Anda di halaman 1dari 17

KURIKULUM 2013:

Pembelajaran Berlangsung Di Rumah, Di Sekolah,


Dan Di Masyarakat
Nama Kelompok:
ANDRONIKUS WP. SIMAMORA (F1061131069)
MOEHAMMAD SHELVIANO AUDITYO (F1061131033)

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


Dra. ENY ENAWATY, M.Si

Pembelajaran Berlangsung Di
Rumah
Pengertian Cara Belajar Di Rumah
Sebelum peneliti membahas tentang pengertian cara belajar di rumah terlebih
dahulu dibahas apa yang dimaksud dengan belajar? Dalam penguraian tentang
belajar peneliti mengutip pendapat beberapa ahli. Menurut Ngalim Purwanto
(1990:85) bahwa belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana
perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang baik tetapi juga ada
kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. Sedangkan
menurut Morgan dalam buku Educational in Psicologi (1978) yang dikutip oleh
Ngalim Purwanto dalam bukunya yang berjudul psikologi pendidikan (1990:84)
mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam
tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.

Cara belajar atau teknik belajar adalah cara menerima dengan


mengelola ilmu dalam proses belajar (2002:35). Selain itu, menurut
Oemar Hamalik (1980:94) menyebutkan bahwa cara belajar adalah
kegiatan-kegiatan belajar yang dilakukan dalam mempelajari sesuatu.
Dari kedua pendapat ahli di atas maka peneliti dapat merumuskan
bahwa cara belajar merupakan suatu cara atau teknik yang diakukan
untuk lebih memudahkan menyerap atau menerima ilmu yang diolah
pada proses belajar.

Jadi, cara belajar di rumah adalah suatu cara atau teknik belajar yang
dilakukan oleh siswa di rumah atau tempat tinggalnya untuk
memudahkan dalam penguasaan atau penyerapan materi pembelajaran
yang dipelajari oleh siswa tersebut. Cara belajar di rumah merupakan
suatu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah.
Selain cara belajar di rumah, kebiasaan belajar dan kelengkapan
fasilitas belajar juga sama pentingnya untuk dapat meraih prestasi yang
baik.

Untuk meningkatkan pemahaman seorang anak pada materi pelajaran,


belajar di rumah merupakan salah satu solusi yang dapat dicoba selain
memberikan bimbingan belajar (bimbel), les atau kursus kepada anak.
Karena itu agar waktu belajar di rumah bisa berjalan efektif, beberapa
hal yang dapat dilakukan adalah:
1. Memotivasi anak untuk membaca dengan membelikan buku
kesukaannya, membaca bersama atau membuatkannya kartu
perpustakaan. Dari sini diharapkan anak tidak "alergi" untuk membaca
buku yang terkait dengan pelajaran.
2. Jauhkan anak-anak dari siaran TV dan game-game elektronik karena
hal ini akan membuat mereka menjadi pasif, malas untuk melakukan
sesuatu dan bahkan mungkin malas untuk bergaul dengan teman sebaya.
Buatlah jadwal kapan mereka bisa menonton atau bermain game,
langkah ini dimaksudkan juga untuk melatih disiplin.

3. Mendukung hobi, minat dan bakat anak dengan menyediakan


berbagai perangkat yang dibutuhkan. Misal nya jika anak tertarik
Bahasa Inggris, permainan Scrabble menjadi satu pilihan yang tepat,
atau pensil dan krayon jika mereka hobi menggambar.
4. Kembangkan daya pikir dan konsentrasi anak dalam setiap
pekerjaan. Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan permainan puzzle
atau membuat mobil rakitan dari kayu yang banyak dijuak di pasaran.
5. Hal lain yang dapat dilakukan adalah membantu dan mengarahkan
PR mereka sehingga Anda bisa mengetahui materi apa saja yang
diberikan di sekolah. Selain itu menjalin komunikasi dengan pihak
sekolah dirasakan perlu untuk melihat kemajuan anak.

Kebiasaan belajar mandiri di rumah sangatlah penting bagi


siswa. Kebiasaan belajar dapat mempengaruhi cara belajar
siswa di rumah. Dalam melakukan kegiatan belajar di rumah
diharapkan siswa dapat belajar secara teratur dan fokus. Cara
belajar di rumah bisa dilakukan dan perlu adanya kebiasaan
dalam belajar yang didukung fasilitas belajar dan jadwal
belajar.

Pembelajaran Berlangsung Di Sekolah

BELAJAR AFEKTIF
Belajar afektif merupakan sebuah model belajar yang
digunakan oleh guru yang penekanannya berada pada partisipasi
atau keaktifan siswa didalam kelas.
Ada beberapa model belajar mengajar afektif yang
dikemukakan oleh beberapa ahli, seperti berikut:

1. Model konsiderasi
Manusia sering kali bersifat egois, lebih memntingkan diri sendiri,
apatis, dan sibuk mengurusi diri sendiri. Dengan adanya model
pembelajaran konsidersi ini siswa didorong untuk lebih peduli,
lebih memperhatikan orang lain, sehingga mereka dapat bergaul,
bekerja sama, dan hidup secara harmonis dengan orang lain.
Langkah-langkah pembelajaran konsiderasi, antara lain:
a. Menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung
konsiderasi.
b. Meminta siswa menganalisis situasi untuk menemukan
isyarat- isyarat yang tersembunyi berkenaan dengan perasaan,
kebutuhan dan kepentingan orang lain.
c. Siswa menuliskan responnya masing-masing.
d. Siswa menganalisis respon siswa lain.
e.
Mengajak siswa melihat konsekuensi dari tiap tindakannya.
f.
Meminta siswa menentukan pilihannya sendiri.

2. Model pembentukan rasional


Model pembentukan rasional yaitu model pembelajaran yang
menekankan kesadaran siswa pada nilai-nilai yang terkandung
dalam kehidupan. Model pembentukan rasional ini juga bertujuan
untuk mengembangkan kematangan berpikir pada siswa tentang
nilai-nilai moral.
Langkah-langkah model pembelajaran pembentukan rasional:
a. Mengidentifikasi situasi dimana ada ketidakserasian atau
penyimpangan tindakan.
b. Menghimpun informasi tambahan.
c.
Menganalisis situasi dengan berpegang teguh pada normanorma yang berlaku.
d. Mengambil tindakan dengan mempertimbangkan akibat
yang ditimbulkannya.

Pembelajaran Berlangsung Di Masyarakat

Salah satu upaya yang diperkirakan dapat meningkatkan minat


siswa pada pelajaran adalah dengan memanfaatkan lingkungan
sebagai sumber belajar. Lingkungan sekitar data mencakup
lingkungan alam dan pengalaman di lingkungan sekitar siswa
sehari-hari. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar adalah
metode dimana guru mengajak siswa belajar di luar kelas untuk
melihat peristiwa langsung di lapangan dengan tujuan untuk
mengakrabkan siswa dengan lingkungannya. Melalui metode ini,
lingkungan diluar sekolah dapat digunakan sebagai sumber belajar.
Peran guru adalah sebagai motivator, artinya guru sebagai pemandu
agar siswa belajar secara aktif, kreatif dan akrab dengan
lingkungan.

Menurut Djalil dkk (2005), ada beberapa hal yang perlu anda
pertimbangan dalam menentukan lingkungan sekitar sebagai sumber
belajar, yaitu:
a. Sumber tersebut mudah dijangkau (kemudahan)
b. Tidak memerlukan biaya tinggi (kemurahan)
c. Tempat tersebut cukup aman digunakan sebagai sumber belajar
(keamanan)
d. Berkaitan dengan materi yang diajarkan di sekolah (kesesuaian)

Djalil dkk (2005) membuat beberapa langkah dalam menentukan


lingkungan sebagai sumber belajar sebagai berikut:
a. Topik dan materi pembelajaran erat sekali kaitannya dengan
lingkungan
b. Lingkungan yang dipilih merupakan salah satu sumber yang paling
mungkin dapat digunakan untuk memperkaya materi
c. Sumber tersebut paling sesuai dengan sekolah anda dilihat dari
kemudahan, kemurahan, keamanan dan kesesuaian dengan materi.
d. Sumber dari buku dirasakan kurang atau tidak ada contohnya dan
sulit diterapkan pada pembelajaran dengan pendekatan PKR.

Masyarakat Sebagai Sumber Belajar


Sekolah bukanlah merupakan bagian terpisa dari masyarakat, tetap
merupakan bagian integral dari masyarakat. Dalam pelaksanaan
PKR kemitraan antar guru dan antar guru dengan masyarakat,
sangatlah penting, lebih-lebih guru yang bertugas di SD yang
sumber belajarnya di sekolah sangat terbatas. Sekolah dan guru
seharusnya tidak terisolasi atau mengisolasikan diri dari
masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu iklim kerjasama perlu
dibangun dan dipelihara. Kemitraan atau kerjasama sekolah dan
masyarakat disekitar sekolah perlu dirancang dan diprogramkan
dengan baik. Dengan demikian segala sumber belajar yang ada di
luar sekolah dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam
pembelajaran.

Masyarakat yang dimaksud dalam hal ini adalah individu sebagai


personal yang merupakan bagian dari masyarakat. Misalnya tokoh
masyarakat dan para ahli, seperti peran ulama, pengrajin, petani,
seniman, pakar, aparat pemerintah, lingkungan hidup dan sebagainya.
Mereka dapat bertindak sebagai narasumber untuk informasi tertentu.
Sekali waktu seorang polisi dapat diundang ke sekolah untuk
memberikan materi-materi tentang tertib berlalulintas, atau seorang
keagamaan, atau suatu waktu siswa diajak mengunjungi puskesmas
untuk melihat dan mengamati aktivitas di sana. Kunjungan ke pameran
karya sastra, museum, cagar alam, kebun binatang dan lingkungan lain
sangat membantu siswa dalam belajar mandiri.

Djalil dkk (2005) menjelaskan beberapa hal yang harus


dipertimbangkan dalam memanfaatkan nara sumber yaitu:
a. Materi atau informasi yang dapat diperoleh dari nara
sumber, tidak dikuasai oleh guru, dan
b. Narasumber tersebut tepat, artinya yang dijadikan
narasumber harus orang yang benar-benar memiliki informasi
tersebut.

TERIMA KASIH

17