Anda di halaman 1dari 44

Pemeriksaan Radiologi dengan Media Kontras yang Digunakan

Media kontras merupakan suatu bahan atau media yang dimasukkan ke dalam tubuh
pasien untuk membantu menegakkan diagnosa dalam pemeriksaan radiografi,
sehingga media yang dimasukkan tampak lebih radioopaque atau lebih radiolucent
pada organ tubuh yang diperiksa.
Ada 2 jenis media kontras, yaitu media kontras negatif (-) dan media kontras positif
(+). Pemeriksaan radiologi yang menggunakan media kontras, sebagai berikut:
A. Radiologi Anak
1. Pemeriksaan Colon In Loop (Barium Enema) Pediatrik
a. Pengertian
Pemeriksaan Colon In Loop Pediatrik adalah teknik pemeriksaan secara radiologis
dari Colon dengan menggunakan media kontras secara retrograde pada pasien
pediatrik (anak-anak).
b. Tujuan Pemeriksaan
1)
Untuk mendapatkan gambaran anatomis dari colon sehingga dapat membantu
menegakkan diagnosa suatu penyakit atau kelainan pada colon.
c.
Indikasi Pemeriksaan
1) Colitis: penyakit-penyakit inflamasi (pembengkakan) pada colon.
2) Carsinoma: tumor
3)
Diverticulum: kantong yang menonjol pada dinding colon, terdiri daro lapisan
mukosa dan muskularis mukosa.
4) Polyps: penonjolan pada selaput lendir.
5) Volvulus: penyumbatan isi usus karena terbelitnya usus ke bagian yang lain.
6)
Invagination: melipatnya bagian usus besar ke bagian usus itu sendiri
7)
Intussusception
8) Atresia ani: Tidak adanya saluran dari colon yang seharusnya ada.
9) Stenosis: Penyempitan saluran usus besar.
10) Mega colon: suatu kelainan konginetal yang terjdi karena tidak adanya sel
ganglion di flexus mientrik dan submukosa pada segmen colon distal menyebabkan
feses siulit melewati segmen gangloinik.

d. Kontra indikasi
1) Perforasi
2) Obstruksi
3) Diare berat
e. Persiapan Alat dan Bahan
1) Untuk Anak-Anak >1 Tahun
a) Kantung enema sekali pakai diisi dengan BaSO4
b) Tabung
c) Penjepit
d) Air hangat digunakan untuk melarutakan BaSO
e)
Beberapa di antaranya, kateter didesign agar tidak dapat keluar rectum setelah
disisipkan, sehingga tidak bocor.
2) Untuk Bayi dan Anak-Anak
Menggunakan kateter silicon 10 french dan sebuah spuit 60 ml, barium diinjeksi
secara manual dan perlahan.

3) Untuk semua pasien


a) Jelly
b) Hypoallergenic tape
c) Handscoen
d) Tissue
f.
Persiapan Pasien
1)
Pasien beserta orang tuanya harus masuk ke dalam ruang pemeriksaan,
kemudian dijelaskan bagaimana prosedur pemeriksaan kepada pasien beserta orang
tuanya.
2) Tanyakan riwayat penyakit pasien.
3) Untuk bayi sampai 2 tahun tidak ada persiapan khusus.
4) Untuk anak-anak 2-10 tahun memerlukan persiapan khusus, yaitu:
a)
Pada malam hari sebelum pemeriksaan hanya makan makanan yang rendah
serat.
b)
Malam sebelum pemeriksaan minum 1 tablet bisacodyl atau laxative atau
sejenisnya.
c)
Jika setelah diberi laxative tidak menunjukkan pengeluaran yang cukup, maka
dilakukan enema pedi fleet (urus-urus) atas petunjuk dokter.
g. Teknik Pemasukan Media Kontras
Pemeriksaan Colon In Loop pada bayi dan anak-anak biasanya hanya menggunakan
metode kontras tunggal yang menggunakan BaSO sebagai media kontrasnya.
h. Proyeksi Pemeriksaan
1) Foto Pendahuluan AP
a)
Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan dengan MSP tubuh berada
tepat pada gasri tengah kaset.
b)
Kedua tangan diletakkan di atas kepala pasien dan diberi pengganjal untuk
fiksasi.
c) Kedua kaki diluruskan ke bawah dan diberi pengganjal juga.
d) Batas atasnya Processus Xyphoideus dan batas bawahnya Symphisis Pubis.
e)
CP berada pada pertengahan kedua Crista Illiaca dengan CRnya vertikal tegak
lurus dengan kaset
2) Foto AP dengan kontras
a)
Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan dengan MSP tubuh berada
tepat pada garis tengah kaset.
b)
Kedua tangan diletakkan di atas kepala pasien dan kedua kaki lurus ke bawah
dengan pegang di pegang oleh orang tuanya yang menggunakan apron
c) Batas atasnya processus xypoideus dan batas bawah adalah symphisis pubis.
d)
CP pada petengahan kedua crista illiaca dengan arah sinar vertikal tegak lurus
dengan kaset
e) Eksposi dilakukan pada saat ekspirasi penuh dan tahan nafas
3) Foto Lateral dengan Kontras
a)
Pasien diposisikan lateral/tidur miring dengan MCP diatur pada pertengahan
kaset dan vertikal terhadap garis tengah kaset.
b)
Genu sedikit fleksi dengan kedua ujung kaki dan tangan dipegang oleh orang
tuanya yang terlebih dahulu diberi apron agar pasien tidak bergerak.
c) CRnya tegak lurus terhadap film dengan CP berada pada MCP setinggi SIAS.
4) Foto AP Post Evakuasi
a)
Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan dengan MSP tubuh berada
tepat pada gasri tengah kaset.
b)
Kedua tangan diletakkan di atas kepala pasien dan diberi pengganjal untuk

fiksasi.
c) Kedua kaki diluruskan ke bawah dan diberi pengganjal juga.
d) Batas atasnya Processus Xyphoideus dan batas bawahnya Symphisis Pubis.
e)
CP berada pada pertengahan kedua Crista Illiaca dengan CRnya vertikal tegal
lurus dengan kaset.
f)
FFD: 100 cm
2. Pemeriksaan Intra Venous Pyelography (IVP) Pediatrik
a. Pengertian
Pemeriksaan IVP Pediatrik adalah pemeriksaan traktus urinarius dengan menggunkan
media kontras positif yang dimasukkan ke dalam intra vena.
b. Tujuan Pemeriksaan
Untuk melihat anatomi, fisiologi maupun kelainan pada traktus urinarius tersebut.
c.
Indikasi Pemeriksaan
1) Adanya batu ginjal (Neprolithiasis)
2) Anomali pada Traktus Urinarius
3) Traumal Renal
d. Kontra Indikasi
1) Absolut (mutlak): shock, dehidrasi.
2) Relatif: alergi iodine dan makanan laut, gagal jantung, gagal ginjal, dll.
e. Persiapan Pasien
1)
Dianjurkan untuk minum banyak air dan jus buah agar pasien mengalami
hidrasi yang bertujuan untuk memperlambat penyerapan media kontras oleh ginjal.
2)
4 jam sebelum pemeriksaan pasien pediatrik diberi makanan dengan serat
rendah.
3) Pada pasien anak-anak tidak memerlukan obat pencahar.
f.
Persiapan Alat
1) Pesawat sinar-x
2) Spuit 1, 5, 10, 20, dan 50 cc
3) Wing needles: 19, 23, 25, 27 G
4) Tourniquet
5) Handscoen
6) Masker
7) Kasa alkohol
8) Tabung oksigen
9) Obat alergi
10) Band-aid
g. Persiapan Bahan
1)
Media kontras positif yang memiliki osmolalitas rendah dan non ionik seperti
ioversol, dan iopamidol. Tetapi oriohexal lebih disukai meskipun reaksi alergi sering
terjadi pada anak-anak, namun cenderung ringan.
2) Obat-obat untuk mengatasi alergi.
h. Prosedur Pemeriksaan
1) Proteksi AP supine Abdomen dilakukan untuk foto pendahuluan.
2) Proyeksi AP supine Abdomen pasca dilakukannya injeksi media kontras
a) 3 menit dengan posisi AP supine Abdomen.
b) 15 menit dengan posisi supine atau prone Abdomen.
3) Kaset yang digunakan sesuai dengan besar tubuh pasien.
4)
Setelah pemeriksaan selesai dilakukan anak dianjurkan untuk banyak minum
dan makan makanan yang bergizi tinggi.
3. Pemeriksaan Loopografi Pediatrik

a. Pengertian
Pemeriksaan Loopografi Pediatrik adalah pemeriksaan radiografi pada colon yang
dilakukan Post Colostomy pada anak-anak.
Colostomy adalah tindakan bedah pembuatan saluran dari colon ke dinding abdomen
sebagai pengganti fungsi anus.
b. Tujuan Pemeriksaan
Untuk mengevaluasi saluran buatan antara colon dengan dinding abdomen tersebut.
c.
Kelainan pada Colon sehingga Dilakukannya Tindakan Colostomy
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
10)

Ulseratif Colitis
Diverticulitis
Polip
Intraluminal Lesion
Tumor Colon
Hirschsprung
Carsinoma Colon
Malformasi Anorectal
Enterocolitis Necrosis
Atresia Ani

d. Persiapan Pasien
1) Pasien dalam keadaan puasa
2) Colon dalam keadaan bersih
e. Persiapan Alat
1) Alat yang digunakan sama dengan alat-alat untuk Colon In Loop.
2) Media kontras:
a.
Media kontras positif (+) BaSO : 1000 mL untuk kontras tunggal, 400 mL
untuk kontras ganda.
b. Media kontras negatif (-).
f.
Teknik Pemasukan Media Kontras
1)
Pemasukan media kontras dengan menggunakan kateter yang dimasukkan
melalui anus buatan.
2)
Dengan dikontrol fluoroscopy suntikkan media kontras positif (+) secara cepat,
kemudian dimasukkan media kontras negatif (-).
3)
Dibuat foto-foto spot atau foto besar dengan posisi yang sesuai, biasanya AP
dan Lateral.
g. Kriteria Gambaran
1) Posisi AP
a) Tampak media kontras mengisi Colon Descendens dan Sigmoid pada posisi AP.
b) Tampak post colostomy pada sisi kiri pasien.
c) Tampak anal dimple.
2) Posisi Lateral
a)
Tampak media kontras mengisi Colon Descendens dan Sigmoid pada posisi
Lateral.
b) Tampak anal dimple.
B. Kardiologi (Pencitraan Pembuluh Darah)
1. Arteriografi Femoralis
a. Pengertian
Arteriografi Femoralis adalah pemeriksaan radiografi untuk memperlihatkan
pembuluh arteri pada ekstremitas bawah dengan memasukkan media kontras positif

(+).
b. Tujuan Pemeriksaan
Untuk memperlihatkan anatomi dan patologi dari hip joint sampai dengan kaki.
c.
Indikasi Pemeriksaan
1) Arterosklerosis Obliterans
2) Aneurysm
3) Trauma arteri
4) Arteriovenosus Malformasi
5) Artritis
6) Neoplasma
d. Kontra Indikasi
1) Alergi terhadap media kontras.
2) Kelainan jantung.
e. Media Kontras yang Digunakan
Conray 280 dengan volume 20-30 mL dengan kecepatan penyuntikan sekitar 8
mL/detik untuk satu proyeksi.
f.
Persiapan Alat dan Bahan
1) Steril
a) Jarum arteriogram
b) Adaptor
c) Spuit 50 ml sebanyak 2 buah
d) Spuit 10 ml sebanyak 1 buah
e) Spuit 2 ml sebanyak 1 buah
f)
Drawing up canula
g)
Kateter
h) Sponge forceps
i)
Mangkuk pelembab 2 buah
j)
Gallipot
k) Kasa
l)
Handuk
m) Baju pasien
2) Unsteril
a) Pembersih kulit
b) Ampuls media kontras
c) Saline
d) Jarum disposable
e) Pembuka ampuls
f)
Lokal anastesi (Omnopone atau Scopolamine)
g. Teknik Pemeriksaan
1) Persiapan Pasien
a) Pasien puasa kurang lebih 5 jam sebelum dimulainya pemeriksaan.
b)
Mencukur rambut pada daerah yang akan dilakukan punksi (pada daerah
inguinal atau lipatan paha dan pubis).
c) Pasien diwajibkan mixie sebelum pemeriksaan dimulai.
2) Premedikasi
Diberikan anastesi lokal menggunakan omnopon dan scopolamine.
3) Posisi Pasien
a)
Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan dengan jari-jari kaki diputar
30 ke dalam.
b) Kedua tumit sedikit dijauhkan agar mudah untuk diputar.

c)
Variasi posisi pasien juga dapat dilakukan untuk mendukung penglihatan yang
lebih baik pada daerah poplitea dan cabang-cabangnya.
4) Metode Pemasukan Media Kontras
a) Peyuntikan secara langsung.
b) Kateterisasi teknik seldinger.
h. Teknik Pengambilan Gambar
1) Single Technique
a) Menggunakan film ukuran besar yaitu ukuran 35 cm x 43 cm.
b)
Membutuhkan dua kali penyuntikan kontras yang masing-masing digunakan
untuk menggambarkan arteri femoralis dan arteri tibia sampai dorsalia.
2) Serial Technique
a) Menggunakan film ukuran 35 cm x 35 cm.
b)
Membutuhkan peralatan yang mempunyai variasi kecepatan pergantian film,
termasuk rol film, cut film, dan kaset charger yang berkemampuan dua eksposi dalam
satu menit.
c) Hanya memerlukan satu kali penyuntikan bahan kontras.
C. CT-Scanning
1. Pemeriksaan CT-Scan Kepala
a.
Indikasi Pemeriksaan
1) Tumor, massa, lesi
2) Metastase otak
3) Perdarahan intra cranial
4) Anuerisma
5) Abses
6) Atrophy otak
7) Kelainan post trauma
8) Kelainan congenital
b. Persiapan Pasien
Tidak memerlukan persiapan khusus.
c.
Persiapan Alat dan Bahan
1) Steril
a) Alat-alat suntik
b) Spuit
c) Kassa dan kapas alkohol
2) Unsteril
a) Pesawat CT-Scan
b)
Media Kontras: omnipaque, visipaque dengan volume 2-3 mm/kg, maksimal
150 mm. Beserta injeksi rate sekitar 1-3 mm/detik
c) Tabung oksigen
d. Teknik Pemeriksaan
1)
Posisi pasien: Pasien supine diatas meja pemeriksaan dengan posisi kepala
dekat dengan gantry.
2) Posisi objek:
a) Kepala hiperfleksi dan diletkkan pada head holder.
b)
Kepala diposisikan sehingga MSP tubuh sejajar dengan lampu indikator
longitudinal dan interpupilary line sejajar dengan lampu indikator horizontal.
c)
Lengan pasien diletakkan diatas perut atau disamping tubuh.
d)
Untuk mengurangi pergerakan dahi dan tubuh pasien sebaiknya difikasasi
dengan sabuk khusus pada head holder dan meja pemeriksaan.
e)
Lutut diberi pengganjal untuk kenyamanan pasien

e. Gambar yang Dihasilkan


1)
Potongan Axial 1: bagian paling superior dari otak yang disebut hemisphere.
Kriteria gambarnya adalah tampak:
a) Bagian anterior sinus superior sagital.
b) Centrum semi ovale (yang berisi materi cerebrum).
c) Fissura longitudinal (bagian dari falks cerebri).
d) Sulcus, Gyrus
e) Bagian posterior sinus superior sagital.
2)
Potongan Axial 4: irisan axial yang ke empat yang disebut tingkat medial
ventrikel. Kriteria gambarnya tampak:
a) Anterior corpus collosum.
b) Anterior horn dari ventrikel lateral kiri.
c) Nucleus caudate
d) Thalamus, ventrikel tiga
e) Kelenjar pineal (agak sedikit mengalami kalsifikasi).
f)
Posterior horn dari ventrikel lateral kiri.
3)
Potongan Axial 5: jaringan otak dalam ventrikel medial tiga. Kriteria
gambarnya:
a) Anterior corpus collosum
b) Anterior horn ventrikel lateral kiri
c) Ventrikel tiga kelenjar pineal
d) Protuberontia Occipital Interna
4) Potongan Axial 7: jaringan dari bidang orbita. Kriteria gambaran tampak:
a) Bola mata/occular bulb
b) Nervous opticum kanan
c) Optic chiasma
d)
Lobus temporal
e) Otak tengah, cerebellum, lobus occipitalis
f)
Mastoid air cells, sinus ethmoid, dan sinus sphenoid.
D. Saluran Perkencingan (Traktus Urinarius)
1. Pemeriksaan BNO-IVP
a. Pengertian
Pemeriksaan BNO-IVP adalah pemeriksaan radiografi dari Traktus Urinarius (Renal,
Ureter, Vesica Urinaria dan Urethra) dengan penyuntikan media kontras positif (+)
secara intra vena.
b. Tujuan Pemeriksaan
1)
Untuk menggambarkan anatomi dari Pelvis Renalis dan sistem Calyces serta
seluruh Traktus Urinarius dengan penyuntikan media kontras positif (+) secara intra
vena.
2)
Dapat mengetahui kemampuan ginjal mengkonsentrasikan dan
mengekskresikan media kontras tersebut.
c.
Indikasi Pemeriksaan
1)
Nephrolitiasis: suatu keadaan terdapat satau atau lebih batu di dalam Pelvis atau
Calyces dari ginjal.
2)
Hydronephrosis (pembesaran ginjal): distensi dan dilatasi dari Pelvis Renalis,
biasanya disebabkan oleh terhalangnya aliran urin dari ginjal.
3) Urolithiasis: suatu keadaan terdapat satu atau lebih batu di dalam saluran ureter.
4) Pyelonephritis: radang pada ginjal dan saluran perkencingan bagian atas.
5) Renal Failure: kegagalan fungsi ginjal.
6) Haematuria: suatu keadaan dimana terdapat sel-sel darah merah di dalam urine.

7) Massa pada ginjal


d. Persiapan Alat dan Bahan
1) Peralatan Steril
a) Wings Needle No. 21 G 1 buah
b) Spuit 20 cc 2 buah
c) Kapas alkohol atau wipes
d) Tourniquet
2) Peralatan Un-Steril
a) Plester
b) Marker R/L
c) Media Kontras (Omnipaque, Urografin, Iopamario)
d) Obat-obatan emergency
e. Persiapan Pasien
1)
Sehari sebelum pemeriksaan, pasien harus banyak makan makanan yang tidak
berserat, misalnya bubur kecap.
2) Makan terakhir jam 19.00.
3)
Minum obat pencahar jam 20.00, misalnya garam inggris sebanyak 30 gr atau
Dulcolax sebanyak 6 tablet dan pagi-pagi diberi Dulcolax supposituria (per anal).
4) Boleh minum air putih sampai jam 23.00.
5) Puasa sampai dilakukan pemeriksaan radiografi.
6) Tidak boleh banyak bicara dan merokok.
f.
Prosedur Pemeriksaan
Bila pasien sudah menjalani puasa sebagai langkah persiapannya, pasien harus
menjalani pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin dalam tubuhnya. Setelah iru dibuat
foto pendahuluan dengan menggunakan kaset & film ukuran 30 x 40 cm mencakup
seluruh abdomen dengan posisi AP. Foto pendahuluan ini berguna untuk mengecek
persiapan pasien, mengevaluasi keseluruhan abdomen, mengetahui keadaan ginjal
pasien, dan menentukan faktor eksposi selanjutnya.
Media kontras disuntikkan secara intra vena, biasanya pada vena cubiti dengan pasien
dalam posisi supine.
Volume media kontras sebagai berikut:
1)
Media kontras yang digunakan adalah yang berbaham iodium, dimana
jumlahnya disesuaikan dengan berat badan pasien, yaitu 1-2 cc/kg berat badan.
2) Untuk anak-anak kira-kira 2 ml/kg berat badan.
3)
Bila ada dugaan kegagalan ginjal, dosis Bila ada dugaan kegagalan ginjal, dosis
4 ml/ kg berat badan.
g. Pengambilan Gambar Radiografi
1) Foto menit ke-5 setelah disuntikkan media kontras
Dilakukan foto pada 5 menit pertama dengan area jangkauan pada pertengahan
Processus Xypoideus dan Umbilicus. Foto ini untuk melihat perjalanan kontras
mengisi sistem Calyces pada ginjal. Memakai kaset dan film ukuran 24 x 30 cm
dengan posisi AP sama seperti foto Abdomen dan CRnya vertikal tegak lurus
terhadap kaset. Kompresi ureter dilakukan dengan tujuan untuk menahan kontras
media tetap berada pada sistem Pelvis Calyces dan bagian Ureter proximal. Kompresi
ureter diketatkan setelah dilakukan pengambilan foto menit ke-5
2) Foto menit ke-10 atau ke-15 bila pada foto menit ke-5 kurang baik
Bila pengambilan gambar pada Pelvis Calyces di menit ke-5 kurang baik, foto diambil
kembali pada menit ke-10 dengan zonografi untuk memperjelas bayangan.
Menggunakan kaset dan film ukuran 24 x 30 cm mencakup gambaran Pelviocalyseal,
Ureter, dan Bladder mulai terisi media kontras dengan posisi AP sama seperti foto

Abdomen, CP berada di antara Processus Xypoideus dengan Umbilicus dan CRnya


vertikal tegak lurus kaset.
3) Foto menit ke-30
Setelah menit ke-30 kompresi dibuka dan diambil gambar dengan menggunakan kaset
dan film ukuran 30 x 40 cm. Di beberapa rumah sakit setelah menit ke-30 diharuskan
meminum air yang banyak. Foto ini digunakan untuk mengevaluasi kemampuan
ginjal mengsekresikan media kontras. Denhan posisi AP sama seperti foto Abdomen
dan CRnya vertikal tegak lurus kaset.
4) Foto menit ke-60
Setelah masuk menit ke-60 dibuat foto BNO lagi dengan kaset dan film ukuran 30 x
40 cm. Setelah hasil rontgen dikonsultasikan pada radiolog dan dinyatakan normal
maka pasien diharuskan mixi kemudian difoto kembali. Jika radiolog menyatakan ada
ganguan biasanya dilakukan foto 2 jam. Dengan posisi AP sama seperti foto
Abdomen dan CRnya vertikal.
5) Foto Post Void
Yang terakhir adalah melakukan foto post void dengan posisi AP supine atau erect
untuk melihat kelainan kecil yang mungkin terjadi di daerah bladder. Dengan posisi
erect dapat menunjukkan adalanya ren mobile (pergerakan ginjal yang tidak normal)
pada kasus post haematuri. Dengan posisi AP sama seperti foto Abdomen dan CRnya
vertikal tegak lurus kaset.
h. Hasil Gambaran Radiografi
1) Foto menit ke-5

2)

Foto menit ke-10 atau menit ke-15

3)

Foto menit ke-30

4)

Foto menit ke-60

5)

Foto Post Void

2. Pemeriksaan Antegrade Pyelografi (APG)


a. Pengertian
Pemeriksaan Antegrade Pyelografi (APG) adalah teknik/prosedur pemeriksaan
radiografi dari sistem urinaria dengan menggunakan media kontras yang dimasukkan
melalui kateter yang telah dipasang dokter urologi dengan cara nefrostomi percutan.
b. Tujuan
1) Memperlihatkan anatomi dan lesi-lesi Traktus Urinarius bagian proximal.
2)
Dilakukan setelah IVP gagal menghasilkan suatu diagnosa yang kurang
akurat/metode Retrograde Pyelografi (RPG) tidak memungkinkan.
3) Untuk menunjukkan terutama gambaran Pelvis Renalis dan Ureter.
4) Menunjukkan obstruksi Ureter akibat batu.
c.
Indikasi Pemeriksaan
1)
Nephrolitiasis: suatu keadaan terdapat satau atau lebih batu di dalam Pelvis atau
Calyces dari ginjal.
2)
Urethrolitiasis: penyumbatan saluran ureter oleh batu karena pengendapan
garam urat, oksalat, atau kalsium.
3)
Nephritis: kerusakan pada bagian glomerulus ginjal akibat infeksi kuman
umumnya bakteri steptococcus.
4) Pyelonephritis: radang pada ginjal dan saluran perkencingan bagian atas.
5) Trauma akut Traktus Urinarius
6)
Hydronephrosis (pembesaran ginjal): distensi dan dilatasi dari Pelvis Renalis,
biasanya disebabkan oleh terhalangnya aliran urin dari ginjal.
d. Persiapan Alat dan Bahan
1) Media kontras iodium 50 cc, cairan NaCl 100 cc.
2) Spuit dissposible 50 cc
3) Needle 19 G
4) Handscoen
5) Clamp
6) Plester
7) Alkohol atau betadine
8) Haas
9) Pesawat sinar-x, kaset dan film ukuran 24 x 30 cm dan 30 x 40 cm
e. Persiapan Pasien
1)
Sehari sebelum pemeriksaan, pasien harus banyak makan makanan yang tidak

berserat, misalnya bubur kecap.


2) Makan terakhir jam 19.00.
3)
Minum obat pencahar jam 20.00, misalnya garam inggris sebanyak 30 gr atau
Dulcolax sebanyak 6 tablet dan pagi-pagi diberi Dulcolax supposituria (per anal).
4) Boleh minum air putih sampai jam 23.00.
5) Puasa sampai dilakukan pemeriksaan radiografi.
6) Tidak boleh banyak bicara dan merokok.
f.
Prosedur Pemeriksaan
1)
Kateter yang telah terpasang diklem kemudian selang yang menghubungkan
dengan urine dicabut.
2)
Media kontras disiapkan dengan mencampur media kontras dan NaCl dengan
perbandingan 1:3.
3)
Sebelum pemasukan media kontras dilakukan, buat foto pendahuluan dengan
menggunakan kaset dan film ukuran 30 x 40 cm dengan posisi AP seperti foto
Abdomen, CRnya tegak lurus terhadap kaset.
4)
Masukkan media kontras yang sudah diencerkan melalui kateter yang langsung
terhubung dengan Pelviocalyces.
g. Teknik Pemeriksaan
Terdapat 3 seri pemotretan dengan proyeksi AP dan oblique dengan menggunakan
kaset dan film 30 x 40 cm.
1) Foto 1 fokus pada renogram dan sistem Pelviocalyceal.
2) Foto 2 fokus pada ureter bagian proximal dan sistem Pelviocalyceal.
3) Foto 3 fokus pada ureter distal dan Vesica Urinaria.
4) Foto terakhir dibuat untuk melihat sekresi ginjal.
h. Proyekdi Pemeriksaan Antegrade Pyelografi (APG)
1) Proyeksi AP
a) Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan.
b) MSP sejajar dengan pertengahan bucky.
c) Kedua tangan pasien diletakkan di samping tubuh.
d) CRnya tegak lurus terhadap kaset.
e) CP berada pada MSP setinggi Crista Illiaca.
f)
FFD=100 cm.
2) Proyeksi AP Oblique
a) Pasien diposisikan semisupine di atas meja pemeriksaan.
b) Atur tubuh pasien sehingga membentuk sudut 45 terhadap meja pemeriksaan.
c)
Tekuk lutut yang jauh dari meja pemeriksaan, luruskan kaki yang dekat dengan
meja pemeriksaan, tangan yang dekat dengan meja pemeriksaan digunakan sebagai
ganjalan kepala, tangan yang jauh dari meja pemeriksaan diletakkan di depan tubuh.
d) CRnya tegak lurus terhadap kaset.
e)
CP berada pada 2 inci (5 cm) medial dari SIAS dan 1 inci (3,8 cm) di atas
Crista Illiaca.
f)
FFD=100 cm.
i.
Hasil Gambaran Radiografi

Terlihat gambaran ginjal yang tidak terpotong dan gambaran dimulai dari nefron
sampai blass tetapi tidak ada rentang waktu seperti pemeriksaan BNP-IVP.
3. Pemeriksaan Retrograde Pyelografi (RPG)
a. Pendahuluan
1) Pemeriksaan ini dilakukan apabila sistem urinari sudah tidak berfungsi.
2)
Media kontras dimasukkan berbalik atau melawan jalannya alur sistem urinaria
melalui sistem Pelviocalyceal dengan memasang kateter.
3)
Pemasangan kateter adalah dengan melakukan bedah minor oleh dokter urologi
di ruang bedah.
4)
Umumnya dilakukan untuk menunjukkan letak urinary calculi atau jenis
kerusakan lain.
b. Pengertian
Pemeriksaan Retrograde Pyelografi (RPG) adalah teknik/prosedur pemeriksaan sistem
urinaria dengan menggunakan sinar-x dan memasukkan media kontras secara
retrograde (berlawanan arah dengan alur sistem urinaria) untuh menegakkan
diagnosa.
c.
Indikasi Pemeriksaan
1)
Stricture Uretra: kondisi medis yang ditandai oleh penyempitan abnormal uretra
karena peradangan atau jaringan parut dari operasi, penyakit atau cidera.
2) Batu uretra
3) Uretris Injury
4) Renal Pelvic Neoplasm
5) Renal Calculi
6)
Ureteric Fistule: adhesi abnormal struktur tubuh ureter, yang merupakan tabung
yang mengangkut urine dari ginjal ke kandung kemih.
7) Accidental Ureteric Ligation
d. Kontra Indikasi
1) Urethritis
a)
Merupakan kontra indikasi absolute karena dapat menyebarkan infeksi pada
Traktus Urinarius distal dan proximal.
b) Peradangan yang terjadi akan sulit untuk diobati.
2) Stricture Urethra
a)
Bukan kontra indikasi absolute, namum pemasukan kateter dapat memperparah
keadaan.
e. Komplikasi yang Mungkin Terjadi

1)
Injuri Uretra
Penggunaan cystoscopy dengan ukuran besar dan tidak digunakan lubricant (jelly)
memungkinkan injuri terjadi.
2) Bladder Injuri
Apabila tekanan keras dengan paksaan dilakukan, maka perforasi bladder mungkin
terjadi. Hal ini jarang terjadi.
3) Paraphimosis
Mungkin terjadi pada pasien yang tidak dicircumsisi.
4) Stricture Urethra
Tidak digunakannya lubricant yang cukup dapat menyebabkan lukan dan stricture
kemudian.
5) Meatal Stricture
Ada stricture urethra.
6) Cystitis
Jika tidak dilakukan aseptic maka terjadi peradangan.
f.
Persiapan Pasien
1)
Sehari sebelum pemeriksaan, pasien harus banyak makan makanan yang tidak
berserat, misalnya bubur kecap.
2) Makan terakhir jam 19.00.
3)
Minum obat pencahar jam 20.00, misalnya garam inggris sebanyak 30 gr atau
Dulcolax sebanyak 6 tablet dan pagi-pagi diberi Dulcolax supposituria (per anal).
4) Boleh minum air putih sampai jam 23.00.
5) Puasa sampai dilakukan pemeriksaan radiografi.
6) Tidak boleh banyak bicara dan merokok.
g. Persiapan Alat dan Bahan
1) Pesawat Rontgen
2) Media kontras iodium 20 cc
3) Spuit 20 cc
4) Needle 19 G
5) Handscoen
6) Kaset dan film ukuran 24 x 30 cm dan 30 x 40 cm
7) Grid atau bucky
8) Marker R/L
9) Kateter dipasang dengan bantuan cystoscopy
10) Desinfektan
h. Prosedur Pemeriksaan
1)
Pemasangan kateter dilakukan oleh dokter urologi dengan menggunakan
bantuan cystoscopy, secara retrograde (berlawanan arah dengan alur sistem urinari)
melalui uretra sebelum pemeriksaan mulai dilakukan.
2)
Lakukan foto pendahuluan (Abdomen Polos).
a) Untuk memastikan letak kateter
b) Mengetahui ketepatan teknik dan positioning
3)
Lakukan injeksi 3-5 cc media kontras melalui kateter menuju Pelvis Renalis,
pada ginjal yang diperiksa.
a) Diambil dengan menggunakan kaset dan film ukuran 24 x 30 cm.
b)
Kontras dimasukkan kembali 5 cc sambil kateter ditarik perlahan, lalu foto
menggunakan kaset dan film ukuran 30 x 40 cm untuk melihat daerah ureter.
c)
Kontras dimasukkan sampai habis, sambil ditarik diperkirakan kontras habis,
dan kateter dilepas. Foto diambil dengan menggunakan kaset dan film ukuran 30 x 40
cm.

i.
Proyeksi Pemeriksaan Retrograde Pyelografi (RPG)
1) Proyeksi AP
a) Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan.
b) MSP sejajar dengan pertengahan bucky.
c) Kedua tangan pasien diletakkan di samping tubuh.
d) CRnya tegak lurus terhadap kaset.
e) CP berada pada MSP setinggi Crista Illiaca.
f)
FFD=100 cm.
2) Proyeksi AP Oblique
a) Pasien diposisikan semisupine di atas meja pemeriksaan.
b) Atur tubuh pasien sehingga membentuk sudut 45 terhadap meja pemeriksaan.
c)
Tekuk lutut yang jauh dari meja pemeriksaan, luruskan kaki yang dekat dengan
meja pemeriksaan, tangan yang dekat dengan meja pemeriksaan digunakan sebagai
ganjalan kepala, tangan yang jauh dari meja pemeriksaan diletakkan di depan tubuh.
d) CRnya tegak lurus terhadap kaset.
e)
CP berada pada 2 inci (5 cm) medial dari SIAS dan 1 inci (3,8 cm) di atas
Crista Illiaca.
f)
FFD=100 cm.
j.
Hasil Gambaran Radiografi

4. Pemeriksaan Uretrocystografi
a. Pengertian
Pemeriksaan Uretrocystografi adalah pemeriksaan radiologi untuk melihat fungsi dari
uretra dan vesica urinaria yang mengalami gangguan berupa penyempitan dan
sumbatan sehingga menimbulkan gangguan pada uretra dan vesica urinaria.
b.
Indikasi Pemeriksaan
1) Stricture Urethra: penyempitan lumen uretra karena fibrosis pada dindingnya.
2) Retensi urine: kesulitan pada saat buang air kecil.
3) Kelainan kongenital: kelainan bawaan dari lahir, hal ini jarang terjadi.
4)
Fistule: saluran abnormal yang terbentuk antara 2 buah organ yang seharusnya
tidak terhubung.
5) Tumor
c.
Kontra Indikasi
1)
Infeksi akut
2) Recent instrumentation

d. Prosedur Pelaksanaan
1) Uretrografi
a) Persiapan Pasien
Tidak ada persiapan khusus.
Vesica urinaria dikosongkan semaksimal mungkin.
b) Persiapan Alat dan Bahan
Pesawat sinar-x
Kaset dan film ukuran 24 x 30 cm beserta marker R/L
Media kontras, yaitu urografin
Gliserin
Kateter
Spuit
Handscoen
Kassa steril
Bengkok atau mangkuk kecil
Kapas alkohol
Plester
Baju pasien
c) Jalannya Pemeriksaan
Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan setelah disuruh untuk
buang air kecil.
Daerah orifisium uretra diolesi dengan gliserin.
Masukkan media kontras melalui kateter sebanyak 12 cc.
Lakukan pemotretan dengan beberapa proyeksi.
d) Proyeksi Pemotretan
AP
Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan.
Daerah pelvis dan uretra ditempatkan tepat di atas kaset
Kedua kaki direnggangkan
CP ditujukan ke symphisis pubis dan CR disudutkan 10.
RPO dan LPO
Pasien diposisikan semisupine di atas meja pemeriksaan.
Daerah pelvis dan uretra ditempatkan tepat di atas kaset, kemudian pasien
dimiringkan 30 ke arah yang ingin diperiksa sehingga tidak superposisi dengan soft
tissue dari otot paha.
CRnya vertikal tegak lurus terhadap kaset dengan CP berada pada symphisis
pubis.
2) Cystografi
a) Persiapan Pasien
Tidak ada persiapan khusus.
Vesica urinaria dikosongkan semaksimal mungkin.
b) Persiapan Alat dan Bahan
Pesawat sinar-x
Kaset dan film ukuran 24 x 30 cm beserta marker R/L
Media kontras, yaitu urografin
Gliserin
Kateter
Spuit
Handscoen
Kassa steril

Bengkok atau mangkuk kecil


Kapas alkohol
Plester
Baju pasien
c) Jalannya Pemeriksaan
Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan setelah disuruh buang air
kecil.
Daerah orifisium uretra diolesi dengan gliserin.
Masukkan media kontras yang telah diencerkan dengan cairan infus sebanyak
150-500 cc melalui kateter, secara perlahan sampai ke vesica urinaria sehingga residu
urine keluar melalui kateter.
Setelah media kontras mengisi vesica urinaria, maka lakukan pemotretan
dengan beberapa proyeksi.
d) Proyeksi Pemotretan
AP
Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan dengan MSP berada di
tengah meja pemeriksaan.
Daerah pelvis tepat di pertengahan kaset.
CR disudutkan 10 caudad.
CP berada pada 5 cm di atas symphisis pubis.
RPO dan LPO
Pasien diposisikan semisupine di atas meja pemeriksaan.
Tubuh pasien dirotasikan ke arah yang akan diperiksa sebesar 45-60.
CR vertikal tegak lurus terhadap kaset.
CP berada pada 5 cm di atas symphisis pubis dan 5 cm ke arah medial menuju
SIAS.
Lateral
Pasien diposisikan miring pada salah satu sisi di atas meja pemeriksaan.
Kedua lutut ditekuk sebagai fiksasi dan diganjal bantal.
Daerah pelvis tepat berada di atas kaset.
CR vertikal tegak lurus terhadap objek kaset.
CP berada pada 5 cm superior dan posterior dari symphisis pubis.
E. Saluran Pencernaan (Traktus Digestivus)
1. Pemeriksaan Oesofagografi
a. Pengertian
Pemeriksaan Oesofagografi adalah pemeriksaan radiografi dari oesofagus dengan
menggunakan media kontras per oral.
b. Media Kontras yang Digunakan
1) Media kontras positif (+): BaSO dengan viscositas 1:1 atau 1:2.
2) Media kontras negatif (-): kristal-kristal CO , misalnya es gas.
c.
Indikasi Pemeriksaan
1) Disfagia: kesulitan menelan.
2)
Akhlasia Oesofagus: kelainan neomuskular yang menyebabkan kegagalan gerak
oesofagus.
3) Varises Oesofagus: pelebaran pembuluh darah vena pada oesofagus.
4) Massa (tumor)
5) Striktura Oesofagus: penyempitan pada oesofagus.
6)
Divertikula: terbentuknya kantong-kantong kecil pada dinding oesofagus yang
mengarah ke bagian luar.
d. Teknik Pemeriksaan

1) Tidak memerlukan paersiapan pasien secara khusus.


2) Premedikasi tidak perlu diberikan.
3) Posisi pasien:
a)
Erect di antara meja pemeriksaan yang diposisikan vertikal dengan layar
fluoroscopy.
b)
Berikan bahan kontras, instruksikan untuk menelan beberapa teguk. Proses ini
diikuti dengan fluoroscopy.
4)
Bila pasien tidak memungkinkan untuk diposisikan erect, pemeriksaan dapat
dilakukan dengan posisi recumbent.
5) Posisi memungkinkan:
a) Pengisian lumen oesofagus lebih sempurna, terutama bagian proximal.
b) Posisi ini diperlukan pada klinis Varises Oesofagus.
e. Pengambilan Gambar Radiografi
Dilakukan secara penuh atau spot foto pada daerah-daerah yang dicurigai ada
kelainan (misalnya lesi), dengan posisi-posisi:
1) AP/PA
2) Oblique (biasanya RAO)
3)
Lateral
Bila pemeriksaan dilakukan dengan kontras ganda, prosedur sama dengan di atas.
Tetapi pada larutan BaSO dimasukkan kristal-kristal CO atau dapat juga ditelan
sebelum minum media kontras positif (+).
a) Posisi AP/PA
Pasien diposisikan supine/prone di atas meja pemeriksaan dengan kedua
lengan lurus di samping tubuh.
MSL sejajar dengan garis tengah meja pemeriksaan.
CR vertikal tegak lurus kaset dengan CP berada pada MSL setinggi Columna
Vertebrae Thoracal 5-6.
b) Posisi Oblique
Pasien diposisikan RAO/LPO 35-45.
CR vertikal tegak lurus kaset dengan CP berada pada garis 5 cm dari dan
sejajar MSL setinggi Columna Vertebrae Thoracal 5-6.
c) Posisi Lateral
Pasien diposisikan true lateral dengan kedua lengan di atas kepala atau ke
belakang.
MCL sejajar dengan garis pertengahan kaset.
CR vertikal tegak lurus kaset dengan CP berada pada MCL setinggi Columna
Vertebrae Thoracal 5-6.
f.
Hasil Gambaran Radiografi

g. Kriteria Gambaran
1)
Gambaran umum: tampak gambaran oesofagus terisi BaSO meliputi bagian
proximal sampai ke distal.
2)
Posisi AP/PA: oesofagus terisi BaSO superposisi dengan Columna Vertebrae
Thoracal.
3)
Posisi Oblique: oesofagus tergambar di antara Columna Vertebrae Thoracal
dengan jantung.
4)
Posisi Lateral: bagian proximal oesofagus tidak superposisi dengan gambaran
lengan.
2. Pemeriksaan Oesofagus Maag-Duodenum (OMD)
a. Pengertian
Pemeriksaan OMD adalah teknik pemeriksaan secara radiologi saluran pencernaan
atas dari organ oesofagus maag duodenum menggunakan media kontras barium
swallow dan barium meal, kemudian diamati dengan fluoroscopy.
b. Tujuan Pemeriksaan
Untuk melihat kelainan-kelainan pada organ oesofagus, maag, dan duodenum.
c.
Indikasi Pemeriksaan
1)
Ulcus Pepticum: peradangan dari dinding mucosa, biasanya terjadi pada
curvatura major.
2)
Diverticula: penonjolan keluar dari maag yang membentuk kantung (banyak
terjadi pada fundus).
3) Hematemesis: pendarahan.
4)
Ulcers: erosi dari mucosa dinding lambung (karena cairan gaster, diet, rokok,
bakteri)
5) Gastritis: peradangan yang terjadi pada gaster (baik akut maupun kronik).

6) Tumor: biasanya terjadi pada gaster atau duodenum.


7) Carsinoma: tumor, benjolan yang merupakan pertumbuhan jaringan.
8)
Hernia hiatal: sebagian lambung tertarik ke atas diafragma karena oesofagus
yang pendek.
9) Stenosis pylorus: penutupan atau penyempitan dari lumen pylorus.
d. Kontra Indikasi
1) Obstruksi usus besar.
2)
Persangkaan perforasi tidak boleh menggunakan BaSO tetapi menggunakan
water soluble kontras (urografin, iopamiro).
e. Persiapan Pasien
1) Pasien diberi penjelasan tentang pemeriksaan yang akan dilakukan.
2)
Sehari sebelum pemeriksaan pasien diet rendah serat untuk mencegah
pembentukan gas akibat fermentasi.
3)
Lambung harus dalam keadaan kosong. Untuk memastikan hal tersebut pasien
puasa 8-9 jam sebelum pemeriksaan.
4)
Pasien tidak diperbolehkan mengkonsumsi obat-obatan yang mengandung
substansi radioopaque seperti steroid, pil kontrasepsi, dll.
5)
Sebaiknya colon bebas dari fecal material dan udara, bila perlu diberikan zat
laxative.
6) Tidak boleh merokok.
7) Pasien diminta mengisi Inform Concent.
f.
Persiapan Alat
1) Pesawat sinar-x + fluoroscopy
2) Baju pasien
3) Gonad shield
4) Kaset dan film ukuran 30 x 40 cm
5) Bengkok
6) Marker R/L
7) Tissue
8) Obat emergency: dexametason, delladryl, dll
9) Air masak sendok/sedotan dan gelas
g. Persiapan Bahan
1) Media kontras positif (+): BaSO (1:4)
2) Media kontras negatif (-): Natrium Bicarbonat + Asam Sitrun misalnya Ez gas.
h. Tata Laksana Pemeriksaan
1) Pemeriksaan dengan Kontras Tunggal
a) Pasien pada posisi erect, diinstruksikan menelan 2-3 teguk BaSO .
b) Dengan kontrol fluoroscopy, diamati bentuk, ukuran, dan posisi dari gaster.
c)
Media kontras biasanya akan mengisi duodenum, bila ada jeda waktu
dimungkinkan lambung pasien spasme.
d) Foto-foto radiografi segera dibuat, sebelum media kontras masuk ke Jejunum.
2) Pemeriksaan dengan Kontras Ganda
Teknik ini memiliki keuntungan dalam menegakkan diagnosa karena lesi yang kecil
dan dinding mucosa lambung dapt lebih jelas
i.
Proyeksi-Proyeksi Radiografi
1) Proyeksi PA
a) Pasien prone di atas meja pemeriksaan dengan posisi kepala rileks.
b) MSL kira-kira 7 cm di sebelah kanan garis tengah meja pemeriksaan.
c)
CR vertikal tegak lurus kaset dengan CP setinggi Pylorus, kira-kira setinggi
pertengahan Processus Xypoideus dengan Umbilicus.

d) Bila pasien erect, CP kira-kira 3 inci di bawah titik tersebut.


e) Kriteria Gambar:
Diafragma harus tergambar untuk memperlihatkan BaSO di dalam
oesofagus bagian distal.
Seluruh gambaran gaster dan duodenum harus tercakup.
Tidak terjadi rotasi tubuh.
2) Proyeksi RAO
a) Pasien diposisikan RAO, dengan sisi kiri oblique 40-70.
b) Sisi kiri tubuh diganjal oleh spons.
c)
Lengan kiri diangkat dan diletakkan di bagian kepala, lengan kanan lurus di
samping tubuh, lutut kiri sedikit fleksi.
d) MSL berada kira-kira 7 cm di sebelah kanan garis tengah meja pemeriksaan.
e) CR vertikal tegak lurus terhadap kaset dengan CP berada pada Pylorus.
f)
Kriteria Gambar:
Oesofagus distal dan fundus harus tergambar.
Antrum Pyloricum, Bulbus Duodeni terisi oleh BaSO .
Duodenal Loop (lengkungan Duodenal) harus saat posisi terbuka.
3) Proyeksi Lateral
a) Pasien diposisikan lateral recumbent pada sisi kanan tubuh.
b)
Pertengahan antara Mid Axillary Line dan tepi anterior Abdomen diletakkan
pada garis tengah meja pemeriksaan.
c) Kedua lutut fleksi dan superposisi.
d)
Lengan fleksi pada siku dan diletakkan di atas kepala.
e) CR vertikal tegak lurus terhadap kaset dengan CP berada pada Pylorus.
f)
Kriteria Gambar:
Seluruh lambung tergambar.
Antrum Pyloricum dan Bulbus Duodeni terisi BaSO .
4) Proyeksi LPO
a)
Pasien diposisikan semisupine dengan sisi kanan diangkat kira-kira 20 dan
diganjal spons.
b) MSL ditempatkan pada garis tengah meja pemeriksaan.
c)
Lengan kiri lurus, lengan kanan di depan dada.
d) CR vertikal tegak lurus terhadap kaset dengan CP pada crista illiaca.
e) Kriteria Gambar:
Gambar harus mencakup seluruh gaster, oesofagus bagian distal, Duodenal
Loop.
Fundus terisi BaSO , sedangkan bagian Antrum Pyloricum dan Bulbus
Duodeni terisi media kontras negatif (-).
5) Proyeksi AP
a) Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan.
b)
Pertengahan antara MSL dengan sisi kiri tubuh berada pada garis tengah meja
pemeriksaan.
c) CR vertikal tegak lurus kaset dengan CP pada Pylorus.
d) Kriteria Gambar:
Seluruh gaster dan Duodenal Loop terlihat.
Tampak gambaran kontras ganda pada Pylorus dan Bulbus Duodeni.
3. Pemeriksaan Follow Through
a. Pengertian
Pemeriksaan Follow Through adalah pemeriksaan secara radiografi dari usus halus.
b. Tujuan Pemeriksaan

Untuk mendapatkan gambaran radiografi dari usus halus yang terisi media kontras
positif (+).
c.
Media Kontras dan Cara Pemasukannya
1) Per oral: melalui mulut
2) Per anal: Complete Reflux Filling
3)
Enteroclysis: pemasukan langsung ke dalam usus halus dengan menggunakan
Intestinal Tube yang dimasukkan melalui mulut.
4)
Intubasi: pemasukan langsung ke dalam usus halus dengan menggunakan
Intestinal Tube yang dimasukkan melalui hidung.
d. Persiapan Pasien
1)
Sama dengan persiapan untuk pemeriksaan radiografi Abdomen dengan
persiapan.
2)
Untuk metode per anal sebaiknya diklisma (dimasukkan cairan ke anal agar
merangsang pembersihan colon dari kotoran.
3) Premedikasi:
a) Untuk metode per oral diberikan Maxalon untuk mempercepat gerak peristaltik.
b) Untuk metode Enteroclysis: Glucagon/Buscopan/Diazepam.
c) Untuk metode per anal diberikan glucagon.
e. Prosedur Pemeriksaan
1) Metode Oral
a) Dibuat foto pendahuluan Abdomen posisi AP.
b) Pasien minum BaSO kira-kira 400 mL.
c)
Pasien diposisikan supine, foto-foto radiografi dibuat dengan interval waktu 15
menit dengan dikontrol fluoroscopy sebelum pembuatan foto.
d)
Interval waktu:
Foto pertama: 15 menit setelah minum media kontras.
Foto kedua: 30 menit setelah minum media kontras.
Selanjutnya setiap 15 menit berikutnya.
Foto terakhir, biasanya pada menit ke-60 setelah minum media kontras/bila
media kontras sudah mencapai illeocaecal.
e) Kriteria Gambar:
Seluruh usus halus harus tercakup dalam radiograf.
Gambaran lambung sebaiknya terlihat.
Marker waktu harus tampak.
Columna vertebralis tergambar pada garis tengah film.
Foto terakhir harus tampak caecum.
2) Metode Complete Reflux Filling
a)
Masukkan media kontras sebanyak 4500 mL melalui anal dengan menggunakan
irigator set/enema bag serta dikontrol fluoroscopy.
b)
Bila media kontras telah mencapai Bulbus Duodeni, tabung irigator/enema bag
direndahkan untuk mengososngkan colon.
c)
Dibuat foto usus halus sesuai keperluan diagnosa, biasanya dengan posisi pasien
supine.
3) Metode Enteroclysis
a) Persiapan pasien sama seperti untuk metode Complete Reflux Filling.
b)
Masukkan Bilbao/Selling Tube dengan guide wire melalui mulut sampai
mencapai duodenum.
c)
Suntikkan media kontras melalui tabung tersebut dengan kecepatan 100
mL/menit.
d) Dibuat spot foto untuk bagian-bagian penting yang dicurigai adanya kelainan.

e) Dapat juga dimasukkan udara setelah media kontras mencapai Caecum.


4) Metode Intubasi
a)
Metode pemasukan bahan kontras secara langsung ke dalam usus halus dengan
menggunakan Miller Abbot Tube yang dimasukkan melalui hidung.
b)
Prosedur pemasukan bahan kontras dan pengambilan foto sama dengan metode
Enteroclysis.
4. Pemeriksaan Colon In Loop
a. Pengertian
Pemeriksaan Colon In Loop adalah pemeriksaan radiografi dari usus besar dengan
menggunakan media kontras yang dimasukkan per anal.
b. Tujuan Pemeriksaan
Untuk menggambarkan usus besar yang berisi media kontras sehingga dapat
memperlihatkan anatomi dan kelainan-kelainan yang terjadi baik pada mucosanya
maupun yang tedapat pada lumen usus.
c.
Indikasi Pemeriksaan
1) Colitis: peradangan pada mucosa colon.
2) Polip, lesi, tumor, carsinoma
3) Diverticulitis
4) Megacolon
5)
Invaginasi: masuknya lumen usus bagian proximal ke dalam usus bagian distal
yang diameternya lebih besar.
d. Metode Pemeriksaan
1) Metode kontras tunggal
2) Metode kontas ganda
a)
Metode satu tahap: pemasukan media kontras negatif (-) dilakukan setelah
pemasukan media kontras positif (+) tanpa evakuasi terlebih dahulu.
b)
Metode dua tahap: pemasukan media kontras negatif (-) dilakukan setelah
pemasukan media kontras positif (+) setelah evakuasi terlebih dahulu.
e. Persiapan Pasien
1) 2 hari sebelum pemeriksaan pasien makan makanan lunak.
2) Makan terakhir jam 19.00 malam sebelum pemeriksaan.
3) Minum obat pencahar pada jam 20.00.
4)
Boleh minum sampai jam 23.00, tidak merokok, puasa sampai dilakukan
pemeriksaan.
5) Premedikasi: Buscopan atau Glucagon.
f.
Persiapan Alat dan Bahan
1) Pesawat sinar-x dengan fluoroscopy.
2)
Irigator set atau disposable soft-plastic enema tips dan enema bags.
3) Receiver
4) Vaselin sebagai pelumas
5) Rectal canule/tube
6) Handscoen
7)
Laken/kain penutup meja pemeriksaan
g. Prosedur Pemeriksaan
1) Metode Kontras Tunggal
a) Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan, dibuat foto pendahuluan.
b)
Kemudian miring ke arah kiri, sehingga bagian tubuh kanan terangkat dengan
kemiringan 35-40, lutut kanan fleksi dan diletakkan di depan lutut kiri yang diatur
sedikit fleksi.
c)
Irigator dipasang dengan tinggi kira-kira 24 inci di atas ketinggian anus, volume

BaSO kira-kira 2000 mL.


d) Rectal tube dioleskan vaselin, dimasukkan melalui anal ke dalam rectum.
e) Klem irigator dibuka, barium akan mengalir masuk ke dalam rectum.
f)
Dengan dikontrol fluoroscopy, dibuat spot view untuk daerah yang dicurigai
ada kelainan.
g)
Bila pengisian BaSO telah mencapai illeocaecal, klem ditutup kembali, dibuat
foto full filling dari colon.
h)
Pasien disuruh evakuasi di kamar kecil atau bila menggunakan irigator set
disposable, bags direndahkan sehingga barium akan keluar dan ditampung dengan
receiver.
i)
Setelah evakuasi, dibuat foto post evakuasi.
j)
Posisi-posisi yang dibuat:
Posisi AP/PA
Pasien diposisikan supine/prone di atas meja pemeriksaan.
CR vertikal tegak lurus kaset dengan CP berada pada MSL setinggi Crista
Illiaca.
Kriteria Gambar:
Seluruh usus besar tergambar termasuk flexura.
Columna vertebralis pada pertengahan film.
Posisi LAO
Pasien diposisikan LAO 45 di atas meja pemeriksaan.
CR vertikal tegak lurus terhadap kaset dengan CP berada pada kira-kira 2 inci
ke arah kanan dari MSL setinggi Crista Illiaca.
Kriteria Gambar: tampak gambaran flexura lienalis dan colon descendens.
Posisi RAO
Pasien diposisikan RAO 35-45 di atas meja pemeriksaan.
CR vertikal tegak lurus terhadap kaset dengan CP berada pada kira-kira 2 inci
ke arah kiri dari MSL setinggi Crista Illiaca.
Kriteria Gambar: tampak gambaran flexura hepatica, colon ascendens,
caecum, colon sygmoid.
Posisi PA Axial
Pasien diposisikan prone di atas meja pemeriksaan.
CR 30-45 caudally dengan CP pada MSL setinggi SIAS.
Menggunakan film ukuran 24 x 30 cm.
Kriteria Gambar: tampak daerah rectosygmoid dengan superposisi yang lebih
kecil dibandingkan gambaran posisi PA.
Posisi AP Axial
Posisi pasien supine di atas meja pemeriksaan.
CR 30-40 cranially dengan CP pada tepi bawah symphisis pubis.
Menggunakan film ukuran 24 x 30 cm.
Kriteria Gambar: tampak gambaran daerah rectosygmoid dengan superposisi
leebih kecil dibandingkan dengan posisi AP.
Posisi Lateral
Pasien diposisikan laretal recumbent pada sisi kiri atau kanan di atas meja
pemeriksaan.
CR vertikal tegak lurus kaset dengan CP pada Mid Axillary Plane 5-7 cm di
atas symphisis pubis.
Menggunakan film ukuran 24 x 30 cm.
Kriteria Gambar: tampak rectum pada pertengahan kaset dan kedua femur
superposisi.

2) Metode Kontras Ganda


a) Metode Satu Tahap
Dibuat foto pendahuluan Abdomen posisi AP.
Prosedur pemasukan media kontras positif (+) sama dengan metode kontras
tunggal.
Klem selang irigator dibuka, media kontras positif (+) akan mengalir, kira-kira
300-350 mL masuk ke dalam rectum dikontrol dengan fluoroscopy.
Bila media kontras positif (+) telah mencapai colon transversum, klem ditutup
, meja pemeriksaan diposisikan horizontal, lalu pompakan udara dengan
menggunakan Regular Sphygmomanometer Bulb dengan memposisikan pasien lateral
kiri, LAO, prone, RAO, lateral kanan, RPO, dan supine, masing-masing 7 pompaan.
Foto-foto dibuat dengan posisi AP/PA, LAO, RAO, AP/PA axial, lateral.
b) Metode Dua Tahap
Prosedur awal pemasukan media kontras positif (+) dan pengambilan foto
sama dengan metode satu tahap.
Bila media kontras telah mencapai illeocaecal, klem selang irigator ditutup,
kemudian dibuat foto full filling dengan posisi pasien supine.
Kemudian pasien evakuasi ke kamar kecil atau enema bag direndahkan
posisinya sampai lebih rendah dari meja pemeriksaan, media kontras dari dalam colon
akan mengalir kembali ke dalam enema bag.
Setelah colon kosong, pompakan udara melalui anus, sampai terjadi distensi
usus.
Dibuat foto evakuasi dengan posisi pasien supine.
5. Pemeriksaan Appendicografi
a. Pengertian
Pemeriksaan Appendicografi adalah pemerikasaan radiografi dari appendiks
vermiformis dengan pemasukan media kontras positif (+) melalui mulut.
b. Tujuan Pemeriksaan
Untuk memperlihatkan atau menilai kelainan-kelainan yang terjadi pada appendiks
vermiformis melalui pengisian media kontras ke dalam lumen appendiks.
c.
Indikasi Pemeriksaan
1) Appendiksitis
d. Persiapan Pasien
1)
Makan makanan yang mempunyai konsistensi lunak, rendah serat, dan rendah
lemak.
2) Minum lebih banyak.
3) Diberikan obat pencahar.
e. Tahapan Pemeriksaan
1) Pembuatan foto pendahuluan Abdomen AP supine.
2)
Kemudian pasien diberikan media kontras dengan meminum BaSO dengan
viskositas 1:2.
3) Pembuatan foto setelah meminum media kontras:
a)
Waktu pengambilan foto bervariasi menurut kebiasaan di rumah sakit, misal 8
jam, 12 jam atau 14 jam, setelah minum media kontras.
b) Posisi oblique dengan pasien supine dan prone.

Pengertian
Pemeriksaan radiografi dari usus besar ( colon ) dengan menggunakan bahan kontras
yang dimasukkan per anal. Pemeriksaan ini termasuk barium enema.dan memerlukan

persiapan pasien.
B. Tujuan pemeriksaan
Untuk menggambarkan usus besar yang berisi kontras media,sehingga dapat
memperlihatkan anatomi dan kelainan-kelainan yang terjadi baik pada mucosanya
maupun yang terdapat pada lumen khusus.
C.

Anatomi Fisiologi
Colon merupakan bagian paling distal dari tractus digestivus.
Panjangnya kira-kira 1,5 2 m.
Diameter sekitar 6,5 cm pada daerah caecum.
Terbagi atas :
Colon Ascendens
Colon Transversum
Colon Descendens
Colon Sigmoid
Terdapat 3 flexura:
Flexura Hepatica : Di bawah hati , peralihan dari colon ascendens ke colon
transversum.
Flexura Linealis : Di bawah pancreas , peralihan dari colon transversum ke
colon descendens.
Flexura Sigmoidea : Peralihan dari colon descendens ke colon sigmoid.
Terdapat diverticulum pada caecum yang disebut appendiks.

D.

Fungsi colon
Menyerap Air, Garam dan Glukosa selama proses pencernaan
Sekresi musin oleh kelenjar di dalam lapisan dalam.
Tempat dihasilkan vitamin K, dan Vitamin H (Biotin) sebagai hasil simbiosis
dengan bakteri usus, misalnya : E.Coli.
Mendorong sisa makanan hasil pencernaan (feses) keluar dari tubuh (Defekasi).

E.

Indikasi Pemeriksaan
Colitis : Peradangan / Imflamasi pada mucosa colon.

Polyp,lesi,tumor,carcinoma.
Diverticulitis.
Megacolon.
Invaginasi yaitu masuknya lumen usus bagian proximal ke dalam lumen usus
bagian lebih distal yang diameternya lebih besar, pemeriksaan ini dilakukan pada
pasien anak-anak, sifatnya sebagai tindakan terapi.
F.

Metoda Pemeriksaan
Metoda Kontras Tunggal
Metoda Kontras ganda
Satu tahap
Dua Tahap
Kontras Media:
Kontras media positif Barium Sulfat dengan viscositas 1:8, Kontras media negative
(Udara).
Metoda satu tahap : Pemasukan kontras media negative dilakukan setelah
pemasukan kontras media poitif tanpa evacuasi terlebih dahulu.
Metoda dua tahap : Pemasukan kontras media negative dilakukan setelah
pemasukan kontras media positif setelah evacuasi terlebih dahulu.
G.

Persiapan Pasien
Dua hari sebelum pemeriksaan pasien makan makanan lunak
Makan terakhir jam 19.00, malam sebelum pemeriksaan.
Minum obat pencahar pada jam 20.00.
Boleh minum sampai jam 23.00, tidak merokok, puasa sampai dilakukan
pemeriksaan.
Premedikasi : Buscopan atau Glukagon (bila perlu).
H.

Alat dan bahan yang digunakan


Pesawat dengan fluoroscopy yang dapat dilengkapi image intensifier dan TV
monitor, dan meja pemeriksaan tilting table.
Irigator set atau disposable soft plastic enema tips and enema bags.
Receiver.
Vaseline.
Rectal canule/tube.
Sarung tangan
Laken/kain penutup meja pemeriksaan.

I.

Prosedur pemeriksaan
Metoda kontras Tunggal
Pasien diposisikan supine diatas meja pemeriksaan, dibuat foto pendahuluan.
Kemudian miring kearah kiri, sehingga bagian tubuh kanan terangkat dengn
kemiringan 35-40 derajat,lutut kanan fleksi dan diletakkan di depan lutut kiri.
Irrigator dipasang dengan tinggi kira-kira 24 inci diatas ketinggian anus,
volume barium sulfat kira-kira 2000 ml.
Rectal tube dipolesi Vaseline, dimasukkan melalui anal kedalam rectum.
Klem irrigator dibuka, barium akan mengalir masuk ke dalam rectum.
Dengan dikontrol fluoroscopy, dibuat spot view/ foto untuk daerah yang
dicurigai ada kelainan.
Bila pengisian barium sulfat telah mencapai ileo-caecal, klem ditutup kembali,
dibuat foto full filling dari colon.
Pasien disuruh evacuasi di kamar kecil atau bila menggunakan irrigator set
disposable,bags direndahkan sehingga barium akan keluar dan ditampung dengan
receiver.
Setelah evacuasi dibuat foto post evacuasi.
Posisi-posisi yang dibuat:
PA/AP
LAO
RAO
PA AXIAL/AP AXIAL
Lateral

Posisi PA atau AP
Tujuan : Untuk menggambarkan seluruh colon dengan CP setinggi Crista Iliaca
Pasien : Supine atau prone, CR vertical
Kriteria gambar

Seluruh usus besar tergambar termasuk semua flexura tampak.

Columna vertebralis pada pertengahan film.

Posisi LAO
Tujuan : Untuk menggambarkan flexura linealis dan colon descendens
Pasien : LAO 45 derajat, CR vertikal, CP kira-kira 2 inci ke arah kanaari msl setinggi
crista iliaca
Kriteria gambar :

Tampak gambaran flexura lienalis dan colon desenden


Posisi RAO
Tujuan : Untuk menggambarkan flexura hepatika,colon ascenden dan colon sigmoid.
Pasien : RAO 35 45 derajat
CR vertikal, CP : kira-kira 2 inci ke arah kiri dari MSL setinggi crista iliaca
Kriteria gambar :

Tampak gambaran flexura hepatika,colon ascendens,cecum,colon sigmoid.


Posisi PA axial
Tujuan : Untuk menggambarkan daerah rectosigmoid
Pasien : prone
CR : 30 40 derajat, CP : pada MSL setinggi sias

Film : 24 cm X 30 cm
Kriteria gambar :

Tampak daerah rectosigmoid dengan superposisi yang lebih kecil di


bandingkan gambaran posisi PA
Posisi AP Axial
Tujuan : Untuk menggambarkan daerah rectosigmoid
Pasien : supine
CR : 30 - 40 derajat, CP : tepi bawah syimpisis pubis
Film : 24 X 30 cm
Kriteria gambar :

Tampak gambaran daerah rectosigmoid dengan superposisi lebih kecil di


bandingkan dengan posisi AP
Posisi Lateral
Tujuan : untuk menggambarkan rectum dan daerah rectosigmoid
Pasien : Lateral recumbent padasisi kiri atau kanan
CR vertikal, CP : pada mid Axilari plane 5 7 cm di atas syimfisis
pubis

Film : 24 X 30 cm
Kriteria gambar :
Tampak rectum pada pertengahan kaset
Kedua femur superposisi

Metode kontras ganda

Metode satu tahap


Dibuat foto pendahuluan : abdomen posisi AP
Prosedur pemasukan bahan kontras positif sama dengan metode kontras
tunggal
Klem selang irigator dibuka bahan kontras(+) akan mengalir kira-kira 300-400
ml masuk ke dalam rektum dikontrol dengan fluoroscopy
Bila kontras media positif telah mencapai colon transversum klem
ditutup,meja diposisikan horizontal,lalu pompakan udara dengan menggunakan
reguler sphygnomomanometer bulb.
Dengan memposisikan pasien: lateral kiri,LAO,prone,RAO,lateral
kanan,RPO,dan supine masing-masing 7 pompaan.
Foto-foto dibuat dengan posisi-posisi : PA/AP,LAO,RAO,PA/AP axial,lateral
Tujuan masing-masing posisi sama dengan metode kontras tunggal

Metode dua tahap


Prosedua awal pemasukan bahan kontras positi dan pengambilan foto sama
dengan metode satu tahap
Bila bahan kontras telah mencapai ileo caecal, klem selang irigator di
tutup,kemudian di buat foto full filling dengan posisi pasien supine
Kemudian pasien evacuasi ke kamar kecil atau enema bag direndahkan
posisina sampai lebih rendah dari meja pemeriksaan,bahan kontras dari dalam colon
akan mengalir kembali ke dalam enema bag
Setelah colon kosong,pompakan udara melalui anus,sampai terjadi distensi
usus
Bibuat foto post evacuasi dengan posisi pasien supine.

Berikut ini hasil gambaran radiografinya :)

Makroskopik
UC adalah penyakit mukosa yang biasanya melibatkan rektum dan meluas ke
proksimal sampai meliputi seluruh atau sebagian kolon. 40-50% pasien menderita
penyakit yang terbatas pada rectum dan rectosigmoid, 30-40% meluas keluar sigmoid

tetapi tidak melibatkan kolon yang besar, dan 20% menderita total colitis. Penyebaran
proksimal secara berkelanjutan tanpa area yang tidak melibatkan mukosa. Ketika
kolon besar terlibat, inflamasi meluas 2-3cm sampai ke terminal ileum pada 10-20%
pasien. Perubahan endoskopik pada backwash ileitis adalah superfisial dan ringan
merupakan sedikit signifikan klinis. Meskipun aktivitas makroskopik menyarankan
untuk menskip daerah tsb, biopsi normal-muncul mukosa yg biasanya abnormal. Jadi,
hal ini penting untuk memperoleh multiple biopsi yang tampaknya tidak melibatkan
mukosa, apakah proksimal atau distal, selama endoskopi. Satu peringatan adalah
terapi medis efektif yang dapat mengubah penampilan mukosa seperti menskip area
atau masuk ke kolon dapat menjadi normal secara mikroskopik.
Dengan inflamasi ringan, mukosa eritem dan memiliki granular surface yang baik
menyerupai sandpaper. Pada penyakit yang lebih berat, mukosa jadi hemoragik,
edema dan ulserasi. Pada penyakit jangka panjang, terjadi inflamasi
polip(pseudopolyps) yang mungkin terjadi dari hasil regenerasi epitelial. Mukosa
mungkin kelihatan normal pada remission, tetapi pada pasien dengan penyakit
beberapa tahun kelihatan atrofi dan tanpa ciri yang khas dan masuk ke kolon menjadi
narrowed dan shortened. Pasien dengan penyakit fulminan dapat berkembang menjadi
toxic colitis atau megakolon dimana dinding usus menjadi tipis dan mukosa
diperparah dengan ulserasi, mungkin hal ini yang memicu perforasi
Mikroskopik
Penemuan histologi berhubungan baik dengan keadaan endoskopi dan rangkaian
klinis Kolitis Ulserativa. Prosesnya terbatas pada mukosa dan superficial submukosa,
dengan lapisan dalam nya yang tidak rusak kecuali pada penyakit fulminan. Pada
Kolitis Ulserativa, dua gejala histologi utama menunjuk pada kronisita dan
membantu membedakan dari infeksi atau acute self-limited colitis. Pertama,
arsitektur kripta pada kolon berubah; kriptanya jadi berkurang jumlahnya, sering
dengan kekosongan diantara basis kripta dan muscularis mucosa. Kedua, beberapa
pasien memiliki sel plasma basal dan kumpulan multiple limfoid basal. Tersumbatnya
sistem pembuluh darah mukosa, dengan edema dan perdarahan fokal, dan sebuah sel
radang menginfiltrasi seperti neutrofil, limfosit, sel plasma dan makrofag mungkin
juga ada. Neutrofil menyerbu epitel, biasanya pada kripta, memberikan peningkatan
pada criptitis dan akhirnya abses kripta. Perubahan ileal pada pasien dengan
backwash ileitis termasuk atrofi villous dan regenerasi kripta dengan peningkatan
inflamasi, peningkatan neutrofil dan inflamasi PMN di lamina propria, dan patchy
cryptitis dan crypt abcesses.
Presentasi Klinis
Tanda dan Gejala
Gejala utama Kolitis Ulserativa adalah diare, perdarahan rectal, tenesmus,
mengeluarkan mucus dan nyeri kram abdomen. Gejala keparahan penyakit tersebut
berhubungan dengan luasnya penyakit tersebut. Meskipun Kolitis Ulserativa dapat
terjadi akut, gejala yang muncul biasanya berminggu-minggu sampai berbulan-bulan.
Kadang-kadang, diare dan perdarahan terjadi sebentar-sebentar dan ringan bahkan
pasien tidak memperhatikan secara medis.
Pasien dengan Proctitis biasanya mengeluarkan darah segar atau darah yang
bercampur dengan mucus, atau bercampur dengan tinja. Pasien juga biasanya
mengalami tenesmus, tapi jarang mengalami nyeri abdomen. Dengan Proctitis atau
proctosigmoiditis, pelannya transit pada daerah proksimal, yang menunjukan jumlah
pasien dengan kontipasi biasanya terlihat pada penyakit di daerah distal.
Ketika penyakit meluas melewati rectum, darah biasanya bercampur dengan tinja atau
terjadi diare yang terlalu berdarah. Motilitas kolon dipengaruhi oleh inflamasi dengan

transit cepat saat melewati usus yang mengalami inflamasi. Ketika penyakit terjadi
parah, pasien mengeluarkan tinja cair yang mengandung darah, nanah, dan fecal
matter. Diare seringkali nokturnal atau postprandial. Meskipun nyeri yang parah
bukan gejala menonjol, beberapa pasien dengan penyakit yang aktif mungkin
mengalami ketidaknyamanan pada abdomen bagian bawah yang samar atau kram
abdomen central yang ringan. Kram berat dan nyeri abdomen dapat terjadi dengan
serangan yang berat pada penyakit tsb. Gejala yang lain pada penyakit fase sedang
sampai fase berat meliputi anoreksia, mual, muntah, demam dan kehilangan berat
badan.
Tanda fisik pada proctitis meliputi canal anal yang lunak dan adanya darah pada
pemeriksaan rectal. Dengan penyakit yang lebih meluas , pasien biasanya lembut saat
dipalpasi sekitar kolon. Pasien dengan toxic colitis memiliki nyeri yang berat dan juga
terjadi perdarahan, dan yang disertai megakolon biasanya tympani pada organ hati
nya. Keduanya dapat menjadi tanda peritonitis jika perforasi telah terjadi.
Laboratorium,Endoskopi dan Radiografik
Penyakit yang aktif berhubungan dg peningkatan pada reaktan fase akut(CRP),
jumlah trombosit, LED meningkat dan penurunan jumlah Hb. Fecal lactoferrin adalah
penanda paling tinggi sensitifitas dan spesifitasnya untuk mendeteksi inflamasi pada
usus. Level calprotectin fecal berhubungan baik dg inflamasi histologi, pediksi relaps
dan deteksi pouchitis. Pada pasien yg sakitnya parah, level serum albumin menurun
dengan cepat. Terjadi leukositosis tapi bukan merupakan indikator spesifik aktivitas
penyakit. Proctitis atau proctosigmoiditis jarang menyebabkan peningkatan CRP.
Diagnosis dibuat berdasarkan riwayat pasien; gejala klinis; pemeriksaan feses negatif
terhadap bakteri, toksin C. Difficile dan ova dan parasit: pendekatan sigmoidoskopi
dan histologi rectal atau spesimen biopsi kolon.
Sigmoidoskopi digunakan untuk menilai aktivitas penyakit dan biasanya dilakukan
sebelum treatment. Jika pasien tidak dalam fase gejala akut, kolonoskopi digunakan
untuk menilai aktivitas dan tingkat penyakit. Penyakit yang dalam fase ringan ketika
di endoskopi,memiliki ciri-ciri eritema, penurunan pola vaskular, dan friability ringan.
Penyakit dalam fase sedang ditandai dg eritema, pola vaskular yg tidak ada, friability
dan erosi dan penyakit fase berat dg adanya perdarahan spontan dan ulserasi. Gejala
histologi berubah lebih lambat daripada gejala klinis tetapi dapat juga digunakan
untuk menentukan tingkat aktivitas penyakit.
Perubahan radiologi awal yang terlihat pada kolitis ulseratif pada single contrast
barium enema adalah granularitas mukosa yang baik. Meningkat seiring dg tingkat
keparahan penyakit, mukosa menjadi lebih tebal dan terlihat ulserasi pada daerah
superficial. Ulserasi yang dalam tampak collar button ulcers, yang menujukkan
bahwa ulserasi telah menembus mukosa. Lipatan Haustralmungkin masih normal
pada penyakit yang masih dalam fase ringan, tetapi berkembang menjadi edema dan
tebal. Kehilangan haustral dapat terjadi, terutama pada pasien dengan penyakit yang
berlangsung dengan fase lama. Kolon menjadi lebih pendek dan tajam. Polip pada
kolon mungkin merupakan post inflammatory polip atau pseudopolip, adenomatous
polip atau karsinoma.
CT Scan tidak membantu sebaik endoskopi dan barium enema dalam menegakkan
diagnosis Kolitis Ulsetativa, tetapi jenis yang bisa ditemukan termasuk pada
penebalan dinding yang sedang(<1,5cm), densitas dinding yang inhomogen, tidak
adanya penebalan pada usus halus, peningkatan perirectal dan presacral fat,
pendekatan pd target rektum, dan adenopati.
Komplikasi
Hanya 15% pasien dengan kolitis ulserativa yang menjadi awal penyakir

catastrophic. Perdarahan masif terjadi dengan serangan penyakit yang parah pada 1%
pasien dan treatmen untuk penyakit tsb biasanya dengan menghentikan perdarahan.
Bagaimanapun, jika seorang pasien membutuhkan 6-8 unit darah dalam 24-48 jam,
maka indikasinya dilakukan colectomy. Toxic megacolon didefinisikan sebagai kolon
transversa atau bagian kanan kolon dg diameter >6cm, dengan kehilangan haustra
pada pasien dengan serangan yang berat pada Kolitis Ulserativa. Hal ini terjadi pada
5% serangan dan dapat dipicu oleh abnormalitas elektrolit dan narkotika. 50%
dilatasi akut diselesaikan dengan terapi medis sendiri, tetapi colectomy yg
mendesak dibutuhkan untuk menyembuhkannya. Perforasi adalah komplikasi lokal
yang paling berbahaya, dan tanda fisik pada penderita peritonitis tidak jelas, terutama
jika pasien mengkonsumsi glukokortikoid. Meskipun perforasi jarang terjadi, tingkat
kematian untuk perforasi komplikasi megakolon toksik 15%. Sebagai tambahan,
pasien dapat berkembang menjadi toxic kolitis dan perforasi yang parah dimana
ususnya langsung mengalami perforasi tanpa mengalami dilatasi terlebih dahulu.
Striktur terjadi pada 5-10% pasien dan selalu menyangkut Kolitis Ulseratif karena
memungkinkan mendasari terjadinya neoplasia. Meskipun striktur yang tidak ganas
dapat dibentuk dari inflamasi dan fibrosis Kolitis Ulserativa, Striktur itu tidak dapat
dilalui dengan kolonoskopi yang seharusnya dapat mendiagnosis keganasan sampai
dibuktikan sebaliknya. Striktur yang menghalangi jalan untuk kolonoskopi adalah
indikasi untuk operasi. Pasien Kolitis Ulserativa kadang-kadang berkembang menjadi
fissura ani, abses perianal, atau hemmorrhoid, tetapi terjadinya lesi perianal yang luas
seharusnya menjadi diagnosis dari Crohns Disease.
SUMBER: Harrison's Principles Internal Medicine 18th Edition
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah penyakit inflamasi yang melibatkan
saluran cerna dengan penyebab pastinya sampai saat ini belum diketahui jelas. Secara
garis besar IBD teridiri dari 3 jenis, yaitu colitis ulseratif, penyakit Crohn, dan bila
sulit membedakan kedua hal tersebut, maka dimasukkan dalam kategori indeterminate
colitis (Ariestine, 2008). Colitis ulseratif merupakan salah satu dari dua tipe
Inflammatory Bowel Disease (IBD), selain Crohn disease. Tidak seperti Crohn
disease, yang dapat mengenai semua bagian dari traktus gastrointestinal, colitis
ulseratif seringnya mengenai usus besar, dan dapat terlihat dengan colonoscopy.
Colitis ulseratif merupakan penyakit seumur hidup yang memiliki dampak emosional
dan sosial yang amat sangat pada pasien yang terkena, dan ditandai dengan adanya
eksaserbasi secara intermitten dan remisinya gejala klinik (Basson, 2011).
Etiologi pasti dari colitis ulseratif masih belum diketahui, tetapi penyakit ini
multifaktorial dan polygenic. Faktor-faktor penyebabnya termasuk faktor lingkungan,
disfungsi imun, dan predisposisi genetik. Ada beberapa sugesti bahwa anak dengan
berat badan lahir di bawah rata-rata yang lahir dari ibu dengan colitis ulseratif
memiliki risiko lebih besar untuk terjadinya perkembangan penyakit (Basson, 2011).
Histocompatibility human leukocyte antigen (HLA-B27) merupakan antigen yang
sering teridentifikasi pada pasien-pasien dengan colitis ulseratif, meskipun penemuan
ini tidak berhubungan dengan kondisi pasien, dan adanya HLA-B27 tidak
menunjukkan peningkatan risiko untuk colitis ulseratif. Colitis ulseratif bisa
dipengaruhi oleh makanan, meskipun makanan hanya sebagai faktor sekunder.
Antigen makanan atau bakterial dapat berefek pada mukosa usus yang telah rusak,

sehingga meningkatkan permeabilitasnya (Basson, 2011).


Di Amerika Serikat, sekitar 1 miliar orang terkena colitis ulseratif. Insidennya 10.4-12
kasus per 100.000 orang per tahunnya. Rata-rata prevalensinya antara 35-100 kasus
per 100.000 orang (Basson, 2011). Sementara itu, puncak kejadian penyakit tersebut
adalah antara usia 15 dan 35 tahun, penyakit ini telah dilaporkan terjadi pada setiap
decade kehidupan (Ariestine, 2008). Colitis ulseratif terjadi 3 kali lebih sering
daripada Crohn disease. Colitis ulseratif terjadi lebih sering pada orang kulit putih
daripada orang African American atau Hispanic. Colitis ulseratif juga lebih sering
terjadi pada wanita daripada laki-laki (Basson, 2011).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara menegakkan diagnosis colitis ulseratif?
2. Bagaimana penatalaksanaan colitis ulseratif?
C. Tujuan
1. Mengetahui cara menegakkan diagnosis colitis ulseratif.
2. Mengetahui penatalaksanaan pada kasus colitis ulseratif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah penyakit inflamasi yang melibatkan
saluran cerna dengan penyebab pastinya sampai saat ini belum diketahui jelas. Secara
garis besar IBD teridiri dari 3 jenis, yaitu colitis ulseratif, penyakit Crohn, dan bila
sulit membedakan kedua hal tersebut, maka dimasukkan dalam kategori indeterminate
colitis. Hal ini untuk secara praktis membedakannya dengan penyakit inflamasi usus
lainnya seperti infeksi, iskemia dan radiasi (Djojoningrat, 2006). Colitis ulseratif
merupakan salah satu dari dua tipe Inflammatory Bowel Disease (IBD), selain Crohn
disease. Tidak seperti Crohn disease, yang dapat mengenai semua bagian dari traktus
gastrointestinal, colitis ulseratif seringnya mengenai usus besar, dan dapat terlihat
dengan colonoscopy (Basson, 2011).
B. Epidemiologi
Di Amerika Serikat, sekitar 1 miliar orang terkena colitis ulseratif. Insidennya 10.4-12
kasus per 100.000 orang per tahunnya. Rata-rata prevalensinya antara 35-100 kasus
per 100.000 orang (Basson, 2011). Sementara itu, puncak kejadian penyakit tersebut
adalah antara usia 15 dan 35 tahun, penyakit ini telah dilaporkan terjadi pada setiap
decade kehidupan (Ariestine, 2008). Colitis ulseratif terjadi 3 kali lebih sering
daripada Crohn disease. Colitis ulseratif terjadi lebih sering pada orang kulit putih
daripada orang African American atau Hispanic. Colitis ulseratif juga lebih sering
terjadi pada wanita daripada laki-laki (Basson, 2011).
C. Etiopatogenesis
Etiologi pasti dari colitis ulseratif masih belum diketahui, tetapi penyakit ini
multifaktorial dan polygenic. Faktor-faktor penyebabnya termasuk faktor lingkungan,
disfungsi imun, dan predisposisi genetik. Ada beberapa sugesti bahwa anak dengan

berat badan lahir di bawah rata-rata yang lahir dari ibu dengan colitis ulseratif
memiliki risiko lebih besar untuk terjadinya perkembangan penyakit (Basson, 2011).
Histocompatibility human leukocyte antigen (HLA-B27) merupakan antigen yang
sering teridentifikasi pada pasien-pasien dengan colitis ulseratif, meskipun penemuan
ini tidak berhubungan dengan kondisi pasien, dan adanya HLA-B27 tidak
menunjukkan peningkatan risiko untuk colitis ulseratif. Colitis ulseratif bisa
dipengaruhi oleh makanan, meskipun makanan hanya sebagai faktor sekunder.
Antigen makanan atau bakterial dapat berefek pada mukosa usus yang telah rusak,
sehingga meningkatkan permeabilitasnya (Basson, 2011).
Sementara penyebab colitis ulseratif tetap tidak diketahui, gambaran tertentu dari
penyakit ini telah menunjukkan beberapa kemungkinan penting. Hal ini meliputi
faktor familial atau genetik, infeksi, imunologik dan psikologik.
1. Faktor familial/genetik
Penyakit ini lebih sering dijumpai pada orang kulit putih daripada orang kulit hitam
dan orang Cina. Hal ini menunjukkan bahwa ada predisposisi genetik terhadap
perkembangan penyakit ini.
2. Faktor infeksi
Sifat radang kronik penyakit ini telah mendukung suatu pencarian terus-menerus
untuk kemungkinan penyebab infeksi. Di samping banyak usaha menemukan agen
bakteri, jamur, atau virus, belum ada yang sedemikian diisolasi. Laporan awal isolate
varian dinding sel Pseudomonas atau agem yang ditularkan yang menghasilkan efek
sitopatik pada kultur jaringan masih dikonfirmasi.
3. Faktor imunologik
Teori bahwa mekanisme imun dapat terlibat didasarkan pada konsep bahwa
manifestasi ekstraintestinal yang dapat menyertai kelainan ini (misalnya arthritis,
perikolangitis) dapat mewakili fenomena autoimun dan bahwa zat terapeutik tersebut,
seperti glukokortikoid atau azatioprin, dapat menunjukkan efek mereka melalui
mekanisme imunosupresif.
Pada 60-70% pasien dengan colitis ulseratif, ditemukan adanya p-ANCA (perinuclear
anti-neutrophilic cytoplasmic antibodies). Walaupun p-ANCA tidak terlibat dalam
pathogenesis penyakit colitis ulseraif, namun ia dikaitkan dengan alel HLA-DR2,
dimana pasien dengan p-ANCA negative lebih cenderung menjadi HLA-DR4 positif.
4. Faktor psikologik
Gambaran psikologis pasien penyakit radang usus juga telah ditekankan. Tidak lazim
bahwa penyakit ini pada mula terjadinya, atau berkembang, sehubungan dengan
adanya stress psikologis mayor misalnya kehilangan seorang anggota keluarganya.
Telah dikatakan bahwa pasien penyakit radang usus memiliki kepribadian yang khas
yang membuat mereka menjadi rentan terhadap stress emosi yang sebaliknya dapat
merangsang atau mengeksaserbasi gejalanya.
5. Faktor lingkungan
Ada hubungan terbalik antara operasi apendiktomi dan penyakit colitis ulseratif
berdasarkan analisis bahwa insiden penyakit colitis ulseratif menurun secara
signifikan pada pasien yang menjalani operasi apendiktomi pada decade ke-3.
Beberapa penelitian sekarang menunjukkan penurunan risiko penyakit colitis ulseratif
di antara perokok dibandingkan dengan yang bukan perokok. Analisis meta

menunjukkan risiko penyakit colitis ulseratif pada perokok sebanyak 40%


dibandingkan dengan yang bukan perokok.
Ada bukti aktivasi imun pada IBD, dengan infiltrasi lamina propria oleh limfosit,
makrofag, dan sel-sel lain, meskipun antigen pencetusnya belum jelas. Virus dan
bakteri telah diperkirakan sebagai pencetus, namun sedikit yang mendukung adanya
infeksi spesifik yang menjadi penyebab IBD. Hipotesis yang kedua adalah bahwa
dietary antigen atau agen mikroba non pathogen yang normal mengaktivasi respon
imun yang abnormal. Hasilnya suatu mekanisme penghambat yang gagal. Pada tikus,
defek genetik pada fungsi sel T atau produksi sitokin menghasilkan respon imun yang
tidak terkontrol pada flora normal kolon. Hipotesis ketiga adalah bahwa pencetus IBD
adalah suatu autoantigen yang dihasilkan oleh epitel intestinal. Pada teori ini, pasien
menghasilkan respon imun inisial melawan antigen luminal, yang tetap dan diperkuat
karna kesamaan antara antigen luminal dan protein tuan rumah. Hipotesis autoimun
ini meliputi pengrusakan sel-sel epithelial oleh sitotoksisitas seluler antibodydependent atau sitotoksisitas cell-mediated secara langsung.
Imun respon cell-mediated juga terlibat dalam pathogenesis IBD. Ada peningkatan
sekresi antibody oleh sel mononuclear intestinal, terutama IgG dan IgM yang
melengkapi komplemen. Colitis ulseratif dihubungkan dengan meningktanya
produksi IgG1 (oleh limfosit Th2) dan IgG3, sub tipe yang respon terhadap protein
dan antigen T-cell dependent. Ada juga peningkatan produksi sitokin proinflamasi
(IL-1, IL-6, IL-8 dan tumor necrosis factor- (TNF- ), terutama pada aktivasi
makrofag di lamina propria. Sitokin yang lain (IL-10, TGF-) menurunkan imun
respon. Defek produksi sitokin ini menghasilkan inflamasi yang kronis. Sitokin juga
terlibat dalam penyembuhan luka dan proses fibrosis. Faktor imun yang lain dalam
pembentukan penyakit IBD termasuk produksi superoksida dan spesies oksigen
reaktif yang lain oleh aktivasi netrofil, mediator soluble yang meningkatkan
permeabilitas dan merangsang vasodilatasi, komponen kemotaksis netrofil lekotrien
dan nitrit oksida yang menyebabkan vasodilatasi dan edema (Ariestine, 2008).
D. Manifestasi Klinis
1. Gejala Klinis
Gejala utama colitis ulseratif adalah diare berdarah dan nyeri abdomen,
seringkali dengan demam dan penurunan berat badan pada kasus berat. Pada penyakit
ringan, bisa terdapat satu atau dua feses yang setengah berbentuk yang mengandung
sedikit darah dan tanpa manifestasi sistemik.
Derajat klinik colitis ulseratif dapat dibagi atas berat, sedang dan ringan,
berdasarkan frekuensi diare, ada/tidaknya demam, derajat beratnya anemia yang
terjadi dan laju endap darah (klasifikasi Truelove). Perjalanan penyakit colitis
ulseratif dapat dimulai dengan serangan pertama yang berat ataupun dimulai ringan
yang bertambah berat secara gradual setiap minggu. Berat ringannya serangan
pertama sesuai dengan panjangnya kolon yang terlibat. Pada colitis ulseratif, terdapat
reksi radang yang secara primer mengenai mukosa kolon. Secara makroskopik,, kolon
tampak berulserasi, hiperemik, dan biasanya hemoragik. Gambaran mencolok dari
radang adalah bahwa sifatnya seragam dan kontinu dengan tidak ada daerah tersisa
mukosa yang normal.
Perjalanan klinis colitis ulseratif bervariasi. Mayoritas pasien akan mendertia relaps
dalam waktu 1 tahun dari serangan pertama, mencerminkan sifat rekuren dari
penyakit. Namun demikian, bisa terdapat periode remisi yang berkepanjangan hanya
dengan gejala minimal. Pada umumnya, beratnya gejala mencerminkan luasnya

keterlibatan kolon dan intensitas radang (Ariestine, 2008).


Tabel 1. Truelove and Witts classification of severity of ulcerative colitis
Activity
Mild
Moderate
Number of bloody stools per day (n)
<4 o:p="">
Temperature (C)
Heart rate (beats per minute)
Haemoglobin (g/dl)
Erythrocyte sedimentation rate (mm/h)
Afebrile
Normal
>11
<20 o:p="">
4-6
Intermediate
Intermediate
10.5-11
20-30
>6
>37.8
>90
<10 .5="" o:p="">
>30

Severe

Temuan fisik pada colitis ulseratif biasanya nonspesifik, bisa terdapat distensi
abdomen atau nyeri sepanjang perjalanan kolon. Pada kasus ringan, pemeriksaan fisik
umum akan normal. Demam, takikardia dan hipotensi postural biasanya berhubungan
dengan penyakit yang lebih berat (Ariestine, 2008).
Manifestasi ekstraintestinal bisa dijumpai, yaitu :
1. Sendi : peripheral arthritis, ankylosing spondylitis dan sacroilitis (berhubungan
dengan HLA-B27)
2. Kulit : erythema nodosum, aphtous ulcer, pyoderma gangrenosum
3. Mata : episkleritis, iritis, uveitis
4. Liver : fatty liver, pericholangitis (intrahepatic sclerosing cholangitis), primary
sclerosing cholangitis, cholangiocarcinoma, chronic hepatitis
5. Lain-lain : autoimmune hemolytic anemia, phlebitis, pulmonary embolus
(hypercoagulable state) (Fauci, 2009).
2. Gambaran Laboratorium
Temuan laboratorium seringkali nonspesifik dan mencerminkan derajat dan
beratnya perdarahan dan inflamasi. Bisa terdapat anemia yang mencerminkan
penyakit kronik serta defisiensi besi akibat kehilangan darah kronik. Leukositosis
dengan pergeseran ke kiri dan peningkatan laju endap darah seringkali terlihat pada
pasien demam yang sakit berat. Kelainan elektrolit, terutama hipokalemia,
mencerminkan derajat diare. Hipoalbuminemia umum terjadi dengan penyakit yang
ekstensif dan biasanya mewakili hilangnya protein lumen melalui mukosa yang
ulserasi. Peningkatan kadar alkali fosfatase dapat menunjukkan penyakit
hepatobiliaris yang berhubungan.
Pemeriksaan kultur feses (pathogen usus dan bila diperlukan, Escherichia coli
(O157:H7), ova, parasit dan toksin Clostridium difficile negative.

Pemeriksaan antibody p-ANCA dan ASCA (antibody Saccharomyces


cerevisae mannan) berguna untuk membedakan penyakit colitis ulseratif dengan
penyakit Crohn (Ariestine, 2008).
3. Gambaran Radiologi
a. Foto polos abdomen
Pada foto polos abdomen umumnya perhatian kita cenderung terfokus pada kolon.
Tetapi kelainan lain yang sering menyertai penyakit ini adalah batu ginjal, sakroilitis,
spondilitis ankilosing dan nekrosis avaskular kaput femur. Gambaran kolon sendiri
terlihat memendek dan struktur haustra menghilang. Sisa feses pada daerah inflamasi
tidak ada, sehingga, apabila seluruh kolon terkena maka materi feses tidak akan
terlihat di dalam abdomen yang disebut dengan empty abdomen. Kadangkala usus
dapat mengalami dilatasi yang berat (toxic megacolon) yang sering menyebabkan
kematian apabila tidak dilakukan tindakan emergensi. Apabila terjadi perforasi usus
maka dengan foto polos dapat dideteksi adanya pneumoperitoneum, terutama pada
foto abdomen posisi tegak atau left lateral decubitus (LLD) maupun pada foto toraks
tegak.
Foto polos abdomen juga merupakan pemeriksaan awal untuk melakukan
pemeriksaan barium enema. Apabila pada pemeriksaan foto polos abdomen
ditemukan tanda-tanda perforasi maka pemeriksaan barium enema merupakan kontra
indikasi.
b.

Barium enema
Barium enema merupakan pemeriksaan rutin yang dilakukan apabila ada kelainan
pada kolon. Sebelum dilakukan pemeriksaan barium enema maka persiapan saluran
cerna merupakan pendahuluan yang sangat penting. Persiapan dilakukan selama 2
hari berturut-tururt dengan memakan makanan rendah serat atau rendah residu, tetapi
minum air putih yang banyak. Apabila diperlukan maka dapat diberikan laksatif
peroral.
Pemeriksaan barium enema dapat dilakuka dengan teknik kontras tunggal (single
contrast) maupun dengan kontras ganda (double contrast) yaitu barium sulfat dan
udara. Teknik double contrast sangat baik untuk menilai mukosa kolon dibandingkan
dengan teknik single contrast, walaupun prosedur pelaksanaan teknik double contrast
cukup sulit. Barium enema juga merupakan kelengkapan pemeriksaan endoskopi atas
dugaan pasien dengan colitis ulseratif
Gambaran foto barium enema pada kasus dengan colitis ulseratif adalah mukosa
kolon yang granuler dan menghilangnya kontur haustra serta kolon ttampak menjadi
kaku seperti tabung. Perubahan mukosa terjadi secara difus dan simetris pada seluruh
kolon. Lumen kolon menjadi lebih sempit akibat spasme. Dapat ditemukan
keterlibatan seluruh kolon. Tetapi apabila ditemukan lesi yang segmental maka
rectum dan kolon kiri (desendens) selalu terlibat, karena awalnya colitis ulseratif ini
mulai terjadi di rectum dan menyebar kea rah proksimal secara kontinu. Jadi rectum
selalu terlibat, walaupun rectum dapat mengalami inflamasi lebih ringan dari bagian
proksimalnya.
Pada keadaan dimana terjadi pan-ulseratif colitis kronis maka perubahan juga
dapat terjadi di ileum terminal. Mukosa ileum terminal menjadi granuler difus dan
dilatasi, sekum berbentuk kerucut (cone-shaped caecum) dan katup ileosekal terbuka
sehingga terjadi refluks, yang disebut backwash ileitis. Pada kasus kronis, terbentuk
ulkus yang khas yaitu collar-button ulcers. Pasien dengan colitis ulseratif juga
menanggung resiko tinggi menjadi adenokarsinoma kolon.

c.

Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ultrasonografi sampai saat ini belum merupakan modalitas
pemeriksaan yang diminati untuk kasus-kasus IBD. Kecuali merupakan pemeriksaan
alternatif untuk evaluasi keadaan intralumen dan ekstralumen.
Sebelum dilakukan pemeriksaan USG sebaiknya pasien dipersiapkan saluran
cernanya dengan menyarankan pasien untuk makan makanan rendah residu dan
banyak minum air putih. Persiapan dilakukan selama 24 jam sebelum pemeriksaan.
Sesaat sebelum pemeriksaan sebaiknya kolon diisi dulu dengan air.
Pada pemeriksaan USG, kasus dengan colitis ulseratif didapatkan penebalan
dinding usus yang simetris dengan kandungan lumen kolon yang berkurang. Mukosa
kolon yang terlibat tampak menebal dan berstruktur hipoekhoik akibat dari edema.
Usus menjadi kaku, berkurangnya gerakan peristalsis dan hilangnya haustra kolon.
Dapat ditemukan target sign atau pseudo-kidney sign pada potongn transversal atau
cross-sectional. Dengan USG Doppler, pada colitis ulseratif selain dapat dievaluasi
penebalan dindng usus dapat pula dilihat adanya hypervascular pada dinding usus
tersebut.
d.

CT Scan dan MRI


Kelebihan CT Scan dan MRI, yaitu dapat mengevaluasi langsung keadaan
intralumen dan ekstralumen. Serta mengevaluasi sampai sejauh mana komlikasi
ekstralumen kolon yang telah terjadi. Sedangkan kelebihan MRI terhadap CT Scan
adalah mengevaluasi jaringan lunak karena terdapat perbedaan intensitas (kontras)
yang cukup tinggi antara jaringan lunak satu dengan yang lain.
Gambaran CT Scan pada colitis ulseratif, terlihat dinding usus menebal secara
simetris dan kalau terpotong secara cross-sectional maka terlihat gambaran target
sign. Komplikasi di luar usus dapat terdeteksi dengan baik, seperti adanya abses atau
fistula atau keadaan abnormalitas yang melibatkan mesenterium. MRI dapat dengan
jelas memperlihatkan fistula dan sinus tract-nya (Ariestine, 2008).
4. Gambaran Endoskopi
Pada dasarnya colitis ulseratif merupakan penyakit yang melibatkan mukosa
kolon secara difus dan kontinu, dimulai dari rectum dan menyebar /progresif ke
proksimal. Data dari beberapa rumah sakit di Jakarta didapatkan bahwa lokalisasi
colitis ulseratif adalah 80% pada rectum dan rektosigmoid, 12% kolon sebelah kiri
(left side colitis), dan 8% melibatkan seluruh kolon (pan-kolitis).
Pada colitis ulseratif, ditemukan hilangnya vaskularitas mukosa, eritema difus,
kerapuhan mukosa, dan seringkali eksudat yang terdiri atas mucus, darah dan nanah.
Kerapuhan mukosa dan keterlibatan yang seragam adalah karakteristik. Sekali
mukosa yang sakit ditemukan (biasanya di rectum), tidak ada daerah mukosa normal
yang menyela sebelum batas proksimal penyakit dicapai. Ulserasi landai, bisa kecil
atau konfluen namun selalu terjadi pada segmen dengan colitis aktif. Pemeriksaan
kolonoskopik penuh dari kolon pada colitis ulseratif tidak diindikasikan pada pasien
yang sakit akut. Biposi rectal bisa memastikan radang mukosa. Pada penyakit yang
lebih kronik, mukosa bisa menunjukkan penampilan granuler dan bisa terdapat
pseudopolip (Ariestine, 2008).
Berikut ini adalah perbedaan gambaran lesi endoskopik IBD pada colitis
ulseratif dengan Crohns Disease (Djojoningrat, 2006) :
Tabel 2. Gambaran lesi endoskopik IBD

Gambaran
Lesi inflamasi (hiperemia, ulserasi, dll)
Bersifat kontinu adanya skip area (adanya
mukosa normal di antara lesi)
Keterlibatan rectum
Lesi mudah berdarah
Cobblestone appearance / pseudopolip
Sifat ulkus :
Terdapat pada mukosa yang inflamasi
Keterlibatan ileum
Lesi ulkus bersifat diskrit
Bentuk ulkus :
Diameter > 1 cm
Dalam
Bentuk linier (longitudinal)
Aphtoid

Colitis ulseratif
+++

Crohns Disease
+

+++

+++
+++
+

+
+
+++

+++
0
+

+
++++
+++

+
+
+
0

+++
+++
+++
++++

Keterangan : 0 = tidak ada, ++++ = sangat diagnostik (karakteristik)


5. Gambaran Histopatologi
Yang termasuk kriteria histopatologik adalah perubahan arsitektur mukosa,
perubahan epitel dan perubahan lamina propria. Perubahan arsitektur mukosa,
perubahan permukaan, berkurangnya densitas kripta, gambaran abnormal arsitektur
kripta (distorsi, bercabang, memendek). Pada kolon normal, permukaan datar, kripta
tegak, sejajar, bentuknya sama, jarak antar kripta sama, dan dasar dekat muskularis
mukosa. Sel-sel inflamasi, predominan terletak di bagian atas lamina propria.
Perubahan epitel seperti berkurangnya musin dan metaplasia sel Paneth serta
permukaan viliform juga diperhatikan. Perubahan lamina propria meliputi
penambahan dan perubahan distribusi sel radang. Granuloma dan sel-sel berinti
banyak biasanya ditemukan. Gambaran mikroskopik ini berhubungan dengan stadium
penyakit, apakah stadium akut, resolving atau kronik/menyembuh (Ariestine, 2008).
Gambaran khas untuk colitis ulseratif adalah adanya abses kripti, distorsi kripti,
infiltrasi sel mononuclear dan polimorfonuklear di lamina propria (Djojoningrat,
2006).
Tsang dan Rotterdam (1999), membagi gambaran histologik penyakit colitis
ulseratif menjadi kriteria mayor dan minor. Sekurang-kurangnya dua kriteria mayor
harus dipenuhi untuk diagnosis colitis ulseratif.
Kriteria mayor colitis ulseratif :
1.
Infiltrasi sel radang yang difus pada mukosa
2. Basal plasmositosis
3. Netrofil pada seluruh ketebalan mukosa
4. Abses kripta
5. Kriptitis
6. Distorsi kripta
7. Permukaan viliformis
Kriteria minor colitis ulseratif :
1. Jumlah sel goblet berkurang
2. Metaplasia sel Paneth

Tetapi pada colitis ulseratif stadium dini, gambarannya tidak dapat dibedakan
dari colitis infektif. Colitis ulseratif mempunyai tiga stadium yang gambaran
mikroskopiknya berbeda-beda. Perlu diingat bahwa pada seorang penderita dapat
ditemukan gambaran ketiga stadium dalam satu sediaan (Ariestine, 2008).
E.

Penatalaksanaan
Mengingat bahwa etiopatogenesis IBD belum jelas, maka pengobatannya lebih
ditekankan pada penghambatan kaskade proses inflamasi. Dengan dugaan adanya
faktor/agen proinflamasi yang dapat mencetuskan proses inflamasi kronik pada
kelompok rentan, maka diusahakan mengeliminasi hal tersebut dengan cara
pemberian antibiotik, lavase usus, pengikat produk bakteri, mengistirahatkan kerja
usus dan perubahan pola dietetik. Pada prinsipnya, pengobatan IBD ditujukan pada
serangan akut dan terapi pemeliharaan waktu fase remisi. Obat baku pertama
mengandung komponen 5-acetil salicylic acid (5-ASA) dan obat kortikosteroid (baik
sistemik maupun topikal). Bila gagal, maka diberikan obat lini kedua yang pada
umumnya bersifat imunosupresif (seperti 6-merkaptopurin, azatriopin, siklosporin dan
metotreksat), anti-TNF (infliximab). Pada kasus tertentu atau terjadi komplikasi
perforasi, perdarahan masif, ileus karena stenosis, megatoksik kolon, maka diperlukan
intervensi surgikal (Djojodiningrat, 2006).
Sulfasalazine merupakan derivate dari 5-acetil salisilic acid, yang mempunyai
efek antiinflamasi, berfungsi untuk mempertahankan remisi dan untuk menginduksi
remisi pada serangan ringan. Berguna untuk mengobati colitis ulseratif ringan-sedang.
Bekerja secara lokal pada kolon untuk menurunkan respon inflamasi dan secara
sistemik menghambat sintesis prostaglandin.
Temuan klinis pada colitis ulseratif yang berat berhubungan dengan nekrosis luas
pada mukosa kolon dan perforasi dengan sepsis. Antibiotik intravena diberikan pada
pasien yang diduga atau berpotensi terjadi sepsis (Basson, 2011).
Seringkali pasien dengan colitis ulseratif juga diberi antihistamin. Karena
histamin terdapat pada enterochromaffin like cell, sel mast dan nervus intramural
pada traktus gastrointestinal, yang menstimulasi sekresi asam lambung, beberapa
cairan dan mucus, mempengaruhi motilitas usus, berpartisipasi dalam alergi tipe cepat
dan respon inflamasi, stimulasi pertumbuhan dan proses regenerasi serta
meningkatkan pembentukan kolagen. Semua efek ini dimediasi melalui reseptor H1,
H2, H3 dan H4. Hiperplasia sel mast pada mukosa dan submukosa merupakan
karakterisitik dari IBD kronik. Inflamasi colitis ulseratif utamanya mengenai mukosa,
dan meningkatkan pengeluaran mediator sel mast intestinal (Fogel, 2005).
Berdasarkan Crohns and Colitis Foundation of America, diet bukan merupakan
faktor utama dalam proses inflamasi. Namun beberapa makanan spesifik, dapat
mempengaruhi gejala dari colitis ulseratif dan ikut berperan dalam proses inflamasi
(WebMD, 2012). Penatalaksanaan diet pada colitis ulseratif, serat yang insoluble
(tinggi serat) tidak baik untuk pasien, contohnya : kubis, brokoli, jagung manis, kulit
buah seperti apel dan anggur), karena jenis serat ini melewati seluruh traktus
digestivus tanpa dicerna, dan dapat menempel pada dinding colon ketika inflamasi,
semakin mengiritasi kolon dan memperparah colitis. Serat yang soluble sangat baik
untuk pasien karena akan dicerna dalam kolon, menghasilkan feses yang lunak dan
pergerakan usus yang bagus, tidak menempel pada dinding usus dan tidak
menyebabkan inflamasi. Contoh serat yang soluble adalah buah-buahan dan sayursayuran yang sudah dikupas, bubur, dan nasi putih (Collitis UK, 2011).
F.

Komplikasi

Dalam perjalanan penyakit ini, dapat terjadi komplikasi : perforasi usus yang
terlibat, terjadinya stenosis usus akibat proses fibrosis, megakolon toksik (terutama
pada colitis ulseratif), perdarahan, dan degenerasi maligna. Diperkirakan risiko
terjadinya kanker pada IBD lebih kurang 13% (Djojoningrat, 2006).
DAFTAR PUSTAKA
Arisetine, Dina Aprilia. 2008. Kolitis Ulseratif Ditinjau dari Aspek Etiologi, Klinik
dan Patogenesa. Universitas Sumatera Utara - Fakultas Kedokteran Medan.
www.scribd.com/affannurrochman/d/40473357-Kolitis. Diakses tanggal 17 April
2012. Jam 22.00 WIB.
Basson, Marc D. 2011. Ulcerative Colitis. emedicine.medscape.com. Diakses tanggal
17 April 2012. Jam 22.00 WIB.
Colitis UK. 2011. The Effects of Diet on Ulcerative Colitis.
http://www.ulcerativecolitis.org.uk/dietarychanges.htm. Diakses tanggal 17 April
2012. Jam 22.00 WIB.
Djojoningrat, Dharmika. Inflammatory Bowel Disease : Alur Diagnosis dan
Pengobatannya di Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 Edisi ke-IV. Hal.
384-388. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Fauci, Anthony S., et all. 2009. Inflammatory Bowel Disease. Harrisons Manual of
Medicine 17th Edition. Hal. 836-840. United States of America : Mc.Graw Hill.
Fogel, W.A., et all. 2005. The Role of Histamine in Experimental Ulcerative Colitis in
Rats.
Inflammation
Research
Volume
54.
http://www.springerlink.com/content/h2341286554185w7/. Diakses tanggal 17 April
2012. Jam 22.00 WIB.
WebMD. 2012. Creating an Ulcerative Colitis Diet Plan. http://www.webmd.com/ibdcrohns-disease/ulcerative-colitis/creating-an-ulcerative-colitis-plan. Diakses tanggal
17 April 2012. Jam 22.00 WIB.