Anda di halaman 1dari 9

ALANIN

Alanina (Ala, A) atau asam 2-aminopropanoat merupakan salah satu asam amino bukan esensial.
Bentuk yang umum di alam adalah L-alanin (S-alanin) meskipun terdapat pula bentuk D-alanin (Ralanin) pada dinding sel bakteri dan sejumlah antibiotika. L-alanin merupakan asam amino
proteinogenik yang paling banyak dipakai dalam protein setelah leusin (7,8% dari struktur primer dari
1.150 contoh protein).
Gugus metil pada alanina sangat tidak reaktif sehingga jarang terlibat langsung dalam fungsi protein
(enzim). Alanina dapat berperan dalam pengenalan substrat atau spesifisitas, khususnya dalam interaksi
dengan atom nonreaktif seperti karbon. Dalam proses pembentukan glukosa dari protein, alanina
berperan dalam daur alanina. Tubuh memiliki kemampuan untuk memproduksi asam amino ini, tetapi
Anda juga dapat menemukannya dalam daging, makanan laut, kacang-kacangan, buncis, biji-bijian dan
beras merah. Alanin memainkan peran penting dalam siklus glukosa-alanin, yang terjadi antara hati dan
jaringan lainnya. Otot memproduksi alanin selama periode kekurangan oksigen. Alanin ini melakukan
perjalanan ke hati, di mana hati menggunakannya untuk membuat glukosa.

Sifat Fisika Alanina


Nama sistematik
Singkatan
Kode genetik
Rumus kimia
Massa molekul
Titik lebur
Massa jenis
Titik isoelektrik
pKa
Nomor CAS
SMILES

Asam (S)-2-aminopropanoat
Ala
A
GCx (x = sembarang basa N)
C3H7NO2
89,1 g mol-1
297 C
1,401 g cm-3
6,0
2,33
9,71
338-69-2 (D), 56-41-7 (L)
N[C@@]([H])(C)C(O)=O

Sifat Kimia Alanin


1. Esterifikasi

2. Diasilasi

Kedua reaksi ini bermanfaat dalam modifikasi atau pelindung sementara bagi kedua gugus tersebut,
terutama sewaktu mengendalikan penautan asam amino untuk membentuk peptida atau protein.
3. Reaksi Ninhidrin
Ninhidrin adalah reagen yang berguna untuk mendeteksi asam amino dan menetapkan
konsentrasinya dalam larutan. Senyawa ini merupakan hidrat dari triketon siklik. Bila bereaksi
dengan asam amino akan menghasilkan zat warna ungu.

Hanya atom nitrogen dari zat ungu yang berasal dari asam amino, selebihnya terkonversi menjadi
aldehida dan karbondioksida. Jadi, zat warna ungu yang dihasilkan dari asam amino dengan gugus
amino primer, intensitas warnanya berbanding lurus dengan konsentrasi asam amino yang ada. Adapun
prolina yang mempunyai gugus amino sekunder bereaksi dengan ninhidrin menghasilkan warna kuning.

4. Asam amino bersifat amfoter


Pada pH tinggi sebagai ion negatif.

Pada pH rendah sebagai ion positif.

Pembuatan Alanin
1. Aminasi asam alfa halo dengan ammonia berlebih

2. Sintesis Strecker

3. Aminasi reduktif asam keto

CH3-CO-COOH

4.

CH3 CHNH2 COOH

Uji kualitatif alanin


Uji Ninhidrin
Hasil positif ditunjukkan pada semua sampel uji. Hasil positif tersebut yaitu terbentuknya lapisan
berwarna biru pada permukaan sampel uji (albumin, glisin dan triptofan) pada permukaan sampel.
Sedangkan pada bagian bawah untuk albumin berwarna putih, glisin bening dan triptofan sedikit kuning
bening. Uji ini positif dikarenakan pada semua sampel mengandung -amino bebas.
Hal awal yang terjadi adalah dekarboksilasi oksidatif dari asam amino dengan larutan ninhidrin dalm
contoh ini adalah glisin yaitu sebagai berikut,
proses dilanjutkan dengan tereduksinya ninhidrin oleh ninhidrin lainnya dan juga dengan amoniak yang
dibebaskan. Reaksinya sebagai berikut,
Dari reaksi tersebut, dihasilkan kompleks berwarna biru atau ungu. Kompleks tersebut sebagai berikut,

Uji Kuantitatif Alanin


1. Volumetri
a. Metode Kjeldahl
Yang ditentukan kandungan nitrogen, bukan protein
Kandungan protein suatu substansi hasilnya dikali dengan faktor kimia untuk meng-konversi
nitrogen ke kadar protein.
Karena rata-rata kandungan nitrogen dalam protein adalah 16%, maka 16 mg N setara dengan 100
mg protein: 1 mg N setara dengan 100/16 setara dengan 6,25 mg protein.

Contoh perhitungan :
Jika makanan tertentu mengandung nitrogen sebanyak 2%, maka kandungan protein dalam makanan
tersebut adalah sama dengan 2 X 6,25, atau = 12,5%.
Karena lain protein lain pula jumlah kandungan nitrogennya, maka faktor perkalian lainnya dapat
digunakan untuk menghitung berat protein.
b. Titrasi formol untuk alanin
Formaldehid bereaksi dengan gugus amino(-NH2)
membentuk senyawa monometilol dan senyawa
dimetilol.
-NH2 + HCHO -NH(CH2OH)
-NH(CH2OH) + HCHO -N(CH2OH)2
Formaldehid tidak bereaksi dengan gugus amino bermuatan (-NH3+), sehingga efek penambahan
formaldehid adalah menggeser pK gugus amino ke pH lebih rendah. pH titik akhir titrasi asam amino
dengan larutan standar NaOH menjadi berkurang sehingga dapat ditetapkan (indikator PP).
2. Spektrofotometri
a. Metode Biuret
Larutan protein + reagen Biuret, dicampur dan dihangatkan pada suhu 37 oC selama 10 menit.
Kemudian didinginkan dan ekstinsi dibaca pada 540 nm.
b. Metoda Folin-Lowry
Protein bereaksi dengan reagen Folin-Ciocalteau
membentuk senyawa kompleks berwarna. Pembentukan warna disebabkan karena reaksi alkaline
copper dengan protein sebagaimana uji biuret dan reduksi fosfomolibdat oleh tirosin dan triptofan yang
terdapat pada protein.
Metode ini umumnya digunakan pada analisis biokimia.
c. Serapan pada daerah UV
1). Serapan pada 210 nm.
2). Serapan pada 280 nm.
3. Metoda Pengikatan Zat Warna
Pada kondisi tertentu, gugus-gugus yang bersifat asam dan basa pada makromolekul protein berinteraksi
dengan gugus-gugus pada zat warna organik yang mengalami disosiasi, misalnya radikal asam dari
asam sulfonik, membentuk endapan yang berwarna. Fenomena pengikatan zat warna dapat digunakan
untuk keperluan analisis kuantitatif.

Kegunaan Alanin dalam tubuh


ALT / Alanin Aminotransferase, merupakan golongan enzim Transaminase (Nomor EC :
2.6.1.2). ALT biasa dikenal dengan istilah lain yaitu SGOT (Serum Glutamic Pyruvic
Transaminase).
ALT banyak ditemukan dalam serum dan jaringan tubuh lainnya, namun keberadaan ALT
banyak dihubungkan dengan liver / hati. Enzim ALT berfungsi mengkatalisis 2 bagian dari siklus
Alanin.
Fungsi ALT adalah mengkatalisis proses emindahan gugus amino dari senyawa Alanin menuju
Alfa-keto Glutarat. Produk dari reaksi Transaminase ini bersifat reversibel dari Piruvat menjadi
Alfa-keto Glutarat.

Enzim Alanin Aminotransferase dan enzim Trasnaminase lainnya membutuhkan Pyridoxin


Phospate, suatu koenzim. Pyridoxin Fosfat ini akan diubah menjadi Asam Piridoksamin, sementara
Asam Amino diubah menjadi Asam-alfa keto.
Enzim ALT ini dapat digunakan untuk marker pemeriksaan pada liver, dikarenakan enzim ini
diproduksi secara utama di hati. Dalam prosesnya, akan dilakukan pemeriksaan ALT(Alanin
Aminotransferase) bersamaan dengan AST (Aspartat Aminotransferase). Dalam istilah klinik,
dikenal istilah pemeriksaan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) /SGOT (Serum
Glutamic Oxaloacetic Transaminase).
Bila terjadi elevasi dari kadar serum ALT (Alanin Aminotransferase) dan juga AST (Aspartat
Aminotransferase) maka dapat dikatakan bahwa hati mengalami patologis / penyakit. Kondisi
patologis yang bisa diperkirakan dari peningkatan kadar enzim ALT maupun AST diantaranya :
a. Peningkatan kadar enzim yang sangat tinggi
a) Infeksi virus Hepatitis akut.
b) Kerusakan liver karena diinduksi oleh toksin (cth : Aflatoksin) dan obat obatan.
c) Syok liver. Ischemic Hepatitis adalah suatu kondisi dimana suplai darah menurun ke
liver sehingga terjadi kerusakan pada hepatosit. Perfusi pada liver enyebabkan
penurunan tekanan darah sehingga terjadi syok liver. Selain itu sickle cell anemia dan
thrombosis pada arteri hepatik juga bisa sebabkan penyakit ini.
d) Penyakit Wilson.
e) Hipertermia malignansi. Hyperthermic Malignancy adalah kondisi langka, dimana
sering dipicu karena paparan obat tertentu seperti anestesi umum, terutama anestesi
volatil dan agen blok neuromuskular suksinilkolin. Dapat menginduksi metabolisme
oksidasi otot skelet secara drastis dan tidak terkontrol.
b. Peningkatan kadar enzim yang sedang
a) Hepatitis B, D, dan C kronis.
b) Hepatitis autoimun.
c) Hepatitis karena obat obatan.
d) Hepatitis alkoholik.
e) Obstruksi bilier akut.
f) Hemokromatosis herediter. Haemochromatosis (atau Hemochromatosis) Type 1
(disebut juga HFE Hereditary Haemochromatosis atau HFE-Related Hereditary

Haemochromatosis) adalah penyakit herediter dikarakterisasi oleh absorbsi


berlebihan ion Fe sehingga terjadi akumulasi Fe dalam tubuh. Fe bisa merusak organ
dan jaringan, seperti liver, kelenjar adrenal, gonad, kulit, jantung.
g) Penyakit Wilson. Wilson Disease adalah suatu penyimpangan genetik autosomal
resesif diaman terjadi akumulasi tembaga dalam tubuh. Hal ini bisa berdampak pada
penyakit liver, gejala psikiatrik dan neurologik. Dapat ditreatment dengan
pengeluaran kelebihan tembaga ari dalam tubuh, atau transplan liver.
c. Peningkatan kadar enzim yang rendah
a) Sirosis liver.
b) Steatosis non alkoholik.
c) Penyakit liver kolestatik.
d) Tumor liver.
e) Hepatitis B, D, dan C kronis.
f) Penyakit Addison. Addison Disease adalah penyimpangan endokrin yang langka dan
kronis. Dimana kelenjar Adrenal tidak memproduksi steroid cth Glukokortikoid dan
Mineralokortikoid yang cukup. Gejalanya non-simtomatik seperti nyeri abdomen dan
kelemahan, namun dari sini bisa menuju Addisonian Crisis, sejumlah nyeri termasuk
tekanan darah yang sangat rendah hingga koma.
g) Defisiensi Alfa 1 Antitripsin. Alpha 1 - Antitrypsine (AAT) Deficiency adalah
kondisi dimana tubuh tidak bisa membentuk protein yang vukup untuk melindungi
paru dan liver dar kerusakan. Hal ini bisa berdampak seperti emfisema, dan penyakit
liver.
h) Penyakit Celiac. Coeliac disease adalah penyakit autoimun pada usus halus. Gejala
meliputi nyeri dan tidak nyaman pada jalur pencernaan : konstipasi parah, diare dan
fatik. Celiac disease adalah suatu kondisi dimana terjadi kerusakan pada usus halus
sehingga tidak bisa menyerap sari makanan. Seringkali, pada orang yang mengalami
Celiac disease, diikuti dengan defisiensi vitamin dikarenakan usus tidak bisa
mengabsorbsi vitamin kedalam tubuh. Kerusakan usus dikarenakan mengkonsumsi
senyawa gluten, yang ada pada tepung, barley, oat dsb.
Selain gangguan hati, peningkatan serum Transaminase bisa disebabkan oleh hal hal lain.
Penyebab ini dikategorikan sebagai penyebab Non Hepatik. Diantaranya adalah :
a. Infark Miokardial
b. Takikardi persisten.
c. Emboli paru.
d. Disfungsi Hipotalamus Hiposeal.
e. Aktivitas fisik berlebihan (cth : Lari jarak jauh).
f. Penyakit otot.
Ketika kadar serum ALT diketahui mengalami peningkatan didalam darah, maka penyebab peningkatan
ini bisa saja bukan karena adanya gangguan di liver

Daftar Pustaka
http://www.sridianti.com/20-asam-amino-fungsi-contoh-sumber.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_piruvat
http://id.wikipedia.org/wiki/Alanina
https://www.scribd.com/doc/161108342/Alanine-Transaminase
http://hernandhyhidayat.wordpress.com/asam-amino-komponen-penyusun-protein/