Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

I.

Latar Belakang
Sistem saraf merupakan organ yang kompleks dan bersambungan
serta terdiri terutama dari jaringan saraf, sistem saraf mengarahkan fungsi
tubuh

dengan

mempengaruhi

aktivitas

otot

dan

fungsi

saraf

otonom.Gangguan Sistem Saraf dapat disebabkan oleh beberapa hal,


seperti kelainan genetik, penyakit degeneratif, tumor, lesi mekanik
(trauma), perdarahan, iskemia, gangguan metabolik sistemik dan kelainan
elektrolit. Berbagai penyebab yang lain meliputi obat-obatan, toksin,
radiasi, inflamasi, dan infeksi. Fungsi efektor di perifer (reseptor sensorik,
otot, dan organ yang dipersarafi oleh sistem saraf otonom), konduksi saraf
perifer, fungsi medulla spinalis, dan sistem saraf supraspinal dapat
terganggu akibat gangguan sistemsaraf.
Kerusakan pada efektor perifer akan menyebabkan gangguan
fungsi tertentu,yang dapat bersifat lokal mengenai satu otot atau bersifat
umum yang mengenai seluruh otot. Kerusakan seperti ini dapat
mengakibatkan aktivitas yang berlebihan misalnya kram otot yang bersifat
involunter atau aktivitas reseptor sensorik yang tidak adekuat dengan
kesalahan persepsi sensorik, atau defisit fungsional. Meskipun reseptor
sensorik tetap utuh, persepsi sensorik terutama melalui mata atau telinga,
dapat terganggu jika bagian transmisi mengalami kerusakan.
Hambatan pada konduksi saraf perifer akan mengganggu sinyal
yang melalui saraf ini, tetapi gangguan pada jenis serabut yang berbeda
mungkin

berbeda.

Hambaran

total

pada

konduksi

saraf

akan

mengakibatkan hilangnya sensasi, dan hilangnya pengaturan otonom di


daerah persarafan yang terkena.
Tetanus diperoleh melalui paparan spora bakteri Clostridium tetani
yang universal hadir dalam tanah . Penyakit ini disebabkan oleh aksi racun
syaraf yang kuat yang diproduksi selama pertumbuhan bakteri dalam
jaringan mati, misalnya luka kotor atau-untuk tetanus neonatal-di

umbilikus setelah persalinan yang tidak steril . Tetanus tidak menular dari
orang ke orang : Infeksi biasanya terjadi ketika kotoran memasuki luka
atau dipotong. WHO memperkirakan bahwa, 787 000 bayi baru lahir anak
meninggal karena tetanus neonatal , tingkat 6,5 kasus per 1.000 kelahiran
hidup. Pada tahun 2004 jumlah kasus yang dilaporkan adalah 13 448.
Tidak seperti polio dan cacar, penyakit tidak dapat diberantas
karena spora tetanus hadir di lingkungan. Setelah infeksi terjadi, angka
kematian sangat tinggi, terutama di daerah di mana perawatan medis yang
tepat tidak tersedia. Namun, korban tewas ini dapat dicega . Tetanus
dewasa dapat dicegah dengan imunisasi orang yang berisiko, seperti
pekerja memanipulasi tanah, orang lain pada risiko pemotongan harus juga
termasuk dalam langkah-langkah pencegahan. Beberapa bentuk toksoid
yang tersedia (DTP,DT, TT atau Td ) dan sedikitnya tiga dosis primer
harus diberikan melalui rute intramuskular . Cakupan vaksinasi dengan
tiga dosis DTP lebih dari 80% untuk sebagian besar negara di seluruh
dunia.
Di negara sedang berkembang seperti Indonesia, insiden dan angka
kematian dari penyakit tetanus masih cukup tinggi. Oleh karena itu tetanus
masih merupakan masalah kesehatan. Akhirakhir ini dengan adanya
penyebarluasan program imunisasi di seluruh dunia, maka angka kesakitan
dan angka kematian telah menurun secara drastis.
II.

Tujuan
a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gangguan sistem neurologi khususnya tetanus
b. Tujuan khusus
1. Mengetahui pengertian tetanus dan pengaruhnya pada sistem
neurologi
2. Mengetahui asuhan keperawatan yang tepat pada pasien
dengan gangguan sistem neurologi dengan tetanus
3. Membandingkan antara kasus dengan teori yang sudah
didapatkan.

BAB II
TINJAUAN TEORI
I.

Tetanus
A. Pengertian
Tetanus adalah penyakit yang ditandai oleh spasme otot yang tidak
terkendali akibat kerja neurotoksin kuat, yaitu tetanospasmin yang
dihasilkan bakteri Clostridium tetani (Sylvia, 2007). Sedangkan menurut
Kiking (2004), tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan
neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani yang ditandai
dengan spasme otot yang periodik dan berat. Spora Clostridium tetani
biasanya masuk ke dalam tubuh melalui luka pada kulit yang terpotong,
tertusuk ataupun luka bakar.

B. Etiologi
Tetanus disebabkan oleh bakteri gram positif yaitu Clostridium
tetani yang berbentuk batang yang langsing dengan ukuran panjang 2-5
um dan lebar 0,3-0,5 um. Bakteri ini berspora, dapat dijumpai pada tinja
binatang terutama kuda, juga bisa pada manusia dan juga pada tanah
yang terkontaminasi dengan tinja binatang tersebut. Sifat spora ini tahan
dalam air mendidih (100oc) selama 4 jam, tetapi bakteri bisa mati bila
dipanaskan selama 15-20 menit pada suhu 121oc. Bila tidak terkena
cahaya, spora bakteri ini bisa tahan beberapa bulan bahkan beberapa
tahun.
Tempat masuk organisme ke dalam tubuh manusia adalah melalui
luka, jika bakteri ini menginfeksi luka seseorang atau bersamaan dengan
benda daging atau bakteri lain, bakteri ini akan memasuki tubuh
penderita tersebut, lalu mengeluarkan toksin. Toksin ini dapat
menghancurkan sel darah merah, merusak leukosit dan merupakan
tetanospasmin yaitu toksin yang neurotropik yang dapat menyebabkan
ketegangan dan spasme otot. Tidak pernah terjadi penularan antar
manusia. Spesies yang rentan terhadap bakteri Clostridium tetani
manusia dan kuda.

Patofisilogi
Gambar 1. Bakteri Clostridium tetan
Keadaan yang memungkinkan bakteri
Clostridium tetani berpoliferasi antara lain :
luka tusuk dalam dan kotor, luka bakar, luka
tembak, dan perawatan luka yang tidak baik.

Clostridium tetani mengeluarkan toksin,


toksin diabsorpsi pada ujung saraf motorik
dan menuju SSP

Dari susunan limfatik ke sirkulasi darah arteri


dan masuk ke SSP
Toksin bersifat tetanospasme, tetanulisin,
menghancurkan sel darah merah dan merusak
leukosit

Perubahan fisiologi intrakranial

Penekanan area
fokal kortikal

Kejang tonik umum, kejang


rangsang (terhadap visual, suara
dan taktil), kejang spontan,
kejang pada abdomen dan retensi
urin

Perubahan
eliminasi urin

Perubahan
mobilitas fisik

Gangguan
pemenuhan
eliminasi urin

Gangguan
mobilitas fisik

Penurunan
kemampuan
tubuh
Bersihan
jalan napas

Peningkatan
permeabilitas darah/otak

Proses inflamasi di
jaringan otak
(peningkatan suhu tubuh),
perubahan tingkat
kesadaran, perubahan
frekuensi nadi
Peningkatan sekret dan
penurunan kemampuan

C. Manifestasi Klinis

Masa inkubasi tetanus berkisar antara 3-21 hari, bergantung pada seberapa
banyak bakteri yang masuk dan letak luka. Masa inkubasi yang lebih pendek
(kurang dari 1 minggu) cenderung menimbulkan penyakit yang lebih berat.
Karakteristik dari tetanus adalah :
a. Bakteri tetanus tumbuh pada luka dan mengeluarkan toksin yang dapat
menimbulkan kejang otot skelet. Kejang bertambah berat selama 3 hari
pertama, dan menetap selama 5 -7 hari. Setelah 10 hari kejang mulai
berkurang frekuensinya. Setelah 2 minggu kejang mulai hilang.
b. Penderita umumnya tidak mengalami demam tetapi banyak mengeluarkan
keringat dan mulai terasa sakit. Terutama pada otot sekitar luka terjadi
kedutan (twitching) .
c. Kemudian timbul kesukaran membuka mulut dengan baik (trismus) karena
meningkatnya tonus otot masetter. Hal ini dapat menyebabkan kesukaran
menelan.
d. Setelah otot lain terkena, spasme yang hilang timbul dapat menjadi spasme
yang umum sehingga mengenai otot pernapasan dan otot menelan. Pada
kasus ekstrem, dapat juga meninmbulkan opistotonus (fleksi dan aduksi
lengan dengan tangan terkepal pada toraks bagian bawah dan ekstensi
tungkai. Hal ini dapat terjadi apnea, hilang kesadaran, fraktur dan
rebdomiolisis).
e. Risus sardonicus merupakan tanda lanjut yaitu spasme otot muka dengan
gambaran alis tertarik keatas, sudut mulut tertarik keluar dan ke bawah,
bibir tertekan kuat .

D. Jenis-jenis tetanus
Ada tiga bentuk tetanus yang dikenal secara klinis, yakni
1. Localited tetanus ( Tetanus Lokal )
Pada lokal tetanus dijumpai adanya kekakuan otot pada daerah
tempat dimana luka terjadi. Hal inilah merupakan tanda dari tetanus lokal.
Kekakuan otot tersebut biasanya ringan, bisa bertahan dalam beberapa
bulan tanpa progressif dan biasanya menghilang secara bertahap. Lokal
tetanus ini bisa berlanjut menjadi generalized tetanus, tetapi dalam bentuk
yang ringan dan jarang menimbulkan kematian.
2. Cephalic Tetanus
Cephalic tetanus adalah bentuk yang jarang dari tetanus. Tetanus
ini merupakan tetanus lokal. Masa inkubasi berkisar 1 2 hari, yang
berasal dari otitis media kronik, luka pada daerah muka dan kepala,
termasuk adanya benda asing dalam rongga hidung. Tetanus ini dapat
berkembang menjadi tetanus umum.
3. Generalized tetanus (Tetanus umum)
Tetanus ini merupakan tetanus yang paling banyak dijumpai.
Terjadinya tetanus ini berhubungan dengan luas dan dalamnya luka seperti
luka bakar yang luas dan luka tusuk yang dalam. Trismus merupakan
gejala utama yang sering dijumpai (50%), yang disebabkan oleh kekakuan
otot-otot masseter, bersamaan dengan kekakuan otot leher yang
menyebabkan terjadinya kaku kuduk dan kesulitan menelan. Dalam 24-48
jam dari kekakuan otot menjadi menyeluruh sampai ke ekstremitas.
Gejala lain berupa Risus Sardonicus (Sardonic grin) yakni spasme
otot-otot muka, opistotonus (kekakuan otot punggung), kejang dinding
perut. Spasme dari laring dan otot-otot pernafasan bisa menimbulkan
sumbatan saluran nafas, sianose asfiksia. Bisa terjadi disuria dan retensi
urine,kompresi fraktur dan pendarahan didalam otot. Dapat pula terjadi
takikardia.
Tetanus umun dibagi menjadi 3 menurut berat ringannya penyakit :
1) Tetanus ringan
-

Masa inkubasi lebih dari 14 hari

Trismus positif tetapi tidak berat

Sukar makan dan minum tetapi disfagia tidak ada

Lokalisasi kekakuan dekat dengan luka berupa spasme dan terjadi


beberapa jam

2) Tetanus sedang
-

Masa inkubasi 10-14 hari

Trismus dan disfagia ada

Kekakuan umum terjadi beberapa hari tetapi dispnea dan sianosis


tidak ada

3) Tetanus berat
-

Masa inkubasi kurang dari 10 hari

Trismus berat

Disfagia berat

Kekauan otot, gangguan pernafasan dan takikardi.

4. Neonatorum tetanus
Biasanya disebabkan infeksi Clostridium tetani, yang masuk
melalui tali pusar sewaktu proses pertolongan persalinan. Spora yang
masuk disebabkan oleh proses pertolongan persalinan yang tidak steril,
baik oleh penggunaan alat yang telah terkontaminasi spora C.tetani,
maupun

penggunaan

obat-obatan

Wituk

tali

pusat

yang

telah

terkontaminasi. Kebiasaan menggunakan alat pertolongan persalinan dan


obat tradisional yang tidak steril,merupakan faktor yang utama dalam
terjadinya neonatal tetanus.

E. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi adalah :
1.

Pada saluran pernapasan


Terjadi spasme otot-otot pernapasan dan spasme otot laring dan seringnya
kejang dapat menyebabkan asfiksia. Karena terjadi akumulasi sekresi
saliva sehingga dapat terjadi pneumoni, atelektasis akibat obstruksi oleh
sekret. Pneumotoraks dapat terjadi akibat dilakukannya trakeostomi.

2.

Pada sistem kardiovaskuler

Komplikasi pada kardiovaskuler adalah takikardia, hipertensi dan


vasokontriksi perifer.
3.

Pada tulang dan otot


Pada otot, karena spasme yang berkepanjangan bisa terjadi perdarahan
dalam otot. Pada tulang dapat terjadi fraktur akibat kejang yang terus
menerus.

4.

Dekubitus karena penderita berbaring dalam satu posisi saja

5.

Laserasi lidah akibat kejang

F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk penderita tetanus adalah sebagai berikut :
1.

Merawat dan membersihkan luka

2.

Isolasi atau menghindari rangsangan dari luar

3.

Menyesuaikan bentuk makanan tergantung kemampuan membuka mulut


dan menelan.

4.

Berikan oksegen atau trakeostomi bila perlu

5.

Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit

6.

Apabila banyak sekret dapat dibersihkan dengan pengisapan lendir.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN
NEUROLOGI

Kasus :
Tn.S usia 49 tahun dirawat di ICU di hari ke 15. Pasien terpasang tracheostomy
yang terhubung dengan ventilator modus SIMV, frekuensi pernafasan 25x/menit,
PEEP 8, FIO2 50%. Tidal volume 400 ml, terlihat adanya sekret di jalan nafas dan
terdengar suara ronkhi di seluruh lapang paru di tekanan pasien 115/61 mmHg,
frekuensi nadi 94x/menit, suhu 37,5oC dan CRT 3 detik. Keluarga mengatakan
pasien sebelum masuk rumah sakit mengalami luka di kaki dan dua hari
setelahnya pasien mengalami kejang-kejang dan badan pasien menjadi kaku.

PENGKAJIAN
A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. S

Umur

: 49 tahun

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Pendidikan

: SMA

Alamat

: Pondok Bukit Agung AA-4 Sumurboto Banyumanik

Pekerjaan

: Buruh kuli

B. KELUHAN UTAMA
Keluarga mengeluhkan pasien kejang-kejang dan menjadi kaku.

C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


-

Riwayat keluhan utama :


Pada saat pengkajian awal pasien masuk rumah sakit, keluarga
pasien mengeluhkan pasien mengalami kejang-kejang dan menjadi
kaku setelah sebelumnya mengalami luka di kaki.

Upaya yang telah dilakukan: tidak ada

Terapi/operasi yang pernah dilakukan : tidak ada

D. RIWAYAT PENYAKIT TERDAHULU


-

Penyakit berat yang pernah diderita


Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit akut maupun kronik

Obat-obatan yang biasa dikonsumsi


Pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan

Kebiasaan berobat
Pasien jarang melaporkan keluhannya ke puskesmas atau rumah
sakit untuk keluhan yang ringan

Alergi
Pasien tidak memiliki alergi terhadap cuaca, makanan, benda,
maupun obat-obatan.

Kebiasaan merokok / alkohol


Pasien tidak memiliki kebiasaan merokok atau mengkonsumsi
alkohol.

E. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA:


Keluarga pasien tidak pernah mengalami keluhan/ penyakit yang
sama.

F. PEMERIKSAAN FISIK
a. Umum
1) Tinggi badan

: 155 cm

2) Berat badan

: 53 kg

3) TTV

a) TD :115/61

Nadi : 94x/ menit

b) RR : 25x/ menit

Suhu : 37,5 C

b. Kepala : Bentuk kepala Mesochepal, kepala tampak bersih, dan tidak ada
luka.

c. Mata : tidak ada pembengkakan pada kelopak mata, konjungtiva anemis,


selaput mata pucat (anemia) karena proses persalinan yang mengalami
perdarahan, sklera kuning
d. Hidung

: tidak terdapat polip pada hidung, terdapat pemasangan

ventilator modus SIMV


e. Telinga

: simetris, telinga tampak bersih dan tidak ada cairan yang

keluar dari telinga


f. Bibir : simetris, warna pucat, tidak terdapat lesi.
g. Leher : terpasang tracheostomy yang berhubungan dengan modus
ventilator.
h. Kulit : telapak kaki dan tangan tampak pucat,
i. Wajah : pucat, tidak terlihat adanya edema
j. Dada

: bentuk dada simetris, tidak terdapat lesi

k. Paru-paru

: terdengar suara ronkhi di seluruh lapang paru

l. Jantung

: tak ada pulsasi ictus cordis

m. Abdomen

: simetris, tak ada distensi abdomen, tak ada nyeri tekan,

peristaltik usus (+)


n. Ekstremitas:
Motorik

Gerak

terbatas

Kekuatan

Tonus

Sensibilitas

Parestesi bagian lateral paha

Reflek

Patela kanan (+), kiri (+)


Achiles kanan (+), kiri (+)

G. PENGKAJIAN KEBUTUHAN DASAR


a. Aktivitas/istirahat
Klien tidak dapat melakukan aktivitas dan bedrest total.
b. Sirkulasi
TD: 120/80 mmHg, tak ada pembesaran vena jugularis
c. Oksigenasi

Airway : terdapat obstruksi sekret; Breathing : frekuensi nafas meningkat


hingga 25x/menit, tidak teratur, terdengar bunyi ronkhi ; Circulation : CRF
selama 3 detik.
d. Termoregulasi
Suhu tubuh meningkat hingga 37,5oC
e. Kenyamanan
Terdapat pemasangan tracheostomy pada leher pasien yang terhubung
dengan ventilator modus SIMV.

H. ANALISA DATA
No
1.

Data Fokus

Masalah Keperawatan

Ds: -

Etiologi

Ketidakefektifan bersihan Obstruksi

Do:
- Terdengar

jalan

jalan nafas

nafas oleh sekret

Risiko tinggi kejang

Kejang

suara

ronkhi di sepanjang
lapang paru
- Reflek batuk tidak ada
- RR 25x/menit
- Terpasang
tracheostomy
terhubung

yang
dengan

ventilator SIMV
2.

Ds :
-

Keluarga

pasien

mengeluhkan
pasien mengalami
kejang

dan

menjadi

kaku

setelah

hari

rangsang

yang
sebelumnya

dialami

sebelumnya
mengalami

luka

di kakinya
Do:

3.

RR 25 x / menit

Suhu 37,5oC

Ds:

keluarga Gangguan imobilitas fisik

mengatakan pasien telah


mengalami rawat inap
selama 15 hari

Kejang umum

Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi secret di dalam trakea, kemampuan batuk menurun
2. Risiko tinggi kejang berulang berhubungan dengan berhubungan dengan kejang rangsang (terhadap visual, suara, dan taktil)
3. Resiko tinggi trauma/cedera berhubungan dengan adanya kejang umum
No. Dx
1

Tujuan dan kriteria hasil


Setelah dilakukan tindakan

intervensi
-

keperawatan selama

Rasionalisasi

Anjurkan pasien untuk istirahat

Mengurangi aktivitas klien

Peninggian

dan napas dalam

2x24 jam pasien

menunjukkan keefektifan

Posisikan pasien semifowler untuk


memaksimalkan ventilasi

kepala

tempat

memudahkan

tidur

pernapasan,

jalan nafas dibuktikan

meningkatkan ekspansi dada dan

dengan kriteria hasil :

meningkatkan batuk lebih efektif.

1. Pasien dapat batuk efektif

Lakukan fisioterapi dada jika perlu

dan suara nafas bersih, tidak


ada sianosis dan dyspneu
(mampu
sputum,

Ajarkan klien batuk efektif atau

suction

dada

membantu

Klien berada pada resiko bila tidak


dapat

dengan

batuk

membersihkan

mudah)
2. Pasien

fisik

meningkatkan batuk lebih efektif.

mengeluarkan
bernafas

Terapi

efektif
jalan

untuk

napas

dan

mengalami kesulitan dalam menelan,


menunjukan

jalan

yang menyebabkan aspirasi saliva

nafas yang paten (klien tidak


merasa tercekik, sesak irama
nafas, frekuensi pernafasan

dan mencetuskan gagal napas akut.


-

Auskultasi

suara

nafas,

adanya suara tambahan

catat

Penurunan

bunyi

napas

indikasi

atelektasis, ronki indikasi akumulasi

dalam rentang normal, tidak

secret/ketidakmampuan

ada suara nafas abnormal,

membersihkan jalan napas sehingga

tidak ada penggunaan otot

otot aksesori digunakan dan kerja

bantuan napas)

pernapasan meningkat
-

Monitor respirasi dan status O2

Memastikan status respirasi dan O2

Pertahankan hidrasi yang adekuat

Membantu

untuk mengencerkan secret


-

mengencerkan

secret

sehingga mudah dikeluarkan.

Lakukan pengisapan lendir dijalan

napas.

Mencegah obstruksi/aspirasi. Suction


dilakukan bila pasien tidak mampu
mengeluarkan sekret.

Kolaborasi pemberian obat: agen


mukolitik,

bronkodilator,

kortikosteroid sesuai indikasi

Menurunkan

kekentalan

sekret,

lingkaran

ukuran

lumen

trakeabronkial, berguna jika terjadi


hipoksemia pada kavitas yang luas.

Setelah

dilakukan

intervensi

Jelaskan pada pasien dan keluarga

Memberikan

pengetahuan

kepada

tentang penggunaan peralatan :

keluarga dan menerima perawatan

O2, Suction.

kesehatan adekuat
-

Kaji stimulus kejang

Stimulus kejang pada tetanus adalah

keperawatan selama 3x24 jam,

rangsang cahaya dan peningkatan

perawatan

suhu tubuh

risiko

kejang

berulang tidak terjadi dengan


kriteria hasil:

Hindari stimulus cahaya, kalau


perlu

klien

ditempatkan

pada

Penurunan rangsang cahaya dapat


membantu

menurunkan

rangsang

Klien tidak mengalami kejang

ruangan dengan pencahayaan yang

kejang

kurang
-

Pertahankan bedrest total selama

fase akut
-

Setelah dilakukan intervensi

keperawatan selama 3x24 jam,

Kolaborasi

Mengurangi risiko jatuh/terluka jika


vertigo, sinkop, dan ataksia terjadi

pemberian

terapi:

diazepam, fenobarbital

Untuk mencegah/mengurangi kejang

Monitor kejang pada tangan, kaki,

Gambaran tribalitas sitem persarafan

mulut, dan otot-otot muka lainnya

pusat memerlukan evaluasi yang

klien bebas dari cedera yang

sesuai dengan intervensi yang tepat

disebabkan oleh kejang dan

untuk mencegah terjadinya

penurunan kesadaran dengan

komplikasi

kriteria hasil:

Persiapkan lingkungan yang aman

Klien tidak mengalami cedera

seperti batasan ranjang, papan

apabila kejang berulang terjadi

pengaman, dan alat suction selalu

Melindungi klien bila terjadi kejang

Mengurangi risiko jatuh/terluka jika

berada di dekat klien


-

Pertahankan bedrest total selama


fase akut

Kolaborasi pemberian terapi:


diazepam, fenobarbital

vertigo, sinkop, dan ataksia terjadi


-

Untuk mencegah/mengurangi kejang

INTERVENSI
1. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kejang umum
2. Ansietas yang berhubungan dengan prognosis penyakit, kemungkinan kejang berulang

No

Diagnosa

1.

Hambatan

Tujuan

Intervensi

mobilitas Setelah

Rasional

dilakukan Tinjau kemampuan fisik dan kerusakan Mengidentifikasi

fisik yang berhubungan intervensi selama 7x24 yang terjadi

fungsi

dengan kejang umum

pilihan intervensi

jam

diharapkan

skala

ketergantungan
menurun

dan

klien Kaji tingkat imobilisasi, gunakan skala Tingkat


menjadi tingkat ketergantungan

minimal

care

memerlukan

hasil :

minimal),
terjadi

kandung

bantuan
partial

sebagian),
usus

(hanya

(memerlukan

kontraktur
- Fungsi

menentukan

ketergantungan

minimal dengan kriteria

- Tidak

kerusakan

dan

care
bantuan

total

care

dan

(memerlukan bantuan komplit

kemih

dari perawat dan klien yang

optimal

memerlukan

- Peningkatan

pengawasan

khususs karena resiko cedera

kemampuan fisik

yang tinggi)
Berikan perubahan posisi yang teratur Perubahan posisi teratur dapat
pada klien

mendistribusikan berat badan


secara

menyeluruh

dan

memfasilitasi peredaran darah


serta mencegah dekubitus
Pertahankan body alignment adekuat, Mencegah

terjadinya

berikan latihan ROM pasif jika klien kontraktur atau foot drop serta
sudah bebas panas dan kejang

dapat

mempercepat

pengembalian fungsi tubuh


nantinya
Berikan perawatan kulit secara adekuat, Memfasilitasi sirkulasi dan
lakukan massage, ganti pakaian klien mencegah gangguan integrasi
dengan bahan linen,dan pertahankan kulit
tempat tidur dalam keadaan kering
Berikan perawatan mata, bersihkan Melindungi

mata

dari

mata, dan tutup dengan kapas yang kerusakan akibat terbukanya


basah sesekali

mata terus-menerus

Kaji adanya nyeri, kemerahan, dan bengkak pada area kulit

Indikasi

adanya

kerusakan

kulit dan deteksi dini adanya


dekubitus pada area lokal
yang tertekan
2.

Ansietas
berhubungan
prognosis
kemungkinan

yang Setelah dilakukan intervensi selama Kaji tanda verbal dan nonverbal Reaksi verbal/nonverbal dapat
dengan 1x24 jam diharapkan ansietas klien ansietas,
penyakit, hilang

atau

kejang kriteria hasil :

berkurang

dengan lakukan

dampingi

klien

tindakan

menunjukkan perilaku merusak

dan menunjukkan

rasa

bila marah, dan gelisah

agitasi,

berulang

- Klien

dapat

mengenal Jelaskan sebab terjadinya kejang

perasaannya

klien

- Dapat mengidentifikasi penyebab

ansietas

untuk

terhadap
mengurangi

kejang
Hindari konfrontasi

menyatakan

kooperatif

tindakan

atau faktor yang mempengaruhi

- Klien

Memberikan dasar konsep agar

Konfrontasi

bahwa

dapat

meningkatkan

ansietas berkurang atau hilang

rasa

marah,

menurunkan kerja sama, dan


mungkin

memperlambat

penyembuhan
Mulai melakukan tindakan untuk Mengurangi
mengurangi
lingkungan

kecemasan.
yang

tenang

rangsangan

Beri eksternal yang tidak perlu


dan

suasana penuh istirahat


Tingkatkan kontrol sensasi klien

Kontrol

sensasi

klien

(dan

dalam menurunkan ketakutan)


dengan
informasi
klien,

cara

memberikan

tentang

keadaan

menekankan

pada

penghargaan terhadap sumbersumber

koping

(pertahanan

diri), yang positif, membantu


latihan relaksasi dan teknik-

teknik

pengalihan

dan

memberikan respons balik yang


positif
Orientasikan

klien

terhadap Orientasi

dapat

menurunkan

prosedur rutin dan aktivitas yang kecemasan


diharapkan

Beri kesempatan kepada klien Dapat


untuk mengungkapkan ansietasnya

menghilangkan

ketegangan

terhadap

kekhawatiran

yang

tidak

diekspresikan
Berikan privasi untuk klien dan Memberi
orang terdekat

waktu

mengekspresikan
menghilangkan
perilaku

untuk
perasaan,

cemas,

adaptasi.

dan

Adanya

keluarga dan teman-teman yang


dipilih klien melayani aktivitas
dan

pengalihan

(misalnya

membaca) akan menurunkan


perasaan terisolasi

BAB IV
PEMBAHASAN

SIMV (Synchronize Intermitten Mandatory Ventilator)


Diberikan pada pernapasan spontan dengan tidal volume dan RR yang kurang adekuat untuk
ventilasi dengan tekanan rendah, efek barotrauma minimal serta mencegah otot pernapasan tidak
terlalu kelelahan Ini adalah metode yang bisa digunakan sebelum proses penyapihan.
pada modus ini bantuan nafas dari ventilator, tidak terjadi pada saat pasien bernafas sendiri
sehingga tidak terjadi benturan antara pernafasan pasien dengan ventilator.
1. PEEP
Possitive end-expiratory pressure atau tekanan ekspirasi-akhir positif biasanya
meningkatkan daya kembang baru dan mengurangi kerja pernapasan, atelaktasis, dan
pirau, serta sering memungkinkan penurunan FiO2. PEEP biasanya dimulai pada 3
sampai 5 cm H2O dan ditingkatkan dengan kenaikan-kenaikan kecil. Kadar yang tinggi
dapat menyebabkan penurunan aliran balik vena, overventilasi, dan barotrauma. Curah
jantung harus diukur karena dapat meningkat atau menurun dengan meningkatnya PEEP.
2. Kejang-kejang
Kejang pada tetanus, mungkin disebabkan pengikatan dari toksin oleh cerebral
ganglioside. Kejang otot wajah menghasilkan ekspresi senyum tetap dan alis tinggi (risus
sardonicus). Kekakuan atau kejang perut, leher, dan otot punggung dan kekakuan
belakang dan leher mungkin terjadi. Kejang sfingter menyebabkan retensi urin atau
sembelit, serta dapat menyebabkan disfagia yang dapat mengganggu kebutuhan gizi .
Kejang tonik dengan berkeringat banyak yang dipicu oleh gangguan kecil seperti
kebisingan atau gerakan. Koma dapat mengikuti kejang berulang. Selama kejang umum,
pasien tidak dapat berbicara atau berteriak karena kekakuan dinding dada atau spasme
glotal. Spasme juga mengganggu pernapasan, menyebabkan sianosis atau asfiksia fatal.
Gagal napas adalah penyebab paling umum kematian. Spasme laring dan kekakuan dari
dinding perut, diafragma, dan otot dinding dada menyebabkan sesak napas. Hipoksemia
juga dapat menginduksi serangan jantung, dan kejang faring menyebabkan aspirasi
sekresi oral dengan pneumonia berikutnya dapat memicu kematian hypoxemic.
3. FiO2
FiO2 adalah jumlah oksigen yang dihantarkan/diberikan oleh ventilator ke pasien.
Konsentrasi berkisar 21-100%. Rekomendasi untuk setting FiO2 pada awal pemasangan
ventilator adalah 100%. Namun pemberian 100% tidak boleh terlalu lama sebab rersiko
oxygen toxicity (keracunan oksigen) akan meningkat. Keracunan O2 menyebabkan
perubahan struktur membrane alveolar-capillary, edema paru, atelektasis, dan penurunan
PaO2 yg refrakter (ARDS). Setelah pasien stabil, FiO2 dapat di weaning bertahap
berdasarkan pulse oksimetri dan Astrup. Catatan; setiap tindakan suctioning (terutama pd
pasien hipoksemia berat), bronkoskopi, chest fisioterapi, atau prosedur berat (stres) dan
waktu transport (CT scan dll) FiO2 harus 100% selama 15 menit serta menambahkan 2030% dari pressure atau TV sebelumnya, sebelum prosedur dilakukan. Namun pada
pasien-pasien dengan hipoksemia berat karena ARDS skor tinggi, atau atelektasis berat
yang sedang menggunakan PEEP tinggi sebaiknya jangan di suction atau dilakukan

prosedur bronkoskopi dahulu, sebab pada saat PEEP dilepas maka paru akan segera
kolaps kembali dan sulit mengembangkannya lagi.
4. Volume tidal
Volume tidal adalah jumlah udara yang masuk dan keluar dari paru selama satu kali
napas. Jumlah udara yang diinspirasi (volume inspirasi) pada saat istirahat biasanya sama
dengan jumlah yang dikeluarkan (volume ekspiratori). Rata-rata volume tidal adalah
kurang lebih 500 mL pada saat istirahat.

Dapus:
Tetanus dari www.merckmanuals.com

The Merck Manuals - Trusted Medical and Veterinary Information.


www.merckmanuals.com

DAFTAR PUSTAKA
Silbernagl, Stefan dan Florian Lang. Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi. 2007. Jakarta: EGC.
Ritarwan, Kiking. 2004. Tetanus. Universitas Sumatera Utara : Fakultas Kedokteran.Muliawan,
Sylvia. 2009. Bakteri Anaerib yang erat Kaitannya dengan Problem di Klinik : Diagnosis dan
Penatalaksanaan. Jakarta : EGC.