Anda di halaman 1dari 31

V.

TUGAS KHUSUS

A. Soal

Hitung gaya-gaya dalam struktur menggunakan ETABS dan cek atau lakukan
analisis tulangan kolom, apakah sesuai dengan perencanaan lapangan atau
teori.

B. Penyelesaian

1. Pemodelan Menggunakan ETABS


Untuk melakukan analisis struktur pada gedung administrasi ITERA,
dalam laporan ini menggunakan perangkat lunak ETABS Eval versi
13.0.0. Struktur merupakan struktur beton bertulang.
Adapun input yang diperlukan dalam pemodelan adalah :
a. Beban mati (Dead Load)
Beban mati tambahan (MATI) yang bukan merupakan elemen
struktur seperti finishing lantai,dinding, partisisi, dll., dihitung
berdasarkan berat satuan (specific gravity) menurut Tata Cara
Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-17271989-F) sebagai berikut:

103

Tabel 5. Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Konstruksi
Spesi
Beton bertulang
Beton
Dinding pasangan bata batu
Curtain wall kaca + rangka
Cladding metal sheet + rangka
Pasangan batu kali
Finishing lantai (tegel)
Marmer, granit, keramik
Langit-langit + penggantung
Mortar
Tanah, Pasir
Air
Kayu
Baja
Aspal
Instalasi plumbing (ME)

Berat Satuan
21,00 kN
24,00 kN/m3
22,00 kN/m3
2,50 kN/m2
0,60 kN/m2
0,20 kN/m2
22,00 kN/m3
22,00 kN/m3
24 kN/m2
0,20 kN/m2
22,00 kN/m3
17,00 kN/m3
10,00 kN/m3
9,00 kN/m3
78,50 kN/m3
14,00 kN/m3
0,25 kN/m2

Sumber: SNI 03-1727-1989-F) (Dead Load)

Menghitung beban mati pada plat lantai :


Berat spesi tebal 2 cm
Berat keramik tebal 0,5 cm

= 0,02 x 21 = 0,42 kN/m2


= 0,005 x 24 = 0,12 kN/m2

Berat langit-langit + penggantung

= 0,20 kN/m2

Berat instalasi ME

= 0,25 kN/m2

Beban mati lantai

= 0,99 kN/m2

Beban mati pada plat atap dihitung sebagai berikut :


Berat waterproofing dengan aspal tebal 2 cm = 0,02 x 14 = 0,28 kN/m2
Berat langit-langit + penggantung

= 0,20 kN/m2

Berat instalasi ME

= 0,25 kN/m2

Beban mati atap beton

= 0,73 kN/m2

104

Menghitung beban mati pada balok:


= 4,45 x 0.60 = 2,67 kN/m2

Curtain wall kaca + rangka


Pembebanan Tangga
A

1,905
B

C
2,8 + 0,1745

AC =
AC =
= 3,5322 m

Beban mati akibat tangga


Pelat Bordes

= 1,905 x 2,7 x 0,15 x 24

= 18,5166 kN

Pelat anak tangga

= 0,1745 x ,2 x 3,5332 x 24

= 17,7514 kN

Undakan

= 0,1745 x 0,28 x 0,5 x 2,4 x 24 x 22 = 30,9577 kN

Antrede

= 2,4 x 0,1745 x 22

= 9,2136 m2

Optrede

= 2,4 x 0,28 x 22

= 14,7840 m2

Bordes

= 2,7 x 1,905

= 5,1435 m2
Total = 34,1411 m2

Adukan

= 34,1411 x 0,03 x 22

= 22,5331 kN

Keramik

= 34,1411 x 0,24 x 0,005

= 0,0410 kN
Total = 89,7998 kN

Beban mati akibat tangga adalah 89,7998/2,7 = 33,2592kN/m

105

b. Beban hidup (Live load)


Beban hidup (HIDUP) yang bekerja pada lantai bangunan tergantung
dari fungsi ruang yang digunakan. Besarnya beban hidup lantai
bangunan menurut Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk
Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989-F), adalah sebagai berikut :

Tabel 6. Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung


No

Lantai bangunan

Beban hidup

Ruang kantor, ruang kerja, ruang staf

2,50 kN/m2

Hall, coridor, balcony

3,00 kN/m2

Ruang arsip, SDB (Save Depossit Bank)

6,00 kN/m2

Tangga dan bordes

4,00 kN/m2

Atap bangunan

1,00 kN/m2

Sumber: SNI 03-1727-1989-F) (Live Load)

Beban hidup pada lantai di-input ke ETABS sebagai shell/area load


(uniform) yang
didistribusikan secara otomatis ke balok lantai sebagai frame/line
load
Beban Hidup Tangga = 4 x 2,7 x 1,905 = 15,4305 kN/m2
c. Beban gempa (Earthquake)
Beban gempa dapat dihitung berdasarkan Tata Cara Perencanaan
Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002)
dengan tiga metode yaitu cara static ekivalen, cara dinamik dengan
Spectrum Respons Analysis dan cara dinamik dengan Time History
Analysis. Dari hasil analisis ketiga cara tersebut diambil kondisi yang
memberikan nilai gaya/momen terbesar sebagai dasar perencanaan.

106

Dalam analisis struktur terhadap beban gempa, massa bangunan


sangat menentukan besarnya gaya inersia akibat gempa. Dalam
penyelesaian
menggunakan

tugas

khusus

analisis

ini,

dynamis

analisis
yaitu

gempa

dilakukan

menggunakan

metode

Spectrum Respons Analysis.

Tahapan yang perlu dilakukan dalam Spectrum Respons Analysis


pada program ETABS adalah sebagai berikut :
1) Mendefinisikan fungsi Spectrum Respons
Fungsi Spectrum Respons yang digunakan sesuai dengan
(SNI 03-1726-2002) untuk wilayah III

Gambar 82. Mendefinisikan spectrum gempa wilayah III

107

2) Data Spectrum Respons yang di input pada ETABS

Gambar 83. Mendefinisikan respon spectrum wilayah III pada


software ETABS
3) Mendefinisikan kasus pembebanan gempa dinamis
a) Dua kasus yang didefinikan, yaitu arah sumbu global X dan
sumbu global Y
b) Mengisi nama pembebanan sebagai SPECT X/SPECT Y
c) Pada menu Structural and Function damping mengisi nilai
rasio redaman (damping) yang digunakan
d) Pada Modal Combination and Directional Combination pilih
SRSS yang artinya respon struktur akan dikombinasikan
secara akar dari penjumlahan kuadrat respon
e) Pada Input Respon Spectra faktor skala yang digunakan
untuk fungsi percepatan adalah 9,81 m/s2

108

Gambar 84. Mendefinisikan beban gempa arah sumbu global x


f) Menentukan kombinasi pembebanan untuk beban gravitasi
dan gempa dinamis berdasarkan (SNI 03-1726-2002).

Tabel 7. Kombinasi beban gempa


LOAD
DEAD

SUPERDL

SPECT

SPECT

LIVE

COMBINATION
DYN 1

1,2

1,2

0,5

+1

+0,3

DYN 2

1,2

1,2

0,5

+1

-0,3

DYN 3

1,2

1,2

0,5

-1

+0,3

DYN 4

1,2

1,2

0,5

-1

-0,3

DYN 5

1,2

1,2

0,5

+0,3

+1

DYN 6

1,2

1,2

0,5

+0,3

-1

DYN 7

1,2

1,2

0,5

-0,3

+1

DYN 8

1,2

1,2

0,5

-0,3

-1

DYN 9

0,9

0,9

+1

+0,3

109

DYN 10

0,9

0,9

+1

-0,3

DYN 11

0,9

0,9

-1

+0,3

DYN 12

0,9

0,9

-1

-0,3

DYN 13

0,9

0,9

+0,3

+1

DYN 14

0,9

0,9

+0,3

-1

DYN 15

0,9

0,9

-0,3

+1

DYN 16

0,9

0,9

-0,3

-1

2. Hasil Pemodelan
a. Deformasi
Dari hasil analisis menggunakan ETABS, deformasi terbesar terjadi
pada kombinasi DYN 4 (1,2DEAD + 1,2SUPERDL + 0,5 LIVE 1SPECTX -0,3SPECTY). Didapat nilai deformasi terbesar pada label
joint 16 sebesar Ux = -7,522 x 10-3 mm dan Uy = -0,2 mm.

Gambar 85. Deformasi terbesar yang terjadi dalam pemodelan

110

b. Gaya-Gaya Dalam Struktur


Gaya-gaya dalam adalah gaya yang terjadi akibat pembebanan pada
struktur. Dalam laporan ini akan dilakukan analisis terhadap balok,
sehingga gaya dalam yang dipakai adalah gaya momen maksimum
pada balok, terlihat pada table 8.

Tabel 8. Gaya-gaya dalam struktur


Penampang No. Balok Momen Lapangan (kNm) Gaya Tumpuan (kNm)
B91

51,5191

B26

70,4761

B36

69,8641

B92

172,5253

B49

133,2953

B46

246,7926

B6

26,2494

B6

28,9504

350/500

400/500

350/650

250/400

3. Perhitungan Tulangan Balok Atap


Keseluruhan balok atap memiliki penampang yang sama 350/500.
a. Perhitungan tulangan balok pada daerah lapangan
Diambil contoh perhitungan pada balok B91 dengan beban
kombinasi DYNAMIC 1.

111

Gambar 86. Balok B91 Yang Memiliki Momen Lapangan Maksimum

Gambar 87. Momen Lapangan Maksimum Balok B91 Pada Portal G

Data-data yang diketahui :


Fy (mutu baja)

= 400 MPa

fc (mutu beton)

= 30 MPa

b x h (dimensi balok) = 350 mm x 500 mm


Diameter tulangan

= D19

112

Diameter sengkang

= D10

Selimut beton

= 50 mm

= h selimut beton Dsengkang - Dtul.


= 500 50 10 - .19
= 430,5 mm

= 50 + 10 + .19 = 69,5 mm
= 51,5191 x 106 Nmm

<

<

maka dipakai =

= 0,0035

113

As

= .b.d
= 0,0035 x 350 x 430,5
= 527,3625 mm2

Dari hasil perhitungan, jumlah tulangan lapangan yang diperlukan


adalah 2D19.

b. Perhitungan tulangan balok pada daerah tumpuan


Diambil contoh perhitungan pada balok B26 dengan beban
kombinasi DYNAMIC 1

Gambar 88. Balok B26 Yang Memiliki Momen Tumpuan Maksimum

114

Gambar 89. Momen Tumpuan Maksimum Balok B26 Pada Portal C


Data-data yang diketahui :
Fy (mutu baja)

= 400 MPa

fc (mutu beton)

= 30 MPa

b x h (dimensi balok) = 350 mm x 500 mm


Diameter tulangan

= D19

Diameter sengkang

= D10

Selimut beton

= 50 mm

= h selimut beton Dsengkang - Dtul.


= 500 50 10 - .19
= 430,5 mm

= 50 + 10 + .19 = 69,5 mm
= 70,4761 x 106 Nmm

115

= 0,0244
<
As

maka dipakai =

<

= 0,0035

= .b.d
= 0,0035 x 350 x 430,5
=

mm2

Dari hasil perhitungan, jumlah tulangan tumpuan yang diperlukan


adalah adalah 2D19.

116

4. Perhitungan Tulangan Balok Lantai 2


a. Perhitungan tulangan balok lantai 2 dengan penampang 400/500.
1) Perhitungan tulangan balok pada daerah lapangan
Diambil contoh perhitungan pada balok B36 dengan beban
kombinasi DYNAMIC 1

Gambar 90. Balok B36 Yang Memiliki Momen Lapangan Maksimum

Gambar 91. Momen Lapangan Maksimum Balok B36 Pada Portal K

117

Data-data yang diketahui :


Fy (mutu baja)

= 400 MPa

fc (mutu beton)

= 30 MPa

b x h (dimensi balok)

= 400 mm x 500 mm

Diameter tulangan

= D19

Diameter sengkang

= D10

Selimut beton

= 50 mm
= h selimut beton Dsengkang - Dtul.

= 500 50 10 - .19
= 430,5 mm
d

= 50 + 10 + .19 = 69,5 mm
= 69,8641 x 106 Nmm

118

<
As

<

maka dipakai =

= 0,0035

= .b.d
= 0,0035 x 400 x 430,5
= 602,7000 mm2

Dari hasil perhitungan, jumlah tulangan lapangan

yang

diperlukan adalah adalah 3D19.

2) Perhitungan tulangan balok pada daerah tumpuan


Diambil contoh perhitungan pada balok B92 dengan beban
kombinasi DYNAMIC 1

119

Gambar 92. Balok B92 Yang Memiliki Momen Tumpuan Maksimum

Gambar 93. Momen Tumpuan Maksimum Balok B92 Pada Portal K


Data-data yang diketahui :
Fy (mutu baja)

= 400 MPa

fc (mutu beton)

= 30 MPa

b x h (dimensi balok)

= 400 mm x 500 mm

Diameter tulangan

= D19

120

Diameter sengkang

= D10

Selimut beton

= 50 mm
= h selimut beton Dsengkang -Dtul.

= 500 50 10 - .19
= 430,5 mm
d

= 50 + 10 + .19 = 69,5 mm
= 172,5253 x 106 Nmm

= 0,00244

121

<
As

<

maka dipakai =

= 0,0077

= .b.d
= 0,0077 x 400 x 430,5
= 1325,94 mm2

Dari hasil perhitungan, jumlah tulangan

tumpuan

yang

diperlukan adalah 5D19.

b. Perhitungan tulangan balok lantai 2 dengan penampang 350/650.


1) Perhitungan tulangan balok pada daerah lapangan.
Diambil contoh perhitungan pada balok B49 dengan beban
kombinasi DYNAMIC 1

Gambar 94. Balok B49 Yang Memiliki Momen Lapangan Maksimum

122

Gambar 95. Momen Lapangan Maksimum Balok B49 Pada Portal 3


Data-data yang diketahui :
Fy (mutu baja)

= 400 MPa

fc (mutu beton)

= 30 MPa

b x h (dimensi balok)

= 350 mm x 650 mm

Diameter tulangan

= D19

Diameter sengkang

= D10

Selimut beton

= 50 mm

= h selimut beton Dsengkang - Dtul.


= 650 50 10 - .19
= 580,5 mm

= 50 + 10 + .19 = 69,5 mm
= 133,2953 x 106 Nmm

123

<
As

<

maka dipakai =

= 0,0036

= .b.d
= 0,0036 x 350 x 580,5
= 731,4300 mm2

Dari hasil perhitungan, jumlah tulangan lapangan


diperlukan adalah adalah 3D19.

yang

124

2) Perhitungan tulangan balok pada daerah tumpuan


Diambil contoh perhitungan pada balok B46 dengan beban
kombinasi DYNAMIC 1

Gambar 96. Balok B46 Yang Memiliki Momen Tumpuan Maksimum

Gambar 97. Momen Tumpuan Maksimum Balok B46 Pada Portal C

125

Data-data yang diketahui :


Fy (mutu baja)

= 400 MPa

fc (mutu beton)

= 30 MPa

b x h (dimensi balok)

= 350 mm x 650 mm

Diameter tulangan

= D19

Diameter sengkang

= D10

Selimut beton

= 50 mm

= h selimut beton Dsengkang - Dtul.


= 650 50 10 - .19
= 580,5 mm

= 50 + 10 + .19 = 69,5 mm
= 246,7926 x 106 Nmm

126

<
As

<

maka dipakai =

= 0,0069

= .b.d
= 0,0069 x 350 x 580,5
= 1401,9075 mm2

Dari hasil perhitungan, jumlah tulangan

tumpuan

yang

diperlukan adalah 5D19.

c. Perhitungan tulangan balok lantai 2 dengan penampang 250/400


1) Perhitungan tulangan balok pada daerah lapangan
Diambil contoh perhitungan pada balok B6 dengan beban
kombinasi DYNAMIC 1

127

Gambar 98. Balok B6 Yang Memiliki Momen Lapangan Maksimum

Gambar 99. Momen Lapangan Maksimum Balok B6 Pada Portal 8


Data-data yang diketahui :
Fy (mutu baja)

= 400 MPa

fc (mutu beton)

= 30 MPa

b x h (dimensi balok)

= 250 mm x 400 mm

Diameter tulangan

= D19

Diameter sengkang

= D10

128

Selimut beton

= 50 mm

= h selimut beton Dsengkang - Dtul.

= 400 50 10 - .19
= 330,5 mm
d

= 50 + 10 + .19 = 69,5 mm
= 26,2494 x 106 Nmm

<

<

maka dipakai =

= 0,0035

129

As

= .b.d
= 0,0035 x 250 x 330,5
= 289,1875 mm2

Dari hasil perhitungan, jumlah tulangan lapangan

yang

diperlukan adalah 2D19.

2) Perhitungan tulangan balok pada daerah tumpuan


Diambil contoh perhitungan pada balok B6 dengan beban
kombinasi DYNAMIC 1

Gambar 100. Balok B6 Yang Memiliki Momen Tumpuan Maksimum

130

Gambar 101. Momen Tumpuan Maksimum Balok B6 Pada Portal 8


Data-data yang diketahui :
Fy (mutu baja)

= 400 MPa

fc (mutu beton)

= 30 MPa

b x h (dimensi balok)

= 250 mm x 400 mm

Diameter tulangan

= D19

Diameter sengkang

= D10

Selimut beton

= 50 mm

= h selimut beton Dsengkang - Dtul.


= 400 50 10 - .19
= 330,5 mm

= 50 + 10 + .19 = 69,5 mm
= 28,9504 x 106 Nmm

131

<
As

<

maka dipakai =

= 0,0035

= .b.d
= 0,0035 x 250 x 330,5
= 289,1875 mm2

Dari hasil perhitungan, jumlah tulangan


diperlukan adalah 2D19.

tumpuan

yang

132

Tabel 9. Perbandingan Jumlah Tulangan


No

Balok

Lapangan

Analisis

keterangan

1.

B91

3D19

2D19

Aman

2.

B26

3D19

2D19

Aman

3.

B36

4D19

3D19

Aman

4.

B92

6D19

5D19

Aman

5.

B49

5D19

3D19

Aman

6.

B46

5D19

5D19

Aman

7.

B6

2D19

2D19

Aman

8.

B6

2D19

2D19

Aman

Dari hasil perhitungan didapat jumlah tulangan yang lebih sedikit


dari pada yang terpasang dilapangan, hal ini menunjukan bahwa
struktur tersebut aman.