Bukti audit yang kompeten harus diperoleh melalui inspeksi,
pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai
dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan
keuangan yang diaudit.
(tidak diatur)

Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara


dokumentasi pemeriksaan dalam bentuk kertas kerja
pemeriksaan.

Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan


disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia atau prinsip akuntansi yang lain yang
berlaku secara komprehensif.
Dokumentasi pemeriksaan harus mendukung opini, temuan,
simpulan dan rekomendasi pemeriksaan.
(tidak diatur)

D. PERBEDAAN STANDARD AUDIT KINERJA


Berikut ini disampikan perbedaan terkait standard audit kinerja. Kami menggunakan ISSAI 300 Prinsip Dasar Audit Kinerja sebagai dasar perbandingan
ISSAI 300
PRINSIP UMUM
Auditors should set a clearly-defined audit objective that
relates to the principles of economy, efficiency and
effectiveness

Auditors should choose a result-, problem- or system-oriented

SPKN
Terdaat pada penjelasan bagian Perencanaan. Pada
penjelasannya
disebutkan
bahwa
dalam
merencanakan
pemeriksaan,
pemeriksa
harus
mendefinisikan tujuan pemeriksaan, dan lingkup serta
metodologi pemeriksaan untuk mencapai tujuan
pemeriksaan tersebut.
(tidak diatur)

47

approach, or a combination thereof, to facilitate the


soundness of audit design
Auditors should establish suitable criteria which correspond
to the audit questions and are related to the principles of
economy, efficiency and effectiveness.
Auditors should actively manage audit risk, which is the risk
of obtaining incorrect or incomplete conclusions, providing
unbalanced information or failing to add value for users.
Auditors
should
maintain
effective
and
proper
communication with the audited entities and relevant
stakeholders throughout the audit process and define the
content, process and recipients of communication for each
audit.

Collectively, the audit team should have the necessary


professional competence to perform the audit. This would
include sound knowledge of auditing, research design, social
science methods and investigation or evaluation techniques,
as well as personal strengths such as analytical, writing and
communication skills.
Auditors should exercise professional scepticism, but also be
receptive and willing to innovate.

Auditors should apply procedures to safeguard quality,


ensuring that the applicable requirements are met and
placing emphasis on appropriate, balanced and fair reports
that add value and answer the audit questions.

Auditors should consider materiality at all stages of the audit


process. Thought should be given not only to financial but
also to social and political aspects of the subject matter, with
the aim of delivering as much added value as possible.

Auditors should document the audit in accordance with the


particular circumstances thereof. Information should be
sufficiently complete and detailed to enable an experienced
auditor having no previous connection with the audit to
subsequently determine what work was done in order to
arrive at the audit findings, conclusions and
recommendations.

PROSES AUDIT
Auditors should select audit topics through the SAIs strategic
planning process by analysing potential topics and
conducting research to identify risks and problems.

Auditors should plan the audit in a manner that contributes


to a high-quality audit that will be carried out in an

Kriteria merupakan salah satu bagian dari perencanaan.

(tidak diatur)

Komunikasi
Pemeriksa
.
Pemeriksa
harus
mengkomunikasikan tujuan pemeriksaan kinerja,
kriteria yang akan digunakan serta informasi umum
yang berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan
pemeriksaan dan pelaporannya, seperti bentuk laporan
dan informasi mengenai batasan-batasan laporan
kepada beberapa pihak yang terlibat dalam
pemeriksaan. Namun, tidak dijelaskan harus
dilaksanakan pada seluruh proses audit.
Disampaikan di dalam standard umum. Pemeriksa
secara kolektif harus memiliki kecakapan profesional
yang memadai untuk
melaksanakan tugas
pemeriksaan

Diungkapkan dalam penjelasan bagian standard umum


terkait profesionalisme, Skeptisme profesional harus
digunakan selama pemeriksaan.
Namun, poin terkait inovasi tidak terdapat dalam
standard ini.
Pengendalian mutu menjadi bagian dari standard
umum.
Setiap
organisasi
pemeriksa
yang
melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar
Pemeriksaan harus memiliki sistem pengendalian mutu
yang memadai, dan sistem pengendalian mutu tersebut
harus direviu oleh pihak lain yang kompeten
(pengendalian mutu ekstern)
Materialitas dalam standard pelaksanaan kinerja
terbatas pada identifikasi temuan pemeriksaan dan
rekomendasi yang signifikan dari pemeriksaan
terdahulu yang dapat mempengaruhi tujuan
pemeriksaan terkait perencaan.
Dalam standard lainnya, aspek materialitas tidak
disinggung secara eksplisit.
Disampaikan secara jelas dalam Standard Pelaksanaan
Audit Kinerja bahwa Pemeriksa harus mempersiapkan
dan memelihara dokumen pemeriksaan dalam bentuk
kertas kerja pemeriksaan. Dokumen pemeriksaan yang
berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan
pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang
cukup untuk memungkinkan pemeriksa yang
berpengalaman tetapi tidak mempunyai hubungan
dengan pemeriksaan tersebut dapat memastikan
bahwa dokumen pemeriksaan tersebut dapat menjadi
bukti yang mendukung temuan, simpulan, dan
rekomendasi pemeriksa.
Pada bagian Rencana Pemeriksaan Secara Tertulis
disampikan perlunya penetapan lingkup pemeriksaan.
Tetapi, penetapan lingkup pemeriksaan sebagai bagian
dari proses strategis tidak dibahas di dalam standard ini
secara eksplisit.
Dalam standard disebutkan bahwa salah satu aspek
pelaksanaan supervisi adalah pelatihan terhadap

48

economical, efficient, effective and timely manner and in


accordance with the principles of good project management.

Auditors should obtain sufficient appropriate audit evidence


to establish findings, reach conclusions in response to the
audit objectives and questions and issue recommendations.
Auditors should strive to provide audit reports which are
comprehensive, convincing, timely, reader-friendly and
balanced.
If relevant and allowed by the SAIs mandate, auditors should
seek to provide constructive recommendations that are likely
to contribute significantly to addressing the weaknesses or
problems identified by the audit.
Auditors should seek to make their reports widely accessible,
in accordance with the mandate of the SAI

Auditors should follow up previous audit findings and


recommendations wherever appropriate. Follow-up should be
reported appropriately in order to provide feedback to the
legislature together, if possible, with the conclusions and
impacts of all relevant corrective action.

auditor agar pemeriksaan dapat berjalan dengan


efektif. Namun, terkait himbauan agar pelaksanaan
berjalan sesuai prinsip 3E tidak secara eksplsit
disampaikan.
Merupakan standard pelaksanaan audit kinerja ke tiga
Bukti yang cukup, kompeten, dan relevan harus
diperoleh untuk menjadi dasar yang memadai bagi
temuan dan rekomendasi pemeriksa
Merupakan standard pelaporan audit kinerja ke tiga:

Laporan hasil pemeriksaan harus tepat waktu,


lengkap, akurat, obyektif, meyakinkan, serta jelas, dan
seringkas mungkin
Merupakan standard pelaporan audit kinerja ke empat:
Laporan hasil pemeriksaan diserahkan kepada
lembaga perwakilan, entitas yang diperiksa, pihak yang
mempunyai kewenangan untuk mengatur entitas yang
diperiksa, pihak yang bertanggung jawab untuk
melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan, dan kepada
pihak lain yang diberi wewenang untuk menerima
laporan hasil pemeriksaan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku
Pada bagian penjelasan Pertimbangan terhadap Hasil
Pemeriksaan Sebelumnya yang merupakan bagian dari
standard
audit
kinerja
terkait
perencanaan
disampaikan
bahwa
pemeriksa
harus
mempertimbangkan hasil pemeriksaan sebelumnya
serta tindak lanjut atas rekomendasi temuan yang
secara signifikan berpengaruh terhadap tujuan
pemeriksaan yang sedang dilaksanakan.

E. PERBEDAAN STANDARD AUDIT KEPATUHAN


Berbeda dengan perbandingan-perbandingan sebelumnya dimana, standadr-standard
sebelumnya memiliki nama yang sama persis dengan ISSAIs level 3. Audit kepatuhan secara eksplisit
tidak ditemui didalam SPKN.
Di dalam ISSAIs, Audit Kepatuhan didefinisikan sebagai penilaian independen apakah subjek
audit sesuai dengan otoritas yang berlaku yang diidentifikasikan sebagai kriteria. Audit kepatuhan
dilakukan dengan menilai apakah kegiatan, transaksi keuangan dan informasi mematuhi, dalam
semua hal yang material, otoritas yang mengatur entitas yang diaudit. Adapun yang dimaksud
dengan otoritas di sini adalah bisa termasuk aturan, hukum dan peraturan, resolusi anggaran,
kebijakan, aturan-aturan yang dibangun, persyaratan persetujuan atau prinsip-prinsip umum yang
mengatur pengelolaan keuangan sektor publik yang sehat dan perilaku pejabat publik.
Pada bagian pendahuluan SPKN, disampaikan bahwa dalam melakukan pemeriksaan kinerja,
pemeriksa juga menguji kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan serta
pengendalian intern. Pada bagian Komunikasi Pemeriksa pada Standard Pelaksanaan Pemeriksaan
Keuangan juga disampaikan bahwa selama tahap perencanaan pemeriksaan, pemeriksa harus
mengkomunikasikan tanggung jawab mereka untuk menguji pengendalian intern atas laporan
keuangan dan kepatuhan atas ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam Juknis
pemeriksaan LKPP dan LKLL pada bagian lingkup pemeriksaan disampaikan bahwa pemeriksaan LKPP
dan LKKL juga menguji efektivitas pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan yang terkait dengan pelaporan keuangan dalam LKPP dan LKKL.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa audit kepatuhan
tidak dilaksanakan secara tersendiri, tetapi dilaksanakan dengan pelaksanaan audit lainnya. Hal ini

49

juga sejalan dengan pernyataan di dalam ISSAI 400 dimana Audit dapat menjadi bagian dari audit
gabungan yang juga dapat mencakup aspek-aspek lain. ISSAI 400 juga menekankan bahwa meskipun
kemungkinan ada bentuk lainnya, audit kepatuhan umumnya dilakukan dalam bentuk sebagai
berikut
Audit kepatuhan dalam kaitannya dengan audit atas laporan keuangan
Audit Kepatuhan yang dilakukan secara terpisah
Audit kepatuhan yang dilakukan bersama dengan audit kinerja
Meskipun demikian, SPKN tidak menyusun standard terkait audit kepatuhan secara tersendiri.
Pelaksanaan audit kepatuhan beserta standardnya disatukan dengan standard lainnya, yaitu
standard audit keuangan dan standard audit kinerja.
Untuk pelaksanaan perbandingan, kami tetap menggunakan standard pemeriksaan dengan
tujuan tertentu dalam perbandingan. Pilihan ini mempertimbangkan pernyataan berikut ini yang
disampaikan dalam SPKN: Apabila tujuan pemeriksaan adalah untuk menentukan apakah suatu hal
telah sesuai atau tidak sesuai dengan suatu kriteria, pemeriksa harus melakukan pemeriksaan
dengan tujuan tertentu. Kriteria dalam hal ini identik dengan kriteria yang disampaikan di dalam
ISSAI 400, meskipun sifat kriteria di dalam pemeriksaan dengan tujuan tertentu sifatnya lebih luas.
Berikut ini disampikan perbedaan terkait standard audit kepatuhan. Kami menggunakan ISSAI
300 - Prinsip Dasar Audit Kinerja sebagai dasar perbandingan.
ISSAI 400
PRINSIP UMUM
Auditors should plan and conduct the audit with professional
scepticism and exercise professional judgement throughout
the audit process
Auditors should take responsibility for the overall quality of
the audit

Auditors should have access to the necessary skills (collective


skill)

Auditors should consider audit risk throughout the audit


process
Auditors should consider materiality throughout the audit
process
Auditors should prepare sufficient audit documentation

Auditors should maintain


throughout the audit process.

effective

communication

SPKN
Diungkapkan dalam penjelasan bagian standard umum
terkait profesionalisme, Skeptisme profesional harus
digunakan selama pemeriksaan.
Secara eksplisit tidak disampaikan di dalam standard.
Namun, disampaikan bahwa pemeriksa harus
mengkomunikasikan tanggung jawabnya dalam
penugasan pemeriksaan, antara lain kepada. Ini
mengindikasikan bahwa pemeriksa bertanggung jawab
atas pekerjaannya.
Disampaikan di dalam standard umum. Pemeriksa
secara kolektif harus memiliki kecakapan profesional
yang memadai untuk
melaksanakan tugas
pemeriksaan
Risiko audit tidak secara eksplisit disampaikan di dalam
standard audit dengan tujuan tertentu.
Aspek materialitas tidak disinggung secara eksplisit.
Merupakan standard pelaksanaan tambahan ke lima
audit dengan tujuan tertentu Pemeriksa harus
mempersiapkan dan memelihara dokumentasi
pemeriksaan dalam bentuk kertas kerja pemeriksaan.
Dokumentasi pemeriksaan yang terkait dengan
perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan pemeriksaan
harus
berisi
informasi
yang
cukup
untuk
memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman
tetapi
tidak mempunyai
hubungan
dengan
pemeriksaan tersebut dapat memastikan bahwa
dokumentasi pemeriksaan tersebut dapat menjadi
bukti yang mendukung pertimbangan dan simpulan
pemeriksa.
Merupakan standard pelaksanaan tambahan pertama
audit dengan tujuan tertentu
Pemeriksa harus
mengkomunikasikan informasi yang berkaitan dengan
sifat, saat, dan lingkup pengujian serta pelaporan yang
direncanakan atas hal yang akan dilakukan

50

pemeriksaan, kepada manajemen entitas yang


diperiksa dan atau pihak yang meminta pemeriksaan.
PROSES AUDIT
Auditors should identify the subject matter and suitable
criteria
Auditors should understand the audited entity in the light of
the relevant authorities
Auditors should understand the control environment and the
relevant internal controls and consider whether they are
likely to ensure compliance

Auditors should perform a risk assessment to identify risks of


non-compliance
Auditors should consider the risk of fraud.

Auditors should develop an audit strategy and an audit plan

Auditors should gather sufficient appropriate audit evidence


to cover the audit scope
Auditors should evaluate whether sufficient and appropriate
audit evidence has been obtained and form relevant
conclusions
Auditors should prepare a report based on the principles of
completeness, objectivity, timeliness and a contradictory
process
Auditors should follow up instances of non-compliance when
appropriate

Tidak dijelaskan secara eksplisit di dalam standard


Tidak dijelaskan secara eksplisit di dalam standard
Merupakan standard pelaksanaan tambahan ketiga
audit dengan tujuan tertentu Dalam merencanakan
Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dalam bentuk
eksaminasi dan merancang prosedur untuk mencapai
tujuan pemeriksaan, pemeriksa harus memperoleh
pemahaman yang memadai tentang pengendalian
intern yang sifatnya material terhadap hal yang
diperiksa.
s.d.a
Merupakan standard pelaksanaan tambahan keempat
audit dengan tujuan tertentu Dalam merencanakan
Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dalam bentuk
eksaminasi,
pemeriksa
harus
merancang
pemeriksaan dengan tujuan untuk memberikan
keyakinan yang memadai guna mendeteksi kecurangan
dan penyimpangan dari ketentuan peraturan
perundang-undangan yang dapat berdampak material
terhadap hal yang diperiksa
Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika
digunakan
asisten harus disupervisi dengan
semestinya
Terkait strategi pemeriksaan, tidak dijelaskan secara
eksplisit di dalam standard
Bukti yang cukup harus diperoleh untuk memberikan
dasar rasional bagi simpulan yang dinyatakan dalam
laporan.
Tidak dijelaskan secara eksplisit di dalam standard

Secara terpisah diampaikan pada beberapa standard


pelaporan pemeriksaan dengan tujuan tertentu
Pada bagian penjelasan Pertimbangan terhadap Hasil
Pemeriksaan Sebelumnya yang merupakan bagian dari
standard
audit
kinerja
terkait
perencanaan
disampaikan
bahwa
pemeriksa
harus
mempertimbangkan hasil pemeriksaan sebelumnya
serta tindak lanjut atas rekomendasi temuan yang
secara signifikan berpengaruh terhadap tujuan
pemeriksaan yang sedang dilaksanakan.

51

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, didapatkan beberapa kesimpulan terkait
perbandingan antara SPKN dengan ISSAIs. Berikut ini merupakan beberapa kesimpulan terkait
perbandingan antara kedua standard tersebut.
1. Terdapat perbedaan sistematika penyajian antara ISSAIs dengan SPKN.
2. SPKN tidak secara khusus menyediakan standard terkait Audit Kepatuhan sebagaimana
disampaikan di dalam ISSAIs.
3. Terdapat banyak perbedaan terkait subtansi ISSAIs dan SPKN.
4. Mayoritas perbedaan pada dasarnya telah dilaksanakan di dalam praktek audit, namun secara
eksplisit tidak terdapat di dalam SPKN.

B. SARAN
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, serta kesimpulan yang ada, kami
mengidentifikasi beberapa hal yang dapat meningkatkan kualitas SPKN. Berikut ini merupakan
beberapa saran yang berguna bagi peningkatan kualitas tersebut.
1. BPK perlu melakukan revisi atas SPKN.
2. BPK disarankan untuk menggunakan ISSAIs sebagai standard acuan untuk perbaikan SPKN
berikutnya.
3. Perlu adanya ketentuan atau mengenai batas waktu penyempurnaan dan penyesuaian SPKN
dengan perkembangan kebutuhan maupun perkembangan ilmu pemeriksaan untuk menjamin
terciptanya SPKN yang senantiasa sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
pemeriksaan dan kebutuhan organisasi.
4. Perlu dibentuk Standard Pemeriksaan Kepatuhan di dalam SPKN.
5. Meskipun mayoritas perbedaan pada dasarnya telah dilaksanakan di dalam praktek audit,
namun secara eksplisit tidak terdapat di dalam SPKN, kami berpendapat perbedaan tersebut
tetap perlu diakomodir di dalam perbaikan SPKN selanjutnya.

52

REFERENSI
INTOSAI. 2013. ISSAI 100 - Fundamental Principles of Public Sector Auditing. Vienna: INTOSAI
http://www.issai.org/3-fundamental-auditing-principles/
INTOSAI. 2013. ISSAI 200 - Fundamental Principles of Financial Auditing. Vienna: INTOSAI
http://www.issai.org/3-fundamental-auditing-principles/
INTOSAI. 2013. ISSAI 300 - Fundamental Principles of Performance Auditing. Vienna: INTOSAI
http://www.issai.org/3-fundamental-auditing-principles/
INTOSAI. 2013. ISSAI 400 - Fundamental Principles of Compliance Auditing. Vienna: INTOSAI
http://www.issai.org/3-fundamental-auditing-principles/
Peraturan BPK No. 1 tahun 2007 ttg Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
Prabowo, Muhadi. 2013. International Standards INTOSAI Alternatif Rujukan untuk Merevisi
SPKN. Jakarta: STAN http://www.stan.ac.id/kategori/index/9/page/international-standards-intosaialternatif-rujukan-untuk-merevisi-spkn
Prabowo, Muhadi. 2013. Perlunya Revisi Atas Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)
2007. Jakarta: STAN http://www.stan.ac.id/kategori/index/9/page/perlunya-revisi-atas-standarpemeriksaan-keuangan-negara-spkn-2007
UU No. 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaaan Pengelolaan dan Tangung Jawab Keuangan
Negara
UU No. 15 Tahun 2006 ttg Badan Pemeriksa Keuangan