Anda di halaman 1dari 22

1

MOTIVASI BERHENTI MENGGUNAKAN NARKOBA PADA ANAK JALANAN


PENGGUNA NARKOBA BERDASARKAN TEORI ABRAHAM MASLOW

Pradana Andita Nugroho


(Email : Pradanapsi@yahoo.com)
Ika Herani
Lusy Asa Akhrani
Universitas Brawijaya Malang

Abstrak
Anak jalanan adalah sebuah istilah mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan di
jalanan dan masih memiliki hubungan dengan keluarganya. Anak jalanan mengalami tekanan
hidup dan tindak kekerasan di jalan, sebagai bentuk pelarian dari permasalahan hidup yang
mereka alami adalah dengan menggunakan narkoba. Anak jalanan sama dengan anak-anak
umum lainnya yang mempunyai harapan serta tujuan hidup bebas dari narkoba. Berhenti
menggunakan narkoba tidaklah mudah, adanya motivasi yang dialami oleh anak jalanan
membuat anak jalanan dapat berhenti menggunakan narkoba. Motivasi adalah suatu arahan,
dorongan, dan sejumlah usaha yang dikeluarkan seseorang untuk mencapai tujuan. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek dalam penelitian ini
adalah 3 anak asuh JKJT dengan kriteria memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi narkoba.
Teknik pengumpulan data adalah Observasi Non-Partisipan, Wawancara Mendalam. Teknik
analisa menggunakan model coding. Validitas menggunakan uji Credibilitas, Transferabilitas,
Dependabilitas, dan Confirmabilitas. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui aspek dan sumber
motivasi yang terbentuk membuat subyek memutuskan untuk berhenti menggunakan narkoba.
Subyek IW memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi narkoba karena kebutuhan akan sosial
dari ibunya. Subyek AN memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi narkoba karena kebutuhan
akan sosial dari lingkungannya. Subyek NI memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi narkoba
karena kebutuhan akan keamanan dari ancaman luar.
Kata Kunci : Motivasi, Anak Jalanan, Narkoba

Abstract
Street children is a term referring to the kids who have activities in the streets and still have a
relationship with her family. Street children experiencing pressure life and acts of violence on the streets
as a form of fugitives from the problems alive they experience is by the use of drugs. Street children
same with children other public has hope and the purpose of life free from drugs. Stop using drugs is not
easy, the motivation experienced by street children making street children can stop using drugs.
Motivation is a landing, encouragement, and a number of effort expended someone to accomplish a
purpose. This research using methods qualitative with the approach phenomenology. A subject in this
research is 3 of a foster child jkjt with criteria decided to stop consuming drugs. The technique of
collecting data is observation non-partisipan, an interview to a great depth. The technique of using
model coding analysis. Test the validity of using credibilitas, transferabilitas, dependabilitas, and
confirmabilitas. Based on the result of the study, known aspects and a source of motivation formed
make the subject decided to stop using drugs. Subjects IW decided to stop consuming drugs because the
need for social from her mother. Subjects AN decided to stop consuming drugs because the need for
social from the environment. Subjects NI decided to stop consuming drugs because the need for security
from the outside.

Keywords : Motivation, Street Children, Drugs

Latar Belakang
Setiap tahunnya penggunaan narkoba (Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya)
semakin meningkat. Penyebaran narkoba sudah hampir tak bisa dicegah, mengingat hampir
seluruh penduduk dunia dengan mudah mendapatkan narkoba dari orang-orang yang tidak
bertanggung jawab (Hawari, 2009). Istilah narkoba mulai dikenal pada sekitar tahun 1998, akibat
maraknya kasus penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat aditif terlarang. Agar lebih
mudah dalam penyebutan, masyarakat menyingkat istilah narkotika, psikotropika, dan zat aditif
terlarang menjadi narkoba. Sekarang istilah ini sudah sangat akrab di telinga masyarakat.
Survey yang dilakukan oleh BNN (Badan Narkotika Nasional) di Indonesia pengguna
narkoba bertambah setiap tahunnya. Pengguna narkoba tahun 2009 terdapat 3,6 juta jiwa, tahun
2010 terdapat 4,02 juta jiwa dan tahun 2011 terdapat sekitar 5 juta orang. Dalam waktu yang
relatif singkat beberapa tahun belakangan ini penyalahgunaan narkoba telah menjadi momok
yang begitu mengerikan. Hal ini dikarenakan narkoba dapat masuk kesemua usia dan lapisan
masyarakat. Para pengguna narkoba sebenarnya sangat memerlukan perhatian semua pihak baik
dari orang tua, masyarakat, maupun pemerintah, karena menyangkut masa depan setiap orang,
dampak penyalahgunaan narkoba pada setiap orang berbeda-beda tergantung jenis yang
digunakan (Hawari, 2009).
Pada penelitian berjudul "Narkoba Membelenggu Anak Jalanan"

yang diselenggarakan

Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) pada tahun 2008, diketahui bahwa semua anak jalanan
atau 100 persen anak jalanan pernah di tawari narkoba. Terungkap juga sebanyak 28 persen anak
jalanan mengkonsumsi rokok, 32 persen diantaranya pernah mencoba narkoba, 30,2 persennya
pernah "ngelem" atau penyalahgunaan inhalen, yakni dengan menghirup benda-benda sejenis

lem, zat pelarut (thinner cat) atau zat lain sejenisnya, dan sebanyak 69 persennya mengaku
pernah dirazia (Wahyu,2008).
Anak jalanan adalah anak-anak yang berada dibawah usia 18 tahun, yang menghabiskan
sebagian besar waktunya di jalanan (Armai, 2002). Menurut hasil Lokakarya Nasional Anak
Jalanan yang diselenggarakan oleh Departemen Sosial pada bulan Oktober 1995, anak jalanan
adalah anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran
di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya (Ismudiyati, 2003). Departemen Sosial RI (2001)
menyebutkan bahwa jumlah anak jalanan di Indonesia yang terbesar adalah di provinsi Jawa
Timur Sebanyak 13.136 anak, terbesar kedua Nusa Tenggara Barat sebanyak 12.307 anak, dan
ketiga Nusa Tenggara Timur sebanyak 11.889 anak.
Pona (Irawati, 2001) menyebutkan secara umum ada dua faktor yang mempengaruhi anak
atau remaja menjadi anak jalanan, yakni faktor mikro dan makro. Faktor yang bersifat mikro
bersumber dari lingkungan sosial anak, terutama pengaruh problem keluarga dan pengaruh
teman sebaya. Secara makro, adanya fenomena anak jalanan terkait erat dengan kondisi sosioekonomi secara struktural serta kebijakan kesejahteraan anak yang belum menyentuh kebutuhan
anak dan dapat melindungi hak-hak anak.
Surbakti (1997) berdasarkan kajian lapangan, secara garis besar anak jalanan dibedakan
dalam tiga kelompok. Pertama, children on the street, yakni anak-anak yang mempunyai
kegiatan ekonomi di jalan, namun masih mempunyai hubungan yang kuat dengan orang tua
mereka. Sebagian penghasilan mereka di jalan diberikan kepada orang tuanya. Kedua, children
of the street, yakni anak-anak yang berpartisipasi penuh di jalanan, baik secara sosial maupun
ekonomi. Beberapa di antara mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tuanya, tetapi

frekuensi pertemuan mereka tidak menentu. Ketiga, children from families of the street, yakni
anak-anak yang berasal dari keluarga yang hidup di jalanan.
Hidup di jalanan pada dasarnya bukanlah pilihan yang baik, terutama bagi anak-anak.
Banyak tantangan yang harus mereka hadapi, di samping suramnya masa depan mereka.
Lingkungan kehidupan jalanan sangat keras dan seringkali berimbas pada perilaku negatif anak
jalanan. Perilaku negatif yang sering dilakukan oleh anak jalanan sangat bermacam-macam.
Salah satu perilaku negatif anak jalanan yaitu memakai narkoba. Narkoba seakan merupakan
keadaan yang tak terhindarkan lagi bagi mereka. Narkoba seakan merupakan keadaan yang tak
terhindarkan lagi bagi mereka. Mereka menjadi lebih dewasa dari umurnya karena sering
melakukan hal-hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya sebagai anak-anak.
Kecenderungan anak jalanan untuk berprilaku negatif yang cukup besar ini bisa disebabkan
karena mereka ingin cepat dibilang dewasa. Kedewasaan di kalangan mereka dianggap sebagai
lambang kejantanan dan kematangan berusaha.
Hasil wawancara peneliti dengan salah satu anak jalanan yang berinisial I (16 Tahun) :
...Semua anak jalanan itu mas, pasti udah pernah nyoba yang namanya narkoba. Narkoba
itu bermacam-macam mas dan yang sering digunakan anak jalanan itu biasanya ganja, double
L, dextro ,lem kayu , thiner atau perekat. Menggunakan narkoba pastinya ketagihan mas, tetapi
anak jalanan ada yang terus memakai narkoba dan ada yang berhenti menggunakannya.
(Wawancara Peneliti, 17 April 2012).
Melalui wawancara yang dilakukan oleh peneliti, diketahui kebanyakan anak jalanan
menggunakan narkoba mengingat tekanan hidup yang mereka alami di jalanan. Narkoba yang
sering digunakan seperti ganja, double L, dextro, lem kayu, thiner atau perekat. Menggunakan
narkoba sudah dianggap wajar bagi kalangan anak jalanan itu sendiri. Namun dari wawancara
tersebut juga diungkapkan ada juga sebagian dari anak jalanan yang berhenti menjadi pecandu

narkoba. Berhenti menggunakan narkoba tidaklah mudah, namun adanya motivasi yang dialami
oleh anak jalanan membuat anak jalanan dapat berhenti menggunakan narkoba.
Kata motivasi berasal dari bahasa latin Movere yang artinya menimbulkan pergerakan.
Motivasi itu berarti membangkitkan motif, membangkitkan daya gerak, menggerakkan seseorang
atau diri sendiri untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu (Sobur,
2009). Motivasi adalah suatu proses tingkah laku manusia yang dibangkitkan dan diarahkan oleh
kebutuhan (Maslow, 1993). Maslow (1993) menjelaskan motivasi terdapat lima kebutuhan yang
bertingkat yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, akan penghargaan dan aktualisasi.
Seseorang tidak mudah memenuhi kebutuhannya. Apabila kebutuhan itu tidak terpenuhi maka
seseorang akan berusaha untuk memenuhinya dengan cara apapun yang bisa dilakukan.
Berdasarkan permasalahan dan fenomena diatas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji dan
mengetahui bagaimana tahap motivasi kebutuhan anak jalanan saat berhenti menggunakan
narkoba berdasarkan teori Abraham Maslow.

Landasan Teori
A. Motivasi
1. Pengertian Motivasi
Secara etimologis, motif berasal dari kata motion, yang berarti gerakan atau sesuatu
yang bergerak. Jadi istilah motif erat kaitannya dengan gerak, yakni gerakan yang
dilakukan oleh manusia disebut juga dengan perbuatan atau tingkah laku. Sobur (2009)
menjelaskan bahwa motif dalam psikologi berarti rangsangan, dorongan, atau
pembangkit tenaga bagi terjadinya suatu tingkah laku.

Motivasi merupakan istilah yang lebih umum yang menujuk pada seluruh proses
gerakan, termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul dalam diri individu,
tingkah laku yang ditimbulkannya dan tujuan atau akhir dari gerakan atau perbuatan.
Motivasi itu berarti membangkitkan motif, membangkitkan daya gerak, menggerakkan
seseorang atau diri sendiri untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai suatu tujuan
tertentu (Sobur, 2009). Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan
kegigihan perilaku. Perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah,
dan bertahan lama (Santrock, 2008). Motivasi adalah suatu arahan, dorongan, dan
sejumlah usaha yang dikeluarkan seseorang untuk mencapai tujuan yang spesifik
(Blanchard dan Thacker, 2010).
2. Jenis Motivasi
Djamarah (2002) menyebutkan motivasi terbagi menjadi 2 (dua) jenis yaitu motivasi
intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
a. Motivasi Instrinsik
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak
perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan
untuk melakukan sesuatu. Motivasi intrinsik datang dari hati sanubari umumnya
karena kesadaran yang timbul dari dalam diri.
Djamarah (2002) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi
intrinsik yaitu :
1) Kebutuhan
Seseorang melakukan aktivitas (kegiatan) karena adanya faktor-faktor
kebutuhan baik biologis maupun psikologis.

2) Harapan
Seseorang dimotivasi oleh karena keberhasilan dan adanya harapan
keberhasilan bersifat pemuasan diri seseorang, keberhasilan dan harga diri
meningkat dan menggerakkan seseorang ke arah pencapaian tujuan.
3) Minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keinginan pada suatu hal tanpa
ada yang menyuruh.
b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya
perangsang atau pengaruh dari orang lain sehingga seseorang berbuat sesuatu
(Djamarah, 2002).
Djamarah (2002) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi
ekstrinsik adalah :
1) Dorongan Keluarga
Dorongan keluarga merupakan desakan atau anjuran yang berasal dari sanak
saudara atau kaum kerabat.
2) Lingkungan
Lingkungan adalah tempat dimana seseorang tinggal. Lingkungan dapat
mempengaruhi seseorang sehingga dapat termotivasi untuk melakukan sesuatu.
Selain keluarga, lingkungan juga mempunyai peran yang besar dalam memotivasi
seseorang dalam merubah tingkah lakunya. Dalam sebuah lingkungan yang
hangat dan terbuka, akan menimbulkan rasa kesetiakawanan yang tinggi.

3) Imbalan
Seseorang dapat termotivasi karena adanya suatu imbalan sehingga orang
tersebut ingin melakukan sesuatu.
3. Motivasi Kebutuhan Maslow
Maslow (1993) menjelaskan lima tingkat kebutuhan dalam hierarki maslow tersebut
diatas adalah sebagai berikut:
a. Kebutuhan Fisiologis
Berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan utama, dasar dan esensial yang harus
dipenuhi oleh tiap manusia untuk mempertahankan diri sebagai makhluk, kebutuhan ini
mencakup misalnya udara, makan, minum, pakaian, tempat tinggal atau penginapan,
istirahat, pemenuhan seksual.
b. Kebutuhan Keamanan
Apabila kebutuhan fisiologis cukup dipenuhi, maka kebutuhan pada tingkatan berikut
yang lebih tinggi yakni kebutuhan akan keamanan, mulai mendominasi kebutuhan
manusia. Kebutuhan keamanan harus dilihat dalam arti luas, tidak hanya dalam arti
keamanan fisik akan tetapi keamanan fisiologi. Kebutuhan ini berkaitan dengan
kebutuhan akan rasa aman dan proteksi diri, ancaman atau gangguan dari luar. Kebutuhan
ini mencakup misalnya keamanan, keselamatan, kesehatan, perlindungan, kompetensi,
stabilitas.
c. Kebutuhan Sosial
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan manusia untuk menjadi bagian dari kelompok,
mencintai, dicintai orang lain dan bersahabat. Manusia pada dasarnya selalu ingin hidup
berkelompok dan tidak seorangpun manusia ingin hidup menyendiri ditempat terpencil.

10

Karena manusia adalah makhluk sosial sudah jelas menginginkan kebutuhan-kebutuhan


sosial.
d. Kebutuhan Penghargaan
Kebutuhan ini berkaitan dengan keinginan manusia, untuk dihormati dan dihargai
orang lain sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dan ingin punya status,
pengakuan serta penghargaan prestise timbul karena adanya prestasi, tetapi tidak
selamanya demikian. Prestasi dan status dimanifestasikan oleh banyak hal yang
digunakan sebagai simbol status. Kebutuhan ini artinya adalah respek diri dan respek
orang lain, mencakup misalnya penghargaan, pengakuan, status, prestise, kekuasaan dan,
perasaan dapat menyelesaikan sesuatu.
Keinginan atau hasrat kompetitif untuk menonjol, untuk melampaui prestasi orang
lain lebih dikatakan merupakan sebuah sifat universal manusia. Kebutuhan pokok akan
penghargaan ini, apabila dimanfaatkan secara tepat dapat menyebabkan timbulnya kinerja
keorganisasian yang luar biasa. Kebutuhan akan penghargaan ini jarang sekali terpenuhi
secara sempurna bahkan kita dapat mengatakan bahwa mereka kiranya tidak pernah
terpuaskan.
e. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang sehingga
membutuhkan penyaluran kemampuan dan potensi diri dalam bentuk nyata. Artinya tiap
orang ingin tumbuh membangun pribadi dan mencapai hasil. Kebutuhan aktualisasi diri
adalah kebutuhan yang menggunakan kecakapan, kemampuan, ketrampilan dan potensi
optimal untuk mencapai prestasi yang sangat memuaskan yang sulit dicapai orang lain.
Maslow mengatakan bahwa lima kebutuhan tersebut secara hierarki dari tingkat yang

11

sangat dasar hingga tingkat yang tinggi. Artinya bila kebutuhan tingkat dasar telah
terpenuhi barulah seseorang akan memenuhi kebutuhan pada tingkat diatasnya yang lebih
tinggi dan seterusnya yang mengarah pada kebutuhan tingkat tinggi. Jika suatu tingkatan
kebutuhan belum terpenuhi maka motif seseorang ditunjukan untuk memenuhi tingkatan
kebutuhan tersebut dan kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi belum menimbulkan
motivasi.
B. Anak Jalanan
1. Pengertian
Anak jalanan adalah anak-anak yang berada dibawah usia 18 tahun, yang
menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan (Armai, 2002). Menurut hasil
Lokakarya Nasional Anak Jalanan yang diselenggarakan oleh Departemen Sosial pada
bulan Oktober 1995, anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan
waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum
lainnya (Ismudiyati, 2003).
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang dimaksud dengan anak jalanan adalah
anak-anak yang karena sebab-sebab tertentu pada orang tuanya dengan sehari-hari berada
di jalanan untuk mencari nafkah (Khumas, 1999). Dalam buku Intervensi Psikososial
(Depsos, 2001), anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya
untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya.
2. Faktor-Faktor Penyebab Anak Menjadi Anak Jalanan
Pona (Irawati, 2001) menyebutkan secara umum ada dua faktor yang mempengaruhi
anak menjadi anak jalanan

12

a. Faktor Mikro
Faktor yang bersifat mikro bersumber dari lingkungan sosial anak, terutama
pengaruh problem keluarga dan pengaruh teman sebaya.
b. Faktor Makro
Faktor makro bersumber dari kondisi sosio-ekonomi secara struktural serta
kebijakan kesejahteraan anak yang belum menyentuh kebutuhan anak dan dapat
melindungi hak-hak anak.
C. Narkoba
1. Pengertian
Narkoba adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti perasaan,
pikiran, suasana hati serta perilaku jika masuk ke dalam tubuh manusia baik dengan cara
dimakan, diminum, dihirup, suntik, intravena, dan lain sebagainya (Alifia, 2008).
Penggunaan
sepengetahuan

narkoba
dan

adalah

pengawasan

orang
dokter.

yang

menggunakan

Penyalahgunaan

narkoba

adalah

orang

dengan
yang

menggunakan narkoba tanpa sepengetahuan dan pengawasan dokter. Ketergantungan


adalah gejala dorongan untuk menggunakan narkotika secara terus menerus, toleransi dan
gejala putus narkoba apabila penggunaan dihentikan (Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 22 tahun 1997).
2. Jenis Narkoba
Narkoba dibagi dalam tiga jenis yaitu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.
a. Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman
baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau

13

perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri,


dan dapat menimbulkan ketergantungan, atau ketagihan yang sangat berat (UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1997). Narkotika terdiri dari 3 golongan
yaitu :
1) Narkotika Golongan I
Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, dan
tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan
ketergantungan, (Contoh: heroin/putauw, kokain, ganja).
2) Narkotika Golongan II
Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan
dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan (Contoh : morfin,
petidin).
3) Narkotika Golongan III
Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi
atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan
mengakibatkan ketergantungan (Contoh : kodein).
b. Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis, bukan narkotika
yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku, digunakan untuk
mengobati gangguan jiwa (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun
1997). Psikotropika dibedakan dalam golongan-golongan sebagai berikut.

14
1) Psikotropika Golongan I

Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu


pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat
kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. (Contoh : ekstasi, shabu, LSD)
2) Psikotropika Golongan II

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi,


dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta menpunyai potensi kuat mengakibatkan
sindroma ketergantungan. (Contoh amfetamin, metilfenidat atau ritalin)
3) Psikotropika Golongan III

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi


dan untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang
mengakibatkan sindroma ketergantungan (Contoh : pentobarbital, Flunitrazepam).
4) Psikotropika Golongan IV

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam


terapi dan untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan
mengakibatkan sindrom ketergantungan (Contoh : diazepam, bromazepam
(lexotan), Fenobarbital, klonazepam, klordiazepoxide, nitrazepam, artan (LL),
Dextrometrophan (Dextro) .
c. Zat Adiktif Lainnya
Zat adiktif lainnya adalah zat zat selain narkotika dan psikotropika yang dapat
menimbulkan ketergantungan pada pemakainya, diantaranya adalah :

15

1) Minuman berakohol
Mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan syaraf
pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari dalam
kebudayaan tertentu. Jika digunakan sebagai campuran dengan narkotika atau
psikotropika, memperkuat pengaruh obat/zat itu dalam tubuh manusia.
Ada 3 golongan minuman berakohol, yaitu :
a) Golongan A: kadar etanol 1-5%, (Bir)
b) Golongan B : kadar etanol 5-20%, (Berbagai jenis minuman anggur)
c) Golongan C : kadar etanol 20-45 %, (Whiskey, Vodca, TKW, Manson House,
Johny Walker, Kamput.)
2) Inhalansia (gas yang dihirup) dan Solven (zat pelarut)
Zat yang mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada
berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor dan sebagai pelumas mesin.
Yang sering disalah gunakan, antara lain : Lem, thinner, penghapus cat kuku,
bensin.
3) Tembakau
Pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat.
Pada upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan
alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan,
karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA
lain yang lebih berbahaya. (Alifia, 2008).

16

3. Faktor-Faktor Penyebab Penggunaan Narkoba


a. Reaksi Frustasi Negatif atau Kegonjangan Jiwa
Alifia (2008) menjelaskan bahwa reaksi frustasi negatif atau kegonjangan jiwa
timbul karena secara kejiwaan tidak mampu menghadapi atau beradaptasi dengan
keadaan zaman yang serba modern dan kompleks sehingga menimbulkan reaksi yang
keliru atau tidak cocok.
b. Perasaan Egois atau Emosional pada Anak
Perasaan egois merupakan sifat yang memiliki setiap orang. Sifat ini sering
mendominasi perilaku seseorang dengan tanpa sadar, begitu juga dengan orang yang
terlibat dengan narkoba atau para pengguna dan pengedar narkoba. Suatu waktu
ketika rasa egois dapat mendorong anak untuk memiliki dan atau menikmati secara
penuh apa yang dapat diperoleh dari narkoba (Alifia, 2008).
c. Kehendak Ingin Bebas
Kehendak bebas adalah merupakan salah satu sifat alamiah manusia, setiap
manusia tentu ingin memiliki kebebasan yang penuh tanpa di kekang oleh suatu
apapun, apalagi anak yang menjelang remaja sangat ingin memiliki kehendak yang
bebas, tidak ingin diatur atau dikekang oleh suatu peraturan. Mereka beranggapan
bahwa aturan akan menyebabkan mereka terkekang, tidak ada lagi kehendak bebas.
Kehendak ingin bebas ini muncul dan terwujud ke dalam perilaku setiap kali
menghadapi himpitan dalam melakukan interaksi dengan orang lain sehubungan
dengan narkoba, maka akan dengan sangat mudah mereka terjerumus pada suatu
tindak pidana narkoba (Alifia, 2008).

17

d. Rasa Keingintahuan
Perasaan ini lebih cenderung dominan melekat pada anak-anak, perasaan tidak
ingin terbatas pada hal-hal yang positif tetapi juga kepada hal-hal yang sifatnya
negatif. Rsa ingin tahu mendorong anak-anak menggunakan narkoba dari ingin cobacoba sehingga menimbulkan ketergantungan dan menyebabkan anak menjadi susah
terlepas dari narkoba (Alifia, 2008).
e. Tersedianya Narkoba
Permasalahan penyalahgunaan dan ketergantungan narkoba tidak akan terjadi bila
tidak ada narkobanya itu sendiri. Dalam pengamatan ternyata banyak tersedianya
narkoba dan mudah diperoleh. Gunawan (2006) menjelaskan bahwa faktor
tersedianya narkoba adalah ketersediaan dan kemudahan memperoleh narkoba juga
menjadi faktor penyabab banyaknya pemakai narkoba.
f. Lingkungan Keluarga
Menurut Wina (Alifia, 2008) keluarga merupakan satu organisasi yang paling
penting dalam kelompok sosial dan keluarga merupakan lembaga didalam masyarakat
yang paling utama bertanggung jawab untuk menjamin kesejahteraan sosial dan
biologis anak manusia. Penyebab penggunaan narkoba salah satunya adalah keluarga
dengan ciri-ciri sebagai berikut: keluarga yang memiliki sejarah (termasuk orang tua)
pengguna narkoba, keluarga dengan konflik yang tinggi, keluarga dengan orang tua
yang otoriter dan keluarga tidak harmonis.

18

g. Lingkungan Masyarakat
Kondisi lingkungan masyarakat yang tidak sehat atau rawan, dapat menjadi faktor
terganggunya perkembangan jiwa kearah perilaku yang menyimpang yang pada
akhirnya terlibat penyalahgunaan atau ketergantungan narkoba. Lingkungan
masyarakat yang rawan tersebut antara lain :
1) Semakin banyaknya penggangguran, anak putus sekolah dan anak jalan.
2) Tempat-tempat hiburan yang buka hingga larut malam bahkan hingga dini hari
dimana sering digunakan sebagai tempat transaksi narkoba.
3) Kebut-kebutan, coret-coretan pengerusakan tempat-tempat umum.
4) Tempat-tempat transaksi narkoba baik secara terang-terangan maupun sembunyisembunyi (Alifia, 2008).
h. Faktor Teman Sebaya
Teman sebaya memiliki pengaruh yang paling dahsyat terhadap penyalahgunaan
narkoba di berbagai remaja. Anak dari keluarga baik-baik, nilai sekolah baik,
lingkungan baik cenderung terlibat narkoba jika teman-temannya menggunakan
narkoba (Alifia, 2008).

Metode
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.
Fenomenologi merupakan suatu pendekatan dengan berorientasi untuk memahami, menggali,
dan menafsirkan arti dari peristiwa-peristiwa, fenomena-fenomena dan hubungan dengan orangorang yang biasa dalam situasi tertentu (Iskandar, 2009). Pada penelitian ini, subyek penelitian
yang digunakan sebanyak 3 anak jalanan yang diasuh oleh JKJT (Jaringan Kemanusian Jawa

19

Timur) dengan jenis kelamin laki-laki yang memutuskan untuk berhenti menggunakan narkoba.
Penggalian data dilakukan dengan wawancara yang dibagi menjadi primer dan sekunder,
observasi dan dokumentasi. Wawancara primer dilakukan langsung dengan subyek penelitian,
sedangkan wawancara sekunder dilakukan kepada orang terdekat subyek penelitian. Analisis
data dilakukan dengan menggunakan pengkodean (coding) berdasarkan data yang telah
diperoleh dan kategorikan berdasarkan tema-tema tertentu.

Hasil
Berdasarkan data yang telah diperoleh selama penelitian, terdapat faktor penyebab anak
menjadi anak jalanan. Subyek 1 menjadi anak jalanan dikarenakan faktor mikro yang merupakan
faktor anak berhubungan dengan keluarganya. Subyek 1 turun ke jalan karena ada permasalahan
dengan ibunya setalah ibunya menikahi temannya. Permasalahan yang dialami subyek 1 yaitu
perlakuan kasar, disuruh-suruh, dan tidak boleh keluar atau bermain. Subyek 2 menjadi anak
jalanan dikarenakan faktor mikro yang merupakan faktor anak berhubungan dengan keluarganya.
Permasalahan yang dialami subyek 2 yaitu adanya rasa malu dengan tetangga akibat bapaknya
sering menyiksa ibunya dan adanya perlakuan kasar dari bapaknya. Subyek 3 menjadi anak
jalanan dikarenakan faktor makro yang merupakan faktor kondisi sosial ekonomi. Permasalahan
yang dialami subyek 3 yaitu mencari nafkah buat keluarga karena ibunya hanya sebagai
pembantu rumah tangga.
Hidup di jalanan pada dasarnya bukanlah pilihan yang baik, terutama bagi anak-anak.
Banyak tantangan yang harus mereka hadapi, di samping suramnya masa depan mereka.
Lingkungan kehidupan jalanan sangat keras dan seringkali berimbas pada perilaku negatif anak
jalanan. Perilaku negatif yang sering dilakukan oleh anak jalanan sangat bermacam-macam.

20

Salah satu perilaku negatif anak jalanan yaitu memakai narkoba. Terdapat faktor penyebab anak
menggunakan narkoba.
Subyek 1 menggunakan narkoba karena faktor reaksi frustasi, rasa keingintahuan, dan
tersediannya narkoba. Reaksi frustasi ini timbul karena adanya permasalahan dengan ibunya.
Rasa keingintahuan yang dimiliki membuat subyek 1 mencoba narkoba. Ketersedian narkoba
membuat subyek 1 lebih mudah dalam menggunakan narkoba. Subyek 2 menggunakan narkoba
karena faktor reaksi frustasi dan pengaruh teman. Reaksi frustasi ini timbul karena adanya
permasalahan dirumah yang selalu ribut sampai tetangga-tetangga mengetahui hal tersebut serta
ajakan teman dijalanan membuat subyek 2 menggunakan narkoba. Subyek 3 menggunakan
narkoba karena faktor reaksi frustasi dan pengaruh teman. Reaksi frustasi ini timbul karena
adanya permasalahan yaitu ibunya menghilang, rumahnya dijual dan ajakan teman membuat
subyek 3 menggunakan narkoba.
Menggunakan narkoba sudah dianggap wajar bagi kalangan anak jalanan itu sendiri. Namun
ada sebagian dari anak jalanan yang berhenti menjadi pecandu narkoba. Berhenti menggunakan
narkoba tidaklah mudah, namun adanya motivasi yang dialami oleh anak jalanan membuat anak
jalanan dapat berhenti menggunakan narkoba. Motivasi yang dilihat akan dikaji dengan teori
motivasi Maslow karena motivasi berhenti narkoba pasti berbeda-beda antara satu dengan yang
lainnya dan juga tahap motivasi berhenti narkoba pasti berbeda-beda antara satu dengan yang
lainnya.
Subyek 1 berhenti menggunakan narkoba karena adanya kebutuhan sosial dari ibunya.
Ibunya tidak menganggap subyek 1 anak lagi apabila masih menggunakan narkoba. Subyek 2
berhenti menggunakan narkoba karena adanya kebutuhan sosial dari lingkungannya. Subyek 2
dijauhi atau bisa dibilang dimusuhi oleh teman-teman JKJT dan relawan-relawan JKJT membuat

21

subyek termotivasi untuk berhenti menggunakan narkoba. Subyek 3 berhenti menggunakan


narkoba karena kebutuhan keamanan. Subyek 3 merasa takut tertangkap dengan teman-teman
pimpinan JKJT yang berprofesi sebagai polisi.

Daftar Pustaka
Abraham M. Maslow. 1993. Motivasi dan Kepribadian, Teori Motivasi dengan Pendekatan
Hierarki Kebutuhan Manusia. Jakarta: Midas Surya Grafindo.
Alifia, U. 2008. Apa Itu Narkotika dan Napza. PT Bengawan Ilmu, Semarang.
Armai, A. 2002. Upaya Pemberdayaan Anak Jalanan. Jakarta: Majalah Pemeriksa.
Blanchard, P.N & Thacker, J. W. 2010. Effective Training : fourth edition. New Jersey : Pearson
Education,Inc,.
Departemen Sosial Republik Indonesia. 2001. Intervensi Psikososial. Jakarta: Direktorat
Kesejahteraan Anak, Keluarga dan Lanjut Usia.
Djamarah. 2002. Teori Motivasi, edisi 2 (ed-2), Jakarta : PT. Bumi Aksara
Gunawan, W. 2006. Keren Tanpa Narkoba. Jakarta: PT Grasindo.
Hawari, D. 2009. Penyalahgunaan dan Ketergantungan Napza. Balai Penerbitan FKUI, Jakarta.
Irawati, D. 2001. Pengaruh Pengalaman Traumatik Masa Terhadap Perilaku Delinkuen Pada
Anak Jalanan. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi UMS.
Iskandar. 2009. Metodologi penelitian kualitatif : aplikasi untuk penelitian pendidikan, hukum,
ekonomi dan manajemen, sosial, humaniora, politik, agama dan filsafat. Jakarta : Gaung
Persada.
Ismudiyati, Y.S. 2003. Perilaku Coping dan Depresi Anak Jalanan di Kota Bandung Ditinjau dari
Dukungan Sosial dan Lamanya Mendapatkan Pelayanan di Rumah Singgah. Jurnal
Psikologi, Vol.2, No.3, Hal. 75-87. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana UGM.
Khumas, A. 1999. Anak Jalanan Dan Model-Model Penangannya. Jurnal Psikologi, Vol.3, No.2,
Hal. 34-48. Surakarta: Fakultas Psikologi UMS.
Santrock. 2008. Psikologi pendidikan Ed. 3 (terjemahan). Jakarta: Salemba Humanika.
Sobur, A. 2009. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

22

Surbakti. 1997. Prosiding Lokakarya Persiapan Survei Anak Rawan: Studi Rintisan di
Kotamadya Bandung,Jakarta, Kerjasama BPS dan UNICEF.
Wahyu, S. 2008. 100 Persen Anak Jalanan Pernah Ditawarri Narkoba.
Availablefrom:http://nasional.kompas.com/read/2008/10/24/18142243100.persen.anak.ja
lanan.pernah.ditawari.narkoba.html. [Diakses 30 maret 2012]