Anda di halaman 1dari 9

TUGAS PROSTODONSIA

JOURNAL TRANSLATE

The Effect Of Frequent Removable Partial Denture Wearing On Alveolar


Bone Resorption
Efek Frekuensi Pemakaian Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Terhadap Resorpsi Tulang
Alveolar

Nurdiani R
1601120130522
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2014

Efek Frekuensi Pemakaian Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Terhadap Resorpsi


Tulang Alveolar
Daniela Kovaevi Pavii1, Vlatka Lajnert1, Sunana Simoni Kocijan1, Ivone Uha1, Snjeana Glavii2, Zoran Kova1
1Department of Prosthodontics , 2Department of Endodontics and Restorative Dentistry; School of Medicine, University of Rijeka, Rijeka,Croatia

ABSTRAK
Tujuan

Untuk menentukan pengaruh frekuensi penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan

(GTSL) terhadap perubahan ketebalan tulang alveolar gigi penyangga.


Metode Lima puluh responden yang menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan dilibatkan
dalam penelitian tersebut. Tiga puluh satu responden (62%) memakai gigi tiruan 24 jam sehari,
sementara sembilan belas (34%) dari mereka menggunakan gigi tiruan hanya pada siang hari.
Perubahan kepadatan tulang di sekitar gigi penyangga ditentukan oleh metode mikrodensitometri
intraoral. Pemotretan radiografi retroalveolar standar dilakukan dua kali. Yang pertama
dilakukan sebelum penggunaangigi tiruan sebagian lepasan dan yang kedua setelah periode tiga
bulan penggunaan gigitiruan. Wedges tembaga yang terdiri dari berukuran 0,1-0,5 mm melekat
pada film radiografi sebagai alat kalibrasi. Tujuh poin, daerah yang diamati ( Regions of Interest
/ ROI) dekat dengan akar

gigi penyangga, berukuran 10 piksel, dipilih pada setiap foto

radiografi. Daerah abu-abu di daerah yang ingin diamati diukur dan diubah menjadi setara
ketebalan wedge tembaga untuk memperkirakan perubahan kepadatan tulang alveolar dan
mengukur perbedaan kepadatan tulang alveolar antara dua foto radiografi.
Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perubahan statistik yang relevan (t-value <
2,011; t(49,0.05) / F< 4,0426; F0.05(1,48)) pada kepadatan tulang alveolar dengan frekuensi dari
pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan.
Kesimpulan Frekuensi pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan tidak menyebabkan perubahan
kepadatan tulang alveolar di sekitar gigi penyangga pada periode tiga bulan pemakaian
gigitiruan.
Kata kunci tulang alveolar, gigi tiruan lepasan, radiografi

PENDAHULUAN
Resorpsi tulang alveolar adalah proses yang kronik dan progresif dengan etologi
multifaktor. Proses individual ini tergantung pada banyak faktor lokal dan sistemik (2-11).
Probabilitas resorpsi tulang alveolar dengan pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL)
meningkat karena tingkat stres pengunyahan yang bertambah besar untuk gigi penyangga
melalui sandaran oklusal, dan melalui alat pendukung tulang alveolar. Transmisi aksial gaya
pengunyahan menyebabkan penebalan ligamen periodontal gigi penyokong yang dimana melalui
daya tariknya mengakibatkan aposisi sementum dan tulang alveolar, itulah yang, menyebabkan
peningkatan kepadatan tulang dan trabekula tulang spesifik. Di sisi lain,,gaya oblik
mempengaruhi gigi baik secara tekanan dan tensil, dan sebagian besar terkonsentrasi pada area
kecil dan, juga, melebihi batas toleransi individu dengan sangat cepat. Gaya tersebut
menyebabkan gangguan dalam sirkulasi dan kerusakan periodontal gigi, dan, akibatnya,
menyebabkan penurunan kepadatan tulang alveolar. Selama pengunyahan fungsi cangkolan
adalah sebagai retensi GTSL. Gaya yang muncul bersifat non-fisiologis, tetapi, juga, tidak dapat
dihindari. Dengan demikian, kita mengasumsikan bahwa semakin lama efek dari gaya merugikan
tersebut terjadi, semakin besar resorpsi alveolar tulang yang akan terjadi. Ini membawa kita
untuk memeriksa apakah pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan yang lebih sering setiap harinya
dapat menyebabkan peningkatan resorpsi tulang alveolar. Data literatur yang sudah ada tidak
homogen. Beberapa penulis menyatakan bahwa frekuensi pemakaian GTSL sebagian besar
mempengaruhi resorpsi tulang alveolar, sedangkan data yang lain menyatakan tidak ada
pengaruh yang relevan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti
ilmiah mengenai pengaruh frekuensi pemakaian GTSL pada kepadatan tulang alveolar di sekitar
gigi penyangga. Data yang diperoleh akan diterapkan dalam praktek, yaitu, pasien akan
disarankan untuk memakai gigi palsu parsial 24 jam sehari atau hanya pada siang hari.
Perubahan kepadatan tulang alveolar yang paling mudah diperkirakan dengan beberapa
seri foto radiografi. Apa yang ingin dicapai adalah kondisi standar radiografi,yaitu, perbedaan
intensitas X-radiasi, tegangan, serta sebagai perbedaan dalam prosedur pengembangan dan
sensitivitas film. Dengan demikian, kalibrasi wedges, bervariasi dalam bahan dan ketebalan pun
digunakan. Mereka memungkinkan konversi tingkat abu-abu yang berbeda pada gambar yang

dipindai ke dalam kalibrasi ketebalan wedge, dan berbagai metode matematika yang digunakan
untuk mengukur perbedaan dalam kepadatan tulang antara beberapa gambar dari pasien yang
sama. Metode ini sederhana, cepat dan ekonomis, dan kesalahan yang mungkin terjadi dalam
proses dapat diabaikan dan bersifat acak.

METODE PEMERIKSAAN
Lima puluh peserta ujian dari kedua jenis kelamin yang disertakan dalam penelitian ini,
memakai gigi tiruan sebagian lepasan, (18 orang laki-laki dan 32 orang perempuan; 62.1 tahun,
median 64 tahun). Tiga puluh satu peserta ujian (62%) memakai GTSL selama 24 jam dalam
sehari, sedangkan 19 (38%) dari mereka memakainya hanya pada siang hari. Para peserta ujian
dipilih acak di antara pasien yang datang ke Departemen Prostdonsia Fakultas Kedokteran Gigi,
Fakultas Kedokteran, Universitas Rijeka. Studi ini disetujui oleh Komite Etik Sekolah
Kedokteran dan semua pasien menandatangani informasi persetujuan.
Gigi yang diperiksa diradiografi menggunakan metode retroalveolar dua kali dalam
rentang waktu tiga bulan. Pertama kali sebelum GTSLdipakaikan kepada pasien (untuk tujuan
diagnostik) dan yang kedua kalinya setelah periode tiga bulan dari pemakaian GTSL.
Semua foto radiografi diambil dalam keadaan yang sama menggunakan ei-nis (Ni,
Yugoslavia) perangkat X-ray dengan tegangan 70 kV dan arus konstan 15 mA, dipaparkan dalam
waktu satu detik dalam film kodak Ultraspeed (Eastman Rochester, N.Y.). Film-film dicuci di
dalam ruang gelap Dur Dental Nova (Jerman) secara otomatis. Wedge tembaga terkalibrasi yang
terdiri dari lima step dengan ketebalan 0.1-0.5 mm

yang dilekatkan pada setiap radiograf

sebelum pemaparan. Wedges yang disisipkan ke film radiograf agar tidak menutupi gigi dan
jaringan tulang. film-film dipindai menggunakan Umax Astra 3450 scanner dengan resolusi 8-bit
dan 300 dpi. 7 daerah yang diamati (Regions if Interest / ROI) di sekitar akar gigi dalam ukuran
sepuluh piksel ditandai pada setiap radiografi (Gambar 1).

Gambar 1 Tujuh daerah yang diamati


(Regions of Interest / ROI). ROI 1 - 1 mm
ke mesial dari ligamen periodontal pada
puncak tulang alveolar; ROI 2 - 1 mm ke
distal dari ligamen periodontal pada puncak
tulang alveolar; ROI 3 - 1 mm ke mesial dari
ligamen periodontal pada akar gigi; ROI 4 1 mm ke distal dari ligamen periodontal
pada akar gigi; ROI 5 - 1 mm dari bagian
apikal ligamen periodontal pada akar gigi;
ROI 6 - 1 mm ke mesial dari tengah antara
jarak ROI 1 dan ROI 3; ROI 7 - 1 mm ke
distal dari tengah antara jarak ROI 2 dan
ROI 4.
ROI juga dipilih pada radiografi kedua. Gambaran Scion (Beta 4.0.2.) Perangkat lunak
dan polinomial derajat tiga serta Knezovi- Metode Zlatari digunakan untuk mengkonversi t
abu-abu ke dalam kalibrasi tembaga ketebalan wedge yang disamakan. Kesamaan digunakan
untuk menghitung perbedaan antara dua radiografi.

HASIL
Mempertimbangkan keterangan sampel (seperti jumlah peserta penelitian dan distribusi
pemakaian GTSL dalam sampel) satu T-test untuk pola yang bergantung digunakan untuk
menganalisis kemungkinan perbedaan kepadatan tulang alveolar di berbagai posisi (ROI) untuk
keseluruhan sampel. Tingkat kepercayaan pengukuran tersebut diverifikasi oleh koefisien variasi
(cv) yang dikategorikan sampel penelitian variasi rendah, dengan nilai kurang dari 0,3 (varians
tidak berbeda secara signifikan) apa memberi kami keyakinan bahwa t-test yang dilakukan sudah
valid. Tingkat yang dipilih dari signifikansi p = 0,05 (hasil signifikan pada probabilitas 95%
menyatakan bahwa data kami dapat mendukung kesimpulan dengan kepercayaan 95%). Kami
anggap tingkat signifikansi ini sebagai wajar.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua ROI yang dianalisis memiliki nilai t yang
dihitung kurang dari 2,011 yang sesuai dengan t ditabulasikan untuk t (49,0.05). Itu berarti
bahwa hasil belum menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam alveolar yang kepadatan
tulang mengenai ROI diperiksa antara dua radiografi tercatat dua kali dalam jawaban tiga bulan
(Tabel 1).
Tabel 1. Hasil pemeriksaan ROI (antara radiograf pertama dan radiograf kedua dalam periode
tiga bulan setelahpemakaian pertama gigi tiruan sebagian lepasan) disediakan oleh Student t-test.

ROI, Region of Interest; ROI A, hasil pembacaan awal pada ROI; ROI B, hasil pembacaan
setelah 3-bulan pemakaian GTSL; N, sampel; X, sampel rata-rata; s, standar deviasi populasi; cv,
koefisien variasinya; df, tingkat kebebasan; t, dihitung nilai t-test
Selain itu, analisis varian satu arah dipilih untuk memisahkan substansi dari perbedaan
kepadatan tulang alveolar di ROI yang diperiksa tergantung pada frekuensi pemakaian GTSL.
Hasil yang diperoleh menegaskan bahwa tidak ada perbedaan statistik yang signifikan tampak
dalam kepadatan tulang alveolar terhadap frekuensi pemakaian GTSL (yang dikenakan selama
12 jam di siang hari dalam sehari, atau memakai selama 24 jam perhari) ROI diperiksa dalam
rentang waktu tiga bulan. Pada tingkat yang dipilih sama probabilitas dengan p = 0,05 semua
ROI yang dianalisis memiliki variasi nilai rasio (F-value) kurang dari 4,0426 yang sesuai dengan
tabulasi F untuk F0.05 (1,48)) (Tabel 2) (Gambar 2).

Tabel 2 Daerah diperiksa bunga (antara radiograf pertama dan radiograf kedua di periode tiga
bulan setelah awal pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan) dengan hasil perhitungan ANOVA

Gambar 2 Perubahan kepadatan tulang alveolar terhadap penggunaan gigi tiruan sebagian
lepasan.

DISKUSI
Tulang alveolar rentan terhadap perubahan selama seumur hidup seseorang. Resorpsi
yang terjadi di sekitar gigi penyangga adalah proses individual dan kompleks yang dideteksi
secara sederhana dan ekonomis dengan menggunakan seri foto radiografi. Namun, kehilangan
tulang alveolar baru dapat diamati secara visual ketika melebihi 30%, maka dari itu kami telah
memilih untuk estimasi komputasi dan kalibrasi menggunakan wedges, yang memungkinkan kita
untuk mendapatkan nilai sebenarnya dari kepadatan tulang diubah menjadi kalibrasi yaitu
ketebalan irisan wedge setara dengan hilangnya ketebalan tulang sebesar 10%.
Metode Knezovi-Zlatari dipilih dalam penelitian ini karena dalam penelitiannya telah
membuktikan bahwa koefisien korelasi dengan fungsi tingkat tiga polinomial saling mendekati,
yang menunjukkan nilai ketepatan metode yang besar.
Mayoritas penelitian mengenai perubahan kepadatan tulang alveolar yang

telah

dilakukan mengkaitkan terhadap landasan gigi tiruan, tapi kami yakin bahwa menentukan reaksi
tulang alveolar di daerah sempit di sekitar gigi penyangga merupakan suatu kasus yang menarik
dan memiliki kepentingan ilmiah secara profesional. GTSL adalah benda asing di dalam rongga
mulut, yang selama pengunyahan mempengaruhi gigi penyangganya yang berfungi sebagai tuas.
Karena yang kami harapkan bahwa resorpsi tulang pada peserta penelitian yang memakai GTSL
selama 24 jam sehari akan lebih besar dIbandingkan dengan mereka yang memakai GTSL hanya
sesekali. Data literatur tentang efek frekuensi pemakaian GTSL menyatakan ketidak sesuaian.
Bargman dan Kalk dalam penelitian mereka tidak mendapatkan perbedaan statistik yang relevan
antara pasien yang memakai GTSL selama 24 jam dalam sehari dan mereka memakai GTSL
hanya siang hari. Berlawanan dengan itu, Xie melihat a resorpsi tulang lebih besar secara
signifikan pada pasien yang mengenakan GTSL selama 24 jam sehari.
Imai dan Sato telah meneliti masalah ini dengan menggunakan tikus. Meskipun demikian
mereka telah membuktikan bahwa tekanan konstan meningkatkan resorpsi tulang alveolar.
Namun, tekanan konstan nonfisiologis dan situasi seperti ini tidak terjadi di mulut ketika GTSL
telah direncanakan dengan benar, memiliki retensi yang baik dan stabil. Adanya gaya oblik
mempengaruhi tulang hanya ketika GTSL sedang melakukan fungsi, yaitu ketika pengunyahan,
yang dilakukan sekitar 20 menit per hari. Sisa waktu di hari tersebut disebut dengan masa

istirahat selama GTSL dengan cangkolan yang beradaptasi dengan baik terhadap gigi penyangga
tidak menyebabkan tekanan apapun, dan memberikan kesempatan untuk tulang alveolar untuk
regenerasi. Pada GTSL dengan retensi dan stabilitas yang butruk terjadi hal sebaliknya, terjadi
iritasi konstan pada gigi gigi penyangga dan struktur pendukung, dengan demikian, diharapkan
akan berpengaruh pada resorpsi tulang alveolar. Masalah utama, menurut Celebic et al. adalah
ketika pasien tidak memonitor prostesa mereka secara obyektif dan menjaga faktor-faktor
penting gigi tiruan (retensi, stabilisasi, oklusi). Hasil penelitian kami belum menunjukkan
perbedaan statistik yang relevan dalam pemeriksaan kelompok. Mungkin berasal dari kenyataan
bahwa kita telah meneliti perubahan selama tiga bulan periode setelah awal pemakaian protesa
ketika protesanya masih benar-benar memuaskan dalam hal retensi, stabilisasi dan oklusi dan
tidak menyebabkan resorpsi meningkat secara signifikan. Namun, perlu dicatat bahwa kami juga
telah memperhatikan hasil positif dari penurunan ringan pada kepadatan tulang alveolar dan akan
disarankan untuk melanjutkan pemeriksaan perubahan tulang secara longitudinal untuk
menentukan apakah terjadi perubahan yang lebih signifikan akan terjadi atau terjadi perubahan
keseimbangan fungsional.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa selama periode awal dari pemakaian GTSL
pada pasien, tidak ada perbedaan dalam kepadatan tulang alveolar antara pasien yang memakai
GTSL selama 24 jam sehari dan mereka yang memakai GTSL hanya pada siang hari.

PENEMUAN
Tidak ditemukan penemuan khusus di dalam penelitian ini

PERNYATAAN TRANSPARAN
Tidak ada yang dapat dinyatakan.