Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FISIKA INDUSTRI

DISUSUN OLEH :
NAMA

: ROBERTUS FREDY TOMI S

NIM

: 12/15138/STIK UNGGULAN

JURUSAN

: TEKNIK PERTANIAN

FAKULTAS

: TEKNOLOGI PERTANIAN

KELOMPOK

: IV

ACARA II

: TERMOKOPEL

CO.ASS

: RENGGA ARNALIS RENJANI

PEMBIMBING

: Ir. EKA SUHARTANTA, M.Si

INSTITUT PERTANIAN STIPER


YOGYAKARTA
2012

I.

TANGGAL PRAKTIKUM

: 30 NOVEMBER 2012

II.

ACARA

: TERMOKOPEL

III.

TUJUAN
:
1. Memahami timbulnya tenaga gerak listrik (tgl) akibat adanya
perbedaan suhu.
2. Membuat pengalihragaman nilai tegangan keluaran termokopel ke
besaran suhu.
3. Mengukur suhu benda.

IV.

ALAT & BAHAN

a. Alat
1. Termokopel chromel-alumel

: 1 Buah

2. Termometer batang

: 1 Buah

3. Multimeter digital.

: 1 Buah

4. Unit pemanas bahan bakar spirtus

: 1 Buah

5. Statif

: 1 Buah

6. Gelas beker

: 2 Buah

7. Dudukan gelas beker dari asbes

: 1 Buah

8. Korek Api
9. Tali

V.

b. Bahan
1. Air
2. Es batu

: Secukupnya
: Secukupnya

3. Spiritus

: Secukupnya

TINJAUAN PUSTAKA

Apabila sebuah batang, di kedua ujungnya bersuhu tidak sama, maka


di sepanjang batang itu terjadi gradien suhu. Gradien suhu menyebabkan
depresi elektron bebas pada logam itu, sehingga timbul tgl di antara kedua
ujungnya. Efek tersebut dikemukakan oleh ahli fisika Thomson, Peltier
dan Seebeck, dalam kaitan matematis :
VAB

= (AB)T2 - (AB)T1 +

VAB

= beda potensial antara kedua ujung kawat

(AB)T

= tenaga gerak listrik Peltier pada suhu T

AB

= konduktivitas chromel (A), dan alumel (B)

Persamaan di atas memperlihatkan bahwa VAB akan bernilai besar dan


mudah diukur bila A>>B atau A <<B. Dasar inilah yang digunakan untuk
memilih 2 jenis kawat guna membuat termokopel sebagai alat ukur suhu.
Termokopel, khususnya yang berbahan chromel alumel, biasa
digunakan di laboraturium pada beragam disiplin ilmu, maupun industri.
Termokopel memberikan keluaran berupa tegangan listrik yang memiliki
hubungan linear dengan suhu benda yang diukur. Tegangan keluar itu tidak
peka terhadap peubah panjang kawat, sehingga dapat digunakan untuk
mengukur suhu benda yang letaknya jauh dari pengukur. Selain itu, dengan
keluaran termokopel berupa tegangan, maka hasil ukur suhu dapat
ditampilkan secara digital, direkam di cakram, atau langsung dicetak.
Tidak kalah menariknya, termokopel ini memiliki kawasan suhu yang
lebar, yaitu dari -2730C sampai dengan 10000C.

VI.

CARA KERJA
A. Skematis

Termokopel

Tali
Termometer

Multimeter digital

Gambar: Set-up eksperimen termikopel

1. Ditempatkan salah satu ujung (probe) termokopel chromel alumel, sebut


saja sebagai ujung suhu referensi (T r)pada gelas beker yang berisi es yang
mulai mencair dan disebut bersuhu 00C. Probe termokopel yang lain
ditempatkan ke dalam gelas beker yang berisi air, sebut saja sebagai ujung
suhu ukur (Tu).
2. Dihubungkan pangkal termokopel yang lain dengan voltmeter digital, dan
digunakan skala milivolt (mV)
3. Dipanaskan air yang berada di dalam gelas beker (T u) dengan unit pemanas,
berbahan bakar spiritus, hingga mendidih.
4. Dicatat pembacaan suhu air oleh termometer setiap kenaikan suhu 5 0C, dan
saat itu juga tegangan keluaran termokopel oleh voltmeter dicatat. Suhu dan
tegangan keluaran termokopel dicatat juga setiap penurunan suhu 5 0C dari
saat air mendidih dalam keadaan pemanas dimatikan.
5. Diplot grafik konversi antara suhu air (T u) dengan tegangan keluaran
termokopel (VAB).
6. Diukur benda lain di sekitar tempat percobaan yang bersuhu kurang dari
suhu air mendidih, dan dicatat berapa tegangan yang diukur, yang berarti
berapa pula suhu dari benda itu.

B. Teoritis
1. Menempatkan salah satu ujung (probe) termokopel chromel
alumel, sebut saja sebagai ujung suhu referensi (Tr), pada gelas beker
yang berisi es yang mulai mencair dan disebut bersuhu 0 0C.

Menempatkan probe termokopel yang lain ke dalam gelas beker yang


berisi air, sebut saja sebagai ujung suhu ukur (Tu).
2. Menghubungkan pangkal termokopel yang lain dengan voltmeter
digital, menggunakan skala milivolt (mV).
3. Memanaskan air yang berada di dalam gelas beker (T u) dengan unit
pemanas, berbahan bakar spiritus, hingga mendidih.
4. Mencatat pembacaan suhu air oleh termometer setiap kenaikan suhu
50C, dan saat itu juga mencatat tegangan keluaran termokopel oleh
voltmeter. Mencatat suhu dan tegangan keluaran termokopel setiap
penurunan suhu 50C dari saat air mendidih dalam keadaan pemanas
dimatikan.
5. Memplot grafik konversi antara suhu air (Tu) dengan tegangan
keluaran termokopel (VAB).
6. Mengukur benda lain di sekitar tempat percobaan yang bersuhu
kurang dari suhu air mendidih, dan mencatat berapa tegangan yang
diukur, yang berarti berapa pula suhu dari benda itu.

VII.

HASIL PENGAMATAN & PERHITUNGAN


Data hasil pengamatan :
1. Kenaikan Suhu

Suhu (0C)

No

30

35

40

45

50

55

65

65

70

Tegangan (V)
0,08 x10-3
0,08 x10-3
0,09 x10-3
01,0 x10-3
02,0 x10-3
02,0 x10-3
02,2 x10-3
02,3 x10-3
02,6 x10-3
12,35x10-3

Data Pengamatan I (Kenaikan Suhu)

l Xn- l

l Xn- l 2

-0,82x10-3

0,82x10-3

1,64x10-6

0,8x10-3

-0,82x10-3

0,82x10-3

01,64x10-6

0,9x10-3

-0,72x10-3

0,72x10-3

1,44x10-6

No

Xn

0.8x10-3

2
3

Xn-

1,0x10-3

-0,62x10-3

0,62x10-3

0,38x10-6

2,0x10-3

-0,4x10-3

0,4x10-3

0,16x10-6

2,0x10-3

0,4x10-3

0,4x10-3

0,16x10-6

2,2x10-3

0,58x10-3

0,58x10-3

0,33x10-6

2,3x10-3

0,68x10-3

0,68x10-3

0,46x10-6

2,6x10-3

0,98x10-3

0,98x10-3

0,69x10-6

=14,6x10-3

=0

=6,02x10-3

=7,17x10-6

Perhitungan :
a)

= 1,6 x 10-3

b) Deviasi rata-rata (a) =

c)

= 0,66 x 10-3

=
=
= 0.9 x

d)

x 100 % =

= 0,5 x 100 %

x 100%

= 50%
e) Hasil pengamatan :
+ = 1,62x10-3 +0,66x10-3 = 2,20x10-3

f)

= 1,62x10-3 -

=0,96x10-3

Ketelitian :
100% - A=
= 0,0228 X

2. Penurunan suhu

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Suhu (0C)
70
65
60
55
50
45
40
35
30

Tegangan (V)
02,9 x10-3
02,8 x10-3

02,5 x10-3
02,3 x10-3
02,2 x10-3
01,8 x10-3
01,6 x10-3
01,3 x10-3
01,0 x10-3

18,4 x10-3

Data Pengamatan II (Penurunan suhu)

Xn-

No

Xn

2,9 x10-3

0,86x10-3

0,86x10-3

0,74x10-6

2,8 x10-3

0,76x10-3

0,76x10-3

0,57x10-6

2,5 x10-3

0,46x10-3

0,46x10-3

0,21x10-6

2,3 x10-3

0,26x10-3

0,26x10-3

0,06x10-6

2.2 x10-3

0,16x10-3

0,16x10-3

0,02x10-6

1,8 x10-3

-0,24x10-3

0,24x10-3

0,05x10-6

1,6 x10-3

-0,44x10-3

0,44x10-3

0,19x10-6

1,3 x10-3

-0,74x10-3

0,74x10-3

0,54x10-6

1,0 x10-3

-1,04x10-3

1,04x10-3

0,08x10-6

=18,4 x10-3

=0

=4,96x10-3

=3,46x10-6

Perhitungan :

a)

= 2,04 x 10-3

b) Deviasi rata-rata (a) =

c)

= 0,55 x 10-3

=
= 0,43 x 10-3

d)

x 100 % =

x 100 %

= 21%
e) Hasil pengamatan :
+ a = 2,04x10-3 + 0,55x10-3 = 2,95x10-3
a = 2,04x10-3 - 0,55x10-3 = 1,49x10-3
f) Ketelitian :
100% - A=

1,49x10-3

= 0,0149x10-3
= 149x 10-5

VIII. PEMBAHASAN
Termokopel merupakan suatu sensor suhu yang banyak digunakan
untuk mengubah perbedaan suhu dalam benda menjadi perubahan
tegangan listrik (voltase). Termokopel yang sederhana dapat dipasang, dan
memiliki jenis konektor standart yang sama, serta dapat mengukur
temperatur dalam jangkauan suhu yang cukup besar dengan batas
kesalahan pengukuran kurang dari 1 0C.
Dalam pengunaan alat termokopel ini, khususnya yang berbahan
chromel- alumel digunakan untuk mengubah zat panas dan zat dingin menjadi
tegangan listrik . Termokopel memberikan keluaran berupa tegangan listrik yang
memiliki skala milivolt pada pembacaan multimeter. Pembacaan termometer
pada penurunan atau kenaikan suhu setiap 5C, pengamatan dilakukan mulai dari
suhu 30 s/d 75C. Dari hasil percobaan didapat bahwa semakin panas suhu pada
ujung termokopel semakin besar tegangan yang dihasilkan. Dalam melakukan
percobaan ini kita dituntut secara cermat, hati-hati dan tepat dalam penulisan
ataupun penyajian data hasil

percobaan disamping itu juga ketelitian dalam

pembacaan termometer dan multimeter digital.


Termokopel, khususnya yang berbahan chromel-alumel, biasa digunakan
di laboratorium pada beragam disiplin ilmu, maupun industri.

Termokopel

memberikan keluaran itu tidak peka terhadap peubah panjang kawat, sehingga
dapat digunakan untuk mengukur suhu benda yang letaknya jauh dari pengukur.
Selain itu, dengan keluaran termokopel berupa tegangan maka hasil ukur suhu
dapat ditampilkan secara digital, direkam di cakram, atau langsung dicetak.
Tidak kalah menariknya, termokopel ini memiliki kawasan suhu yang lebar, yaitu
dari -2730C sampai dengan 10000C .
Kapasitas panas jenis atau panas molar suatu zat bukanlah satu-satunya
sifat fisis yang penentunya secara ekperimen memerlukan pengukuran suatu
kuantitas panas. Untuk mengukur suhu diluar batas kemampuan termokopel dan
termometer tahanan dipergunakan piromental optik. Alat ini dapat mengukur
suhu diatas titik leleh logam.

Dalam praktek ini kita manggunakan Termokopel untuk mengetahui gaya


gerak listrik atau tegangan yang di hasilkan oleh perbedaan suhu atau temperatur
yaitu antara suhu atau temperatur es dengan suhu atau temperatur air yang
dipanaskan. Kita mengamati kenaikan suhu yang dihasilkan oleh perbedaan suhu
di atas setiap kenaikan 5 oC dari suhu awal 30oC sampai 75o C. Setelah itu kita
mengamati penurunan suhu setiap 5 oC dari suhu awal 75oC sampai 30oC . Kita
menghitung ralat dari pengamatan yang kita catat .
Nilai rata-rata yang didapatkan pada saat kenaikan suhu adalah 1,6 x 10-3.
Deviasi rata-rata (a) 0,66 x 10-3. Deviasi standart (s) 0.9 x

Deviasi

standart relatif (S) 50%. Hasil pengukuran X a yaitu 2,20x10-3dan X a


yaitu 0,96x10-3, Tingkat ketelitian mencapai 0,0228 X

Nilai rata-rata yang didapatkan pada penurunan suhu adalah 2,04 x 10-3.
Deviasi rata-rata (a) 0,55 x 10-3. Deviasi standart (s) 0,43 x 10-3. Deviasi
standart relatif (S) 21%. Hasil pengukuran X a yaitu 2,95x10-3dan X a
yaitu 1,49x10-3. Tingkat ketelitian mencapai 149x 10-5.

IX.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini yaitu :

1. Mengamati perubahan suhu dalam penurunan ataupun kenaikan suhu dalam


pembacaan termometer batang.
2. Dalam percobaan kita harus teliti dalam pembacaan data dalam hasil
pengamatan tersebut.

3. Mengetahui tata cara melakukan percobaan penggunaan termokopel dalam


suhu yang berbeda.

4. Memahami timbulnya tenaga gerak listrik karena perbedaan suhu.


5. Termokopel memberikan keluaran berupa tegangan listrik yang memiliki
hubungan linier dengan suhu benda yang diukur

6. Pada saat kenaikan suhu, nilai rata-rata yang didapat yaitu 1,6 x 10-3. Deviasi
rata-rata (a) 0,66 x 10-3. Deviasi standart (s) 0.9 x

. Deviasi standart

relatif (S) 50%. Hasil pengukuran X a yaitu 2,20x10-3da X a yait


n
u

0,96x10-3, Tingkat ketelitian mencapai 0,0228 X

7. Nilai Pada saat penurunan suhu, nilai rata-rata yang didapat yaitu 2,04 x 103

. Deviasi rata-rata (a) 0,55 x 10-3. Deviasi standart (s) 0,43 x 10-3. Deviasi

standart relatif (S) 21%.

Hasil pengukuran

X a

X a yaitu 1,49x10-3. Tingkat ketelitian mencapai

yaitu 2,95x10-3dan

149x 10-5.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Petunjuk Praktikum Fisika Dasar I. Laboratorium Fisika Dasar


Institut Pertanian STIPER. Yogyakarta.
Irfan, Anshori. 1999. Penuntun Fisika. Bandung: Ganesa Exact.
Purwadi, B., dkk. 2000. Panduan Praktikum Fisika Dasar. Yogyakarta: Fakultas
MIPA Universitas Gajah Mada.

Yogyakarta, 6 Desember 2012


Mengetahui,
Co. Ass

(Rengga Arnalis Renjani)

Praktikan,

(Robertus Fredy Tomi S)

Anda mungkin juga menyukai