Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Hakekat Pembangunan Nasional di Indonesia adalah pembangunan

manusia seutuhnya dan pembangunan bagi seluruh masyarakat Indonesia secara


merata dan berkesinambungan. Sebagai Negara yang sedang berkembang,
Indonesia melaksanakan pembangunan di bidang pertanian untuk meningkatkan
persediaan pangan dan mengimbangi laju pertumbuhan penduduk. Sampai tahap
pelita V, bidang pertanian masih mendapatkan perhatian yang besar dari
pemerintah, disamping usaha-usaha menuju kea rah industrialisasi pada
Pembangunan Jangka Panjang Tahap ke II.
Ada beberapa cara yang dilakukan untuk mempercepat pembangunan di
bidang pertanian, antara lain dengan memperbaiki mutu tanah yang telah
dijadikan usaha tani dan mengusahakan lahan baru untuk pertanian. Pembukaan
lahan dan pemanfaatan sumber air yang baru membuka kemungkinan luas untuk
memperbesar produksi pertanian. Namun perlu diingat bahwa pembukaan lahan
baru yang cukup luas memerlukan investigasi yang besar. Sedangkan yang
termasuk dalam usaha meningkatkan mutu tanah adalah perbaikan-perbaikan
untuk menahan dan menyimpan air hujan, meningkatkan efisiensi penggunaan air
irigasi, perbaikan sistem irigasi yang sudah ada, sistem drainasi dan sebagainya.
Masalah yang dihadapi dalam usaha intensifikasi dan pengembangan lahan
pertanian baru terutama adalah penyediaan air. Di pulau Jawa, sistem irigasi yang
ada sangat mengandalkan aliran sungai. Pembangunan waduk adalah untuk
menahan dan menyimpan aliran sungai guna dimanfaatkan pada periode tertentu,
merupakan alternatif pemanfaatan aliran sungai yang memungkinkan.
Pembangunan Waduk Pondoh di Kali Dero Desa Gendong Kecamatan
Bringin Kabupaten Ngawi merupakan salah satu pilihan dalam rangka
intensifikasi lahan pertanian yang sudah ada. Waduk ini dibangun untuk mengairi
daerah irigasi seluas 3.511 ha meliputi Daerah Pengairan Dero dan Daerah
Pengairan Padas, yang saat sekarang hanya mendapat air sebesar 50% dari

kebutuhan. Sehingga diharapkan dapat menaikkan intensitas dari produksi


pertanian.
Pembangunan Waduk Pondoh mengalami penjadwalan kurang lebih 10
tahun yaitu dari tahun 1982 hingga tahun 1992. Tentunya hal tersebut
berpengaruh terhadap biaya maupun manfaat dari Waduk Pondoh tersebut. Selain
itu pada saat sekarang ini keberadaan Waduk Pondoh nantinya diharapkan mampu
mengendalikan atau mengurangi kerugian akibat banjir bandang pada akhir-akhir
ini yang sering terjadi di hilir Kali Dero.

1.2.

Identifikasi Masalah
Pembangunan Waduk Pondoh merupakan bagian dari rencana induk

pengembangan wilayah Sungai Bengawan Solo yang diharapkan dapat


meningkatkan hasil produksi pertanian di Daerah Irigasi Ngawi.
Pembangunan Waduk ini diharapkan mampu memenuhi kekurangan air
untuk daerah irigasi seluas 3511 ha. Dan direncanakan air bisa terpenuhi setiap
musimnya sesuai dengan kebutuhan air yang telah direncanakan sebesar yaitu
1,28 lt/dt/ha.
Dalam studi ini dititik beratkan pada masalah sampai beberapa jauh
pengaruh penjadwalan pembangunan Waduk Pondoh dari segi ekonomi dan
sampai beberapa jauh kemampuan Waduk Pondoh untuk mengairi luas daerah
irigasi dan mengurangi kerugian akibat banjir bandang di hilir Kali Dero.

1.3.

Batasan Masalah
Dengan mengacu pada tinjauan di atas, maka lingkup pembahasan studi ini

meliputi :
1. Kemampuan Waduk untuk memenuhi kebutuhan air irigasi seluas 3511
ha dalam berbagai musim.
2. Kemampuan Waduk Pondoh mengurangi kerugian akibat banjir.
3. Besarnya biaya proyek berdasarkan dokumen kontrak yang telah
disetujui.
4. Besarnya biaya operasi dan pemeliharaan proyek berdasarkan estimasi
biaya pada saat ini.

5. Keuntungan proyek dihitung berdasarkan peningkatan hasil produksi


pertanian dan keuntungan dari pengendalian banjir disesuaikan dengan
harga pada saat ini.
6. Mencari besarnya nilai B/C dan IRR.

1.4.

Rumusan Masalah
Dengan batasan masalah di atas, permasalahan dalam studi ini dirumuskan

sebagai berikut :
1. Mampukah Waduk Pondoh mengairi lahan irigasi seluas 3511 ha ?
2. Berapakah besarnya keuntungan yang didapat dari pengurangan kerugian
akibat banjir ?
3. Berapakah besarnya biaya pembangunan proyek Waduk Pondoh ?
4. Berapakah besarnya keuntungan total proyek Waduk Pondoh ?
5. Berapakah besarnya nilai BCR dan IRR

1.5.

Tujuan dan Kegunaan


Tujuan dari studi ini adalah mengevaluasi kemampuan Waduk Pondoh

untuk irigasi dan pengendalian banjir serta mencari besarnya nilai BCR, IRR.
Kegunaan dari studi ini adalah sebagai sumbangan pemikiran kepada
pihak yang berkepentingan terhadap masalah ini, guna bahan perbaikan dan
penilaian pelaksanaan Waduk Pondoh.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Umum
Proyek merupakan suatu rangkaian aktifitas yang dapat direncanakan,

yang didalamnya menggunakan sumber-sumber, misalnya uang dan tenaga kerja,


untuk mendapatkan manfaat atau hasil di masa yang akan datang. Suatu proyek
mempunyai tahap-tahap yang dilalui di dalam suatu kegiatan proyek, yaitu
sebagai berikut :
1. Identifikasi, dimana dalam tahap ini dilakukan dengan maksud untuk
mendapatkan gambaran mengenai kemampuan potensial dari proyek yang
akan dilaksanakan (identifikasi potensi proyek).
2. Persiapan dan analisa, yaitu mengadakan persiapan terhadap pelaksanaan
proyek yang akan dilaksanakan.
3. Appraisal, merupakan tahap penilaian dari persiapan-persiapan yang telah
dilakukan.
4. Supervisi merupakan tahap pelaksanaan dari proyek yang direncanakan.
Yang perlu diperhatikan dalam tahap ini adalah :
a. Bahwa proyek yang akan dilaksanakan harus diusahakan untuk mencapai
manfaat yang telah ditetapkan.
b. Bahwa proyek yang akan dilaksanakan tersebut mempunyai pengaruh
terhadap lingkungan sekitarnya baik pengaruh positif maupun negatif.
5. Evaluasi, merupakan tahap penilaian.

2.2.

Kelayakan Proyek
Kegiatan suatu proyek selalu ditujukan untuk mencapai suatu tujuan dan

mempunyai suatu titik tolak serta mempunyai titik akhir baik biaya maupun
hasilnya dapat ditukar.
Dengan demikian suatu proyek perlu dianalisa kelayakannya karena :
1. Analisa dapat digunakan sebagai alat perencanaan didalam pengambil
keputusan.

2. Analisa dapat digunakan sebagai pedoman atau alat di dalam pengawasan,


apakah proyek nanti dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan atau
tidak.
Dalam analisa proyek ada berbagai aspek yang perlu diperhatikan yaitu :
1. Aspek teknis
Yaitu aspek yang berhubungan dengan input dan output daripada barangbarang dan jasa yang digunakan serta dihasilkan di dalam suatu kegiatan
proyek.
2. Aspek managerial dan administratif
Yaitu aspek yang menyangkut kemampuan pelaksana untuk melaksanakan
administrasi dalam aktivitas besar.
3. Aspek organisasi
Yaitu aspek yang ditujukan pada hubungan antara administrasi proyek dan
bagian administrasi pemerintah lainnya.
4. Aspek komersial
Yaitu aspek yang menganalisa penawaran input yang diperlukan proyek,
baik pada waktu membangun proyek maupun pada proyek yang sudah
berproduksi dan menganalisa pasaran yang dihasilkan proyek.
5. Aspek finansial
Aspek ini merupakan aspek utama yang menyangkut tentang perbandingan
antara pengeluaran uang dan pemasukan uang dalam suatu proyek.
6. Aspek ekonomi
Aspek yang menyelidiki apakah proyek itu akan memberikan sumbangan
ekonomi seluruhnya dan apakah peranannya dapat membenarkan
penggunaan sumber-sumber langka.

2.3.

Analisa Aspek Teknis

2.3.1. Debit Andalan


Data inflow adalah data debit yang masuk ke waduk atau disebut juga
debit andalan. Debit andalan diartikan sebagai debit yang tersedia guna keperluan
tertentu sepanjang tahun, dengan resiko kegagalan yang telah diperhitungkan.

Kriteria keadaan debit yang dinyatakan dengan (Sosrodarsono, 1980:204) :


1.

Debit air kering, dengan peluang keandalan 97,30 %.

2.

Debit air rendah, dengan peluang keandalan 75,34 %.

3.

Debit air normal, dengan peluang keandalan 50,68 %.

4.

Debit air cukup, dengan peluang keandalan 26,02 %.


Untuk memperoleh debit-debit tersebut di atas, harus dibuat kurva kondisi

aliran, yaitu hubungan antara debit dengan peluang keberhasilan. Dalam kajian ini
hanya akan digunakan satu jenis distribusi saja, yaitu distribusi Log-Pearson III.
Adapun persamaan dari distribusi Log Pearson III adalah (Soemarto,
1987:244) :
Log x = + G. Sd
dengan :
Log x = log aliran dengan kala ulang yang dikehendaki
= rerata logaritma aliran
Sd
G

= simpangan baku
= variabel dari tabel hubungan antara peluang dengan koefisien
kemiringan

2.3.1.1.Uji Chi-Square
Uji Chi-Square ini digunakan untuk menguji distribusi data dapat
dihampiri dengan baik oleh distribusi teoritis.
2.3.1.2.Uji Smirnov-Kolmogorof
Pengujian kesesuaian cara Smirnov-Kolmogorof ini dilakukan dengan
membandingkan peluang yang paling maksimum antara distribusi empiris dan
teoritisnya.
2.3.2. Kebutuhan Air Irigasi
Kebutuhan air irigasi terdiri dari banyaknya air yang diperlukan untuk
pertumbuhan tanaman, evapotranspirasi dari tanaman, evaporasi dari lapangan
dan perkolasi ke dalam tanah yang semuanya berubah-ubah sesuai dengan cuaca
dan cara pertanian. Dalam studi ini besarnya kebutuhan air irigasi Pondoh sebesar
1,28 lt/det/ha (Proyek Irigasi Pondoh).

2.3.3. Kehilangan Air Karena Evaporasi


Evaporasi adalah proses perubahan fisik yang mengubah cairan atau bahan
padat menjadi gas melalui proses perpindahan panas. Besarnya harga evaporasi
sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang terkadang tidak merata di
seluruh daerah. Perkiraan besarnya evaporasi dari suatu waduk tidak dapta
dilakukan secara langsung dari suatu pengukuran dengan panci, karena evaporasi
dari satuan permukaan panci tersebut lebih besar daripada evaporasi dari satuan
permukaan waduk.
2.3.4. Pola Operasi Waduk
Pada prinsipnya pengoperasian waduk bertujuan membuat keseimbangan
antara volume tampungan, debit inflow dan debit outflow. Metode simulasi adalah
salah satu cara untuk merupakan suatu proses peniruan perilaku suatu sistem. Hal
ini meliputi pengembangan suatu model matematik dari semua karakteristik yang
terkandung serta kemungkinan respon dari sistem tersebut.
Anggapan-anggapan dalam metode simulasi adalah sebagai berikut :
1.

Waduk terisi penuh pada saat permulaan simulasi.

2.

Data masukan dianggap mampu mewakili aliran debit sungai di masa


mendatang.

2.3.5. Penelusuran Banjir Lewat Waduk


Penelusuran banjir adalah merupakan peramalan hidrograf di suatu titik
pada suatu aliran atau bagian sungai yang didasarkan atas pengamatan hidrogaf di
titik lain.

2.4.

Analisa Ekonomi
Dalam analisa ekonomi, suatu proyek dilihat dari sudut perekonomian

secara keseluruhan.
Unsur-unsur yang ditinjau dalam analisa ekonomi adalah sebagai berikut
(Kadariah, 1978:3) :
1.

Harga yang dipakai sebagai pedoman adalah harga bayangan.

2.

Pembayaran pajak tidak dikurangkan dalam perhitungan keuntungan dari


suatu proyek.

3.

Besarnya subsidi harus ditambahkan pada harga pasar barang-barang


input.

4.

Besarnya bunga modal biasanya tidak dipisahkan atau dikurangkan dari


hasil kotor.

2.4.1. Biaya Proyek


Yang dimasukkan dalam biaya proyek adalah sebagai berikut (Kadariah,
1978:6) :
1.

Biaya angsuran hutang dan bunga.

2.

Penyusutan.

3.

Biaya konstruksi dan peralatan.

4.

Biaya tanah.

5.

Bunga selama masa konstruksi.

6.

Biaya operasi dalam pemeliharaan.

7.

Biaya pembaharuan atau pengganti.

8.

Biaya yang sudah terpakai.

2.4.2. Keuntungan Proyek


Di dalam hal ini keuntungan suatu proyek terdiri dari keuntungan langsung
dan keuntungan tidak langsung, disamping itu dikenal pula keuntungan yang tidak
dapat diukur dengan uang.
2.4.3. Nilai Bersih Sekarang
Setelah data tentang biaya yang dikeluarkan dan tentang manfaat yang
diperoleh dari adanya pembangunan Waduk Pondoh, maka besarnya biaya yang
dikeluarkan dan manfaat yang diperoleh dianalisa berdasarkan nilai waktu dari
uang.
2.4.4. Nisbah Manfaat Biaya
Nisbah manfaat biaya (B/C) merupakan metode untuk analisa ekonomi,
guna mengetahui apakah proyek itu menguntungkan (layak dikerjakan) atau tidak.
Bila harga B/C lebih besar dari 1 maka proyek layak untuk dikerjakan, demikian
juga sebaliknya bila B/C kurang dari 1 maka proyek tersebut tidak layak
dikerjakan.

2.4.5. Tingkat Pengembalian Internal


Tingkat pengembalian internal (IRR) adalah tingkat suku bunga yang dapat
membuat besarnya NPV proyek sama dengan nol atau dapat dikatakan suku bunga
B/C sama dengan satu. IRR ini menunjukkan kemampuan suatu proyek untuk
menghasilkan pengembalian atau tingkat keuntungan dapat dicapainya. IRR ini
juga dapat dicari dengan cara sebagai berikut, mula-mula dipakai tingkat suku
bunga yang diperkirakan mendekati besarnya IRR. Kalau perhitungan ini
memberikan NPV positif, maka harus dicoba tingkat suku bunga yang lebih
tinggi, demikian seterusnya sampai diperoleh NPV negatif. Jika hal ini sudah
tercapai, maka dilakukan interpolasi antara suku bunga yang tertinggi (i) dengan
hasil NPV positif (NPV) dan suku bunga (i) yang memberikan NPV negatif
(NPV), sehingga diperoleh NPV sebesar nol (Kadariah, 1978:31).
2.4.6. Analisis Kenaikan Harga
Proyek pembangunan Waduk Pondoh direncanakan pada tahun 1982 dan
secara ekonomis perhitungan biaya menggunakan dasar harga tahun 1982.
Dengan demikian perencanaan biaya pembangunan Waduk Pondoh menggunakan
harga konstan tahun 1982.
Peramalan indeks harga dan faktor eskalasi diambil berdasarkan data dasar
dari tahun 1975 sampai tahun 1982 yang diambil dari Proyek Induk
Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo, ditambah tahun 1983 hingga
1993 yang bersumber dari Biro Pusat Statistik untuk Domestic Currency dan
International Price Index (IBRD) untuk Foreign Currency.
Indeks harga merupakan rasio antara harga pembelian sekelompok barang
pada tahun itu dengan harga pembelian kelompok barang yang sama pada tahun
dasarnya, dikalikan nilai indeks yang ditetapkan. Selanjutnya kasus yang terjadi
pada proyek pembangunan Waduk Pondoh adalah mengalami penjadwalan
selama 10 tahun. Untuk mengantisipasi perbedaan harga yang terjadi, maka perlu
dilakukan perhitungan kenaikan harga/faktor eskalasi. Hal ini untuk mengetahui
biaya proyek Waduk Pondoh saat ini.

2.5.

Evaluasi Kerugian Akibat Banjir


Banjir adalah peristiwa alam yang banyak menimbulkan kerugian bagi

manusia, baik material maupun spiritual. Air yang melimpah dari sungai
mempunyai kekuatan yang besar untuk merusak segala apa yang dilewatinya,
sehingga mengakibatkan kerugian berupa harta, benda dan bahkan jiwa manusia.
Yang lebih parah lagi ternyata banjir juga mengakibatkan rusaknya tatanan
kehidupan sosial masyarakat.
Kerusakan akibat banjir dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu (Anonimous,
1985 b:22) :
1.

Kerusakan langsung.
Kerugian langsung ini dapat diperkirakan dari kerugian akibat rusaknya
prasarana bangunan dan pengaruh rumah tangga serta rusaknya lahan
pertanian.

2.

Kerusakan tidak langsung.


Untuk memperkirakan besarnya kerugian tidak langsung ini sangat sulit,
karena hal ini menyangkut perasaan manusia dan tidak dapat diukur
dengan uang.
Dalam studi ini untuk memperkirakan kerugian akibat banjir digolongkan

dalam dua bagian yaitu :


1.

Kerusakan pada sarana bangunan

2.

Kerusakan pada lahan pertanian

2.5.1. Kerugian Akibat Rusaknya Sarana Bangunan


Kerusakan pada sarana bangunan dapat diperkirakan dengan rumus
sebagai berikut :
Fd = ds.Ms.A.fa
Dimana :
Fd

= kerusakan banjir pada sarana bangunan (Rp/tahun)

ds

= kepadatan penduduk setiap hektar (rumah/ha)

Ms

= nilai bangunan dan pengaruh rumah tangga setiap rumah

(Rp/rumah)
A

= luas genangan (ha)

fa

= prosentase (koefisien) kerusakan pada setiap kedalaman tertentu

Nilai bangunan setiap rumah (Ms) diperkirakan dari harga bangunan itu
sendiri dan pengaruhnya pada rumah tangga. Harga bangunan maksudnya adaah
harga bila mendirikan bangunan tersebut, sedangkan pengaruh terhadap rumah
tangga maksudnya adalah pengaruh banjir terhadap perabotan-perabotan atau
barang-barang berharga yang ada di bangunan tersebut.
2.5.2. Kerugian Akibat Rusaknya Lahan Pertanian
Daerah genangan disekitar Kali Dero Hilir merupakan daerah pemukiman,
pertanian dan jalan sebagai sarana transportasi. Untuk memperkiran besarnya
kerugian akibat rusaknya tanaman pertanian dinyatakan rumus sebagai berikut
(James Douglas, 1985:131) :
Cd

= Fa.fa.A

Dimana :
Cd

= Kerugian banjir pada tanaman (Rp/tahun)

Fa

= Rerata produksi tanaman per ha (Rp/tahun/ha)

Fa

= Prosentase kerusakan pada tanaman yang tergenang

= Luas daerah genangan (ha)

Karena daerah genangan pada Kali Dero yang merupakan sawah pertanian
hanya 80 % maka rumus pada persamaan berubah menjadi :
Cd

= 0,80 . Fa. fa. A

Tanah pertanian di daerah Kecamatan Padas dan sekitarnya merupakan


daerah yang sering tergenang banjir terdiri dari tanaman padi dan palawija.
Tanaman padi mempunyai luas 90% dan tanaman palawija mempunyai prosentase

10%.

Untuk

mendapatkan

rerata

produktivitas

(Fa)

dengan

cara

mengakumulasikan perkalian antara prosentase luas penanaman masing-masing


dengan hasil produksi tanaman setiap hektar.
Pada kedalaman tertentu, prosentase kerusakan tanaman mempunyai nilai
yang berbeda-beda. Prosentase kerusakan tanaman pertanian (fa), selain
dipengaruhi oleh kedalaman genangan juga dipengaruhi oleh durasi (lama)
genangan.

BAB III
ANALISA TEKNIS

3.1.

Umum
Untuk menganalisa suatu masalah diperlukan adanya data. Data yang

diperlukan dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu, data primer dan data
sekunder. Data primer merupakan data yang didapatkan dari hasil pengamatan
atau pengukuran langsung di lapangan. Sedangkan data sekunder merupakan data
yang

didapatkan

dari

mengutip

dari

berbagai

sumber

yang

dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dalam studi ini, data yang digunakan


dapat digolongkan sebagai data sekunder.

3.2.

Data Teknis Proyek

Nama Proyek

: Waduk Pondoh

Lokasi Proyek

: Desa Gandong, Kecamatan Bringin, Kabupaten

Ngawi

Lama Proyek

: 5 tahun (Desember 1992-Oktober 1996)

Pelaksana Proyek

: Proyek Kali Madiun

Perencana

: Proyek Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan

Solo dibantu PT. Bina Karya

Kontraktor Pelaksana :

KSO

Waskita

Karya-Kurnia

Djaja

pekerjaaan sipil)

Usia Guna Proyek

: 50 tahun

3.2.1. Waduk
1. Luas daerah pengaliran

= 32,90

km2

2. Luas daerah genangan

= 3,72

km2

3. Isi waduk pada tinggi air maksimum = 31.513.000

m3

4. Isi waduk pada tinggi air normal

= 28.297.000

m3

5. Elevasi muka air maksimum

=+

107,50

6. Elevasi muka air normal

=+

106,50

7. Elevasi muka air terendah

=+

91,00

8. Elevasi puncak tampungan mati

=+

90,00

(untuk

3.2.2. Bendungan
1. Tipe

= Bendungan timbunan batu dengan inti

kedap air tegak


2. Panjang

= 182,00

3. Lebar puncak

= 8,00

4. Tinggi bendungan

= 30,00

5. Elevasi puncak

= 110,00

6. Volume timbunan

Material kedap air

35.000

m3

Material filter

25.000

m3

Material batu

220.000

m3

7. Kemiringan lereng hulu

= 1 : 2,8

8. Kemiringan lereng hilir

= 1 : 2,4

3.2.3. Bangunan Pengelak


A.

Bendungan Pengelak
1. Tipe

= Timbunan batu dengan inti kedap

air miring

B.

2. Elevasi puncak cofferdam hulu

= + 91,50

3. Elevasi puncak cofferdam hilir

= + 96,00

4. Lebar puncak cofferdam

= 5,00

5. Kemiringan lereng hulu

=1:3

6. Kemiringan lereng hilir

=1:2

Terowongan Pengelak
1. Panjang

= 245 m

2. Bentuk

= Lingkaran

3. Diameter

=3m

4. Konstruksi

= Beton bertulang

5. Lokasi

= Bukit sandaran kanan

3.2.4. Bangunan Pelimpah


1. Tipe

= Bendung dengan pelimpah bebas

2. Lokasi

= Bukit sandaran kiri

3. Design flood Q1000

= 239,1 m3/detik (El. + 107,5 m)

4. Design flood QPMF

= 681,7 m3/detik (El. + 109,0 m)

5. Kapasitas rencana spillway

= 38,4 m3/detik

6. Elevasi puncak pelimpah

= + 106,50

7. Lebar puncak pelimpah

= 18,00

8. Elevasi banjir rencana

= 107,50

9. Panjang total

= 125,00

10. Tipe stiling basin

=Hydraulic jump type with energy disipator.

3.2.5. Bangunan Pengambilan


1. Tipe

= Menara dengan hollow jet valve

2. Lokasi

= Bukit sebelah kanan menjadi satu kesatuan

dengan inlet terowongan pengelak.


3. Kapasitas maksimum

= 4,5

4. Elevasi ambang pengambilan = + 91,00

3.3.

m3/detik
m

Analisa Hidrologi

3.3.1. Perhitungan Debit Andalan


Dalam kajian ini metode yang akan digunakan adalah metode flow
karakteristik. Alasan dipakainya metode ini yaitu karena data yang tersedia cukup
panjang. Sedangkan analisis frekuensi yang digunakan dalam perhitungan adalah
metode Log Pearson Tipe III.

Tabel 3.1. Data Debit Rerata Bulanan


Januari Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus September Oktober November Desember
Tahun
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
(m /detik) (m /detik) (m /detik) (m /detik) (m /detik) (m /detik) (m /detik) (m /detik) (m /detik) (m /detik) (m /detik) (m /detik)
1978
10,81
10,29
6,17
6,61
3,85
3,47
3,95
3,87
3,29
3,38
7,45
8,84
1979
10,18
9,88
4,34
4,29
3,36
3,00
2,61
2,64
2,18
3,06
5,75
9,28
1980
9,45
10,55
9,16
7,72
3,21
2,92
2,63
2,61
2,17
2,66
6,98
7,77
1981
9,02
10,41
7,96
5,12
3,60
3,64
2,76
3,21
2,63
3,69
6,05
6,49
1982
9,28
6,45
5,41
3,55
3,07
2,86
2,57
2,32
1,96
2,34
5,69
6,03
1983
6,32
5,30
4,68
3,82
3,16
2,77
2,51
2,33
2,10
2,49
5,84
6,06
1984
8,32
10,45
9,34
7,04
4,38
3,96
2,77
2,87
2,64
3,74
5,87
6,26
1985
9,20
9,30
8,58
6,58
5,29
4,58
4,41
4,05
3,16
4,16
5,95
6,77
1986
7,72
6,76
6,43
4,59
3,96
4,05
3,66
3,79
2,95
3,14
6,19
7,29
1987
6,66
9,84
7,61
5,95
3,25
2,94
4,52
4,18
2,90
4,04
6,01
7,89
1988
9,64
8,32
7,30
4,61
3,12
3,15
2,96
2,76
2,34
3,55
6,77
6,98
1989
9,91
10,50
6,24
6,33
4,73
4,25
4,55
4,27
2,07
3,09
6,48
7,45
1990
7,55
6,67
6,25
4,67
3,98
4,33
4,64
4,03
2,28
3,35
6,77
7,39
1991
10,44
7,71
5,52
4,94
4,62
4,42
3,42
2,99
2,90
3,62
7,09
7,96
1992
10,99
10,69
9,50
6,23
4,80
3,33
4,46
4,38
3,78
4,29
8,16
9,60
1993
10,95
10,74
9,25
7,10
6,00
4,44
3,99
3,63
4,69
4,64
8,74
9,46
Sumber : Proyek Irigasi Pondoh

Tabel 3.2. Data Debit Rerata Bulanan yang Telah diurutkan


Januari Februari Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus September Oktober November Desember
No.
(m3/detik) (m3/detik) (m3/detik) (m3/detik) (m3/detik) (m3/detik) (m3/detik) (m3/detik) (m3/detik) (m3/detik) (m3/detik) (m3/detik)
1
6,32
5,30
4,34
3,55
3,07
2,77
2,51
2,32
1,96
2,34
5,69
6,03
2
6,66
6,45
4,68
3,82
3,12
2,86
2,57
2,33
2,07
2,49
5,75
6,06
3
7,55
6,67
5,41
4,29
3,16
2,92
2,61
2,61
2,10
2,66
5,84
6,26
4
7,72
6,76
5,52
4,59
3,21
2,94
2,63
2,64
2,17
3,06
5,87
6,49
5
8,32
7,71
6,17
4,61
3,25
3,00
2,76
2,76
2,18
3,09
5,95
6,77
6
9,02
8,32
6,24
4,67
3,36
3,15
2,77
2,87
2,28
3,14
6,01
6,98
7
9,20
9,30
6,25
4,94
3,60
3,33
2,96
2,99
2,34
3,35
6,05
7,29
8
9,28
9,84
6,43
5,12
3,85
3,47
3,42
3,21
2,63
3,38
6,19
7,39
9
9,45
9,88
7,30
5,95
3,96
3,64
3,66
3,63
2,64
3,55
6,48
7,45
10
9,64
10,29
7,61
6,23
3,98
3,96
3,95
3,79
2,90
3,62
6,77
7,77
11
9,91
10,41
7,96
6,33
4,38
4,05
3,99
3,87
2,90
3,69
6,77
7,89
12
10,18
10,45
8,58
6,58
4,62
4,25
4,41
4,03
2,95
3,74
6,98
7,96
13
10,44
10,50
9,16
6,61
4,73
4,33
4,46
4,05
3,16
4,04
7,09
8,84
14
10,81
10,55
9,25
7,04
4,80
4,42
4,52
4,18
3,29
4,16
7,45
9,28
15
10,95
10,69
9,34
7,10
5,29
4,44
4,55
4,27
3,78
4,29
8,16
9,46
16
10,99
10,74
9,50
7,72
6,00
4,58
4,64
4,38
4,69
4,64
8,74
9,60
Sumber : Hasil Perhitungan

Contoh perhitungan debit andalan untuk bulan Januari adalah sebagai


berikut :
-

Jumlah data n = 16

Hitung nilai-nilai :

Harga rata-rata (
= 1/n log Xi = 0,9859

Harga simpangan baku (Sd)


Sd = 0,0669

Koefisien Skewness
Cs = -0,8701

Untuk peluang 97,30 %, dengan cara interpolasi diperoleh harga G = 2,6129

Harga-harga tersebut dimasukkan dalam persamaan sebagai berikut :


Log Q

= 0,9589 + (-2,6129) . (0,0669)

Log Q

= 0,7841

= 6,0828 m3/det.

Sedangkan debit andalan masing-masing bulan disajikan dalam tabel 3.3.

Tabel 3.3. Perhitungan Debit Andalan dengan Metode Log Pearson Tipe III
Bulan
Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Peluang

Log Q

(%)
97,30
90,00
80,00
75,34
50,68
26,02
97,30
90,00
80,00
75,34
50,68
26,02
97,30
90,00
80,00
75,34
50,68
26,02
97,30
90,00
80,00
75,34
50,68
26,02
97,30
90,00
80,00
75,34
50,68
26,02
97,30
90,00
80,00
75,34
50,68
26,02

Rerata
0,9589
0,9589
0,9589
0,9589
0,9589
0,9589
0,9480
0,9480
0,9480
0,9480
0,9480
0,9480
0,8633
0,8633
0,8633
0,8633
0,8633
0,8633
0,7448
0,7448
0,7448
0,7448
0,7448
0,7448
0,6074
0,6074
0,6074
0,6074
0,6074
0,6074
0,5493
0,5493
0,5493
0,5493
0,5493
0,5493

Cs

Sd

Log Q

Q
(mm)

-0,8701

-1,0966

-1,1188

-0,4957

0,3264

0,1291

0,0669
0,0669
0,0669

-2,6129
-1,3402
-0,7347

0,7841
0,8692
0,9098

6,0828
7,3995
8,1246

0,0669
0,0669
0,0669
0,0882
0,0882
0,0882
0,0882
0,0882
0,0882
0,0945
0,0945
0,0945
0,0945
0,0945
0,0945
0,0941
0,0941

-0,5907
0,1709
0,7138
-2,5794
-1,3409
-0,7463
-0,6027
0,1913
0,7140
-2,5880
-1,3408
-0,7426
-0,5988
0,1618
0,7139
-2,2962
-1,3227

0,9194
0,9703
1,0067
0,7205
0,8297
0,8822
0,8949
0,9649
1,0110
0,6187
0,7366
0,7931
0,8067
0,8786
0,9308
0,5287
0,6203

8,3062
9,3390
10,1555
5,2541
6,7562
7,6243
7,8505
9,2236
10,2565
4,1562
5,4526
6,2101
6,4077
7,5614
8,5271
3,3783
4,1716

0,0941
0,0941
0,0941
0,0941
0,0866
0,0866
0,0866
0,0866
0,0866
0,0866
0,0815
0,0815
0,0815
0,0815
0,0815
0,0815

-0,8083
-0,6700
0,0602
0,7007
-1,8558
-1,2413
-0,8535
0,7294
-0,0723
0,6461
-1,9656
-1,2665
-0,8472
-0,7189
-0,0522
0,6565

0,6687
0,6817
0,7504
0,8107
0,4467
0,4999
0,5335
0,5443
0,6012
0,6634
0,3892
0,4461
0,4803
0,4907
0,5450
0,6028

4,6634
4,8051
5,6286
6,4670
2,7970
3,1615
3,4159
3,5019
3,9921
4,6068
2,4502
2,7932
3,0220
3,0953
3,5075
4,0068

Juli

97,30
0,5215
90,00
0,5215
80,00
0,5215
75,34
0,5215
50,68
0,5215
26,02
0,5215
Agustus
97,30
0,4985
90,00
0,4985
80,00
0,4985
75,34
0,4985
50,68
0,4985
26,02
0,4985
September 97,30
0,4346
90,00
0,4346
80,00
0,4346
75,34
0,4346
50,68
0,4346
26,02
0,4346
Oktober
97,30
0,5482
90,00
0,5482
80,00
0,5482
75,34
0,5482
50,68
0,5482
26,02
0,5482
November 97,30
0,8332
90,00
0,8332
80,00
0,8332
75,34
0,8332
50,68
0,8332
26,02
0,8332
Desember 97,30
0,8907
90,00
0,8907
80,00
0,8907
75,34
0,8907
50,68
0,8907
26,02
0,8907
Sumber : Hasil Perhitungan

0,2041

0,1632

0,6842

-0,2981

0,4902

-0,3968

0,1005
0,1005
0,1005
0,1005
0,1005
0,1005
0,0922
0,0922
0,0922
0,0922
0,0922
0,0922
0,1061
0,1061
0,1061
0,1061
0,1061
0,1061
0,0886
0,0886
0,0886
0,0886
0,0886
0,0886
0,0652
0,0652
0,0652
0,0652
0,0652
0,0652
0,0629
0,0629
0,0629
0,0629
0,0629
0,0629

-1,9225
-1,2575
-0,8501
-0,7233
-0,0404
0,6625
-1,9456
-1,2624
-0,8485
-0,7190
-0,0336
0,6623
-1,6523
-1,1918
-0,8570
-0,7415
-0,1302
0,6100
-1,8717
-1,2452
-0,8529
-0,7281
-0,0679
0,0649
-1,7633
-1,2175
-0,8559
-0,7346
-0,0989
0,6302
-2,2457
-1,3167
-0,8163
-0,6793
0,0455
0,6965

0,3283
0,3951
0,4360
0,4488
0,5174
0,5880
0,3192
0,3822
0,4203
0,4322
0,4954
0,5595
0,2593
0,3082
0,3437
0,3560
0,4208
0,4994
0,3823
0,4378
0,4726
0,4836
0,5422
0,5539
0,7182
0,7538
0,7774
0,7853
0,8268
0,8743
0,7495
0,8079
0,8394
0,8480
0,8935
0,9345

2,1296
2,4837
2,7290
2,8106
3,2915
3,8726
2,0855
2,4110
2,6321
2,7052
3,1290
3,6266
1,8168
2,0333
2,2065
2,2699
2,6351
3,1579
2,4116
2,7403
2,9689
3,0451
3,4850
3,5801
5,2264
5,6728
5,9896
6,0996
6,7112
7,4869
5,6169
6,4254
6,9088
7,0469
7,8253
8,6000

3.3.1.1. Uji Chi-Square


-

Dari perhitungan tabel 3.4. , diperoleh jumlah simpangan arah vertikal


(X2hitung) = 0,13772

Diketahui n = 16 dan diambil = 5%

Dengan cara interpolasi, diperoleh X2cr = 26,2962

Karena X2hitung < X2cr (tabel), maka dapat disimpulkan bahwa agihan
Log Pearson tipe III dapat diterima guna perhitungan debit andalan

3.3.1.2. Uji Smirnov-Kolmogorov


-

Dari perhitungan tabel 3.5, diperoleh simpangan horizontal maksimum


(maks) = 0,089

Untuk n = 16 dan = 5%, dengan cara interpolasi diperoleh cr = 0,33

Karena maks < cr maka dapat disimpulkan bahwa agihan Log Pearson
Tipe III dapat diterima guna perhitungan debit andalan.

Tabel 3.4. Uji Chi-Square


Qe
Qt
No
3
3
(m /detik)
(m /detik)
6,32
7,046
1
2
7,55
7,332
3
7,72
7,619
8,02
7,906
4
5
8,32
8,193
6
8,66
8,497
7
9,2
8,776
8
9,28
9,053
9
9,45
9,339
10
9,64
9,626
11
9,91
9,913
12
10,18
10,12
13
10,44
10,466
14
10,61
10,773
15
10,89
11,06
16
10,95
11,347
Jumlah
Sumber : Hasil Perhitungan

(Qe-Qt) /Qt
0,07480
0,00648
0,00134
0,00164
0,00197
0,00313
0,02048
0,00569
0,00132
0,00001
0,00000
0,00036
0,00019
0,00247
0,00261
0,01389
0,13772

Tabel 3.5. Uji Smirnov-Kolmogorov


Qe
Peluang
No.
Empiris
(m3 /detik)
(%)
1
6,32
5,88
2
7,55
11,76
3
7,72
17,65
4
8,02
23,53
5
8,32
29,41
6
8,66
35,29
7
9,2
41,18
8
9,28
47,06
9
9,45
52,94
10
9,64
58,82
11
9,91
64,71
12
10,18
70,59
13
10,44
76,47
14
10,61
82,35
15
10,89
88,24
16
10,95
94,12
Sumber : Hasil Perhitungan

Peluang
Teoritis
(%)
4,91
16,22
19,71
25,87
32,02
39
50,08
51,71
55,21
59,1
64,64
70,18
75,52
79,01
84,75
85,98

Pe-Pt
(%)
0,97
-4,46
-2,06
-2,34
-2,61
-3,71
-8,9
-4,65
-2,27
-0,28
0,07
0,41
0,95
3,34
3,49
8,14

3.3.2. Perhitungan Curah Hujan Andalan


Contoh perhitungan curah hujan andalan untuk bulan Januari adalah
sebagai berikut :
-

Jumlah data n = 16

Dari hasil perhitungan, diperoleh :

Harga rata-rata (log R)

= 1,024695

Harga simpangan baku (Sd)

= 0,1450

Koefisien Skewness (Cs)

= 1,2930

Untuk peluang 97,30 %, dengan cara interpolasi diperoleh harga


G = -1,3115

Harga-harga tersebut dimasukkan dalam persamaan sebagai berikut :


Log R = 1,3901 + (-1,3115) . (0,1450)
Log R = 0,8345

= 6,8317 m3/det.

Sedangkan debit andalan masing-masing bulan disajikan dalam tabel 3.8.

Tabel 3.6. Data Curah Hujan Rerata Harian


Tahun

Januari Februari
1978
13,52
9,57
1979
11,45
7,21
1980
7,68
9,46
1981
5,29
6,75
1982
11,32
8,71
1983
8,81
9,67
1984
10,65
9,79
1985
10,03
12,88
1986
9,58
16,04
1987
9,61
16,43
1988
11,77
5,14
1989
10,16
12,04
1990
10,52
13,89
1991
7,26
10,93
1992
16,19
19,36
1993
30,81
17,32
Sumber : Proyek Irigasi Pondoh

Bulan
Maret
7,64
5,16
9,55
10,69
6,45
9,87
4,26
26,19
11,68
13,32
9,35
3,91
5,03
6,23
12,16
10,84

April
2,43
8,67
5,97
3,33
9,70
6,03
7,70
8,40
11,83
10,40
2,13
9,27
8,00
11,10
12,20
33,27

Mei
4,39
9,62
0,26
1,65
0,00
6,62
2,46
4,77
1,42
2,36
5,13
9,23
6,61
0,90
3,52
10,94

Juni
11,50
1,47
0,63
2,13
0,47
0,13
3,43
2,10
7,60
10,73
1,47
11,20
1,37
0,00
0,40
8,97

Juli
3,39
0,00
0,58
3,16
0,61
0,00
1,55
0,29
0,81
0,19
0,00
6,23
1,42
0,00
0,00
6,90

Agustus September Oktober November Desember


5,90
3,97
1,32
6,10
10,48
0,00
0,47
4,74
9,60
10,45
0,74
0,90
3,26
10,23
9,10
0,00
4,23
5,45
3,60
7,25
0,00
0,77
0,00
1,80
15,26
0,00
0,00
6,84
10,37
9,74
2,03
5,67
3,06
5,30
8,61
0,77
1,47
8,26
5,40
7,65
0,00
4,37
1,29
12,10
5,77
0,39
4,70
6,90
13,43
10,29
0,61
0,20
8,84
5,83
9,68
1,35
0,00
5,13
3,07
8,39
0,16
0,27
2,65
6,07
13,42
0,00
0,00
0,00
6,83
8,71
3,46
5,93
7,32
10,93
8,35
7,65
9,93
17,68
18,40
19,87

Tabel 3.7. Data Curah Hujan yang Sudah Diurutkan


No.

Januari Februari
1
5,29
5,14
2
7,26
6,75
3
7,68
7,21
4
8,81
8,71
5
9,58
9,46
6
9,61
9,57
7
10,03
9,67
8
10,16
9,79
9
10,52
10,93
10
10,65
12,04
11
11,32
12,88
12
11,45
13,89
13
11,77
16,04
14
13,52
16,43
15
16,19
17,32
16
30,81
19,36
Sumber : Hasil Perhitungan

Bulan
Maret
3,91
4,26
5,03
5,16
6,23
6,45
7,64
9,35
9,55
9,87
10,69
10,84
11,68
12,16
13,32
26,19

April
2,13
2,43
3,33
5,97
6,03
7,70
8,00
8,40
8,67
9,27
9,70
10,40
11,10
11,83
12,20
33,27

Mei
0,00
0,26
0,90
1,42
1,65
2,36
2,46
3,52
4,39
4,77
5,13
6,61
6,62
9,23
9,62
10,94

Juni
0,00
0,13
0,40
0,47
0,63
1,37
1,47
1,47
2,10
2,13
3,43
7,60
8,97
10,73
11,20
11,50

Juli
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,19
0,29
0,58
0,61
0,81
1,42
1,55
3,16
3,39
6,23
6,90

Agustus September Oktober November Desember


0,00
0,00
0,00
1,80
5,77
0,00
0,00
0,00
3,07
7,25
0,00
0,00
1,29
3,60
7,65
0,00
0,20
1,32
5,30
8,35
0,00
0,27
2,65
5,40
8,39
0,00
0,47
3,06
5,83
8,61
0,16
0,77
3,26
6,07
8,71
0,39
0,90
4,74
6,10
9,10
0,61
1,47
5,13
6,83
9,68
0,74
3,97
5,45
9,60
9,74
0,77
4,23
6,84
10,23
10,29
1,35
4,37
6,90
10,37
10,45
2,03
4,70
7,32
10,93
10,48
3,46
5,67
8,26
12,10
13,42
5,90
5,93
8,84
13,43
15,26
7,65
9,93
17,68
18,40
19,87

Tabel 3.8. Perhitungan Curah Hujan Andalan dengan Metode Log Pearson Tipe III
Peluang Log R
Bulan
Cs
Sd
G
Log R
(%)
Rerata
Januari
97,30 1,0247 1,2930
0,1450 -1,3115 0,8345
90,00 1,0247
0,1450 -1,0655 0,8702
80,00 1,0247
0,1450 -0,8384 0,9031
75,34 1,0247
0,1450 -0,7406 0,9173
50,68 1,0247
0,1450
0,2232
1,0571
26,02 1,0247
0,1450
0,5335
1,1021
Februari 97,30 1,0318 -0,2490 0,1384 -2,1696 0,7315
90,00 1,0318
0,1384 -1,3049 0,8512
80,00 1,0318
0,1384 -0,8271 0,9173
75,34 1,0318
0,1384 -0,6922 0,9360
50,68 1,0318
0,1384
0,0216
1,0348
26,02 1,0318
0,1384
0,6889
1,1271
Maret
97,30 0,9236 0,4256
0,1860 -1,7729 0,5938
90,00 0,9236
0,1860 -1,2272 0,6953
80,00 0,9236
0,1860 -0,8553 0,7645
75,34 0,9236
0,1860 -0,7333 0,7872
50,68 0,9236
0,1860 -0,0881 0,9072
26,02 0,9236
0,1860
0,6365
1,0420
April
97,30 0,8795 -0,1648 0,2519 -2,1253 0,3441
90,00 0,8795
0,2519 -1,2978 0,5526
80,00 0,8795
0,2519 -0,8321 0,6699
75,34 0,8795
0,2519 -0,6986 0,7035
50,68 0,8795
0,2519
0,0079
0,8815
26,02 0,8795
0,2519
0,6838
1,0517
Mei
97,30 0,4762 -0,9797 0,3838 -2,5261 -0,4933
90,00 0,4762
0,3838 -1,3398 -0,0380
80,00 0,4762
0,3838 -0,7602 0,1844
75,34 0,4762
0,3838 -0,6172 0,2393
50,68 0,4762
0,3838
0,1399
0,5299
26,02 0,4762
0,3838
0,7136
0,7501
Juni
97,30 0,3013 -0,6453 0,6172 -2,3701 -1,1615
90,00 0,3013
0,6172 -1,3303 -0,5198
80,00 0,3013
0,6172 -0,7955 -0,1897
75,34 0,3013
0,6172 -0,6553 -0,1032
50,68 0,3013
0,6172
0,0863
0,3546
26,02 0,3013
0,6172
0,7064
0,7373

R
(mm)
6,8318
7,4166
8,0008
8,2663
11,4042
12,6490
5,3892
7,0991
8,2666
8,6298
10,8340
13,4012
3,9250
4,9584
5,8145
6,1264
8,0763
11,0151
2,2087
3,5693
4,6762
5,0527
7,6118
11,2655
0,3211
0,9162
1,5291
1,7351
3,3876
5,6244
0,0689
0,3022
0,6461
0,7886
2,2624
5,4612

Juli

97,30 0,0758
90,00 0,0758
80,00 0,0758
75,34 0,0758
50,68 0,0758
26,02 0,0758
Agustus
97,30 0,0683
90,00 0,0683
80,00 0,0683
75,34 0,0683
50,68 0,0683
26,02 0,0683
September 97,30 0,2146
90,00 0,2146
80,00 0,2146
75,34 0,2146
50,68 0,2146
26,02 0,2146
Oktober 97,30 0,5848
90,00 0,5848
80,00 0,5848
75,34 0,5848
50,68 0,5848
26,02 0,5848
November 97,30 0,8363
90,00 0,8363
80,00 0,8363
75,34 0,8363
50,68 0,8363
26,02 0,8363
Desember 97,30 0,9803
90,00 0,9803
80,00 0,9803
75,34 0,9803
50,68 0,9803
26,02 0,9803
Sumber : Hasil Perhitungan

0,2230

0,2907

-0,2545

-0,3099

-0,6157

0,6763

0,3701
0,3701
0,3701
0,3701
0,3701
0,3701
0,3562
0,3562
0,3562
0,3562
0,3562
0,3562
0,4469
0,4469
0,4469
0,4469
0,4469
0,4469
0,3215
0,3215
0,3215
0,3215
0,3215
0,3215
0,2259
0,2259
0,2259
0,2259
0,2259
0,2259
0,1150
0,1150
0,1150
0,1150
0,1150
0,1150

-1,9136
-1,2550
-0,8507
-0,7243
-0,0554
0,6549
-1,8759
-1,2462
-0,8527
-0,7278
-0,0668
0,6494
-2,1725
-1,3054
-0,8267
-0,6917
-0,0226
0,6892
-2,2014
-1,3098
-0,8232
-0,6862
0,0318
0,6923
-2,3555
-1,3288
-0,7984
-0,6586
0,0813
0,7054
-1,6568
-1,1870
-0,8570
-0,7413
-0,1289
0,6109

-0,6324
-0,3887
-0,2390
-0,1923
0,0553
0,3182
-0,5999
-0,3756
-0,2354
-0,1909
0,0445
0,2996
-0,7563
-0,3688
-0,1549
-0,0945
0,2045
0,5226
-0,1230
0,1637
0,3201
0,3642
0,5950
0,8074
0,3042
0,5361
0,6559
0,6875
0,8547
0,9956
0,7898
0,8438
0,8817
0,8951
0,9655
1,0506

0,2331
0,4086
0,5767
0,6423
1,1358
2,0806
0,2512
0,4211
0,5815
0,6443
1,1079
1,9935
0,1753
0,4278
0,7001
0,8044
1,6014
3,3312
0,7534
1,4578
2,0900
2,3131
3,9357
6,4176
2,0146
3,4366
4,5284
4,8699
7,1559
9,9003
6,1627
6,9790
7,6163
7,8533
9,2358
11,2345

3.4.

Kebutuhan Air Irigasi


Besarnya kebutuhan air irigasi untuk daerah irigasi Pondoh sebesar 1,28

lt/det/ha pada pintu pengambilan Waduk Pondoh (sudah termasuk faktor


efisiensi). Untuk luas areal irigasi Pondoh 3.511 ha dibutuhkan air sebesar : Q =
4,5 m3/det.

3.5.

Evaporasi
Besarnya kehilangan air akibat evaporasi daerah Waduk Pondoh tiap

bulannya (sudah termasuk faktor koreksi) bisa dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3.9. Evaporasi Rata-Rata Bulan Untuk Waduk Pondoh


Besarnya Evaporasi
Bulan
(mm/hari)
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Sumber : Hasil Perhitungan

3.6.

3,75
3,83
3,79
3,28
3,02
3,52
3,27
3,49
3,44
4,09
4,25
4,91

Pengoperasian Waduk
Waduk Pondoh yang terletak di aliran Sungai Dero diharapkan dapat

menjalankan fungsinya sepanjang tahun. Oleh karena itu, pola operasi waduk
Pondoh dimaksudkan guna mengatur pemakaian air agara dapat dimanfaatkan
secara optimal. Adapun dasar perencanaan pola operasi waduk yang dipakai
adalah sebagai berikut :

1. Musim Penghujan
Debit masuk digunakan untuk mengisi waduk (masa penampungan). Debit
masuk diusahakan sedemikian rupa agar pada akhir musim hujan air
waduk mencapai volume yang maksimal.
2. Musim Kemarau
Pada musim ini air yang tersimpan selama masa penampungan
dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air irigasi di daerah irigasi
Pondoh. Dengan demikian maka musim kemarau merupakan masa
pengosongan waduk.
Dalam studi ini outflow irigasi sebesar 4,5 m3/detik, sesuai kebutuhan air
daerah irigasi Pondoh untuk lahan seluas 3.511 ha. Besarnya tampungan efektif
Waduk Pondoh adalah 28,297 x 106 m3.

3.7.

Penelusuran Banjir Lewat Waduk


Dalam perhitungan penelusuran banjir lewat waduk dibagi dalam dua

kondisi yaitu sebelum waduk di bangun dan setelah waduk di bangun dengan
kondisi waduk dalam keadaan air penuh.
Dalam kondisi setelah pembangunan waduk Pondoh, penelusuran banjir
dilakukan dari Waduk Pondoh-Bendung Dero-Bendung Sambiroto-Bendung
Plesungan.
Dalam kondisi sebelum pembangunan waduk Pondoh, penelusuran banjir
dilakukan melalui Bendung Dero-Bendung Sambiroto-Bendung Plesungan.
Data untuk masing-masing bendung disajikan dalam tabel berikut ini :
Secara umum hasil penelusuran dapat dirangkum pada tabel 3.10

Tabel 3.10. Rangkuman Hasil Perhitungan Penelusuran Banjir


Nama Bendung
Debit Puncak
Kala Ulang Tinggi Muka Air di Atas Mercu Bendung
Banjir Rancangan
3

Bendung Dero

Bendung Sambiroto

Bendung Plesungan

Sumber : Hasil Perhitungan

(m /detik)
114,0559
160,2246
193,0552
213,5205
239,1021
681,6902
114,0559
160,2246
193,0552
213,5205
239,1021
681,6902
114,0559
160,2246
193,0552
213,5205
239,1021
681,6902

(Tahun)
10
50
100
500
1000
PMF
10
50
100
500
1000
PMF
10
50
100
500
1000
PMF

Tanpa Waduk

Dengan Waduk

(m)
2,02
2,59
2,78
2,99
3,39
6,86
2,2
2,79
3,07
3,22
3,94
11,53
2,02
2,58
2,9
2,99
3,39
8,84

(m)
1,18
1,66
1,85
1,89
2,03
4,54
1,34
1,89
2,11
2,15
2,33
7,27
1,25
1,76
1,96
2
2,15
5,51

BAB IV
ANALISA EKONOMI

4.1.

Biaya Konstruksi Proyek


Besarnya biaya konstruksi proyek diperkirakan dengan asumsi bahwa

semua pekerjaan berdasarkan kontrak, walaupun sebagian pekerjaan telah selesai


( 20%) dikerjakan sesuai dengan rencana. Biaya ini berasal dari anggaran dalam
negeri dan pinjaman luar negeri yang berdasarkan tingkat harga pertengahan 1982
dengan nilai tukar 1 US$ = Rp.630,- . Besarnya biaya proyek dapat dilihat pada
tabel 4.1.
Tabel 4.1. Besarnya Biaya Konstruksi
Biaya Proyek

Keterangan

1. Pekerjaan Persiapan (General Work )


2. Sistem Pengelak (Diversion )
3. Bendungan (Dam )
4. Pelimpah (Spillway )
5. Pekerjaan Sipil Sarana Irigasi
(Irrigation Outlet Civil Work )
6. Pelengkap Sarana Irigasi
(Irrigation Outlet Equipment )
7. Biaya Lain-lain
(Miscellenaea and Unlisted Items )
BIAYA LANGSUNG (DIRECT COST )
8. Biaya Tak Terduga (Contingencies 10%)
9. Penyelidikan Lanjutan
(Additional Investigation )
10. Biaya Konsultan Teknik
(Consulting Services )
11. Biaya Tenaga Teknik dan Administrasi
(Local Engineering and Administration )
TOTAL BIAYA KONSTRUKSI
(CONSTRUCTION COST )
12. Biaya Ganti Tanah (Land Acquisition )
13. Resettlemente
INVESTASI (INVESTMENT )
Sumber : Main Report Pondoh, 1982: 9-12

(1000 $)
DN
845
197
1341
414

LN
430
319
1577
520

Total
1275
516
2918
934

41

51

92

82

90

251
3097
343

274
3253
367

525
6350
710

40

90

130

130

720

850

680

170

850

4210
1417
398
6105

4600
4600

8890
1417
398
10705

4.2.

Biaya Operasi dan Pemeliharaan


Besarnya biaya operasi dan pemeliharaan dari fasilitas-fasilitas proyek

sebesar Rp.46.000.000,- .

4.3.

Analisis Kenaikan Harga


Peramalan indeks harga dan faktor eskalasi diambil berdasarkan data dasar

dari tahun 1975 sampai tahun 1982 yang diambil dari Proyek Induk
Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo, ditambah tahun 1983 hingga
1993 yang bersumber dari Biro Pusat Statistik untuk Domestic Currency dan
International Price Index (IBRD) untuk Foreign Currency.
Selanjutnya kasus yang terjadi pada proyek pembangunan Waduk Pondoh
adalah mengalami penjadwalan selama 10 tahun. Untuk mengantisipasi perbedaan
harga yang terjadi, maka perlu dilakukan perhitungan kenaikan harga/faktor
eskalasi. Hal ini untuk mengetahui biaya proyek Waduk Pondoh saat ini.
Perhitungan kenaikan biaya yang dilakukan menggunakan mata uang asing
(US$) dan mata uang local (Rupiah).
Berdasarkan analisis regresi linear antara X (selisih nilai tahun data)
dengan Y (indeks harga sesuai tahun data) diperoleh persamaan regresi linear
untuk indeks harga mata uang rupiah sebagai berikut :
Y

= 47,68 + 53,99 X

= 0,98
= koefisien korelasi

Berdasarkan analisis regresi linear antara X (selisih nilai tahun data)


dengan Y (indeks harga sesuai tahun data) diperoleh persamaan regresi linear
untuk indeks harga mata uang US$ sebagai berikut :
Y

= -4,5 + 19,34 X

= 0,97
= koefisien korelasi

Dengan adanya kenaikan harga maka akan terjadi perubahan besarnya


dana yang digunakan untuk membiayai proyek Waduk Pondoh. Adapun kenaikan
biaya proyek adalah sebagai berikut :

1. Untuk dana lokal sebesar US$ 6.105.000


Pada tahun 1982 dengan nilai tukar 1 US$ = Rp.630,- sehingga
keperluan dana lokal Rp.3.846.150.000,-. Faktor eskalasi untuk mata
uang rupiah sampai tahun 1994 sebesar 0,43, maka keperluan dana
lokal berubah menjadi Rp.8.944.534.883,-. Pada tahun 1994 nilai tukar
mata uang 1 US$= Rp 2164,-., sehingga untuk dana lokal pada tahun
1994 adalah sebesar US$ 4.133.334.
2. Untuk dana luar negeri sebesar US $ 4.600.000,Faktor eskalasi untuk mata uang asing sampai pada tahun 1994 sebesar
0,39, maka besarnya dana luar negeri tahun 1994 berubah menjadi US$
11.794.870,3. Untuk biaya O & M sebesar Rp. 46.000.000,Faktor eskalasi mata uang rupiah sampai tahun 1994 sebesar 0,43,
maka besarnya biaya O & M tahun 1994 berubah menjadi Rp.
106.976.744,-. Pada tahun 1994 nilai tukar mata uang 1 US$ =
Rp.2164,- sehingga untuk biaya O & M pada tahun 1994 adalah
sebesar US $ 49.435.
4.4.

Keuntungan Proyek
Keuntungan proyek di dapat dari peningkatan hasil produksi pertanian dan

keuntungan dari bangunan Waduk Pondoh yang juga berfungsi sebagai bangunan
pengendali banjir bandang kali dero.
4.4.1. Keuntungan dari Pertanian
Keuntungan pertanian berasal dari pertambahan produksi pertanian dimana
hal ini akan memperjelas hasil produksi pertanian tanpa adanya proyek dengan
adanya proyek Waduk Pondoh ini.
Keuntungan ekonomi dari tanaman padi dan palawija dapat menjelaskan
perbedaan antara hasil produksi pertanian dan biaya produksi sebelum adanya
proyek dengan setelah adanya proyek. Hasil produksi dan biaya ini didasarkan
hasil perhitungan hasil produksi tanaman yang akan datang, kebutuhan produksi
serta kebutuhan tenaga kerja.

Perhitungan keuntungan seluruh areal lahan pertanian baik dalam kondisi


sebelum adanya proyek dan sesudah adanya proyek baik untuk tanaman padi
maupun palawija pada tabel 4.2.

Tabel 4.2. Perhitungan Keuntungan Seluruh Luas Lahan Pertanian


Luas Lahan (ha)
Keuntungan bersih (Rp/ha)
Keterangan
1
2
1
2
Musim tanam I
Padi
Musim tanam II
Padi
2.
Polowijo (kedelai)
Sub total
Musim tanam III
Padi
3.
Polowijo (kedelai)
Sub total
Total
Sumber : Hasil Perhitungan
1. Sebelum adanya proyek
2. Sesudah adanya proyek
1.

Keuntungan total (Rp. 1000)


1

Pertambahan Keuntungan
(Rp. 1000)

3511

3511

973.732,00 1.398.403,00 3.418.773,05 4.909.792,93

1.491.019,88

1755
1580
3335

2809
702
3511

798.732,00 1.398.403,00 1.401.774,66 3.928.114,03


835.064,00 1.914.254,00 1.319.401,12 1.343.806,31
1.633.796,00 3.312.657,00 2.721,175,78 5.271.920,34

2.526.339,37
24.405,19
2.550.744,56

1755
1580
3335

2809
702
3511

798.732,00
835.064,00
1.633.796,00
4.241.324,00

2.526.339,37
24.405,19
2.550.744,56
6.592.508,99

1.398.403,00
1.914.254,00
3.312.657,00
8.023.717,00

1.401.774,66
1.319.401,12
2.721,175,78
8.861.124,61

3.928.114,03
1.343.806,31
5.271.920,34
15.453.633,60

4.4.2. Evaluasi Akibat Kerugian Banjir


Dalam kajian ini kerusakan akibat banjir digolongkan dalam dua bagian
yaitu :
1. Kerusakan pada sarana bangunan
2. Kerusakan pada lahan pertanian
4.4.2.1. Perhitungan Kerusakan pada Sarana Bangunan
Daerah yang sering menjadi genangan akibat meluapnya Kali Dero bagian
hilir adalah merupakan daerah pedesaan. Jenis bangunan yang sering dilanda
banjir digolongkan dalam 2 macam bangunan yaitu rumah penduduk dan
perkantoran.
4.4.2.2. Kerusakan Akibat Banjir pada Lahan Pertanian
Daerah genangan akibat banjir bandang Kali Dero sebagian besar berupa
lahan pertanian. Di lahan pertanian tersebut jenis tanamannya dapat digolongkan

pada padi dan palawija. Sedangkan total kerugian akibat banjir disajikan pada
tabel 4.3.

Tabel 4.3. Nilai Total Kerusakan Langsung Akibat Banjir


Kerugian Langsung
Debit Banjir
Total
Bangunan
(m3 /detik)
80,00
0,00
114,06
28.035,59
169,20
86.258,24
193,06
104.729,16
203,08
146.464,17
239,10
166.685,12
681,69
776.669,45
Sumber : Hasil Perhitungan

Tanaman
0,00
764,73
2.600,42
3.036,33
4.218,75
4.531,68
42.066,90

(Rp. 1000)
0,00
28.800,32
88.858,67
108.886,65
150.682,92
171.216,80
818.736,35

4.4.2.3. Kerugian Akibat Banjir


Dalam kondisi sebelum ada waduk pondoh, debit minimum yang
menyebabkan kerugian adalah debit sebesar 80 m3/detik dan debit minimum yang
mengakibatkan kerugian banjir adalah sebesar 114,06 m3/detik.

Tabel 4.4.
Q

Hubungan Antara Debit, Peluang, Elevasi dan


Kerugian Akibat Banjir
Kala Ulang Peluang Elevasi

(Tahun)
(%)
(m3 /detik)
80,00
5
20
114,06
10
10
169,20
50
2
193,06
100
1
203,08
500
0,2
239,10
1000
0,1
681,69
PMF
0,083
Sumber : Hasil Perhitungan

Kerugian

78,06
80,02

(Rp. 106 )
0
28,8

80,59
80,78
81,01
81,39
84,86

88,858
108,886
150,682
171,216
818,736

Tabel 4.5. Kerugian Sebelum dan Sesudah Adanya Waduk Pondoh


Q

Kala ulang

Peluang

(m3/detik)

(tahun)

(%)

80

20

114,06

10

169,20

Elevasi

Kerugian ( Rp 106)
Sebelum

Sesudah

78,06

10

80,02

28,8

50

80,59

88,858

193,06

100

80,78

108,886

203,08

500

0,2

81,01

150,682

24

239,10

1000

0,1

81,39

171,216

28

681,69

PMF

0,083

84,86

818,736

312

4.5.

Perhitungan Nilai BCR


Untuk perhitungan nilai BCR dilakukan dengan menggunakan suku bunga

10 %, dengan lama pembangunan selama 5 tahun dan usia guna 50 tahun.


Langkah-langkah perhitungannya sebagai berikut :
1. Biaya konstruksi tiap tahun, dinilaikan ke awal tahun 1997 (awal usia
guna proyek) sebagai modal awal pembangunan proyek. Perhitungan
analisa biaya konstruksi dapat dilihat pada tabel 4.26.
2. Dihitung nilai interest ( nilai bunga = 10%) dari modal awal dan nilai
depresiasinya.
3. Dari data benefit (irigasi dan pengendalian banjir) dan perhitungan
biaya (nilai interest + depresiasi + O & M) didapatkan nilai BCR,
dengan membandingkan nilai benefit dengan nilai cost.
Untuk perhitungan nilai BCR dapat dilihat pada tabel 4.7.

Tabel 4.6. Analisa Biaya Konstruksi Waduk Pondoh


Biaya Konstruksi
Faktor Bunga Nilai Pada Awal
Tahun ke

Nilai

(i=10%)

(Rp. 10 )
1. 1992
11.807,74
1,6105100
2. 1993
8.623,18
1,4641000
3. 1994
6.614,46
1,3310000
4. 1995
3.931,36
1,2100000
5. 1996
3.491,89
1,1000000
Total Biaya Konstruksi
Sumber : Hasil Perhitungan

Tahun 1997
6

(Rp. 10 )
19.016,49
12.625,20
8.803,84
4.756,95
3.841,08
49.043,56

Tabel 4.7. Perhitungan Benefit Cost Ratio (BCR)


Lama Pembangunan :
Usia Guna
Suku Bunga

:
:

5 tahun
50 tahun
10%

Komponen Cost (Biaya)


Modal Awal
1. Biaya O & P /tahun
2. Biaya Interest
3. Depresiasi
Total Biaya Tahunan
Komponen Benefit (Pendapatan)
1. Irigasi / tahun
2. Pengendalian Banjir/tahun
Total Benefit Tahunan
Harga BCR
Harga B-C
Sumber : Hasil Perhitungan

(Rp. 106 )
49.043,563
106,977
4.904,356
42,137
5.053,470

6.592,508
361,146
6.628,654
1,312
1.575,184

4.6.

Perhitungan IRR (Internal Rate of Return)


Nilai IRR dicari dengan mencoba berbagai nilai suku bunga sehingga

didapatkan nilai BCR = 1. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai IRR sebesar
12,64 %.

Tabel 4.8. Perhitungan Nilai IRR (Internal Rate Return)


Suku Bunga
Benefit
Cost
B/C
%

(Rp. 10 )
6,0
6.628,654
8,0
6.628,654
10,0
6.628,654
12,0
6.628,654
12,6
6.628,654
14,0
6.628,654
16,0
6.628,654
18,0
6.628,654
20,0
6.628,654
Sumber : Hasil Perhitungan

(Rp. 10 )
3.014,533
3.979,669
5.053,469
6.228,520
6.628,653
7.504,203
8.884,609
10.376,850
11.989,980

B-C
6

(Rp. 10 )
2,199
1,666
1,312
1,064
1,000
0,883
0,746
0,639
0,553

(Rp. 10 )
3.614,120
2.648,984
1.575,183
400,133
0,000
-875,549
2.255,950
-3.748,190
-5.361,330

BAB V
PENUTUP

5.1.

Kesimpulan
Dari hasil perhitungan kelayakan proyek pembangunan Waduk Pondoh

dapat disimpulkan sebagai berikut :


1. Hasil perhitungan pengoperasian Waduk Pondoh untuk lahan seluas 3511
ha dengan kebutuhan air irigasi sebesar 1,28 lt/det/ha di pintu pengambilan
menunjukkan hasil :
a.

Debit air cukup


Kebutuhan air irigasi tercukupi dengan total air yang melimpah
sebesar 68,172 x 106 m3.

b.

Debit air normal


Kebutuhan air irigasi tercukupi dengan total air yang melimpah
sebesar 42,7 x 106 m3.

c.

Debit air rendah


Kebutuhan air irigasi tercukupi dengan total air yang melimpah
sebesar 26,638 x 106 m3.

d.

Debit air kurang


Kebutuhan air irigasi tercukupi dengan total air yang melimpah
sebesar 7,568 x 106 m3.

2. Dari hasil perhitungan evaluasi kerugian akibat banjir didapatkan hasil


kerugian

tahunan

akibat

banjir

tanpa

adanya

waduk

sebesar

Rp.38.958.125,- per tahun. Kerugian tahunan akibat banjir setelah


pembangunan waduk turun menjadi sebesar Rp. 2.812.500,- per tahun.
Sehingga

keuntungan

akibat

kerugian

banjir

terkurangi

sebesar

Rp.36.145.625,- per tahun.


3. Besarnya biaya proyek pembangunan waduk Pondoh setelah kenaikan
indeks harga untuk mata uang Rupiah maupun dolar jumlah kesemuanya
setelah

dinilaikan

Rp.34.468.637.448,-

ke

mata

uang

rupiah

berubah

menjadi

4. Dengan selesainya proyek pembangunan waduk pondoh didapatkan


keuntungan sebesar :
Irigasi

: Rp. 6.592.508.000,-

Pengendalian banjir

: Rp. 36,145.625,-

Sehingga keuntungan total sebesar Rp. 6.628.653.625,5. Dari hasil perhitungan dengan suku bunga 10% didapatkan nilai BCR
sebesar 1,312. Dengan B-C sebesar Rp.1.575.184.000,- Untuk perhitungan
nilai IRR didapatkan sebesar 12,64 %.

5.2.
1.

Saran
Untuk lebih optimalnya keuntungan Waduk Pondoh, maka luas areal lahan
pertanian bisa lebih dikembangkan mengingat besarnya debit yang
tertampung di waduk.

2.

Untuk lebih optimalnya pelaksanaan pembangunan proyek waduk pondoh


maka hendaknya dilakukan kajian terhadap manajemen proyeknya.