Anda di halaman 1dari 7

Perkembangan Organisasi Keperawatan,Keperawatan sebagai

Profesi,dan Profil Keperawatan Profesional


v Perkembangan Organisasi Keperawatan
Beberapa organisasi keperawatan
ICN (International Council of Nurses) organisasi profesional wanita pertama di dunia di dirikan
tgl 1 Juli 1899 o/ Mrs.Bedford Fenwick.
Tujuannya:
Memperkokoh silaturahmi perawat slrh dunia
Memberi kesempatan bertemu bg prwt di slrh dunia u/ membicarakan mslh keperawatan.
Menjunjung peraturan dlm ICN agar dpt mencapai kemajuan dlm pelayanan, pendidikan

keperwtan berdasarkan kode etik profesi keprwtan.


ANA di dirikan th 1800 yg anggotanya dari negara-2 bagian, berperan :
Menetapkan standar praktek keperawatan.
Canadian Nurse Association (CNA) tujuan sama dg ANA memberikan izin praktek kepwtan

mandiri.
NLN (National League for Nursing) di dirikan th 1952, tujuan u/pengembangan & peningkatan

mutu lan-kep & pdkkan keperawatan.


British Nurse Association di dirikan th 1887, tujannya:
memperkuat persatuan & kesatuan slrh perawat di Inggris & berusaha
memperoleh pengakuan thp profesi keperawatan.
PPNI di dirikan 17 maret 1974

Saat ini sebagian besar pendidikan perawat adalah vokasional (D3 Keperawatan), sebagian
kecil yang ners dan spesialis. Bahkan masih ada yang SPK (setingkat SLTA). Rendahnya pendidikan
perawat, menjadi penyebab rendahnya kualitas pelayanan keperawatan dan daya saing perawat kita
dibandingkan dengan perawat asing. Padahal, jumlah terbesar dari profesional kesehatan adalah
perawat.
Rendahnya pendidikan perawat tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangannya.
Perkembangan keperawatan di Indonesia mengadopsi pelayanan keperawatan di Belanda, yakni
profesi perawat lahir karena pelayanan kemanusiaan, seperti biarawati. Oleh karena itu, pendidikan
keperawatannya kurang berkembang dibandingkan dengan negara-negara Commonwealth.
Di Inggris, pendidikan keperawatan telah berkembang dengan baik melalui perguruan tinggi
sejak 1868. Dengan demikian, tatanan profesionalisme dan pelayanan keperawatannya sangat maju.
Di Indonesia, perawat didesain untuk membantu dokter, sehingga peran dan fungsinya
bergeser dari pelayanan keperawatan. Hasil penelitian Depkes dan Universitas Indonesia (UI)
menunjukkan lebih dari 90% perawat melakukan tugas nonkeperawatan (menetapkan diagnosis
penyakit, membuat resep obat, melakukan tindakan pengobatan). Hanya 50% yang melakukan
asuhan keperawatan sesuai dengan peran dan fungsinya.
Di sisi lain, International Council of Nursing (ICN) menuntut seorang perawat yang akan
memberikan pelayanan harus melalui sertifikasi dan uji kompetensi untuk memperoleh register

nurse (RN). Untuk uji RN, seseorang harus menyelesaikan pendidikan ners. Dengan demikian, secara
international standar pendidikan dasar profesi perawat harus pendidikan ners. Perawat yang lulus RN
berhak bekerja di semua negara. Saat ini perawat kita sulit masuk ke negara lain karena tidak
memiliki RN.
Bila ada perawat kita yang bekerja di negara-negara Timur Tengah, mereka adalah perawat
vokasional. Penghargaannya lebih rendah dibandingkan dengan perawat Filipina atau India, yang
telah bersertifikasi secara internasional.
Demikian juga regulasi perawat di dalam negeri. Banyak perawat asing yang akan masuk ke
Indonesia. Mereka memiliki standar kompetensi yang tinggi dan tanggung jawab moral yang baik. Bila
kita tidak mengantisipasi, maka kehadiran mereka dapat menjadi ancaman bagi kita, dan kita akan
menjadi tamu di negeri sendiri. Guna mengantisipasi ancaman itu, dibutuhkan sistem penataan
pendidikan tinggi keperawatan yang baik.
v Alur Pendidikan
Dasar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menata jenis dan jenjang pendidikan
keperawatan adalah Undang-Undang (UU) 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Untuk
menjadi perawat profesional (RN), lulusan SLTA harus menempuh pendidikan akademik S1
Keperawatan dan Profesi Ners. Tetapi bila ingin menjadi perawat vokasional, (primary nurse) dapat
mengambil D3 Keperawatan/Akademi Keperawatan.
Lulusan SPK yang masih ingin menjadi perawat harus segera ke D3 atau langsung ke S1
Keperawatan. Selanjutnya, lulusan D3 Keperawatan dapat melanjutkan ke S1 Keperawatan dan Ners.
Dari pendidikan S1 dan Ners, baru ke Magister Keperawatan/spesialis dan Doktor/Konsultan.
Diharapkan pada 2015, sebagian besar tenaga keperawatan adalah S1 Keperawatan dan Ners. Oleh
karena itu, PPNI sangat mengharapkan perawat vokasional meneruskan pendidikannya ke S1
Keperawatan dan Ners.
v Pendidikan Profesional
Ada beberapa alasan mengapa tidak ada jenjang D4 Keperawatan :
Pertama, tuntutan dan kebutuhan tenaga profesional perawat dalam menghadapi era
globalisasi. Perawat adalah profesi, sebagaimana deklarasi dalam lokarkarya nasional 1983. Dasar
pendidikannya harus pendidikan profesional.
Kedua, semakin banyak jenis dan jenjang pendidikan perawat vokasional akan menyulitkan
pengaturan kompetensinya. Perbedaan kompetensi dan kewenangan antara D3, D4, dan Ners
bagaimana? Ketiga, bila akan melanjutkan studi, setelah lulus D4 ke mana? Tidak ada pengaturan
transfer pendidikan dari D4 ke S1 Keperawatan.
Banyak lulusan D4 Perawat Pendidik Undip (sekarang sudah ditutup) harus melanjutkan ke S1
Keperawatan dengan D3 Keperawatanya.
Perbedaan pandangan antara elite PPNI yang berhak mengatur jenis dan jenjang pendidikan
perawat dengan pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan D4 Keperawatan, perlu diselesaikan.
PPNI memperjuangkan idealisme dan profesionalisme agar pengakuan dan eksistensi profesi itu
meningkat di mata profesi lain dan masyarakat.

Sementara itu, pemerintah memiliki Politeknik Kesehatan (Poltekes) di banyak provinsi yang
mewarnai kualitas perawat kita, meskipun keberadaan Poltekes yang dikelola oleh Departemen
Kesehatan tersebut bukan lagi sebagai pendidikan kedinasan yang diamanatkan oleh UU.
Perbedaan semakin nyata, ketika ada keinginan bahwa rekrutmen PNS di masa yang akan
datang memprioritaskan lulusan D4 Keperawatan. Ke mana mahasiswa S1 Keperawatan setelah
lulus? Mungkin itu yang diperjuangkan oleh Aliansi BEM S1 Keperawatan se-Indonesia. Arogansi
masing-masing hanya akan memperburuk situasi yang akan memengaruhi pelayanan keperawatan.
Banyak profesi yang telah tumbuh dan berkembang dengan baik. Organisasi profesi mereka
mengatur dengan baik profesinya. Sudah selayaknya profesi itu diberi kesempatan untuk berkembang
pula menuju tatanan dan norma profesionalisme, agar daya saing SDM Keperawatan mampu
berkompetisi dengan profesi lain.

v Keperawatan Sebagai Profesi


Hall (1968) memberikan gambaran tentang suatu profesi yaitu suatu pekerjaan yang harus melalui
proses empat tahapan antara lain :
1.

Memperoleh badan pengetahuan dari institusi pendidikan tinggi

2.

Menjadi pekerjaan utama

3.

Adanya organisasi profesi

4.

Terdapat kode etik


Ciri Ciri Profesi
Dilihat dari definisi profesi, jelas bahwa profesi tidak sama dengan okupasi (occupation) meskipun
keduanya sama-sama melakukan pekerjaan tertentu.
Profesi mempunyai ciri ciri sebagai berikut :
1. Didukung oleh badan ilmu yang sesuai dengan bidangnya (antalogi), jelas wilayah kerja keilmuannya
(Epistomologi), dan aplikasinya (Axiologi).
2. Profesi diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan yang terencana, terus-menerus dan bertahap.
3. Pekerjaan profesi diatur oleh kode etik profesi serta diakui secara legal melalui perundang-undangan.
4. Peraturan dan ketentuan yang mengatur hidup dan kehidupan profesi (standar pendidikan dan
pelatihan, standar pelayanan, dan kode etik) serta pengawasan terhadap pelaksanaan peraturanperaturan tersebut dilakukan sendiri oleh warga profesi (Winsley, 1964).
Kriteria Profesi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Memberi pelayanan untuk kesejahteraan manusia.


Mempunyai pengetahuan dan keterampilan khusus dan dikembangkan secara terus-menerus.
Memiliki ketelitian, kemampuan intelektual, dan rasa tanggung jawab.
Lulus dari pendidikan tinggi.
Mandiri dalam penampilan, aktivitas dan fungsi.
Memiliki kode etik sebagai penuntun praktik.
Memiliki ikatan/organisasi untuk menjamin mutu pelayanan.

Wilayah Kerja Profesi


1. Pembinaaan organisasi profesi.

2. Pembinaan pendidikan dan pelatihan profesi.


3. Pembinaan pelayanan profesi.
4. Pembinaan iptek.
Keperawatan sebagai profesi merupakan salah satu pekerjaan dimana dalam menentukan tindakannya
didasarkan pada ilmu pengetahuan serta memiliki keterampilan yang jelas dalam keahliannya.
Dengan adanya perkembangan keperawatan dari kegiatan yang sifatnya rutin yang menjadi pemenuhan
kebutuhan berdasarkan ilmu, membawa suatu perubahan yang sangat besar dalam dunia keperawatan karena
pelayanan yang semula hanya berdasarkan pada insting dan pengalaman menjadi pelayanan keperawatan
profesional berdasarkan ilmu dan teknologi keperawatan yang selalu berubah sesuai dengan kemajuan zaman.
Perawatan sebagai profesi mempunyai karakteristik sebagai berikut:

1.

Memiliki body of knowledge

Perawat bekerja dalam kelompok dan dilandasi dengan teori yang spesifik dan sistematis yang
dikembangan melalui penelitian. Penelitian keperawatan yang dilakukan pada tahun 1940, merupakan titik awal
perkembangan keperawatan. Pada tahun 1950 dengan semakin berkembangnya penelitian yang dilakukan
mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam dunia pendidikan keperawatan dan pada tahun 1960 penelitian
lebih banyak dilakukan pada praktik keperawatan. Sejak tahun 1970, penelitian keperawatan lebih banyak
dilakukan dengan memfokuskan diri pada praktik yang dihubungkan dengan isu-isu yang ada pada saat itu.
Menurut Potter dan Perry (1997), perawat telah memperlihatkan diri sebagai profesi dan dapat terlihat
adanya pengetahuan keperawatan telah dikembangkan melalui teori-teori keperawatan. Model teori memberikan
kerangka kerja bagi kurikulum dan praktik klinis keperawatan. Teori keperawatan mendorong ke arah penelitian
yang meningkatkan dasar ilmiah untuk praktik keperawatan.
2.

Berhubungan dengan nilai-nilai sosial

Kategori ini mendorong profesi untuk mendapatkan penghargaan yang cukup baik dari masyarakat.
Keperawatan telah diberi kepercayaan untuk menolong dan melayani orang lain/klien. Pada awalnya perawat
diharapkan dapat menyisihkan sebagian besar waktunya untuk melayani, tetapi dengan semakin
berkembangnya ilmu keperawatan tuntutan tersebut telah bergeser, perawat juga mengharapkan kompensasi
dan mempunyai kehidupan yang lain disamping perannya sebagai perawat.
Karakteristik keperawatan merupakan suatu bentuk yang relevan dengan nilai-nilai masyarakat, seperti
pentingnya kesehatan, kesembuhan dan keperawatan.
Masyarakat pada umumnya mengakui bahwa perawat mempunyai tugas untuk melawan klien dan juga
melakukan upaya-upaya dalam promosi kesehatan dan pencegahan penyakit tetapi masih ada sebagian
masyarakat yang belum mengetahui bahwa perawat adalah sebuah profesi. Untuk itu perlu adanya usaha dari
perawat itu sendiri agar dapat meyakinkan masyarakat guna mendapatkan pengakuan sesuai dengan yang
diinginkannya.
3.

Masa pendidikan

Kategori ini mempunyai empat bagian tambahan yaitu isi pendidikan, lamanya pendidikan, penggunaan
simbol dan proses idealisme yang dituju serta tingkatan dari spesialisasi yang berhubungan dengan praktik.
Menurut Nightingale pendidikan keperawatan harus melibatkan dua area penting yaitu teori dan praktik yang
sampai saat ini masih dianut. Perkembangan pendidikan keperawatan dewasa ini sama dengan bidang ilmu
yang lain, yaitu pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi menimbulkan perubahan yang sangat berarti bagi perawat
terhadap cara pandang asuhan keperawatan secara bertahap keperawatan beralih dari yang semulai

berorientasi pada tugas menjadi berorientasi pada tujuan yang berfokus pada asuhan keperawatan yang efektif
serta menggunakan pendekatan holisitik dan proses keperawatan.
4.

Motivasi

Motivasi untuk bekerja merupakan kategori keempat dari Pavalko. Motivasi bukan hanya secara individu
tetapi juga menyeluruh dalam kelompok. Motivasi diartikan sebagai suatu perhatian yang mengutamakan
pelayanan kelompok keperawatan kepada klien. Ada beberapa pendapat bahwa saat ini anak-anak muda
menginginkan menempuh pendidikan tinggi agar dapat mempunyai kehidupan yang lebih baik seperti
mendapatkan gaji lebih, kekuasaan, status disamping pekerjaan yang dilakukannya. Biasanya karakteristik ini
tidak diasosiasikan dengan profesi keperawatan, walaupun demikian banyak perawat yang melakukan
pelayanannya dengan berorientasikan kepada klien/pasien mereka dengan baik.
5.

Otonomi

Kategori kelima Pavalko adalah kebebasan untuk mengontrol dan mengatur dirinya sendiri. Profesi
mempunyai otonomi untuk regulasi dan membuat standar bagi anggotanya. Hak mengurus diri sendiri
merupakan salah satu tujuan dari asosiasi keperawatan, karena hal ini juga berarti keperawatan mempunyai
status dan dapat mengontrol seluruh kegiatan praktik anggotanya. Otonomi juga dapat diartikan sebagai suatu
kebebasan dalam bekerja dan pertanggungjawaban dari suatu tindakan yang dilakukannya.
6.

Komitmen

Kategori keenam adalah komitmen untuk bekerja. Manusia yang komitmen untuk bekerja menunjukkan
adanya suatu keunggulan, untuk melaksanakan pekerjaannya dengan baik, mencegah terjadinya kemangkiran,
menekuni pekerjaannya seumur hidup atau dalam periode waktu yang lama. Komitmen perawat juga dapat
menurun, hal ini terjadi karena kebanyakan dari perawat adalah wanita, yang harus membagi perhatiannya
dengan keluarga, sehingga mereka sering mengalami konflik yang berkepanjangan dan kadang-kadang harus
keluar dari pekerjaannya.
Orientasi karir juga merupakan salah satu ciri dari komitmen, karena dengan adanya pengembangan karir
melalui pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi membuat perawat dapat bekerja dengan lebih baik dan
bertanggung jawab dalam melakukan asuhan keperawatan.
7.

Kesadaran bermasyarakat

Kesadaran bermasyarakat bagi perawat diartikan sebagai anggota kelompok yang ikut mengambil bagian
dalam persamaan pedoman, nasib serta memiliki kebudayaan tersendiri. Perawat mempunyai simbol-simbol
yang dikenal masyarakat sebagai ciri yang khas dari sebuah profesi seperti seragam putih, pin dan cap.
Walaupun akhir-akhir ini banyak yang mengubah identitas tersebut, tetapi perawat telah memiliki perasaan yang
kuat untuk tetap bersatu dalam kelompoknya.
8.

Kode etik

Eksistensi kode etik merupakan kategori terakhir dari Pavalko. Etika keperawatan merujuk pada standar etik
yang membimbing perawat dalam praktik sehari-hari seperti jujur terhadap pasien, menghargai pasien atas hakhak yang dirahasiakannya dan beradvokasi atas nama pasien.
Etika keperawatan ditujukan untuk mengidentifikasi, mengorganisasikan, memeriksa dan membenarkan
tindakan-tindakan kemanusiaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tertentu, selain itu juga menegaskan
tentang kewajiban-kewajiban yang secara suka rela diemban oleh perawat dan mencari informasi mengenai
dampak dari keputusan-keputusan perawat yang mempengaruhi kehidupan dari pasien dan keluarganya. Ciri
dari praktik profesional adalah adanya komitmen yang kuat terhadap kepedulian individu, khususnya kekuatan
fisik, kesejahteraan dan kebebasan pribadi, sehingga dalam praktik selalu melibatkan hubungan yang

bermakna. Oleh karena itu seorang profesional harus memiliki orientasi pelayanan, standar praktik dan kode etik
untuk melindungi masyarakat serta memajukan profesi.
Mengingat pentingnya pembinaan bagi tenaga keperawatan agar dapat bekerja dengan baik maka perlu
adanya pemahaman tentang fungsi dari asosiasi keperawatan yang terdiri dari:

1.

Penetapan standar praktik, pendidikan dan pelayanan keperawatan.

2.

Menetapkan kode etik bagi perawat.

3.

Menetapkan sistem kredensial dalam keperawatan.

4. Menetapkan untuk ikut berinisiatif dalam legislasi, program pemerintah, kebijakan kesehatan nasional dan
internasional.
5. Mendukung adanya sistem pendidikan yang baik, evaluasi dan perhatian dalam keperawatan.
6. Adanya agensi sentral untuk mengoleksi, menganalisa dan desiminasi dari informasi yang relevan dengan
keperawatan.
7.

Promosi dan proteksi ekonomi dan kesejahteraan bagi perawat.

8.

Membina kepemimpinan bagi perawat baik untuk tingkat nasional maupun internasional.

9.

Membina sikap profesionalisme bagi perawat.

10. Menyelenggarakan program secara benar.


11. Memberikan pelayanan masalah-masalah politik pada perawat.
12. Menjaga terjadinya komunikasi bagi seluruh anggotanya.
13. Menyediakan advokasi bagi anggotanya.
14. Berbicara dan menjelaskan tentang profesi keperawatan kepada pihak lain.
15. Melindungi dan mempromosikan kemajuan kesejahteraan manusia yang terkait dengan perawat kesehatan.

v Profil Perawat Profesional


Pelayanan Keperawatan di masa mendatang harus dapat memberikan Consumer Minded terhadap
pelayanan yang diterima. Implikasi pelayanan keperawatan akan terus mengalami perubahaan dan hal ini akan
dapat terjawab dengan memahami dan melaksanakan karakteristik perawat profesional dan perawat millennium.
Menurut Nursalam Peran perawat di masa depan harus berkembang seiring dengan perkembangan IPTEK dan
tuntutan kebutuhan masyarakat, sehingga perawat, dituntut mampu manjawab dan mengantisipasi terhadap
dampak dari perubahan. Sebagai Perawat professional maka peran yang diemban adalah CARE yang
meliputi:
v

Communication
Perawat memberikan pelayanan keperawatan harus dapat berkomunikasi secara lengkap, adekuat,
cepat. Setiap melakukan komunikasi (lisan dan tulis) harus memenuhi tiga syarat di atas dan juga harus mampu
berbicara dan menulis dalam bahasa asing minimal bahasa inggris.

Activity
Prinsip melakukan aktifitas/pemberian asuhan keperawatan harus dapat bekerjasama dengan teman
sejawat dan tenaga kesehatan lainnya, khususnya tim medis sebagai mitra kerja dalam memberikan asuhan
kepada pasien. Aktivitas ini harus ditunjang dengan menunjukan suatu kesungguhan dan sikap empati dan

bertanggung-jawab terhadap setiap tugas yang diemban. Tindakan keperawatan harus dilakukan dengan
prinsip: CWIPAT
C: Check the orders & Equipment
W: Wash Your hands
I: Identify of Patient
P: Provide for Safety & Privacy
A: Asses the Problem
T: Tell the person or teach the patient about what you are going to do
v

Review
Prinsip utamanya adalah moral dan Etika keperawatan. Dalam memberikan setiap asuhan keperawatan
perawat harus selalu berpedoman pada nilai-nilai etik keperawatan dan standar keperawatan yang ada serta
ilmu keperawatan. Untuk menghindari kesalahan dalam pelaksanaan peran ini maka perawat harus
berpegangan pada prinsip-prinsip etik keperawatan yang meliputi:

Justice:Asas Keadilan
Setiap prioritas tindakan yang diberikan harus berdasarkan kondisi pasien, tidak ada diskriminasi pasien
dan alat.

Autonomy: Asas menghormati otonomi


Setiap manusia mempunyai hak untuk menentukan tindakan terhadap dirinya sendiri.

Benefiency: Asas Manfaat

Setiap tindakan yang diberikan kepada klien harus bermanfaat bagi klien dan menghindarkan dari
kecacatan.
Veracity: Asas Kejujuran
Perawat dalam berkomunikasi harus mengatakan yang benar dan jujur kepada klien.

Confidentiality: Asas Kerahasiaan


Apa yang dilaksanakan oleh perawat harus didasarkan pada tanggung-jawab moral dan profesi.
Education

Perawat harus mempunyai komitmen yang tinggi terhadap profesi dengan jalan terus menerus
menambah ilmu melalui melalui pendidikan formal/nonformal, sampai pada suatu keahlian tertentu.
Pengembangan pelayanan keperawatan yang paling efektif harus didasarkan pada hasil temuantemuan Ilmiah yang dapat diuji kesahihannya