Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PENGANTAR PENDIDIKAN

Peranan Pendidikan Non Formal dalam Pendidikan


di Indonesia

Dikerjakan Oleh:
Mira Ayu (110533430511)
PTI off B

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan merupakan sesuatu yang wajib mutlak
dimiliki oleh semua individu, Setiap ajaran agama pasti menuntut agar setiap individu wajib
berusaha untuk mendapatkan pendidikan sepanjang hayatnya. Pepatah mengatakan, Tuntutlah
ilmu mulai sejak di buaian hingga ke liang lahat maksudnya adalah pada hakikatnya orang
belajar sepanjang hidupnya, meskipun dengan cara dan proses yang berbeda. Salah satunya,
Pendidikan dapat ditempuh melalui pendidikan secara non formal.
Pendidikan non formal memiliki peranan yang sangat penting dalam dunia pendidikan.
Pendidikan dikatakan penting karena Pendidikan non formal berfungsi sebagai pengganti,
penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan
sepanjang hayat.
Sekarang ini, Pendidikan formal merupakan sebuah pendidikan alternative yang condong
keberadaanya sebagai objek pendidikan yang bersahaja, hal ini yang menyebabkan keberadaan
pendidikan non formal tidak dapat disamakan dengan pendidikan formal lainnya. Timbulnya
pemikiran seperti di ditengah-tengah masyarakat merupakan sebuah kemunduran dunia
pendidikan yang menyebabkan tidak bermaknanya pendidikan non formal tersebut.
Bertitik tolak dari permasalahan yang dihadapi, pendidikan luar sekolah berusaha
mencari jawaban dengan menelusuri pola-pola pendidikan yang ada, seperti pesantren, dan
pendidikan keagamaan lainnya yang keberadaannya sudah jauh sebelum Indonesia merdeka,
bertahan hidup sampai sekarang dan dicintai, dihargai dan diminati serta berakar dalam
masyarakat. Kelanggengan lembaga-lembaga tersebut karena tumbuh dan berkembang, dibiayai
dan dikelola untuk kepentingan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat merasakan adanya
kebermaknaan dari program-program belajar yang disajikan bagi kehidupannya, karena
pendidikan yang diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata masyarakat.

Pengembangan pendidikan non-formal saat ini secara tidak langsung memperbaiki


permasalahan pendidikan untuk mengembalikan fungsi pendidikan non formal yang dapat
disetarakan dengan pendidikan formal lainnya.

BAB II
Pembahasan
A. Pengertian Pendidikan Non Formal
Menurut pengertian Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 pasal 1 ayat 12 Pendidikan
nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara
terstruktur dan berjenjang Hasil pendidikan nonformal ini dapat disetarakan dengan hasil
program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang
ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah yang mengacu pada standar nasional
pendidikan.
Pendidikan nonformal atau Tingkat Ketergantungan pendidikan luar sekolah (UU No.20
Th.2003) menunjuk pada belajar di dalam suatu latar terorganisasi di luar sistem persekolahan.
Pendidikan nonformal lebih banyak berbicara dan berbuat dari segi realita hidup dan kehidupan
masyarakat. Perhatiannya lebih terpusat pada usaha-usaha untuk membantu terwujudnya proses
pembelajaran di masyarakat. Dalam konteks ini orientasi pendidikan nonformal lebih
menekankan pada tujuan agar masyarakat memiliki kemampuan yang cukup untuk menghadapi
permasalahan di lingkungannya, kemudian mencari upaya yang tepat untuk memecahkannya
sehingga masyarakat dapat memperbaiki hakikat dan harkat hidupnya. Dengan demikian,
pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan
pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal
dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.
Pendidikan nonformal mempunyai tujuan yang sama dengan tujuan pendidikan nasional,
yaitu mengembangkan potensi pesertya didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3 UU No.20 Th.2003).
Sedangkan secara operasional, pendidikan nonformal mempunyai tujuan institusional yang
memungkinkan warga masyarakat memiliki:
1. kesempatan mengembangkan kepribadian dan mengaktualisasikan diri;

2. kemampuan menghadapi tantangan hidup baik dalam lingkungan keluarga maupun


dalam lingkungn masyarakat,
3. kemampuan membina keluarga sejahtera untuk memajukan kesejahteraan umum;
4. kemampuan wawasan yang luas tentang hak dan kewajiban sebagai warga segara;
5. kemampuan kesadaran berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat dalam rangka
pembangunan manusia dan masyarakat;
6. kemampuan menciptakan atau membantu menciptakan lapangan kerja sesuai dengan
keahlian yang dimiliki. (Sudomo, 1989).
Keenam tujuan institusional tersebut menegaskan bahwa pendidikan nonformal berusaha
mengembangkan secara selaras, serasi, dan seimbang terhadap kecerdasan, sikap, kreativitas, dan
keterampilan dalam upaya meningkatkan mutu dan taraf hidup baik untuk diri sendiri, keluarga,
maupun masyarakat.
Pendidikan nonformal sebagai salah satu jalur pendidikan di samping pendidikan formal
(pendidikan di sekolah) dan pendidikan in-formal (pendidikan di keluarga), mempunyai satuan
satuan pendidikan yang beragam. Jalur pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga
masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah,
dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.
Fungsi pendidikan nonformal mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada
penguasaan pengetahuan dan ketrampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian
profesional. Secara substansial pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup,
pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan,
pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan,
serta pendidikan lain yang ditunjuk untuk mengembangkan kemampuan peserta didik (pasal 26
UU No.20 Th.2003).
Kebutuhan akan pendidikan seperti itu disalurkan melalui program-program pendidikan
nonformal, antara lain: Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Penitipan Anak (TPA),
Kelompok Bermain (Play Group), Keaksaraan Fungsional (KF), Kejar Paket A setara SD, Kejar
Paket B setara SLTP, Kejar Paket C setara SLTA, Kepramukaan, Pendidikan Kepemudaan,
Pendidikan Kewanitaan, Kursus-kursus Keterampilan/Kejuruan, Permagangan, Kejar Usaha, dan
Pemberdayaan Ekonomi Desa. Dengan demikian cakupan umur warga belajar dalam pendidikan
4

nonformal mulai dari pra sekolah (sebelum taman kanak-kanak yang dalam UU No.20 Th.2003
menjadi jalur pendidikan formal), hingga berusia tua.

B. Undang Undang yang Mengatur tentang Pendidikan Non Formal


Setelah Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia telah menyusun undang-undang yang
berkaitan dengan pendidikan. Seiring dengan kemajuan jaman dan teknologi, pemerintah telah
banyak mengadakan perubahan/membuat, merevisi, dan menghapus undang-undang pendidikan.
Berbagai konsistensi pemerintah ini banyak mengalami berbagai perubahan dari tahun ke tahun.
Setidaknya ada tiga Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang pernah dimiliki
Indonesia. Salah satunya adalah Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional yang selanjutnya lebih dikenal dengan nama UU SISDIKNAS.
Pendidikan merupakan sarana bagi masyarakat untuk meningkatkan sumber daya
manusia agar dapat bersaing di era yang penuh kompetisi. Selain dari sektor pendidikan formal,
sektor pendidikan non formal seperti Lembaga Kursus dan Lembaga Pelatihan dan Keterampilan
(LPK) juga memiliki peran yang besar terhadap pembagunan sumber daya manusia.
Mengenai pendidikan non-formal ini dijelaskan dalam UU No 20 th 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional , bab VI bagian kelima pasal 26 yang menjelaskan tentang pendidikan non
formal yaitu:
1. Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan
pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan
formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.
2. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan
penekanan

pada

penguasaan

pengetahuan

dan

keterampilan

fungsional

serta

pengembangan sikap dan kepribadian profesional.


3. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini,
pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan,
pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan
lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
5

4. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok
belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan
yang sejenis.
5. Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal
pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri,
mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi.
6. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan
formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh
Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.
Sekarang ini, banyak lembaga pendidikan non formal yang menjamur di daerah
perkotaan, seperti lembaga pendidikan bahasa inggris yang memfokuskan tujuannya untuk
meningkatkan skill peserta didiknya, lembaga bimbingan belajar yang bertujuan untuk
meningkatkan nilai prestasi siswa di sekolahnya, dan juga lembaga lembaga pelatihan lain
berdasarkan skill tertentu. Sehingga pihak pihak swasta penyelenggara pendidikan non-formal
tersebut perlu mendapatkan izin pendirian lembaga agar terlindungi oleh pemerintah. Pihak
pemerintah melalui undang-undang mengatur hal tersebut, yaitu UU No 20 th 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, pasal 62 ayat (1) dimana setiap satuan pendidikan formal dan nonformal yang didirikan wajib memperoleh izin pemerintah atau pemerintah daerah.

C. Permasalahan Pendidikan Non Formal di Indonesia


Upaya peningkatan pemerataan pelayanan pendidikan melalui jalur nonformal dirasakan
belum sepenuhnya dapat diakses oleh segenap warga masyarakat. Padahal jalur pendidikan
nonformal berfungsi untuk memfasilitasi warga belajar memasuki dunia kerja, sekaligus
merupakan bentuk pendidikan sepanjang hayat. Pada saat yang sama kesadaran masyarakat,
khususnya yang berusia dewasa, untuk terus-menerus meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan juga masih rendah. Di lain pihak, layanan pendidikan nonformal belum sepenuhnya
mampu membekali warga belajar dengan berbagai jenis keterampilan yang dibutuhkan oleh
pasar kerja sehingga lulusan yang terserap oleh lapangan pekerjaan belum maksimal.
6

Rendahnya SDM kita juga tidak terlepas dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakat,
terutama pada usia sekolah. Rendahnya kualitas SDM tersebut disebabkan oleh banyak hal,
misalnya ketidakmampuan anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi, sebagai akibat dari kemiskinan yang melilit kehidupan keluarga, atau bisa saja
disebabkan oleh oleh angka putus sekolah, hal yang sama disebabkan oleh faktor ekonomi
Oleh sebab itu, perlu menjadi perhatian pemerintah melalui semangat otonomi daerah
adalah mengerakan program pendidikan non formal tersebut, karena UU Nomor 20 tentang
Sistem Pendidikan Nasional secara lugas dan tegas menyebutkan bahwa pendidikan non formal
akan terus ditumbuhkembangkan dalam kerangka mewujudkan pendidikan berbasis masyarakat,
dan pemerintah ikut bertanggungjawab kelangsungan pendidikan non formal sebagai upaya
untuk menuntaskan wajib belajar 9 tahun.
Pembangunan pendidikan juga masih menghadapi masalah, yaitu belum mantapnya
koordinasi antara pendidikan formal dan nonformal yang ditandai antara lain dengan format dan
kualitas pendidikan nonformal yang belum memungkinkan untuk digunakan sebagai pengganti
pelajaran yang relevan di satuan pendidikan formal. Fasilitas pelayanan pendidikan formal yang
sudah lebih baik secara kuantitas maupun kualitas belum dapat dimanfaatkan secara optimal
untuk menyelenggarakan pendidikan nonformal.
Pendidikan formal merupakan sebuah pendidikan alternative yang condong keberadaanya
sebagai objek pendidikan sahaja, hal ini yang menyebabkan keberadaan sekolah non formal tidak
dapat disamakan dengan pendidikan formal lainnya. Timbulnya pemikiran seperti ini ditengahtengah masyarakat merupakan sebuah kemunduran dunia pendidikan yang menyebabkan tidak
bermaknanya pendidikan tersebut
Flashback beberapa bulan yang lalu, tentang ujian nasiunal (UN) Berdasarkan data Badan
Standart Nasional Pendidikan (BSNP) 1.522.162 siswa mengikuti ujian national yang diadakan
secara serempak di indonesia dengan kelulusan 89,88 percent dengan artian terjadi penurunan
kelulusan dari tahun 2009-2010, sehingga terdapat 154.079 siswa yang akan mengikuti ujian
susulan
Berdasarkan fakta tersebut, 154.079 siswa yang akan mengikuti ujian susulan memiliki
tingkat trauma yang lebih tinggi dari sebelumnya dan sebagian besar dari mereka tentunya akan
7

mengikuti ujian kesetaraan untuk mendapatkan kelulusan dan masalahnya adalah bagaimana
dengan kualitas institusinya?
Pengembangan pendidikan non-formal saat ini tidak secara konstans memperbaiki
permasalahan pendidikan untuk mengembalikan fungsi pendidikan non formal yang dapat
disetarakan dengan pendidikan formal lainnya.
Demi dapat membantu pendidikan non formal kedepannya melalui beberapa hal dengan
melakukan perubahan yang fundamental bagi lembaga pendidikan non formal melalui sebuah
perencanaan pendidikan yang lebih mengedepankan mutu pendidikan dari pada tempat untuk
mencari rezeki belaka, maka dari itu, tindakan yang harus dilakukan yakni melakukan perubahan
membentuk sebuah lembaga pendidikan yang sama dengan sekolah formal lainnya sehingga
pendidikan non formal kedepannya tidak dikelola melalui individu dengan artian pendidikan
kesetaraan adalah pengelola pendidikan tersebut sehingga tidak memiliki regenerasi sehingga
menimbulkan ketidak transparan didalam pengelolaan manajemen menyebabkan lembaga
pedidikan kesetaraan tersebut terlihat sebagai lembaga yang ekslusif.
D. Peranan Pendidikan Non Formal
Pendidikan non formal memiliki peranan yang sangat penting dalam dunia pendidikan.
Pendidikan dikatakan penting karena Pendidikan non formal berfungsi sebagai pengganti,
penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan
sepanjang hayat.
Pendidikan nonformal mempunyai fungsi membelajarkan individu atau kelompok agar
mampu memberdayakan dan mengembangkan dirinya sehingga mampu beradaptasi terhadap
perubahan/perkembangan zaman. Berdasarkan fungsi tersebut pendidikan nonformal dapat
melayani kebutuhan pendidikan suplemen, pendidikan komplemen, pendidikan kompensasi,
pendidikan substitusi, pendidikan alternatif, pendidikan pengayaan, pendidikan pemutakhiran
(updating), pendidikan/ pelatihan keterampilan, pendidikan penyesuaian, dan pendidikan
pembibitan (Anonim, 1985).
Secara rinci fungsi pendidikan nonformal dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Pendidikan suplemen: kesempatan untuk menambah/meningkatkan pengetahuan dan


keterampilan tertentu di luar pendidikan sekolah/formal.
2. Pendidikan komplemen: kesempatan untuk menambah/melengkapi pendidikan
sekolah/formal.
3. Pendidikan kompensasi/pengganti: kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi yang
tidak pernah mengalami pendidikan di sekolah.
4. Pendidikan substitusi: kesempatan untuk belajar pada jenjang pendidikan tertentu
berhubung belum adanya pendidikan sekolah di sekitar tempat tinggal.
5. Pendidikan alternatif: kesempatan untuk memilih jalur pendidikan nonformal
sehubungan dengan peluang atau waktu yang dimiliki.
6. Pendidikan pengayaan/penguatan: kesempatan untuk memperkaya/memperluas/
meningkatkan kemampuan yang diperoleh dari pendidikan sekolah/formal.
7. Pendidikan pemutakhiran/updating :kesempatan untuk memutakhirkan atau
meremajakan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki.
8. Pendidikan pembentukan keterampilan: kesempatan untuk memperoleh keterampilan
baru di samping keterampilan yang telah dimiliki.
9. Pendidikan penyesuaian: kesempatan untuk memperoleh pendidikan penyesuaian diri
sehubungan adanya mobilitas teritorial, pekerjaan, dan perubahan sosial.
10. Pendidikan pembibitan: kesempatan untuk memperoleh pendidikan atau latihan
keterampilan tertentu melalui proses belajar bersama sambil mengadakan usaha bersama
dalam kelompok belajar usaha bersama. (Sudomo, 1989).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat
dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang dimana hasilnya dapat disetarakan dengan hasil
program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang
ditunjuk oleh Pemerintah yang mengacu pada standar nasional pendidikan.
Pendidikan nonformal bertujuan untuk mengembangkan potensi pesertya didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Rendahnya SDM juga tidak lepas dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakat,
terutama pada usia sekolah. Hal ini bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya ketidakmampuan
anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, karena faktor
ekonomi. Maka dari itu, pemerintah mengerahkan program pendidikan non formal seperti yang
tertuang dalam UU Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional secara lugas dan tegas
menyebutkan bahwa pendidikan non formal akan terus ditumbuhkembangkan dalam kerangka
mewujudkan pendidikan berbasis masyarakat, dan pemerintah ikut bertanggungjawab
kelangsungan pendidikan non formal sebagai upaya untuk menuntaskan wajib belajar 9 tahun.
Pendidikan non formal memiliki peranan yang sangat penting dalam dunia pendidikan.
Karena pendidikan non formal berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap
pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

10

Daftar Pustaka
Tirtarahardja, Umar; dan S.L.La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan (edisi revisi). Jakarta:
Rineka Cipta
Isjoni. 2004. Pendidikan Luar Sekolah. Pendidikan Network. http://researchengines.com/isjoni13.html (diakses tanggal 21 September 2011)
Salman, Muh.Syukur. 2007. Spirit PAUD Non Formal dalam Mendukung Wajar 9 Tahun.
Pendidikan Network. http://re-searchengines.com/0607syukur2.html (diakses tanggal 21
September 2011)
Lesmana, Andi. 2010. Mensetarakan Pendidikan Non Formal. Kompasiana.
http://edukasi.kompasiana.com/2010/06/07/mensetarakan-pendidikan-non-formal/ (diakses
tanggal 22 September 2011)
Prasetyo, Habib. 2010. Merubah Konsep Pandangan Pendidikan Non Formal. Imadiklus.
http://imadiklus.com/2010/07/merubah-konsep-pandangan-pendidikan-non-formal.html (diakses
tanggal 22 September 2011)
Turya. 2010. Makalah Pengaruh Pendidikan Formal, Non Formal dan Informal terhadap
Prestasi Pendidikan http://infomediakita.blogspot.com/2010/04/makalah-pengaruh-pendidikanformal-non.html (diakses tanggal 22 September 2011)
Gitoasmoro, Soegimin. 2005. Peran Pendidikan Non Formal dalam Realisasi Wajib Belajar
Pendidikan Dasar. Unesa.
http://www.unesa.ac.id/jurnal/201012180001_201012190002_201012190014/pendidikandasar_peran-pendidikan-nonformal-dalam-realisasi-wajib-belajar-pendidikan-dasar.html (diakses
tanggal 2 oktober 2011)
Alfian, Arif. 2011. Izin Pendirian Lembaga Pendidikan Non Formal.
http://bisnisukm.com/izin-pendirian-lembaga-pendidikan-non-formal.html (diakses tanggal 25
Oktober 2011)

11

Malik, Hakim. 2011. Pendidikan Non Formal dan Peranannya dalam Pendidikan Anak Usia
Dini Kompasiana. http://edukasi.kompasiana.com/2011/04/07/pendidikan-non-formal-danperanannya-dalam-pendidikan-anak-usia-dini/ (diakses tanggal 25 Oktober 2011)

12