Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM PERBEKALAN STERIL


PERCOBAAN 3
PEMBUATAN LARUTAN IRIGASI

KELOMPOK 3
Rizky Tris Irianto

(G1F012018)

Novianti Dian Lestari

(G1F012020)

Cesa Radita Putra

(G1F012022)

Muntofingah

(G1F012024)

LABORATORIUM FARMASETIKA
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2014

PEMBUATAN LARUTAN IRIGASI


I.

Pendahuluan
Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau

membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh. Pemakaiannya secara


topikal, tidak boleh digunakan secara parenteral. Pada etiket diberi tanda bahwa
sediaan ini tidak dapat digunakan untuk injeksi (Anonim, 1995). Natrium klorida
(NaCl) secara umum digunakan untuk irigasi (seperti irigasi pada rongga tubuh,
jaringan, atau luka). Larutan irigasi NaCl hipotonis 0,45% dapat digunakan
sendiri atau tanpa penambahan bahan tambahan lain. Larutan irigasi NaCl 0,9%
dapat digunakan untuk mengatasi iritasi pada luka. Sterilisasi pada sediaan ini
sangat penting karena cairan tersebut langsung berhubungan dengan cairan dan
jaringan tubuh yang merupakan tempat dimana nfeksi dapat terjadi dengan mudah
(Ansel, 1989). Persyaratan larutan irigasi adalah:
1. Isotonik
2. Steril
3. Tidak diabsorpsi
4. Bukan larutan elektrolit
5. Tidak mengalami metabolisme
6. Cepat diekskresi
7. Mempunyai tekanan osmotik diuretik
8. Bebas pirogen
(Lachman et al., 1988)
Syarat larutan irigasi adalah haru steril dan bebas pirogen. Pirogen
merupakan produk suatu mikroorganisme, terutama dari bakteri gram negatif dan
dapat berupa endotoksin dari bakteri itu sendiri. Endotoksin ini terdiri dari suatu
senyawa komplek yang tersusun dari lipopolisakarida, suatu protein dan lipid
yang pirogenik (menyebabkan demam) (Anonim, 2009).
II.

Pembahasan

a. Analisis Farmakologi

Larutan

irigasi

NaCl

digunakan

untuk

mencuci,

membilas,

dan

membersihkan luka. Sifat NaCl sebagai antiseptik memungkinkan larutan


ini untuk mencuci luka agar terhindar dari infeksi.
b. Preformulasi

Natrium klorida
Rumus molekul : NaCl
Bobot molekul : 58,44
Natrium Klorida mengandung tidak lebih dan tidak kurang dari 99,0%
dan tidak lebih dari 101,0% NaCl dihitung terhadap zat yang talah
dikeringkan. Tidak mengandung zat tambahan.
Pemerian : Hablur bentuk kubus tidak berwarna atau serbuk hablur
putih; tidak berbau; rasa asin (Depkes RI, 1995).
Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air mendidih
dan dalam lebih kurang 10 bagian gliserol; sukar larut dalam etanol
95%.
Sterilisasi : Autoklaf dan filtrasi
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat
menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas.
pH : 4,5-7
OTT : logam Ag, Hg, Fe
Kegunaan : Antiseptik
(Depkes RI, 1979)

Aqua destilata (air suling)


Rumus molekul : H2O
Bobot molekul : 18,02
Air suling dibuat dengan menyuling air yang dapat diminun
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak
mempunyai rasa.
Sterilisasi : Autoklaf
Kegunaan : Pelarut
(Depkes RI, 1979)

Carbon adsorben (arang aktif/arang jerap)

Arang jerap adalah arang yang dibuat dari bahan tumbh-tumbuhan


tertentu, telah diaktifkan untuk mempertinggi daya jerap.
Pemerian : Serbuk sangat halus, bebas dari butiran; hitam, tidak berbau,
tidak berasa.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol 95%.
Stabilitas : stabil di tempat yang tertutup dan kedap udara.
Kegunaan : penjerap pirogen
(Depkes RI, 1979)
c. Pendekatan Formulasi
NaCl digunakan karena khasiatnya sebagai antiseptik
Aquadest digunakan karena bahan aktif NaCl larut dalam air.
Karbon aktif digunakan sebagai penjerap pirogen yang tidak larut dalam air
maupun etanol.
d. Formulasi
Tiap 500 ml larutan irigasi mengandung:
-

NaCl 0,9%

e. Sterilisasi
Sterilisasi adalah proses penghilangan semua jenis mikroorganisme seperti
protozoa, fungi, bakteri dan virus yang terdapat dalam suatu benda. Proses
ini melibatkan aplikasi biocidal agent atau proses fisik dengan tujuan untuk
membunuh atau menghilangkan mikroorganisme. Target suatu metode
inaktivasi tergantung dari metode dan tipe mikroorganisme (asam nukleat,
protein atau membran mikroorganisme). Agen kimia untuk sterilisasi
disebut sterilant (Pratiwi, 2008).
Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme
yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Sterilisasi basah dapat
digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat tembus uap air
dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110-121 .
Sterilisasi dalam setiap proses baik fisika, kimia dan mekanik yang
membunuh semua bentuk kehidupan terutama mikroorganisme atau usaha
untuk membebaskan alat dan bahan dari segala bentuk kehidupan terutama
mikrobia (Wetherell, 1976).

Bahwa sterilisasi dalam setiap proses yang umum dilakukan dapat berupa:
(a). Sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang
pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan
tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi).
Dengan udara panas, dipergunakan alat bejana/ruang panas (oven dengan
temperatur 170180 dan waktu yang digunakan 2 jam yang umumnya
untuk peralatan gelas), (b). Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan
penggunaan disinfektan, larutan alkohol, larutan formalin), (c). Sterilisasi
secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan
tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya adalah
dengan saringan/filter. Sistem kerja filter, seperti pada saringan lain adalah
melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini
adalah mikroba) (Hadioetomo, R.S. 1985).
Sterilisasi sediaan yang dibuat dilakukan menggunakan teknik sterilisasi
akhir. Sediaan yang sudah jadi dimasukkan ke dalam botol lalu disterilisasi
menggunakan autoklaf. Sterilisasi menggunakan autoklaf sangat umum
digunakan karena efisiensinya dalam membunuh mikrorganisme seperti
bakteri. Autoklaf adalah cara sterilisasi dengan prinsip panas uap atau basah
dengan memanfaatkan dua tenaga dalam proses sterilisasi, yaitu tenaga
panas dan tekanan. Autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai
macam alat dan bahan dengan gmengunakan tekanan 15 psi (1,02 atm) dan
suhu 121C . Sterilisasi dengan autoklaf adalah salah satu metode sterilisasi
dengan uap air di bawah tekanan. Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan
kepada alat dan bahan yang disterilkan memberikan kekuatan yang lebih
besar untuk membunuh sel dibandingkan dengan udara panas (Torres,
1989).
f. Evaluasi Sediaan

Kejernihan larutan
Evaluasi kejernihan larutan dilakukan dengan melewatkan botol pada
papan hitam dan putih untuk melihat ada tidaknya partikel yang tidak
terlarut dengan warna cerah dan gelap pada sediaan larutan irigasi.
Larutan irigasi yang dibuat difiltrasi sebanyak dua kali untuk memastkan

bahwa larutan tersebut jernih dan bebas dari partikel-partikel yang tidak
terlarut. Hasil evaluasi kejernihan larutan irigasi yang dibuat pada
praktikum ini dinyatakan jernih dan bebas dari partikel-partikel yang
tidak larut.

Volume terpindahkan
Volume terpindahkan merupakan nilai volume larutan yang hilang atau
menyusut selama proses pembuatan larutan. Volume awal sediaan yang
dibuat adalah 510 ml akan tetapi setelah dilakukan proses pembuatan
larutan irigasi, volume larutan yang tersisa hanya sebanyak 478 ml.
Berarti terdapat volume yang hilang (volume terpindahkan) sebanyak 32
ml. Penyusutan volume tersebut dapat diakibatkan oleh penguapan
pelarut sewaktu proses pembuatan dengan suhu yang panas ataupun
karena adanya cairan yang masih tertinggal pada proses filtrasi.

Penetapan pH
Uji penetapan pH dilakukan dengan mencelupka indikator pH universal
ke dalam larutan yang dibuat. Larutan irigasi seharusnya memiliki pH
yang sama atau mendekati sama dengan pH fisiologis tubuh, yaitu
sedikit asamnetral. Hasil evaluasi penetapan pH yang dilakukan pada
larutan rgasi yan dibuat menunjukkan bahwa larutan emiliki pH netral,
yaitu 7.

g. Desain Kemasan

Sodium Chloride

0,9%
Irrigation Solution
Indikasi :
Penggunaan topikal
untuk membersihkan
dan membilas
permukaan dan rongga
tubuh dan mata
Kontraindikasi :
Tidak digunakan saat
melakukan prosedur
elektrosurgical
Efek samping :
Kesalahan pemakaian
menyebabkan
Kontaminasi, infeksi,
volume berlebih dapat
menyumbat rongga
tubuh. Infiltrasi pada
jaringan
No.Reg : 82 59850
No.batch : 63367

Sodium Chloride

0,9%

Sodium
Chloride 0,9%
Irrigation Solution
500 ml

Cara pakai :
Bersihkan dan bilas
secukupnya pada
jaringan luka atau
rongga tubuh

Sodium
Chloride 0,9%
Irrigation Solution
500 ml

Komposisi :
500ml mengandung
0,9%NaCl

Polifarma llac
San.ve Tic. A.S.

Polifarma llac
San.ve Tic. A.S.
Tgl.kadaluarsa : 1 Des
2015

h. Informasi
Obat
Sodium Chloride 0,9%
Larutan Irigasi
Komposisi : Tiap 500ml larutan mengandung 0,9% NaCl
Mekanisme kerja : membersihkan rongga tubuh, jaringaan luka, kateter
uretra dan saluran surgikal tube. Untuk membersihkan, membilas atau
mencuci pembalut surgical, alat dan bahan percobaan laboratorium
Indikasi : Penggunaan topikal untuk membersihkan dan membilas
permukaan dan rongga tubuh dan juga mata
Kontraindikasi : tidak dapat digunakan saat melakukan prosedur
elektrosurgical
Peringatan dan perhatian : hanya untuk membilas dan membersihkan.
Bukan untuk injeksi
Efek samping : Kesalahan pemakaian menyebabkan Kontaminasi dan
infeksi. Volume berlebih dapat menyumbat rongga tubuh. Infiltrasi pada
jaringan karena bergesernya kateter atau saluran surgical tube
Penyimpanan : Simpan pada suhu sekitar 250C
Dosis : sesuai rongga dan luas tubuh untuk irigasi
Kemasan : tiap dus berisi satu wadah @500ml
No. Reg : 82 59850
No.batch : 63367
Polifarma llac San.ve Tic. A.S.
Tgl.kadaluarsa : 1 Des 2015
Sodium Chloride 0,9%
Larutan irigasi steril
Komposisi : 500ml mengandung 0,9%NaCl
No. Reg : 82 59850
No.batch : 63367

Polifarma llac San.ve Tic. A.S.

III. Perhitungan
Perhitungan NaCl dan aquadest ditambahkan 2% untuk mengantisipasi
volume terpindahkan.

NaCl = 0,9% x 500 ml = 4,5 gram

NaCl ditambah 2% = 4,5 + (2% x 4,5) = 4,59 gram

Aquadest = 500 ml
Aquadest ditambah 2% = 500 + (2% x 500) = 510 ml

IV.

Karbon aktif = 0,1% x 500 ml = 0,5 mg

Penimbangan
NaCl
4,8 gram
0,2 gram
4,6 gram

Wadah + Zat
Wadah + Sisa
Zat
V.

Karbon aktif
0,7 gram
0,2 gram
0,5 gram

Cara Pembuatan
NaCl, Karbon Aktif dan
Aquadest

Ditimbang sebanyak 4,59 gr untuk NaCl

Ditimbang sebanyak 0,5 gr untuk karbon aktif

Aquaest dipanaskan hingga mendidih dan diambil


510 mL

NaCl dan karbon aktif dicampurkan dalam aquadest


yang telah mendidih

Larutan NaCl + Karbon


Aktif
Larutan NaCl + Karbon
Aktif
Diaduk dengan batang pengaduk
Larutan NaCl + Karbon
Disaring dengan kertas saring sebanyak dua kali
Aktif
atau hingga terbentuk larutan yang jernih

Dimasukkan kedalam botol

Dibungkus dengan alumunium foil pada bagian


tutupnya

Diberi indikator tape

Disterilisasi dengan menggunakan autoklaf

Larutan Irigasi

Praktikum ini membuat larutan irigasi NaCl 0,9% sebanyak 500 ml dengan
menggunakan bahan bahan seperti natrium klorida (NaCl), karbon aktif dan
aquadest. Langkah pertama untuk membuat larutan irigasi yaitu dengan
menimbang NaCl sebanyak 4,59 gram dan karbon aktif 0,5 gram. Penimbangan
bahan pada praktikum ini dilebihkan bobotnya 2% untuk menghindari adanya
bobot bahan yang hilang. Aquadest yang akan digunakan dipanaskan hingga
mendidih. Hal tersebut bertujuan untuk menghilangkan partikel partikel yang
mungkin ada dalam aquadest. Setelah dipanaskan, aquadest diambil 510 ml.
Kemudian NaCl dan karbon aktif dimasukkan ke dalam beaker gelas yang terisi
aquadest dan diaduk dengan menggunakan batang pengaduk. Karbon aktif ini
berguna untuk mengikat pirogen-pirogen atau

partikel-partikel pengganggu

(Kibbe,2000). Setelah diaduk, larutan di saring dengan menggunakan kertas saring


hingga terbentuk larutan yang jernih. Penyaringan dengan kertas saring bertujuan
untuk memisahkan karbon aktif yang telah menyerap pirogen-pirogen dengan
larutan NaCl.. Setelah disaring, larutan NaCl dimasukkan ke dalam botol dan
diberi indikator tape pada bagian badan botol. Hal ini dilakukan untuk mengetahui
masih terdapat pirogen dalam larutan atau tidak. Jika masih maka indikator tape
akan berubah warna dari putih menjadi kusam (Ansel,1998). Lalu botol berisi
larutan NaCl di sterilisasi dengan menggunakan autoklaf untuk membebaskan
atau mensterilkan sediaan larutan irigasi (Ansel,1998)

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009, Pyrogen, http://ffarmasi.unand.ac.id/fulltext/pyrogen.pdf, diakses
pada tanggal 28 September 2014.
Ansel, H.C., 1998,

Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi keempat,

Diterjemahkan oleh Farida Ibrahim, UI-Press. Jakarta


Depkes RI, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.
Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.
Kibbe, A. H., 2000,

Handbook of pharmaceutical Excipients. Third Edition,

American Pharmaceutical Association, Wadhington DC.


Lachman, L.H., A. Lieberman, dan Joseph L.K., 1988, Teori dan Praktek Farmasi
Industri, UI-Press, Jakarta.
Pratiwi, Sylvia T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Bandung.
Torres, K.C., 1989, Tissue Culture Techniques for Horticultural Crops, Chapman
and Hall, New York.
Wetherell, dkk., 1976, Biologi, Erlangga, Jakarta.