Anda di halaman 1dari 39

KATA PENGANGANTAR

Dengan segala kerendahan hati, saya mengucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
karena atas rahmat-Nya saya diberi kesempatan untuk menyelesaikan penyusunan laporan tugas
mandiri yang berjudul Evaluasi dan Rencana peningkatan Cakupan Penemuan Kasus TB dengan
BTA positif

pada wilayah kerja puskesmas salaman I, Evaluasi Manajemen Pelayanan

Kesehatan Puskesmas Salaman Periode Januari September 2014


Adapun Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk
mengikuti Ujian kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat di Puskesmas
Salaman I. Dalam pembuatan laporan ini saya berharap tidak hanya berfungsi sebagai apa yang
telah disebutkan diatas. Namun, besar harapan kami agar laporan ini juga dapat dimanfaatkan
oleh pihak puskesmas Salaman I, dalam rangka menyempurnakan kinerjanya sehingga dapat
meningkatkan cakupan program yang saya bahas.
Dalam usaha penyelesaian tugas laporan ini, kami banyak memperoleh bimbingan dari
berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak. Untuk itu, dalam kesempatan ini kami ingin
menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. dr. Heri Sumantyo, selaku pembimbing dan kepala Puskesmas dalam penulisan laporan
selama berada di puskesmas Salaman I.
2. dr. Hartoyo, M.Kes, selaku pembimbing.selama berada di puskesmas Salaman I.
3. Ibu ibu dan bapak - bapak perawat beserta seluruh karyawan Puskesmas Salaman I
yang selalu menemani selami menjalani kepaniteraan klinik di puskesmas Salaman.
4. Orang tua kami yang telah banyak memberikan dukungan baik moril maupun materil.
5. Seluruh teman teman kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan ini masih banyak kekurangan oleh karena itu
dengan segala kerendahan hati kami menerima semua saran dan kritikan yang membangun guna
penyempurnaan tugas laporan ini
Salaman, september 2014.

LEMBARAN PENGESAHAN
Evaluasi dan Rencana Peningkatan Cakupan Penemuan Kasus TB dengan BTA Positif
pada wilayah kerja puskesmas salaman I.
Disusun dan Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta

Oleh:
Riyan Santosa
030.09.210
Telah disetujui dan disahkan
Pada tanggal 27 November 2014
Salaman, November 2014
disahkan oleh :

Penguji I

dr. Hartoyo.M.Kes

Penguji II

dr. Hery Sumantyo

BAB I
PENDAHULUAN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Tuberkulosis (TB)
Merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa.yang pada
umumnya mengenai paru paru. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=6304

http://www.who.int/topics/tuberculosis/en/ buku pedoman tuberkulosis

B. Penanggulangan Tuberculosis di Indonesia


Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan
Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Setelah perang kemerdekaan, TB ditanggulangi
melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru - Paru (BP-4). Sejak tahun 1969 penanggulangan
dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan
adalahpaduan standar INH, PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. Para Amino
Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT
jangka pendek yang terdiri dari INH, Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. Pada tahun
1995, program nasional penanggulangan TB mulai menerapkan strategi DOTS dan dilaksanakan
di Puskesmas secara bertahap. Sejak tahun 2000 strategi DOTS dilaksanakan secara Nasional di
seluruh UPK terutama Puskesmas yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. Fakta
menunjukkan bahwa TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia,
antara lain:

Indonesia merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan
Cina. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien
TB didunia.

Tahun 1995, hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa
penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit
kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia, dan nomor
satu (1) dari golongan penyakit infeksi.

Hasil Survey Prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa angka


prevalensi TB BTA positif secara Nasional 110 per 100.000 penduduk. Secara Regional
prevalensi TB BTA positif di Indonesia dikelompokkan dalam 3 wilayah, yaitu: 1)
wilayah Sumatera angka prevalensi TB adalah 160 per 100.000 penduduk; 2) wilayah
Jawa dan Bali angka prevalensi TB adalah 110 per 100.000 penduduk; 3) wilayah
Indonesia Timur angka prevalensi TB adalah 210 per 100.000 penduduk. Khusus untuk
propinsi DIY dan Bali angka prevalensi TB adalah 68 per 100.000 penduduk. Mengacu
pada hasil survey prevalensi tahun 2004, diperkirakan penurunan insiden TB BTA positif
secara Nasional 3-4 % setiap tahunnya.

Sampai tahun 2005, program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau


98% Puskesmas, sementara rumah sakit dan BP4/RSP baru sekitar 30%.

Buku biru

C. Upaya penanggulangan TB
Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan
TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) dan telah
terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective).
Strategi

ini

dikembangkan

pengalamanpengalaman

dari

terbaik

berbagi

(best

studi,

practices),

uji
dan

coba
hasil

klinik

(clinical

implementasi

trials),
program

penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade. Penerapan strategi DOTS secara baik,
disamping secara cepat menekan penularan, juga mencegah berkembangnya MDR-TB. Fokus
utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB
tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan
insidens TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik
dalam upaya pencegahan penularan TB. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai
strategi dalam penanggulangan TB sejak tahun 1995. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS
sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. Integrasi ke dalam pelayanan
kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. Satu studi cost benefit yang
dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS,
setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB, akan menghemat
sebesar US$ 55 selama 20 tahun. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci:

Komitmen politis

Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya.

Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus
yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan.

Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu.

Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil
pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan.

Strategi DOTS di atas telah dikembangkan oleh Kemitraan global dalam penanggulangan tb
(stop TB partnership) dengan memperluas strategi dots sebagai berikut :

Mencapai, mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS

Merespon masalah TB-HIV, MDR-TB dan tantangan lainnya

Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan

Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta.

Memberdayakan pasien dan masyarakat

Melaksanakan dan mengembangkan riset

Buku biru

D. Penemuan pasien TB
Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek, diagnosis, penentuan klasifikasi
penyakit dan tipe pasien. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program
penanggulangan TB. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular, secara bermakna akan
dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB,
penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang
paling efektif di masyarakat.
a. Strategi penemuan
Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. Penjaringan
tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan; didukung dengan penyuluhan
secara aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan
cakupan penemuan tersangka pasien TB.

Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB, terutama mereka yang BTA positif dan
pada keluarga anak yang menderita TB yang menunjukkan gejala sama, harus
diperiksa dahaknya.

Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah, dianggap tidak cost efektif.

b. Gejala klinis pasien TB


Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau
lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk
darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise,
berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan.
Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti
bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain. Mengingat revalensi TB
di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala
tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu
dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.

c. Pemeriksaan dahak mikroskopis


Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan
pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk penegakan
diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam
dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS),
S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali.
Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi
pada hari kedua.
P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun
tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.
S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan dahak
pagi.
d. Pemeriksaan Biakan
Peran biakan dan identifikasi M.tuberkulosis pada penanggulangan TB khususnya
untuk mengetahui apakah pasien yang bersangkutan masih peka terhadap OAT yang

digunakan. Selama fasilitas memungkinkan, biakan dan identifikasi kuman serta bila
dibutuhkan tes resistensi dapat dimanfaatkan dalam beberapa situasi:
1. Pasien TB yang masuk dalam tipe pasien kronis
2. Pasien TB ekstraparu dan pasien TB anak.
3. Petugas kesehatan yang menangani pasien dengan kekebalan ganda.
e. Pemeriksaan Tes Resistensi
Tes resistensi tersebut hanya bisa dilakukan di laboratorium yang mampu
melaksanakan biakan, identifikasi kuman serta tes resistensi sesuai standar internasional,
dan telah mendapatkan pemantapan mutu (Quality Assurance) oleh laboratorium
supranasional TB. Hal ini bertujuan agar hasil pemeriksaan tersebut memberikan
simpulan yang benar sehinggga kemungkinan kesalahan dalam pengobatan MDR dapat
di cegah.
E. Diagnosa TB
Diagnosis TB paru :

Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu sewaktu - pagi sewaktu (SPS).

Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA).
Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis
merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan
dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.

Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto
toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi
overdiagnosis.

Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit.

Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru.

Diagnosis TB ekstra paru

Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk pada Meningitis
TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada
limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya.

Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan
berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan
penyakit lain. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan
dan ketersediaan alat-alat diagnostik, misalnya uji mikrobiologi, patologi anatomi, serologi,
foto toraks dan lain-lain.
Gambar I. Alur diagnosis TB paru

F. Klasifikasi tuberkulosis
Klasifikasi tuberkulosis paru berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis. TB paru
dibagi atas:
1. Tuberkulosis paru BTA (+) adalah:
a.

Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif.

b.

Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan
radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.

c.

Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan
positif.

2. Tuberkulosis paru BTA (-)


a.

Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinik dan
kelainan radiologik menunjukkan tuberkulosis aktif.

b.

Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan M.


Tuberculosis positif.

Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada beberapa tipe
pasien yaitu:5
1. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan.
2. Kasus kambuh (relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan
telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan
hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif. Bila BTA negatif atau biakan
negatif tetapi gambaran radiologik dicurigai lesi aktif / perburukan dan terdapat gejala klinis
maka harus dipikirkan beberapa kemungkinan:
a) Infeksi non TB (pneumonia, bronkiektasis, dll) Dalam hal ini berikan dahulu antibiotik
selama 2 minggu, kemudian dievaluasi
b) Infeksi jamur
c) TB paru kambuh
3. Kasus defaulted atau drop out
Adalah pasien yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut - turut atau lebih sebelum masa
pengobatannya selesai.

4. Kasus gagal
a) Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada
akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan).
b) Adalah pasien dengan hasil BTA negatif gambaran radiologik positif menjadi BTA
positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan.
5. Kasus kronik / persisten
Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai pengobatan ulang
kategori 2 dengan pengawasan yang baik.
6. Kasus Bekas TB:
a. Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan gambaran radiologik
paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif, atau foto serial menunjukkan gambaran yang
menetap.
b. Pada kasus dengan gambaran radiologik meragukan dan telah mendapat pengobatan
OAT 2 bulan serta pada foto toraks ulang tidak ada perubahan gambaran radiologik

G. Pencatatan dan Pelaporan Program


Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi dan kegiatan survailans, diperlukan suatu
sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar, dengan maksud
mendapatkan data yang valid untuk diolah, dianalisis, diinterpretasi, disajikan dan
disebarluaskan untuk dimanfaatkan. Data yang dikumpulkan harus valid, yaitu akurat, lengkap
dan tepat waktu. Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari pencatatan di semua unit
pelayanan kesehatan dan unit manajemen program yang dilaksanakan dengan satu sistem yang
baku.
a. Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan TB di Fasilitas Pelayanan
KesehatanFasyankes (Puskesmas, Rumah Sakit, BP4, klinik dan dokter praktek swasta dll)
dalam melaksanakan pencatatan menggunakan formulir:

Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS (TB.06).

Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak (TB.05).

Kartu pengobatan pasien TB (TB.01).

Kartu identitas pasien TB (TB.02).

Register TB fasyankes (TB.03 fasyankes)

Formulir rujukan/pindah pasien (TB.09).

Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan (TB.10).

Register Laboratorium TB (TB.04).

Khusus untuk dokter praktek swasta, penggunaan formulir pencatatan TB dapat


disesuaikan selama informasi survailans yang dibutuhkan tersedia.

H. Penatalaksanaan TB Paru
Pada prinsipnya obat TBC diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis, dalam
jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan, supaya semua kuman (termasuk kuman
persisten) dapat dibunuh. Pengobatan TBC diberikan dalam 2 tahap yaitu tahap intensif dan
lanjutan.5
a. Tahap Intensif
Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk
mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua OAT, terutama rifampisin.. Sebagian besar
penderita TBC BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif.4
Tahap intensif sekitar 2 3 bulan.5
b. Tahap Lanjutan
Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu
yang lebih lama yaitu 4 atau 7 bulan. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman
persisten (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.5
WHO dan IUATLD (Internatioal Union Against Tuberculosis and Lung Disease)
merekomendasikan paduan OAT Standar yaitu:5
Kategori 1:

Kategori 2:

2HRZE / 4 H3R3

-2HRZES / HRZE /5H3R3E3

2HRZE / 4 HR

-2HRZES / HRZE / 5HRE

2HRZE / 6 HE

Kategori 3:

2HRZ / 4H3R3

2 HRZ / 4 HR

-2HRZ / 6 HE

Program Nasional Penanggulangan TBC di Indonesia menggunakan paduan OAT:


-

Kategori 1 : 2 HRZE / 4H3R3


Tahap intensif terdiri dari Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) dan Etambutol (E).
Obat-obat tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan (2HRZE). Kemudian diteruskan
dengan tahap lanjutan yang terdiri dari isoniazid (H) dan Rifampisin (R) diberikan tiga kali
dalam seminggu selama 4 bulan (4 H3R3). Obat ini diberikan untuk penderita baru TBC
Paru BTA Positif, penderita TBC Paru BTA negatif Rontgen positif yang sakit berat dan
penderita TBC Ekstra Paru berat.5

Kategori 2 : 2HRZES / HRZE / 5H3R3E3


Tahap intensif diberikan selama 3 bulan yang terdiri dari 2 bulan dengan Isoniazid (H),
Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), dan Etambutol (E) setiap hari.. Obat ini diberikan untuk
penderita kambuh (relaps), penderita gagal (failure), penderita dengan pengobatan setelah
lalai (after default).5

Kategori 3 : 2 HRZ / 4H3R3


Tahap intensif terdiri dari HRZ diberikan setiap hari selama 2 bulan (2HRZ) diteruskan
dengan tahap lanjutan terdiri dari HR selama 4 bulan diberikan 3 kali seminggu (4H3R3).
Obat ini diberikan untuk penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan,
penderita ekstra paru ringan yaitu TBC kelenjar limfe (limfadenitis), pleuritis eksudativa
unilateral TBC kulit, TBC tulang (kecuali tulang belakang) sendi dan kelenjar adrenal.5
Disamping ketiga kategori ini disediakan paduan obat sisipan (HRZE). Bila pada akhir tahap
intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau penderita BTA positif
pengobatan ulang dengan kategori 2 hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif diberikan
obat sisipan (HRZE) setiap hari selama 1 bulan.

I. Urutan Dalam Siklus Pemecahan Masalah


Gambar 2. Kerangka Pemecahan Masalah

Identifikasi
masalah

Monitoring dan
evaluasi

Memilih
penyebab yang
mungkin

Penyusunan
Rencana
penerapan

Menentukan
Alternatif
Pemecahan
Masalah
Penetapan
Pemecahan
Masalah Terpilih

J. Analisis pemecahan masalah


Dalam menganalisis masalah digunakan metode pendekatan sistem untuk mencari
kemungkinan penyebab dan menyusun pendekatan-pendekatan masalah. Dari pendekatan sistem
ini dapat di telusuri hal-hal yang mungkin menyebabkan munculnya permasalahan di Desa
Ngadirejo, Dusun Dawungan, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Adapun sistem yang
diutarakan di sini adalah sistem terbuka pelayanan kesehatan yang dijabarkan sebagai berikut :

Gambar 3. Analisis Penyebab Masalah dengan Pendekatan Sistem


INPUT

PROSES

OUT PUT

Man, Money,
.IKMethod,
Material, Machine

P1,P2,P3

Cakupan
Program

OUT
COME

LINGKUNGAN
Fisik, Kependudukan, Sosial Budaya, Sosial Ekonomi,
Kebijakan

Masalah yang timbul terdapat pada output dimana hasil kegiatan tidak sesuai dengan standar
minimal. Hal yang penting adalah kegiatan dalam rangka pemecahan masalah berdasarkan
pendekatan system yang terdapat pada input maupun proses, maupun lingkungan.
K. Penentuan Pemecahan Masalah dengan Kriteria Matriks Menggunakan Rumus MxlxV/C.
Setelah menemukan alternative pemecahan ,masalah, maka selanjutnya dilakukan
penentuan prioritas alternative pemecahan masalah yang dapat dilakukan dengan menggunakan
criteria matriks MxlxV/C. Berikut ini proses penentuan prioritas alternative pemecahan masalah
dengan menggunakan kriteria matriks:
1. Magnitude(M) adalah besarnya penyebab masalah dari pemecahan masalah yang
dapat diselesaikan. Makin besar (banyak) penyebab masalah yang dapat diselesaikan
dengan pemecahan masalah, semakin efektif.
2. Importancy (I) adalah pentingnya cara pemecahan masalah, makin penting cara
penyelesaian dalam mengatasi penyebab masalah, maka semakin efektif.
3. Vulnerability (V) adalah sensitifitas cara penyelesaian masalah. Makin sensitif bentuk
penyelesaian masalah, maka semakin efektif
4. Cost adalah perkiraan besarnya biaya yang diperlukan untuk meakukan pemecahan
masalah.
Masing-masing masalah diberi nilai 1-5. Bila makin magnitude makan nilainya makin besar,
mendekati 5. Begitu juga dalam melakukan penilaian pada criteria I dan V.

3= Cukup
magnitude
4=Magnitude
5=Sangat
Magnitude

1= Tidak sensitif

2=Kurang Penting

2=Kurang sensitif

3=Cukup penting

3=Cukup sensitif

3=Cukup murah

4= Penting

4=Penting

4=Kurang murah

5=Sangat penting

5=Tidak murah

5= Sangat penting

Cost

1= Tidak Penting

Vulnerability

2= Kurang
Magnitude

Importancy

Magnitude

1= Tidak
Magnitude

1= Sangat murah
2=Murah

L. Penilaian Skor Kuesioner Pengetahuan dan Perilaku.


Penilaian pada pengisian kuesioner pengetahuan tentang penyakit TB memakai pembagian
kriteria nilai sebagai berikut.
Penilaian Skor minimal 80%
B= Baik (80%)
K=Kurang ( <80 %)

BAB III
ANALISA MASALAH
A. IDENTIFIKASI MASALAH
Identifikasi masalah dan penentuan prioritas masalah telah dilakukan berdasarkan hasil
evaluasi program Puskesas Salaman selama Januari -

september2014 dibandingkan

dengan target Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang.


Hasil cakupan penemuan TB paru di Puskesmas Salaman 1 Bulan Januari Mei
2014
Indikator

Target

Sasaran

Sasaran

Hasil

Cakupan

Pencapaian

kinerja

Dinas

(1 tahun)

(perbul

Kegiatan

(%)

(%)

Kesehatan

an)

2011
Cakupan
TB BTA

70

45

34

10

30

43

337

117

34,71

43,38

(+)
Suspek TB

80

450

Jumlah Kasus TB paru BTA (+) dalam wilayah Puskesmas Salaman 1 Periode
Januari Juli 2014

NO

Nama
Desa

Salaman

Kalisalak

BULAN
Januari

Februari

Maret

April

Jumla
Mei

Juni

Juli

Ngadirejo

Ngaroretn

Paripurno

Sidomulyo

Kebonrejo

Menoreh

Kalirejo

10

Banjarhajo
Jumlah
total

B. Akdfkjhaklshdkfja
C. ALDFJLASKJDKF
D. LAKSJDL
E. FAS
F.

BAB IV
KERANGKA PENELITIAN
A. Kerangka Teori
INPUT
Man : Koordinator P2M TB,
Bidan desa, dokter, analis
laboratorium
Money
:
Dana
dari
pemerintah pusat
Method : SOP Penegakan
diagnosa TBC
Material : BP umum, Lab,
IGD, Ruang Rawat Inap.
Machine:stetoskop,thermomet
er, pot dahak,sputum alat alat
laboratorium

PROSES
P1 : Jadwal pemeriksaan
pasien dengan suspek TB
P2 : Pemeriksaan dahak di
laboratorium, Penyuluhan,
Kunjungan rumah
P3 : Pencatatan dan
Pendataan TB , Pembuatan
laporan bulanan

Cakupan penemuan TB paru


dengan BTA (+)
Lingkungan

Orang-orang disekitar penderita, keluarga


yang kontak dengan penderita
Perilaku berobat BKPM dan praktek dokter
swasta
Pengetahuan masyarakat tentang TB

B. Kerangka Konsep

Pengetahuan dokter BP, IGD mengenai SOP penegakan diagnosa TB,


Pengetahuan analis untuk mengenai SOP dalam menegakan diagnosa TB ,
Pengetahuan koordinator P2M mengenai TB, program kerja, dan cara penemuan pasien TB
dengan BTA(+).
Sumber dana untuk menegakan meningkatkan cakupan penemuan kasus TB.
Adanya SOP puskesmas untuk penegakan diagnosa TB.
Tersedianya sarana dan prasarana.

Jadwal Pemeriksaan pasien dengan


suspek TB, dan pemantauan pasien TB
dengan BTA (+).
Pelaksanaan SOP (dokter, analis),
kunjungan aktif pada pasien dengan
BTA(+) Pemeriksaan dahak di
laboratorium, keterampilan petugas,
pelatihan petugas, penyampaian dana
untuk meningkatkan cakupan penemuan
kasus TB.
Cara pencatatan, pendataan dan
pembuatan laporan pasien TB.

Cakupan P2M
(penemuan kasus TB
BTA (+))

Orang-orang disekitar penderita, keluarga yang kontak dengan penderita.


Perilaku berobat BKPM dan praktek dokter swasta.
Pengetahuan masyarakat tentang TB.

BAB V
METODE PENELITIAN
Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 21 24 november 2014. Jenis data yang
diambil adalah:
1. Data Primer, diperoleh melalui daftar pertanyaan (kuesioner). Kepada warga sekitar
dan pasien TB paru dengan BTA (+),

warga sekitar pasien dengan BTA (+),

beberapa warga di Dusun brengkel I desa salaman. Responden diambil berjumlah 38


orang, wawancara dengan Koordinator program.
2. Data sekunder diperoleh dari laporan yang ada di petugas koordinator program TBC
dan Petugas Laboratorium Puskesmas Salaman.
A. Batasan judul
Penulis memilih judul Rencana Peningkatan Cakupan Penemuan Kasus TB Dengan BTA
(+) Puskesmas Salaman I, Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang, Kesehatan
Puskesmas Salaman Januari-september 2014 mempunyai batasan pengertian judul sebagai
berikut:
a. Rencana
Kerangka sesuatu yang akan dikerjakan
b. Peningkatan
Usaha memajukan suatu rencana
c. Cakupan
Cakupan adalah merupakan suatu total hasil kegiatan yang dilakukan perbulan yang
kemudian dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan.
d. Penemuan kasus TB BTA(+)
Penemuan kasus TB BTA (+) adalah semua pasien TB paru dengan BTA positif yang
sudah terdata oleh puskesmas sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak
menunjukkan hasil BTA positif.

e. Desa Salaman, Dusun Brengkel I adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan
Salaman.

f. Kecamatan Salaman
Kecamatan Salaman adalah satu Kabupaten yang berada di propinsi Jawa Tengah
g. Kabupaten Magelang
Kabupaten Magelang adalah suatu kabupaten yang berada di propinsi Jawa Tengah
h. Evaluasi adalah proses penilaian yang sistematis mencakup pemberian nilai,
atribut,apresiasi, dan pengenalan permasalahan serta pemberian solusi-solusi atas
permasalahan yang ditemukan.
i. Manajemen
Manajemen adalah penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.
j. Program
Program adalah rancangan mengenai asas serta usaha yang akan dijalankan.
k. Puskesmas Salaman
Puskesmas Salaman adalah puskesmas di Kecamatan Salaman.
l. Periode Januari September 2014
Periode Januari September 2014 adalah periode waktu yang digunakan melakukan
evaluasi mengenai cakupan penemuan kasus TB BTA (+).
B. Definisi Operasional
a. Periode kegiatan berlangsung selama 9 bulan, yaitu bulan Januari September 2104.
Kerangka sesuatu yang akan dikerjakan
b. Sasaran adalah pasien TB paru dengan BTA positif di Desa Salaman, Dusun
Brengkel I, Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang.
c. Cakupan adalah presentase hasil perbandingan antara jumlah pasien TB paru dengan
jumlah sasaran pasien TB paru dengan BTA positif yang sudah dikali dengan jumlah
penduduk Desa Ngadirejo, Dusun Dawungan Kecamatan Salaman Kabupaten
Magelang.
C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pengkajian yang dilakukan meliputi:


a. Lingkup lokasi: Wilayah Desa Ngadirejo, Dusun Dawungan Kecamatan Salaman
Kabupaten Magelang
b. Lingkup waktu: Januari Mei 2014
c. Lingkup sasaran: Jumlah pasien TB paru dengan BTA positif di Desa Ngadirejo
Dusun Dawungan Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang, Program puskesmas
P2M.
d. Lingkup metode: wawancara, kuesioner, pencatatan dan pengamatan.
e. Lingkup materi: evaluasi penemuan kasus TB BTA (+) di wilayah Desa Ngadirejo,
Dusun Dawungan Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang.
D. Batasan Masalah
Batasan masalah ditujukan untuk mempermudah pengamatan, agar lebih terarah, jelas
dan tidak menyimpang dari permasalahan yang ada. Maka dalam hal ini hanya dibatasi
mengenai tinjauan belum tercapainya target cakupan penemuan kasus TB BTA (+) di Desa
Salaman, Dusun Brengkel Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang periode Januari
september 2014.
E. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Kriteria Inklusi adalan pasien TB paru dengan BTA positif di Desa Salaman, Dusun
Brengkel I, beserta dengan keluarga pasien yang tinggal di rumah pasien dan bersedia
diwawancarai, Petugas BP, Petugas Lab, Warga sekitar TB BTA (+). Kriteria eksklusi adalah
warga yang tinggal di sekitar rumah pasien, namun tidak bersedia diwawancara, orang orang
yang tinggal satu rumah dengan pasien tetapi tidak ditempat.

BAB VI
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
a. DATA UMUM KECAMATAN SALAMAN
1. Keadaan Geografis
a. Letak wilayah
b. Batas wilayah
Utara

: Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang.

Selatan

: Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, dan Kecamatan


Samigaluh,Daerah Istimewa Yogyakarta.

Barat

: Wilayah kerja Puskesmas Salaman II

Timur

: Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang

c. Luas wilayah
Luas wilayah kerja Puskesmas Salaman I adalah 38,89 km2.
d. Pembagian wilayah
Wilayah kerja Puskesmas Salaman I terdiri dari 10 desa (Salaman, Kalisalak,
Menoreh, Kalirejo, Paripurno, Ngargoretno, Ngadirejo, Sidomulyo,
Kebonrejo, Banjarharjo) dengan 65 dusun.
e. Kondisi Geografis
Daerah dataran

: 60% terdiri dari 5

Desa Pegunungan

: 30% terdiri dari 3 desa

Daerah bergelombang

: 10% terdiri dari 2 desa

f. Transportasi
Jarak puskesmas - RSU Tidar

: 15 km

Jarak puskesmas - Kantor Dinas Kabupaten

: 11 km

Jarak puskesmas - RSU Muntilan

: 20 km

Jarak puskesmas - desa terjauh

: 10 km

Semua desa / balai desa dapat terjangkau dengan kendaraan bermotor roda
dua. Angkutan umum berupa ojek, andong, angkudes, pick-up, dan bus
umum.
2. Keadaan dermografi
a. Jumlah penduduk
Jumlah penduduk

: 41.963 jiwa

Laki-laki

: 21.237 jiwa (49,99%)

Perempuan

: 21.246 jiwa (50,01%)

Jumlah Rumah Tangga

: 14.161 KK

Kepadatan penduduk

: 1.050 jiwa/km2

Jumlah pasangan usia subur

: 7.925 pasangan

b. Data penduduk
Data penduduk berdasarkan umur tampak pada tabel sebagai berikut:
Komposisi Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Salaman I Tahun
2013
Umur

Jumlah

Persentase

0-4

3.443

8,20 %

5-14

8.736

20,81 %

15-44

20.504

48,86 %

45-64

7.600

18,11 %

>65

1.680

4,00 %

Total

41.963

100 %

3. Sosial budaya
a. Pemeluk agama
b.Sarana peribadatan
c. Tingkat pendidikan
d.Sarana pendidikan
4. Sosial Ekonomi
a. Mata pencaharian
Data Mata Pencaharian Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas
Salaman I (10 tahun ke atas)
Mata Pencaharian

Jumlah

Persentase

Buruh tani

5.321

22,85 %

Tani

8.906

30,41 %

Buruh

4.786

6,60 %

PNS / ABRI

1.273

3,00 %

Sopir angkutan

1.332

4,34 %

Pedagang

3.268

11,16 %

867

2,96 %

Pengusaha

1.680

5,73 %

Lain-lain

3.847

13,13 %

33.014

100 %

Pensiunan PNS /ABRI

Total

Dapat dilihat dari data mata pencaharian penduduk, total penduduk yang
memiliki pencaharian adalah 33.014 dari jumlah pendudduk 41.963.

Berdasarkan data diatas disimpulkan terdapat 8.949 penduduk tidak


memiliki mata pencaharian.

b. Sarana Perekonomian
KUD

: 1 buah

Bank

: 4 buah

Pasar umum

: 3 buah

Industri rumah

: 24 buah

Warung makan

: 37 buah

Terminal

: 1 buah

Salon Kecantikan

: 8 buah

Penggilingan padi

: 14 buah

Total

: 92 buah

Dapat dilihat mata pencaharian penduduk tertinggi adalah di bidang


pertanian dan yang terendah adalah pensiunan PNS/ABRI. Selain itu,
sarana perekonomian di wilayah kerja Salaman I sebanyak 92 buah.

b. DATA KHUSUS DESA SALAMAN

c. HASIL SURVEI DAN PENGAMATAN


1. Hasil wawancara dengan koordinator P2M TB
Orang yang berperan dalam penemuan kasus TB adalah dokter, bidan
desa, dan koordinator P2M, penemuan kasus dibantu oleh praktek dokter
swasta(sebanyak 2 dokter), kader posyandu yang telah dibekali penyuluhan
mengenai TB. Kader posyandu maupun dokter praktek swasta akan melaporkan
ke puskesmas apabila ditemukan pasien dengan suspek TB.(mantri, perawat
praktek?)
Pencarian kasus TB sementara ini dilakukan secara aktif yaitu apabila
telah ditemukan seseorang dengan BTA (+) maka seluruh anggota keluarga wajib
melakukan pemeriksaan sputum, serta dilanjutkan dengan penyuluhan kepada

kader di dusun tersebut untuk ikut aktif membawa warga yang mengalami batuk
batuk yang lebih dari dua minggu untuk dilakukan pemeriksaan sputum.
Pencarian kasus TB dengan BTA (+) diwali dengan pencarian kasus
suspek TB (pasien dikatan suspek TB apabila mengalami batuk batuk lebih dari
2 minggu dan mungkin disertai dengan gejala lain seperti penurunan berat badan,
sesak nafas, dan hemoptoe), semua pasien yang mengalami suspk TB diwajibkan
untuk melakukan pemeriksaan sputum. Pemeriksaan sputum dilakukan sebanyak
tiga kali(sewaktu, pagi, sewaktu). Biasanya pada pasien dengan suspek TB
diberikan pot untuk meletakan tempat sputum kemudian pasien dianjurkan untuk
menampung dahak pada pagi hari. Kemudian dahak yang sudah ditampung
dibawa ke laboratorium puskesmas Salaman untuk dilakukan pemeriksaan BTA.
Apabila dari hasil pemeriksaan sputum didapatkan BTA (+) sebanyak 2 dari 3
percobaan maka pasien dinyatakan BTA(+).
Bagi pasien yang memiliki BPJS, JAMKESMAS, JAMKESDA biaya
pemeriksaan, dan biaya pengobatan gratis sampai pasien dinyatakan sembuh.
kegiatan penyuluhan mengenai penyakit TB secara langsung ke
masyarakat, tidak dilakukan.

2. Hasil wawancara dan pengamatan dengan petugas laboratorium.


Jumlah analis laboratorium puskesmas salaman ada 3 orang, Petugas
mempunyai SOP mengenai pewarnaan kuman BTA dan selalu melakukan
pemeriksaan sesuai dengan SOP tersebut.
Penilaian hasil pemeriksaan dicatat positif 3 apabila dari pemeriksaan
ditemukan 10/Lapang Pandang(LP), positif 2 apabila jumlah kuman 1 10/LP,
jumlah positif 1 bila kuman 10/100 Lapang Pandang, apabila jumlah 4 9/ 100
lapang pandang ditulis jumlah kuman yang ditemukan, bila tidak dijumpai kuman
di tulis negatif.
Mengenai pelatihan pengambilan sample diakdakan oleh depkes, waktu
pengadaan pelatihan tidak menentu, terakhir kali diadakan 1 tahun yang lalu.
Apabila diadakan pelatihan oleh depkes hanya salah satu saja yang mengikuti
pelatihan tersebut.

Pengamatan petugas mengenai pelaksanaan SOP pengambilan dahak tidak


dilakukan karena sejauh ini belum ada sample yang dikirimkan ke laboratorium.

3. Hasil wawancara dan pengamatan dengan dokter BP puskesmas Salaman I.


Protap mengenai penegakan diagnosa TB tercetak dan terpasang di
dinding balai pengobatan, protap tersebut diambil dari buku pedoman nasional
penanggulangan Tuberkulosis yang diterbitkan oleh Depkes RI.
Pasien yang dilakukan pemeriksaan BTA adalah pasien pasien dengan
suspek TB, pasien dikatakan suspek TB apabila didapatkan gejala klinis batuk
batuk selama 2 minggu yang tidak membaik setelah diberikan pengobatan,
disertai dengan gejala klinis lain seperti penurunan berat badan, sesak nafas, dan
hemoptoe, keluhan demam kronis(jarang), selain itu didukung dengan temuan
pemeriksaan fisik berupa kondisi fisik pasien yang kurus, dan pada pemeriksaan
auskultasi paru mungkin dapat ditemukan ronkhi.
Pemeriksaan sputum dilakukan sebanyak 3 kali (sewaktu, pagi, sewaktu).
Dilakukan selama 2 hari. Diagnosa TB ditegakan apabila pada waktupemeriksaan
sputum ditemukan kuman BTA sebanyak 1 dari 3 pemeriksaan. Pasien yang telah
didiagnosa TB pada umumnya diberikan pengobatan selama 6 bulan sesuai
dengan protap.

4. Hasil wawancara dengan seorang kader posyandu di dusun brengkel desa


salaman.
Kader mengaku kurang mengetahui tentang penyakit TB, gejala dan cara
pencegahanya, yang diketahui hanya sebatas lama pengobatan dan biaya
pengobatan TB paru yang gratis. Sejauh ini kader belum pernah melaporkan
warga yang tersangka TB.
5. Hasil wawancara dengan kadus
Kadus kurang mengetahui tentang penyakit TB, gejala, cara penularan
maupun cara pencegahanya, kadus tidak mengetahui bahwa ada salah satu
warganya ada yang terkena TB

d. Hasil survey
Keterangan :

Skoring:

7-9

: Baik

5-6

: Sedang

<5

: Kurang

Benar : 1
Salah : 0

Responden 1 merupakan responden dengan BTA(+) yang baru mengalami konversi


No

Pertanyaan

Responden

Persentase (%)

Apakah anda tahu tentang flek paru?

0%

Apakah anda mengetahui gejala

0%

gejala flek paru


3

Apakah flek paru itu berbahaya?

0%

Apakah flek paru dapat disembuhkan?

100%

Apakah flek paru menular?

0%

Bagaimana cara penularannya?

100%

100%

100%

100%

a. Lewat makanan
b. Lewat kontak kulit
c. Lewat kotoran atau air seni
d. Melalui dahak
e. Tidak tahu
7

Apakah anda mengetahui cara


mencegah tertular flek paru?

Apakah anda tahu berapa lama


pengobatan flek paru?
a. 2 bulan
b. 4 bulan
c. 6 bulan
d. Tidak tahu

Apakah anda tahu obat flek paru gratis


dari pemerintah?

Tingkat Pengetahuan

Keterangan

0%

Pengetahuan mengenai penyakit TBC pada pasien yang pernah mengalami BTA (+) dari 9 soal
yang diberikan masih rendah. Soal - soal tersebut hanya cukup dijawab dengan benar atau salah.
Dari 1 responden yang ikut menjawab, didapatkandan ini menunjukan tingkat pengetahuan
masyarakat Dusun brengkel masih minimal mengetauhi tentang TBC.
Rekapitulasi Hasil Kuesioner Perilaku Responden
Keterangan :

Skoring:

Penilaian

3-4

: Baik

: Kurang

Benar:1
Salah:0
Responden 1 merupakan responden dengan BTA(+) yang baru mengalami konversi
No

Pertanyaan

Jika anda sakit kemanakah anda biasa

Responden

Persentase (%)

100%

100%

berobat?
a. Bidan
b. Mantri
c. Dokter
d. dukun
2.

Jika batuk lebih dari 2 minggu apa


yang anda lakukan?
a. Biarkan saja
b. Beli obat di warung
c. Ke bidan desa
d. Ke puskesmas
e. Ke dokter praktek swasta

3.

Jika ada tetangga/ teman/ saudara/

100%

100%

100%

orang di rumah yang batuk lebih dari 2


minggu apa yang dilakukan?
a. Menjauhi karena takut menular.
b. Melaporkan ke kader.
c. Menyuruh berobat ke bidan
desa atau ke puskesmas.
d. Diam saja.
4.

Apakah anda biasa makan dengan gizi


seimbang?
a. Ya
b. Tidak
Perilaku

Perilaku responden dari 4 soal yang diberikan Baik. Soal - soal tersebut diberikan pemilihan
mengenai pemahaman apabila responden sakit/mengetahui tentang TBC apa yang akan dilakukan.
Dari 1 responden yang ikut menjawab, didapatkan bahwa perilaku mengenai akan pentingnya
kesehatan sangat baik.
Rekapitulasi Hasil Kuesioner Sosial Ekonomi Responden
Cukup = 500.000 -1.000.000
Kurang = <500.000
Responden 1 merupakan responden dengan BTA(+) yang baru mengalami konversi
No

Pertanyaan

Jumlah penghasilan per bulan?


a. Kurang dari Rp.500.000,b. Rp. 500.000,- s/d Rp.1.000.000,c. Lebih dari Rp. 1.000.000,-

Responden Persentase (%)


A

0%

Dari hasil yang didapatkan penghasilan responden memiliki penghasilan < 500 ribu per
bulan, mengingat pekerjaan responden adalah ibu rumah tangga, maka kondisi sosial ekonomi
responden tidak dapat ditentukan.
Rekapitulasi Hasil Kuesioner Perilaku dan Pengetahuan Masyarakat terhadap Tenaga
Kesehatan
Keterangan :

Skoring:

Benar : 1

4-5

: Baik

<4

: Kurang

Penilaian

Salah : 0
Responden 1 merupakan responden dengan BTA(+) yang baru mengalami konversi
No

Pertanyaan

1.

Sewaktu anda sakit, apakah anda

Responden

Persentase (%)

0%

100%

0%

100%

0%

100%

memeriksakan kesehatan anda ketenaga


kesehatan?
2.

Apakah tenaga kesehatan memberikan


penjelasan mengenai pengobatan tbc?

3.

Apakah didaerah anda sering diadakan


penyuluhan mengenai tbc?

4.

Apabila anda sakit batuk-batuk > 2


minggu, Apakah tenaga kesehatan
menyarankan pemeriksaan dahak?

5.

Bila dilakukan pemeriksaan dahak,


Apakah petugas kesehatan menjelaskan
cara pengambilan dahak kedalam
wadah/botol?
keterangan

Rekapitulasi Hasil Kuesioner Lingkungan

No

Pertanyaan

Responden

Persentase (%)

1.

Apakah anda memiliki langit langit?

100%

2.

Apakah rumah anda mempunyai

0%

pencahayaan yang cukup?


3.

Apakah jenis lantai rumah anda?

100%

4.

Apakah rumah anda memiliki jendela

100%

0%

100%

kamar tidur?
5.

Apakah rumah anda mempunyai


ventilasi?

6.

Apakah di rumah anda terdapat sarana


pembuangan sampah?

7.

Bagaimana kebersihan sekitar anda?

100%

8.

Apakah ada orang disekeliling anda

0%

yang batuk batuk lama?


Keadaan lingkungan

keterangan

Keterangan :
Penilaian
Benar : 1
Salah : 0

Skoring:

7-8

: Baik (B)

>7

: Buruk (S)

0%

Dari Hasil yang didapatkan Lingkungan responden, masih kurang yang diharapkan,dikarena
masih dibawah 80% dari yang diharapkan. Sehinggga merupakan tempat/media yang bagus
untuk perkembangan bakteri TBC.

BAB VII
PEMBAHASAN
A. ANALISIS PENYEBAB MASALAH
B. DAFTAR PENYEBAB MASALAH
C. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
D. PENGGABUNGAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
E. PENENTUAN PEMECAHAN MASALAH
F. PLAN OF ACTION

BAB VIII

PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN