Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


2.1.1 Osteoartritis
Osteoartritis merupakan penyakit sendi degeneratif, dimana sebagian atau
keseluruhan struktur dari sendi mengalami perubahan patologis (Felson dkk,
2008). Osteoartritis tidak hanya mempengaruhi jaringan intrakapsular, tetapi
juga jaringan periartikular, seperti ligament, kapsula sendi, tendon dan otot.
Ditandai

dengan

kerusakan

tulang

rawan

(kartilago)

hyaline

sendi,

meningkatnya ketebalan serta sklerosis dari lempeng tulang, pertumbuhan


osteofit pada tepian sendi, meregangnya kapsula sendi, timbulnya peradangan,
melemahnya

otot

kuadrisep

yang

menghubungkan

sendi,

penurunan

propriosepsi di lutut serta dapat mengakibatkan ketidaksejajaran sendi (varus


dan valgus), menimbulkan nyeri sendi dan berdampak pada fungsi aktivitas
fisik yang berpengaruh pada fleksibilitas, kekuatan, ketahanan dan stabilitas
otot maupun sendi, sehingga dapat mengakibatkan keterbatasan gerak dalam
beraktivitas (Soenarto, 2009)
Sendi merupakan bagian penghubung antar tulang sehingga tulang bisa
digerakkan. Komponen terpenting pada sendi adalah tulang rawan sendi
(articular cartilage) yaitu jaringan tulang rawan yang menutupi kedua ujung
tulang dan berfungsi sebagai bantalan. Sendi lutut merupakan sendi terbesar
yang kompleks dalam tubuh manusia yang secara struktural dan fungsional
berbeda, namun saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Sendi lutut paling
banyak menerima tumpuan sehingga lebih memungkinkan terjadinya
kerusakan akibat proses degenerasi. Sendi lutut termasuk ke dalam diartrosis,
yaitu sambungan antara dua tulang atau lebih yang dihubungkan melalui
pembungkus jaringan ikat yang berfungsi untuk melakukan gerakan tubuh.

Pada bagian luar dan pada bagian dalam terdapat rongga sendi dengan
permukaan tulang yang dilapisi oleh kartilago (Snell dkk, 2003). Kartilago
sendi yang juga disebut tulang rawan sendi berperan sebagai bantalan yang
menerima atau meredam beban benturan yang terjadi selama gerakan sendi
normal, berfungsi sebagai pelindung sendi. Matriks ekstraselular pada kartilago
sendi terdiri dari kolagen yang padat dan proteoglikan yang menyebabkan
permukaannya menjadi licin dan tahan terhadap gesekan. Kartilago dilumasi
oleh cairan sendi (sinovial) sehingga mampu mengurangi gesekan antar tulang
yang terjadi ketika bergerak (Copper, 1994).
Osteoartritis

diklasifikasikan

menjadi

osteoartritis

primer

dan

osteoartritis sekunder (Felson DT, 2008).


1. Osteoartritis Primer
Disebut juga osteoartritis idiopatik yaitu osteoatritis yang kausanya tidak
diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun
proses perubahan lokal pada sendi (Felson DT, 2008).
a. Lokalisata (tempat utama)

Pinggul-pangkal paha (superolateral, superomedial, medial,


inferoposterior)

Lutut (medial, lateral, patellofemoral)

Spinal apophyseal tangan (interfalang, pangkal ibu jari)

Kaki (sendi MTP, kaki bagian tengah, kaki belakang)

Lain-lain (bahu, siku, pergelangan tangan, pergelangan kaki)

b. Generalisata

Tangan (Nodes Herbeden)

Tangan dan lutut; spinal apophyseal

2. Osteoartritis Sekunder
Osteoartritis sekunder adalah osteoartritis yang didasari oleh adanya
perubahan degeneratif yang terjadi pada sendi yang sudah mengalami

deformitas ataupun degenerasi yang terjadi akibat penyakit tertentu


(Kumar V dkk, 2007). Osteoartritis sekunder dapat disebabkan oleh :

Trauma (akut, kronik, pasca operasi)

Kongenital atau pertumbuhan

Faktor mekanik (panjang tungkai tidak sama, deformitas


varus/valgus, sindroma hipermobilitas)

Kelainan endokrin (akromegali, hiperparatiroidisme, diabetes


mellitus)

Metabolik

inflamasi

Imobilisasi yang terlalu lama.

2.1.2 Etiologi dan Faktor Risiko


Penyebab osteoartritis masih tidak jelas, namun terdapat faktor yang
dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit osteoarthritis (Soeroso, 2007).
Berikut merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya
osteoarthritis dari usia, jenis kelamin dan aktivitas fisik, antara lain:
a. Usia
Prevalensi dan beratnya osteoartritis semakin meningkat dengan
bertambahnya usia. Proses penuaan menyebabkan terjadinya peningkatan
kelemahan disekitar sendi, degenerasi sendi synovial, mengurangi propriosepsi
sendi, klasifikasi kartilago, dan mengurangi fungsi kondrosit yang berkaitan
erat dengan terjadinya osteoarthritis (Martin dkk, 2002). Osteoarthritis lutut
hampir tidak pernah terjadi pada anak-anak, jarang pada umur dibawah 40
tahun dan sering pada umur di atas 60 tahun, yakni mencapai 48.6% (Sudoyo
WA dkk, 2009). Semakin bertambahnya usia, kapasitas kondrosit untuk
mempertahankan matriks kartilago mengalami perlambatan yang akan
mengakibatkan terjadinya penurunan kelenturan sendi dan peningkatan
kerentanannya terhadap jejas (Price dkk, 2005). Selain itu, usia di atas 40 tahun

10

terjadi peningkatan kelemahan di sekitar sendi dan penurunan kelenturan pada


sendi sehingga dapat mendukung terjadinya osteoartritis (Sudoyo WA, 2009).
Tulang rawan sendiri berfungsi untuk meredam getar antar tulang. Tulang
rawan terdiri atas jaringan lunak kolagen yang berfungsi untuk menguatkan
sendi, proteoglikan yang membuat jaringan tersebut elastis dan air (70%
bagian) yang menjadi bantalan, pelumas dan pemberi nutrisi (Creamer P &
Hochberg M, 1997). Proteoglikan dan kolagen yang dibentuk oleh sel
kondrosit terdapat pada kartilago sendi. Sintesis proteoglikan meningkat tajam
pada kejadian osteoarthritis. Seiring bertambahnya usia, substansi ini juga
dihancurkan dengan kecepatan yang lebih tinggi, terjadi peningkatan degradasi
matriks dan penururnan sintesis matriks sehingga pembentukan tidak
mengimbangi kebutuhan mengakibatkan terjadinya perubahan pada diameter
dan orietasi serat kolagen yang mengubah biomekanika dari kartilago.
Kemudian tulang rawan sendi kehilangan kompresibilitas. Sehingga jaringan
utama pada tepi articular kartilago mengalami penipisan terutama diantara
tulang articular. Jaringan yang cidera tersebut akan mengubah keseimbangan
metabolisme rawan sendi yang dapat memicu perkembangan osteoartritis lutut
(John I dkk, 2007).

b. Jenis Kelamin
Jenis kelamin dapat mempengaruhi terjadinya osteoarthritis lutut. Usia
dibawah 45 tahun frekuensi osteoarthritis kurang lebih sama antara perempuan
dan laki-laki, namun usia diatas 50 tahun frekuensi pada perempuan lebih
banyak dibandingkan laki-laki

karena adanya perubahan hormonal yang

terjadi. Pada wanita post menopause terjadi penurunan kadar esterogen,


sehingga meningkatkan sintesis sitokin seperti IL-1, IL-6, TNF- dan akan
mempercepat terjadinya degradasi kolagen serta menghambat sintesis
proteoglikan yang berpengaruh terhadap kesehatan sendi (Price SA dkk, 2005).
Pada perkembangan osteoartritis, faktor pertumbuhan dan sitokin mempunyai

11

pengaruh yang berlawanan. Faktor pertumbuhan merangsang sintesis


komponen matriks kartilago sendi, sedangkan sitokin merangsang degradasi.
Faktor pertumbuhan dari suatu polipeptida akan mengatur proliferasi sel dan
membantu komunikasi antar sel yang akan menginduksi kondrosit untuk
mensintesis asam deoksiribonukleat (DNA) dan protein seperti kolagen serta
proteoglikan (Felson, 2008). Faktor pertumbuhan seperti IGF-1 memegang
peranan penting dalam proses perbaikan rawan sendi dan pada keadaan
inflamasi, sel menjadi kurang sensitif terhadap efek IGF-1. Peningkatan leptin,
oclasin dan produk hasil matriks rawan sendi ini cenderung berakumulasi di
sendi

dan

meningkatkan

enzim

proteolitik

untuk

degradasi

matriks

ekstraseluler, menghambat fungsi rawan sendi serta mengawali suatu respons


imun yang menyebabkan makrofag untuk memproduksi sitokin-sitokin yaitu
interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), TNF dan yang akan
menyebabkan degradasi kolagen serta menghambat sintesis proteoglikan.
Selanjutnya akan terjadi perubahan komposisi molecular dan matriks rawan
sendi yag diikuti oleh kelainan fungsi matriks rawan sendi dan akan
mempercepat terjadinya degradasi kolagen serta menghambat sintesis
proteoglikan (Copper, 1994).
Melalui mikroskop, terlihat permukaan tulang rawan mengalami fibrilasi
yang berlapis-lapis dan diasosiasikan dengan peningkatan denaturasi kolagen
tipe 2. Fibrilasi inilah yang menyebabkan penyempitan rongga sendi
(Sumariyono dkk, 2007). Perbedaan tubuh perempuan dan laki-laki juga dapat
dijadikan pencetus kasus osteoartritis. Perempuan memiliki panggul lebih lebar
dibandingkan dengan laki-laki, memiliki lemak yang semakin bertambah
seiring dengan usia, dan terjadi penurunan kekuatan kolagen dan proteoglikan
pada kartilago sendi memungkinkan untuk memberikan tekanan yang lebih
pada lutut sehingga wanita cenderung memiliki osteoartritis di bagian lutut
(Abbot dkk, 2009).

12

c.

Aktivitas fisik
Aktivitas fisik yang banyak membebani sendi lutut dapat meningkatan

kejadian osteoarthritis lutut. Beban biomekanik berperan penting dalam


terjadinya progresivitas osteoarthritis. Biomekanik yang terjadi akan merusak
permukaan rawan sendi dan menyebabkan terjadinya degradasi rawan sendi
(Iowa, 2004). Beban biomekanik tersebut dapat muncul dari aktifitas fisik
sehari-hari yang sering dilakukan, yaitu:
1.) Kebiasaan naik-turun tangga
Pada keadaan normal aktivitas naik turun tangga sendi lutut akan
menerima tekanan 4-5 kali berat badan. Naik turun tangga setiap hari
dapat berkaitan dengan tekanan pada sendi lutut. Tekanan yang besar
pada area kontak yang sempit seperti saat melakukan gerakan naik
turun tangga berat badan akan lebih banyak tertumpu pada lutut dan
dapat mengakibatkan stres sendi patello femoral (Laura dkk, 2000).
Tekanan yang besar dengan distribusi pada area yang luas akan
menghasilkan derajat stres sendi yang semakin kecil. Namun, tekanan
yang besar pada area kontak yang sempit akan meningkatkan stres
sendi yang besar sehingga terjadi perubahan degenerasi rawan sendi
dan dapat mengakibatkan osteoarthritis lutut lebih dini (Menegaldo dkk,
2003). Tekanan pada tulang rawan sendi lutut yang berlebihan secara
terus-menerus akan menyebabkan degenerasi meniskal dan robekan
yang memicu perubahan pada tulang rawan sendi lutut yang dapat
mengakibatkan terjadinya osteoartritis lutut (Brand, 2001).
Ketidakseimbangan gaya otot-otot di lutut dapat dipengaruhi oleh
kekuatan dan kelenturan otot paha dan sudut tulang paha terhadap
panggul. Semakin berat beban yang ditanggung oleh lutut semakin
besar resiko terjadinya nyeri (Ray, 2010). Pada posisi berdiri setelah
naik tangga, secara normal garis berat badan menekan dari pusat caput
femoral atau tengah tulang paha melalui pertengahan sendi lutut sampai
ke pusat pergelangan kaki. Pekerjaan tertentu yang memerlukan
gerakan-gerakan penuh tekanan secara berulang dapat berkontribusi

13

pada deteriorasi kartilago (rawan sendi) (Djoko, 2006). Naik turun


tangga lebih dari 10 anak tangga perhari dapat meningkatkan kejadian
osteoarthritis lutut (Laura dkk, 2000).

2.) Kebiasaan jongkok


Menempatkan badan dengan cara melipat kedua lutut yang
tertumpu pada telapak kaki dengan aksis gerak fleksi terletak di atas
permukaan sendi yaitu melewati condylus femoris dengan sudut antara
femur dan tibia yang > 180 derajad (Williams dkk, 1992). Secara
biomekanik, beban yang diterima sendi lutut dalam keadaan normal
akan melalui medial sendi lutut dan akan diimbangi oleh otot-otot paha
bagian lateral, sehingga resultannya akan jatuh di bagian sentral sendi
lutut. Sudut antara femur dan tibia yang > 180 derajad dapat berakibat
beban tumpuan yang disangga oleh sendi lutut menjadi tidak merata
dan terlokalisir di salah satu sisi saja, dimana pada sisi yang beban
tumpuannya lebih besar akan beresiko lebih besar terjadi kerusakan
(Williams dkk, 1992; Kapandji, 1995). Pekerjaan tertentu yang
memerlukan gerakan-gerakan penuh tekanan secara berulang (misalnya
jongkok atau berlutut) dapat berkontribusi pada deteriorasi kartilago
(rawan sendi) (Djoko, 2006). Berjongkok lebih dari 30 menit perhari
atau penggunaan water closet jongkok yang terus-menerus dapat
memberikan beban tekanan lebih berat pada lutut sehingga dapat
mengakibatkan terjadinya osteoarthritis lutut (Laura dkk, 2000).

3.) Kegiatan olahraga


Aktivitas fisik tingkat tinggi dan rendah, keduanya dapat
mempercepat kerusakan pada tulang rawan. Rendahnya aktivitas fisik
atau berolahraga dapat menyebabkan kelemahan dan atrofi otot. Bila
tidak melakukan aktivitas penuh, maka kekuatannya akan berkurang
5% perhari. Disamping terjadi kelemahan juga terjadi atrofi otot (disuse
atrophy) akibat serat-serat otot yang tidak berkontraksi untuk beberapa

14

waktu, secara perlahan akan mengecil (atrofi) dimana terjadi perubahan


perbandingan serat otot dan jaringan fibrous (serat otot mengecil) bila
dilakukan latihan penguatan, ukuran serat-serat otot akan kembali
bertambah (Petter dkk, 1995). Ketika seseorang tidak melakukan
gerakan, aliran cairan sendi akan

berkurang dan berakibat aliran

makanan yang masuk ke sendi juga berkurang. Hal tersebut akan


mengakibatkan proses degeneratif menjadi berlebihan (Oliveria dkk,
1995). Namun, orang yang memiliki aktivitas fisik atau olahraga berat
secara repetitive atau berulang dapat memberikan beban yang
berlebihan pada sendi dan meningkatkan risiko cedera sehingga akan
mengakibatkan tulang subkondral merespon dengan meningkatkan
seluleritas dan vaskularisasi, akibatnya tulang menjadi tebal dan padat
(eburnasi). Kegiatan olahraga tertentu seperti sepakbola, basket, lari,
berenang dan tennis juga dapat mengakibatkan degradasi tulang rawan
dan berisiko lebih memungkinkan terjadinya cedera sendi lutut yang
mengakibatkan perkembangan osteoarthritis lutut (Kettelkamp, 1992;
Isbagio H, 2005).

4.) Riwayat Trauma


Terjadinya trauma, benturan atau cedera pada sendi lutut dapat
menyebabkan kerusakan atau kelainan pada tulang-tulang pembentuk
sendi tersebut. Kejadian post traumatik juga menyebabkan percepatan
degenerasi kartilago, mempercepat sinovitis dan pada akhirnya rawan
sendi akan rusak sehingga menyebabkan terjadinya osteoartritis dengan
gejala-gejala seperti nyeri sendi, kaku dan deformitas (Kenneth,
2005).Studi Framingham menemukan bahwa orang dengan riwayat
trauma lutut memiliki risiko 5 6 kali lipat lebih tinggi untuk menderita
OA lutut. Hal tersebut biasanya terjadi pada kelompok usia yang lebih
muda serta dapat menyebabkan kecacatan yang lama dan pengangguran
(Felson D.T, 2008). Cedera traumatik seperti robekan pada ligamentum
krusiatum dan meniscus yang merupakan bangunan tulang rawan yang

15

berfungsi sebagai lubrikan (pelapis) membantu mengurangi guncangan,


ketidakstabilan ligament dan beban benturan yang tejadi berulang
merupakan faktor risiko timbulnya osteoartritis lutut dan dapat
berkaitan dengan perkembangan dan berat osteoarthritis pada lutut
(Menegaldo dkk, 2003). Pada penelitian di Universitas IOWA
dilaporkan bahwa 13,9% dari mereka yang pernah mengalami trauma
lutut, pada masa dewasa muda dapat berkembang menjadi osteoarthritis
lutut.

Faktor risiko usia, jenis kelamin serta aktivitas fisik seperti kebiasaan
jongkok lebih dari 30 menit sehari, kebiasaan naik turun tangga lebih dari 10
anak tangga perhari, kebiasaan olahraga dan riwayat trauma dapat
mempengaruhi sendi lutut, sendi terbesar yang

kompleks dalam tubuh

manusia yang secara struktural dan fungsional berbeda, namun saling


berkaitan satu dengan yang lainnya. Sendi lutut paling banyak menerima
tumpuan sehingga lebih memungkinkan terjadinya kerusakan. Bersama
dengan timbulnya degenerasi tulang rawan, pada tepi sendi akan terjadi
remodelling tulang atau timbul reparasi yaitu respons terhadap tulang rawan
yang rusak dengan pembentukan osteofit, akibat dari induksi oleh
transforming growth factor- (George C,2000). Pembentukan tulang baru
(osteofit) juga dianggap suatu usaha untuk memperbaiki dan membentuk
kembali persendian. Dengan menambah luas sendi, osteofit diharapkan dapat
memperbaiki

perubahan-perubahan

awal

tulang

rawan

sendi

pada

osteoartritis. Namun, pengikisan yang progresif menyebabkan tulang yang


dibawahnya ikut terlibat. Hilangnya tulang-tulang tersebut merupakan usaha
untuk melindungi permukaan yang tidak terkena dan ternyata peningkatan
yang terjadi melebihi kekuatan biomekanik tulang, sehingga dapat
berpengaruh terhadap kejadian osteoarthritis lutut (Isbagio H, 2005).
Selain itu, pada kartilago sendi terjadi peningkatan aktivitas fibrinogenik
dan penurunan aktivitas fibrinolitik yang mengakibatkan penumpukan
thrombus dan kompleks lipid pada pembuluh darah, sehingga terjadi iskemia

16

dan nekrosis jaringan subkondral. Proses tersebut mengakibatkan pelepasan


mediator kimiawi seperti prostaglandin dan interleukin yang menimbulkan
rasa sakit. Penyebab rasa sakit juga akibat pelepasan mediator kimiawi seperti
kinin dan prostaglandin yang menyebabkan radang sendi, peregangan tendo
atau ligamentum, spasmus otot ekstraartikular akibat aktivitas fisik yang
berlebihan, dan adanya osteofit yang akan menekan radiks saraf (Soeroso
dkk, 2007). Melihat adanya proses kerusakan dan proses perbaikan yang
sekaligus terjadi, maka osteoarthritis dianggap sebagai kegagalan sendi yang
progresif (Kenneth, 2005).

2.1.3

Diagnosis
a. Anamnesis
Penderita osteoarthritis lutut akan mengeluhkan gejala-gejala sebagai
berikut (John I & Hellman D, 2007) :
1. Nyeri
Nyeri merupakan tanda utama dari penyakit osteoarthritis, mempunyai
sifat yang khas yaitu memberat pada saat melakukan gerakan atau
beraktivitas tetapi membaik saat beristirahat. Namun, semakin
progresif penyakit ini maka makin hebat rasa nyeri sehingga dapat
timbul pada saat istirahat ataupun malam hari. Ada beberapa
kemungkinan penyebab nyeri pada pasien osteoarthritis lutut yaitu:

Inflamasi jaringan synovial

Faktor mekanik local

Perubahan bentuk atau kerusakan sendi serta adanya instabilitas


menimbulkan spasme otot-otot ekstra artikular serta peregangan
tendo dan ligament.

Osteofit yang dapat mengangkat periosteum sehingga dapat


menimbulkan rasa sakit bila periosteum tertekan.

2. Hambatan gerak sendi

17

Hambatan gerak sendi akan semakin bertambah berat secara perlahan


sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri. Dapat terjadi karena adanya
osteofit, penebalan kapsul sendi yang menyebabkan kekakuan dan
sakit bila digerakkan sehingga terjadi hambatan gerak.
3. Kaku Pagi
Pada beberapa pasien, nyeri atau kaku sendi dapat timbul setelah
imobilitas seperti duduk di kursi atau mobil dalam waktu yang cukup
lama atau bahkan setelah bangun tidur. Kekakuan sendi biasanya
terjadi pada pagi hari dan lamanya kurang dari 30 menit.
4. Krepitasi
Rasa gemertak yang terkadang dapat didengar pada sendi yang sakit
pada saat gerakan aktif. Bunyi tersebut disebabkan permukaan sendi
yang kasat karena tulang rawan sendi yang menghilang.
5. Pembesaran sendi (deformitas)
Pembesaran sendi dapat terjadi pada salah satu sendi yang secara
perlahan membesar.
6. Perubahan gaya berjalan
Hampir semua pasien osteoarthritis lutut mengalami perubahan gaya
berjalan menjadi pincang. Gangguan berjalan akan mengganggu
aktivitas kehidupan sehari-hari dan mengurangi kualitas hidup
terutama pada pasien dengan usia lanjut.

Berikut merupakan kriteria diagnosis Osteoartritis lutut menurut American


College of Rheumatology antara lain:

a.) Klinis
1. Nyeri lutut
2. Krepitus saat gerakan aktif
3. Kaku sendi <30 menit
4. Usia >50 tahun
5. Pembesaran tulang sendi lutut

18

6. Tidak teraba hangat pada sendi lutut


Dinyatakan Osteoartritis lutut apabila ditemukan nyeri sendi lutut dan tiga
dari kriteria diatas.
b.) Klinis dan Radiografi:
1. Nyeri sendi
2. Kaku sendi <30 menit
3. Usia >50 tahun
4. Krepitus pada gerakan sendi aktif
Diagnosis Osteoartritis lutut jika didapatkan nyeri sendi disertai gambaran
osteofit pada gambaran radiografi disertai kriteria 2, 3 atau 4. Paling
sedikit satu criteria 2-4 harus ditemukan. Sensitivitas 91% dan spesifitas
86%.
c.) Klinis dan Laboratoris
1. Nyeri sendi
2. Usia >50 tahun
3. Kaku sendi <30 menit
4. Krepitus
5. Nyeri tekan tepi tulang
6. Pembesaran tulang
7. Tidak teraba hangat pada sendi terkena
8. LED <40
9. RF <1:40
10. Analisis cairan sinovium sesuai osteoarthritis
Diagnosis Osteoartritis lutut ditegakan bila ditemukan nyeri sendi lutut
disertai dari kriteria 2-10. Sensitivitas 92% dan spesifitas 75%.
Catatan : LED= Laju Endap Darah; RF= Rhematoid Factor
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang ditemukan diantaranya:

19

1. Hambatan gerak
Biasanya keterbatasan gerak mula - mula terlihat pada gerak fleksi
kemudian dalam keadaan lanjut terjadi keterbatasan kearah ekstensi.
Keterbatasan ini akibat dari (a) perubahan permukaan sendi, (b)
spasme dan kontraktur otot, (c) kontraktur kapsul kapsul sendi, (d)
hambatan mekaniik oleh osteofit atau jaringan - jaringan yang terlepas
(Nasution, 1994). Keterbatasan gerak ini disebabkan oleh timbulnya
osteofit dan penebalan kapsuler, muscle spasme serta nyeri yang
membuat pasien tidak mau melakukan gerakan secara maksimal
sampai batas normal, sehingga dalam waktu tertentu mengakibatkan
keterbatasan lingkup gerak sendi pada lutut. Keterbatasan gerak
biasannya bersifat pola kapsuler akibat kontraktur kapsul sendi.
Keterbatasan pola kapsuler yang terjadi yaitu gerak fleksi lebih
terbatas dari gerak ekstensi. Hambatan gerak akan semakin berat
dengan semakin beratnya penyakit, sampai sendi hanya bisa
digoyangkan dan menjadi kontraktur. Hambatan gerak dapat
konsentris (seluruh arah gerakan) maupun eksentris (salah satu gerakan
saja) (Heru, 2005).

2. Krepitasi
Krepitasi pada awalnya hanya perasaan berupa adanya sesuatu yang
patah atau remuk oleh pasien atau dokter yang memeriksa. Dengan
bertambah beratnya penyakit krepitasi dapat terdengar sampai jarak
tertentu. Krepitasi timbul karena gesekan permukaan tulang sendi pada
saat sendi digerakkan atau secara pasif dimanipulasi. Hal ini
disebabkan oleh permukaan sendi yang kasar karena hilangnya rawan
sendi (Heru, 2005).

20

3. Pembengkakan sendi
Pembengkakan sendi yang sering kali asimetris pada osteoarthritis
lutus dapat timbul efusi pada sendi yang tak banyak (<100cc),
penyebab lain dapat dari osteofit yang mengubah permukaan sendi.
4. Tanda-tanda peradangan
Adanya tanda peradangan pada sendi seperti nyeri tekan, gangguan
gerak, rasa hangat yang merata dan wara kemerahan dapat dijumpai
pada osteoarthritis karena adanya sinovitis. Biasanya tanda-tanda ini
tidak menonjol dan timbul belakangan yang sering dijumpai di lutut.
5. Deformitas sendi permanen
Deformitas dapat timbul karena kontraktur sendi yang lama, perubahan
permukaan sendi, berbagai kecacatan, gaya berdiri dan perubahan pada
tulang serta permukaan sendi. Deformitas yang dapat terjadi pada OA
yang paling berat akan menyababkan distruksi kartilago, tulang dan
jaringan lunak sekitar sendi. Terjadi deformitas varus bila terjadi
kerusakan pada kopartemen medial dan kendornya ligamentum
(Slamet,2000).
6. Perubahan gaya berjalan
Keadaan ini hampir selalu berhubungan dengan nyeri karena tumpuan
pada berat badan. Terutama dijumpai pada osteoarthritis lutut, sendi
paha dan osteoarthritis tulang belakang dengan stenosis spinal yang
dapat menimbulkan gangguan fungsional. Penderita sering tidak bisa
atau kesulitan dalam melakukan aktivitas fisik sepetri bangkit dari
tempat duduk, jongkok, berlutut, jalan serta naik turun tangga.
Aktivitas tersebut merupakan weight bearing yang banyak membebani
sendi lutut.

c. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Radiografis

21

Gambaran

Radiografis

sendi

yang

menyokong

diagnosis

osteoarthritis ialah :
a.) Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat
pada bagian yang menanggung beban).
b.) Peningkatan densitas tulang (sklerosis) tulang subkondral.
c.) Kista tulang di daerah subchondrial
d.) Osteofit pada pinggir tulang
e.) Perubahan struktur anatomi sendi
Berdasarkan

Kellgren

Lawrence,

diagnosis

osteoarthritis

dinyatakan jika ditemukan kelainan radiografis gradasi 2 atau


lebih dari kriteria, yaitu :
Gradasi

Kriteria

Normal

Penyempitan celah sendi meragukan dan dapat disertai osteofit

Osteofit yang jelas dengan kemungkinan penyempitan celah sendi


Osteofit sedang multiple disertai penyempitan celah sendi yang

jelas, sklerosis ringan dan dapat disertai deformitas kontur tulang


Osteofit besar serta ditandai penyempitan celah sendi, sklerosis

berat dan deformitas yang jelas dari kontur tulang


Tabel.1 Kriteria Osteoartritis berdasarkan kelainan radiografis
2. Rontgen Tulang
Dengan pemeriksaan ini dapat diketahui kerusakan atau
perubahan-perubahan yang terjadi pada tulang rawan.

3. Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI)


Pemeriksaan MRI dihunakan untuk melihat perubahan yang
mengindikasikan adanya Osteoartritis, melihat kelainan-kelainan
yang terjadi pada tulang rawan dan tulang dengan detail yang
lebih

baik

daripada

pemeriksaan

rontgen

tulang.

Tatapi

22

pemeriksaan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan pada orang tua


dengan nyeri lutut kronik (Felson, 2008).

4. Pemeriksaan Laboratorium
Osteoartritis merupakan penyakit degeneratif, maka pada hasil
laboratorium biasanya tidak ditemukan kelainan yang khas. Hasil
pemeriksaan laboratorium yang dapat ditemukan (Soeroso dkk,
2007) :
a.) Pemeriksaan darah tepi (hemoglobin, leukosit, laju endap darah)
dalam batas normal
b.) Pemeriksaan

imunologi

(ANA,

rheumatoid

factor

dan

komplemen) juga normal


c.) Peningkatan

protein,

pleositosis

ringan

sampai

sedang,

peningkatan sel radang (<8000/m)

2.1.4

Tatalaksana

Hingga saat ini beluma ada obat yang secara pasti dapat mengubah
atau

menghambat

perjalanan

penyakit

osteoartritis.

Tujuan

penanganannya adalah untuk :


a. Mengurangi rasa nyeri dan inflamasi
b. Memelihara atau meningkatkan gerakan sendi
c. Menghindari kerusakan lebih lanjut pada sendi yang terkena
osteoartritis.
Penatalaksanaan yang bisa dilakukan antara lain (Felson, 2008) :
1.) Edukasi
Edukasi sangat penting bagi semua pasien osteoartritis. Tujuan
utamanya adalah untuk mengetahui cara mengatasi nyeri dan
disabilitas.
2.) Rehabilitasi

23

Terapi ini melatih pasien agar persendiannya tetap dapat di


pakai serta melatih pasien untuk melindungi sendi yang sakit.
3.) Latihan yang teratur
Penelitian menunjukkan bahwa salah satu penatalaksanaan
yang terbaik ialah latihan yang teratur.
4.) Penurunan berat badan
Penurunan berat badan yang dilakukan bertujuan agar
mengurangi tekanan pada sendi dengan mengurangi berat
badan.
5.) Pengaturan aktivitas fisik
Aktivitas yang membutuhkan gerakan berulang dan stress yang
tinggi sebaiknya diganti dengan aktivitas dengan tingkat stress
yang lebih rendah agar dapat menolong mengurangi tekanan
pada sendi tersebut.
6.) Istirahat dan perawatan pada sendi
Penatalaksanaan osteoartritis termasuk jadwal istirahat yang
teratur. Splint atau brace dapat memberikan dukungan
tambahan untuk kelemahan sendi.
7.) Terapi Farmakologi
Pengobatan

osteoarthritis

yang

ada

saat

ini

bersifat

simptomatik dengan obat anti inflamasi non steroid (OAINS)


dikombinasi dengan program rehabilitasi dan proteksi sendi.
8.) Terapi Pembedahan
Tujuan pembedahan adalah untuk menata ulang sendi dan
meningkatkan fungsi sendi.

24

2.2

Kerangka Teoritis

Jenis
Kelamin

Usia

Gangguan Kondrosit

Peningkatan degradasi
matriks dan penurunan
sintesis matriks

Remodelling
tulang

Osteofit

Perubahan struktur
matriks rawan sendi

Gangguan fungsi
matriks rawan
sendi
Penyempitan
rongga sendi

Osteoartritis Lutut

Aktivitas
fisik

Beban
biomekanis
sendi

25

2.3 Kerangka Konsep

Usia

Jenis
kelamin

Aktivitas Fisik :
-

Kebiasaan naik turun tangga


Kebiasaan jongkok
Kegiatan olahraga
Riwayat trauma

Osteoartritis Lutut