Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH PENDIDIKAN

KEWARGANEGARAAN
SISTEM KONSTITUSI INDONESIA

DISUSUN OLEH:
Kelompok 1
1. Ardiansyah (D62114001)
2. Nurul Latifah (D62114010)
3. Dedy Kurniawan (D62114019)
4. Muhammad Abdi Dzil Ikram (D62114306)
5. Andi Suci Rahmaniar (D62114009)

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah mengizinkan
dan memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini.
Makalah ini berjudul SISTEM KONSTITUSI NEGARA INDONESIA. Penulisan makalah
ini bertujuan untuk sebagai lampiran presentasi Pendidikan Kewarganegaraan yang
berjudul sama.
Kami menyadari bahwa presentasi kami ini masih memiliki banyak kekurangan
karena keterbatasan kemampuan kami. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat konstruktif demi tercapainya kesempurnaan pada presentasi ini.
Semoga presentasi ini dapat bermanfaat dapat menjadi amal soleh dan ibadah bagi kita
semua dan mendapatkan pahala yang setimpal dari Allah SWT.
Gowa, 16 Oktober 2014
Penulis,

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I Pengertian Konstitusi
BAB II Makna Isi dan Kedudukan Pancasila
BAB III Periode Dinamika Pelaksanaan Konstitusi UUD 1945
BAB IV Hubungan Antar Lembaga-lembaga Negara di Indonesia
Daftar Pustaka

BAB I
Pengertian Konstitusi
Konstitusi pada umumnya bersifat kodifikasi yaitu sebuah
dokumen yang berisian aturan-aturan untuk menjalankan suatu
organisasi pemerintahan negara, namun dalam pengertian ini,
konstitusi harus diartikan dalam artian tidak semuanya berupa
dokumen tertulis (formal). namun menurut para ahli ilmu hukum
maupun ilmu politik konstitusi harus diterjemahkan termasuk
kesepakatan politik, negara, kekuasaan, pengambilan keputusan,
kebijakan dan distibusi maupun alokasi, Konstitusi bagi organisasi
pemerintahan negara yang dimaksud terdapat beragam bentuk dan
kompleksitas strukturnya, terdapat konstitusi politik atau hukum akan
tetapi mengandung pula arti konstitusi ekonomi.
Dewasa ini, istilah konstitusi sering di identikkan dengan suatu
kodifikasi atas dokumen yang tertulis dan di Inggris memiliki konstitusi
tidak dalam bentuk kodifikasi akan tetapi berdasarkan pada
yurisprudensi dalam ketatanegaraan negara Inggris dan mana pula
juga.
Istilah konstitusi berasal dari bahasa inggris yaitu Constitution
dan berasal dari bahasa belanda constitue dalam bahasa latin
(contitutio,constituere) dalam bahasa prancis yaitu constiture dalam
bahsa jerman vertassung dalam ketatanegaraan RI diartikan sama
dengan Undang undang dasar. Konstitusi / UUD dapat diartikan
isuperaturan dasar dan yang memuat ketentuan ketentuan pokok dan
menjadi satu sumber perundang- undangan.
Konstitusi dalam arti sempit adalah keseluruhan peraturan baik
yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat
cara-cara bagaimana suatu pemerintah diselenggarakan dalam suatu
masyarakat.
Konstitusi dalam arti luas merupakan hukum tata negara, yaitu
keseluruhan aturan dan ketentuan (hukum) yang menggambarkan
sistem ketatanegaraan suatu negara.
Konstitusi dalam negara adalah sebuah norma sistem politik dan
hukum bentukan pada pemerintahan negara, biasanya dimodifikasikan
sebagai dokumen tertulis.

BAB II
Makna Isi dan Kedudukan Pancasila
A.

Pancasila Sebagai Sumber Hukum Dasar Negara Indonesia


Pancasila sebagai dasar negara didasarkan pada Ketetapan MPRS
No.XX/MPRS/1966 (Ketetapan MPR No.V/MPR/1973, Ketetapan MPR
No.IX/MPR/1978) yang menjelaskan bahwa Pancasila sebagai sumber
dari segala sumber hukum atau sumber tertib hukum Indonesia yang
pada hakikatnya adalah merupakan suatu pandangan hidup, kesadaran
dan cita-cita hukum serta cita-cita moral yang meliputi suasana
kebatinan serta watak dari bangsa Indonesia.
Kemudian mengenai Pancasila sebagai sumber dari segala sumber
hukum ini dijelaskan kembali dalam Ketetapan MPR No.III/MPR/2000
tentang sumber hukum dan tata urutan peraturan perundang-undangan
pada Pasal 1 ayat (3) yang menyatakan bahwa sumber hukum dasar
nasional adalah Pancasila. Dengan terbentuknya UU No.10 tahun 2004
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, sebagaimana
yang termuat dalam Pasal 2 UU No.10 tahun 2004 yang menyatakan
bahwa Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum
negara, dengan tegas menyebutkan Pancasila sebagai sumber dari
segala sumber hukum sebagai berikut: Penempatan Pancasila sebagai
sumber dari segala sumber hukum negara adalah sesuai dengan
Pembukaan UUD 1945 yang menempatkan Pancasila sebagai dasar
ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis bangsa dan negara,
sehingga setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak
boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila.
B.

Makna dan Kedudukan Pembukaan UUD 1945


Alinea pertama

Adalah suatu pengakuan hak azasi kebebasan atau kemerdekaan


semua bangsa dari segala bentuk penjajahan dan penindasan oleh
bangsa lain(dalil obyektif),dan untuk mempertanggungjawabkan
bahwasanya pernyataan kemerdekaan adalah sesuatu yang sudah
selayaknya,karena berdasar atas hak kodrat yang sifatnya mutlak dari
moral bangsa Indonesia untuk merdeka (pernyataan subyektif).
Alinea kedua

Adalah pengakuan hak azasi sosial yang berupa keadilan dan


pengakuan azasi ekonomi yang berupa kemakmuran dan
kesejahteraan,sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia.
Alinea ketiga
adalah hak kodrat yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa
kepada semua bangsa.
Alinea keempat
Adalah memuat tujuan Negara ,sebagai ketentuan pedoman dan
pegangan yang tetap serta praktis,yaitu dalam realisasi hidup
bersama dalam Negara Indonesia yang berdasar pada Pancasila.
a. Makna
Keempat alinea Pembukaan UUD 1945 mengandung arti dan
makna sangat dalam serta mempunyai nilai nilai universal dan lestari.
a.Alinea pertama mengandung dalil objektif dimana adanya
pernyataan bangsa Indonesia mendukung setiap bangsa untuk
memperjuangkan

dan

memperoleh

kemerdekaan

dan

mengandung dalil subjektif dimana adanya pernyataan bangsa


Indonesia yang berkeinginan untuk membebaskan diri dari
penjajahan.
b.

Alinea kedua mengandung cita cita nasional, makna

perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai pada


tingkat yang menentukan, momentum yang telah dicapai harus
dimanfaatkan

untuk

menyatakan

kemerdekaannya,

dan

kemerdekaan tersebut bukanlah tujuan akhir, tetapi masih harus


diisi dengan mewujudkan Negara Indonesia yang merdeka,
bersatu, berdaulat, dan adil.
c.Alinea ketiga mengandung makna bahwa bangsa Indonesia
mendambakan kehidupan yang berkesinambungan antara dunia
dan

akhirat,

memotivasi

secara

spiritual,

menunjukkan

ketakwaan bangsa Indonesia kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan


bentuk pernyataan kemerdekaan Indonesia kepada seluruh dunia.
d.Alinea keempat mengandung makna bahwa Negara Indonesia
memiliki fungsi dan tujuan sebagai bangsa yang merdeka,
menganut sistem konstitusional dan Negara hukum, menyatakan
bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi, dan memiliki falsafah
dan dasar negara pancasila.
b. Kedudukan
Dalam hubungannya dengan tertib hukum Indonesia, pembukaan
UUD 1945 meiliki kedudukan yang terpisah dari Batang Tubuh UUD 1945
meskipun keduanya tidak dapat dipisahkan. Sebagai pokok kaidah yang
fundamental mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada Batang
Tubuh UUD 1945. Pembukaan UUD 1945 bernilai kebenaran yang
fundamental sehingga hanya mempunyai satu tafsir yang benar, yaitu
dengan jalan hukum, maka Pembukaan UUD 1945 tidak dapat diubah
atau diganti oleh siapapun, termasuk MPR. Mengganti dan mengubah
Pembukaan UUD 1945 berarti mengubah dan membubarkan Proklamasi
Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.
C.

Makna Isi Pembukaan UUD 1945 sebagai


Staatsfundamentalnorm dan kedudukannya dalam tertib
hukum Indonesia.
Suatu sistem pemerintahan tergantung pada cita hukum yang

dijadikan dasar pemerintahan tersebut, cita hukum ini ialah konstruksi


pikiran yang merupakan keharusan untuk mengarahkan hukum kepada
cita-cita yang diinginkan masyarakat. Tanpa dasar cita hukum ini,
suatu tatanan hukum akan kehilangan arti dan maknanya sebagai

hukum, dan apakah hukum tersebut yang berlaku adil atau tidak adil.
Cita hukum ini akan terwujud dalam bentuk norma hukum negara yang
tertinggi yang disebut norma fundamental negara, atau
Staatsfundamentalnorm.
Begitu penting kedudukan Staatsfundamentalnorm ini bagi
existensi suatu negara, karena akan menjadi jatidiri suatu negara.
Perubahan Staatsfundamentalnorm akan merubah jatidiri suatu negara
yang akan berakibat terwujudnya suatu negara yang lain.
Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia, meliputi suasana kebatinan
dari Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, mewujudkan cita hukum
yang menguasai hukum dasar negara, baik hukum yang tertulis maupun
hukum yang tidak tertulis. Dengan demikian tidak merubah Pembukaan
Undang-Undang Dasar.
Negara Republik Indonesia adalah tepat sekali ditinjau dari teori
ketatanegaraan, karena tidak membubarkan suatu negara dan
membentuk negara baru. Pandangan dari Legalitas Hukum TAP MPRS
No.
XX/MPRS/1966,
diantaranya
menyebutkan
bahwa
:
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Pernyataan
Kemerdekaan yang terperinci yang mengandung cita-cita luhur dari
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan yang memuat Pancasila
sebagi Dasar Negara, merupakan suatu rangkaian dengan Proklamasi
Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan oleh karena itu tidak dapat dirubah
oleh siapapun juga, termasuk MPRS hasil pemilihan umum, yang
berdasarkan pasal 3 dan pasal 37 Undang-Undang Dasar berwenang
menetapkan dan merubah Undang-Undang Dasar karena merubah isi
Pembukaan berarti pembubaran Negara dengan demikian tidak
merubah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah sesuai dengan
hukum yang berlaku di negara Indonesia.

BAB III
Periode Dinamika Pelaksanaan Konstitusi UUD 1945
A.

Periode 18 Agustus 1945 27 Desember 1949 (Penetapan UUD


1945)

Dalam kurun waktu 1945-1950, UUD 1945 tidak dapat


dilaksanakan sepenuhnya karena Indonesia sedang disibukkan dengan
perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Maklumat Wakil Presiden
Nomor X pada tanggal 16 Oktober 1945 memutuskan bahwa kekuasaan
legislatif diserahkan kepada KNIP , karena MPR dan DPR belum
terbentuk. Tanggal 14 November 1945 dibentuk Kabinet SemiPresidensial ("Semi-Parlementer") yang pertama, sehingga peristiwa ini
merupakan perubahan pertama dari sistem pemerintahan Indonesia
terhadap UUD 1945.
B.

Periode berlakunya Konstitusi RIS 1949 (27 Desember 1949 17 Agustus 1950)

Pada masa ini sistem pemerintahan indonesia adalah parlementer.


Bentuk pemerintahan dan bentuk negaranya federasi yaitu negara yang
di dalamnya terdiri dari negara-negara bagian yang masing masing
negara bagian memiliki kedaulatan sendiri untuk mengurus urusan
dalam negerinya. Ini merupakan perubahan dari UUD 1945 yang
mengamanatkan bahwa Indonesia adalah Negara Kesatuan.
C.

Periode UUDS 1950 (17 Agustus 1950 - 5 Juli 1959)

Pada periode UUDS 1950 ini diberlakukan sistem Demokrasi


Parlementer yang sering disebut Demokrasi Liberal. Pada periode ini
pula kabinet selalu silih berganti, akibatnya pembangunan tidak
berjalan lancar, masing-masing partai lebih memperhatikan
kepentingan partai atau golongannya. Setelah negara RI dengan UUDS
1950 dan sistem Demokrasi Liberal yang dialami rakyat Indonesia
selama hampir 9 tahun, maka rakyat Indonesia sadar bahwa UUDS 1950
dengan sistem Demokrasi Liberal tidak cocok, karena tidak sesuai
dengan jiwa Pancasila dan UUD 1945.

D.

Periode kembalinya ke UUD 1945 (5 Juli 1959 - 1966)


Perangko "Kembali ke UUD 1945" dengan nominal 50 sen

Karena situasi politik pada Sidang Konstituante 1959 dimana banyak


saling

tarik

ulur

kepentingan

partai

politik

sehingga

gagal

menghasilkan UUD baru, maka pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden


Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang salah satu

isinya

memberlakukan kembali UUD 1945 sebagai undang-undang dasar,


menggantikan Undang-Undang Dasar Sementara 1950 yang berlaku
pada waktu itu.
Pada masa ini, terdapat berbagai penyimpangan UUD 1945, di
antaranya:
Presiden mengangkat Ketua dan Wakil Ketua MPR/DPR dan MA
serta Wakil Ketua DPA menjadi Menteri Negara
MPRS menetapkan Soekarno sebagai presiden seumur hidup
E.

Periode UUD 1945 masa orde baru (11 Maret 1966 - 21 Mei

1998)
Pada masa Orde Baru (1966-1998), Pemerintah menyatakan akan
menjalankan UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen.
Pada masa Orde Baru, UUD 1945 juga menjadi konstitusi yang
sangat "sakral", di antara melalui sejumlah peraturan:
Ketetapan MPR Nomor I/MPR/1983 yang menyatakan bahwa MPR
berketetapan untuk mempertahankan UUD 1945, tidak
berkehendak akan melakukan perubahan terhadapnya
Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1983 tentang Referendum yang
antara lain menyatakan bahwa bila MPR berkehendak mengubah
UUD 1945, terlebih dahulu harus minta pendapat rakyat melalui
referendum.
Undang-Undang No.5 Tahun 1983 tentang Referendum, yang
merupakan pelaksanaan Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1983
F.

Periode 21 Mei 1998 - 19 Oktober 1999


Pada masa ini dikenal masa transisi. Yaitu masa sejak Presiden

Soeharto digantikan oleh B.J. Habibie sampai dengan lepasnya Provinsi


Timor Timur dari NKRI.
G.

Periode UUD 1945 Amandemen 1999 (tahun 1999 s.d sekarang)


1. Undang Undang Dasar 1945 Amandemen Pertama (21 Oktoer
1999 s.d 18 Agustus 2000)
Masa ini adalah masa amandemen pertama UUD 1945
sebagaimana tuntutan Reformasi yaitu amandemen UUD.
2. Undang Undang Dasar 1945 Amandemen Kedua (18 Agustus
2000 - 9 November 2001)
Masa ini adalah Amandemen kedua yang dilakukan MPR
sebagai lanjutan dariamandemen pertama.
3. Undang Undang Dasar 1945 Amandemen ketiga (9 November
2001 s.d 11 Agustus 2002)
Masa ini adalah masa Amandemen ketiga yang kembali
menyempurnakan UUD 1945.
4. Undang Undang Dasar 1945 Amandemen keempat (11 Agustus
2002 s.d sekarang)
Undang Undang Dasar 1945 kembali disempurnakan oleh MPR
RI pada Sidang Tahunan MPR 2002, tanggal 1-11 Agustus 2002 yang
menghasilkan UUD 1945 yang baru berdasarkan hasil Amandemen
keempat.

BAB IV

Hubungan Antar Lembaga-lembaga Negara di Indonesia


A.

Hubungan Presiden dengan MK

Hubungan Presiden dengan MK di atur di dalam :


UUD 1945 pasal 24C ayat 2 yang berbunyi, Mahkamah Konstitusi
wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan
Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau
Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar.
UUD 1945 pasal 24C ayat 3 yang berbunyi, Mahkamah Konstitusi
mempunyai sembilan orang anggota hakim konstitusi yang
ditetapkan oleh Presiden, yang diajukan masing-masing tiga orang
oleh Mahkamah Agung, tiga orang oleh Dewan Perwakilan Rakyat,
dan tiga orang oleh Presiden.
UU no 48 tahun 2009 pasal 29 ayat 2 yang berbunyi, Selain
kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Mahkamah
Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan
Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden
diduga
telah
melakukan
pelanggaran
hukum
berupa
pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak
pidana berat lainnya atau perbuatan tercela, dan/atau tidak lagi
memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.
UU no 48 tahun 2009 pasal 34 ayat 1 yang berbunyi, Hakim
konstitusi diajukan masing-masing 3 (tiga) orang oleh Mahkamah
Agung, 3 (tiga) orang oleh Dewan Perwakilan Rakyat, dan 3 (tiga)
orang oleh Presiden.
Berdasarkan ketentuan Pasal 24C UUD 1945 dan UU No.24 Tahun
2003 tentang Mahkamah Konstitusi (MK), MK mempunyai lima
kewenangan. Yakni, menguji undang-undang terhadap UndangUndang Dasar 1945, memutus sengketa kewenangan lembaga
negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD, memutus
pembubaran partai politik, memutus perselisihan hasil pemilu
(baik di tingkat nasional maupun pemilihan umum kepala daerah)
dan memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat
mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil
Presiden (impeachment).
B.

Hubungan Presiden dengan MA

Hubungan antar Presiden dengan MA di atur di dalam :


UUD 1945 pasal 24A ayat 3 yang berbunyi, Calon hakim agung
diusulkan Komisi Yudisial kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk

mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai


hakim agung oleh Presiden.
Mahkamah
Agung
memberikan
nasihat-nasihat
atau
pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum kepada
Lembaga Tinggi Negara lain (Pasal 37 Undang-undang Mahkamah
Agung No.14 Tahun 1985). Mahkamah Agung memberikan nasihat
kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam rangka pemberian
atau penolakan grasi (Pasal 35 Undang-undang Mahkamah Agung
No.14 Tahun 1985). Selanjutnya Perubahan Pertama Undangundang Dasar Negara RI Tahun 1945 Pasal 14 Ayat (1), Mahkamah
Agung diberikan kewenangan untuk memberikan pertimbangan
kepada Presiden selaku Kepala Negara selain grasi juga
rehabilitasi. Namun demikian, dalam memberikan pertimbangan
hukum mengenai rehabilitasi sampai saat ini belum ada peraturan
perundang-undangan yang mengatur pelaksanaannya.
Mahkamah Agung melakukan pengawasan tertinggi terhadap
jalannya peradilan di semua lingkungan peradilan dengan tujuan
agar
peradilan
yang
dilakukan
Pengadilan-pengadilan
diselenggarakan dengan seksama dan wajar dengan berpedoman
pada azas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan,
tanpa mengurangi kebebasan Hakim dalam memeriksa dan
memutuskan perkara (Pasal 4 dan Pasal 10 Undang-undang
Ketentuan Pokok Kekuasaan Nomor 14 Tahun 1970) termasuk
Presiden.
C.

Hubungan DPR dengan Presiden

Hubungan antar DPR dan Presiden di atur di dalam :


UUD 1945 pasal 5 ayat 1 yang berbunyi, Presiden berhak
mengajukan rancangan Undang-undang kepada Dewan Perwakilan
Rakyat.
UUD 1945 pasal 7A yang berbunyi, Presiden dan/atau Wakil
Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh
Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan Perwakilan
Rakyat, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran
hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi,
penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela
maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai
Presiden dan/atau Wakil Presiden.
UUD 1945 pasal 7B tentang tata cara pemberhentian Presiden
atau Wakil Presiden oleh DPR
UUD 1945 pasal 7C yang berbunyi, Presiden tidak dapat

membekukan dan/atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat.


UUD 1945 pasal 11 ayat 1 yang berbunyi, Presiden dengan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang,
membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain.
UUD 1945 pasal 13 ayat 2 yang berbunyi, Dalam hal mengangkat
duta, Presiden memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan
Rakyat.
UUD 1945 pasal 13 ayat 3 yang berbunyi, Presiden menerima
penempatan duta negara lain dengan memperhatikan
pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat.
UUD 1945 pasal 14 ayat 2 yang berbunyi, Presiden memberi
amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbanganDewan
Perwakilan Rakyat.
UUD 1945 pasal 20 ayat 2 yang berbunyi, Setiap rancangan
Undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan
Presiden untuk mendapat persetujuan bersama.
UUD 1945 pasal 20A mengenai hak-hak DPR
UUD 1945 pasal 22 mengenai tata cara pembentukan UndangUndang
UUD 1945 pasal 23 ayat 2 yang berbunyi, Rancangan undangundang anggaran pendapatan dan belanja negara diajuka oleh
Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah.
UUD 1945 pasal 23F ayat 1 yang berbunyi, Anggota Badan
Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan
diresmikan oleh Presiden.
UUD 1945 pasal 24A ayat 3 yang berbunyi, Calon hakim agung
diusulkan Komisi Yudisial kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk
mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai
hakim agung oleh Presiden.
UUD 1945 pasal 24B ayat 3 yang berbunyi, Anggota Komisi
Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
UUD 1945 pasal 24C ayat 2 yang berbunyi, Mahkamah Konstitusi
wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan
Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau
Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar.
UUD 1945 pasal 24C ayat 3 yang berbunyi, Mahkamah Konstitusi
mempunyai sembilan orang anggota hakim konstitusi yang

ditetapkan oleh Presiden, yang diajukan masing-masing tiga orang


oleh Mahkamah Agung, tiga orang oleh Dewan Perwakilan Rakyat,
dan tiga orang oleh Presiden.
UU no 27 tahun 2009 pasal 74 ayat 2 yang berbunyi,
Keanggotaan DPR diresmikan dengan keputusan Presiden.
Hubungan antara DPR dam Presiden terletak pada hubungan
kerja. Hubungan kerja tersebut antara lain adalah mengenai
proses pembuatan undang-undang antara presiden dan DPR yang
diatur dalam pasal 20 ayat 2, 3, 4, dan 5. Yaitu setiap rancangan
undang-undang harus dibahas oleh presiden dan DPR untuk
mendapat persetujuan bersama (ayat 2). Jika rancangan undangundang itu tidak mendapat persetujuan bersama, maka maka
rancangan undang-undang itu tidak dapat diajukan lagi pada
masa persidangan itu (ayat 3). Presiden mengesahkan rancangan
undang-undang yang telah disetujui bersama, (ayat 4) dan
apabila presiden dalam waktu 30 hari setelah rancangan undangundang itu disetujui bersama, undang-undang itu sah menjadi
undang-undang dan wajib diundangkan (ayat 5). Untuk
terbentuknya undang-undang, maka harus disetujui bersama
antara presiden dengan DPR. Walaupun seluruh anggota DPR
setuju tapi presiden tidak, atau sebaliknya, maka rancangan
undang-undang itu tidak dapat diundangkan.
Selanjutnya mengenai fungsi pengawasan yang dimiliki oleh DPR.
Yaiyu mengawasi presiden dan wakil presiden dalam pelaksanaan
kekuasaan eksekutif. Dan DPR dapat mengusulkan pemberhentian
Presisiden sebagai tindak lanjut pengawasan (pasal 7A). Dalam
bidang keuangan, RUU APBN diajukan oleh presiden untuk dibahas
bersama DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD (pasal 23
ayat 2). Apabila DPR tidak menyetujui RAPBN yang diusulkan
presiden, pemerintah menjalankan APBN tahun lalu(pasal 23 ayat
3).
Hubungan kerja lain antara DPR dengan Presiden antara lain:
melantik presiden dan atau wakil presiden dalam hal MPR tidak
dapat melaksanakan sidang itu (pasal 9), memberikan
pertimbangan atas pengangkatan duta dan dalam hal menerima
duta negara lain (pasal 13), memberikan pertimbangan kepada
presiden atas pemberian Amnesti dan Abolisi (pasal 14 ayat 2),
memberikan persetujuan atas pernyataan perang, membuat
perdamaian dan perjanjian dengan negara lain (pasal 11),
memberikan persetujuan atas pengangkatan komisi yudisial (pasal
24B ayat 3), memberikan persetujuan atas pengangkatan hakim

agung (pasal 24A ayat 3).


D. Hubungan BPK dengan DPR
Hubungan antar DPR dan BPK di atur di dalam :
UUD 1945 pasal 23E ayat 2 yang berbunyi, Hasil pemeriksa
keuangan negara diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat,
Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah,
sesuai dengan kewenangannya.
UUD 1945 pasal 23F ayat 1 yang berbunyi, Anggota Badan
Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan
diresmikan oleh Presiden.
UU no 15 tahun 2006 pasal 7 ayat 1 yang berbunyi, BPK
menyerahkan hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara kepada DPR, DPD, dan DPRD sesuai
dengan kewenangannya.
UU no 15 tahun 2006 pasal 7 ayat 4 yang berbunyi, Tata cara
penyerahan hasil pemeriksaan BPK kepada DPR, DPD, dan DPRD
diatur bersama oleh BPK dengan masing-masing lembaga
perwakilan sesuai dengan kewenangannya.
UU no 15 tahun 2006 pasal 11 mengenai kewenangan Badan
Pemeriksa Keuangan
UU no 15 tahun 2006 pasal 14 ayat 1 yang berbunyi, Anggota BPK
dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD.
UU no 15 tahun 2006 pasal 14 ayat 3 yang berbunyi, Calon
anggota BPK diumumkan oleh DPR kepada publik untuk
memperoleh masukan dari masyarakat. UU no 15 tahun 2006
pasal 14 ayat 4 yang berbunyi, DPR memulai proses pemilihan
anggota BPK terhitung sejak tanggal diterimanya surat
pemberitahuan dari BPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
ayat (2) dan harus menyelesaikan pemilihan anggota BPK yang
baru, paling lama 1 (satu) bulan sebelum berakhirnya masa
jabatan Anggota BPK yang lama.
UU no 15 tahun 2006 pasal 21 ayat 2 yang berbunyi,
Pemberhentian Ketua, Wakil Ketua, dan/atau Anggota BPK
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diresmikan dengan
Keputusan Presiden atas usul BPK atau DPR.
UU no 15 tahun 2006 pasal 35 ayat 2 yang berbunyi, Anggaran
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh BPK kepada
DPR untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan rancangan
APBN.

E.

Hubungan antara MPR dengan DPR

Hubungan antar MPR dan DPR di atur di dalam :


UUD 1945 pasal 2 ayat 1 yang berbunyi, Majelis
permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota-anggota Dewan
Perwakilan Rakyat, ditambah dengan utusan-utusan dari daerahdaerah dan golongan-golongan, menurut aturan yang ditetapkan
dengan Undang-Undang.
UUD 1945 pasal 7A yang berbunyi, Presiden dan/atau Wakil
Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh
Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan Perwakilan
Rakyat, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran
hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi,
penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela
maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai
Presiden dan/atau Wakil Presiden.
UUD 1945 pasal 7B ayat 1 yang berbunyi, Usul pemberhentian
Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh Dewan
Perwakilan Rakyat kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya
dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada
Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa, mengadili, dan memutus
pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau
Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum berupa
pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak
pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela; dan/atau pendapat
bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi
syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.
UUD 1945 pasal 7B ayat 6 yang berbunyi, Majelis
Permusyawaratan Rakyat wajib menyelenggarakan sidang untuk
memutuskan usul Dewan Perwakilan Rakyat tersebut paling
lambat tiga puluh hari sejak Majelis Permusyawaratan Rakyat
menerima usul tersebut.
F.
Hubungan antara MPR dengan Presiden
Hubungan antar MPR dan Presiden di atur di dalam :
UUD 1945 pasal 3 ayat 2 yang berbunyi, Majelis
Permusyawaratan Rakyat melantik Presiden dan/atau Wakil
Presiden
UUD 1945 pasal 3 ayat 3 yang berbunyi, Majelis
Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan Presiden
dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut

Undang-Undang Dasar.
UUD 1945 pasal 7A yang berbunyi, Presiden dan/atau Wakil
Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh
Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan Perwakilan
Rakyat, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran
hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi,
penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela
maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai
Presiden dan/atau Wakil Presiden.
UUD 1945 pasal 7B ayat 1 yang berbunyi, Usul pemberhentian
Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh Dewan
Perwakilan Rakyat kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya
dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada
Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa, mengadili, dan memutus
pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau
Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum berupa
pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak
pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela; dan/atau pendapat
bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi
syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.
UUD 1945 pasal 7B ayat 7 yang berbunyi, Keputusan Majelis
Permusyawaratan Rakyat atas usul pemberhentian Presiden
dan/atau Wakil Presiden harus diambil dalam rapat paripurna
Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dihadiri oleh sekurangkurangnya 3/4 dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurangkurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir, setelah Presiden
dan/atau Wakil Presiden diberi kesempatan menyampaikan
penjelasan dalam rapat paripurna Majelis Permusyawaratan
Rakyat.
UUD 1945 pasal 8 ayat 2 yang berbunyi, Dalam hal terjadi
kekosongan Wakil Presiden, selambat-lambatnya dalam waktu
enam
puluh
hari,
Majelis
Permusyawaratan
Rakyat
menyelenggarakan sidang untuk memilih Wakil Presiden dari dua
calon yang diusulkan oleh Presiden.
UUD 1945 pasal 8 ayat 3 yang berbunyi, Jika Presiden dan Wakil
Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat
melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara
bersamaan, pelaksana tugas kepresidenan adalah Menteri Luar
Negeri, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertahanan secara
bersama-sama. Selambat-lambatnya tiga puluh hari setelah itu,
Majelis Permusyawaratan Rakyat menyelenggarakan siding untuk

memilih Presiden dan Wakil Presiden dari dua pasangan calon


Presiden dan Wakil Presiden yang diusulkan oleh partai politik
atau gabungan partai politik yang pasangan calon Presiden dan
Wakil Presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua
dalam pemilihan umum sebelumnya, samapi berakhir masa
jabatannya.
UUD 1945 pasal 9 ayat 1 yang berbunyi, Sebelum memangku
jabatannya, Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut
agama, atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat atau Dewan Perwakilan Rakyat.
UU no 27 tahun 2009 pasal 6 ayat 1 yang berbunyi, Keanggotaan
MPR diresmikan dengan keputusan Presiden.
G.

Hubungan MPR dengan DPD


Hubungan antara MPR dan DPD dia atur didalam UUD 1945 pasal 2
ayat 1 yang berbunyi, Majelis permusyawaratan Rakyat terdiri atas
anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat, ditambah dengan utusanutusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan, menurut aturan
yang ditetapkan dengan Undang-Undang.
H. Hubungan DPR dengan DPD
Hubungan antar DPR dan DPD di atur di dalam :
UUD 1945 pasal 22D ayat 1 yang berbunyi, Dewan Perwakilan
Daerah dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat
rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi
daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan
pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya
alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan
dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah
UUD 1945 pasal 22D ayat 2 yang berbunyi, Dewan Perwakilan
Daerah ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan
dengan otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah;
pembentukan,
pemekaran,
dan
penggabungan
daerah;
pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya,
serta perimbangan keuangan pusat dan daerah; serta memberikan
pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan
undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara dan
rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak,
pendidikan, dan agama.
UUD 1945 pasal 22D ayat 3 yang berbunyi, Dewan Perwakilan
Daerah dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-

undang mengenai : otonomi daerah, pembentukan, pemekaran


dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah,
pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya,
pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara, pajak,
pendidikan, dan agama serta menyampaikan hasil pengawasannya
itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat sebagai bahan pertimbangan
untuk ditindaklanjuti.
UUD 1945 pasal 23 ayat 2 yang berbunyi, Rancangan undangundang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan oleh
Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah.
UUD 1945 pasal 23E ayat 2 yang berbunyi, Hasil pemeriksa
keuangan negara diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat,
Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah,
sesuai dengan kewenangannya.
UUD 1945 pasal 23F ayat 1 yang berbunyi, Anggota Badan
Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan
diresmikan oleh Presiden.
I.
Hubungan DPR dengan MA
Hubungan antar DPR dan MA di atur di dalam :
UUD 1945 pasal 24A tentang Susunan, kedudukan, keanggotaan,
dan hukum acara Mahkamah Agung.
UU no 27 tahun 2009 pasal 83 ayat 5 yang berbunyi, Pimpinan
DPR sebelum memangku jabatannya mengucapkan sumpah/janji
yang teksnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 yang dipandu
oleh Ketua Mahkamah Agung.
J.
Hubungan DPD dengan Presiden
Hubungan antar DPR dan MA di atur di dalam :
UUD 1945 pasal 23 ayat 2 yang berbunyi, Rancangan undangundang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan oleh
Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah.
UUD 1945 pasal 23 ayat 3 yang berbunyi, Apabila Dewan
Perwakilan Rakyat tidak menyetujui rancangan anggaran
pendapatan dan belanja negara yang diusulkan oleh Presiden,
Pemerintah menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara tahun yang lalu.
UUD 1945 pasal 23F ayat 1 yang berbunyi, Anggota Badan

Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan


memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan
diresmikan oleh Presiden.
UU no 27 tahun 2009 pasal 227 ayat 3 yang berbunyi,
Keanggotaan DPD diresmikan dengan keputusan Presiden.
UU no 27 tahun 2009 pasal 240 ayat 2 yang berbunyi, Tugas
panitia kerja dalam pembahasan rancangan undang-undang yang
berasal dari DPR atau Presiden adalah melakukan pembahasan
serta menyusun pandangan dan pendapat DPD.
K. Hubungan DPD dengan BPK
Hubungan antar DPD dan BPK di atur di dalam :
UUD 1945 pasal 23 ayat 2 yang berbunyi, Rancangan undangundang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan oleh
Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah.
UU no 15 tahun 2006 pasal 7 ayat 1 yang berbunyi, BPK
menyerahkan hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara kepada DPR, DPD, dan DPRD sesuai
dengan kewenangannya.
UU no 15 tahun 2006 pasal 7 ayat 3 yang berbunyi, Penyerahan
hasil pemeriksaan BPK kepada DPRD dilakukan oleh Anggota BPK
atau pejabat yang ditunjuk.
UU no 15 tahun 2006 pasal 7 ayat 4 yang berbunyi, Tata cara
penyerahan hasil pemeriksaan BPK kepada DPR, DPD, dan DPRD
diatur bersama oleh BPK dengan masing-masing lembaga
perwakilan sesuai dengan kewenangannya.
UU no 15 tahun 2006 pasal 14 ayat 1 yang berbunyi, Anggota BPK
dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD.
L. Hubungan antar BPK dan MA
di atur di dalam :
UU no 15 tahun 2006 pasal 16 ayat 1 yang berbunyi, Anggota BPK
sebelum memangku jabatannya wajib mengucapkan sumpah atau
janji menurut agamanya yang dipandu oleh Ketua Mahkamah
Agung.
UU no 15 tahun 2006 pasal 16 ayat 2 yang berbunyi, Ketua dan
Wakil Ketua BPK terpilih wajib mengucapkan sumpah atau janji
menurut agamanya yang dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung.
UU no 15 tahun 2006 pasal 16 ayat 3 yang berbunyi, Apabila

Ketua Mahkamah Agung berhalangan, sumpah atau janji


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dipandu oleh
Wakil Ketua Mahkamah Agung.
M. Hubungan DPD dengan BPK
Hubungan antar DPD dan BPK di atur di dalam :
UUD 1945 pasal 23 ayat 2 yang berbunyi, Rancangan undangundang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan oleh
Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah.
UU no 15 tahun 2006 pasal 7 ayat 1 yang berbunyi, BPK
menyerahkan hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara kepada DPR, DPD, dan DPRD sesuai
dengan kewenangannya.
UU no 15 tahun 2006 pasal 7 ayat 3 yang berbunyi, Penyerahan
hasil pemeriksaan BPK kepada DPRD dilakukan oleh Anggota BPK
atau pejabat yang ditunjuk.
UU no 15 tahun 2006 pasal 7 ayat 4 yang berbunyi, Tata cara
penyerahan hasil pemeriksaan BPK kepada DPR, DPD, dan DPRD
diatur bersama oleh BPK dengan masing-masing lembaga
perwakilan sesuai dengan kewenangannya.
UU no 15 tahun 2006 pasal 14 ayat 1 yang berbunyi, Anggota BPK
dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD.
N. Hubungan DPD dengan Presiden
di atur di dalam :
UUD 1945 pasal 23 ayat 2 yang berbunyi, Rancangan undangundang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan oleh
Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah.
UUD 1945 pasal 23 ayat 3 yang berbunyi, Apabila Dewan
Perwakilan Rakyat tidak menyetujui rancangan anggaran
pendapatan dan belanja negara yang diusulkan oleh Presiden,
Pemerintah menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara tahun yang lalu.
UUD 1945 pasal 23F ayat 1 yang berbunyi, Anggota Badan
Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan
diresmikan oleh Presiden.
UU no 27 tahun 2009 pasal 227 ayat 3 yang berbunyi,
Keanggotaan DPD diresmikan dengan keputusan Presiden.

UU no 27 tahun 2009 pasal 240 ayat 2 yang berbunyi, Tugas


panitia kerja dalam pembahasan rancangan undang-undang yang
berasal dari DPR atau Presiden adalah melakukan pembahasan
serta menyusun pandangan dan pendapat DPD.

DAFTAR PUSTAKA
1.

http://prezi.com/8qhyxcyc6c7i/sistem-konstitusi-negara-indonesia/ #

2.

https://www.facebook.com/dewanperwakilanmahasiswapolmed/posts/729721

980426805

3.

http://politik.kompasiana.com/2013/05/11/hubungan-antar-lembaga-

lembaga-negara-di-indonesia-559016.html

4.

http://verahadiyati.blogspot.com/2012/01/isi-pembukaan-uud-1945-

sebagai.html

5.

http://dkarnindotaokainoi.blogspot.com/2013/11/isi-dan-kedudukan-

pembukaan-uud-1945.html

6.

http://brainly.co.id/tugas/449491

7.

http://id.wikipedia.org/wiki/Undang-

Undang_Dasar_Negara_Republik_Indonesia_Tahun_1945#Periode_berlakunya_UUD_1945_.
2818_Agustus_1945_-_27_Desember_1949.29

8.

http://www.slideshare.net/Ridorondo/sistem-konstitusi-dinamika-

pelaksanaan-uud-1945

9.

http://id.wikipedia.org/wiki/Konstitusi

10.

http://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/MKFIS/article/view/467