Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Peneliti Terdahulu

Nama peneliti

Judul penelitian

Tujuan penelitian

Alat analisis

Hasil penelitian

Dini Rosdini

Pengaruh Free Cash

Meneliti pengaruh

Regresi Linear

Free cash flow

(2009)

Flow Terhadap

Free Cash Flow

Sederhana

mempunyai pengaruh

Dividend Payout Ratio

terhadap Dividend

terhadap Dividend

Payout Ratio

Payout Ratio.

Lisa Marlina
dan Clara
Danica (2009)

Analisis Pengaruh Cash


Position, Debt To
Equity Ratio, dan
Return On Assets

Mengetahui pengaruh

Regresi Linier

Berdasarkan Uji F,

Cash Position (CP),

Berganda

Variabel Cash

Debt to

Position (CP), Debt to

Terhadap Dividend

Equity Ratio (DER)

Equity

Payout Ratio

dan Return on Assets

Ratio (DER) dan

(ROA)

Return on Assets

secara signifikan

(ROA) berpengaruh

terhadap Dividend

secara signifikan

Payout Ratio

terhadap variabel

pada sektor

Dividend Payout Ratio

manufaktur di Bursa

(DPR). Sedangkan

Efek Indonesia

hasil Uji T, Variabel

(BEI)

Cash Position (CP)


dan Return on Assets
(ROA) mempunyai
pengaruh positif dan
signifikan terhadap
Dividen Payout Ratio
(DPR)
sedangkan variabel
Debt to
Equity Ratio (DER)

4


5

tidak mempunyai
pengaruh
yang signifikan
terhadap Dividend
Payout Ratio
(DPR).

Kathleen

Signaling, Free Cash

Mengembangkan

Regresi

Perusahaaan yang

Fuller dan

Flow and

argument sederhana

multivariate

tingkat

Benjamin M.

Nonmonotonic

tentang kelebihan

pertumbuhannya

Blau (2010)

Dividends

aliran kas bebas

rendah membayarkan
dividen paling rendah,
perusahaan yang
tingkat
pertumbuhannya
sedang akan
membayarkan dividen
yang cukup sedangkan
perusahaan yang
tingkat pertumbuhan
tinggi akan
membagikan dividen
yang lebih tinggi.

Michael L.

Debt Capacity and

Untuk mengetahui

Regresi

Jika dana eksternal

Lemmon and

Tests of Capital

dampak kapasitas

Multivariate

diperlukan dengan

Jaime F.

Structure

utang dalam teori

tidak ada

Zender (2010)

Theories

struktur modal

kekhawatiran
kapasitas utang, hal
ini lebih disukai oleh
perusahaan. Jika
kekhwatiran atas
sebagian besar utang
menyebabkan
penggunaan
pembiayaan eksternal.




6


II.2 Landasan Teori


II.2.1 Manajemen Keuangan
II.2.1.1 Pengertian Manajemen Keuangan
Menurut James C. Van Horne dan John M. Wachowicz, JR.
(2009:3) manajemen keuangan berkaitan dengan perolehan, pendanaan
dan manajemen aktiva dengan beberapa tujuan umum sebagai latar
belakangnya. Jadi, fungsi keputusan dalam manajemen keuangan dapat
dibagi menjadi tiga bagian yaitu : investasi, pendanaan dan manajemen
aktiva.
Menurut Brigham dan Houston (2009:6) menyatakan bahwa
manajemen keuangan adalah bidang yang terluas dari bidang pasar uang
& pasar modal serta investasi dan yang paling banyak memiliki peluang
pekerjaan.

II.2.1.2 Fungsi Manajemen Keuangan


Menurut Dermawan Sjahrial (2009:1) fungsi manajemen keuangan
sebagai berikut :
a. Putusan pendanaan atau pembelanjaan. Sumbernya :
1) Sumber dari dana dari luar perusahaan/asing :
a) Pinjaman jangka pendek, antara lain :
x

Utang bank yang dikenal dengan Kredit Modal Kerja.

Utang dagang yaitu pemberian kelonggaran pembayaran


pembelian barang atau bahan baku oleh supplier/pabrikan
bahan baku.

Kewajiban/pinjaman lainnya yang berjangka waktu


pendek.

b) Pinjaman berjangka waktu panjang, antara lain :


x

Obligasi

Hipotik

2) Sumber dari dalam perusahaan atau modal sendiri, antara lain :


a) Menerbitkan atau menjual saham sebagai setoran modal
perusahaan




7


b) Setelah perusahaan berjalan :


x Laba yang ditahan
x Penyusutan,

karena

menurut

pengertian

manajemen

keuangan merupakan dana yang dicadangkan/disisihkan


setiap tahun dari aktiva tetap untuk pada waktunya nanti
dapat membeli aktiva tetap penggantinya. Jadi selama dana
tersebut belum terpakai dapat digunakan sebagai modal
kerja perusahaan.
b. Putusan investasi artinya keputusan penggunaan dana tersebut untuk
pos/proyek yang menguntungkan perusahaan apakah dalam bentuk
aktiva lancar : kas, efek yang dapat dicairkan/diperjualbelikan,
piutang, persediaan (inventory) ataukah dalam bentuk aktiva tetap :
bangunan baik bangunan kantor atau pabrik, mesin-mesin.
c. Putusan kebijakan dividen yaitu putusan pembayaran dividen atau
pembayaran kembali obligasi.

II.2.1.3 Tujuan Manajemen Keuangan


Menurut Dermawan Sjahrial (2009:4) tujuan utama manajemen
keuangan adalah memaksimumkan kemakmuran para pemilik perusahaan
atau pemegang saham.

II.2.2 Laporan Keuangan


Menurut James C. Van Horne dan John M. Wachowicz (2009 : 193)
analisis keuangan melibatkan penggunaan berbagai laporan keuangan.
Laporan ini melaksanakan beberapa fungsi. Pertama, Neraca (balance
sheet) meringkas aktiva, kewajiban dan ekuitas pemilik suatu perusahaan
pada suatu periode, biasanya pada akhir tahun atau kuartal. Sementara itu,
laporan laba rugi (income statement) meringkas pendapatan dan biaya
perusahaan selama suatu periode waktu tertentu.




8


II.2.3 Pasar Modal


II.2.3.1 Pengertian Pasar Modal
Menurut Dermawan Sjahrial (2009:15) dalam arti sempit pasar
modal merupakan kegiatan yang mempertemukan penjual dan pembeli
dana jangka panjang. Dalam arti luas :
a. Pasar modal adalah keseluruhan sistem keuangan yang terorganisasi
termasuk bank-bank komersial dan semua perantara dibidang
keuangan serta surat-surat berharga jangka panjang dan pendek.
b. Pasar modal adalah semua pasar yang terorganisasi dan lembagalembaga yang memperdagangkan warkat-warkat kredit (biasanya
yang berjangka waktu lebih dari satu tahun) termasuk saham-saham,
obligasi, hipotik dan tabungan serta deposito berjangka.

II.2.3.2 Keuntungan dan Kerugian Berinvestasi di Pasar Modal


Menurut Dermawan Sjahrial (2009:16)
Keuntungannya :
a. Memperoleh dividen yaitu bagian keuntungan perusahaan yang
dibagikan kepada pemegang saham.
b. Memperoleh capital gain yaitu keuntungan yang diperoleh dari hasil
jual beli saham, berupa selisih antara nilai jual yang lebih tinggi
daripada nilai beli saham.
c. Nilai atau harga saham meningkat sejalan dengan waktu dan sejalan
dengan perkembangan atau kinerja perusahaan.
d. Saham, dapat dijadikan jaminan (agunan) ke bank untuk memperoleh
kredit, baik agunan pokok atau agunan tambahan.
Kerugiannya :
a. Memperoleh capital loss yaitu kerugian yang diderita dari hasil jual
beli saham, berupa selisih antara nilai jual yang lebih rendah daripada
nilai beli saham.
b. Menghadapi opportunity loss, kerugian karena memilih alternatif
berinvestasi di pasar modal bila dibandingkan menanamkan dananya
dalam deposito.




9


c. Kerugian yang timbul apabila perusahaan di likuidasi, namun


likuidasinya lebih rendah dari harga beli saham.

II.2.4 Agency Theory


II.2.4.1 Pengertian Agency Theory
Para manajer memiliki tujuan-tujuan pribadi yang bersaing dengan
tujuan memaksimalkan kekayaan pemegang saham. Menurut Brigham dan
Houston (2009:26), para manajer diberi kekuasaan oleh para pemilik
perusahaan, yaitu pemegang saham, untuk membuat keputusan, dimana
hal ini menciptakan potensi konflik kepentingan yang dikenal teori
keagenan (agency theory). Hubungan keagenan (agency relationship)
terjadi ketika satu atau lebih individu, yang disebut principal menyewa
individu atau organisasi lain, yang disebut sebagai agen, untuk melakukan
sejumlah jasa dan mendelegasikan kewenangan untuk membuat keputusan
kepada agen tersebut.

II.2.4.2 Konflik Hubungan Keagenan


Menurut Brigham dan Houston (2009:26) dalam manajemen
keuangan, konflik utama terjadi diantara pemegang saham dan manajer,
manajer dengan pemilik utang.
1. Pemegang saham versus manajer
Suatu potensi masalah keagenan terjadi ketika manajer dari sebuah
perusahaan memiliki kepemilikan saham biasa kurang dari 100%
diperusahaan tersebut. Tujuan memaksimalkan kekayaan pemegang
saham dapat berada diurutan sekian dari sejumlah tujuan-tujuan
manajerial lain yang menimbulkan konflik. Sebagai contoh, banyak
orang

berpendapat

bahwa

tujuan

utama

manajer

adalah

memaksimalkan ukuran dari perusahaan mereka dengan menciptakan


sebuah perusahaan yang besar dan tumbuh dengan pesat, para manajer
akan meningkatkan keamanan jabatan mereka, karena kecilnya
kemungkinan

terjadi

pengambilalihan

yang

tidak

bersahabat,

meningkatkan kekuatan, status dan gaji mereka, dan memberikan lebih




10


banyak kesempatan untuk para manajer tingkat rendah dan


menengahnya. Lebih jauh, karena manajer hanya memiliki sejumlah
kecil persentase saham, ada pendapat bahwa mereka memiliki nafsu
yang besar akan gaji dan penghasilan tambahan, dan mereka dengan
murah hati menyumbangkan uang perusahaan kepada badan amal
karena nantinya nama mereka yang akan harum namun pemegang
saham pihak luar yang akan menanggung biayanya.
Para manajer dapat didorong untuk bertindak demi kepentingan utama
dari pemegang saham melalui insentif-insentif yang memberikan
imbalan atas setiap kinerja yang baik atau hukuman untuk kinerja yang
buruk.

Beberapa

mekanisme

spesifik

yang

digunakan

untuk

memotivasi para manajer untuk bertindak sesuai dengan kepentingan


pemegang saham antara lain : kompensasi manajerial, intervensi
langsung oleh pemegang saham, ancaman pemecatan dan ancaman
pengambilalihan.
2. Pemegang saham (melalui manajer) versus kreditor
Kreditor memilki klaim atas sebagian dari arus laba perusahaan untuk
pembayaran bunga dan pokok utang dan mereka memiliki klaim atas
aset perusahaan di waktu terjadi kebangkrutan. Akan tetapi, pemegang
saham memiliki kendali (melalui manajernya) atas keputusankeputusan yang mempengaruhi profitabilitas dan risiko perusahaan.
Kreditor meminjamkan dana dengan tarif yang didasarkan pada tingkat
risiko dari aset perusahaan yang telah ada, ekspektasi sehubungan
dengan tingkat risiko dari tambahan aset dimasa depan, struktur modal
perusahaan yang telah ada (yaitu jumlah pendanaan melalui utang yang
digunakan), dan ekspektasi sehubungan dengan keputusan-keputusan
struktur modal dimasa depan. Hal-hal tersebut merupakan determinandeterminan utama dari seberapa berisikonya arus kas perusahaan, yaitu
tingkat keselamatan dari utang yang dikeluarkan. Sebagai contoh,
pemegang saham yang bertindak melalui manajemen, menyebabkan
sebuah perusahaan menjalankan satu proyek besar baru yang jauh lebih
berisiko daripada yang diantisipasi oleh para kreditornya. Peningkatan




11


risiko ini menyebabkan tingkat pengembalian yang diminta dari utang


perusahaan ikut meningkat, dan hal ini akan menyebabkan jatuhnya
nilai dari utang yang masih belum jatuh tempo. Jika proyek yang
berisiko tersebut berhasil, maka seluruh keuntungannya akan diterima
oleh pemegang saham, karena pengembalian kreditor ditetapkan pada
tingkat risiko rendah yang lama. Namun, jika proyek tersebut tidak
berhasil, para pemegang utang utama mungkin harus ikut menanggung
kerugiannya. Dari sudut pemegang saham, hal ini seperti permainan
jika kepala saya menang, jika ekor anda kalah (heads I win, tails you
lose), yang sudah jelas tidak menguntungkan bagi kreditor.
Perilaku yang tidak etis akan mendapat hukuman dalam dunia bisnis.
Kreditor akan melindungi diri mereka dari pemegang saham dengan
menempatkan ketetapan-ketetapan yang membatasi dalam perjanjian
utang. Lebih jauh, jika kreditor beranggapan bahwa manajer sedang
mencoba untuk mengambil keuntungan dari mereka, mereka akan
menolak untuk berhubungan lebih jauh dengan perusahaan atau
mereka akan memberikan pembebanan tingkat bunga yang lebih besar
untuk mengkompensasikan risiko kemungkinan eksploitasi. Jadi
perusahaan-perusahaan yang melakukan transaksi secara tidak adil
dengan para kreditornya akan kehilangan akses ke pasar utang atau
dibebani oleh tingkat suku bunga yang tinggi dan ketentuan-ketentuan
yang membatasi, yang semuanya akan menganggu pemegang saham.

II.2.4.3 Agency Cost


Menurut Dermawan Sjahrial (2009:6) dalam meminimumkan
masalah agency diperlukan biaya yang disebut agency cost yang tercemin
dalam empat alternatif :
a. Pengeluaran untuk memonitoring.
b. Pengeluaran insentif sebagai kompensasi untuk manajemen atas prestasi
yang konsisten dalam memaksimumkan nilai perusahaan.
c. Fidelity Bond yaitu kontrak antara perusahaan dengan pihak ketiga
(bonding company) dimana pihak ketiga setuju untuk membayar




12


perusahaan jika manajer berbuat tidak jujur, cara bekerjanya mirip


asuransi kerugian.
d. Golden Parachutes yaitu kontrak antara manajemen dengan pemegang
saham yang menjamin bahwa manajemen akan mendapat kompensasi
sejumlah tertentu apabila perusahaan dibeli oleh perusahaan lain
(investor lain) atau terjadi perubahan pengendalian perusahaaan.

II.2.5 Arus Kas Perusahaan (Cash Flow)


II.2.5.1 Pengertian Arus Kas Perusahaan (cash flow)
Arus kas (cash flow) merupakan fokus perhatian manajer keuangan
dalam mengelola kegiatan keuangan seharihari maupun dalam kerangka
membuat keputusan strategis jangka panjang. Menurut Brigham dan
Houston (2009:53) arus kas bersih (net cash flow) adalah actual net cash
yang berlawanan dengan laba bersih akuntansi, yang dihasilkan selama
periode tertentu. Nilai dari suatu aktiva (perusahaan secara keseluruhan)
ditentukan oleh arus kas yang dihasilkannya. Laba bersih perusahaan
memang penting, tetapi arus kas bahkan lebih penting lagi karena deviden
harus dibayarkan secara tunai dan karena kas diperlukan untuk membeli
aktiva yang dibutuhkan untuk melanjutkan operasi.
Menurut Dermawan Sjahrial (2010:19) arus kas terdiri dari aliran
kas masuk netto tahunan (Net Annual Inflow Of Cash) yaitu hasil yang
diperoleh dari investasi baru atau Proceeds dan aliran kas keluar netto
tahunan (Net Annual Outflow Of Cash) yaitu dana yang diperlukan untuk
investasi baru atau Outlay.
Menurut Brigham dan Houston (2009:59) Laporan arus kas
(statement of cash flow) merupakan laporan yang melaporkan dampak dari
aktivitasaktivitas operasi, investasi dan pendanaan oleh perusahaan pada
arus kas selama satu periode akuntansi.




13


II.2.5.2 Jenis-Jenis Aktivitas Arus Kas


Menurut James Brigham dan Houston (2010:98) Laporan ini
memisahkan aktivitasaktivitas menjadi tiga kategori :
a. Aktivitas operasi, yang meliputi laba bersih, penyusutan, dan
perubahan dalam modal kerja selain kas dan utang jangka pendek.
b. Aktivitas investasi, yang meliputi pembelian atau penjualan aset tetap.
c. Aktivitas pendanaan, yang meliputi penerimaan kas melalui penerbitan
utang jangka pendek, utang jangka panjang, saham, menggunakan kas
untuk membayar dividen, membeli kembali saham atau obligasi yang
beredar.

II.2.5.3 Metode Arus Kas


Menurut James D. Stice, Earl K. Stice dan K. Fred Skousen
(2009:290) ada beberapa metode laporan arus kas yaitu :
a. Metode langsung adalah pemeriksaan kembali setiap pos (akun)
laporan laba rugi dengan tujuan melaporkan sebanyak kas yang
diterima atau dikeluarkan sehubungan dengan pos tersebut, contohnya
pada akun penjualan di laba rugi, terdapat pos yang berhubungan
dengan laporan arus kas, yang disebut dengan kas yang diterima dari
pelanggan. Untuk menyiapkan bagian aktivitas operasi dengan metode
langsung, setiap pos dalam laporan laba rugi harus disesuaikan untuk
pengaruh-pengaruh akrual.
b. Metode tidak langsung dimulai dengan laba bersih yang dilaporkan di
laporan laba rugi, dan menyesuaikan nilai akrual ini untuk setiap hal
yang tidak mempengaruhi arus kas. Penyesuaiannya adalah dalam tiga
hal dasar :
x

Pendapatan dan beban yang tidak melibatkan arus kas masuk dan
arus kas keluar.

Keuntungan dan kerugian karena aktivitas investasi atau aktivitas


pendanaan.




14


Penyesuaian untuk perubahan-perubahan dalam aset dan kewajiban


lancar yang mengindikasikan sumber-sumber pendapatan dan
beban-beban non kas.
Kedua metode tersebut menghasilkan jumlah yang sama yaitu arus

kas bersih yang disediakan oleh (digunakan dalam) aktivitas operasi.

II.2.5.4 Ilustrasi Sederhana Menurut Dermawan Sjahrial (2009:33)

P.T. ABC
Laporan Arus Kas (Metode Langsung)
Tahun Yang Berakhir 31 Desember 20XX
(dalam jutaan rupiah)

Arus Kas dari Aktivitas operasi :


Penerimaan kas dari pelanggan
Pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan

30.150
(27.600)

Kas yang dihasilkan operasi

2.550

Pembayaran bunga

(270)

Pembayaran pajak penghasilan

(900)

Arus kas sebelum pos luar biasa

1.380

Hasil dari asuransi karena gempa bumi


Arus kas bersih dari aktivitas operasi

180
1.560

Arus Kas dari Aktivitas Investasi :


Perolehan anak perusahaan X dengan kas (Catatan A)

(550)

Pembelian tanah, bangunan dan peralatan (Catatan)

(350)

Hasil dari penjualan peralatan

20

Penerimaan bunga

200

Penerimaan dividen

200

Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi

(480)




15


Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan :


Hasil dari penerbitan modal saham

250

Hasil dari pinjaman jangka panjang

250

Pembayaran utang sewa guna usaha keuangan

(90)

Pembayaran dividen

(1.200)

Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas

(790)

pendanaan
Kenaikan bersih kas dan setara kas

290

Kas dan setara kas pada awal periode (Catatan C)

120

Kas dan setara kas pada akhir periode

410

P.T. ABC
Laporan Arus Kas (Metode Tidak Langsung)
Tahun Yang Berakhir 31 Desember 20XX
(dalam jutaan rupiah)
Arus Kas dari Aktivitas operasi :
Laba bersih sebelum pajak dan pos luar biasa

3.350

Penyesuaian untuk :
Penyusutan

450

Kerugian selisih kurs

40

Penghasilan investasi

(500)

Beban bunga

400

Laba operasi sebelum perubahan modal kerja

3.740

Kenaikan piutang dagang dan piutang lain

(500)

Penurunan persediaan

1.050

Penurunan utang dagang

(1.740)

Kas dari hasil operasi

2.500

Pembayaran bunga

(270)

Pembayaran pajak penghasilan

(900)

Arus kas sebelum pos luar biasa

1.380

Hasil dari penyelesaian asuransi gempa bumi


Arus kas bersih dari aktivitas operasi

180
1.560




16


Arus Kas dari Aktivitas Investasi :


Perolehan anak perusahaan X dengan kas (Catatan A)

(550)

Pembelian tanah, bangunan dan peralatan (Catatan B)

(350)

Hasil dari penjualan peralatan

20

Penerimaan bunga

200

Penerimaan dividen

200

Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi

(480)

Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan :


Hasil dari penerbitan modal saham

250

Hasil dari pinjaman jangka panjang

250

Pembayaran utang sewa guna usaha keuangan

(90)

Pembayaran dividen

(1.200)

Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan

(790)

Kenaikan bersih kas dan setara kas

290

Kas dan setara kas pada awal periode (Catatan C)

120

Kas dan setara kas pada akhir periode

410

Catatan atas Laporan Arus Kas


(Metode langsung dan metode tidak langsung)
A. Perolehan Anak Perusahaan
Selama periode ini perusahaan membeli anak perusahaan X. nilai wajar dari
aktiva yang diperoleh dan kewajiban diasumsikan sebagai berikut :
Kas

Rp.

40

Persediaan

Rp.

100

Piutang dagang

Rp.

100

Tanah, bangunan dan peralatan

Rp.

650

Utang dagang

Rp.

(100)

Utang jangka panjang

Rp.

(200)

Total harga beli

Rp.

590

Dikurangi kas dari X

Rp.

(40)

Arus kas dari perolehan anak perusahaan

Rp.

550


17


B. Tanah, Bangunan dan Peralatan


Selama periode ini perusahaan memperoleh tanah, bangunan dan peralatan
dengan nilai total Rp. 1.250,- dimana Rp. 900,- diantaranya diperoleh melalui
sewa guna usaha keuangan. Pembayaran kas untuk memperoleh ini adalah
Rp. 350,-.

C. Kas, dan Setara Kas


Kas dan Setara Kas terdiri dari kas di tangan dan saldo bank, serta investasi
dalam instrumen pasar uang.
Kas dan setara kas dalam laporan kas meliputi jumlah-jumlah dalam neraca
berikut :
2004

2003

40

25

Investasi jangka pendek

370

135

Kas dan setara kas yang dilaporkan sebelumnya

410

160

Kas dan Bank

Pengaruh perubahan nilai tukar valuta

(40)

Kas dan setara kas setelah dinyatakan kembali

410

120

Kas dan setara kas pada akhir periode meliputi rekening deposito bank
sebanyak Rp. 100,- yang dipegang oleh anak perusahaan dan tidak dapat
digunakan dengan bebas oleh holding company karena adanya pembatasan
arus valuta.
Kelompok perusahaan ini mempunyai fasilitas pinjaman sebesar Rp. 2.000,Rp. 700,- diantaranya hanya dapat digunakan untuk ekspansi di masa depan.

D. Informasi Segmen (dalam Jutaan Rupiah)


Segmen A

Segmen B

Total

Aktivitas Operasi

Rp 1.700

Rp. (140)

Rp 1.560

Aktivitas Investasi

Rp (640)

Rp 160

Rp. (480)

Aktivitas Pendanaan

Rp (570)

Rp (220)

Rp. (790)

Rp 490

Rp (200)

Rp. 290

Arus kas dari :




18


Sumbersumber perubahan kas (peningkatan dan penurunan kas)


Inflows (sumber/peningkatan kas)

Outflows (penggunaan/penurunan
kas)

Penurunan Asset

Peningkatan Asset

Peningkatan Liabilities

Penurunan Liabilities

Net Profit after Tax

Net Loss

Depreciation/Non Cash Charges

Dividend Paid

Sale of Stock

Repurchase/Retirement of Stock

II.2.6 Aliran Kas Bebas (Free Cash Flow)


II.2.6.1 Definisi Aliran Kas Bebas (Free Cash Flow)
Brigham dan Houston (2009:65) mendefinisikan free cash flow
sebagai arus kas yang tersedia untuk didistribusikan kepada seluruh
investor (pemegang saham dan pemilik utang) setelah perusahaan
menempatkan seluruh investasinya pada aktiva tetap, produkproduk baru
dan modal kerja yang dibutuhkan untuk mempertahankan operasi yang
sedang berjalan.
Menurut Keown (2008:47) free cash flow adalah jumlah uang tunai
yang tersedia setelah investasi pada modal kerja operasional bersih dan
aktiva tetap. Uang tunai ini tersedia untuk didistribusikan pada pemilik
perusahaan dan kreditor.
Dari semua pengertian pada intinya menjelaskan adanya dana lebih
di perusahaan yang seharusnya diditribusikan kepada para pemegang
saham dimana keputusan pendistribusian ini sangat dipengaruhi oleh
kebijakan manajemen.
II.2.6.2 Perhitungan Free Cash Flow
Menurut Brigham dan Houston (2009:64)
Free Cash Flow = NOPAT Investasi Bersih Pada Modal Operasi
Dimana :
a. Modal Kerja Operasi Bersih
NOWC = Current Assets Non Interest Bearing CL
= (kas & sekuritas + piutang + persediaan) (utang + akrual)




19


b. Total Modal Kerja Operasi


Operating Capital = NOWC + Net Fixed Assets
Total Modal Operasi = Modal Kerja Bersih + Aktiva Tetap Bersih
c. Net Operating Profit After Tax
NOPAT = EBIT (1-Tarif Pajak)
d. Arus Kas Operasi= NOPAT + Depresiasi & Amortisasi
e. Investasi Bersih Pada Modal Operasi
= Total Modal Operasi Tahun Total Modal Operasi Tahun
f. Investasi Bruto Pada Modal Operasi = Investasi Bersih + Depresiasi &
Amortisasi

II.2.6.3 Ilustrasi Sederhana Brigham dan Houston (2009: 47)


Allied Food Product
Neraca per 31 Desember
(dalam jutaan Dolar)
AKTIVA

2002

2001

KEWAJIBAN DAN

2002

EKUITAS

2001

Kas dan sekuritas

$10

$80

Utang

60

30

Piutang

$375

$315

Wesel tagih

110

60

Persediaan

$ 615

$415

Akrual

140

130

$1.000

$810

Total kewajiban lancar

310

220

$1.000

$870

Obligasi jangka panjang

754

580

Total kewajiban

$ 1.064

800

Saham preferen

40

40

Saham biasa (5.000.000) $

130

130

766

710

896

840

Total aktiva lancar


Aktiva tetap bersih

(400.000 lembar saham)

lembar saham
Laba ditahan
Total ekuitas biasa
Total aktiva

$2.000

$1.680

Total kewajiban

$2.000

$1.680

dan ekuitas




20


Brigham dan Houston (2009:52)

Allied Food Product


Laporan Laba Rugi per 31 Desember
(dalam jutaan dolar, kecuali untuk data per saham)

2002

2001

Penjualan bersih

3.000,0 $

2.850,0

Biaya operasi tidak termasuk depresiasi dan amortisasi

2.616,2 $

2.497,0

EBITDA

383,8

353,0

Depresiasi

100,0 $

90,0

Amortisasi

Depresiasi dan amortisasi

100,0 $

90,0

EBIT

283,8 $

263,0

Interest

88,0 $

60,0

EBT

195,8 $

203,0

Pajak 40%

78,3 $

81,2

Laba bersih sebelum dividen preferen

117,5 $

121,8

Dividen saham preferen

4,0 $

4,0

EAT

113,5 $

117,8

Dividen saham biasa

57,5 $

53,0

Tambahan untuk laba ditahan

56,0 $

64,8

Harga saham biasa

23,00 $

26,00

Laba per lembar saham (EPS)

2,27 $

2,36

Dividen per lembar saham (DPS)

1,15 $

1,06

Nilai buku per lembar saham (BVPS)

17,92 $

16,80

Arus kas per lembar saham (CFPS)

4,27 $

4,16

Data per saham:




21


Brigham dan Houston (2009 : 64)


a. Modal kerja operasi bersih tahun 2002
NOWC = Current Assets Non Interest Bearing CL
= (kas & sekuritas + piutang + persediaan) (utang + akrual)
= ($10 + $375 + $615) ($60 + $140)
= $800 juta
b. Total modal kerja operasi Allied untuk tahun 2002 adalah
Operating Capital = NOWC+ Net Fixed Assets
Total modal operasi = modal kerja bersih + aktiva tetap bersih
= $800 + $1.000
= $1.800 juta
c. Modal kerja operasi bersih Allied setahun sebelumnya, pada akhir tahun
2001 adalah sebesar Modal kerja operasi bersih tahun 2001
NOWC = Current Assets Non Interest Bearing CL
= (kas & sekuritas + piutang + persediaan) (utang + akrual)
= ($80 + $315 + $415) ($30 + $130)
= $650 juta
dan karena Allied memiliki aktiva tetap bernilai $870 juta, maka total
modal operasinya adalah menjadi
d. Jumlah total modal kerja operasi Allied untuk tahun 2001 adalah
Operating Capital = NOWC + Net Fixed Assets
Total modal operasi = modal kerja bersih + aktiva tetap bersih
= $650 + $870
= $1.520 juta
e. Net Operating Profit After Tax
NOPAT = EBIT (1-tarif pajak)
= $283,8 (1 - 0,4)
= $283,8 (0,6)
= $170,3 juta
d. Arus kas operasi tahun 2002 = NOPAT + depresiasi & amortisasi
= $170,3 + $100
= $270,3 juta




22


e. Investasi bersih pada modal operasi tahun 2002


= total modal operasi tahun 2002 total modal operasi tahun 2001
= $1.800 - $1.520
= $280 juta
f. Investasi bruto pada modal operasi tahun 2002
= investasi bersih + depresiasi & amortisasi
= $280 + $100
= $380 juta
Maka Free Cash Flow tahun 2002
=NOPAT Investasi bersih pada modal operasi
= $170,3 - $280
= -$109,7 juta

Meskipun Allied memiliki angka NOPAT yang positif, investasinya


yang sangat tinggi pada modal operasi mengakibatkan arus kas bebas
negatif. Apakah arus kas bebas negatif selalu selalu berarti buruk?
jawabannya adalah Tidak selalu, hal itu tergantung kepada mengapa arus
kas bebas tersebut negatif. Jika FCF negatif karena NOPAT negatif,
maka artinya buruk karena perusahaan kemungkinan sedang mengalami
masalah dalam operasinya. Pengecualian dalam hal ini mungkin adalah
untuk perusahaan yang baru berjalan, atau perusahaan yang menanggung
berbagai beban berjalan yang signifikan untuk meluncurkan suatu lini
produk baru. Banyak perusahaan yang pesat pertumbuhannya memiliki
angka NOPAT positif tetapi arus kas bebas negatif karena investasi pada
aktiva operasi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhannya.
Tidak ada yang salah dengan pertumbuhan yang menguntungkan, bahkan
jika hal tersebut menyebabkan terjadinya arus kas yang negatif dalam
jangka pendek.




23


II.2.7 Rasio Leverage (Utang) Perusahaan


Menurut James C, Van Horne dan John M. Wachowicz, JR.
(2009:208) rasio utang yaitu rasio yang menunjukkan sejauh mana
perusahaan dibiayai oleh utang. Rasio utang ada dua yaitu :
a.

Debt To Equity Ratio adalah rasio utang terhadap ekuitas yang


dihitung dengan membagi total utang perusahaan (termasuk
kewajiban jangka pendek) dengan ekuitas pemegang saham.
Rumus :
Debt To Equity Ratio =

b.

Debt To Total Asset Ratio adalah rasio utang terhadap total aktiva
yang dihitung dengan membagi total utang perusahan dengan total
aktivanya.
Rumus :
Debt ToTotal AssetRatio=

II.2.8 Kebijakan Dividen


II.2.8.1 Pengertian Kebijakan Dividen
Menurut James C. Van Horne dan John M. Wachowicz (2007:270)
kebijakan dividen adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam keputusan
pendanaan perusahaan.
Menurut Dermawan Sjahrial (2010:305) kebijakan dividen adalah
penentuan besarnya dividen yang akan dibagikan.
Dengan demikian, kebijakan dividen merupakan keputusan apakah
laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada
pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan dalam bentuk
laba ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi dimasa
yang akan datang.




24


II.2.8.2 Teori Dividen


a.

Menurut Dermawan Sjahrial (2010:311) ada beberapa teori


kebijakan dividen yaitu :
1. Teori Dividen Tidak Relevan dari Modigliani dan Miller
Asumsi-asumsi pendapat ini lemah karena pasar modal sempurna
dimana semua investor adalah rasional. Prakteknya sulit ditemui
pasar modal yang sempurna, tidak ada biaya emisi saham baru,
kenyataannya biaya emisi saham baru (flotation cost) itu pasti
ada, tidak ada pajak, kenyataannya pajak pasti ada, kebijakan
investasi perusahaan tidak berubah, prakteknya kebijakan
investasi perusahaan pasti berubah, beberapa ahli menentang
pendapat Modigliani dan Miller mengenai dividen tidak relevan
dengan menunjukkan bahwa adanya biaya emisi saham baru akan
mempengaruhi

nilai

perusahaan.

Perusahaan

lebih

suka

menggunakan laba ditahan daripada menerbitkan saham baru.


Ada kemungkinan laba ditahan tidak cukup besar sehingga
perusahaan harus menerbitkan saham baru. Semakin besar target
laba

ditahan,

semakin

kecil

kemungkinan

perusahaan

menerbitkan saham baru.


2. Teori The Bird In The Hand
Gordon dan Lintner menyatakan bahwa biaya modal sendiri
perusahaan akan naik jika DPR (dividend payout ratio) rendah
karena investor lebih suka menerima dividen dibanding capital
gain karena dividend yield lebih pasti. Menurut Modigliani dan
Miller pendapat Gordon dan Lintner merupakan suatu kesalahan,
karena akhirnya investor akan kembali menginvestasikan dividen
yang diterima pada perusahaan yang sama atau perusahaan yang
memiliki risiko yang hampir sama.
3. Teori Perbedaan Pajak
Teori ini diajukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy karena
adanya pajak terhadap dividend dan capital gains. Para investor
lebih menyukai capital gains karena dapat menunda pembayaran




25


pajak. Maka investor mensyaratkan bahwa suatu tingkat


keuntungan yang lebih tinggi pada saham yang memberikan
dividend yield tinggi, capital gains rendah daripada dividend
yiled rendah capital gains tinggi. Jika pajak atas dividen > pajak
atas capital gains, perbedaan ini makin terasa.
4. Teori Signaling Hypothesis
Bukti empiris menyebutkan bahwa jika ada kenaikan dividen,
sering diikuti dengan kenaikan harga saham demikian pula
sebaliknya. Menurut Modigliani dan Miller kenaikan dividen
biasanya merupakan suatu signal (tanda) kepada para investor
bahwa manajemen perusahaan meramalkan suatu penghasilan
yang baik di masa mendatang. Sebaliknya suatu penurunan
dividen atau kenaikan dividen yang dibawah normal (biasanya)
diyakini investor sebagai pertanda (signal) bahwa perusahaan
menghadapi masa sulit di masa mendatang.
5. Teori Clientele Effect
Kelompok (Clintele) pemegang saham yang berbeda akan
memiliki preferensi yang berbeda terhadap kebijakan dividen
perusahaan. Kelompok pemegang saham yang membutuhkan
penghasilan pada saat ini lebih menyukai suatu dividend payout
yang tinggi. Sebaliknya kelompok pemegang saham yang tidak
begitu membutuhkan uang saat ini lebih senang jika perusahaan
menahan sebagian laba bersih perusahaan. Jika ada perbedaan
pajak bagi individu (misalnya orang lanjut usia dikenakan pajak
lebih ringan) karena dapat menunda pajak. Kelompok ini lebih
senang jika perusahaan membagi dividen yang kecil. Maka
kelompok pemegang saham yang dikenakan pajak tinggi lebih
menyukai capital gains demikian pula sebaliknya.

b.

Menurut Baker dan Wurgler yang dilansir oleh website kementerian


BUMN (2011) mengemukakan catering theory of dividends.
Menurut mereka, pasar modal tidak selalu efisien dalam menelaah




26


informasi. Jadi, keputusan membagikan dividen tergantung dari


minat investor dan respons pasar terhadap dividen. Manajemen
sebaiknya membagikan dividen jika pasar memberi nilai lebih
(premium) pada perusahaan yang membagikan dividen. Sebaliknya,
manajemen perusahaan jangan membagikan dividen jika pasar tidak
memberi premium pada perusahaan pembagi dividen.

II.2.8.3 FaktorFaktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen


Menurut Dermawan Sjahrial (2010:305) ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kebijakan dividen yaitu :
1. Posisi likuiditas perusahaan
Makin kuat posisi likuiditas perusahaan makin besar dividen yang
dibayarkan.
2. Kebutuhan dana untuk membayar utang
Apabila sebagian besar laba digunakan untuk membayar utang maka
sisanya yang digunakan untuk membayar dividen makin kecil.
3. Rencana perluasan usaha
Makin besar perluasan usaha perusahaan, makin berkurang dana yang
dapat dibayarkan untuk dividen.
4. Pengawasan terhadap perusahaan
Kebijakan pembiayaan : untuk ekspansi dibiayai dengan dana dari
sumber intern antara lain : laba. Pertimbangannya apabila dibiayai
dengan penjualan saham baru ini akan melemahkan kontrol dari
kelompok pemegang saham dominan karena suara pemegang saham
mayoritas berkurang.

II.2.8.4 Bentuk-Bentuk Pendistribusian Dividen.


Menurut Brigham dan Houston (2009:100) adalah :
1.

Pemecahan Saham yaitu tindakan yang diambil oleh sebuah


perusahaan untuk meningkatkan jumlah lembar saham beredar,
seperti menggandakan jumlah lembar saham beredar dengan




27


memberikan dua saham baru kepada pemegang saham untuk setiap


satu lembar saham yang sebelumnya dimiliki.
2.

Dividen Saham suatu dividen yang dibayarkan dalam bentuk


tambahan saham dan bukannya dalam bentuk uang tunai.

3.

Pembelian

Kembali

Saham

yaitu

transaksi

dimana

sebuah

perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri, sehingga akan


menurunkan jumlah saham beredar, meningkatkan EPS dan
seringkali menaikkan harga saham.
II.2.8.5 Prosedur Pembayaran Dividen
Menurut Brigham dan Houston (2009:90) prosedur-prosedur pembayaran
dividen sebagai berikut :
a. Tanggal deklarasi (declaration date).
Tanggal dimana para direksi perusahaan mengeluarkan sebuah
pernyataan yang mengumumkan pembayaran dividen.
b. Tanggal pemegang saham tercatat (holder-of-record date).
Jika daftar yang dimiliki perusahaan menyatakan pemegang saham
sebagai seorang pemilik pada tanggal hari ini, maka pemegang saham
tersebut akan menerima dividen.
c. Tanggal pemisahan (ex-dividend date)
Tanggal dimana hak atas dividen saat ini tidak lagi menyertai sebuah
saham, biasanya dua hari kerja sebelum tanggal pemegang saham
tercatat.
d. Tanggal pembayaran (dividend payout).
Tanggal dimana sebuah perusahaan benar-benar mengirimkan cek
pembayaran dividennya.

II.2.9 Dividend Payout Ratio (DPR)


Dividend Payout Ratio (rasio pembayaran dividen) menurut James
C. Van Horne dan John M. Wachowicz, JR (2007:270) menentukan
jumlah laba yang dapat ditahan dalam perusahaan sebagai sumber
pendanaan. Persentase laba yang dibayarkan dalam bentuk dividen atau




28


rasio antara laba yang dibayarkan dalam bentuk dividen dengan total laba
yang tersedia bagi pemegang saham.
Dividend payout ratio (DPR) ini ditentukan perusahaan untuk
membayar dividen kepada para pemegang saham setiap tahun, penentuan
DPR berdasarkan besar kecilnya laba setelah pajak.
Rumusnya :
DPR =




Dari pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa dividend


payout ratio merupakan rasio pembayaran yaitu dividen dibagi net
income.

II.3 Kerangka Pemikiran


Kerangka pemikiran menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel
yang akan diteliti. Kerangka pemikiran pada penelitian ini digambarkan
dalam bentuk skema sebagai berikut :
FCFdanDERyangdapat
menimbulkankonflik
kepentingan

Feedback


KebijakanDividen

PengaruhFreeCashFlow
danDebtToEquity
terhadapDividendPayout
Ratio

ApakahFreeCashFlow
danDebtToEquity
mempunyaipengaruh
terhadapDividendPayout
Ratio?

AnalisaData:
MultipleLinear
Regression




29


II.4 Pengembangan Hipotesis


Hipotesis menurut penelitian Dini Rosdini tahun 2009 menyatakan
bahwa free cash flow berpengaruh terhadap dividend payout ratio, sedangkan
menurut penelitian Lisa Marlina dan Clara Danica tahun 2009 menyatakan
bahwa cash position, debt to equity dan return on assets mempunyai
pengaruh secara signifikan terhadap dividend payout ratio. Pengembangan
hipotesis dalam penelitian ini adalah free cash flow dan debt to equity
mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap dividend payout ratio.