Anda di halaman 1dari 7

http://laporanakhirpraktikum.blogspot.com/2013/06/sa.

html
https://id.scribd.com/doc/225748647/laporan-biokimia-klinis-kreatinin-darah
http://internis.org/obat-obatan-yang-perlu-diwaspadai-pada-penderita-gagal-ginjal

Ginjal merupakan organ berbentuk kacang, dengan ukuran kepalan tangan. Ginjal
berada di dekat bagian tengah punggung, tepat di bawah tulang rusuk, satu di setiap sisi
tulang belakang. Setiap hari, proses ginjal seseorang sekitar 200 liter darah untuk
menyaring sekitar 2 liter produk limbah dan air ekstra. Limbah dan air ekstra menjadi
urin, yang mengalir ke kandung kemih melalui tabung yang disebut ureter. Kandung
kemih menyimpan urin sampai melepaskannya melalui air seni (NIDDK, 2009).
Fungsi ginjal yaitu sebagai sistem penyaringan alami tubuh, melakukan
banyak fungsi penting. Fungsi ini termasuk menghilangkan bahan ampas sisa
metabolisme dari aliran darah, mengatur keseimbangan tingkat air dalam tubuh, dan
menahan pH (tingkat asam-basa) pada cairan tubuh. Kurang lebih 1,5 liter darah dialirkan
melalui ginjal setiap menit. Dalam ginjal, senyawa kimia sisa metabolisme disaring dan
dihilangkan dari tubuh (bersama dengan air berlebihan) sebagai air seni. Penyaringan ini
dilakukan oleh bagian ginjal yang disebut sebagai glomeruli. Selain mengeluarkan
limbah, ginjal merilis tiga hormon penting yaitu erythropoietin atau EPO, yang
merangsang sumsum tulang untuk membuat sel-sel darah merah; renin, yang mengatur
tekanan darah; calcitriol, bentuk aktif vitamin D, yang membantu mempertahankan
kalsium untuk tulang dan untuk keseimbangan kimia yang normal dalam tubuh (NIDDK,
2009).
Adanya kerusakan dapat memengaruhi kemampuan ginjal kita dalam
melakukan tugasnya. Beberapa dapat mengakibatkan penurunan fungsi ginjal secara
cepat (akut); yang lain dapat menyebabkan penurunan yang lebih lamban (kronis).
Keduanya menghasilkan penumpukan bahan ampas yang toksik (racun) dalam darah.
National Kidney Foundation merekomendasikan tiga tes sederhana untuk skrining
penyakit ginjal: tekanan darah pengukuran, cek spot untuk protein atau albumin dalam
urin, dan perhitungan laju filtrasi glomerulus (GFR) berdasarkan pengukuran kreatinin
serum. Mengukur urea nitrogen dalam darah memberikan informasi tambahan (NIDDK,
2009).
Kreatinin merupakan produk penguraian keratin. Kreatin disintesis di hati
dan terdapat dalam hampir semua otot rangka yang berikatan dengan dalam bentuk

kreatin fosfat (creatin phosphate, CP), suatu senyawa penyimpan energi. Dalam sintesis
ATP (adenosine triphosphate) dari ADP (adenosine diphosphate), kreatin fosfat diubah
menjadi kreatin dengan katalisasi enzim kreatin kinase (creatin kinase, CK). Seiring
dengan pemakaian energi, sejumlah kecil diubah secara ireversibel menjadi kreatinin,
yang selanjutnya difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan dalam urin (Riswanto,
2010).
Banyaknya kreatinin yang dikeluarkan seseorang setiap hari lebih bergantung
pada massa otot total daripada aktivitas otot atau tingkat metabolisme protein, walaupun
keduanya juga menimbulkan efek. Pembentukan kreatinin harian umumnya tetap, kecuali
jika terjadi cedera fisik yang berat atau penyakit degeneratif yang menyebabkan
kerusakan masif pada otot (Riswanto, 2010). Ginjal mempertahankan kreatinin darah
dalam kisaran normal. Kreatinin telah ditemukan untuk menjadi indikator yang baik
untuk menguji fungsi ginjal (Siamak, 2009).
Pada orang yang mengalami kerusakan ginjal, tingkat kreatinin dalam darah
akan naik karena clearance/ pembersihan kratinin oleh ginjal rendah. Tingginya kreatinin
memperingatkan kemungkinan malfungsi atau kegagalan ginjal. Ini adalah alasan
memeriksa standar tes darah secara rutin untuk melihat jumlah kreatinin dalam darah. Hal
ini penting untuk mengenali apakah proses menuju ke disfungsi ginjal (gagal ginjal,
azotemia) akut atau kronik. Sebuah ukuran yang lebih tepat dari fungsi ginjal dapat
diestimasi dengan menghitung berapa banyak kreatinin dibersihkan dari tubuh oleh
ginjal, dan ini disebut kreatinin clearance (Siamak, 2009).
Klirens kreatinin adalah laju bersihan kreatinin menggambarkan volume
plasma darah yang dibersihkan dari kreatinin melalui filtrasi ginjal per menit. Bersihan
kreatinin biasanya dinyatakan dalam mililiter per menit. Karena kreatinin dieliminasi
dari tubuh terutama melalui filtrasi ginjal, maka menurunnya kinerja ginjal akan
menyebabkan peningkatan kreatinin serum akibat berkurangnya laju bersihan kreatinin.

Dosis obat perlu diukur berdasarkan fungsi ginjal. Semakin buruk fungsi ginjal, akan
semakin rendah pula dosis yang dibutuhkan, untuk itu pemeriksaan fungsi ginjal amatlah
penting. Pemeriksaan yang biasa digunakan sebagai acuan adalah pemeriksaan

Glomerular Filtration Rate (GFR) atau klirens kreatinin. Angka ini dapat diperoleh
menggunakan data serum kreatinin menggunakan formula Cockroft-Gault:
Klirens kreatinin ={(140 usia) x berat badan bersih(kg) x 0,85(untuk wanita)} /
{Kreatinin serum (umol/L) x 0,0815} (mL/menit)
Kreatinin klirens menggambarkan kesetimbangan antara produksi kreatinin (hasil
metabolisme otot) dengan pengeluarannya oleh ginjal. Ada 2 satuan yang digunakan yaitu
milliliter per menit (mL/mnt) atau milliliter per detik (mL/sec). Pemeriksaan ini
merupakan pemerisksaan yang cukup sederhana dibandingkan pemeriksaan GFR dan
dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan dosis obat berdasarkan kerusakan
fungsi ginjal yang terjadi.
Pemeriksaan kreatinin klirens secara langsung menggunakan pengumpulan urine selama
24 jam dan serum kreatinin. Pemeriksaan ini membutuhkan kerjasama pasien yang baik
untuk menampung seluruh urine selama 24 jam. Karena kesulitan ini, maka secara praktis
digunakan rumus Cockroft-Gault seperti yang tercantum di atas. Namun dibalik
kepraktisannya, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam penggunaan formula
Cockroft-Gault:

Belum divalidasi pada beberapa populasi

Tidak dapat digunakan pada penderita dengan berat badan yang ekstrim
(malnutrisi berat atau obesitas)
Tidak menggambarkan fungsi ginjal sesungguhnya pada kasus gagal ginjal yang
terjadi akut (pada penderita yang dirawat di ICU, gagal ginjal akut)

https://id.scribd.com/doc/76373861/PEMBAHASAN-SGOT-SGPT

http://nillaaprianinaim.wordpress.com/2011/09/28/pemeriksaan-sgptdan-sgot/
http://laporanakhirpraktikum.blogspot.com/2013/06/sa_7186.html

https://id.scribd.com/doc/133090323/SGPT-Adalah-Enzim-YangTerdapat-Pada-Sel-Darah-Merah

Hati adalah organ terbesar di dalam tubuh yang terletak disebelah kanan atas
rongga perut, tepat dibawah diafragma (sekat yang membatasi daerah dada dan perut).
Bentuk hati seperti prisma segitiga dengan sudut siku-sikunya membulat, beratnya sekitar
1,25-1,5 kg dengan berat jenis 1,05. Ukuran hati pada wanita lebih kecil dibandingkan
pria dan semakin kecil pada orang tua, tetapi tidak berarti fungsinya berkurang. Hati
mempunyai kapasitas cadangan yang besar dan kemampuan untuk regenerasi yang besar
pula. Jaringan hati dapat diambil sampai tiga perempat bagian dan sisanya akan tumbuh
kembali sampai ke ukuran dan bentuk yang normal. Jika hati yang rusak hanya sebagian
kecil, belum menimbulkan gangguan yang berarti (Wijayakusuma, 2008).

Kapiler empedu dan kapiler darah di dalam hati saling terpisah oleh deretan selsel hati sehingga darah dan empedu tidak pernah tercampur. Namun, jika hati terkena
infeksi virus seperti hepatitis, sel-sel hati bisa pecah dan akibatnya darah dan empedu
bercampur (Wijayakusuma, 2008).

Hati berfungsi sebagai faktor biokimia utama dalam tubuh, tempat metabolisme
kebanyakan zat antara. Fungsi hati normal harus dikonfirmasi sebelum operasi terencana
(Sabiston, 1992).

Enzim-enzim yang mengatalisis pemindahan reversible satu gugus amino antara suatu
asam amino dan suatu asam alfa-keto disebut aminotransferase, atau transaminase oleh
tata nama lama yang masih populer (Saucher dan McPherson, 2002).
Dua aminotransferase yang paling sering diukur adalah alanine
aminotransferase(ALT), yang dahulu disebut glutamate-piruvat
transaminase (GPT ), dan aspartate aminotransferase (AST), yang dahulu
disebut glutamate-oxaloacetate transaminase (GOT ). Baik ALT maupun AST
memerlukan piridoksal fosfat (Vitamin B6) sebagai kofaktor. Zat ini sering
ditambahkan ke reagen pemeriksaan untuk meningkatkan pengukuran enzimenzim ini seandainya terjadi defisiensi vitamin b6 (missal, hemodialysis,
malnutrisi) (Saucher dan McPherson, 2002).
Aminotransferase tersebar luas di tubuh, tetapi terutama banyak dijumpai
di hati, karena peran penting organ ini dalam sintesis protein dan dalam
menyalurkan asam-asam amino ke jalur jalur biokimiawi lai. Hepatosit pada
dasarnyaa adalah satu-satunya sel dengan konsentrasi ALT yang tinggi,
sedangkan ginjal, jantung, dan otot rangka mengandung kadar sedang. ALT dalam
jumlah yang lebih sedikit dijumpai di pancreas, paru, lima, dan eritrosit. Dengan
demikian, ALT serum memiliki spesifitas yang relative tinggi untuk kerusakan
hati. Sejumlah besar AST terdapat di hati, miokardium, dan otot rangka; eritrosit
juga memiliki AST dalam jumlah sedang. Hepatosit mengandung AST tiga
sampai empat kali lebih banyak daripada ALT (Saucher dan McPherson, 2002).

Aminotransferase merupakan indikator yang baik untuk kerusakan hati


apabila keduanya meningkat. Cedera akut pada hati, seperti karena hepatitis, dapat
menyebabkan peningkatan baik AST maupun ALT menjadi ribuan IU/Liter.
Pngukuran aminotransferase setiap minggu mungkin sangat bermanfaat untuk
memantau perkembangan dan pemulihan hepatitis atau cedera hati lain (Saucher
dan McPherson, 2002).

Pemeriksaan uji fungsi hati merupakan salah satu pemeriksaan kimia klinik yang
seringdiminta oleh para dokter klinisi. Hal ini dikarenakan peran hati sebagai organ tubuh
yang pentingdan penyakit yang merupakan organ pusat metabolism e banyak macamnya.
Karena itu uji fungsihati banyak jenisnya.U j i f u n g s i h a t i s e r i n g d i s e b u t k a n d i
k l i n i k s e b a g a i l i v e r f u n c t i o n t e s t . K e n a p a h a r u s dilakukan uji fungsi hati?
Hati merupakan organ pusat metabolism. Hal ini didukung oleh letak anatomisnya.
Hati menerima pendarahan dari sirkulasi sistemik melalui arteri hepatica
danmenampung aliran darah dari system porta yang mengandung zat makanan
yang diabsorpsi diusus. Karena itu fungsi organ hati penting diketahui dala menilai
kesehatan seseorang.U j i f u n g s i h a t i y a n g d i l a k u k a n d i p r a k t i k u m k a l i i n i
a d a l a h b e r d a s a r k a n p e n g u k u r a n aktivitas enzim. Aktivitas enzim Alanin
Transaminase / SGPT dan enzim Aspartat Transaminase(AST) / SGOT meningkat
bila ada perubahan permeabilitas atau kerusakan dinding sel hati sebagai
penanda gangguan integritas sel hati (hepatoselular).SGOT singkatan dari
Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase,
sebuah enzim yangsecara normal berada di sel hati dan organ lain. SGOT
dikeluarkan kedalam darah ketika hatirusak. Level SGOT darah kemudian
dihubungkan dengan kerusakan sel hati, seperti serangan virus hepatitis. SGOT
juga disebut
aspartate aminotransferase
(AST). Sedangkan SGPT adalahsingkatan dari
Serum Glutamic Piruvic Transaminase,
enzim ini banyak terdapat di hati
.
Dalamuji SGOT dan SGPT, hati dapat dikatakan rusak bila jumlah enzim tersebut dalam
plasma lebih besar dari kadar normalnya.SGPT lebih akurat untuk uji fungsi hati karena
SGPT murni dibentuk dihati, sedangkanSGOT selain dihati ia juga dibentuk di
jantung..Data SGOT dan SGOT dapat menyimpang dari keadaan yang seharusnya bila
darah yangdiperiksa dalam keadaan lisis yaitu serum dan plasma tidak terpisah.
Inilah yang terjadi padadata yang diperoleh dari kelompok kami. Darah dari
pasien AZ dan DN tidak berasal dari satu sumber jari tapi dari berbagai jari
sehingga darah tercampur tidak merata dan menggumpal padasaat akan disentrifugasi
dan setelah disentrifugasi pun ternyata darah benar-benar mengalamilisis,

yaitu tidak terdapat bagian bening (serum) yang dapat diambil untuk
dicampur denganreagen dan diukur.