Anda di halaman 1dari 8

3 generator 9 bus

Method A

Method B

Metode direct dan undirect


Undirect : pada undirect method, nilai CCT tidak ditemukan secara langsung akan tetapi merupakan
nilai antara titik stabil dan titik tidak stabilnya.
Direct: pada metode ini nilai CCT ditemukan secara langsung. Ada beberapa metode yang termasuk
direct method. Antara lain, energy function dll

Metode Energy Function


Metode ini merupakan hasil transformasi dari fungsi Lyapunov kedalam fungsi energi. Metode ini sangat erat
hubungannya dengan energi kinetik dan energi potensial dari generator. Dimana, energi kinetik sangat
berhubungan dengan gerakan relative dari generator. Sedangkan energi potensial sangat berhubungan

dengan elemen jaringan. Ide dasar dalam metode ini dengan membandingkan total energi sistem yang
diperoleh selama gangguan terjadi dengan nilai energi potensial tertentu [5]. Energi paling kritis ditentukan
dari energi potensial paling dekat diantara unstable equilibrium point dan stable equilibrium point.

Metode Extended Equal Area Criterion


Metode criteria sama luas bisa digunakan untuk menetukan sudut kritis untuk pemutusan
gangguan. walaupun tidak dapat digunakan untuk sistem multi mesin (berdasarkan buku pak
ardyono).

Grafik di atas merupakan grafik lengkung sudut daya.


Pm : daya mekanis
Pe : daya elektris
0 : sudut rotor mula-mula
c1 : sudut pemutus kritis
area A1 merupakan energi kinetic yang dihasilkan oleh rotor ketika sudut rotor bergeser dari 0 - c1
area A2 merupakan energi yg hilang saat sudut rotor bergeser dari 0-m.
Kondisi stabil jika luasan A1 sama dengan luasan A2, kondisi tidak stabil A1 > A2.

Metode B
Menentukan nilai CUEP dan generator kritis menggunakan shadowing method. Lalu langkah
selanjutnya CUEP dari generator kritis tersebut digunakan untuk menghitung nilai CCT
Metode A
Pada metode A CCT ditemukan berdasarkan hilangnya sinkronisasi generator dimana dalam
keadaan tersebut

Dengan batasan lintasan kritis, dimulai dari

dan batasan akhir

Energy Function
Kestabilan transien merupakan hal penting dalam dalam perencanaan sistem tenaga listrik maupun
pengopersiannya. Saat ini, analisa kestabilan transien dilakuakan dengan simulasi. Metode ini cukup handal, namun
pada beberapa kasus metode ini tidak sesuai. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya iterasi numerikal yang
dibutuhkan sehingga waktu yang dibutuhkan untuk perhitungan cukup lama.
Pola perubahan yang terjadi akibat gangguan sangatlah cepat sehingga diperlukan metode lain dalam
analisis kestabilan transien. Metode Lyapunov telah banyak diterapkan untuk medapatkan titik kestabilan dalam
analisa kestabilan multimesin [4]. Metode ini cukup akurat untuk memodelkan suatu sistem dengan lebih
sederhana dalam analisa kestabilan transien.
Hingga saat ini, metode Lyapunov masih terus dikembangakan sebagai metode langsung dalam analisa
kestabilan transien. Pada refrensi [5] telah dilakukan improvisasi pada pemodelan matematika dari metode
kestabilan Lyapunov untuk sistem tenaga listrik. Pada pengembangan model ini didasarkan pada perbedaan energi
dari sistem tenaga listrik, sehingga didapatkan sebuah pemodelan baru untuk menentukan titik kestabilan pada
analisa kestabilan transien.
Metode ini disebut sebagai metode energy function. Metode ini merupakan hasil transformasi dari fungsi
Lyapunov kedalam fungsi energi. Metode ini sangat erat hubungannya dengan energi kinetik dan energi potensial
dari generator. Dimana, energi kinetik sangat berhubungan dengan gerakan relative dari generator. Sedangkan
energi potensial sangat berhubungan dengan elemen jaringan.
Ide dasar dalam metode ini agar sistem tenaga listrik dapat memberikan kontingesi dalam sistem setelah
terjadi gangguan adalah dengan membandingkan total energi sistem yang diperoleh selama gangguan terjadi
dengan nilai energi potensial tertentu [5]. Energi paling kritis ditentukan dari energi potensial paling dekat diantara
unstable equilibrium point dan stable equilibrium point.
Teori energy function dalam analisa kestabilan transien multimesin dapat dianalogikan seperti bola yang
menggelinding dalam sebuah mangkuk dimana yang menjadi koordinat adalah sudut rotor generator. Pada kondisi
setelah terjadi gangguan, akan terdapat titik minimum dari total energi. Dimana energi tersebut tergantung pada
energi potensial dan energi kinetik dari generator setelah gangguan diputus.
Terdapat tiga kemungkinan yang akan terjadi pada bola setelah gangguan diputus. Kondisi pertama
adalah bola akan keluar dari mangkuk. Kondisi yang demikian mereperesentasikan bahwa sistem tidak stabil.
Untuk kondisi kedua adalah bola tidak keluar dari mangkuk, namun bola akan terus berosilasi pada mangkuk.
Kondisi sperti ini juga merepresentasikan bahwa sistem tidak stabil. Sedangkan untuk kondisi ketiga, bola tetap
berosilasi pada mangkuk namun, osilasi akan teredam dan pada akhirnya bola akan berada pada dasar mangkuk.
Kondisi seperti inilah yang disebut kondisi stabil, dimana energi potensial setelah gangguan adalah paling kecil. Hal
tersebut seperti pada ilustrasi di bawah ini:

Gambar 2.4. Ilustrasi energy function pada kondisi pertama.

Gambar 2.5. Ilustrasi energy function pada kondisi kedua.

Gambar 2.6. Ilustrasi energy function pada kondisi ketiga.

Secara matematis, energy function dapat dirumuskan sebagai berikut:


=

1
2

=1
2 =1 ( ) 1
=1 =+1[ (cos cos ) + cos ( + )]

(2.3.1)
Dimana, energi kinetik dan energi potensial sangat bergantung pada center of angle atau center of inertia
(coa/coi)[5]. Hal ini merepresentasikan bahwa, kestabilan transien dengan menggunakan energy function dapat
diperoleh ketika kecepatan derivative dan kecepatan sudut terhadap center of angle adalah bernilai nol.
Refrensi center of angle sangat penting dalam analisa kestabilan transien multimesin dengan
menggunakan metode energy function. Hal ini dikarenakan center of angle dapat merepresentasikan masalah
kestabilan transien dengan lebih detail dengan lebih mempertimbangkan karakteristik kesetimbangan.
Untuk sistem tanpa transfer konduktansi, dapat diselesaikan tanpa harus menggunakan refrensi center of
angle. Namun, untuk sistem dengan transfer konduktansi harus menggunakan referensi center of angle. Hal ini
disebakan oleh total beban pada kondisi Unstable Equilibrium Point (UEP) akan berbeda dengan total beban pada
kondisi Stable Equilibrium Point (SEP). Jika, pada sistem yang seperti ini persamaan gerak ditransformasikan
kedalam persamaan ayunan mesin, maka akan terjadi perbedaan yang akan dialokasikan pada bus referensi,
sehingga akan mengakibatkan ketidakcocokan yang cukup besar. Sehingga, sistem selalu berada pada kondisi yang
tidak stabil. Oleh karena itu, center of angle sangat penting sebagai refernsi dalam analisis kestabilan transien
multimesin dengan menggunakan metode energy function.

2.1 Kriteria Sama Luas (Equal Area Criterion)


Kriteria sama luas atau equal area criterion (EAC) adalah sebuah metode perhitungan kestabilan transient tanpa
perlu menyelesaikan persamaan ayunan dari sebuah sistem.[3] Metode EAC ini dilakukan dengan menggambar
kurva Daya-Sudut rotor, kemudian kestabilan transient dari sebuah sistem dinilai dengan membandingkan luasan
percepatan (acceleration area) dan luasan perlambatan (decelarion area). Ketika luasan percepatan dan luasan
perlambatan ini memiliki luas yang sama, maka kita dapat mementukan titik dari batas kestabilan suatu sistem
tenaga listrik.
gambar 2.4 menunjukkan grafik karakteristik daya - sudut rotor dari sebuah sistem satu generator infinite
bus. daya mekanis dan sudut rotor sebelum gangguan dinotasikan Pm dan 0. titik kestabilan (SEP) dan ketidak
stabilan (UEP) setelah gangguan dinotasikan sebagai S dan U. Daya akselerasi atau Pa adalah Pm Pe dan sudut
penghilangan gangguan C. Perubahan atau variasi daya elektris ditunjukkan di gambar 2.4.
Selama gangguan terjadi, daya elektris yang dihasilkan menurun secara drastis ketika daya mekanis
melebihi atau kurang dari daya konstannya. Daya akselerasi dari generator menjadi positif. ketika itu generatornya
mengalami percepatan dan sudut rotornya mengalami peningkatan. pada luasan A1, antara Pm dan kurva Pe disebut
area akselerasi. ketika gangguan dihilangkan saat C (>S), daya akselerasi setelah gangguan menjadi negatif karena
Pe > Pm dan generator mulai mengalami perlambatan. Generator terus mengalami perlambatan tetapi sudut rotornya
terus meningkat hingga area deselerasi A2 berubah menjadi area akselerasi A1.

Daya Elektris (Pe)

0
(sebelum gangguan)

(setelah gangguan)

(saat
gangguan)
0 s

m
Sudut rotor ()

Gambar 2.4. Kurva karakteristik daya-sudut rotor (P )[9]

Pada kondisi stabil, sudut rotor generator mencapai nilai puncak m dimana daya akselerasi menjadi
negatif. saat mencapai m, sedangkan Daya percepatannya (Pa) negatif. Pada saat sudut rotor mencapai m, sudut
rotor generator mulai mengalami penurunan dan bergerak menuju S. Jadi daya percepatan setelah fault menjadi
negatif dari generator pada kecepatan nol (atau sudut puncak) menjamin kestabilan ayunan pertama dari sistem. Hal
yang perlu diperhatikan bahwa Daya percepatan (Pa) generator menjadi nol pada U dan luasan A3 disebut daerah
perlambatan yang tidak terpakai. Luasan A3 adalah ukuran kestabilan suatu sistem untuk sudut kritis (C) ketika
terjadinya gangguan. Jumlah dari A2 dan A3 disebut daerah perlambatan maksimum. Untuk situasi kritis (margin
stabilitas = 0), Luasan A2 menjadi A1 ketika m sama dengan U. Dengan kata lain, sudut pada periode setelah
gangguan mencapai nilai puncak (penyimpangan kecepatan = 0) ketika daya percepatan (Pa) dari generator adalah
nol. Sistem ini dianggap tidak stabil bila sudut generator terus meningkat (> 0) ketika daya percepatan (Pa)
menjadi nol pada U.
Metode EAC ini mudah dipahami secara visual dan dapat menghitung critical clearing time (CCT) dan batas
kestabilan dengan cepat. Meskipun demikian, metode ini hanya dapat digunakan pada sistem tenaga listrik klasik
dan sistem satu generator yang terhubung kepada bus infinite.

2.2 Pengembangan Metode Kriteria Sama Luas (Extended Equal Area Criterion)
EEAC (Extended Equal Area Criterion) adalah sebuah metode perhitungan langsung. Metode bertujuan
untuk meningkatkan dan memperluas kegunaan dari metode kriteria Lyapunov yang sudah dikembangkan sejak
tahun 1966, dengan menyediakan persamaan analisis untuk analisis ultra cepat, analisis sensitivitas dan metode
untuk mengontrol secara preventif. untuk mencapai tujuan ini, EEAC menggunakan Dugaan, Asumsi, dan
Perkiraan, bersama-sama dengan EAC (Equal Area Criterion).[5]
Dugaan yang digunakan dalam metode EEAC adalah hilangnya sinkronisme dari sistem multi mesin. Hal ini
terjadi ketika sistem yang dipicu oleh pemisahan generator yang tidak dapat dipisahkan menjadi dua grup.
karenanya, gagasan pengelompokan sistem generator ke dalam kelompok kritis, umumnya terdiri dari beberapa
generator.
Untuk mengidentifikasi kelompok kritis dan non-kritis, EEAC akan mengurutkan mesin berdasarkan sudut
rotornya, yaitu dengan mengidentifikasi deviasi angular rotor terbesar antar generator dan menetapkan kandidat
dari generator kritis.
Kestabilan sistem dihitung dengan mengganti generator tiap-tiap grup dengan nilai equivalennya.
Selanjutnya, sistem multi mesin ini diganti dengan sistem satu generator infinite bus/ OMIB (One Machine Infinite
Bus).

2.3 Metode Lintasan Kritis (Critical Trajectory)


Untuk meminimalisasi masalah yang terjadi pada perhitungan nilai UEP digunakan sebuah formulasi baru
untuk mendapatkan CCT untuk stabilitas transient. Lintasan kritis (Critical Trajectory) didefinisikan sebagai
lintasan yang dimulai dari titik Fault-on Trajectory pada CCT dan mencapai titik kritis dimana sistem kehilangan
sinkronismenya.[7] Hingga akhirnya akan ditemukan perlakuan yang sesuai untuk sistem yang mengalami
gangguan. Lintasan kritis dimulai dari sebuah titik pada suatu kesalahan (pada lintasan dan mencapai CUEP. Hal ini
umumnya sulit untuk menghitung lintasan kritis dengan cara konvensional simulasi numerik.[3]
Metode lintasan kritis (critical trajectory) merupakan formulasi baru dalam analisis stabilitas transien
untuk sistem tenaga listrik. Berbeda dari metode-metode yang sudah ada, meminimalkan masalah dalam
perhitungan komputasi diformulasikan untuk mendapatkan Waktu pemutus kritis (CCT) untuk stabilitas transient.
Sebuah fitur khusus dari metode yang diusulkan terletak pada kemampuannya untuk memberikan CCT yang tepat
tanpa suatu perkiraan. Metode ini didasarkan pada perhitungan lintasan kritis pada batas stabilitas, yang disebut
sebagai lintasan kritis dalam buku ini. Lintasan kritis didefinisikan sebagai lintasan yang dimulai dari titik pada saat
terjadi gangguan hingga mencapai kondisi titik akhir. Itu adalah titik kritis suatu sistem kehilangan sinkronisme.
382
381
380
379

1
4

w rad/s

378

2
377

xu

376
375
374
373
372
-2

-1

1: Fault-on Trajectory,
2: Stable case after fault clearing,

d rad

3: Critical case, 4: Unstable case,


xu: Unstable Equilibrium Point (UEP)

Gambar 2.5. Lintasan dalam setiap tahap pada sistem tenaga listrik satu generator terhubung ke bus infinite dengan peredam
(Damping)[7]

Untuk menggambarkan metode critical trajectory, perilaku dinamis khas dari suatu sistem tenaga listrik
ditunjukkan pada gambar 2.5, dimana contoh yang digunakan adalah sebuah sistem dengan 1 generator yang
terhubung ke bus infinite dengan menggunakan peredam (damping). Tiga jenis lintasan ditunjukkan dalam gambar
2.5, lintasan 1 adalah lintasan saat terjadi gangguan (fault-on trajectory), lintasan 2 adalah saat dimana sistem
sudah mencapai kestabilannnya karena gangguan dihilangkan sebelum waktu pemutus kritisnya (CCT). Lintasan 3
adalah lintasan yang terbentuk ketika sistem dalam keadaan kritis. Di dalam metode ini, lintasan 3 disebut sebagai
lintasan kritis (critical trajectory). Dalam kasus generator, lintasan kritis ini akan mencapai titik kesetimbangan
tidak stabil (UEP) seperti yang terlihat pada gambar 2.5. Lintasan kritis didefinisikan sebagai lintasan yang dimulai
dari titik pada kesalahan-on lintasan dan mencapai kondisi titik akhir. Lintasan "4" adalah saat dimana sistem tidak
menemukan kestabilan, dimana sistem terlambat untuk mengisolasi gangguan.

1.1 Persamaan ayunan (swing)[7]


Persamaan ayunan secara umum ditulis sebagai berikut,
= =

(3.11)

Berdasarkan persamaan 3.11, Generator yang terpasang dalam sistem diasumsikan memiliki M
atau momen inersia yang konstan atau tidak berubah terhadap kecepatan sudut rotor () yang
tentunya bervariasi. Di sisi lain, frekuensi sudut tidak berubah dengan persentase besar sebelum sistem
kehilangan kestabilannya.

Besarnya sudut elektris dari sistem ini berhubungan dengan besarnya sudut mekanis rotor yang
diukur dari keadaan generator dalam keadaan sinkron, sesuai dengan persamaan,
2

= ()

(3.12)

Dimana :
p = jumlah kutub
e = = sudut elektris
dengan mengasumsikan bahwa M adalah koefisien inersia konstan dari generator dalam s, maka
persamaan ayunan dapat ditulis dalam M seperti berikut,

(3.13)

Karena sistem yang digunakan menggunakan komponen peredam (damping), maka dibutuhkan untuk
memasukkan komponen peredam dalam persamaan ayunannya. Dengan demikian, persamaan
ayunannya menjadi,

= =

(3.14)

Menggunakan sudut referensi nol = sumbu bersama saat generator pertama kali sinkron
Digunakan pasa sistem dengan swing generator atau infinite bus

COA
Pada sistem tenaga listrik multi mesin tidak terdapat titik referensi, oleh karena itu digunakanlah
persamaan ayunan (swing) dengan center of angle (COA) atau enter of inertia (COI) sebagai titik
referensinya. Permodelan klasik multi mesin dapat ditulis sebagai berikut;

(3.51)

(3.52)

Besarnya Pi, Pei, PCOA dan MT adalah,

= 2

(3.53)

( sin + cos )
= =1

(3.54)

= =1 2 1
=1 =+1 cos

(3.55)

= =1

(3.56)

Dan,

(3.57)

(3.58)

(3.59)

Dimana;
Ei

= besarnya tegangan dalam generator

= sudut rotor

= kecepatan sudut rotor

Pmi = Daya Mekanis


Mi = inersia konstan
Pada ruas kanan persamaan 3.52, disebut juga daya percepatan (Pai), yang dapat ditulis debagai
berikut,

(3.60)

sehingga persamaan ayunan 3.52 jika disubstitusikan dengan persamaan 3. 60 akan menjadi,

(3.61)

Menggunakan COA sebagai sudut referensi Digunakan pada sistem tanpa infinite bus