Anda di halaman 1dari 3

1. In your judgment is Intel a monopoly? Did Intel use monopoly-like power?

Menurut kami, jika dilihat dari sudut pandang pure monopoly maka Intel bukan
merupakan monopoli. Hal ini dikarenakan pada pasar pure monopoly, hanya memiliki
satu perusahaan yang memasok/menyediakan produk untuk keseluruhan (100%)
pangsa pasar (market share). Sedangkan pada industry microprocessor, terdapat
perusahaan pesaing (misalnya AMD). Tetapi pada kenyataannya, perusahaan dapat
dikatakan sebagai monopoli apabila perusahaan tersebut menguasi mayoritas 90%
market share, atau 50% market share (menurut UU No. 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, pasal 17 ayat 2).
Dalam kasus tersebut, beberapa bukti menunjukkan bahwa Intel menggunakan caracara monopoli. Pertama, Intel membuat barriers to entry melalui hak paten untuk
microprocessors baru yang mereka kembangkan, sehingga pesaing (AMD) tidak
dapat memproduksi produk serupa. Kedua, ketika pesaing (AMD) mampu membuat
microprocessor

yang

lebih

baik,

Intel

memberikan

Rebates

khusus

kepada

perusahaan computer Jepang untuk hanya menggunakan produk dari Intel dan
setuju tidak membeli dari AMD. Ketiga, Intel membuat code untuk menghalangi
kinerja microprocessor AMD. Keempat, Intel memberikan imbalan yang besar kepada
perusahaan computer (DELL) yang setuju untuk memboikot produk AMD.
2. Were Intels Rebates ethical or unethical?
Utilitarianisme
: Intel etis

karena

dengan

memberikan

Rebates

kemanfaatan lebih banyak dirasakan baik bagi Intel karena penjualan terus
meningkat, perusahaan-perusahaan computer karena memperoleh potongan,

sehingga menghemat biaya.


Right
: Intel tidak etis, Intel memaksa perusahaan computer

untuk menggunakan produk Intel.


Justice
: Intel tidak etis, dengan memberikan Rebates yang
berbeda pada tiap perusahaan computer sehingga bertentangan dengan
keadilan kapitalis yang menyatakan bahwa apa yang diterima setiap individu
haruslah sama dengan apa yang mereka kontribusikan. Dengan demikian
Intel

memberikan

harga

yang

berbeda

dari

pada

nilai

barang

yang

sesungguhnya yang berarti Intel berlaku tidak adil terhadap pembelinya.


Ethic of Caring
: Intel tidak etis, karena Intel mengabaikan karakter
yang berkaitan dengan pembentukan hubungan perhatian yang erat dengan
orang lain. Rebates yang diberikan Intel semata-mata dengan maksud untuk

memenangkan persaingan.
Sehingga menurut kami Rebates yang dilakukan oleh Intel pada kasus tersebut
adalah Tidak Etis.

3. Was it unethical for Intel to use its compliers and its libraries of software code in the
way it did, or is this permissible for companies in a free market economy?
Pasar disebut pasar bebas (free market) jika memenuhi kriteria ke-tujuh pasar
persaingan sempurna yaitu tidak ada pihak luar yang mengatur harga, kuantitas dan
kualitas produk yang diperjualbelikan. Dilihat dari kriteria ini, tindakan Intel tidak
sesuai/tidak etis. Hal ini ditunjukkan dengan Intel dapat menentukan kualitas
compilers dimana Intel menanamkan bugs untuk menghambat kinerja prosesor
diluar prosesor Intel. Selain itu, Intel juga melanggar kriteria kedua (pembeli dan
penjual bebas masuk dan meninggalkan pasar) dengan mencoba membuat barriers
to entry serta kriteria ketiga (penjual dan pembeli mengetahui informasi sempurna
tentang pasar).
4. Did Intel violate either of the two key section of The Sherman Antitrust Act?
Intel melanggar Sherman Antitrust Act:
a. Intel dianggap melakukan konspirasi dengan perusahaan computer (Dell)
membuat perjanjian yang tidak beritikad baik (bermaksud memboikot produk
b.

AMD). Dimana semua perjanjian yang mengarah kepada monopoli adalah illegal.
Intel mencoba menjalin koalisi dengan beberapa perusahaan computer yang
semula menggunakan produk Intel dan AMD, agar hanya menggunakan produk
dari Intel saja.

Dilihat dari perundangan yang berlaku di Indonesia, tindakan Intel melanggar


Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat, diantaranya adalah :
Pasal 6
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian yang mengakibatkan pembeli
yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang
harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan atau jasa yang sama.
Pasal 10
(1) Pelaku

usaha

dilarang

membuat

perjanjian,

dengan

pelaku

usaha

pesaingnya,yang dapat menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan usaha


yang sama, baik untuk tujuan pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri.
(2) Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya,
untuk menolak menjual setiap barang dan atau jasa dari pelaku usaha lain
sehingga perbuatan tersebut:
a. merugikan atau dapat diduga akan merugikan pelaku usaha lain; atau
b. membatasi pelaku usaha lain dalam menjual atau membeli setiap barang dan
atau jasa dari pasar bersangkutan.
Pasal 15 ayat 3

(3) Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian mengenai harga atau potongan
harga tertentu atas barang dan atau jasa, yang memuat persyaratan bahwa
pelaku usaha yang menerima barang dan atau jasa dari pelaku usaha pemasok:
a. harus bersedia membeli barang dan atau jasa lain dari pelaku usaha
pemasok; atau
b. tidak akan membeli barang dan atau jasa yang sama atau sejenis dari
pelaku usaha lain yang menjadi pesaing dari pelaku usaha pemasok.