Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

GAGAL INDUKSI

Penyusun:
BENITA PUTRI PERMATA
030.05.050

Pembimbing:
dr. Irwan Kreshnamurti, Sp.OG

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RSAU Dr. Esnawan Antariksa
Periode 13 Januari 2014 22 Maret 2014
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta
2014

BAB I
PRESENTASI KASUS
I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. H

Umur

: 24 tahun

Pendidikan

II.

: SMA

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Suku

: Batak

Agama

: Kristen

Alamat Rumah

: Jl. Falcon VIII, Halim pk

Tgl.Masuk RS

: 05 Maret 2014, pukul 12:15

No.CM

: 06.13.48

DATA DASAR
Diperoleh secara autoanamnesis. Tanggal 19 November 2014 , pukul 15:20
WIB
a. Keluhan Utama :
Belum ada keluhan kencang-kencang dan mulas-mulas, padahal sudah
41 minggu.
b. Keluhan Tambahan :
Agak kesulitan bernafas
c. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang kiriman dari poliklinik ke Ruang Nuri RUSPAU dengan
keluhan belum ada keluhan kencang-kencang dan mulas-mulas, Hari
pertama haid terakhir pasien tanggal 21 mei 2013. Pasien tidak
menggunakan kb sejak bulan desember 2009 . Saat sekitar bulan Juli,
pasien merasakan mual dan setelah itu pasien memeriksakan ke dokter
dan melakukan USG pertama kali pada bulan agustus 2013 dinyatakan
sudah hamil 10 minggu. Dilakukan USG kembali tanggal 29 mei 2013 di
Rsau dr.Esnawan antariksa dengan BPD 3,0 cm. Kemudian USG kembali
pada tanggal 16 oktober 2013 BB ibu 80 kg dan BPD 3,30 cm. Dilakukan
USG pada tanggal 5 maret 2013 dan didapatkan janin tunggal hidup

persentasi kepala (postero oksipito persistent). TBJ 2800 gr , ketuban


normal. Pasien pernah mengalami kehamilan 1 kali sebelumnya dan
dilahirkan secara normal, bayi laki-laki, BB 3100 gram, PB ibu mengaku
lupa, usia anak pertama sekarang 6 tahun, mendapatkan ASI, tumbuh
normal dan sehat sampai sekarang. Adanya keluhan seperti rembesan air
ketuban, keluarnya darah-lendir disangkal oleh pasien. Pasien sebelumnya
pernah dikuret tanggal 23 februari 2012. Pasien mengaku tidak pernah
mengalami keguguran. Pasien juga tidak merokok dan minum akohol.
HPHT : 28 Februari 2014
TP

: 5 November 2014

d. Perangai Pasien
- Kooperatif
e. Riwayat Haid :
- Menarche

: usia 13 tahun.

- Siklus

: 28 hari, teratur.

- Lamanya

: 5-7 hari

- Nyeri haid : tidak ada.


- Banyaknya : 3 kali ganti pembalut per hari.
f. Riwayat KB :
- KB suntik dan kb pil secara selang-seling setelah kelahiran anak yang
pertama, selama 2 tahun, kemudian berhenti, dilanjutkan KB IUD
pada tahun 2009 tetapi pasien mengalami perdarahan terus menerus,
setelah itu IUD dilepas.
g. Riwayat Pernikahan :
Menikah 1 kali dengan suami yang sekarang selama 7 tahun.

h. Riwayat Obstetri :
1. laki-laki 6 tahun yang lalu, lahir secara normal, berat janin 3100
gram, ditolong oleh dokter.
2. Sekarang.
i. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat Hipertensi

: Disangkal

- Riwayat Diabetes Melitus : Disangkal


- Riwayat Penyakit Jantung : Disangkal
- Riwayat Asma

: Disangkal

- Riwayat Alergi

: Disangkal

j. Riwayat Penyakit Keluarga


- Riwayat Hipertensi

: Disangkal

- Riwayat Diabetes Melitus : Disangkal


- Riwayat Penyakit Jantung : Disangkal
- Riwayat Asma

: Disangkal

- Riwayat Alergi

: Disangkal

k. Catatan Penting Selama Asuhan Antenatal


ANC di dokter, kontrol kehamilan sejak usia kehamilan 10
minggu. Setiap bulan sekali sampai usia kehamilan 41 minggu. Setelah
usia kehamilan 32 minggu, pemeriksaan dilakukan tiap 2 minggu
sekali. Pasien mengaku tidak vaksin TT karena pasien lupa.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis:

Kesadaran
Kesan sakit
Status gizi
Sikap pasien
Komunikasi
Postur tubuh
Dispnoe
TB / BB

KEADAAN UMUM
Compos mentis
Sakit sedang
Baik
Kooperatif
Baik
Piknikus
Tidak tampak
158 cm / 85 kg
TANDA2 VITAL

Tekanan darah
Nadi
Suhu
Respiratory rate

120/80 mmHg.
90 x/menit.
36C
18 x/menit

Turgor kulit
Warna kulit
Kelembaban
Tekstur kulit
Sianosis
Ikterik
Bentuk kepala

KULIT
Baik
Sawo matang
Baik
Flat
Tidak tampak
Tidak tampak
KEPALA
Normo sefali

RAMBUT
Warna
Distribusi
Kekuatan akar
rambut
Nyeri tarik

Hitam
Merata
Kuat tidak mudah dicabut

Bentuk
(simetris/asimet
ris)
Anemis / An
anemis
Nyeri tekan
sinus frontalis
Nyeri tekan
sinus maxillaaris
Nyeri tekan
sinus sphenoid

Simetris

Tidak ada
WAJAH

An anemis
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

MATA
ALIS
Warna
Distribusi
Kekuatan
Ketebalan
PALPEBRA
Oedem
Ptosis
Furunkel
Exopthalmus
Enopthalmus
Konjungtiva

BOLA MATA
Sklera
Pupil
Refleks cahaya
langsung
Refleks cahaya
tidak langsung

Hitam
Merata
Tidak mudah dicabut
Tebal
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

ada
ada
ada
ada
ada
anemis

Tidak ikterik
Isokor
+/+
+/+

TELINGA
Bentuk
Nyeri tekan
tragus
Nyeri tekan
mastoid
Serumen
Membran
timpani
Deviasi septum
Sekret
Mukosa
Oedem konka
Tophi
Sadle nose
Lubang simetris
Bentuk
Labioschizis
Sianosis
Mukosa
(kering/pecahpecah)

Normal
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Intake
HIDUNG
Tidak ada
Tidak ada
Tidak hiperemis
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Simetris
BIBIR
Simetris
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

MULUT
Gusi merah
mudah
Lidah fetor
UVULA
Posisi
Deviasi
Hiperemis
Tonsil
Karies
Infected
Plak
Stent
Gigi hilang
Pembesaran
kelenjar
Deviasi trakea
Kaku kuduk
Kelenjar tiroid
JVP

Pergerakan dada
saat statis /
dinamis
Retraksi
Hiperpigmentasi
Benjolan
Pelebaran vena
superficial
Spidernevi
Ginekomastia
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

Auskultasi
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

Tidak ada
Tidak ada
Tenang
Sentral
Tidak ada
Tidak ada
T1-T1 tenang
Tidak ada
Tidak ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada
LEHER
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak teraba

THORAK DEPAN
Simetris
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

ada
ada
ada
ada

Tidak ada
Tidak ada
PARU
Bentuk normal, simetris dalam stasis dan
dinamis
Fremitus taktil sama di kedua lapang paru.
Sonor di seluruh lapang paru
Batas paru hepar pada IC VI garis mid
clavicula kanan
Batas paru lambung pada IC VIII garis
axillaris anterior kiri
SN vesikuler, Rh -/-, Wh -/-.
JANTUNG
Ictus cordis tidak terlihat
Ictus cordis teraba di ICS IV, tidak kuat
angkat
Batas kiri jantung di ICS V garis mid
clavicularis kiri

Auskultasi
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

Auskultasi
Inspeksi
Palpasi

Perkusi
Auskultasi

Akral
Palmar eritem
Clubbing finger
Sianosis
Ikterik
Motorik
Sensorik
Akral
Palmar eritem
Clubbing finger
Sianosis
Ikterik
Motorik
Sensorik

Batas kanan jantung di ICS V garis mid


sternal kanan
Batas atas jantung di ICS III garis para
sternal kiri
S1 S2 Reguler murmur tidak ada, gallop
tidak ada
THORAKS BELAKANG
Tidak ada benjolan
Fremitus taktil sama di kedua lapang paru
Batas bawah paru kanan belakang setinggi
Th. IX
Batas bawah paru kiri belakang setinggi
Th.X
Sn vesikuler, Rh -/-, Wh -/ABDOMEN
Membuncit
TFU 33 cm
Leopold I : bokong
Leopold II : puki
Leopold III : kepala
Leopold IV : pembukaan 4/5
Timpani
DJJ1 133 kali/menit

EKSTREMITAS ATAS
Hangat
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Baik
Baik
EKSTREMITAS BAWAH
Hangat
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Baik
Baik

Status Obstetri:
1. Pemeriksaan luar
INSPEKSI :
perut membuncit.
PALPASI :

TFU

: 33 cm.

Leopold I

: Teraba 1 bagian besar, bulat lunak, dan tidak


melenting.

Leopold II

: Teraba bagian kontinyu dari janin (punggung janin)


pada sisi kiri ibu.

Leopold III

: Teraba bagian keras dan bulat tidak dapat digerakan


pada sisi kiri ibu.

Leopold IV

: pembukaan 4/5

AUSKULTASI :
DJJ1 : 133 kali/menit
2. Pemeriksaan Dalam
Porsio tebal lunak, bibir portio mendatar, belum ada pembukaan.
IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
-

Pemeriksaan Laboratorium (5/3/2014)


Hemoglobin

: 11,6 mg/dl ( Normal: 11,7 15,5 )

Leukosit

: 15.800 /mm2 (normal : 3600-11.000)

Trombosit

: 294.000 /mm2 ( Normal: 150 440 ribu/mm2)

Hematokrit

: 35 % ( Normal : 35 47%)

Bleeding time : 3 menit


Clotting time : 4 menit
-

USG (tanggal 5 Maret 2014)


o Janin tunggal hidup, presentasi kepala (postero oksipito
persistent), dengan usia kehamilan 40-41 minggu dengan
taksiran berat 2800 gr.

V.

DIAGNOSIS KERJA
Ibu

: G2P1A0 Hamil 40-41 minggu, janin tunggal intrauterin


presentasi kepala (postero oksipito persistent).

Janin

: Janin tunggal hidup intrauterin presentasi kepala (postero


oksipito persistent).

VI.

RENCANA PENATALAKSANAAN
Rencana Diagnosis:
-

Observasi tanda-tanda vital

Observasi kontraksi, DJJ, gerak janin


Rencana Terapi:
o Pasang iv line
o Iuvd RL + 5 unit oxytocin 10 tpm 40 tpm
Rencana Operasi SC:
o Puasakan pasien (5 Maret 2014 malam hari)
o Pasang kateter

Rencana Pendidikan:
Menjelaskan pada pasien dan keluarga akan keadaan ibu pada rencana
yang akan dilaksanakan.
VII.

PROGNOSIS
Ibu

: bonam.

Janin

: ad bonam

PERKEMBANGAN SOAP
Tanggal 5-03-2014,
pkl. 14.30 WIB
S

kenceng-kenceng (-), rembesan air (-), lendir (-), darah (-)

TD : 110/60 mmHg, N : 84 x/menit, S : 360C, RR : 20 x/menit


Abdomen : TFU 34 cm
L1 : bokong
L2 : puki

L3 : kepala
L4 : belum masuk PAP
A

G2P1A0 Hamil 41 minggu, janin tunggal intrauterin presentasi kepala

(postero oksipito persistent).


P

pro SC

Tanggal 6-03-2014,
pkl. 07.00 WIB
S

kenceng-kenceng (-), rembesan air (-), lendir (-), darah (-)

TD : 110/70 mmHg, N : 80 x/menit, S : 360C, RR : 20 x/menit


Abdomen : TFU 34 cm
L1 : bokong
L2 : puki
L3 : kepala
L4 : belum masuk PAP

G2P1A0 Hamil 41 minggu, janin tunggal intrauterin presentasi kepala

(postero oksipito persistent).


P

pro SC

Tanggal

: 6-03-2014

Jam

: 09.20 wib

Telah dilakukan operasi SC oleh dr. Irwan, Sp.OG, bayi lahir pada pukul 09.50 WIB,
jenis kelamin perempuan, BBL : 2600 gr, PBL : 47 cm, A/S : 8/9, anus (+), cacat (-),
HR 148 x/menit, RR 40x/menit, Suhu 37,1 0C, pernafasan cuping hidung (-), retraksi
dada (-), pergerakan bayi aktif, warna ketuban jernih, plasenta lahir lengkap.
Follow up post partum
Tanggal 6-3-2014,
pkl. 14:30 WIB
S : nyeri post op (+), mobilisasi (-), ASI (-), makan (-), minum (-), BAK on DC, BAB
(-), flatus (-)
O : abdomen
Inspeksi

: buncit (-)

Palpasi

: TFU 2 jari dibawah pusat

Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus ( - )
A : P2 A0 post SC atas indikasi gagal induksi
P : R. Dx/ :

- Observasi TTV
- Mobilisasi bertahap.
- Motivasi
- Diet TKTP
- Infus RL 20 tpm + 2 ampul oksitosin /24 jam
- inj cefotaxim 2 x 1 gr iv
- inj vit c 2 x 1 amp iv
- inj neurobion 1 x 1 amp
- Ciprofloxacin tablet 3 x 500 mg
- Sangobion tab 1 x 1
- Asam mefenamat tab 3 x 1
- Profenid supp 3 x 1 mg
- Sangobion tablet 1 x 1

VIII. Resume
Pasien datang kerumah sakit G2P1A0 G2P1A0 Hamil 41 minggu, janin tunggal
intrauterin presentasi kepala (postero oksipito persistent). Dengan keluhan Belum ada
keluhan kencang-kencang dan mulas-mulas, padahal sudah 41 minggu.
Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit darah tinggi, DM, asma, maupun
alergi. Riwayat ANC baik. Pasien direncanakan tindakan operasi sc dengan indikasi
gagal induksi
Pasien melahirkan bayi bayi lahir pada pukul 09.50 WIB, jenis kelamin
perempuan, BBL : 2600 gr, PBL : 47 cm, A/S : 8/9, anus (+), cacat (-), HR 148
x/menit, RR 40x/menit, Suhu 37,1 0C, pernafasan cuping hidung (-), retraksi dada (-),
pergerakan bayi aktif, warna ketuban jernih, plasenta lahir lengkap. Kondisi ibu
setelah persalinan baik dengan hemodinamik stabil.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
KEHAMILAN POST TERM
A. Definisi
Kehamilan serotinus atau kehamilan post term adalah kehamilan yang
berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid
terahir menurut rumus neagle dan siklus haid rata 28 hari (Prof. Dr. dr. Sarwono
Prawirohardjo ). Kehamilan post term memiliki pengaruh terhadap janinnya, walau
masih dalam perdebatan tetapi kehamilan post term memiliki hubungan terhadap
perkembangan hingga kematian janin. Ada janin yang lebih dari 42 minggu berat
badannya terus bertambah, dan ada yang tidak bertambah dan lahir dengan berat
badan kurang dari semestinya, atau meninggal di dalam rahim karena kekuangan
oksigen dan makanan.
B. Konsep Kehamilan
Kehamilan merupakan masa dimulainya konsepsi sampai lahirnya janin. Lama
kehamilan normal adalah 280 hari atau 40 minggu atau 9 bulan 7 hari, dihitung dari
hari pertama haid terakhir .Kehamilan matur (cukup bulan) berlangsung kira-kira 40
minggu (280 hari) dan tidak lebih dari 43 minggu (300hari). Kehamilan berlangsung
antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan premature, sedangkan lebih dari 43
minggu disebut kehamilan post matur atau serotinus.
2. Berikut mengenai tanda-tanda kehamilan
a. Tanda kehamilan tidak pasti

Nausea (enek) dan emesis (muntah).

Enek terjadi umumnya pada bulan-bulan pertama kehamilan, disertai kadangkadang oleh emesis. Sering terjadi pada pagi hari, tetapi tidak selalu. Keadaan
ini lazim disebut morning sickness

Amenorea (tidak dapat haid).


Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil tidak dapat haid lagi.
Penting diketahui tanggal hari pertama haid terakhir, supaya dapat ditentukan
tuanya kehamilan dan bila persalinan diperkirakan akan terjadi.

Mengidam (ingin makanan khusus/tertentu).


Mengidam sering terjadi pada bulan bulan pertama akan tetapi menghilang
dengan makin tuanya kehamilan.

Pingsan.
Sering dijumpai bila berada pada tempat-tempat ramai. Dianjurkan untuk tidak
pergi ke tempat-tempat ramai pada bulanbulan pertama kehamilan. Hilang
sesudah kehamilan 16 minggu.

Anoreksia (Tidak ada selera makan).


Pada bulan-bulan pertama terjadi anoreksia, tetapi setelah itu nafsu makan
timbul lagi.

Sering kencing.
Terjadi karena kandung kemih tertekan oleh rahim yang membesar. Gejala ini
akan hilang pada triwulan kedua kehamilan. Pada akhir kehamilan, gejala ini
kembali, karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin.

Obstipasi
Terjadi karena tonus otot menurun yang disebabkan oleh pengaruh hormon
steroid.

Pigmentasi kulit
Terjadi pada kehamilan 12 minggu ke atas. Pada pipi, hidung dan dahi kadangkadang tampak deposit pigmen yang berlebihan, dikenal sebagai chloasma
gravidarum. Areola mammae juga menjadi lebih hitam karena didapatkan
deposit pigmen yang berlebih. Daerah leher menjadi lebih hitam. Demikian pula
linea alba di garis tengah abdomen menjadi lebih hitam (linea griea).pigmentasi
ini terjadi karena pengaruh dari hormon kortiko-steroid plasenta yang
merangsang melanofor dan kulit.

Epulis

Epulis adalah suatu hipertrofi papilla ginggivae, sering terjadi pada triwulan
pertama.

Varises.
Sering dijumpai padaa triwulan terakhir pada triwulan terakhir. Didapat pada
daerah genitalia eksterna, fosa poplitea, kaki dan betis. Pada multigravida
kadang-kadang varises ditemukan pada kehamilan terdahulu, timbul kembali
pada triwulan pertama. Terkadang timbulnya varises merupakan gejala pertama
kehamilan muda

b. Tanda pasti kehamilan

Pada palpasi dirasakan bagian janin dan balotemen serta gerak janin.
Pada auskultasi terdengar detak jantung janin (DJJ). Dengan stetoskop laennec
DJJ terdengar pada kehamilan pada kehamilan 18-20 minggu. Dengan alat
doppler DJJ terdengar pada kehamilan 12 minggu.

Dengan ultrasonografi (USG) atau scaning dapat dilihat gambaran janin.


Pada pemeriksaan sinar X tampak kerangka janin. Tidak dilakukan lagi
sekarang karena dampak radiasi terhadap janin

C. Etiologi
Penyebab kehamilan post term sampai saat ini belum diketahui secara jelas,
namun beberapa teori kehamilan dapat menjelaskan tentang kehamilan post term
seperti pengaruh progesteron, teori oksitosin, teori kortisol, teori syaraf uterus, dan
herediter akan tetapi tidak ada yang dianggap mutlak benar dari teori-tersebut.
D. Patofisiologi
Pada kehamilan lewat waktu terjadi penurunan oksitosin sehingga tidak
menyebabkan adanya his, dan terjadi penundaan persalinan. Permasalahan kehamilan
lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2
sehingga janin mempunyai resiko asfiksia sampai kematian dalam rahim ( Manuaba,
1998), dimana terjadi perubahan-perubahan pada faktor fisiologi yaitu disfungsi
placenta. Yang terjadi pada placenta diantara lain adalah kalsifikasi yang ditimbulkan
karena penimbunan kalsium, selaput vakulosinsial menjadi tambah tebal dan jumlah
nya berkurang, terjadi proses degenerasi placenta, dan perubahan biokimia pada
placenta.

Fungsi placenta mencapai puncak pada umur 38 minggu, dan mulai menurun
sejak umur kehamilan 42 minggu. Rendahnya fungsi placenta berkaitan dengan
peningkatan kejadian gawat janin sebesar 3 kali lipat. Akibat penuaan placenta
membuat pasokan makanan dan oksigen menjadi berkurang disamping adanya
spasme arteri spiralis. Sirkulasi uretoplasenter berkurang 50%, dan mempengaruhi
beberapa hal, diantaranya :

Berat janin : kehamilan lebih dari 42 minggu dapat menyebabkan pasokan dari
placenta berkurang karena insufisiensi placenta sehingga berat janin berkurang tetapi
juga dapat menyebabkan bayi terus tumbuh jika placenta masih baik, sehingga dapat
menghasilkan bayi besar.

Sindroma postmatur : ditemui pada bayi dengan post matur adalah gejala-gejala
gangguan pertumbuahan, dehidrasi, kulit kering, keriput seperti kertas, kuku panjang,
tulang tengkorak lebih keras, hilangnya verniks kaseosa dan lugano, maserasi kulit
terutama di lipat paha dan genital, warna coklat kehijauan pada kulit , muka tampak
menderita dan rambut yang sudah tebal. Tidak semua bayi menunjukan gejala
tersebut, tergantung dari fungsi plasenta. Menurut derajatnya ada 3 stadium :
Stadium 1 : kulit kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh
dan mudah mengelupas
Stadium 2 : gejala diatas disertai pewarnaan kehijauan muconium pada kulit
Stadium 3 : disertai pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat.
E. Gejala dan Tanda
Tanda dan gejala tidak terlalu dirasakan, hanya dilihat dari tuanya
kehamilan. Biasanya terjadi pada masyarakat di pedesaan yang lupa akan hari
pertama haid terakhir. Bila tanggal hari pertama haid terakhir di catat dan diketahui
wanita hamil, diagnosis tidak sukar, namun bila wanita hamil lupa atau tidak tahu,
hal ini akan sukar memastikan diagnosis. Pada pemeriksaan USG dilakukan untuk
memeriksa ukuran diameter biparietal, gerakan janin dan jumlah air ketuban
(Muchtar, 1998). Menurut Achdiat (2004), umur kehamilan melewati 294 hari/
genap 42 minggu palpasi bagian bagian janin lebih jelas karena berkurangnya air
ketuban. Kemungkinan dijumpai abnormalitas detak jantung janin, dengan
pemeriksaan auskultasi maupun kardiotokografi (KTG). Air ketuban berkurang

dengan atau tanpa pengapuran (klasifikasi) plasenta diketahui dengan pemeriksaan


USG.
F. Diagnosis
Dalam menegakan diagnosis pada kehamilan post term sebenarnya cukup sulit,
karena pada diagnosis kasus ini harus ditegakan berdasarkan umur kehamilan,
bukan terhadap kondisi kehamilan, maka menentukan umur kehamilan harus dapat
dipastikan karena dalam beberapa kasus, kesalahan dalam mendiagnosis kehamilan
post term adalah karena kesalahan dalam perhitungan kehamilan. Untuk
mendiagnosis kehamilan post term dapat dilakukan dengan beberapa cara :
a. Riwayat haid
Harus ditentukan dengan pasti riwayat HPHT nya, lalu siklus haid yang teratur,
dan tidak minum pil KB dalam 3 bulan terakhir ini.
b. Riwayat pemeriksaan antenatal
Dilihat dari tes kehamilannya,
Gerak janin biasanya dirasakan dalam 18-20 minggu. Pada primigravida biasanya
dirasakan pada 18 minggu, sedangkan pada multigravida dirasakan pada umur
kehamilan 16 minggu. Petunjuk umum untuk menentukan umur kehamilan adalah
pada primigavida mulai gerak janin ditambah 22 minggu, sedangkan pada
multigravida ditambahan 24 minggu dari awal garak janin.
Pemeriksaan DJJ : DJJ dapat di dengar dengan stetoskop leanec pada kehanmilan
18-20 minggu, sedangkan dengan dopler dapat didengarkan 10-12 minggu.
c. Pemeriksaan TFU
Jika umur kehamilan lebih dari 20 minggu umur kehamilan dapat diperkirakan
secara kasar.
d. Pemeriksaan USG
Dengan USG dapat diperkirakan umur kehamilan dengan menukur diameter
biparietal dan panjang femur.
Yang paling penting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah
menentukan keadaan janin, karena setiap keterlambatan akan menimbulkan resiko
kegawatan. Penentuan keadaan janin dapat dilakukan:
1.

Tes tanpa tekanan (non stress test).

Bila memperoleh hasil non reaktif maka dilanjutkan dengan tes


tekanan oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifisitas 98,8%
menunjukkan kemungkinan besar janin baik. Bila ditemukan hasil tes tekanan yang
positif, meskipun sensitifitas relatif rendah tetapi telah dibuktikan berhubungan
dengan keadaan postmatur.
2.

Gerakan janin.
Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normal rata-rata 7

kali/ 20 menit) atau secara objektif dengan tokografi (normal rata-rata 10 kali/ 20
menit), dapat juga ditentukan dengan USG. Penilaian banyaknya air ketuban secara
kualitatif dengan USG (normal >1 cm/ bidang) memberikan gambaran banyaknya
air ketuban, bila ternyata oligohidramnion maka kemungkinan telah terjadi
kehamilan lewat waktu.
3. Amnioskopi.
Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan
janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan
mengalami resiko 33% asfiksia.
4.

Kematian janin

disebabkan oleh makrosomnia yang dapat menyebabkan distosia, insufisiensi


placenta yang berakibat pertumbuhan janin terhambat, oligohidramnion, hiposia
dan kelarnya muconium dan terjadi aspirasi.
Pengaruh pada ibu
Morbiditas ibu karena makrosomnia bayi yang dilahirkan sehingga terjadi distosia
persalian, partus lama, meningkatkan tindakan obstetric yang traumatis.
G. Komplikasi
Kematian janin terhadap kehamilan post teram adalah 30%sebelum persalinan, 55%
dalam persalinan, dan 15% setelah persalinan. Menurut Mochtar (1998), komplikasi
yang terjadi pada kehamilan serotinus yaitu:
(1) Komplikasi pada Ibu
Komplikasi yang terjadi pada ibu dapat menyebabkan partus lama, inersia uteri,
atonia uteri dan perdarahan postpartum.

(2) Komplikasi pada Janin


Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti berat badan janin bertambah besar,
tetap atau berkurang, serta dapat terjadi kematian janin dalam kandungan.
H. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan yang
teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama (sebelum 12
minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28 minggu) dan 2
kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan
kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7 bulan, 2 minggu sekali pada
kehamilan 7 8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir. Hal ini akan
menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, dan mencegah
terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya. Perhitungan dengan satuan minggu
seperti yang digunakan para dokter kandungan merupakan perhitungan yang lebih
tepat. Untuk itu perlu diketahui dengan tepat tanggal hari pertama haid terakhir
seorang (calon) ibu itu. Perhitungannya, jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir
hingga saat itu dibagi 7 (jumlah hari dalam seminggu). Misalnya, hari pertama haid
terakhir Ny.X jatuh pada 2 Januari 1999. Saat ini tanggal 4 Maret 1999. Jumlah hari
sejak hari pertama haid terakhir adalah 61. Setelah angka itu dibagi 7 diperoleh angka
8,7. Jadi, usia kehamilannya saat ini 9 minggu.

I. Penatalaksanaan
1. Pengelolaan aktif dengan persalinan anjuran atau induksi persalinan dapat
dilakukan dengan metode :
a). Persalinan anjuran dengan infus pituitrin (sintosinon)
Persalinan anjuran dengan infus oksitosin, pituitrin, sintosinon 5 unit dalam 500
cc glukosa 5%, banyak digunakan. Teknik induksi dengan infus glukosa lebih
sederhana dan mulai dengan 8 tetes dengan maksimal 40 tetes/menit. Kenaikan
tetesan 4 setiap 30 menit sampai kontraksi optimal. Bila dengan 30 tetes
kontraksi maksimal telah tercapai, maka tetesan tersebut dipertahankan sampai
terjadi persalinan.

b). Memecahkan ketuban


Memecahkan ketuban merupakan salah satu metode untuk mempercepat
persalinan. setelah ketuban pecah, ditunggu sekitar 4 sampai 6 jam dengan
harapan kontraksi otot rahim akan berlangsung. Apabila belum berlangsung
kontraksi otot rahim dapa diikuti induksi persalinan dengan infus glukosa yang
mengandung 5 unit oksitosin.
c). Persalinan anjuran yang menggunakan protaglandin
Prostaglandin berfungsi untuk merangsang kontraksi otot rahim. pemakaian
prostaglandin sebagai induksi persalinan dapat dalam bentuk infus intravena dan
pervaginam (prostaglandin vagina suppositoria).

2. Pengelolaan pasif untuk menghindari persalianan tindakan yang berlebihan


sehingga persalinan ditunggu dan diobservasi hingga persalinan berlangsung
dengan sendiri atau adanya indikasi untuk mengakiri persalinan.
Melakukan persalinan anjuran pada umur kehamilan 41 atau 42 minggu untuk
memperkecil resiko persalinan. Setelah usia kehamilan lebih dari 40 42 minggu
adalah monitoring janin sebaik baiknya. Apabila tidak ada tanda tanda
insufisiensi plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat.
Apabila ada insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang,
pembukaan belum lengkap, persalinan lama, ada tanda-tanda gawat janin,
kematian janin dalam kandungan, pre-eklamsi, hipertensi menahun dan pada primi
tua maka dapat dilakukan operasi seksio sesarea. Keadaan yang mendukung bahwa
janin masih dalam keadaan baik, memungkinkan untuk menunda 1 minggu dengan
menilai gerakan janin (Mochtar,1998).

INDUKSI PERSALINAN
Definisi
Induksi persalinan adalah suatu tindakan yang dilakukan terhadap ibu hamil yang
belum inpartu, baik secara operatif maupun medisinal untuk merangsang
timbulnya kontraksi rahim sehingga terjadi persalinan.
Metode Induksi Persalinan
1. Medisinal;
-

Infus oksitosin

Prostaglandin

Cairan hipertonik intrauterin

Yang banyak digunakan saat ini adalah pemberian infus oksitosin.


2. Manipulatif/ operatif;
-

Amniotomi

Melepaskan selaput ketuban dari bagian bawah rahim

Pemakaian rangsangan listrik

Rangsangan pada puting susu

Indikasi
Indikasi Janin

Indikasi Ibu

: - Kehamilan lewat waktu


-

Ketuban Pecah Dini

Janin mati

: - Kehamilan dengan hipertensi


- Kehamilan 37 minggu dengan Diabetes Melitus
- Penyakit ginjal berat
- Hidramnion yang besar
- Primigravida tua

Kontra Indikasi
1. Malposisi dan malpresentasi janin
2. Insufisiensi plasenta
3. Disproporsi sefalopelvik
4. Cacat rahim
5. Grande multipara
6. Gemelli
7.

Distensi rahim yang berlebihan

8. Plasenta previa

Syarat-syarat pemberian infus oksitosin


1. Kehamilan aterm
2. Ukuran panggul normal
3. Tidak ada CPD
4. Janin dalam presentasi kepala
5. Serviks sudah matang yaitu, porsio teraba lunak, mulai mendatar dan sudah
mulai membuka
6. Bishop score > 8 (kemungkinan besar induksi berhasil)
Skor
Pembukaan serviks (cm)
Pendataran serviks
Penurunan kepala diukur
dari bidang Hodge III
Konsistensi serviks
Posisi serviks

Komplikasi Infus Oksitosin


- Tetania uteri, ruptur uteri
- Gawat janin
Cara pemberian oksitosin drip:

0
0
0-30 %
-3

1
1-2
40-50 %
-2

2
3-4
60-70 %
-1

Keras
Ke

Sedang
Lunak
Searah sumbu Ke arah

belakang

jalan lahir

depan

3
5-6
80 %
+1 +2

Kandung kemih dikosongkan

Oksitosin 5 IU dimasukkan ke dalam dextrose 5 % 500 cc dimulai dengan 8


tetes per menit

Kecepatan dapat dinaikkan 4 tetes tiap 30 menit sampai tetes maksimal 60 tetes/
menit

Pasien harus diobservasi ketat

Bila kontraksi rahim timbul secara teratur dan adekuat, maka kadar tetesan
dipertahankan sampai persalinan selesai. Bila

kontraksi rahim sangat kuat,

jumlah tetesan dapat dikurangi atau sementara dihentikan.


-

Bila dalam pemberian oksitosin ditemukan penyulit pada ibu atau janin, infus
oksitosin harus dihentikan dan kehamilan diselesaikan dengan seksio sesarea.

SEKSIO SESAREA
Definisi
Adalah suatu cara melahirkan janin dengan membut sayatan pada dinding
uterus melalui dinding depan perut atau vagina; atau suatu histerotomia intuk
melahirkan janin dari dalam rahim.
Istilah
Istilah section caesarea berasal dari perkataan Latin caedere yang artinya memotong.
Seksio sesarea primer (efektif)
Dari semula telah direncanakan bahwa janin akan dilahirkan secara seksio
sesarea.
Seksio sesarea sekunder
Mencoba menunggu kelahiran biasa, bila tidak ada kemajuan persalinan atau
partus percobaan gagal, baru dilakukan seksio sesarea.
Seksio sesarea histerektomi (caesarean section hysterectomy)
Adalah suatu operasi dimana setelah janin dilahirkan dengan seksio sesarea,
langsung dilakukan histerektomi oleh karena suatu indikasi.
Indikasi
Indikasi ibu
1. Panggul sempit
2. Tumor-tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi
3. Stenosis serviks/vagina
4. Plasenta previa
5. Disproporsi sefalo-pelvik
6. Ruptur uteri mengancam
7. Partus lama (prolonged labor) atau partus tak maju (obstructed labor)

8. Pre-eklamsia dan hipertensi

Indikasi janin
Malpresentasi janin misalnya letak lintang, presentasi dahi dan muka,
presentasi rangkap dan gemelli.
Jenis-jenis operasi
1. Seksio sesarea klasik
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri.
Kelebihan
-

mengeluarkan janin lebih cepat

tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik

sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal

Kekurangan
-

infeksi mudah menyebar secara intra abdominal

persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan

2. Seksio sesarea ismika (profunda)


Dilakukan dengan membuat sayatan melintang-konkaf pada segmen bawah
uterus.
Kelebihan
-

penjahitan luka lebih mudah

penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik

perdarahan kurang

kemungkinan rupture uteri spontan lebih kecil

Kekurangan
-

dapat terjadi perdarahan yang banyak

keluhan pada kandung kemih post operatif tinggi

Anda mungkin juga menyukai