Anda di halaman 1dari 2

LOWRY

protein dalam bahan pangan dapat ditentukan kadarnya dengan menggunakan spektrofotometer sinar
tampak. Protein merupakan kumpulan dari beberapa asam amino yang dihubungkan dengan ikatan
peptida antara satu asam amino dengan asam amino lainnya. Adanya ikatan peptida ini akan
menyebabkan sampel yang mengandung protein akan berwarna biru bila ditambahkan
Cu2+ kedalamnya. Warna biru juga dihasilkan akibat terjadinya redukti asam fosfomolibdat dan asam
fosfotungstat oleh tirosin dan triptofan yang merupakan residu protein. Asam fosfotungstat,
fospomolibdat dan Cu2+ terdapat pada reagen folin-ciocalteu yang ditambahkan pada sejumlah tertentu
sampel.
Pada metode lowry ini, Cu2+ pada suasana basa akan tereduksi menjadi Cu+. Cu+ kemudian akan
mereduksi reagen Folin-Ciocalteu, kompleks phosphomolibdat phosphotungstat,
menghasilkanheteropoly-molybdenum blue akibat reaksi oksidasi gugus aromatik (rantai samping asam
amino) terkatalis Cu, yang menghasilkan warna biru.
Warna biru yang di hasilkan bergantung pada kandungan residu tryptophan dan tyrosine-nya. Sehingga
pengukuran kadar sampel dapat dilakukan dengan pengukuran absorbansi sampel pada panjang
gelombang maksimal pada panjang gelombang 670nm. Metode ini sangat sensitif pada kadar protein
yang kecil, limit deteksinya kurang lebih 2 ppm.
Sampel bakso dilarutkan dalam sejumlah tertentu aquades, dan disaring. Filtratnya merupakan larutan
yang mengandung protein. Sampel ini diperlakukan sama dengan sampel dan dilakukan pengukuran
absorbansi sampel pada panjang gelombang 670nm menggunakan spektrofotometer visible.
Dari pengukuran deret standar protein yang diperoleh dari standar albumin terhadap 7 standar yang
dibuat, didapat kurva kalibrasi dengan persamaan y = 0,1x 0,0044. Sedangkan serapan sampel bakso
pada panjang gelombang 670nm sebesar 0,058. Sehingga didapatkan kadar protein sampel
sebesar1248 ppm. Kadar tersebut dikalikan dengan pengenceran (2000x) sehingga diperoleh kadar
protein sampel bakso mengunakan metode lowry pada kadar kering bakso sebesar 0,51%.
Jika dibandingkan dengan metode Kjeldahl, kadar protein yang diukur melalui dua metode tersebut
memberikan hasil yang berbeda. Metode lowry memberikan hasil 5 kali lebih kecil dibandingkan metode
kjeldahl. Ini disebabkan karena kelarutan bakso yang sangat kecil dalam air. Seharusnya bakso dilarutkan
terlebih dahulu sampai benar benar larut dalam air kemudian di reaksikan dengan metode lowry.

BORHARD
Kadar protein dalam sampel hayati dapat ditentukan dengan metode spektrofotometri, baik
menggunakan sinar uv maupun dengan sinar tampak setelah penambahan pereaksi pewarna yang
intensitas warna yang dibentuknya sebanding dengan kadar protein. Salah satu pewarnaan yang praktis
dan sensitif adalah metode Bradford dibandingkan cara lainnya seperti metode Biuret atau Lowry.
Larutan yang mengandung 5-100 mg protein dapat ditentukan dengan metode lowry. Warna yang
timbul, disebabkan oleh reduksi fosfomolibdat-fosfowolframat oleh tirosin yang ada dalam protein.
Reagen Bradford dibuat dari campuran 100 mg Coomassie Blue G250 yang dilarutan dalam 50 mL etanol
95%. Larutan ini kemudian dicampur dengan 100 mL asam fosfat 85%, diencerkan hingga 1 L dengan

akuades. Reagen kemudian disaring dengan kertas whatman No. 1 sebelum disimpan pada suhu kamar.
Reagen ini stabil untuk beberapa minggu, meskipun akan terjaadi pengendapan (Bradford 1976).
Metode Bradford adalah salah satu metode dalam penentuan kadar protein suatu bahan. Prinsip kerja
dari metode Bradford didasarkan pada pengikatan secara langsung zat warna Coomassie Brilliant Blue
G250 (CBBG) oleh protein yang mengandung residu asam amino dengan rantai samping aromatik
(Tyrosine, tryptophan, dan phenylalanine) atau bersifat basa (Arginine, Histidine, dan Leucin). Reagen
CBBG bebas berwarna merah-kecoklatan (lmaks 465 nm), sedangkan dalam suasana asam reagen CBBG
akan berada dalam bentuk anion yang akan mengikat protein membentuk warna biru (lmaks 595 nm).
Jumlah CCBG yang terikat pada protein proporsional dengan muatan positif yang ditemukan pada
protein (Bradford 1976).
Metode Bradford memerlukan pereaksi NaCl dan BovineSerum Albumine (BSA). Masing-masing pereaksi
memiliki spesifikasi fungsi dalam menetukan kadar protein bahan. NaCl adalah sejenis garam yang
berfungsi untuk membantu pengikatan zat warna CBBG oleh protein. BSA adalah larutan standar yang
mengandung protein (Dennison 2002).

bakteri Bacillus
subtilis dan Bacillus
sp. dalam kaldu

1% pati tapioca

ditimbang 0.01 g
coomasie brilian
blue (CBB) G250

5 ml etanol 95%

Disentrifugasi dengan
kecepatan
10.000 rpm selama 10
menit pada suhu 4C

HASIL

10 ml asam fosfor
85% (

Residu

Filtrat