Anda di halaman 1dari 31

BAB II

PEMBAHASAN

II.1

Profil Perusahaan PT.Semen Tonasa


Berdasarkan keputusan MPRS No. II/MPRS/1960 tanggal 5 Desember 1960,

ditetapkan untuk mendirikan pabrik semen di Sulawesi Selatan yang berlokasi di Desa
Tonasa, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, sekitar 54 km sebelah utara Makassar.
Pabrik Semen Tonasa Unit I merupakan proyek di bawah Departemen Perindustrian dan
merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Cekoslowakia
yang dimulai sejak tahun 1960 dan diresmikan pada 2 November 1968. Pabrik ini
menggunakan proses basah dengan kapasitas terpasang 110.000 ton semen/tahun. Pada
tahun 1984 pabrik Semen Tonasa Unit I dihentikan pengoperasiannya karena dianggap
tidak ekonomis lagi.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 54 tahun 1971 tanggal 8
September 1971, Pabrik Semen Tonasa ditetapkan sebagai Badan Usaha Milik Negara yang
berbentuk Perusahaan Umum (Perum). Kemudian, dengan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No. 1 tahun 1975 tanggal 9 Januari 1975 bentuk Perum tersebut diubah menjadi
Perusahaan Perseroan (Persero). Dalam rangka memenuhi kebutuhan semen yang semakin
meningkat,

berdasarkan

persetujuan

Bappenas

No.

032/XC-LC/B.V/76

dan

No.

2854/D.1/IX/76 tanggal 2 September 1976 dibangun pabrik Semen Tonasa Unit II.
Pabrik yang merupakan hasil kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah
Kanada ini beroperasi pada 1980 dengan kapasitas 510.000 ton semen/tahun dan
dioptimalisasi menjadi 590.000 ton semen/tahun pada 1991. Pabrik Semen Tonasa Unit II
terletak di Desa Biringere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, yang berjarak sekitar
23 km dari Pabrik Semen Tonasa Unit I. Pada tahun 1982, berdasarkan persetujuan Bappenas
No. 32 XC-LC/B.V/1981 dan No. 2177/WK/10/1981 tanggal 30 Oktober 1981 dilakukan
perluasan dengan membangun Pabrik Semen Tonasa Unit III yang berada di lokasi yang sama
dengan Pabrik Unit II.
Pabrik yang berkapasitas 590.000 ton semen / tahun ini merupakan kerjasama
antara Pemerintah Indonesia dengan Jerman Barat, Pabrik selesai pada akhir tahun 1984
dan

diresmikan

oleh

Presiden

Soeharto

pada

April

1985.

Berdasarkan Surat Menteri Muda Perindustrian No. 182/MPP-IX/1990 tanggal 2 Oktober


1990 dan Surat Menteri Keuangan RI No. S1549/MK.013/1990 tanggal 29 November 1990,
dlakukan perluasan dengan membangun Pabrik Semen Tonasa Unit IV yang berkapasitas
2.300.000 ton semen/tahun. Pabrik berlokasi dekat Tonasa Unit II dan Unit III.
Pemegang Saham
PT Semen Gresik (Persero) Tbk. : 99,9998%
Koperasi Karyawan Semen Tonasa : 0,0002%
Status
Perusahaan Negara : 8 September 1971
PT (Persero) : 9 Januari 1975
Konsolidasi dengan PT Semen Gresik : 15 September 1995
Produk
Semen Portland Tipe I
Semen Portlland Jenis I adalah semen hidrolis yang dibuat dengan
menggiling klinker semen dan gypsum. Semen Portland Jenis I produksi PT
Semen Tonasa memenuhi persyaratan SNI No. 15-2049-2004 Jenis I dan
ASTM C150-2004 tipe l. Semen jenis ini digunakan untuk bangunan umum
dengan kekuatan tekanan yang tinggi (tidak memerlukan persyaratan
khusus), seperti: bangunan bertingkat tinggi, perumahan, jembatan dan jalan
raya, landasan bandar udara, beton pratekan, bendungan saluran irigasi,
elemen bangunan seperti genteng, hollow, brick/batako, paving block, buis
beton, roster, dan lain-lain.
Semen Portland Komposit
Semen Portland Komposit adalah bahan pengikat hidrolis hasil penggilingan
bersama-sama terak Semen Portland dan gipsum dengan satu atau lebih
bahan anorganik, atau hasil pencampuran bubuk Semen Portland dengan
bubuk bahan anorganik lain. Semen Portland Komposit produksi PT Semen
Tonasa memenuhi persyaratan SNI 15-7064-2004. Kegunaan semen jenis ini

adalah: konstruksi beton umum, pasangan batu dan batu bata, plesteran dan
acian, selokan, jalan, pagar dinding, pembuatan elemen bangunan khusus
seperti beton pracetak, beton pratekan, panel beton, bata beton (paving block)
dan sebagainya.
Semen Portland Pozzolan
Semen Portland Pozzolan adalah semen hidrolis yang terdiri dari campuran
homogen antara semen Portland dan Pozzoland halus, yang diproduksi
dengan menggiling klinker semen Portland dan Pozolan bersama-sama atau
mencampur secara rata bubuk semen Portland dan Pozzoland atau gabungan
antara menggiling dan mencampur, dimana kadar pozzoland 15 s.d 40%
massa Semen Portland Pozzoland. Semen Portland Pozzolan produksi PT
Semen Tonasa memenuhi persyaratan SNI 15-0302-2004 type IP-U.
Kegunaan: bangunan bertingkat (2-3 lantai), konstruksi beton umum,
konstruksi beton massa seperti pondasi plat penuh dan bendungan/dam,
konstruksi bangunan di daerah pantai, tanah berair (rawa) dan bangunan di
lingkungan garam sulfat yang agresif, serta konstruksi bangunan yang
memerlukan kekedapan tinggi seperti bangunan sanitasi, bangunan perairan,
dan penampungan air.
Kapasitas Terpasang
3.480.000 ton semen/tahun
Kantor Pusat/Pabrik
Biringere-Pangkep-Sulawesi Selatan 90651,
Telp. (0410) 312345 (hunting), Fax. (0410) 310006, 310008
Kantor Penghubung Makassar
JI. Khairil Anwar No. 1 - Makassar - 90113, Phone. (0411) 321823, Fax.
(0411) 311973
Kantor Perwakilan Jakarta
Graha Irama Lt. 11 - JI. H.R. Rasuna Said Kav. 1- 2 - Kuningan - Jakarta 12950 Telp. (021) 5261161- 4, Fax. (021) 5161160

Sistem Manajemen Semen Tonasa


Dalam upaya menuju tercapainya visi dan misi perusahaan, Perseroan menerapkan
sistem manajemen terpadu dan terintegrasi yang mencakup Sistem Manajemen Mutu ISO
9001, Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001 dan Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja yang disebut dengan "Sistem Manajemen Semen Tonasa.
Sistem Manajemen Mutu
Memberikan jaminan mutu dan kepuasan kepada pelanggan merupakan komitmen
manajemen dalam memasuki era persaingan global. Upaya yang dilakukan untuk memenuhi
komitmen tersebut adalah dengan memberikan mutu produk sesuai permintan pelanggan,
penyerahan produk yang tepat waktu dan harga bersaing. Upaya tersebut diwujudkan dengan
penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9002 sejak tahun 1996 dan selanjutnya diupgrade
dengan Sistem Manajemen Mutu baru ISO 90001 : 2000 pada tahun 2002.
Manajemen Keselamatan Kerja & Kesehatan Kerja
Perseroan menyadari bahwa tenaga kerja merupakan bagian dari stakeholders yang
tidak dapat dipisahkan keberadaannya dalam suatu perusahaan. Mengingat pentingnya peran
tenaga kerja dalam kelangsungan usaha, maka kondisi keselamatan karyawan harus dijamin.
Hal ini sudah menjadi komitmen manajemen Perseroan untuk menciptakan lingkungan kerja
yang aman, sehat, sejahtera bebas dari kecelakaan dan pencemaran lingkungan serta penyakit
akibat kerja. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, sejak tahun 2000 Perseroan telah
menerapkan sistem manajemen keselamatan kerja. Penerapan sistem manajemen ini
merupakan bagian dari penerapan sistem manajemen Perseroan secara keseluruhan.
Keberhasilan penerapan sistem manajemen keselamatan kerja ini diwujudkan melalui
pemberian sertifikat audit dari Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia dengan
predikat tertinggi "Bendera Emas" sejak Januari 2004.
Komitmen manajemen Perseroan adalah "Menjadi produsen semen yang ramah
lingkungan" yang diwujudkan melalui pemenuhan persyaratan peraturan yang berlaku;
meminimasi dampak negatif dari proses dan produk yang dihasilkan; pelaksanaan program
efisiensi pemakaian sumber daya alam dan energi; melaksanakan kegiatan konservasi Iahan
bekas tambang; serta membina hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar dan

pemerintah daerah. Keberhasilan ini dibuktikan dengan diperolehnya penghargaan dari


pemerintah pada program "PROPER" dengan predikat baik "BIRU".
Visi
Menjad i perusahaan persemenan terkemuka di Asia dengan tingkat efisiensi tinggi
Misi
1. Meningkatkan nilai perusahaan sesuai keinginan stakeholders.
2. Memproduksi semen untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan kualitas dan
harga bersaing serta penyerahan tepat waktu.
3. Menggunakan teknologi yang lebih efisien, aman dan ramah lingkungan.
4. Membangun lingkungan kerja yang mampu membangkitkan motivasi karyawan untuk
bekerja secara profesional
II.2 Bahan Peledak
Pengertian Bahan Peledak

Bahan peledak adalah suatu bahan kimia senyawa tunggal atau campuran berbentuk
padat, cair, gas atau campurannya yang apabila dikenai suatu aksi panas, benturan,
gesekan atau ledakan awal akan mengalami suatu reaksi kimia eksotermis sangat
cepat yang hasil reaksinya sebagian atau seluruhnya berbentuk gas dan disertai panas
dan tekanan sangat tinggi yang secara kimia lebih stabil.

Hasil ledakan: (Langefors, 1978)

P = 100.000 atm 101.500 kg/cm2 10.000 Mpa

T = 4000 C

Daya (energi) = 25.000 MW = 25 x 106 kW = 5.950.000 kcal /s


kcal /s)

Bandingkan, Steel barrel:

Kekuatan sampai dengan 5.000 atm 500 MPa

(1 kW = 0,238

Titik leleh = 1.500 C

Titik didih = 3.000 C

Energi Gelatin explosive dalam 1 m kolom lub.ledak:

Power = 1.200 kcal/kg/m ; kecep. detonasi = 4.000 m/s


Didalam lubang ledak =

1200

kcal
m
x 4000
48 x 105 kcal/s
m
s

Pembakaran ( Combustion )

Reaksi permukaan yang eksotermis dan dijaga keberlangsungannya oleh panas yang
dihasilkan dari reaksi itu sendiri dan produknya berupa pelepasan gas-gas.

Contoh:

Kriteria:

CH3(CH2)10CH3 + 18 O2 12 CO2 + 13 H2O

Melibatkan reaksi kimia

Okdigen tersedia berlebih di udara bebas

Motor bakar (bensin atau solar): tidak perlu tangki oksigen

Metoda pemadaman kebakaran: isolasi benda terbakar dari oksigen

Ledakan ( Explosion )

Ekspansi seketika yang cepat dari gas menjadi bervolume lebih besar dari sebelumnya
diiringi suara keras dan efek mekanis yang merusak.

Contoh:
Tangki bertekanan meledak
Balon karet meletus

Kriteria:
Tidak melibatkan reaksi kimia

Transfer energi ke gerakan massa (efek mekanis)


Disertai panas dan bunyi

Detonasi

Adalah proses kimia-fisika yang mempunyai kecepatan reaksi sangat tinggi, sehingga
menghasilkan gas dan temperature sangat besar yang semuanya membangun ekspansi
gaya yang sangat besar pula. Kecepatan reaksi yang sangat cepat dan diawali dengan
panas tersebut menghasilkan gelombang tekanan kejut (shock compression wave) dan
membebaskan energi dengan mempertahankan shock wave serta berakhir dengan
ekspansi hasil reaksinya.

Contoh:
TNT meledak
ANFO meledak
NG meledak
NG + AN meledak

: C 7H5N3O6 1,75 CO2 + 2,5 H2O + 1,5 N2 + 5,25 C


: 3 NH4NO3 + CH2

CO2 + 7 H2O + 3 N2

: C 3H5N3O9 3 CO2 + 2,5 H2O + 1,5 N2 + 0,25 O2


: 2 C3H5N3O9 + NH4NO3 6 CO2 + 7 H2O + 4 N4 + O2

Pada PT. SEMEN TONASA PERSERO jenis bahan peledak yang di gunakan adalah
bahan peledak jenis ANFO ( NH4NO3 ) Amonium Nitrat Fuel Oil.
ANFO ( NH4NO3 ) Amonium Nitrat Fuel Oil. adalah jenis bahan peledak dengan
spesifikasi seperti berikut :

Densitas : - butiran berpori 0,74 0,78 gr/cc (untuk agen peledakan)


- butiran tak berpori 0,93 gr/cc (untuk pupuk urea)

Porositas:

- mikroporositas 15%

- makro plus mikroporositas 54%


- butiran tak berpori mempunyai porositas 0 2%

Ukuran partikel : yang baik untuk agen peledakan antara 1 2 mm

Tingkat kelarutan terhadap air bervariasi tergantung temperatur, yaitu:


- 5 C tingkat kelarutan 57,5% (berat)
- 10 C tingkat kelarutan 60% (berat)
- 20 C tingkat kelarutan 65,4% (berat)
- 30 C tingkat kelarutan 70% (berat)
- 40 C tingkat kelarutan 74% (berat)

( Gambar ammonium nitrat NH4NO3 )


SIFAT-SIFAT ANFO ( NH4NO3 ) Amonium Nitrat Fuel Oil
Densitas:

Poured (gr/cc)

0,80 0,85

Blow Loaded (gr/cc) 0,85 0,95


Energi (MJ/kg):

3,7

RWS (%)

100 (373 kj/gr)

RBS:
Poured (%)

100 (317 kj/cc)

Blow Loaded (%)

116

Diameter lubang ledak min.:


Poured (mm)

75

Blow Loaded (mm)

25

Ketahanan terhadap. Air

:buruk

Shelf Life:
Maks. 6 bulan tergantung temperatur dan kelembaban gudang
Gudang yang bersuhu dan kelembaban tinggi akan mengakibatkan ANFO
rusak, ditandai dengan pengerasan atau caking yg akan mengurangi kinerja
peledakan
Waktu Tidur (Sleep Time) :
Dalam kondisi normal kering dengan lubang tertutup stemming yang baik,
ANFO dapat ditidurkan sampai 6 bulan
Kehadiran air dalam lubang akan menurunkan secara dramatis waktu tidur
PEMBUATAN ANFO ( NH4NO3 ) Amonium Nitrat Fuel Oil

Campuran AN (ammonium nitrat) dan FO (solar) sebesar 94,3% AN dan 5,7% FO


akan menghasilkan zero oxygen balanced dengan energi panas sekitar 3800 joules/gr
handak

Campuran yang tidak sempurna akan menghasilkan energi ledak rendah dan gas

beracun (noxious gasses)


Overfueled dengan 92% AN dan 8% FO akan menurunkan energi 6% dan

menghasilkan gas CO yang berbahaya


Under fueled dengan 96% AN dan 4% FO menurunkan energi 18% dan menghasilkan

gas NO2
Ukuran partikel AN antara 1 2 mm

O x y g e n B a la n c e
3 8 0 0 jo u le s o f h e a t / g r e x p l.
100
90

ENERGI PER KG (RWS), %

80
70
60
50
d e f ic ie n t F O excess O xygen

40
30

excess FO d e f ic ie n t O x y g e n

20
10
0
0

10

F U E L O IL , % (b e r a t)

KEBUTUHAN FO UNTUK MEMBUAT ANFO

Spesifikasi jenis bahan peledak yang digunakan di tambang quarry PT. Semen
Tonasa sebagai berikut :
Superdyne adalah salah satu jenis bahan peledak yang di
produksi oleh Gulf oil Corporation, merupakan salah satu
jenis bahan peledak yang cocok digunakan pada lubang
bor dengan ukuran diameter 32 mm 110 mm. Daya ledak
yang
Gbr 2 Superdyne Gulf Oil

tinggi

dan

kecepatan

rambat

yang

tinggi

Mengakibatkan hasil peledakan yang sempurna. Sangat


cocok untuk membuat pecahan batu menjadi kepingan
yang baik dan untuk membuat penggalian bawah tanah .
Dengan bahan yang terbuat dari gel yang
menyerupai agar agar membuat superdyne dapat
disimpan untuk waktu yang lama tanpa mengurangi daya
ledaknya.

Specifications

Type

Aluminised Slurry

Sensitivity

Cap-sensitive
(sensitive to No. 6 strength
detonator and 10 gms /
meter detonating cord)

Density

1.18 - 1.25 grams / cubic


centimeter

VOD

3800 - 4600 meters /


second
(unconfined)

Gbr 3
Tabel spesifiksi
Superdyne Gulf
Oil

Jenis jenis
bahan peledak
hasil produksi
Gulf Oil
Corporation :

Gambar 4. Jenis jenis bahan peledak hasil produksi gulf oil corporation

Cartridge Diameter

CartridgeWeight

Cartridge Type

25 mm

125 and140 gms

Plastic film clipped at both


ends, Blow Moulded Tube
with cap and Paper tubes

32 mm

200 gms

Plastic film clipped at both


ends, Blow Moulded Tube
with cap and Paper tubes

40 mm

300 and 715 gms

Plastic film clipped at both


ends, Blow Moulded Tube
with cap and Paper tubes

50 mm

1000 gms

Plastic film clipped at both


ends, Blow Moulded Tube
with cap

63 mm

1.5625 kg

Plastic film clipped at both


ends

83 mm

2.5 kg

Plastic film clipped at both


ends

100 mm

3.125 kg

Plastic film clipped at both


ends

Peringatan
1. Jauhkan dari api atau percikan api
2. Jangan mengubah komposisi dari Superdyne
3. Jangan digunakan pada saat cuaca jelek ( terjadi Kilat )

Penggolongan Menurut Undang Undang


Petroleum & Explosives Safety Organization (PESO),

Class 2

Government of India
Class

Division

1.1

Group

U.N Number

0241

Page Number

1120

Stowage Category

II Type B

II.3 Gudang Bahan Peledak

Secara umum aturan yang membahas mengenai gudang bahan peledak masuk dalam
surat keputusan menteri pertambangan dan energy nomor 555.K/26/M.PE/1995 tanggal 22
mei 1995 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum.
Aturan aturan tersebut tertuang dalam beberapa pasal antara lain :

Bagian Pertama : ( Gudang Bahan Peledak )


1. Pasal 52 ( Izin Gudang Bahan Peledak )
2. Pasal 53 ( Ketentuan Umum Gudang Bahan Peledak )
3.

Pasal 54 ( Pengamanan Gudang Bahan Peledak )

Bagian Kedua : ( Persyaratan Gudang bahan Peledak di Permukaan Tanah )


1. Pasal 55 ( Pengaturan Ruangan Gudang di permukaan Tanah )
2. Pasal 56 ( Gudang Bahan Peledak sementara )
3. Pasal 57 ( Gudang transit )
4. Pasal 58 ( Gudang Utama )
5. Pasal 59 ( Jarak Aman )
Bagian Ketiga : ( Persyaratan Gudang bahan Peledak di Bawah Tanah )
1. Pasal 60 (Konstruksi dan Lokasi Gudang di Bawah Tanah )
2. Pasal 61 ( Pengaturan Ruangan Gudang di Bawah Tanah )

Bagian Keempat : ( Tata Cara Penyimpanan Bahan Peledak )


1. Pasal 62 ( Persyaratan Umum )
2. Pasal 63 ( Petugas Gudang dan Pengamatan Bahan Peledak )
3. Pasal 64 ( Buku Catatan Bahan Peledak )

4. Pasal 65 ( Penerimaan dan Pengeluaran Bahan Peledak )


5. Pasal 66 ( Penyimpanan bahan Peledak peka Detonator )
6. Pasal 67 ( Penyimpanan bahan Peledak Peka Primer )
7. Pasal 68 ( Penyimpanan Bahan Ramuan Bahan Peledak )
8. Pasal 69 ( Penyimpanan Detonator )
9. Pasal 70 ( Penyimpanan Dibawah tanah )
10. Pasal 71 ( Pemeriksaan Gudang )
Berhubungan dengan kegiatan ekskursi mata kuliah teknik peledakan pada tambang
quarry PT. Semen Tonasa PERSERO, Kebupaten Pangkep Propinsi Sulawesi Selatan,
Mengenai gudang bahan peledak yang menerapkan system gudang bahan peledak utama
maka, perlu dibahas secara terperinci mengenai gudang bahan peledak utama.

Gudang Utama Terdiri dari :


A. Gudang Penyimpanan : Bahan peledak mempunyai beberapa persyaratan yang
tertuang dalam pasal 56 ayat 1 huruf a yaitu gudang harus berbentuk bangunan
dan kapasitas tidak lebih dari 150.000 kilogram , beberapa spesifikasi lainnya antara
lain :
1. Dibuat dari bahan yang tidak mudah terbakar

2. Dibuat dengan atap seringan mungkin


3. Dibuat dengan dinding yang pejal
4. Dilengkapi dengan lubang ventilasi pada bagian atas dan bawah
5. Mempunyai hanya satu pintu
6. Dilengkapi dengan alat penangkal petir dengan resistan pembumian lebih dari 5
ohm
7. Bebas Kebakaran dari radius 30 meter
8. Lantai gudang terbuat dari bahan yang tidak menimbulkan percikan bunga api
9. Tidak boleh ada besi yang tersingkap sampaai 3 meter dari lantai.
B. Gudang Bahan Peledak : Selain harus memenuhi pasal 56 ayat 1 huruf a seperti
diatas gudang bahan peledak mempunyai kapasitas tidak lebih dari 500.000 kilogram.
C. Gudang Bahan Ramuan Bahan Peledak : Untuk gudang berbentuk bangunan
harus memenuhi persyaratan sebagai mana dalam pasal 56 ayat 1 huruf a butir 3 yaitu
dibuat dengan dinding yang pejal dan mempunyai kapasitas tidak lebih dari 500.000
kilogram, sedangkan gudang yang berbentuk ttangki harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut :

Tangki tidak boleh terbuat dari bahan tembaga, timah hitam, seng atau besi galvanisir.

Pada bagian atas harus tersedia bukaan sebagai lubang pemeriksaan dan harus tersedia
tempat khusus bagi operator untuk melakukan pemeriksaan.

Pipa pengeluaran harus terletak pada bagian bawah dan pada bagian atas harus
tersedia katup untuk pengeluaran tekanan udara yang berlebihhan.

Untuk gudang berbentuk kontener harus memenuhi persyaratan sebagai mana


dimaksud dalam pasal 56 ayat 1 kecuali huruf b butir 3 yaitu dilapisi dengan kayu pada
bagian dalamnya.
Khusus pada tambang quarry PT. Semen Tonasa, Kabupaten Pangkep Propinsi
Sulawesi Selatan, mereka menerapkan system penerimaan dan pengeluaran bahan
peledak setiap 6 ( enam ) bulan sekali begitu juga dengan surat izin peledakannya.
II.4 Alat Bantu Peledakan
Sebelum melakukan suatu peledakan kita membutuhkan beberapa ( Komponen ),
yang disebut Alat bantu peledakan yang secara umum terbagi menjadi 4 (empat ) yaitu :

Detonator ( Penggalak awal )


-

Detonator Biasa ( Plain detonator )

Detonator Listrik ( Electric Detonator )

Detonator Khusus : Dirancang khusus untuk seismic dan peledakan


dibawah permukaan air.

Keuntungan menggunakan detonator listrik dibanding dengan detonator biasa ;


-

Jumlah lubang ledak yang dapat diledakkan sekaligus relative lebih


banyak.

Pola peledakan lebih leluasa

Hasil peledakan lebih leluasa

Penanganan lebih mudah dan praktis.

Kerugian menggunakan detonator listrik dibandingkan dengan detonator biasa :


-

Untuk daerah peledakan yang banyak kilat, kurang aman

Pengaruh gelombang radio dapat mempengaruhi peledakan

Membutuhkan perlengkapan tambahan, seperti sumber arus listrik dan


alat pengetes lainnya.

Nonel

Sumbu Bakar

Kabel Pembantu dan Kabel Utama


Kabel Pembantu : - Untuk menghubungkan antara 2 leg wire dalam rangkaian seri
- Menyambung leg wire yang terlalu pendek.

Kabel pembantu yang baik : Isolasi yang tahan goresan dan tahan listrik lebih dari 6,5 0hm
per 100 meter.
Kabel Utama ( Led Wire ) : Berfungsi untuk menghubungkan kedua ujung rangkaian
peledak ke sumbu arus. Dengan menggunakan kabel ini dibuat jarak yang cukup aman dari
pemegang eksploder ke daerah peledakan.
Khusus pada tambang quarry PT. Semen Tonasa, Kabupaten Pangkep Propinsi
Sulawesi Selatan,

Alat bantu peledakan khususnya detonator mereka memakai

detonator listrik.
Hal hal yang perlu diperhatikan pada saat menggunakan detonator listrik yaitu :
1. Selalu mengetest detonator listrik sbelum pemakaian.

2. Periksa lebih dulu keadaan isolasi atau leg wire.


3. Selalu memakai detonator yang panjang leg wirenya lebih panjang dari kedalaman lubang
ledak.
4. Pada waktu memasukkan kedalam lubang ledak jaga agar leg wire tidak rusak.
5. Kedua ujung leg wire sebelumnya disambungkan ke kabel pembantu harus tetap bersatu.
6. Hindari dari benturan yang keras
7. Hindari dari suhu yang panas

Gambar 5. Detonator listrik ohm meter

II.5 Prosedur Peledakan

Prosedur peledakan pada tambang quarry PT Semen Tonasa persero adalah sebagai
berikut :
1. Pengamanan Selama Persiapan
Pengamanan ini lebih ditujukan kepada orang atau karyawan yang mendekati atau
melewati daerah peledakan, seta alat alat yang berada didekat lokasi peledakan ditempatkan pada
posisi yang aman. Peledakan pada PT Semen Tonasa dilakukan hampir setiap hari dan dilakukan
pada sekitar Pukul 12.00 13.00 WITA atau dikondisikan. Setiap bahan peledak yang telah keluar
dari gudang harus diledakkan hari itu juga kecuali kondisi atau cuaca tidak memungkinkan ( ada
petir ).

Untuk pengamanan bahan peledak setelah bahan sampai dilapangan maka secepatnya bahan
peledak tersebut langsung dibagi-bagikan ke dekat lubang yang telah disiapkan, sesuai dengan
kebutuhan jumlah masing-masing lubang. Demikian juga dengan detonator listrik dan
primer/dinamit.
2. Pembuatan Primer
Primer berfungsi untuk menghentakkan (shock) ANFO atau blasting agant lainnya.
Sedangkan primer itu sendiri dihentakkan (dishock) dengan detonator atau sumbu ledak. Primer
ada yang sdah dibuat atau langsung dari prabrik, tetapi dapat dibuat sendiri dari dinamit. Ukuran
atau berat dari dinamit yang diperlukan disesuaikan dengan diameter dan dalamnya lubang ledak.
Untuk diameter lubang ledak yang kecil ( 3 cm ), primer dapat dibuat dari atau 1/3 dodol
dinamit, dengan berat satu dodol 200 gram, sedangkan untuk ukuran yang besar ( 10 cm ), primer
dapat dibuat dari 3 atau 6 dodol yang disatukan. Dalam hal ini detonator atau sumbu ledak hanya
dimasukkan ke salah satu dari dodol dinamit.
Dalam pembuatan primer baik dengan detenator atau dengan sumbu, hal-hal seperti dibawah
ini harus diperhatikan.
-

Detenator atau sumbu ledak harus benar-benar masuk dalam dinamit, artinya detenator atau
sumbu bersentuhan dengan dinamit.

Detenator atau sumbu ledak harus terikat dengan dinamit sedemikian rupa sehingga tidak
mudah lepas.

Adapun prosesnya adalah sebagai berikut :


1. Pembuatan Primer dengan Detenator Listrik
-

Detenator harus masuk dan bersentuhan dengan isi dodol dinamit.

Pengikat dapat dilakukan dengan leg wirenya sendiri.


Sebelum detenator atau sumbu ledak dimasukan ke dalam dinamit maka harus terlebih
dahulu diperiksa keadaannya.Karena menggunakan detenator listrik maka detenator ditest
dengan blasting ohm meter. Pada waktu pengetesan detenator dimasukkan ke dalam lubang
ledak yang masih kosong. Setelah ditest kedua ujung leg wirenya harus diikat kembali satu
sama lain.
2. Penempatan Primer
Penempatan primer terdiri dari dua cara yaitu :

- Collar Priming adalah penempatan primer dibagian atas atau ujung dari lubang tembak
- Bottom Priming adalah penempatan primer dibagian bawah atau ujung dalam dari lubang
tembak.
.

Prim
emer

Stemmin
g

Stemming
Bahan peledak

Bahan
peledak

Primer

Gambar 6. collar priming dan bottom priming

Pemasangan primer pada peledakan tambang quarry PT. Semen Tonasa menggunakan collar
priming yaitu primer terletak diatas.
3. Pengisian lubang ledak
prosedur pengisian lubang peledak adalah sebagai berikut :
-

Pemeriksaan lubang peledak. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan pantulan sinar dari
sepotong cermin atau tongkat kayu yang cukup panjang.

Pada PT Semen Tonasa Persero lubang peledakan dilapisi dengan plastik, hal ini
dilakukan untuk mencegah masuknya bahan peledak ke sela-sela lubang batuan.

Pengisian bahan peledak paling banyak 2/3 dari tinggi lubang ledak. Karena lubang ledak
yang ada memiliki kedalaman 6,5 m maka bahan peledak yang sebanyal 4,5 m.

Pada waktu memasukkan primer ke dalam lubang harus berhati-hati sehingga detenator
atau sumbu tidak terlepas dari dalam dinamit, serta sumbu atau leg wirenya tidak terluka.

Hindari pemakaian leg wire yang terlalu pendek, namun kalau terpaksa sambungansambungan harus diisolasi dengan baik.

Dilarang memadatkan primer (tapping).

Diameter primer harus lebih kecil dari diameter lubang ledak. Bila waktu memasukkan
primer agak susah turunnya kedalam lubang maka dapat dibantu/didorong dengan tongkat kayu
dengan perlahan-lahan.

Stelah primer telah sampai benar-benar didasar lubang maka bahan peledak dapat
diamsukkan. Bila memakai bahan peledak ANFO maka dilarang memadatkannya sehingga berat
jenisnya bertambah.

Dilarang memakai bahan peledak yang sudah rusak.

4. Stemming.
Syarat syarat stemming yang baik yaitu :
-

Bahan stemming, dari tanah liat atau pasir halus.

Jangan memakai bahan-bahan kertas bekas pembungkus bahan peledakan atau daundaunan.

Steaming harus dibuat cukup padat, untuk itu perlu dipadatkan (di-tapping) dengan
tongkat kayu.

Stemming yang baik akan mengurangi suara ledakan.

Stemming yang digunakan pada daerah pengamatan berasal dari cutting hasil pemboran dengan
ketebalan pengisian sekitar 2 m dari total kedalaman lubang yaitu 6,5 m.
5. Penyambungan Rangkaian.
Prosedur enyambungan rangkaian pada peledakan yang menggunakan detenator listrik adalah
- Sambungan leg wire dengan kabel pembantu harus lebih baik dan kuat.
-

Penyambungan rangkaian antar semua lubang ledak harus dilaksanakan secepatnya dan
ujung rangkaian diikat satu sama lain. Sebelum dihubungkan dengan kabel utama.

Rangkaian harus dibuat lebih rapih dan efektif. Hindari kabel agar tidak kusut dan
terlipat.

- Sebelum rangkaian antar ledak disambung dengan kabel utama, maka tahanan listrik dan
kesinambungan arus dari rangkaian harus ditest dengan Blasting Ohm Meter. Tahanan listrik

rangkaian harus sesuai dengan perhitungan teoritis, namun dengan toleransi 10% dapat
dianggap baik.
- Secara terpisah kebel utama juga harus ditest sama seperti di atas.
6. Perlindungan Untuk Pemegang Ekspoder/Blasting Machine
Sebelum peledakan maka perlu diperhatikan tempat berlindung yang aman dengan
memperhatikan :
- Harus dipertimbangkan arah dan jarak lemparan/layangan batu dengan

mengambil posisi

yang berlawanan.
-

Periksa keadaan sekeliling tempat berlindung, khususnya bila ada bongkahan-bongkahan


batuan lepas yang berukuran besar disekitarnya.

Bila keadaan lapangan sedemikian rupa sehingga tidak ada tempat berlindung yang
cukup aman maka perlindungan khusus untuk itu dapat dibuat (sheleter).

Pada peledakan di PT Semen Tonasa pemegang mesin berlindung dibalik alat berat hal ini untuk
keamanan dan keselamatan.
7.Tanda peringatan sebelum peledakan.
-

Sebelum dilakukan peledakan maka orang-orang disekitar daerah pengaruh gas dan
lemparan batu peledakan harus diberi aba-aba peringatan agar berlindung atau menyingkir.
Demikian juga halnya dengan perlatan, sebelumnya sudah harus diamankan/disingkirkan.

Aba-aba yang digunakan berupa sirine dan hanya berbunyi sekali.

Tenggang waktu antara aba-aba peringatan dengan saat peledakan harus cukup untuk
memberi kesempatan kepada orang-orang untuk berlindung.

Sebaiknya aba-aba dilakukan dalam beberpa tahap dan tiap tahap mempunyai arti
tersendiri dan dimengerti setiap orang khususnya pemegang eksploder.

Bila di dekat lapangan peledakan terdapat jalan lalu lintas utama tambang maka jalan
tersebut harus ditutup atau diblokir.

Sebelum aba-aba yang terakhir maka mandor lapangan atau pengawas ledakan harus
memriksa daerah dan sekitar peledakan.

Kondensator di dalam eksploder sedang diisi dengan arus kabel listrik dari baterainya.

Kabel utama telah disambung dengan exploder.


Bila tejadi penundaan peledakan, karena sesuatu hal yang masih aman, maka komunikasinya

dapat dibuat aba-aba khusus.


8. Proses Meledaknya Bahan Peledak

Pada bahan peledak yang digunakan untuk maksud memecahkan batuan (industri
pertambangan) proses pecahnya batuan secara garis besar dapat diterangkan sebagai berikut. Pada saat
bahan peledak (tertanam di batuan) meledak, tekanan yang sangat tinggi (dapat mencapai 50.0004.000.000 psi) menghancurkan batuan di daerah sekitar lubang ledak. Gelombang kejut akan
merambat dengan cepat (3.000-5.000 meter/detik) meninggalkan lubang ledak akan menimbulkan
rekahan menjari yang menjalar dari daerah lubang ledak.
Perambatan gelombang kejut ini apabila mencapai bidang bebas (permukaan batuan yang
berhubungan dengan atmosfir), tekanan akan turun dengan cepat dan berubah menjadi gelombang
tarik. Gelombang tarik ini merambat kembali ke dalam batuan. Oleh karena batuan mempunyai
ketahanan terhadap tarikan lebih kecil dibanding terhadap gaya tekan, maka hancurlah batuan
tersebut. Artinya bahwa gelombang kejut (daya hentak) yang ditimbulkan oleh bahan peledak
konvensional tersebut akan mengalami pelemahan ketika bertemu dengan bidang bebas (atmosfir).
Artinya bahwa gelombang kejut dari peledakan bom tersebut menjalar melalui atmosfir (blast).
Dengan demikian dapat dibayangkan luar biasa besarnya daya ledak bom tersebut, karena daya
hentaknya dapat menjalar dengan cepat melalui udara dan akhirnya meluluh lantakkan bangunan dan
manusia yang merupakan bukan bidang bebas.
Berarti bahwa bom tersebut mengandalkan daya rusak dari tekanan ledakan yang
menghasilkan hentakan udara (blast) yang merambat dengan cepat melalui atmosfir. Tekanan dan
panas yang sangat tinggi menjalar dengan cepat menyapu dan membakar semua yang dilewati. Efek
yang ditimbulkan adalah menggetarkan dan membakar dengan sangat cepat benda-benda (apalagi
manusia) yang dilaluinya. Ditambah lagi keadaan daerah sekitar kejadian banyak terdapat tangki
bahan bakar dalam kendaraan dan juga tabung-tabung gas, ini semakin menambah efek bakar yang
ditimbulkan luar biasa dahsatnya.
9. Pemeriksaan / Pengamanan Setelah Peledakan
Setelah seperempat jam ledakan terakhir maka dilakukan pemeriksaan terhadap gas gas
beracun dan peledakan mangkir.Tanda-tanda lubang ledak yang mangkir
1. Permukaan tanah di atas lubang ledak masih utuh.
2. Terdapat bongkahan-bongkahan besar yang tidak lazim dan tidak seperti bongkahan lubang
ledak yang lain.
3. Terdapat serakan bahan peledak yang masih utuh di permukaan atau di sela-sela bongkahan.
Penanganan untuk lubang ledak yang mangkir pada PT Semen Tonasa adalah adalah dilakukan
peledakan ulang dan harus dilakukan pada hari itu juga sebab jika dibiarkan dapat membahayakan
jiwa.

II. 6 Pola Pemboran dan Pola Peledakan


II.6.1 Pola Pemboran
Berdasarkan klasifikasi diatas maka pola pemboran yang digunakan pada daerah pengamatan
yaitu square pattern dengan jarak spasi yaitu ; 2,5 m dan burden 2,5 m.. Jumlah lubang bor yang
akan diledakkan yaitu sekitar 120 lubang dengan kedalaman lubang bor sekitar 2 rod batang bor yaitu
6,5 m Alat bor yang digunakan jenis Furukawa HCR 1500, seperti yang ditunjukkan gambat
dibawah ini :

Gambar 7. Mesin bor yang digunakan yaitu Furukawa HRC 1500

II.6.2 Pola Peledakan


Pola peledakan merupakan urutan waktu peledakan antara lubang-lubang bor dalam
satu baris dengan lubang bor pada baris berikutnya, ataupun antara lubang bor yang satu
dengan lubang bor yang lainnya. Pola peledakan ini ditentukan berdasarkan urutan waktu
peledakan serta arah runtuhan material yang diharapkan.
Berdasarkan arah runtuhan batuan, pola peledakan diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Box Cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke depan dan
membentuk kotak.

2. Corner cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke salah satu sudut
dari bidang bebasnya.
3. V cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya kedepan dan membentuk
huruf V.
Berdasarkan urutan waktu peledakan, pola peledakan diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Pola peledakan serentak, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan secara serentak
untuk semua lubang ledak.
2. Pola peledakan beruntun, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan dengan waktu
tunda antara baris yang satu dengan baris lainnya.
Pola peledakan yang digunakan pada PT Semen Tonasa yaitu pola peledakan beruntun
dengan waktu tunda antara baris satu dengan yang lainnya sekitar 25 ms. Adanya pola
peledakan beruntun ini akibat penggunaan delay detenator dari 0 9 delay . Berdasarkan arah
runtuhannya maka peledakan yang dilakukan digolongkan kedalam boxcut yaitu arah
lemparan kedepan dan membentuk kotak. Arah lemparan berbentuk boxcut ini ditumbulkan
oleh susunan delay detenator yang digunakan tiap lubang.

2.7 Desain Peledakan


Operasi pemboran dimulai penentuan letak lubang bor harus dievaluasi dengan hati
hati untuk mendapatkan hasil optimum dari bahan peledak yang dipilih. faktor faktor yang
perlu diperhatikan dalam desain peledakan adalah :
-

Diameter lubang bor

Ketinggian jenjang

Burden dan spacing

Struktur batuan

Fragmentasi

Kestabilan jenjang

Tipe bahan peledak yang digunakan

Geometri peledakan pada salah satu tambang quarry PT Semen Tonasa adalah :

1.

Tinggi jenjang 6 m

Diameter lubang bor 4 inch atau 10,16 cm

Spacing 2,5 m

Burden 2,5 m

Kedalaman lubang bor 6,5 m

Panjang isian bahan peledak 4,5 m

Steaming 2 m
Diameter Lubang Bor
Pemilihan diameter lubang bor tergantung pada tingkat produksi yang diinginkan.

Dengan lubang bor yang lebih besar maka lebih besar pula tingkat produksi yang
dihasilkan.pemilihan lubang bor secara tepat aadalah penting untuk memperoleh hasil
fragmentasi secara maksimal dengan biaya rendah. m. Untuk kontrol desaindengan hasil
fragmentasi yang bagus , menurut pengalaman maka diameter lubang bor harus berkisar
antara 0,5 % - 1 % dari tinggi jenjang. Tinggi jenjang pada quarri adalah 6 m, maka
secara matematis diameter lubang bor harus berkisar antara 5 cm 10 cm. Hasil
perhitungan ini sesuai dengan data yang diambil dimana diameter lubang bor peledakan
yang digunakan pada quarry PT Semen Tonasa yaitu 4 inch atau sekitar 10,16 cm.

Diameter lubang bor mempunyai hubungan dengan tinggi jenjang dimana jika
tinggi jenjang rendah dipakai diameter lubang kecil dan sebaliknya jika tinggi jenjang
tinggi maka dipakai diameter lubang bor yang besar. Hubungan antara tinggi jenjang
dengan diameter lubang bor yaitu :
K = (0,1 0,2) d

K = Tinggi jenjang (m)


d = diameter lubang bor (mm)

Berdasarkan hubungan diatas maka seharusnya tinggi jenjang antara 10 m sampai 20 m,


sedangkan berdasarkan data yang diambil tinggi jenjang cuma 6 m. Jadi berdasarkan hal
ini maka diameter lubang bor tidak sesuai dengan ketinggian jenjang yang ada.

Gambar 8 grafik hubungan diameter lubang bor dengan tinggi jenjang

2.

Burden
Burden adalah jarak tegak lurus antara lubang ledak terhadap bidang bebas
terdekat dan merupakan arah pemindahan batuan (displacement) akan terjadi.Jika burden
terlalu kecil memungkinkan terjadinya fly rock, air blast dan fragmentasi batuan yang
dihasilkan relatif tidak seragam, sedangkan burden yang terlalu besar maka akan terjadi
backbreak dan kerusakan pada dinding jenjang. Secara umum jarak burden optimum
ditentukan dengan :
B= 25 40 d
Maka berdasarkan rumus diatas, jarak burden berkisar antara 2,5 m 4 m. Jika
dibandingkan dengan data yang diperoleh ternyata jarak burden yang digunakan yaitu 2,5
m telah sesuai rumus yang ada.

3.

Spasi
Spasi adalah jarak terdekat antara dua lubang ledak yang berdekatan di dalam satu
baris (row). Apabila jarak spasi terlalu kecil akan menyebabkan batuan hancur menjadi
halus, disebabkan karena energi yang menekan terlalu kuat, dan menimbulkaan efek
ledakan berupa noise (kebisingan) dan flyrocks.
Sedangkan bila spasi terlalu besar akan menyebabkan banyak bongkah atau bahkan
batuan hanya mengalami keretakan dan menimbulkan tonjolan diantara dua lubang ledak
setelah diledakkan. Secara optimum spacing ditentukan dengan rumus :

S= 1,1 1,8 B
Berdasarkan rumus diatas dengan jarak burden 2,5 m maka jarak spasi berkisar antara
2,75 m 4,5 m. Kenyataan yang dijumpai dilapangan jarak spasi yang digunakan hanya
2,5 m artinya tidak sesuai dengan ketentuan rumus. Jarak spasi yang lebih kecil dari jarak
yang seharusnya dapat mengakibatkan peledakan tidak efisien dimana banyak dijumpai
batuan yang berukuran halus dan pemborosan biaya.
4.

Steaming
Stemming adalah tempat material penutup di dalam lubang ledak, yang letaknya di
atas kolom isian bahan peledak.
Fungsi stemming adalah agar terjadi keseimbangan tekanan dan mengurung gas-gas hasil
ledakan sehingga dapat menekan batuan dengan energi yang maksimal dan juga berfungsi
untuk mencegah agar tidak terjadi batuan terbang (flyrock) dan ledakan tekanan udara
(airblast) saat peledakan.
S = (0,7 1) B
Berdasarkan rumus diatas maka panjang steaming berkisar antara 1,75 m 2,5 m.
Kenyataan yang dijumpai dilapangan besarnya steaming yang digunakan yaitu 2 m yang
artinya telah sesuai dengan perhitungan secara matematis.

5. Arah Pemboran
Secara umum arah pemboran terdiri dari dua jenis yaitu :
-

Pemboran miring

Pemboran vertikal

Pemboran miring biasanya untuk mengurangi back reak. pemboran miring mempunyai
banyak keuntungan bila dibandingkan dengan pemboran tegak antara lain :
-

Mengurangi biaya pemboran dan komsumsi bahan peledak karena memiliki


burden besar.

Akan diperoleh jenjang yang stabil

Hasil tumpukan lebih bagus

Mengurangi timbulnya resiko tonjokan dan back break.

Gambar pemboran tegak dan pemboran miring

Pemboran yang digunakan pada salah satu tambang quarry PT Semen Tonasa yaitu
pemboran tegak, dengan alasan pemboran miring memiliki resiko yang besar.
II.8 Sistem Rangkaian Peledakan
Secara umum terdapat 4 tipe/ cara melakukan penyambungan detonator listrik, yaitu
dirangkai secara :
Seri
Paralel
Paralel Seri
Seri Paralel
Tetapi Pada Perusahaan Tambang quarry PT . Semen Tonasasistem rangkaian yang digunakan
adalah rangkaian seri paralel seperti penjelasan dibawah ini :

Rangkaian seri paralel

Dalam hubungan seri paralel masing-masing sambungan seri digabungkan lagi dengan
hubungan paralel dengan sambungan seri yang lain, seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Tipe hubungan ini sering digunakan bila jumlah total detonator listrik yang akan diledakkan
melebihi 50. Tiap-tiap
ohm.

seri sebaiknya terbatas hanya 40 detonator atau maksimum resistor 100

Gambar 9 rangkaian seri paralel