Anda di halaman 1dari 10

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Koloid tanah yang memiliki muatan negative besar akan dapat menjerap

sejumlah besar kation. Jumlah kation yang dapat dijerap koloid dalam bentuk dapat

tukar pada pH tertentu disebut kapasitas rukar kation (KTK). Kapasitas tukar kation

merupakan jumlah muatan negative persatuan berat koloid yang dinetralisasi oleh

kation yang yang mudah diganti. Kapasitas tukar kation didefinisikan sebagi nilai

yang diperoleh pada pH 7, yang dinyatakan dalam milligram setara per 100 gram

koloid.

Tanah Alfisol adalah tanah-tanah yang mempunyai kandungan liat tinggi di

horizon B ( horizon argilik) dibedakan menjadi tanah Alfisol (pelapukan belum lajut)

dan tanah Ultisol (pelapukan lanjut). Tanah Alfisol kebanyakan ditemukan didaerah

beriklim sedang, tetapi dapt pula ditemukan didaerah tropika dan subtropika.

Ultisol hanya ditemukan didaerah-daerah dengan suhu tanah rata-rata lebih dari 8 o C
Ultisol adalah tanah dengan horizon argilik bersifat masam dengan kejenuhan basa
rendah. Kejenuhan basa pada kedalaman 1,8 m dari permukaan tanah kurang dari
o
35%. Vertisol ditemukan di seluruh dunia diantara 45 LU dan 45o LS dan luas
selurinhnya meliputi 2.350.000 km 2. Di Indonesia ditemukan didaerah JawaTimur
yang mempunyai iklim dengan musim yang nyata, Lombok Selatan dan lain-lain.

Vertisol merupakan tanah-tanah berwarna gelap dengan tekstur liat dan luas

didaerah beriklim tropic dan sub tropik dengan curah hujan 1500 mm pertahun.
Sebagian hasil dari faktor-faktor pembentuk tanah yang spesifik didaerah seperti ini,

terbentuklah profil dengan karakteristik khusus seperti permukaan tanah yang

berwarna gelap, seluruh bagian solum yang mengerut dan retak dimusim kering serta

berkembang dan menjadi sangat plastis dimusim hujan.

Tanah Alluvial hanya meliputi lahan yang dipengaruhi oleh aktivitas

sungai/mengalami banjir, sehingga dapat dianggap masih muda dan belum ada

diferensiasi horizon. Endapat Alluvial yang sudah tua dan menampakkan akibat

pengaruh iklim dan vegetasi tidak termasuk Inseptisol, mungkin lebih berkembangan.

Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan praktikum Kapasitas Tukar

Kation, pada tanah Alfisol, tanah Ultisol, tanah Vertisol dan tanah Aluvial serta untuk

mengetahui pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.

1.2 Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui perbandingan KTK pada tanah

Alfisol, Ultisol, Vertisol dan Alluvial.

Kegunaan dari percobaan ini yaitu sebagai bahan informasi dalam pengolahan

tanah yang menyangkut dengan KTK.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanah Alfisol


Pada tanah Alfisol berasosiasi dengan tanah latosol coklat kemerahan ke

grumosol. Bentuk dari tanah ini tuff vulkan biasanya mempunyai tekstur yang ringan,

gumpal membulat, teguh (kering) atau agak gembur (lembab), mempunyai bercak-

bercak dari besi dan mangan yang biasanya terdapat konkresi dibawah pada bajak dan

mempunyai selaput liat pad ped surface. pH bervariasi sekitar 6,5-7,0, KTK 25-35

me/100 g tanah, kejenuhan basa lebih dari 50 persen (Hakim,dkk,1986).

Tanah-tanah ini berkembang pada hutan hujan tropic baik dari bahan-bahan

angkutan maupun dari bahan induk residu dimana pelapukan telah berlangsung lama

dan intensif. Solum tebal 1,5-10 meter, berwarna merah himgga kuning, kandungan

liat pada seluruh bagian sangat seragam sehingga tidak terdapat horizon B yang jelas.

Liat terdiri dariseskuieksida dengan kandungan liat tipe 1:1 seperti kaolinit, tipe liat

ini menyebabkan kapasitas tukar kation rendah, kandungan basa-basa total yang dapat

ditukarkan dan unsure-unsur dalam larutan tanah rendah. Kejenuhan basa rendah

hingga sedang 20-65 %, dan agak masam hingga netral pH 6,0-7,5, struktur tanah

cenderung menjadi mantap. Jumlah bahan organik dalam tanah mineral ini kurang

tinggi namun cukup berperan dalam memberikan warna untuk menghasilkan horizon

dan juga kesuburannya yang sangat rendah (Pairunan, dkk.,1997).

Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau dengan kadar liat tinggi

mempunyai KTK lebih tinggi dari pada tanah-tanah dengan kandungan bahan

organic rendah atau tanah-tanah berpasir. Jenis-jenis mineral liat juga menentukan

besarnya KTK tanah. Alfisol terbentuk dari bahan induk yang mengandung karbonat
dan tidak lebih dari pleistosin. Di daerah dingin hamper semuanya berasal dari

bahan induk berkapur yang sangat muda. Di daerah basah biasanya bahan induk

lebih tua dibandingkan di daerah dingin (Munir, 1984).

2.2 Tanah Ultisol

Tanah ini umumnya berkembang dari bahan induk tua. Di Indonesia banyaki

ditemukan di daerah dengan bahan induk batuan liat. Tanah ini merupakan bagian

terluas dari lahan kering di Indonesia yang belum dipergunakan untuk pertanian.

Problem tanah ini adalah reaksi masam, kadar Al tinggi sehingga menjadi racun

tanaman dan menyebabkan fiksasi P, unsure hara rendah, diperlukan tindakan

pengapuran dan pemupukan, keadaan tanah yang sangat masam sangat menyebabkan

tanah kehilangan kapasitas tukar kation dan kemampuan menyimpan hara kation

dalam bentuk dapat tukar, karena perkembangan muatan positif.

(Hardjowigeno,1993).

Senyawa-senyawa Al monomerik dan Al –hidroksi merupakan sumber utama

kemasaman dapat tukar dan kemasaman tertitrasi pada Ultisol. Sumber-sumber lain

adalah kation-kation ampoter dapat tukar atau senyawa-senyawa hidroksinya, bahan

organik dan hidrogen dapat tukar (Lopulisa,2004).

2.3 Tanah Vertisol

Proses pembentukan tanah ini telah menghasilkan suatu bentuk

mikrotopografi yang khusus yang terdiri dari cekungan dan gundukan kecil yang

biasa disebut topografi gilgai. Kadang-kadang disebut juga topografi polygonal

(Hardjowigeno, 1993).
Koloid tanah yang memiliki muatan negetif besar akan dapat menjerap

sejumlah besar kation. Jumlah kation yang dapat dijerap koloid dalam bentuk dapat

tukar pH tertentu disebut kapasitas tukar kation. KTK merupakn jumlah muatan

negatif persatuan berat koloid yang dinetralisasi oleh kation yang muda

diganti(Pairunan,dkk,1997).

Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau dengan kadar liat tinggi

mempunyai KTK lebih tinggi dari pada tanah-tanah dengan kandungan bahan

organik rendah atau tanah-tanah berpasir. Jenis-jenis mineral liat juga menentuka

besarnya KTK tanah (Hakim,dkk,1986).

2.4 Tanah Alluvial

Tanah Aluvial yang di persawahan akan berbeda sifat morfologisnya dengan

tanah yang tidak di persawahan. Perbedaan yang sangat nyata dapat dijumpai pada

epipedonnya, dimana pada epipedon yang tidak pernah dipersawahan berstruktur

granular dan warna coklat tua (10 YR 4/3). Sedangkan epipedon tanah Aluvial yang

dipersawahan tidak berstruktur dan berwarna berubah menjadi kelabu (10 YR5/1)

(Munir, 1984).

Tanah Alluvial memiliki kemantapan agregat tanah yang didalamnya terdapat

banyak bahan organik sekitar setengah dari kapasitas tukar katio (KTK) berasal dari

bahan bahan sumber hara tanaman. Disamping itu bahan organik adalah sumber

energi dari sebagian besar organism tanah dalam memainkan peranannya bahn

organik sangat dibutuhkan oleh sumber dan susunanya (Hakim,dkk,1986).


Tanah Alluvial mengalami pencucian selama bertahun-tahun tanah ini

ditandai dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Vegetasi kebanyakan lumut

yang tumbuh rendah. Tumbuhan tumbuh dengan lambat, tetapi suatu lahan yang

rendah menghambat dekomposisi bahan organik sehingga menghasilkan tanah yang

mengandung bahan organik dan KTK yang tinggi (Foth,HD,1994).

III.BAHAN DAN METODE

3.1 Tempat dan Bahan

selesai Praktikum penentuan KTK dilaksanakan di Laboratorium Kimia

Tanah Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar,

yang berlangsung pada hari Rabu tanggal 25 April 2007 pukul 14.00 WITA sampai
3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah tempat roll film, saringan,

tabung destilasi, elenmeyer,, gelas ukur, timbangan, lampu spritus, dan corong.

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah 5 gr sampel tanah,

kertas, tissue roll, kertas label, larutan Amonium Asetat 1N, aquadest, alkohol 70 %,

larutan NaOH 10N, MgO, Larutan Baric Acid dan larutan HCL 0,1N

3.3 prosedur kerja

Adapun prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini yaitu :

 5 gr sampel tanah masukkan ke dalam botol polytethilen

 Tambahkan 50 ml Ammonium Acetat 1N

 Kocok selama 1 jam

 Diamkan semalam dan saring dengan menggunakan kertasa saring(ekstraknya

untuk analisa Ca, Mg, K, Na sedangkan filtratnya untuk analisa KTK.

 Tanah pada kertas saring dicuci dengan alcohol 70% sampai bebas NH3

 Tambahkan 0,5 gr MgO

 Masukkan kedalam tabung destilasi, tambahkan NaOH 10 N sebanyak 20 m

 Destilat, destilasi ditampung dengan menggunakan campuran Conway

 Titrasi dengan menggunakan rumus

Hitung dengan menggunakan rumus :

KTK (cmol/kg) = ml penitar x N X 100/5


g sampel
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dalam percobaan Kapasitas

Tukar Kation adalah sebagai berikut :

Tabel 2 : Hasil Pengamatan Kapasitas Tukar Kation pada Tanah Alfisol, Ultisol,

Ultisol, dan Alluvial.


Jenis Tanah KTK (c mol/kg) Kriteria
Alfisol 2,63 Sangat rendah
Ultisol 0,55 Sangat rendah
Vertisol 3,33 Sangat rendah
Alluvial 2,04 Sangat rendah
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2007.

4.2 Pembahasan

Tanah Alfisol memiliki nilai KTK sebesar 2,63 c mol/kg dengan kriteria

sangat rendah. Hal ini disebabkan karena adanya pencucian karbonat dan braunifikasi

sehingga pada tanah Alfisol terjadi pencucian karbonat sehingga plasma lebih muda

bergerak bersama dengan air perkolasi. Dengan pencucian karbonat ini, KTK tanah

menjadi lebih rendah dan tanah menjadi lebih masam. Kadang-kadang sampai

mencapai pH 4,5. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno (1987), bahwa

dengan adanya pencucian ini plasma bergerak dengan air kebawah sehingga KTK

tanah menjadi rendah yang berdampak pada menurunnya pH.

Tanah Ultisol memiliki nilai KTK sebesar 0,55 c mol/kg dengan kriteria

sangat rendah. Hal ini disebabkan karena pada tanah Ultisol terus mengalami

pencucian yang berlangsung terus yang menyebabkan erosi dengan tingkat basa yang

sangat rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Pairunan, dkk (1997), bahwa KTK

rendah disebabkan karena proses luxiviasi dan pedsolisasi kejenuhan basa yang

rendah.

Tanah Vertisol memiliki nilai KTK sebasar 3,33 c mol/kg dengan kriteria

sangat rendah. Hal ini disebabkan karena tanah Vertisol yang mempunyai kandungan

liat yang terbungkus oleh mineral liat montmorillonit yang bertipe 2:1 yang
mempunyai kemampuan air mengikat air yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat

Lopulisa (2004), bahwa tanah Vertisol memiliki kandungan liat yang tinggi

dibandingkan dengan tanah-tanah lainnya.

Tanah Alluvial memiliki nilai KTK sebesar 2,04 c mol/kg dengan kriteria

sangat rendah. Hal ini disebabkan karena tanah Alluvial sebagian besar terbentuk

karena hasil endapan sungai atau delta-delta, dimana hasil endapan itu sebagian besar

merupakan lapisan topsoil yang kaya akan unsure hara. Dengan adanya erosi yang

terus menerus, menyebabkan tanah-tanah itu berkembang dengan sangat lambat. Hal

ini sesuai dengan pendapat Pairunan, dkk (1997), bahwa tanah-tanah Alluvial yang

terbentuk , merupakan hasil sedimentasi dari sungai-sungai atau akibat dari erosi

yang terus menerus.