Anda di halaman 1dari 3

Apa perbedaan adversary system dengan non adversary system dan bagaimana

perbandingan dengan sistem peradilan pidana di Indonesia?


Letak perbedaan adversary system dengan non adversary system adalah :
Adversary system
a

non adversary system

Prosedur peradilan pidana harus Proses pemeriksaan harus bersifat lebih


merupakan

suatu

sengketa formal dan berkesinambungan serta

dispute antara kedua belah dilaksanakan atas dasar praduga bahwa


pihak dalam kedudukan yang kejahatan telah dilakukan (presemption
sama dimuka pengadilan.

Tujuan

utama

of guilt)

prosedur Tujuan utama prosedur pada butir 1

sebagaimana dimaksud pada butir diatas

adalah

menetapkan

apakah

1 ialah sengketa yang timbul dalam kenyataannya perbuatan tersebut


disebabkan timbulnya kejahatan.

merupakan perkara pidana, dan apakah


penjatuhan

hukuman

dapat

dapat

dibenarkan karenanya.
c

Penggunaan

cara

pengajuan Penelitian terhadap fakta yang diajukan

sanggahan atau pernyataan dan oleh para pihak, oleh hakim dapat
adanya lembaga jaminan dan berlaku
perundingan
merupakan

bukan
suatu

tidak

hanya tergantung

pada

terbatas

dan

tidak

atau

tidak

perlu

keharusan memperoleh izin para pihak.

melainkan merupakan suatu hal


yang sangat penting.

Para pihak memiliki fungsi yang Kedudukan masing-masing para pihak


otonom
penuntut

yang

jelas,

umum

peran antara penuntut umum dan tertuduh


adalah tidak lagi otonom dan sederajat.

melakukan

penuntutan.

Peran

tertuduh adalah menolak atau


menyanggah tuduhan.
e

Semua informasi yang dapat dipercaya


dapat digunakan guna kepentingan
pemeriksaan pendahuluan ataupun di
persidangan.

Tertuduh

merupakan

objek utama dalam pemeriksaan.

Perbandingannya dengan sistem peradilan pidana di Indonesia adalah :


Di undangkannya Undang-undang No 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana menjadikan system peradilan di Indonesia ini menganut
system akusator, yaitu pembuktian perkara pidana mengarah kepada pembuktian
ilmiah, serta tersangka sebagai pihak pemeriksaan tindak pidana, dan sytem peradilan
juga terpengaruh oleh due proses model, yaitu: proses hukum yang adil dan layak
serta pengakuan hak-hak tersangka/terdakwa.
Akan tetapi pelaksanaan peradilan pidana berdasarkan KUHAP ternyata
masih belum berjalan lancar, dan masih banyak kelemahan-kelemahan. Due proses
model masih jauh dari harapan bahkan pendekatan inkusator masih mendominasi.
Pendekatan system peradilan pidana haruslah menyesuaikan dengan karakter
masyarakat di mana kejahatan itu terjadi, karena faktor-faktor penyebab terjadinya
kejahatan itu sangatlah komplek. Pada Kongres Perserikatan Bangsa-Bangsa Ke-6
Tahun 1980 dalam pertimbangan resolusi mengenai crime trends and crime
prevention strategies menyatakan:

1. Bahwa masalah kejahatan merintangi kemajuan untuk mencapai kualitas


hidup yang pantas bagi semua orang.
2. Bahwa strategi pencegahan kejahatan harus didasarkan pada penghapusan
sebab-sebab dan kondisi-kondisi yang menimbulkan kejahatan.
3. Bahwa penyebab utama dari kejahatan di banyak negara ialah: ketimpangan
sosial, diskriminasi rasial dan diskriminasi nasional, standar hidup yang
rendah, pengangguran dan kebutahurufan (kebodohan) diantara golongan
besar penduduk.

Contohnya dalam kasus tindak pidana terorisme dari sudut pandang due
process of law bagi pelaku tindak pidana terorisme, terdapat perbedaan yang
signifikan terutama terkait sistem adversarial yang dianut sistem peradilan pidana
australia dan inggris dibandingkan dengan sistem peradilan pidana di Indonesia
dimana perlindungan hak asasi pelaku lebih diperhatikan sehingga sistem peradilan
pidana di Australia dan Inggris lebih kondusif untuk menciptakan due process of law.