Anda di halaman 1dari 10

TUGAS MAKALAH

PUSAT KONTROL PERNAFASAN PADA MANUSIA

Tugas Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Patofisiologi


Dosen Pengampu Intan Batubara, S. Kep,. Ns

Disusun Oleh :
1. Frizka Mulyani

P 13 025

2. Sri Setyaningsih

P 13 053

3. Dita Purnamasari

P 13 016

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2014

PUSAT KONTROL PERNAFASAN PADA MANUSIA

A. Pengaturan Pernafasan
Seperti pada jantung, tubuh kita dilengkapi pengaturan ritmis pernapasan
secara kontinu untuk menunjang kehidupan. Otot jantung harus senantiasa
berkontraksi dan relaksasi untuk mendapatkan dan melepas darah ke jaringan.
Begitu juga dengan napas kita di mana otot-otot pernapasan berkontraksi saat
inspirasi dan berelaksasi saat ekspirasi. Bedanya pada jantung gerakan ritmis
dipicu oleh sel-sel di jantung itu sendiri sedangkan gerakan ritmis paru dipicu
oleh aktivitas siklik saraf pada otak, bukan pada otot pernapasan atau paru itu
sendiri.( Ganong, 2002)
1. Pusat Kontrol Pernapasan
Pusat pengaturan sistem pernapasan tubuh kita dapat dibagi menjadi 3
bagian, yaitu Pusat Respiratori Medullary, Pusat Repiratori-Pons, dan PreBotzinger Complex.( Ganong, 2002)
Pada
a. Pusat Respiratori Medullary dibagi lagi menjadi 2 kelompok: Dorsal
1) Respiratori Group (DRG)
Yaitu kelompok respiratori yang terletak di bagian dorsal medulla
yang terutama menyebabkan inspirasi. Saat DRG terpicu maka
terjadilah inspirasi dan saat DRG tak terpicu maka terjadilah
ekspirasi. Prosesnya adalah ketika neuron inspirasi, yang serat
decsendensnya berakhir di neuron motorik yang mempersarafi otot
inspirasi seperti diafragma, memperlihatkan aktivitas pemacu dan
secara repetitif memngalami potensial aksi spontan. Pada pernapasan
normal permulaannya lemah dan meningkat secara perlahan-lahan
lalu

secara

tiba-tiba

berakhir

sehingga

terjadi

penghentian

perangsangan diafragma dan menimbulkan daya lenting elastisitas


dinding dada dan paru-paru untuk menghasilkan ekspirasi.

2) Ventral Respiratori Group (VRG)


Yaitu kelompok respiratori yang terletak di ventrolateral medulla
yang dapat menyebabkan inspirasi dan ekspirasi. Bergantung pada
kelompok mana yang dirangsang. Dalam keadaan normal VRG
inaktif. Oleh karena itu pernapasan tenang yang normal hanya
ditimbulkan oleh sinyal inspirasi yang berulang-ulang dari kelompok
pernapasan dorsal yang terutama dijalarkan ke diafragma, dan
ekspirasi merupakan hasil dari daya lenting elastisitas paru dan
rangka toraks.
b. Pada Pusat Respiratori Pons dibagi lagi menjadi 2 kelompok:
1) Pneumotaksis Center
Daerah ini berfungsi untuk mempengaruhi medullary center agar
memicu inspirasi dan ekspirasi yang halus. Bagian ini mengirim
impuls ke DRG untuk menon-fungsikan saraf inspiratori sementara
untuk membatasi durasi inspirasi.
2) Apneustic Center
Bagian ini berfungsi agar saraf respiratori tetap berfungsi yang
membuat ekstra boost sehingga inspirasi bisa berlangsung terus.
Kombinasi kedua kelompok ini membuat sistem pernapasan menjadi
lebih kompleks. Tanpa pneumotaksis, bernapas hanya terjadi
inspirasi saja yang panjang tanpa proses ekspirasi.

c. Pre-Botzinger Complex
Komponen utama generator pola pengendalian pernapasan yang
berperan pada pernapasan otomatis terletak di medulla oblongata. Baik
DRG ataupun VRG bukan merupakan bagian utama generator
pengendalian pernapasan karena lesi pada salah satu kelompok tersebut
hanya

menurunkan

amplitudo

pernapasan

tetapi

tidak

menghilangkannya. Sepertinya dapat dipastikan bahwa pernapasan


berirama dimulai dari sekelompok kecil pasangan sinaps sel pemicu
pada kompleks Pre-Botzinger. Neuron pemicu ini melepaskan impuls

irama di neuron motorik nervus frenikus, yang dapat dihilangkan


melalui pemotongan antara kompleks tersebut dengan neuron motorik
tersebut. ( Ganong, 2002)
d. Refleks Inflasi Hearing Breuer
Selain mekanisme saraf yang seluruhnya bekerja dalam batang otak,
masih ada sinyal-sinyal reflex saraf yang berasal dari paru-paru untuk
membantu mengatur pernapasan. Paling penting adalah yang terletak di
bagian otot dinding bronkus dan bronkiolus seluruh paru, yaitu reseptor
regang yang menjalarkan sinyal melalui nervus vagus ke kelompok
neuron pernapasan dorsal apabila paru-paru menjadisangat tergang.
Refleks ini baru aktif sampai tidal volume besar meningkat melebihi 1
liter. Refleks ini terutama muncul sebagai mekanisme protektif untuk
mencegah inflasi paru yang berlebihan. ( Ganong, 2002)

Gambar.2 Pusat Pernafasan di Batang Otak , ( sumber : Google Images)

B. Pengaturan Kimia Pernapasan


Tujuan akhir pernapasan adalah untuk mempertahankan konsentrasi
oksigen, karbon dioksida, dan ion hydrogen dalam cairan tubuh. Kelebihan
karbon dioksida atau ion hydrogen terutama merangsang pusat pernapasan itu
sendiri, menyebabkan peningkatan sinyal inspirasi dan ekspirasi yang kuat ke
otot-otot pernapasan.di lain pihak oksigen tidak mempunyai efek langsung
yang bermakna terhadap pusat pernapasan di otak dalam pengaturan
pernapasan. Oksigen malah bekerja hampIr seluruhnya pada kemoreseptor
perifer yang terletak di aorta dan badan-badan karotis, dan kemudian
menjalarkan sinyal saraf yang sesuai ke pusat pernapasan untuk mengatur
pernapasan. (Sherwood, 2004)
1. Pengaturan Karbon Dioksida dan Ion Hidrogen secara Langsung pada
Aktivitas Pusat Pernapasan
Tidak satu pun dari daerah kelompok respiratori yang dipengaruhi secara
langsung oleh perubahan konsentrasi karbondioksida atau ion hydrogen
dalam darah. Justru area tambahan yaitu area kemosensitif yang bersifat
sensitive di bawah permukaan ventral medulla. Area ini sangat sensitive
terhadap perubahan PCO2, konsentrasi ion hydrogen, dan kemudian
merangsang bagian lain pada pusat pernapasan.
Ada satu hal yang menarik di sini. Neuron-neuron sensoris pada area
kemosensitif terutama dirangsang oleh ion hydrogen. Kenyataannya
diketahui bahwa ion hydrogen hanya penting bila merangsang neuronneuron ini secara langsung. Namun ion H+ tak mudah melewati sawar darah
otak atau sawar darah cairan serebrospinal. Oleh karena itu perubahan
konsentrasi ion H+ dalam darah ternyata mempunyai efek yang kurang
besar pada perangsangan neuron-neuron kemosensitif daripada efek
perubahan karbon dioksida. (Sherwood, 2004)

2. Efek Karbon Dioksida Darah Pada Perangsangan Area Kemosensitif

Walaupun karbon dioksida mempunyai sedikit efek perangsangan


langsung terhadap neuron-neuron area kemosensitif, tetapi karbon dioksida
sangat berpengaruh pada efek tidak langsung. Karbon dioksida akan
bereaksi dengan cairan jaringan untuk membentuk asam karbonat. Asam ini
kemudian berdisosiasi menjadi ion bikarbonat dan ion hydrogen; dan ion
hydrogen berpengaruh secara langsung.
Karbon dioksida lebih kuat merangsang neuron-neuron kemosensitif dari
pada ion hydrogen karena sawar darah otak dan sawar darah cairan
serebrospinal hamper seluruhnya impermeable terhadap ion hydrogen,
sedangkan karbon dioksida melewati sawar ini seperti tidak ada. Akibatnya
PCO2 darah meningkat, maka PCO cairan intertisial medulla dan cairan
serebrospinal juga ikut meningkat. Dalam kedua cairan ini karbon dioksida
segera bereaksi dengan air untuk membentuk ion hydrogen. Dengan
demikian lebih banyak ion hydrogen dilepaskan ke dalam area sensoris
kemosensitif pernapasan bila konsentrasi karbondioksida darah meningkat
daripada bila konsentrasi hydrogen yang meningkat.
Karena sebab itu maka aktivitas pusat pernapasan lebih dipengaruhi oleh
perubahan karbon dioksida dari pada perubahan ion hydrogen. (Sherwood,
2004)
C. Sistem Kemoreseptor Perifer Untuk Mengatur Aktivitas Pernapasan
1. Peranan Oksigen Dalam Pengaturan Pernapasan
Selain pengaturan pernapasan oleh pusat pernapasan, masih ada
mekanisme lain yang tersedia untuk mengatur pernapasan. Mekanisme ini
adalah system kemoreseptor perifer. Reseptor ini terletak di luar otak dan
reseptor ini khususnya penting untuk mendeteksi perubahan oksigen dalam
darah, walau juga berespon terhadap perubahan karbondioksida dan ion
hydrogen. Kemoreseptor kemudian menjalarkan sinyal saraf ke pusat
pernapasan di otak untuk membantu mengatur aktivitas pernapasan.
Sebagian besar kemoreseptor terletak di badan karotis dan badan aorta.
Badan karotis terletak bilateral pada percabangan arteri karotis komunis dan

serat saraf aferennya berjalan melalui nervus Hering ke nervus glosofaring


dan kemudian ke area pernapasan dorsal di medulla.
Badan aorta terletak di sepanjang arkus aorta di mana serat aferennya
berjalan melalui nervus vagus juga ke area pernapasan dorsal. (Sherwood,
2004)

2. Perangsangan Kemoreseptor Akibat Penurunan Oksigen Arteri


Perubahan konsentrasi oksigen arteri tidak mempunyai efek rangsangan
langsung pada pusat pernapasan, tetapi bila konsentrasi oksigen darah
menurun di bawah normal, kemoreseptor menjadi sangat terangsang.
(Sherwood, 2004)

3. Efek Karbon Dioksida dan Konsentrasi Ion Hidrogen Pada Aktivitas


Kemoreseptor
Peningkatan konsentrasi karbondioksida atau konsentrasi ion hydrogen
juga merangsang kemoreseptor, dan dengan cara ini secara tidak langsung
meningkatkan aktivitas pernapasan. (Sherwood, 2004)

4. Mekanisme Dasar Perangsangan Kemoreseptor oleh Kekurangan


Oksigen
Belum diketahui secara pasti bagaimana PO2 yang rendah merangsang
ujung-ujung saraf bebas dalam badan karotis dan badan aorta. Tetapi badanbadan ini mempunyai banyak macam sel yang serupa kelenjar yang sangat
karakteristik, disebut sel glomus, yang bersinaps secara langsung maupun
tak langsung dengan ujung-ujung saraf. Sel-sel ini mungkin berfungsi
sebagai kemoreseptor dan kemudian merangsang ujung-ujung saraf.
(Sherwood, 2004)

D. Pertukaran Gas
Bernapas merupakan sebuah kegiatan terus menerus yang bertujuan
menyediakan O2 untuk diserap jaringan melalui darah dan mengeluarkan CO2
dari darah. Pertukaran antara CO2 dengan O2 terjadi secara difusi pasif
sederhana mengikuti penurunan gradien tekanan parsial. Tekanan parsial
adalah setiap tekanan yang secara independen ditimbulkan oleh suatu gas
tertentu di dalam campuran gas. Gas yang larut dalam cairan, seperti darah,
juga mempunyai tekanan parsial. Sehingga dalam proses difusi ini, terjadi
perbedaan gradien tekanan parsial antara tekanan parsial alveolus dengan
tekanan parsial darah yang memasuki kapiler paru. Tingginya tekanan parsial
O2 pada alveolus mendorong oksigen tersebut berpindah dari alveolus menuju
ke darah. Begitu pula juga sebaliknya dengan yang terjadi pada CO2. Karena
pada dasarnya setiap O2 dan CO2 yang larut dalam darah yang kembali ke
kapiler paru masih ada yaitu sebesar 40 mmHg yang berguna untuk cadangan
oksigen untuk jaringan dan juga untuk keseimbangan asam basa pada tubuh.
(Sherwood, 2004)
E. Transportasi Gas

Dalam darah okigen, yang diambil dari paru dan digunakan sebagai
bahan bakar metabolisme jaringan, akan menjadi dua bentuk yaitu oksigen
larut secara fisik sebesar 1,5% sedangkan sisanya diangkut bersama dengan
hemoglobin. Oksigen akan berikatan struktur hem yang terdapat pada
hemoglobin.

Hb

yang

berikatan

dengan

oksigen

disebut

dengan

oksihemoglobin (HbO2).
Sedangkan pada CO2, akan berikatan pula dengan hemoglobin sehingga
membentuk ikatan karbamino hemoglobin (HbCO2). Namun, tidak hanya itu,
proses transportasi CO2 menggunakan cara yang terpenting yaitu dengan
bikarbonat (HCO3-) yang prosesnya berasal dari CO2 yang akan berikatan
dengan H2O yang akan menjadi HCO3- yang terjadi dalam sel darah merah
yang dibantu oleh enzim eritrosit karbonat anhidrase. Kemudian, secara
spontan H2CO3 ini akan terurai menjadi HCO3- dan H+. (Sherwood, 2004)
F. PATHWAY
Umpan balik jalur negatif menggambarkan bagaimana pusat pernapasan
otak yang mengontrol pernapasan dengan sebagai fungsi oksigen , karbon
dioksida , dan tingkat keasaman darah .

DAFTAR PUSTAKA
Ganong,F William.2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 20th ed. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC, p. 645-52.
Sherwood.2004. Human Physiology: from cell to systems. 5th ed. United States.
Brooks/Cole Thompson Learning Inc, 2004. p. 495-501.