Anda di halaman 1dari 36

Tugas Ke : 6

HASIL BACAAN DAN RANGKUMAN


MORFOGENETIK
DISUSUN SEBAGAI TUGAS MK. GEOMORFOLOGI

Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjajaran


Jatinangor
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat
diselesaikan.
Makalah ini penulis susun sebagai tugas dari mata kuliah Geomorfologi
dengan judul Hasil Bacaan dan Rangkuman Morfogenetik , yang menurut
penulis dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari ilmu
geomorfologi dan bentuk-bentuk muka bumi seperti sungai sebagai mahasiswa
teknik geologi.
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf bila mana isi
makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang penulis buat kurang tepat atau
menyinggung perasaan pembaca.
Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan rasa terima kasih dan
semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat bermanfaat bagi setiap
orang.

Bandung, 4 April 2014

ii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................................... ii
Daftar Isi ..................................................................................................................... iii
Bab I : Pendahuluan ....................................................................................................1
1.1

Latar Belakang .........................................................................................1

1.2

Tujuan Penulisan ......................................................................................2

1.3

Rumusan Masalah ....................................................................................2

1.4

Sistematika Penulisan ...............................................................................2

Bab II : Pembahasan ....................................................................................................3


2.1 Bentuk Lahan dan Morfogenetik ..............................................................3
2.2 Jenis Batuan ..............................................................................................6
2.3 Tenaga Endogen ......................................................................................14
2.4 Tenaga Eksogen ......................................................................................25
Bab III : Kesimpulan ..................................................................................................32
Daftar Pustaka ............................................................................................................33

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Geomorfologi adalah ilmu tentang roman muka bumi beserta aspek-aspek yang
mempengaruhinya. Geomorfologi bisa juga merupakan salah satu bagian dari geografi.
Di mana geomorfologi yang merupakan cabang dari ilmu geografi, mempelajari tentang
bentuk muka bumi, yang meliputi pandangan luas sebagai cakupan satu kenampakan
sebagai bentang alam (landscape) sampai pada satuan terkecil sebagai bentuk lahan.
Hubungan geomorfologi dengan kehidupan manusia adalah dengan adanya
pegunungan-pegunungan, lembah, bukit, baik yang ada didarat maupun di dasar laut.Dan
juga dengan adanya bencana alam seperti gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor dan
sebagainya yang berhubungan dengan lahan yang ada di bumi yang juga mendorong
manusia untuk melakukan pengamatan dan mempelajari bentuk-bentuk geomorfologi
yang ada di bumi. Baik yang dapat berpotensi berbahaya maupun aman. Sehingga
dilakukan pengamatan dan identifikasi bentuk lahan.
Istilah bentang lahan berasal dari kata landscape atau landscap, yang secara umum
berarti pemandangan. Arti pemandangan mengandung dua aspek, yaitu aspek visual dan
aspek estetika pada suatu lingkungan tertentu. Untuk mengadakan analisis bentanglahan
diperlukan suatu unit analisis yang lebih rinci. Dengan mengacu pada definisi bentang
lahan tersebut. maka dapat dimengerti, bahwa unit analisis yang sesuai adalah unit bentuk
lahan. Oleh karena itu, untuk menganalisis dan mengklasifikasi bentang lahan selalu
mendasarkan pada kerangkakerja bentuklahan. Berdasarkan pengertian bentanglahan
seperti di atas, maka dapat diketahui, bahwa ada delapan anasir bentanglahan. Kedelapan
anasir bentanglahan itu adalah udara, tanah, air, batuan, bentuklahan, flora, fauna, dan
manusia.

1.2 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan Makalah ini adalah:
1. Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang Morfogenetik.
2. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Geomorfologi.

1.3 Rumusan Masalah


Adapun yang kami jelaskan di sini rumusan masalahnya sebagai berikut:
1. Apa itu Morfogenetik?
2. Apa itu bentuk lahan?
3. Apa proses-proses yang mempengaruhi bentuk lahan?

1.4 Sistematika Penulisan


Makalah ini disusun dengan sistematika pembahasan yang meliputi: BAB I :
PENDAHULUAN Menyajikan latar belakang masalah, tujuan penulisan, rumusan
masalah dan sistematika penulisan; BAB II : PEMBAHASAN Membahas tentang
morfogenetik, yaitu meliputi: bentuk lahan, jenis batuan, tenaga endogen dan tenaga
eksogen. BAB III : PENUTUP menyajikan kesimpulan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bentuk Lahan dan Morfogenetik


Morfogenetik adalah asal-usul bentuk lahan dan proses terjadinya bentuk lahan.
Termasuk tenaga eksogen dan tenaga endongen, yaitu meliputi endapan, erosi, jenis batuan,
lipatan patahan, aktivitas vulkanik, dll.
Bentuk lahan adalah suatu kenampakan medan yang terbentuk oleh proses alami yang
memiliki komposisi tertentu dan karakteristik fisikal dan visual dengan julat tertentu yang terjadi
dimanapun bentuklahan tersebut terdapat. Bentuk lahan struktural yaitu bentuk lahan yang terjadi
akibat pengaruh geologis yang sangat kuat, struktur, lapisan, lipatan dan patahan.
Bentuk lahan ini terbentuk oleh adanya tenaga endogen sebagai akibat proses tektonik
(orogenesis dan epirogenesis), yang menghasilkan struktur, lipatan, dan patahan, dengan
berbagai perkembangannya. Perkembangan struktur lipatan dan patahan tersebut, akan
menghasilkan bentuk lahan struktural.
Proses-Proses Terjadinya Bentuk Lahan
Hal yang paling banyak berpengaruh terhadap pembentukan morfologi adalah struktur
geologi sekunder, yaitu struktur yang terbentuk setelah batuan itu ada. Biasanya terbentuk oleh
adanya proses endogen yaitu proses tektonik yang mengakibatkan adanya pengangkatan,
patahan, dan lipatan, yang tercermin dalam bentuk topografi dan relief yang khas.
Bentuk relief ini adalah bentang alam yang pembentukkannya dikontrol oleh struktur
geologi daerah yang bersangkutan. Struktur geologi akan berubah akibat proses eksternal yang
berlangsung kemudian.
Macam-macam proses eksternal yang terjadi adalah pelapukan (dekomposisi dan
disintegrasi), erosi (air, angin atau glasial) serta gerakan massa (longsoran, rayapan atau
slump).Kenampakan yang dapat digunakan dalam penafsiran bentang alam structural

Pola pengaliran. Variasinya biasanya dikontrol oleh variasi struktur geologi dan litologi
pada daerah tersebut. kelurusan-kelurusan (lineament) dari punggungan (ridge), puncak bukit,
lembah, lereng dan lain-lain.Bentuk bentuk bukit, lembah dll.
Perubahan aliran sungai, misalnya secara tiba-tiba, kemungkinan dikontrol oleh struktur
kekar, sesar atau lipatan. Macam-macam Bentang Alam Struktural adalah : Bentang Alam
dengan Struktur Mendatar (Lapisan Horizontal) Dataran rendah, adalah dataran yang memiliki
elevasi antara 0 500 kaki dari muka air laut. Dataran tinggi (plateau), adalah dataran yang
menempati elevasi lebih dari 500 kaki di atas muka air laut, berlereng sangat landai atau datar
berkedudukan lebih tinggi daripada bentanglahan di sekitarnya Bentang Alam dengan Struktur
Miring Cuesta, kemiringan antara kedua sisi lerengnya tidak simetri dengan sudut lereng yang
searah perlapisan batuan kurang dari 30o (Tjia, 1987). Hogback : sudut antara kedua sisinya
relatif sama, dengan sudut lereng yang searah perlapisan batuan lebih dari 30o (Tjia, 1987).
Hogback memiliki kelerengan scarp slope dan dip slope yang hampir sama sehingga terlihat
simetri.
Bentang Alam Dengan Struktur Lipatan Lipatan terjadi karena adanya lapisan kulit bumi
yang mengalami gaya kompresi (gaya tekan). Pada suatu lipatan yang sederhana, bagian
punggungan disebut dengan antiklin, sedangkan bagian lembah disebut dengan sinklin. Struktur
antiklin dan sinklin menunjak. Struktur ini merupakan kelanjutan atau perkembangan dari
pegunungan lipatan satu arah (cuesta dan hogback) dan dua arah (sinklin dan antiklin). Bila tiga
fore slope saling berhadapan maka disebut sebagai lembah antiklin menunjam. Sedangkan bila
tiga back slope saling berhadapan maka disebut sebagai lembah sinklin menunjam
Secara umum bentang alam yang dikontrol oleh struktur patahan sulit untuk menentukan
jenis patahannya secara langsung. Ciri umum dari kenampakan morfologi bentang alam
struktural patahan, yaitu :beda tinggi yang relatif menyolok pada daerah yang sempit. resisitensi
terhadap erosi yang sangat berbeda pada posisi/elevasi yang hampir Mempunyai sama.
Adanya kenampakan dataran atau depresi yang sempit memanjang. Dijumpai sistem
gawir yang lurus (pola kontur yang panjang lurus dan rapat). Adanya batas yang curam antara
perbukitan / pegunungan dengan dataran yang rendah. Adanya kelurusan sungai melalui zona
patahan, dan membelok dengan tiba-tiba dan menyimpang dari arah umum.
4

Struktur geologi sangat erat hubungannya dengan bentuk lahan, salah satunya adalah
patahan (fault) yang termasuk dalam kajian struktur geologi yang paling mudah di identifikasi
karena terlihat secara jelas yaitu terjadinya retakan yang mengakibatkan pergeseran pada batuan
yang dimana salah satu sisi bergerak relatif terhadap sisi lainnya.
Macam-Macam Bentuk Lahan

Plato
Dataran tinggi (disebut juga plateau atau plato) adalah dataran yang terletak pada
ketinggian di atas 200 m . Dataran tinggi terbentuk sebagai hasil erosi dan sedimentasi.
Wilayah tinggi yang relative datar sebagi hasil proses angkatan mendatar, dan paling
tidak pada salah satu sisinya dibatasi oleh lereng terjal kearah bawah atau gawir.

Mesa
Bukit atau gunung terisolir berbentuk meja, merupakan sisa denudasi dengan lapisan
batuan datar yang keras sebagai penutupnya dan dengan ukuran yang lebih kecil dan
kurang teroreh dibandingkan dengan plateau. Posisinya didepan plateau (bila plateaunya
ada).

Bute
Mesa yang tererosi lebih lanjut sehingga bagian punggung yang mendatar tinggal sedikit
(kecil), bagian lereng tererosi lebih dominan.

Hogback
Bentuk landform karena proses angkatan atau lipatan dan patahan, merupakan perbukitan
dan atau pegunungan, terbentuk karena adanya pemiringan (dipping) yang curam,
umumnya lebih dari 35%, dan disertai dengan terjadinya patahan sehingga terbentuk
gawir pada lereng belakangnya.

Cuesta
Pertemuan dua permukaan yang melereng dibentuk oleh dengan landai memiringkan
sedimen batu strata di homoclinal struktur. cuesta punya landaian terjal, dimana lapisan
batu diekspos di tepi mereka, memanggil tebing curam atau, jika banyak terjal, tebing
curam. biasanya erosion-resistant lapis batu juga punya banyak landaian di sebelah lain
pertemuan dua permukaan yang melereng memanggil 'mencelupkan landaian'. antiklinal
di dalam muka lereng lebih curam dan bagian luar mengikis sinklinal.
5

2.2 Jenis Batuan


Dalam geologi, batu adalah benda padat yang tebuat secara alami dari mineral dan atau
mineraloid. Lapisan luar padat Bumi, litosfer, terbuat dari batu. Dalam batuan umumnya adalah
tiga jenis, yaitu batuan beku, sedimen, dan metamorf. Penelitian ilmiah batuan disebut petrologi,
dan petrologi merupakan komponen penting dari geologi.
Dalam bangunan batu biasanya dipakai pada pondasi bangunan untuk bangunan dengan
ketinggian kurang dari 10 meter, Batu juga dipakai untuk memperindah fasade bangunan dengan
memberikan warna dan tekstur unik dari batu alam.
Setiap batuan memiliki sifat dan ciri khusus. Sifat batuan tersebut meliputi bentuk,
warna, kekerasan, kasar atau halus, dan mengilap atau tidaknya permukaan batuan. Hal ini
disebabkan bahan-bahan yang terkandung dalam batuan berbeda-beda. Ada batuan yang
mengandung zat besi, nikel, tembaga, emas, belerang, platina, atau bahan-bahan lain. Bahanbahan seperti itu disebut mineral. Tiap jenis batuan mempunyai kandungan mineral yang
berbeda. Berdasarkan proses terbentuknya, terdapat tiga jenis batuan yang menyusun lapisan
kerak bumi. Tiga jenis batuan tersebut yaitu batuan beku (batuan magma atau vulkanik), batuan
endapan (batuan sedimen), dan batuan malihan (batuan metamorf).

Batuan Beku
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari magma yang membeku. Magma
merupakan benda cair yang sangat panas dan terdapat di perut bumi. Magma yang mencapai
permukaan bumi disebut lava. Semula batuan beku berupa lelehan magma yang besar.
Menurut para ahli seperti Turner dan Verhoogen (1960), F. F Groun (1947), Takeda
(1970), magma didefinisikan sebagai cairan silikat kental yang pijar terbentuk secara alamiah,
bertemperatur tinggi antara 1.5002.5000C dan bersifat mobile (dapat bergerak) serta terdapat
pada kerak bumi bagian bawah. Dalam magma tersebut terdapat beberapa bahan yang larut,
bersifat volatile (air, CO2, chlorine, fluorine, iron, sulphur, dan lain-lain) yang merupakan
6

penyebab mobilitas magma, dan non-volatile (non-gas) yang merupakan pembentuk mineral
yang lazim dijumpai dalam batuan beku.
Pada saat magma mengalami penurunan suhu akibat perjalanan ke permukaan bumi,
maka mineral-mineral akan terbentuk. Peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa penghabluran.
Berdasarkan penghabluran mineral-mineral silikat (magma), oleh NL. Bowen disusun suatu seri
yang dikenal dengan Bowens Reaction Series.

Tekstur Batuan Beku


Tekstur didefinisikan sebagai keadaan atau hubungan yang erat antar mineral-mineral
sebagai bagian dari batuan dan antara mineral-mineral dengan massa gelas yang membentuk
massa dasar dari batuan.

Kristalinitas
Kristalinitas adalah derajat kristalisasi dari suatu batuan beku pada waktu terbentuknya
batuan tersebut. Kristalinitas dalam fungsinya digunakan untuk menunjukkan berapa
banyak yang berbentuk kristal dan yang tidak berbentuk kristal, selain itu juga dapat
mencerminkan kecepatan pembekuan magma. Apabila magma dalam pembekuannya
berlangsung lambat maka kristalnya kasar. Sedangkan jika pembekuannya berlangsung
cepat maka kristalnya akan halus, akan tetapi jika pendinginannya berlangsung dengan
cepat sekali maka kristalnya berbentuk amorf.

Dalam pembentukannnya dikenal tiga kelas derajat kristalisasi, yaitu:


o Holokristalin, yaitu batuan beku dimana semuanya tersusun oleh kristal. Tekstur
holokristalin adalah karakteristik batuan plutonik, yaitu mikrokristalin yang telah
membeku di dekat permukaan.
o Hipokristalin, yaitu apabila sebagian batuan terdiri dari massa gelas dan sebagian
lagi terdiri dari massa kristal.
o Holohialin, yaitu batuan beku yang semuanya tersusun dari massa gelas. Tekstur
holohialin banyak terbentuk sebagai lava (obsidian), dike dan sill, atau sebagai
fasies yang lebih kecil dari tubuh batuan.
7

Granularitas
Granularitas didefinisikan sebagai besar butir (ukuran) pada batuan beku. Pada umumnya
dikenal dua kelompok tekstur ukuran butir, yaitu:
o Fanerik/fanerokristalin
Besar kristal-kristal dari golongan ini dapat dibedakan satu sama lain secara
megaskopis dengan mata biasa. Kristal-kristal jenis fanerik ini dapat dibedakan
menjadi:

Halus (fine), apabila ukuran diameter butir kurang dari 1 mm.

Sedang (medium), apabila ukuran diameter butir antara 1 5 mm.

Kasar (coarse), apabila ukuran diameter butir antara 5 30 mm.

Sangat kasar (very coarse), apabila ukuran diameter butir lebih dari 30 mm.

o Afanitik
Besar kristal-kristal dari golongan ini tidak dapat dibedakan dengan mata biasa
sehingga diperlukan bantuan mikroskop. Batuan dengan tekstur afanitik dapat
tersusun oleh kristal, gelas atau keduanya. Dalam analisis mikroskopis dapat
dibedakan:

Mikrokristalin, apabila mineral-mineral pada batuan beku bisa diamati dengan


bantuan mikroskop dengan ukuran butiran sekitar 0,1 0,01 mm.

Kriptokristalin, apabila mineral-mineral dalam batuan beku terlalu kecil untuk


diamati meskipun dengan bantuan mikroskop. Ukuran butiran berkisar antara
0,01 0,002 mm.

Amorf/glassy/hyaline, apabila batuan beku tersusun oleh gelas.

Bentuk Kristal
Bentuk kristal adalah sifat dari suatu kristal dalam batuan, jadi bukan sifat batuan secara
keseluruhan. Ditinjau dari pandangan dua dimensi dikenal tiga bentuk kristal, yaitu:
o Euhedral, apabila batas dari mineral adalah bentuk asli dari bidang kristal.
o Subhedral, apabila sebagian dari batas kristalnya sudah tidak terlihat lagi.
o Anhedral, apabila mineral sudah tidak mempunyai bidang kristal asli.
Ditinjau dari pandangan tiga dimensi, dikenal empat bentuk kristal, yaitu:
o Equidimensional, apabila bentuk kristal ketiga dimensinya sama panjang.
8

o Tabular, apabila bentuk kristal dua dimensi lebih panjang dari satu dimensi yang
lain.
o Prismitik, apabila bentuk kristal satu dimensi lebih panjang dari dua dimensi yang
lain.
o Irregular, apabila bentuk kristal tidak teratur.

Hubungan Antar Kristal


Hubungan antar kristal atau disebut juga relasi didefinisikan sebagai hubungan antara
kristal/mineral yang satu dengan yang lain dalam suatu batuan. Secara garis besar, relasi
dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
o Equigranular
o Yaitu apabila secara relatif ukuran kristalnya yang membentuk batuan berukuran
sama besar. Berdasarkan keidealan kristal-kristalnya, maka equigranular dibagi
menjadi tiga, yaitu:

Panidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya


terdiri dari mineral-mineral yang euhedral.

Hipidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya


terdiri dari mineral-mineral yang subhedral.

Allotriomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya


terdiri dari mineral-mineral yang anhedral.

o Inequigranular
Yaitu apabila ukuran butir kristalnya sebagai pembentuk batuan tidak sama besar.
Mineral yang besar disebut fenokris dan yang lain disebut massa dasar atau matrik
yang bisa berupa mineral atau gelas.

Struktur Batuan Beku


Struktur adalah kenampakan batuan secara makro yang meliputi kedudukan lapisan yang
jelas/umum dari lapisan batuan. Struktur batuan beku sebagian besar hanya dapat dilihat
dilapangan saja, misalnya:

Pillow lava atau lava bantal, yaitu struktur paling khas dari batuan vulkanik bawah laut,
membentuk struktur seperti bantal.

Joint struktur, merupakan struktur yang ditandai adanya kekar-kekar yang tersusun secara
teratur tegak lurus arah aliran. Sedangkan struktur yang dapat dilihat pada contoh-contoh
batuan (hand speciment sample), yaitu:

Masif, yaitu apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran, jejak gas (tidak menunjukkan
adanya lubang-lubang) dan tidak menunjukkan adanya fragmen lain yang tertanam dalam
tubuh batuan beku.

Vesikuler, yaitu struktur yang berlubang-lubang yang disebabkan oleh keluarnya gas
pada waktu pembekuan magma. Lubang-lubang tersebut menunjukkan arah yang teratur.

Skoria, yaitu struktur yang sama dengan struktur vesikuler tetapi lubang-lubangnya besar
dan menunjukkan arah yang tidak teratur.

Amigdaloidal, yaitu struktur dimana lubang-lubang gas telah terisi oleh mineral-mineral
sekunder, biasanya mineral silikat atau karbonat.

Xenolitis, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya fragmen/pecahan batuan lain yang
masuk dalam batuan yang mengintrusi.

Pada umumnya batuan beku tanpa struktur (masif), sedangkan struktur-struktur yang ada
pada batuan beku dibentuk oleh kekar (joint) atau rekahan (fracture) dan pembekuan
magma, misalnya: columnar joint (kekar tiang), dan sheeting joint (kekar berlembar).

Komposisi Mineral
Untuk menentukan komposisi mineral pada batuan beku, cukup dengan mempergunakan
indeks warna dari batuan kristal. Atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

Mineral felsik, yaitu mineral yang berwarna terang, terutama terdiri dari mineral kwarsa,
feldspar, feldspatoid dan muskovit.

Mineral mafik, yaitu mineral yang berwarna gelap, terutama biotit, piroksen, amphibol
dan olivin.

10

Klasifikasi Batuan Beku


Batuan beku dapat diklasifikasikan berdasarkan cara terjadinya, kandungan SiO2, dan
indeks warna. Dengan demikian dapat ditentukan nama batuan yang berbeda-beda meskipun
dalam jenis batuan yang sama, menurut dasar klasifikasinya.

Klasifikasi berdasarkan cara terjadinya


Menurut Rosenbusch (1877-1976) batuan beku dibagi menjadi:
o Effusive rock, untuk batuan beku yang terbentuk di permukaan.
o Dike rock, untuk batuan beku yang terbentuk dekat permukaan.
o Deep seated rock, untuk batuan beku yang jauh di dalam bumi.

Klasifikasi berdasarkan kandungan SiO2


Menurut (C.L. Hugnes, 1962), yaitu:
o Batuan beku asam, apabila kandungan SiO2 lebih dari 66%. Contohnya adalah
riolit.
o Batuan beku intermediate, apabila kandungan SiO2 antara 52% - 66%. Contohnya
adalah dasit.
o Batuan beku basa, apabila kandungan SiO2 antara 45% - 52%. Contohnya adalah
andesit.
o Batuan beku ultra basa, apabila kandungan SiO2 kurang dari 45%. Contohnya
adalah basalt.

Klasifikasi berdasarkan indeks warna


Menurut ( S.J. Shand, 1943), yaitu:
o Leucoctaris rock, apabila mengandung kurang dari 30% mineral mafik.
o Mesococtik rock, apabila mengandung 30% - 60% mineral mafik.
o Melanocractik rock, apabila mengandung lebih dari 60% mineral mafik.

Jenis-jenis batuan beku


Batuan beku dibedakan menjadi 3 yaitu :
11

Batuan beku dalam,contohnya : Batu granit, diorit, dan Gabro

Batuan beku gang/ tengah,contohnya : Granit porfir

Batuan beku luar,contohnya : Batu andesit, obsidian, dan basalt

Batuan Sedimen
Batuan endapan adalah batuan yang terbentuk dari endapan hasil pelapukan batuan.
Batuan ini dapat pula terbentuk dari batuan yang terkikis atau dari endapan sisa-sisa binatang dan
tumbuhan.
Batuan sedimen (batuan endapan) adalah batuan yang terjadi akibat pengendapan materi
hasil erosi. Sekitar 80% permukaan benua tertutup oleh batuan sedimen. Materi hasil erosi terdiri
atas berbagai jenis partikel yaitu ada yang halus, kasar, berat dan ada juga yang ringan. Cara
pengangkutannya pun bermacam-macam seperti terdorong (traction), terbawa secara melompatlompat (saltion), terbawa dalam bentuk suspensi, dan ada pula yang larut (salution). Klasifikasi
lebiih lanjut seperti berikut:

Berdasarkan proses pengendapannya


o batuan sedimen klastik (dari pecahan pecahan batuan sebelumnya)
o batuan sedimen kimiawi (dari proses kimia)
o batuan sedimen organik (pengedapan dari bahan organik)

Berdasarkan tenaga alam yang mengangkut


o batuan sedimen aerik (udara)
o batuan sedimen aquatik (air sungai)
o batuan sedimen marin (laut)
o batuan sedimen glastik (gletser)

Berdasarkan tempat endapannya


o batuan sedimen limnik (rawa)
o batuan sedimen fluvial (sungai)
o batuan sedimen marine (laut)
o batuan sedimen teistrik (darat)

12

Penamaan batuan sedimen biasanya berdasarkan besar butir penyusun batuan tersebut.
Penamaan tersebut adalah: breksi, konglomerat, batupasir, batulanau, batulempung.

Breksi adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar dari 2 mm dengan bentuk
butitan yang bersudut

Konglomerat adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar dari 2 mm dengan
bentuk butiran yang membudar

Batu pasir adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 2 mm sampai 1/16 mm

Batu lanau adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 1/16 mm sampai 1/256 mm

Batu lempung adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih kecil dari 1/256 mm

Batuan Malihan
Batuan malihan (metamorf) berasal dari batuan sedimen yang mengalami perubahan
(metamorfosis). Batuan sedimen ini mengalami perubahan karena mendapat panas dan tekanan
dari dalam Bumi. Jika mendapat panas terusmenerus, batuan ini akan berubah menjadi batuan
malihan.
Batuan metamorf menyusun sebagian besar dari kerak Bumi dan digolongkan
berdasarkan tekstur dan dari susunan kimia dan mineral (fasies metamorf) Mereka terbentuk jauh
dibawah permukaan bumi oleh tegasan yang besar dari batuan diatasnya serta tekanan dan suhu
tinggi. Mereka juga terbentuk oleh intrusi batu lebur, disebut magma, ke dalam batuan padat dan
terbentuk terutama pada kontak antara magma dan batuan yang bersuhu tinggi.
Batuan metamorf dapat dibedakan menjadi :

Batuan Metamorf Kontak


Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya suhu yang sangat tinggi
(sebagai akibat dari aktivitas magma). Adanya suhu yang sangat tinggi menyebabkan
terjadinya perubahan bentuk maupun warna batuan. Contohnya batu kapur (gamping)
menjadi marmer.

Batuan Metamorf Dinamo

13

Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya tekanan yang tinggi
(berasal dari tenaga endogen) dalam waktu yang lama. Contohnya batu lumpur (mud
stone) menjzdi batu tulis (slate). Batuan ini banyak dijumpai di daerah patahan atau
lipatan.

Batuan Metamorf Kontak Pneumatolistis


Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya pengaruh gas-gas yang
ada pada magma. Contohnya kuarsa dengan gas fluorium berubah menjadi topas.

2.3 Tenaga Endogen


Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan
perubahan pada kulit bumi. Tenaga endogen ini sifatnya membentuk permukaan bumi menjadi
tidak rata. Mungkin saja di suatu daerah dulunya permukaan bumi rata (datar) tetapi akibat
tenaga endogen ini berubah menjadi gunung, bukit, atau pegunungan. Pada bagian lain
permukaan bumi turun menjadikan adanya lembah atau jurang. Secara umum tenaga endogen
dibagi dalam tiga jenis yaitu tektonisme, vulkanisme, dan seisme atau gempa.

Tektonisme
Tektonisme adalah proses yang terjadi akibat pergerakan, pengangkatan, lipatan, dan
patahan pada struktur tanah di suatu daerah. Yang dimaksud lipatan adalah bentuk muka bumi
hasil gerakan tekanan secara horizontal maupun vertikal yang menyebabkan lapisan permukaan
bumi menjadi berkerut dan melipat. Patahan adalah permukaan bumi hasil dari gerakan tekanan
horizontal dan tekanan vertikal yang menyebabkan lapisan bumi menjadi retak dan patah. Ada
dua jenis tektonisme, yaitu :
14

Epirogenesa
Epirogenesa adalah proses perubahan bentuk daratan yang disebabkan oleh tenaga lambat
dari dalam bumi dengan arah vertikal, baik ke atas maupun ke bawah melewati daerah
yang sangat luas. Ada dua Epirogenesa:
o Epirogenesa positif, yaitu gerakan yang mengakibatkan turunnya lapisan kulit
bumi, sehingga permukaan air laut terlihat naik dan daratan menurun.
o Epirogenesa negatif, yaitu gerakan yang mengakibatkan naiknya lapisan kulit
bumi, sehingga permukaan air laut terlihat turun dan daratan menaik.

Orogenesa
Orogenesa adalah pergerakan lempeng tektonis yang sangat cepat dan meliputi wilayah
yang sempit. Tektonik Orogenesa biasanya disertai proses pelengkungan (warping) dan
lipatan (folding) yang terjadi akibat adanya tekanan pada arah mendatar pada lapisan
batuan yang lentur. Lipatan terbentuk dari 2 bentuk dasar yaitu sinklinal dan antiklinal.
Macam-macam lipatan :
o normal,
o asimetris,
o tumpang tindih
Patahan (faulting) terjadi karena pengaruh tekanan horizontal dan vertikal yang sangat

kuat. Ada 2 jenis patahan yaitu horst dan graben (slenk), dan retakan (jointing). Salah satu
contoh hasil Orogenesa adalah deretan Lekukan Mediterania.

Lipatan

15

Daerah yang berstruktur lipatan, kubah, dan struktur patahan, pada dasarnya disebabkan
oleh tenaga endogen. Hanya saja tenaga endogen pembentuk ketiga daerah struktur lipatan,
kubah, dan patahan tidak sama. Pada daerah berstruktur lipatan, disebabkan oleh tenaga endogen
yang arahnya mendatar berupa tekanan, sehingga batuan sedimen yang letak lapisan-lapisannya
mendatar berubah menjadi terlipat atau bergelombang. Daerah yang berstruktur demikian disebut
daerah lipatan, dalam bahasa Inggris disebut folded zone. suatu lipatan memilik beberapa bagian,
sebagai akibat dari adanya lipatan tersebut. Unsur-unsur tersebut adalah antiklinal, sinklinal,
sayap antiklin. Di samping itu juga ada berupa sumbu antiklinal dalam kaitannya dengan
menentukan posisi suatu lipatan yaitu dip (kemiringan) dan strike (jurus), serta sumbu sinklinal.
Berbicara mengenai lipatan ada beberapa macam sebagai akibat dari kekutan yang
membentuknya, yaitu lipatan tegak, miring, menggantung, isoklin, rebah, kelopak, antiklinoriun,
dan sinklinorium. Di dunia ini banyak terdapat daerah lipatan yang memperlihatkan bentukan
topografi yang jelas, lipatan yang terkenal adalah Sirkum Pasifik dan lipatan Alpina. Kedua
lipatan tersebut mempunyai kelanjutan di Indonesia. Lipatan Alpina di Indonesia berupa sistem
pegunungan Sunda yang terbentang di Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Nusra, Maluku, dan
berakhir di P Banda. Lipatan ini merupakan busur dalam yang Indonesia bersifat volkanis dan
busur luar yang non vulkanis. Demikian pula dengan lipatan Sirkum Pasifik dari Pilipina
bercabang ke Kalimantan dan Sulawesi dan seterusnya.

16

Kubah atau Dome.


Tenaga pembentuk daerah yang berstruktur kubah adalah tenaga endogen mempunyai
arah tegak lurus ke arah luar bumi, sehingga daerah yang luas mengalami pencembungan akibat
tenaga tersebut. Seperti juga lipatan, dome juga mempunyai Dip, tetapi dip pada dume menuju
kesemua arah. Kalau boleh diumpamakan bahwa dome tersebut ibarat kuali yang
ditelungkupkan. Kalau tenaga yang tegak lurus tersebut menuju pusat bumi, maka bentuk yang
dihasilkan merupakan kebalikan dari dome, yaitu berupa basin atau cekungan ibarat kuali yang
menghadap ke atas.
Berdasarkan pembentukannya dome, digolongkan menjadi beberapa macam, yaitu:

Dome yang berintikan batuan beku yang terdiri dari dua jenis, yaitu dome laccolith dan
batolith. Terjadi karena penerobosan magma ke dalam kulit bumi, sehingga lapisan kulit
bumi yang terletak di atasnya terdesak yang mengakibatkan kulit bumi tersebut cembung.

Dome atau kubah garam, Kubah garam terjadi akibat intruisi massa garam ke dalam
lapisan batuan. Jadi kubah ini mempunyai inti berupa garam. Diatasnya kadang-kadang
terdapat lapisan tudung berupa gips, batu gamping atau dolomit yang pejal. Pada
umumnya kubah garam ini kecil-kecil dengan
Garis tengah 1 6 km dengan ketinggian 100 kaki dari daerah sekitarnya. Banyak di
antaranya mempunyai nilai ekonomis. Bentuk dome seperti ini banyak terdapat di Jerman
(Harz Mountains), Sayap kanan pegunungan Karpatia (Rumania), Mesir, Persia, Spanyol,
Maroko, dan Aljazair. Terjadinya diduga bahwa
Lapisan garam yang terletak jauh di dalam lapisan bumi, mendapat tekanan yang keras
sehingga keadaanya menjadi plastis dan pada bagian di bagian kulit bumi yang lemah ia
naik dan mendorong lapisan batuan yang ada di atasnya, sehingga cembung ke atas.
Kubah garam ini meskipun berstruktur kubah, sering kali memperlihatkan permukaan
yang cekung, karena garam merupakan lapisan yang mudah larut, akibatnya lapisan yang
terletak di atasnya mudah ambruk.
Jadi dalam hal ini dapat dikatakan bahwa daerah itu berstruktur positif tetapi topografi
negatif.

Kubah akibat pengangkatan regional pada daerah yang luas, Kubah pada golongan ini
adalah akibat adanya pengangkatan regional didaerah yang luas.
17

Ukurannya luas dengan dip yang landai hingga hampir mendatar. Kubah ini mungkin
terjadi sebagai akibat dari desakan batuan volkanis dari dalam atau kerena proses
epirogenesisi.

Kubah kriptovolkanis (Cryptovolcanic domes), Kubah ini terjadi sebagai akibat dari
desakan gas dari dalam bumi yang tergerak secara tiba-tiba,
Tetapi dengan kekuatan kecil. Karena kekuatannya yang kecil sehingga tidak sampai ke
luar, melainkan hanya mendorong lapisan kulit bumi hingga cembung.

Patahan

Tenaga pembentuk daerah yang berstruktur patahan, adalah tenaga endogen yang
mengakibatkan kulit bumi bergerak mendatar dengan berlawanan arah atau bergerak ke bawah
atau ke atas, yang sering disebut dengan kekar, rekahan atau retakan yang cukup besar. Kulit
bumi mengalami sesar dimana patahan yang disertai dengan pergeseran kedudukan lapisan yang
terputus hubungannya (fault). Berdasarkan gerakan atau pergeseran kulit bumi terdapat tiga
macam sesar yaitu:

Dip slip fault, yaitu sesar yang tergeser arahnya vertikal (sesar vertikal), sehingga salah
satu dari blok terangkat dan membentuk bidang patahan.

Strike slip fault, yaitu sesar yang pergeserannya ke arah horisontal (sesar mendatar),
sehingga hasil dari aktivitas ini kadangkala dicirikan oleh kenampakan aliran air sungai
yang membelok patah-patah.

Oblique slip fault, yaitu sesar yang pergeseran vertikal sama dengan pergeseran
mendatar, yang sering disebut sesar miring (oblique). Pergeseran kulit bumi pada tipe ini

18

membentuk celah yang memanjang, kalau terjadi di dasar laut/samudera terbentuk palung
laut, dan bila di daratan bisa berupa ngarai.

Lobeck (1939: 559) mengemukakan ada beberapa jenis sturktur patahan, yaitu:

Patahan Normal (normal fault)

Patahan bertingkat (step fault)

Patahan terserpih (fault splinter)

Patahan membalik (reverse fault)

Patahan kelopak (thrust fault)

Patahan kelopak majemuk (multi thrust fault)

Patahan mendatar (foult with horizontal movement)

Patahan lipatan (fault passing in to a fold)

Bentukan-Bentukan Di Daerah Struktur Lipatan, Kubah, dan Patahan.


Bentuk lahan yang merupakan hasil bentukan asal struktural, seprti telah dikemukakan
pada bagian terdahulu bahwa disebabkan oleh tenaga endogen (tenaga yang berasal dari dalam
bumi) yang bisa berupa proses tektonik atau diastrofisme. Proses ini meliputi pengangkatan,
penurunan, dan pelipatan kulit bumi, sehingga terbentuk struktur geologi berupa lipatan dan
patahan. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan untuk mendasari interpretasi dan identifikasi
bentuk struktural adalah:

Perbedaan daya tahan (resistensi) lapisan batuan terhadap tenaga yang bekerja. Lapisan
batuan yang resisten akan menghasilkan relief yang berbeda dengan batuan yang kurang
atau tidak resisten.

Pola aliran pada bentukan struktural umumnya terkontrol oleh struktur.

Dalam melakukan identifikasi dan pengenalan terhadap bentukan struktural, dasar


pengenalan struktur adalah:
o Perlapisan (stratifikasi) batuan
19

o Attitude atau sikap lapisan (posisi bidang lapisan terhadap bidang horizontal yang
meliputi dip, strike, dip slope, face slope, dan scrap.
o Pola aliran
o Kontinuitas
o Dislokasi
o Morfologi permukaan
Bentuk lahan hasil bentukan struktural ditentukan oleh tenaga endogen yang
menyababkan deformasi perlapisan batuan dengan menghasilkan lipatan, kubah, dan patahan
serta perkembangannya. Deformasi perlapisan batuan ini menyebabkan adanya deformasi sikap
perlapisan yang semula horisontal menjadi miring atau tegak dan membentuk lipatan. Penentuan
nama suatu bentuklahan struktural pada dasarnya di dasarkan pada sikap perlapisan batuan (dip
dan strike). Dip adalah sudut perlapisan batuan yang diukur terhadap bidang horisontal dan tegak
lurus terhadap jurus (strike). Sedangkan jurus (strike) merupakan arah garis perpotongan yang
dibentuk oleh perpotongan antara bidang perlapisan dengan bidan horizontal.

Vulkanisme

20

Vulkanisme adalah suatu peristiwa yang berhubungan dengan naiknya magma dari dalam
perut bumi menuju ke lapisan bumi terluar atau kulit bumi. Magma adalah campuran batu-batuan
dalam keadaan cair, liat serta sangat panas yang berada dalam perut bumi. Aktivitas magma
disebabkan oleh tingginya suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung di dalamnya
sehingga dapat terjadi retakan-retakan dan pergeseran lempeng kulit bumi. Magma dapat
berbentuk gas padat dan cair. Proses terjadinya vulkanisme dipengaruhi oleh aktivitas magma
yang menyusup ke lithosfer (kulit bumi). Apabila penyusupan magma hanya sebatas kulit bumi
bagian dalam dinamakan intrusi magma. Sedangkan penyusupan magma sampai keluar ke
permukaan bumi disebut ekstrusi magma.
Istilah-Istilah vulkanisme :
1. Vulkanologi : ilmu kebumian yang memplajari gunungapi
2. Magma : bahan silikat cair pijar yang terdiri atas bahan padat,cair,dan gas yang terdapat
di lapisan litosfer bumi. Suhu normal magma bersikar 900 C-1200 C.
3. Erupsi : proses keluarnya magma dari lapisan litosfer sampai ke permukan bumi. Erupsi
sebuah gunungapi dapdt berupa lelehan (efusif) melalui retakan pada lapisan-lapisan
batu. Dan ledakan sumburan (ekaplosif) melalui kepundan atau corong gunung api.
4. Intrusi magma : proses penerobosan magma melalui retakan-retakan lapisan batuan,
tetapi tidak sampai ke permukaan bumi. Apabila intrusi magma membeku maka akan
terbentuk batuan intrusiva.
5. Lava : magama yang keluar sampai ke permukaan bumi.
6. Lahar : lava yang telah bercampur dengan bahan-bahan di permukaan bumu.
7. Eflata / bahan piroklastik : bahan-bahan yang lepas dari gunungapi ketika terjadi letusan
eksplosif.
8. Kawah : lubang pada tubuh gunungapi sebagai tempat keluarnya magma. Kawah yang
cukup besar disebut kaldera. Bila kaldera terisi air yang cukup banyak mak akan
terbentuk danau kawah atau danau vulkanik.

Bentuk-Bentuk Gunungapi

21

Berdasarkan bentuk letusanya, gunung api dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yang
berbeda yaitu :
1. Gunung api Prisai
Gunung api perisai berbentuk seperti perisai (shields) terbentuk oleh letusan yang sangat
cair (efusief), yaitu berupa lelehan lava yang sangat luas dan landai. Ciri gunungapi
perisai adalah lerengnya sangat landai bahkan hampir datar, Contohnya, Gunung Mauna
Loa dan Gunung Mauna Kea di Hawai.
2. Gunung api Maar
Gunung api maar terbentuk dari letusan berupa ledakan (eksplosif) yang dahsyat yang
terjadi sekali, dengan mengeluarkan bahan-bahan berupa eflata. Gunung maar biasanya
punya dapur magma yang dangkal dan magma yang terdiri dari bahan-bahan padat dan
gas yang padat. Contoh gunung maar adalah : Gunung Lamongan (Jawa Timur), Gunung
Pinakate (Meksiko), Gunung Monte Muovo (Italia).
3. Gunung api Starto
Gunung api starto terbentuk akibat letusan yang berulang-ulang dan berseling-seling
antara bahan padat dan lelahan lava. Sebagian besar gunung di Indonesia adalah gunung
starto seperti :Gunung Semeru, Gunung Merapi, Gunung Agung, Gunung Kerinci.

Gempa bumi
Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi akibat
pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Gempa Bumi
biasa disebabkan oleh pergerakan kerak Bumi (lempeng Bumi). Frekuensi suatu wilayah,
mengacu pada jenis dan ukuran gempa Bumi yang di alami selama periode waktu. Gempa Bumi
diukur dengan menggunakan alat Seismometer. Moment magnitudo adalah skala yang paling
umum di mana gempa Bumi terjadi untuk seluruh dunia. Skala Rickter adalah skala yang di
laporkan oleh observatorium seismologi nasional yang di ukur pada skala besarnya lokal 5
magnitude. kedua skala yang sama selama rentang angka mereka valid. gempa 3 magnitude atau
lebih sebagian besar hampir tidak terlihat dan besar nya 7 lebih berpotensi menyebabkan

22

kerusakan serius di daerah yang luas, tergantung pada kedalaman gempa. Gempa Bumi terbesar
bersejarah besarnya telah lebih dari 9, meskipun tidak ada batasan besarnya.
Jenis Gempa Bumi
Jenis gempa bumi dapat dibedakan berdasarkan:

Berdasarkan Penyebab
o Gempa bumi tektonik
Gempa Bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran
lempeng-lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang
sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini banyak menimbulkan
kerusakan atau bencana alam di Bumi, getaran gempa Bumi yang kuat mampu
menjalar keseluruh bagian Bumi. Gempa bumi tektonik disebabkan oleh
pelepasan tenaga yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti
layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba.
o Gempa bumi tumbukan
Gempa Bumi ini diakibatkan oleh tumbukan meteor atau asteroid yang jatuh ke
Bumi, jenis gempa Bumi ini jarang terjadi
o Gempa bumi runtuhan
Gempa Bumi ini biasanya terjadi pada daerah kapur ataupun pada daerah
pertambangan, gempabumi ini jarang terjadi dan bersifat lokal.
o Gempa bumi buatan
Gempa bumi buatan adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas dari
manusia, seperti peledakan dinamit, nuklir atau palu yang dipukulkan ke
permukaan bumi.
o Gempa bumi vulkanik
Gempa Bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi
sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka akan
menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan terjadinya gempa
bumi. Gempa bumi tersebut hanya terasa di sekitar gunung api tersebut.

Berdasarkan Kedalaman
o Gempa bumi dalam
23

Gempa bumi dalam adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada lebih dari
300 km di bawah permukaan bumi (di dalam kerak bumi). Gempa bumi dalam
pada umumnya tidak terlalu berbahaya.
o Gempa bumi menengah
Gempa bumi menengah adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada antara
60 km sampai 300 km di bawah permukaan bumi.gempa bumi menengah pada
umumnya menimbulkan kerusakan ringan dan getarannya lebih terasa.
o Gempa bumi dangkal
Gempa bumi dangkal adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada kurang
dari 60 km dari permukaan bumi. Gempa bumi ini biasanya menimbulkan
kerusakan yang besar.

Berdasarkan Gelombang/Getaran Gempa


o Gelombang Primer
Gelombang primer (gelombang lungitudinal) adalah gelombang atau getaran yang
merambat di tubuh bumi dengan kecepatan antara 7-14 km/detik.
o Gelombang Sekunder
Gelombang sekunder (gelombang transversal) adalah gelombang atau getaran
yang merambat, seperti gelombang primer dengan kecepatan yang sudah
berkurang,yakni 4-7 km/detik. Gelombang sekunder tidak dapat merambat
melalui lapisan cair.

Penyebab terjadinya gempa Bumi


Kebanyakan gempa Bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan
yang disebabkan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan
akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran
lempengan. Pada saat itulah gempa Bumi akan terjadi.
Gempa Bumi biasanya terjadi di perbatasan lempengan-lempengan tersebut. Gempa
Bumi yang paling parah biasanya terjadi di perbatasan lempengan kompresional dan

24

translasional. Gempa Bumi fokus dalam kemungkinan besar terjadi karena materi lapisan litosfer
yang terjepit kedalam mengalami transisi fase pada kedalaman lebih dari 600 km.

Beberapa gempa Bumi lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di dalam gunung
berapi. Gempa Bumi seperti itu dapat menjadi gejala akan terjadinya letusan gunung berapi.
Beberapa gempa Bumi (jarang namun) juga terjadi karena menumpuknya massa air yang sangat
besar di balik dam, seperti Dam Karibia di Zambia, Afrika. Sebagian lagi (jarang juga) juga
dapat terjadi karena injeksi atau akstraksi cairan dari/ke dalam Bumi (contoh. pada beberapa
pembangkit listrik tenaga panas Bumi dan di Rocky Mountain Arsenal. Terakhir, gempa juga
dapat terjadi dari peledakan bahan peledak. Hal ini dapat membuat para ilmuwan memonitor tes
rahasia senjata nuklir yang dilakukan pemerintah. Gempa Bumi yang disebabkan oleh manusia
seperti ini dinamakan juga seismisitas terinduksi.

2.4 Tenaga Eksogen

Tenaga eksogen ialah tenaga yang berasal dari luar bumi. Sifatnya merusak atau
merombak permukaan bumi yang sudah terbentuk oleh tenaga endogen. Tenaga eksogen juga
25

mengakibatkan bentuk-bentuk muka bumi. Tenaga eksogen dapat berasal dari tenaga air, angin,
dan organisme yang menyebabkan terjadinya proses pelapukan, erosi, denudasi, dan sedimentasi.
Contoh seperti bukit atau tebing yang terbentuk hasil tenaga endogen terkikis oleh angin,
sehingga dapat mengubah bentuk permukaan bumi.
Di permukaan laut, bagian litosfer yang muncul akan mengalami penggerusan oleh
tenaga eksogen yaitu dengan jalan pelapukan, pengikisan dan pengangkutan, serta sedimentasi.
Misalnya di permukaan laut muncul bukit hasil aktivitas tektonisme atau vulkanisme. Mula-mula
bukit dihancurkannya melalui tenaga pelapukan, kemudian puing-puing yang telah hancur
diangkut oleh tenaga air, angin, gletser atau dengan hanya gravitasi bumi. Hasil pengangkutan itu
kemudian diendapkan, ditimbun di bagian lain yang akhirnya membentuk timbunan atau
hamparan bantuan hancur dari yang kasar sampai yang halus.
Contoh lain dari tenaga eksogen adalah pengikisan pantai. Setiap saat air laut menerjang
pantai yang akibatnya tanah dan batuannya terkikis dan terbawa oleh air. Tanah dan batuan yang
dibawa air tersebut kemudian diendapkan dan menyebabkan pantai menjadi dangkal. Di daerah
pegunungan bisa juga ditemukan sebuah bukit batu yang kian hari semakin kecil akibat tiupan
angin.
Secara umum tenaga eksogen berasal dari 3 sumber, yaitu:

Atmosfer, yaitu perubahan suhu dan angin.

Air yaitu bisa berupa aliran air, siraman hujan, hempasan gelombang laut, gletser, dan
sebagainya.

Makhluk hidup yaitu berupa jasad renik, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.

Perusakan bentuk muka bumi oleh tenaga eksogen berupa pelapukan, pengikisan (erosi) dan
pengendapan.
I.

Pelapukan
Pelapukan adalah penghancuran batuan dari bentuk gumpalan menjadi butiran yang lebih
kecil bahkan menjadi hancur atau larut dalam air. Proses pelapukan dapat dikatakan
sebagai proses penghancuran massa batuan melalui media penghancuran, berupa:

Sinar matahari
26

Air

Gletser

Reaksi kimiawi

kegiatan makhluk hidup (organisme)

Menurut proses terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu:

pelapukan fisis atau mekanik


Pelapukan mekanik (fisik) adalah proses pengkikisan dan penghancuran
bongkahan batu jadi bongkahan yang lebih kecil,tetapi tidak mengubah unsur
kimianya. Proses ini disebabkan oleh sinar matahari, perubahan suhu tiba-tiba,
dan pembekuan air pada celah batu.

Penyebab terjadinya pelapukan mekanik yaitu:


o Adanya perbedaan temperatur yang tinggi
Peristiwa ini terutama terjadi di daerah yang beriklim kontinental atau
beriklim Gurun, di daerah gurun temperatur pada siang hari dapat mencapai
50 Celcius. Pada siang hari bersuhu tinggi atau panas. Batuan menjadi
mengembang, pada malam hari saat udara menjadi dingin, batuan mengerut.
Apabila hal itu terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan batuan
pecah atau retak-retak.
o Adapun pembekuan air di dalam batuan
Jika air membeku maka volumenya akan mengembang. Pengembangan ini
menimbulkan tekanan, karena tekanan ini batu-batuan menjadi rusak atau
pecah pecah. Pelapukan ini terjadi di daerah yang beriklim sedang dengan
pembekuan hebat.
o Berubahnya air garam menjadi Kristal
Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya menguap dan
garam akan mengkristal. Kristal garam garam ini tajam sekali dan dapat
merusak batuan pegunungan di sekitarnya, terutama batuan karang di daerah
pantai.

pelapukan organis
27

Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan danmanusia,


binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga.
Dibatu-batu karang daerah pantai sering terdapat lubang-lubang yang dibuat oleh
binatang. Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuh tumbuhan ini dapat bersifat
mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar
tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya.
Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akarakar serat
makanan menghisap garam makanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga
garam-garaman mudah diserap oleh akar. Manusia juga berperan dalam
pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon, pembangunan maupun
penambangan.

pelapukan kimiawi
Pada pelapukan ini batu batuan mengalami perubahan kimiawi yang umumnya
berupa pengelupasan. Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan
kapur (Karst). Pelapukan ini berlangsung dengan batuan air dan suhu yang tinggi.
Air yang banyak mengandung CO2 (Zat asam arang) dapat dengan mudah
melarutkan batu kapur (CACO3). Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat
menimbulkan gejala karst. Di Indonesia pelapukan yang banyak terjadi adalah
pelapukan kimiawi. Hal ini karena di Indonasia banyak turun hujan. Air hujan
inilah yang memudahkan terjadinya pelapukan kimiawi.

II.

Erosi
Erosi seperti pelapukan adalah tenaga perombak (pengkikisan). Tapi yang membedakan
erosi dengan pelapukan adalah erosi adalah pengkikisan oleh media yang bergerak,
seperti air sungai, angin, gelombang laut, atau gletser. Erosi dibedakan oleh jenis tenaga
perombaknya yaitu : Erosi air, Erosi gelombang laut (abarasi / erosi marin ), Erosi angin
(deflasi), Erosi gletser (glasial),Erosi Akibat gaya berat.

Erosi Air
Erosi oleh air adalah erosi yang di sebabkan oleh air atau air hujan.Jika tingkat
curah hujan berlebihan sedemikian rupa sehingga tanah tidak dapat menyerap air
hujan maka terjadilah genangan air yang mengalir kencang.Aliran air ini sering

28

menyebabkan terjadinya erosi yang parah karena dapat mengikis lapisan


permukaan tanah yang dilewatinya, terutama pada tanah yang gundul.
Proses pengikisan oleh air yang mengalir terjadi dalam empat tingkatan yang
berbeda sesuai dengan kerusakan tanah atau batuan yang terkena erosi, sebagai
berikut.
1) Erosi percik, yaitu proses pengkikisan oleh percikan air hujan yang jatuh
ke bumi.
2) Erosi lembar, yaitu proses pengkikisan lapisan tanah paling atas sehingga
kesuburannya berkurang. Pengikisan lembar ditandai oleh :
o warna air yang mengalir berwarna coklat
o warna air yang terkikis menjadi lebih pucat
o kesuburan tanah berkurang
3) Erosi alur, adalah lanjutan dari erosi lembar. Ciri khas erosi alur adalah
adanya alur-alur pada tanah sebagai tempat mengalirnya air.
4) Erosi parit, adalah terbentuknya parit-parit atau lembah akibat pengikisan
aliran air. Bila erosi parit terus berlanjut, maka luas lahan kritis dapat
meluas, dan pada tingkat ini tanah sudah rusak.

Erosi oleh Angin (korasi)


Erosi oleh angin adalah pengikisan yang disebabkan oleh angin. Hembusan angin
kencang yang terus menerus di daerah yang tandus dapat memindahkan partikelpartikel halus batuan di daerah tersebut sehingga membentuk suatu formasi,
misalnya bukit-bukit pasir di gurun atau pantai.

Erosi oleh gletser


Merupakan pengikisan yang dilakukan oleh gletser (lapisan es) di daerah
pegunungan. Pengikisan ini terjadi di daerah yang memiliki empat musim. Pada
saat musim semi, terjadi erosi oleh gletser yang meluncur menuruni lembah.
Akibatnya lereng menjadi lebih terjal. Contoh bentang alam yang terjadi akibat
erosi gletser adalah pantai fyord, yaitu pantai dengan dinding yang berkelok
kelok.

Erosi Akibat Gaya Berat

29

Batuan atau sedimen yang bergerak terhadap kemiringannya merupakan proses


erosi yang disebabkan oleh gaya berat .Erosi ini akan berlangsung sangat cepat
sehingga dapat menimbulkan bencana longsor.
III.

Sedimentasi ( pengendapan )
Sedimentasi adalah peristiwa pengendapan material batuan yang telah diangkut oleh
tenaga air atau angin .
Proses sedimentasi atau pengendapan berdasarkan tenaga pengangkutnya :
1. Pengendapan air ( akuatik)
o Meander
o Delta
o Dataran banjir dan tanggul alam
2. Pengendapan air laut ( sedimen marine)
Batuan hasil pengendapan oleh air laut disebut sedimen marine.Pengendapan oleh
air laut dikarenakan adanya gelombang. Bentang alam hasil pengendapan oleh air
laut, antara lain pesisir, spit, tombolo, dan penghalang pantai.Pesisir merupakan
wilayah pengendapan di sepanjang pantai. Biasanya terdiri dari material pasir.
Ukuran dan komposisi material di pantai sangat berfariasi tergantung pada
perubahan kondisi cuaca, arah angin, dan arus laut. Arus pantai mengangkut
material yang ada di sepanjang pantai. Jika terjadi perubahan arah, maka arus
pantai akan tetap mengangkut material material ke laut yang dalam. ketika
material masuk ke laut yang dalam, terjadi pengendapan material. Setelah sekian
lama, terdapat akumulasi material yang ada di atas permukaan laut. Akumulasi
material itu disebut spit. Jika arus pantai terus berlanjut, spit akan semakin
panjang. Kadang kadang spit terbentuk melewati teluk dan membentuk
penghalang pantai (barrier beach). Apabila di sekitar spit terdapat pulam, biasanya
spit akhirnya tersambung dengan daratan, sehingga membentuk tombolo.
3. Pengendapan Angin (sedimen aeolis)
Sedimen hasil pengendapan oleh angin disebut sedimen aeolis. Bentang alam
hasil pengendapan oleh angin dapat berupa gumuk pasir (sand dune). Gumuk
pantai dapat terjadi di daerah pantai maupun gurun. Gumuk pasir terjadi bila
terjadi akumulasi pasir yang cukup banyak dan tiupan angin yang kuat. Angin
30

mengangkut dan mengedapkan Pasir di suatu tempat secara bertahap sehingga


terbentuk timbunan pasir yang disebut gumuk pasir/sand dune.
4. Pengendapan oleh gletser
Sedimen hasil pengendapan oleh gletser disebut sedimen glacial. Bentang alam
hasil Pengendapan oleh gletser adalah bentuk lembah yang semula berbentuk V
menjadi U. Pada saat musim semi tiba, terjadi pengikisan oleh gletser yang
meluncur menuruni lembah. Batuan atau tanah hasil pengikisan juga menuruni
lereng dan mengendap di lemah. Akibatnya, lembah yang semula berbentuk V
menjadi berbentuk U.

31

BAB III
KESIMPULAN

Morfogenetik adalah asal-usul bentuk lahan dan proses terjadinya bentuk lahan.
Termasuk tenaga eksogen dan tenaga endongen, yaitu meliputi endapan, erosi, jenis
batuan, lipatan patahan, aktivitas vulkanik, dll.
Bentuklahan adalah suatu kenampakan medan yang terbentuk oleh proses alami
yang memiliki komposisi tertentu dan karakteristik fisikal dan visual dengan julat tertentu
yang terjadi dimanapun bentuklahan tersebut terdapat.
Proses-proses yang mempengaruhi bentuk lahan yaitu proses yang merubah
bentuk lahan yang berasal dari tenaga eksogen (tenaga dari luar bumi) dan tenaga
endogen (tenaga dari dalam bumi). Tenaga eksogen yaitu berupa tektonik, vulkanik, dan
gempa.sedangkan tenaga endogen yaitu berupa proses pelapukan, erosi, dan
pengendapan.

32

DAFTAR PUSTAKA

Sune, Nawir. 2011. Modul Praktikum Petrografi. Gorontalo. UNG

Dalmartha, Setyawan, dr. 2014. Morfografi dan Bentuk Lahan: Penebar Swadaya

Hariany, Sangad M. dkk. 2014. Kamus Geologi. Bandung: Yayasan Obor Indonesia

http://kasmatyusufgeo10.blogspot.com/2012/11/pengertian-bentuk-lahanhtml

http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa

http://id.wikipedia.org/wiki/Vulkanisme

http://id.wikipedia.org/wiki/Tektonisme

http://ibnuseven.files.wordpress.com/2013/05/buku-van-juidam.pdf

http://kepalabatu.finddiscussion.com/t37-morfologi-daerah-berstruktur-lipatan-kubah-danpatahan

33