Anda di halaman 1dari 17

BAB 7

1
BAB

ARAH PENGENDALIAN
PEMANFAATAN RUANG PROVINSI PAPUA
BARAT

Pengendalian pemanfaatan ruang merupakan suatu upaya untuk menjamin tercapainya tujuan
dan sasaran rencana tata ruang wilayah. Pengendalian tata ruang wilayah berpedoman pada
arahan-arahan yang ditetapkan dalam rencana struktur tata ruang wilayah dan rencana
pemanfaatan ruang pada tingkat propinsi dan kabupaten.

Pengendalian pemanfaatan ruang tersebut dilakukan pula melalui perijinan pemanfaatan ruang,
pemberian insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi. Perijinan pemanfaatan ruang
dimaksudkan sebagai upaya penertiban pemanfaatan ruang sehingga setiap pemanfaatan ruang
harus dilakukan sesuai dengan rencana tata ruang. Ijin pemanfaatan ruang diatur dan diterbitkan
oleh pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya masing-masing.
Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang, baik yang dilengkapi dengan
ijin maupun yang tidak memiliki ijin, dikenai sanksi administratif, sanksi pidana kurungan/penjara,
dan/atau sanksi pidana denda.

Pemberian insentif dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan imbalan terhadap


pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang, baik yang dilakukan oleh
masyarakat maupun oleh pemerintah daerah. Bentuk insentif tersebut, antara lain, dapat berupa
keringanan pajak, pembangunan prasarana dan sarana (infrastruktur), pemberian kompensasi,
kemudahan prosedur perijinan, dan pemberian penghargaan.

Disinsentif dimaksudkan sebagai perangkat untuk mencegah, membatasi pertumbuhan,


dan/atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang, yang antara lain
dapat berupa pengenaan pajak yang tinggi, pembatasan penyediaan prasarana dan sarana,
serta pengenaan kompensasi dan penalti.

Pengenaan sanksi, yang merupakan salah satu upaya pengendalian pemanfaatan ruang,
dimaksudkan sebagai perangkat tindakan penertiban atas pemanfaatan ruang yang tidak sesuai
dengan rencana tata ruang dan peraturan zonasi. Dalam undang-undang ini pengenaan sanksi
tidak hanya diberikan kepada pemanfaat ruang yang tidak sesuai dengan ketentuan perijinan
pemanfaatan ruang, tetapi dikenakan pula kepada pejabat pemerintah yang berwenang yang
menerbitkan ijin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang.
Rencana Tata Ruang Provinsi
Papua Barat 2012-2025

7-1

Pada tahap awal kegiatan, pengendalian adalah untuk mengetahui sekaligus mengendalikan
apakah dan bagaimanakah dalam pelaksanaannya suatu tindakan pembangunan telah tercapai
kesesuaian ataukah terjadi penyimpangan terhadap rencana awal yang telah ditetapkan. Aspek
yang dimasukkan dalam pertimbangan ini antara lain ialah bentuk fisik, fungsi waktu atau
tahapan pelaksanaan, fungsi pembiayaan dan sebagainya. Tinjauan kedua yang berkaitan
dengan pengendalian pemanfaatan ruang ialah analisis terhadap dampak yang ditimbulkan oleh
pelaksanaan suatu rencana pembangunan.

Analisis terhadap dampak yang ditimbulkan mencakup dampak positif maupun dampak negatif
yang muncul ditinjau dari aspek ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup dan sebagainya.
Pada tahap akhir dari tindakan pengendalian pemanfaatan ruang ini ialah memberikan atau
menghasilkan umpan balik sebagai hasil evaluasi pengendalian pemanfaatan ruang yang
berperan sebagai input bagi tahap pemanfaatan ruang dan/atau tahap perencanaan tata ruang
dalam proses siklus berikutnya.

Kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan dalam bentuk pengawasan dan penertiban
kegiatan pemanfaatan ruang. Tindakan pengawasan akan merupakan dasar tindakan penertiban
untuk menyelesaikan masalah tata ruang.

Kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang dapat menjadi:

Pengarahan lokasi kegiatan untuk kegiatan budidaya melalui mekanisme perijinan (untuk
kawasan berskala besar) dengan pendekatan intensif dan disinsentif;

Pelarangan/pencegahan dilakukan kegiatan budidaya yang tidak sesuai dengan rencana;

Pembatasan

kegiatan

lain

yang

telah

ada

dengan

ketentuan

tidak

dilakukan

pengembangannya lebih lanjut;

Penyelesaian masalah tumpang tindih antar kegiatan budidaya (baik status/penguasaan


lahan, proyek pembangunan, penggunaan lahan yang telah berlangsung lama) berdasarkan
berbagai ketentuan perundangan yang berlaku;

Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan melalui penetapan peraturan zonasi, perijinan,


pemberian insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi.

RTRWP sebagai salah satu instrumen pengendalian wilayah akan menjadi efektif apabila pada
tahap selanjutnya (tahap pelaksanaan rencana) dapat berfungsi sebagai arahan atau pedoman
bagi proyek, program dan penyelenggaraan pembangunan pada kawasan kota, baik yang
diselenggarakan oleh instansi pemerintah maupun oleh perorangan maupun swasta.

Pada dasarnya arahan pengendalian pemanfaatan ruang didasarkan pada arahan sebagai
berikut:
Rencana Tata Ruang Provinsi
Papua Barat 2012-2025

7-2

A.

Arahan Penatagunaan Tanah

Tanah merupakan aktivitas seluruh makhluk hidup, dimana di atas tanah tumbuh berbagai fungsi
kegiatan. Masing-masing fungsi kegiatan memiliki peranan yang saling menunjang. Tujuan
pengembangan pengelolaan tanah adalah tetap terjaganya kualitas tanah dari kondisi kritis atau
tandus. Tanah ditinjau dari peruntukan dan fungsinya meliputi tanah untuk kegiatan lindung dan
kegiatan budidaya. Tanah peruntukan kegiatan lindung merupakan tanah yang potensial dapat
melindungi wilayah lainnya dari bencana alam, sedangkan tanah peruntukan kegiatan budidaya
merupakan tanah yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan perekonomian.

B.

Arahan Penatagunaan Air

Air sebagai kebutuhan hidup manusia dan makhluk alam lainnya, sehingga pengambilan air
perlu dilindungi. Tujuan pengembangan penataan air adalah untuk tercapainya kondisi:
1.

Pengambilan air tidak merusak sumber air dan mencemarinya.

2.

Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat keamanan sehingga tidak menimbulkan
dampak eksternalitas negatif terhadap lingkungan sekitar yang dapat menimbulkan
degradasi.

3.

Wilayah darat sekitar pantai harus terhindar dari intrusi (penerobosan) air laut.

4.

Wilayah laut harus terbebas dari limbah yang berasal dari daratan.

Penatagunaan air dilakukan dengan cara:


1.

Pemerintah memberi sanksi (atau disinsentif) pada setiap kegiatan pengambilan air oleh
masyarakat, dan atau badan lain yang merusak sumber air.

2.

Pemerintah memberi sanksi (atau disinsentif) pada setiap kegiatan yang menghambat aliran
air oleh masyarakat dan atau badan lain.

3.

Pemberian sanksi (atau disinsentif) terhadap kegiatan yang memanfaatkan pengambilan air
tanah secara besar-besaran.

4.

Pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan pembuangan limbah padat (sampah)


dan atau limbah cair pada kawasan pantai.

5.

Mempermudah akses pelaporan dari semua pihak (termasuk masyarakat) kepada lembaga
yang berwenang dalam pemberian sanksi dan pengaturan penggunaan air, agar setiap
pelanggan pencemaran air dapat segera diantisipasi dan ditindaklanjuti.

6.

Meningkatkan peran serta masyarakat, baik secara individu maupun kelompok dalam
pengendalian dan pengawasan terhadap pencemaran air.

7.

Melindungi catchment area dan sumber air permukaan dari ancaman kerusakan lingkungan
dengan cara pemberlakuan sempadan untuk air permukaan dan membuat Zona Penyangga
untuk catchment area.

Rencana Tata Ruang Provinsi


Papua Barat 2012-2025

7-3

C.

Arahan Penatagunaan Udara

Udara merupakan kebutuhan pokok manusia, sehingga udara perlu dilindungi untuk kepentingan
bersama. Pengembangan penatagunaan tanah ditujukan agar lingkungan terbebas dari polusi
udara dan kebisingan.

Penatagunaan udara dilakukan dengan cara:


1.

Pengendalian terhadap pembakaran hutan dan sampah dilakukan dengan cara identifikasi
lokasi-lokasi kebakaran, identifikasi lingkungan, dan penyebab kebakaran pada lokasi
terkait dan lingkungan sekitar area kebakaran dan pemberian sanksi terhadap pelaku
pembakaran sesuai dengan peraturan yang berlaku.

2.

Penanaman pohon pada setiap jaringan jalan dengan kepadatan dan polusi bising dan
polusi udara yang tinggi.

D.

Arahan Penatagunaan Hutan

Hutan dikembangkan dalam rangka mendukung keseimbangan lingkungan dan kelestarian alam
(ekosistem) serta mendukung kelangsungan perekonomian wilayah (sustainable development).

Berdasarkan permasalahan di atas, maka penatagunaan hutan adalah sebagai berikut:


1. Melakukan pengawasan dan pengendalian kawasan hutan (dalam hal penguasaan hutan,
hendaknya pemerintah memberikan hak pengelolaan pada perusahaan yang layak (uji
kelayakan pengelolaan).
2. Membentuk dan/atau memfungsikan organisasi dan/atau lembaga yang dikelola oleh
masyarakat yang bergerak dibidang pemerhati lingkungan hidup.
3. Penatagunaan hutan sesuai dengan peruntukannya.
4. Kawasan lindung saat ini berupa hutan lindung, cagar alam, dan sebagainya dipertahankan
keberadaannya dan dijaga kelestariannya.
5. Memberikan fungsi lindung pada hutan produksi.
6. Pengendalian percepatan penebangan hutan dengan cara inventarisasi pemanfaatan kayu
(industri, swasta, dan masyarakat), monitoring kelayakan pemanfaatan kayu, dan
memberikan sanksi dan atau disinsentif pada setiap pengelolaan yang melanggar ketentuan
hukum yang berlaku.
7. Reboisasi atau penghijauan pada hutan-hutan yang telah mengalami degradasi lingkungan.
8. Penguasaan hutan oleh pemerintah pada kawasan peruntukan hutan lindung, maka
pemerintah perlu mengganti atau membeli lahan pada kawasan hutan lindung yang dikuasai
oleh masyarakat atau swasta dan menata hutan lindung sesuai dengan peruntukannya.
9. Pengawasan dan pengendalian pada kawasan hutan lindung seperti penebangan liar dan
sebagainya, kegiatan tersebut dilakukan oleh pemerintah bersama dengan masyarakat.
Rencana Tata Ruang Provinsi
Papua Barat 2012-2025

7-4

7.1 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi


Indikasi arahan peraturan zonasi sistem provinsi merupakan pedoman dalam perumusan arahan
peraturan zonasi yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan
Kabupaten/Kota. Arahan peraturan zonasi sistem provinsi meliputi:
1.

Arahan peraturan zonasi untuk struktur ruang.

2.

Arahan peraturan zonasi untuk pola ruang.

7.1.1 Arahan Peraturan Zonasi untuk Struktur Ruang


Arahan peraturan zonasi untuk struktur ruang Provinsi Papua Barat ditetapkan dengan tujuan:
a.

Menjamin berfungsinya sistem perkotaan dan jaringan prasarana wilayah Provinsi Papua
Barat dengan mengatur pemanfaatan ruang di sekitar jaringan prasarana;

b.

Mengatur ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang menyebabkan gangguan


terhadap berfungsinya sistem perkotaan provinsi dan jaringan prasarana provinsi; dan

c.

Membatasi intensitas pemanfaatan ruang agar tidak mengganggu fungsi sistem perkotaan
provinsi dan jaringan prasarana provinsi.

Arahan peraturan zonasi Struktur Ruang Provinsi Papua Barat terdiri atas arahan peraturan
zonasi untuk sistem perkotaan dan arahan peraturan zonasi untuk jaringan prasarana wilayah,
sebagai berikut:
1.

Arahan peraturan zonasi untuk PKN, PKW, PKL dan PKSN adalah:
a. Menetapkan batas perkembangan fisik kawasan perkotaan berupa ruang terbuka hijau di
kawasan perkotaan dan pinggiran berdasarkan daya dukung lingkungan.
b. Mengelola tingkat perkembangan fisik perkotaan di daerah pinggiran agar tidak melebihi
batas perkembangan fisik yang telah ditetapkan.
c. Mengembangkan pusat-pusat pelayanan kepada masyarakat secara berhierarki yang
terdistribusi di seluruh kawasan perkotaan dan disesuaikan dengan jumlah penduduk
yang dilayani.

Untuk PKN berlaku indikasi arahan peraturan zonasi sebagai berikut:


a. Mengembangkan prasarana perekonomian untuk menunjang kegiatan ekonomi wilayah.
b. Mengembangkan prasarana transportasi untuk menunjang pergerakan dari dan menuju
kawasan lain di sekitarnya.
c.

Mengembangkan jaringan akses dari pusat-pusat produksi berorientasi ekspor menuju


pelabuhan laut dan/atau bandar udara.

Untuk PKW dan PKL berlaku arahan peraturan zonasi sebagai berikut:
a. Mengembangkan prasarana dan sarana perekonomian untuk menunjang kegiatan
ekonomi wilayah.
Rencana Tata Ruang Provinsi
Papua Barat 2012-2025

7-5

b. Mengembangkan prasarana transportasi untuk menunjang pergerakan dari dan menuju


kawasan lain di sekitarnya.
c.

Mengembangkan ruang untuk sentra-sentra kegiatan produksi dalam skala lokal dan
wilayah.

d. Mengembangkan jaringan akses dari pusat-pusat produksi berorientasi ekspor menuju


pelabuhan laut/ atau bandar udara.

Selain arahan peraturan zonasi, berlaku indikasi arahan peraturan zonasi sebagai berikut:
a. Mengembangkan prasarana dan sarana untuk menunjang fungsi kepabeanan, imigrasi,
karantina dan keamanan.
b. Mengembangkan kegiatan budidaya dengan memperhatikan fungsi pertahanan dan
keamanan negara.
c.

Mengembangkan prasarana dan sarana untuk menunjang transportasi dan perdagangan


lintas batas.

2.

Arahan peraturan zonasi untuk jaringan jalan kolektor primer yang terdapat di Provinsi
Papua Barat adalah:
a. Membatasi tingkat perkembangan kegiatan budidaya di sisi jalan.
b. Mengembangkan sistem drainase di sepanjang sisi jalan.
c.

Membatasi akses masuk dengan jarak tertentu sesuai dengan ketentuan perundangundangan.

d. Mempertahankan garis sempadan bangunan di sisi jalan sekurang-kurangnya setengah


dari lebar ruang milik jalan.
e. Mengembangkan struktur penahan kebisingan pada sisi jalan yang melalui kawasan
permukiman, pendidikan, dan pelayanan kesehatan.
3.

Arahan peraturan zonasi untuk transportasi penyeberangan adalah:


a. Mengembangkan fasilitas penyeberangan yang sesuai dengan kondisi fisik lingkungan.
b. Mengintegrasikan dengan sistem transportasi darat untuk mewujudkan pelayanan
transportasi yang terpadu dan efisien.
c.

Menjamin ketersediaan air bersih, energi listrik, jaringan telekomunikasi di pelabuhan


penyeberangan.

4.

Arahan peraturan zonasi untuk sistem jaringan transportasi laut adalah:


a. Menyiapkan rencana alokasi ruang pelabuhan yang dapat memenuhi kebutuhan ruang
untuk pengembangan kegiatan prasarana pelabuhan.
b. Meningkatkan aksesibilitas transportasi laut antara kawasan andalan dengan kawasan
sub regional dan kawasan strategis (ekonomi) provinsi.
c.

Mengembangkan pelabuhan yang mampu berfungsi sebagai simpul transportasi laut


provinsi yang menghubungkan pelabuhan pengumpan dengan pelabuhan yang lebih
tinggi hierarkinya.
Rencana Tata Ruang Provinsi
Papua Barat 2012-2025

7-6

d. Mengembangkan sistem keamanan berstandar provinsi.


e. Mengintegrasikan

pelabuhan

provinsi

dengan

sistem

transportasi

darat

yang

menghubungkan pelabuhan dengan PKN atau PKW terdekat dan pusat produksi wilayah
lainnya.
f.

Mengembangkan pelabuhan yang mampu melayani angkutan peti kemas.

g. Menyusun studi lingkungan regional yang memperhatikan konservasi kawasan lindung


dan daya dukung lingkungan secara umum untuk melengkapi rencana pengembangan
pelabuhan.
h. Mengembangkan

terminal

penumpang

untuk

melayani

pelayaran

dan/atau

penyeberangan provinsi.
i.

Menjamin ketersediaan air bersih, listrik jaringan telekomunikasi dan instalasi


pengolahan air limbah di kawasan pelabuhan.

5.

Arahan peraturan zonasi untuk sistem jaringan transportasi udara adalah:


a. Mengembangkan landasan pacu dan prasarana penunjang penerbangan provinsi.
b. Mengembangkan pelayanan keberangkatan dan kedatangan pesawat dan penumpang
dengan volume sedang.
c.

Mengembangkan fasilitas bongkar muat kargo yang efisien untuk mendukung aktivitas
ekspor impor.

d. Mengintegrasikan dengan prasarana transportasi lainnya.


e. Menyelenggarakan penataan ruang di bandar udara dan sekitarnya sesuai dengan
standar keselamatan penerbangan.
6.

Arahan peraturan zonasi untuk sistem jaringan energi dan listrik adalah:
a. Arahan peraturan zonasi untuk sistem jaringan energi dan listrik:

Memanfaatkan sumber energi primer terbarukan maupun yang tidak terbarukan


secara efektif dan efisien.

Mengatur penempatan pembangkit dan jaringan transmisi bertegangan tinggi


dengan mengutamakan keselamatan dan keamanan masyarakat dan lingkungan.

Menyediakan dan memanfaatkan sumber energi untuk pembangkit tenaga listrik


dengan mempertimbangkan keamanan masyarakat dan lingkungan.

Memprioritaskan pemanfaatan sumber energi setempat dan sumber energi yang


terbarukan guna menjamin ketersediaan sumber energi primer untuk pembangkit
listrik.

b. Arahan peraturan zonasi untuk jaringan interkoneksi adalah:

Meratakan distribusi permintaan dan penawaran energi listrik provinsi.

Mengembangkan jaringan interkoneksi untuk mengembangkan kawasan andalan,


investasi dan sistem permukiman provinsi.

Menerapkan standar keamanan, mutu, dan keandalan sistem jaringan transmisi


tenaga listrik untuk menjamin tersedianya pasokan energi listrik.
Rencana Tata Ruang Provinsi
Papua Barat 2012-2025

7-7

c.

Arahan peraturan zonasi untuk jaringan terisolasi:

Mengembangkan subsidi pengusahaan energi listrik.

Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya setempat sebagai sumber energi listrik.

Mengatur tingkat harga jual energi listrik sesuai dengan kemampuan daya beli
masyarakat setempat.

7.

Arahan peraturan zonasi untuk sistem jaringan telekomunikasi ditetapkan oleh dinas yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang telekomunikasi.

8.

Arahan peraturan zonasi untuk sistem jaringan prasarana sumberdaya air adalah:
a. Membagi peran yang tegas dalam pengelolaan sumberdaya air di antara pemerintah,
pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan wewenang masingmasing.
b. Melindungi kawasan bagian hulu dan tengah aliran sungai.
c.

Melindungi kawasan yang berfungsi menampung limpasan air di bagian hilir.

d. Melindungi sempadan sungai, kawasan sekitar danau dan waduk, serta kawasan sekitar
mata air dari kegiatan yang berpotensi merusak kualitas air.
e. Memulihkan fungsi hidrologis yang telah menurun akibat kegiatan budidaya di kawasan
resapan air, sempadan sungai, kawasan sekitar danau dan waduk serta mata air.
f.

Mengatur pemanfaatan sumberdaya air untuk kegiatan budidaya secara seimbang


dengan memperhatikan tingkat ketersediaan dan kebutuhan sumberdaya air.

g. Mengendalikan daya rusak air untuk melindungi masyarakat, kegiatan budidaya, serta
prasarana dan sarana penunjang perikehidupan manusia.
h. Mengembangkan

sistem

prasarana

sumberdaya

air

yang

selaras

dengan

pengembangan sistem pusat permukiman, kawasan budidaya, dan kawasan lindung.


i.

Mengembangkan sistem prasarana sumberdaya air untuk mendukung sentra produksi


pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan provinsi.

7.1.2 Arahan Peraturan Zonasi untuk Pola Ruang


Arahan peraturan zonasi untuk pola ruang Provinsi Papua Barat terbagi atas arahan peraturan
zonasi untuk kawasan lindung dan arahan peraturan zonasi untuk kawasan budidaya. Arahan
peraturan zonasi untuk pola ruang disusun dengan tujuan:
1.

Menjamin terciptanya keselamatan umum dengan melakukan pembatasan terhadap


pemanfaatan ruang di kawasan rawan bencana alam dan pemanfaatan ruang lain yang
memiliki potensi bahaya bagi masyarakat sekitarnya.

2.

Menjamin kelestarian lingkungan alam dan keanekaragaman hayati dengan melakukan


pembatasan terhadap kegiatan yang mengubah bentang alam.

3.

Menjamin terciptanya keberlanjutan pembangunan dan perbaikan kualitas lingkungan


dengan menciptakan keserasian dan keterpaduan antar pemanfaatan ruang yang berbeda.

Rencana Tata Ruang Provinsi


Papua Barat 2012-2025

7-8

A.

Kawasan Lindung
1.

Arahan peraturan zonasi untuk hutan lindung meliputi:


Pengelolaan kegiatan budidaya yang telah berlangsung dalam hutan lindung
berdasarkan analisis mengenai dampak lingkungan.
Penerapan pengembangan kegiatan budidaya bersyarat di kawasan hutan lindung
yang di dalamnya terdapat deposit mineral atau sumberdaya lainnya.
Pengaturan ruang dan bimbingan untuk kegiatan budidaya masyarakat yang
tinggal di dalam kawasan lindung.

2.

Arahan peraturan zonasi untuk kawasan resapan air adalah:


Memberikan ruang yang cukup pada daerah tertentu untuk keperluan penyerapan
air hujan bagi kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan.
Membangun kawasan yang mengakomodasi berbagai kegiatan pembangunan
dengan mempertimbangkan kesesuaian lahan.
Melarang penebangan pohon muda berdiameter 6-25 cm dan/atau tinggi 3 meter
di kawasan resapan air.

3.

Arahan peraturan zonasi untuk sempadan pantai meliputi:


Pengembangan model pengembangan ekowisata berbasis masyarakat untuk
mempertahankan keaslian, estetika, dan keindahan pantai.
Pengembangan mekanisme perizinan yang efektif terhadap kegiatan budidaya di
daerah sempadan pantai.
Penetapan standar peralatan dan perlengkapan yang dapat dipergunakan sesuai
dengan karakteristik pantai guna membatasi kegiatan budidaya di pesisir pantai
dan laut.

4.

Arahan peraturan zonasi untuk sempadan sungai sebagaimana dimaksud adalah:


Menertibkan penggunaan lahan sempadan sungai.
Mengembangkan vegetasi alami di bantaran sungai untuk menghambat arus
aliran hujan atau volume air yang mengalir ke tanah.
Membangun prasarana di sempadan sungai untuk mencegah peningkatan suhu
air yang dapat mengakibatkan kematian biota tertentu.
Memelihara vegetasi sempadan sungai untuk menjaga tingkat penyerapan air
yang tinggi dalam mengisi air tanah yang menjadi kunci pemanfaatan sumber air
secara berkelanjutan.

5.

Arahan peraturan zonasi untuk kawasan sekitar mata air meliputi:


Membatasi kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air dan kondisi fisik
kawasan yang berada di sekitarnya.
Melarang segala kegiatan budidaya yang dapat mengakibatkan perusakan
kualitas air, kondisi fisik daerah tangkapan air kawasan di sekitar mata air.

Rencana Tata Ruang Provinsi


Papua Barat 2012-2025

7-9

Membangun bangunan penangkap air untuk melindungi sumber mata air terhadap
pencemaran.
Arahan peraturan zonasi untuk kawasan suaka alam serta suaka alam laut dan
perairan lainnya.
Melindungi keanekaragaman sumberdaya alam hayati beserta ekosistemnya bagi
peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kualitas kehidupan.
Menetapkan daerah yang berbatasan dengan kawasan suaka alam sebagai
daerah penyangga.
6.

Arahan peraturan zonasi untuk cagar alam laut dan taman wisata alam laut meliputi:
Melarang adanya perubahan bentang alam kawasan yang mengusik atau
mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa.
Melarang memasukkan jenis tumbuhan dan satwa yang bukan asli ke dalam
kawasan.

7.

Arahan peraturan zonasi untuk taman hutan raya meliputi:


Melarang adanya pengurangan luas kawasan yang telah ditentukan.
Melarang pengrusakan kekhasan potensi sebagai pembentuk ekosistem.

8.

Arahan peraturan zonasi untuk taman wisata alam meliputi:


Melindungi hutan atau vegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan satwa yang
beragam serta arsitektur bentang alam untuk keperluan pendidikan, rekreasi dan
pariwisata.
Meningkatkan kualitas lingkungan di sekitar taman provinsi, taman hutan raya dan
taman wisata alam.
Melindungi kawasan dari kegiatan manusia yang dapat menurunkan kualitas
taman provinsi.
Memanfaatkan kawasan pelestarian alam untuk kegiatan pengawetan tumbuhan
dan satwa langka.

9.

Arahan pengaturan zonasi untuk kawasan rawan bencana alam meliputi:


Kawasan rawan gempa bumi ditetapkan dengan kriteria kawasan yang pernah
dan/atau berpotensi mengalami gempa bumi dengan skala Modified Mercally
Intensity (MMI) VII sampai dengan XII.
Kawasan tanah rawan longsor ditetapkan dengan kriteria kawasan berbentuk
lereng yang rawan terhadap perpindahan material pembentuk lereng baik yang
berupa batuan, bahan rombakan, tanah maupun material campuran.
Kawasan rawan gelombang pasang ditetapkan dengan kriteria kawasan sekitar
pantai yang rawan terhadap gelombang pasang dengan kecepatan antara 10
sampai dengan 100 km/jam yang timbul akibat angin kencang atau gravitasi bulan
maupun matahari.

Rencana Tata Ruang Provinsi


Papua Barat 2012-2025

7-10

Kawasan rawan bencana alam banjir ditetapkan dengan kriteria kawasan yang
diidentifikasikan sering dan/atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam banjir.
Kawasan rawan gerakan tanah ditetapkan dengan kriteria kawasan yang
diidentifikasikan sering dan/atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam banjir.
Kawasan rawan gerakan tanah ditetapkan dengan kriteria memiliki tingkat gerakan
tanah tinggi.
Kawasan yang terletak di zona patahan aktif ditetapkan dengan kriteria sempadan
dengan lebar 250 meter atau lebih dari tepi jalur patahan aktif.
Kawasan rawan tsunami ditetapkan dengan kriteria pantai dengan elevasi rendah
dan/atau pernah atau berpotensi mengalami tsunami.
Kawasan rawan bahaya gas beracun ditetapkan dengan kriteria kawasan yang
pernah dan/atau berpotensi mengalami bahaya gas beracun.
10. Arahan peraturan zonasi untuk kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan
ditetapkan dengan kriteria sebagai hasil budaya manusia yang bernilai tinggi yang
dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Indikasi arahan peraturan zonasi untuk kawasan perlindungan plasma nutfah:


Melestarikan fungsi lindung dan tatanan lingkungan.
Melindungi ekosistem kawasan.
Menjaga kelestarian flora dan fauna.
Memanfaatkan kawasan untuk penelitian dan pendidikan.

Indikasi arahan peraturan zonasi untuk kawasan terumbu karang adalah:


Mengembangkan panduan pemantauan dan perlindungan terumbu karang
berbasis masyarakat.
Melarang segala bentuk pemanfaatan sumberdaya alam dan kelautan dengan
menggunakan alat yang dapat merusak lingkungan hidup.
Mengembangkan mata pencaharian alternatif berkelanjutan bagi masyarakat
pesisir guna menghindari eksploitasi sumberdaya kelautan.
Menetapkan daerah tangkapan ikan nelayan lokal.
11. Indikasi arahan peraturan zonasi untuk perlintasan bagi jenis biota laut yang dilindungi
adalah:
Menetapkan daerah penyangga untuk menjamin kelestarian keanekaragaman
hayati dan ekosistem yang terkandung di daerah perlintasan.
Melindungi kawasan perairan laut dan keunikan ekosistem yang sesuai bagi
keberlangsungan hidup jenis biota laut yang dilindungi.
Mengatur alokasi pemanfaatan ruang laut dan dasar laut di sepanjang dan sekitar
jalur perlintasan biota laut yang dilindungi.
Rencana Tata Ruang Provinsi
Papua Barat 2012-2025

7-11

Pemanfaatan kawasan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

B.

Kawasan Budidaya
1. Kawasan hutan produksi terbatas ditetapkan dengan kriteria sebagai berikut:
Memiliki faktor kelas lereng, jenis tanah dan intensitas dengan jumlah skor 125
Sampai 174.
Memiliki faktor kelas lereng, jenis tanah dan intensitas hujan dengan jumlah 124
atau kurang, terletak di luar kawasan lindung.
Merupakan kawasan yang apabila dikonversi mampu mempertahankan daya
dukung dan daya tampung lingkungan.
2. Kriteria teknis hutan produksi terbatas dan hutan produksi yang dapat dikonversi
sebagaimana ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang kehutanan.
3. Arahan peraturan zonasi untuk hutan produksi sebagaimana dimaksud adalah:
Melestarikan fungsi lingkungan hidup kawasan hutan untuk keseimbangan
ekosistem wilayah.
Mengendalikan neraca sumberdaya kehutanan untuk memenuhi kebutuhan
jangka panjang.
Memberlakukan persyaratan penebangan yang ketat untuk melindungi populasi
pohon dan ekosistem kawasan.
Menanam kembali untuk mengganti setiap batang pohon.
4. Arahan peraturan zonasi untuk kawasan pertanian adalah:
Mengatur alokasi pemanfaatan ruang untuk kegiatan pertanian lahan basah,
pertanian lahan kering, perkebunan, perikanan air tawar, dan peternakan sesuai
dengan kesesuaian lahan dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi
lingkungan hidup.
Menerapkan metoda konservasi tanah dan sumberdaya air sesuai dengan kondisi
kawasan.
Mengatur zonasi komoditas pertanian untuk menjaga keseimbangan antara
permintaan dan penawaran.
Mempertahankan kawasan pertanian beririgasi teknis.
Mencegah konversi lahan pertanian produktif untuk peruntukan lain.
Program bimbingan pertanian (transformasi bagi masyarakat adat).
5. Arahan peraturan zonasi untuk kawasan pertambangan adalah:
Penyelesaian hak ulayat terlebih dahulu.
Peningkatan kemampuan untuk melakukan pengawasan volume produksi.
Peningkatan kemampuan untuk mengendalikan dampak lingkungan dan sosial.

Rencana Tata Ruang Provinsi


Papua Barat 2012-2025

7-12

Memanfaatkan sumberdaya mineral, energi, dan bahan galian lainnya untuk


kemakmuran rakyat.
Mencegah terjadinya dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan
pengelolaan sumberdaya mineral.
Merehabilitasi lahan pasca kegiatan pertambangan.
Pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan sumberdaya mineral, energi, dan
bahan galian lainnya dengan memperhatikan ketentuan perundangan di bidang
pengelolaan lingkungan hidup.
Memperhatikan kelestarian sumberdaya mineral, energi dan bahan galian lainnya
sebagai cadangan pembangunan yang berkelanjutan.
Memperhatikan keserasian dan keselarasan antara kawasan pertambangan
dengan kawasan sekitarnya.
6. Arahan peraturan zonasi untuk kawasan industri adalah:
Memanfaatkan potensi kawasan industri untuk peningkatan nilai tambah
pemanfaatan ruang.
Meningkatkan nilai tambah sumberdaya alam yang terdapat di dalam dan di
sekitar kawasan.
Mempertahankan kelestarian fungsi lingkungan hidup.
Memanfaatkan lokasi industri berbasis sumberdaya alam lokal dan berorientasi
ekspor.
7. Arahan peraturan zonasi untuk kawasan pariwisata adalah:
Penetapan peraturan bagi wisatawan, pengelola pariwisata dan pengembangan
fasilitas.
Persiapan sosial masyarakat di kawasan pariwisata.
Memanfaatkan potensi lingkungan hidup, keindahan alam dan budaya di kawasan
pariwisata.
Mempertahankan kelestarian nilai budaya, adat istiadat, serta mutu dan keindahan
lingkungan alam.
Menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup.
8. Arahan peraturan zonasi untuk kawasan perikanan adalah:
Pemetaan zona adat.
Pengkajian daur kehidupan ikan dan pengukuran produktivitas ikan komersial.
Pembakuan zona adat: daerah penangkapan ikan yang terkendali oleh norma
adat (sasi).
Memanfaatkan potensi perikanan di wilayah perairan teritorial dan ZEE Indonesia.
Meningkatkan nilai tambah perikanan melalui pengembangan industri pengelolaan
hasil perikanan dan kelautan.
Memelihara kelestarian potensi sumberdaya ikan.
Rencana Tata Ruang Provinsi
Papua Barat 2012-2025

7-13

Melindungi jenis biota laut tertentu yang dilindungi peraturan perundangan.


9. Arahan peraturan zonasi untuk kawasan permukiman adalah:
Didominasi hunian dengan fungsi utama sebagai tempat tinggal.
Aman dari bahaya bencana atau bahaya bencana buatan manusia.
Akses menuju pusat kegiatan masyarakat baik yang terdapat di dalam maupun di
luar kawasan.
Kriteria

teknik

kawasan

permukiman

ditetapkan

oleh

menteri

yang

menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang permukiman.


10. Arahan peraturan zonasi untuk lingkungan hidup adalah:
Menyediakan lingkungan yang sehat dan aman dari bencana alam.
Memperhatikan nilai sosial budaya masyarakat.
Menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup.
11. Arahan peraturan zonasi untuk kawasan strategis provinsi adalah:
Meningkatkan fungsi kawasan lindung dan fungsi kawasan budidaya yang berada
dalam kawasan strategis provinsi.
Mengatur pemanfaatan ruang kawasan untuk meningkatkan kesejahteraan dan
mendukung pertahanan keamanan negara.
Menciptakan

nilai

tambah

dan

pengaruh

positif

secara

ekonomis

dan

pengembangan kawasan tertentu, baik bagi pembangunan provinsi maupun bagi


pembangunan daerah.
Pemanfaatan potensi sumberdaya alam dengan penggunaan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang tepat guna dan memberikan daya saing provinsi.
Pengendalian yang ketat terhadap pemanfaatan sumberdaya alam dalam rangka
mempertahankan fungsi lingkungan hidup.
Pemanfaatan ruang secara optimal bagi penyelenggaraan fungsi pertahanan
keamanan baik yang bersifat statis maupun dinamis.

7.2 Arahan Perizinan


Arahan Perijinan merupakan bagian dari pengendalian pemanfaatan ruang dan dimaksudkan
sebagai upaya penertiban pemanfaatan ruang dan dimaksudkan sebagai upaya penertiban
pemanfaatan ruang sehingga setiap penataan ruang harus dilakukan sesuai dengan rencana
tata ruang. Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang baik yang
dilengkapi dengan ijin maupun yang tidak memiliki ijin dikenal sanksi administratif, sanksi pidana
penjara dan/atau sanksi pidana.

Arahan perijinan pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud adalah sebagai berikut:

Rencana Tata Ruang Provinsi


Papua Barat 2012-2025

7-14

Perijinan pemanfaatan ruang diberlakukan terhadap pemanfaatan kawasan lindung dan


kawasan budidaya yang meliputi sistem pusat kegiatan, sistem prasarana wilayah serta
fasilitas dan utilitas wilayah.
Perijinan pemanfaatan ruang diberlakukan terhadap pemanfaatan air permukaan, air bawah
tanah, udara serta pemanfaatan ruang bawah tanah.
Pemanfaatan ruang yang sesuai aturan tata ruang tapi tidak berijin, harus segera mengurus
ijin dengan dikenai denda.
Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan RTR (Rencana Tata Ruang) tapi telah
memiliki ijin diteruskan sampai waktu yang ditentukan.

7.3 Arahan Insentif Dan Disinsentif


Insentif dan disinsentif merupakan pengaturan yang bertujuan membatasi dalam penataan
ruang.
Arahan insentif dan disinsentif:
Dalam rangka mengembangkan pusat kawasan strategis, beberapa insentif yang akan
diterapkan adalah pembentukan badan pengelola untuk mengembangkan kawasan
strategis sebagai prioritas, memberi kemudahan perijinan bagi pengembang dalam rangka
pembangunan di kawasan strategis sebagai prioritas, memberi kemudahan perijinan bagi
pengembang dalam rangka pembangunan di kawasan strategis dan promosi kawasan
strategis guna menarik investor.
Dalam rangka mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan sekunder, beberapa insentif
yang diberikan adalah pembangunan akses menuju kawasan, memberikan kemudahan
perijinan, serta pemberian pelayanan jaringan dan sarana kawasan.
Dalam rangka mengembangkan penjagaan kelestarian bangunan bersejarah yang
ditentukan, insentif yang akan diberikan adalah bantuan teknis perubahan fisik bangunan
dalam batas tertentu selama fisik bangunan tetap.
Dalam rangka pengendalian perkembangan di wilayah yang beresiko bencana tinggi, dan
dominan fungsi lindung, beberapa disinsentif yang diberikan adalah pengenaan pajak
kegiatan yang relatif besar daripada dibagian wilayah lain dan pengenaan denda terhadap
kegiatan yang menimbulkan dampak negatif bagi publik seperti gangguan keamanan,
kenyamanan, dan keselamatan.

7.4 Arahan Pengenaan Sanksi


Arahan sanksi sebagaimana dimaksud merupakan salah satu upaya pengendalian pemanfaatan
ruang, dimaksudkan sebagai perangkat tindakan penertiban atas pemanfaatan ruang yang tidak
sesuai dengan rencana tata ruang dan peraturan zonasi.

Rencana Tata Ruang Provinsi


Papua Barat 2012-2025

7-15

Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang adalah
menetapkan kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang dalam

suatu kerangka yang

berkelanjutan untuk menjamin pemanfaatan ruang yang efisien, efektif, dan responsif terhadap
perkembangan aktifitas masyarakat.

Dalam pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, bentuk-bentuk pelanggaran dalam
pemanfaatan ruang dapat dibedakan menjadi:
1.

Pelanggaran Fungsi, dimana pemanfaatan lahan tidak sesuai dengan fungsi yang telah
ditetapkan.

2.

Pelanggaran Luas Peruntukan, dimana pemanfaatan sesuai dengan fungsi yang ditetapkan,
tetapi luas pemanfaatan tidak sesuai dengan luas peruntukan yang ditetapkan dalam
perencanaan tata ruang.

3.

Pelanggaran Persyaratan Teknis, dimana pemanfaatan sesuai dengan fungsi, tetapi


persyaratan teknis tidak sesuai dengan ketentuan teknis yang ditetapkan berdasarkan
peraturan perundangan yang berlaku.

Pelanggaran pemanfaatan ruang dibedakan dalam 2 (dua) kategori, yaitu:


1. Pelanggaran setelah ditetapkannya rencana tata ruang, dimana pelanggaran dilakukan
setelah rencana tata ruang memiliki kekuatan hukum dan ditetapkan dengan peraturan
daerah.
2. Pelanggaran yang terjadi sebelum penetapan rencana tata ruang.

Alternatif tindakan penertiban terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang tersebut di atas tertera
pada tabel di bawah ini.

Tabel 7. 1 Arahan Alternatif Bentuk Penertiban Terhadap Pelanggaran Pemanfaatan Ruang

Bentuk Pelanggaran
Alternatif Bentuk Penertiban
SETELAH RENCANA TATA RUANG DITETAPKAN DENGAN PERDA
Pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan
Kegiatan pembangunan dihentikan
fungsi ruang/penggunaan lahan yang telah
Pencabutan ijin
ditetapkan dalam RTRW yang berlaku
Pembongkaran
Pemanfaatan ruang sesuai dengan fungsi
Kegiatan pembangunan dihentikan
ruang/penggunaan lahan tetapi luasan tidak Kegiatan dibatasi pada luasan yang ditetapkan
sesuai dengan ketentuan dalam RTRW yang Denda
berlaku
Kurungan
Pembongkaran
Pemutihan dan denda
Pemanfaatan ruang sesuai dengan fungsi
Kegiatan pembangunan dihentikan
ruang/penggunaan lahan, tetapi aspek
Pemenuhan persyaratan teknis
teknis pemanfaatan tidak sesuai dengan
persyaratan teknis yang ditetapkan dalam
RTRW yang berlaku
SEBELUM RENCANA TATA RUANG DITETAPKAN DENGAN PERDA
Pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan
Pemulihan fungsi ruang secara bertahap
fungsi ruang/penggunaan lahan yang telah
melalui:
ditetapkan dalam RTRW yang berlaku
Pembatasan masa perijinan
Rencana Tata Ruang Provinsi
7-16
Papua Barat 2012-2025

Bentuk Pelanggaran

Alternatif Bentuk Penertiban


Pemindahan/relokasi/resettlement
Penggantian yang layak
Pengendalian pemanfaatan ruang melalui:
Pembatasan luas areal pemanfaatan
ruang
Pembatasan jenis dan skala kegiatan
Penyesuaian persyaratan teknis
Pembinaan melalui penyuluhan
Pemanfaatan ruang sesuai dengan fungsi
Pengendalian pemanfaatan ruang melalui:
ruang/penggunaan lahan tetapi luasan tidak
Pembatasan luas areal pemanfaatan
sesuai dengan ketentuan dalam RTRW yang
ruang
berlaku
Pembatasan jenis dan skala kegiatan
Pembinaan melalui penyuluhan
Pemanfaatan ruang sesuai dengan fungsi
Pengendalian pemanfaatan ruang melalui:
ruang/penggunaan lahan, tetapi aspek
Pembatasan luas areal pemanfaatan
teknis pemanfaatan tidak sesuai dengan
ruang
persyaratan teknis yang ditetapkan dalam
Pembatasan jenis dan skala kegiatan
RTRW yang berlaku
Penyesuaian persyaratan teknis
Pembinaan melalui penyuluhan
Sumber: Subdit. Bina Penataan Ruang dan Kawasan. Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Daerah. Ditjen
Pembangunan Daerah, Departemen Dalam Negeri.

Selanjutnya sanksi dapat dikenakan kepada aparat pemerintah sebagai pemberi ijin maupun
masyarakat sebagai pelaku kegiatan. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor
26 Tahun 2007, setiap pejabat pemerintah yang berwenang yang menerbitkan ijin tidak sesuai
dengan rencana tata ruang, dapat dikenai sanksi pidana.

Rencana Tata Ruang Provinsi


Papua Barat 2012-2025

7-17