Anda di halaman 1dari 11

Bab 8: PAJAK HOTEL

Pengertian
Sesuai dengan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 1 angka 20 dan 21, Pajak
Hotel adalah pajak atas pelayanan yang diberikan oleh hotel.sedangkan yang dimaksud dengan
hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya
dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmes, gubuk pariwisata, wisma
pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan jumlah
kamar lebih dari sepuluh.
Dasar Hukum Pemungutan Pajak Hotel
Dasar hukum pemungutan Pajak Hotel pada suatu kabupaten atau kota adalah
sebagaimana di bawah ini.
1. Undang-undang Nomor Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah.
2. Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 yang merupakan perubahan atas
Undang-undang Nomor 18 tahun 1997 tentang Pajak daerah dan Retribusi
Daerah.
3. Peraturan pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah.
4. Peraturan daerah kabupaten/kota yng mengatur tentang Pajak Hotel.
5. Keputusan bupati/walikota yang mengatur tentangPajak Hotel sebagai aturan
pelaksanaan Peraturan daerah tentang Pajak Hotel pada kabupaten/kota
dimaksud.
Objek Pajak Hotel
1.

Objek Pajak Hotel

Objek Pajak Hotel adaah pelayanan yang disediakan oleh hotel dengan pembayaran,
termasuk jasa penunjang sebagai kelengkapan hotel yang sifatnya mmemberikan kemudahan
dan keyamanan, termasuk fasilitas olahraga dan hiburan.
Dalam pengenaan Pajak Hotel, yang menjadi objek pajak termasuk pelayanan
sebagimana di bawah ini.
a. Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek. Dalam pengertian
rumah penginapan termasuk kamar kos dengan jumlah kamar sepuluh atau lebih
yang

menyediakan

fasilitas

seperti

rumah

penginapan.

Fasilitas

penginapan/fasilitas tinggal jangka pendek antara lain: gubuk pariwisata


(cottage), motel, wisma pariwisata, pesanggrahan (hostel), losmen dan rumah
penginapan.
b. Pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapanan atau tempat
tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan.
Pelayanan penunjang, antara lain, telepon, facsimile, teleks, fotokopi, pelayanan
cuci, setrika, taksi dan pengangkutan lainnya, yang disediakan atau dikelola
hotel.
c. Fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan khuss untuk tamu hotel, bukan
untuk umum. Fasilitas olah raga dan hiburan antara lain: pusat kebugaran
(fitness center), kolam renang, tenis, golf, karaoke, pub, diskotik, yng
disediakan atau dikelola hotel.
d. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel.
2.

Bukan Objek Pajak Hotel

Ada beberapa pengecualian yang tidak termasuk objek pajak, yatu hal-hal di bawah ini.
a. Jasa tempat tinggal asrama yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat atau
pemerintah daerah.
b. Jasa sewa apartemen, kondominium, dan sejenisnya. Pengecualian apartemen,
kondominium, dan sejenisnya didasarkan atas izin usahanya.
c. Jasa tempat tinggal di pusat pendidikan atau kegiatan keagamaan.
d. Jasa tempat tinggal di rumah sakit, asrama perawat, panti jompo, panti asuhan,
dan panti sosial lain yang sejenis.
e. Jasa biro perjalanan atau perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh hotel
yang dapat dimanfaatkan oleh umum.
Subjek Pajak dan Wajib Pajak Hotel
Pada Pajak Hotel yang menjadi subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang
melakukan pembayaran kepada orang pribadi atau badan yang mengusahakan hotel. Atau lebih
sederhananya, subjek pajak adalah konsumen yang menikmati dan membayar pelayanan yang
diberikan oleh pengusaha hotel. Sedangkan wajib pajak adalah orang pribadi atau badan yang
mengusahakan hotel, yaitu orang pribadi atau badan dalam bentuk apapun yang dalam
lingkungan perusahaan atau pekerjaannya melakukan usaha di bidang jasa penginapan.

Dengan demikian, pada Pajak Hotel subjek pajak dan wajib pajak tidak sama, di mana
konsumen yang menikmati pelayanan hotel merupakan subjek pajak yang membayar
(menanggung) pajak sementara orang pribadi atau badan yang mengusahakan hotel bertindak
sebagai wajib pajak yang diberi kewenangan untuk memungut pajak dari konsumen (subjek
pajak) dan melaksanakan kewajiban perpajakan lainnya.
Dasar Pengenaan, Tarif, dan Cara Perhitungan Pajak Hotel
1.

Dasar Pengenaan Pajak Hotel

Dasar pengenaan Pajak Hotel adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya
dibayar kepada hotel. Pembayaran adalah jumlah uang yang harus dibayar oleh subjek pajak
kepada wajib pajak untuk harga jual baik jumlah uang yang dibayarkan maupun penggantian
yang seharusnya diminta wajib pajak sebagai penukaran atas pemakaian jasa tempat
penginapan dan fasilitas penunjang termasuk pula semua tambahan dengan nama apa pun juga
dilakukan berkaitan dengan usaha hotel.
2.

Tarif Pajak Hotel

Tarif Pajak Hotel diterapkan paling tinggi sebesar sepuluh persen dan dtetapkan dengan
peraturan daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan
keleluasaan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk menetapkan tarif pajak yang dipandang
sesuai dengan kondisi masing-masing kabupaten/kota sehingga nantinya besarnya tarif pajak
berbeda dengan kabupten/kota lainnya asalkan tidak lebih dari sepuluh persen.
3.

Perhitungan Pajak Hotel

Besaran pokok Pajak Hotel yang terutang dihitung dengan cara mengalikahn tariff
pajak dengan dasar pengenaan pajak. Secara umum perhitungan Pajak Hotel adalah sesuai
dengan rumus berikut:
Pajak Terutang = Tarif Pajak x dasar pengenaan pajak
= Tarif pajak x Jumlah Pembayaran atau yg seharusnya dibayar kepada hotel
Masa Pajak, Tahun Pajak, Saat Terutang Pajak dan Wilayah Pemungutan Pajak Hotel
Pada Pajak Hotel, masa pajak merupakan jangka waktu yang lamanya sama dengan
satu bulan takwim atau jangka waktu lain yang ditetapkan dengan keputusan bupati/walikota.
Dalam pengertian masa pajak bagian dari bulan dihitung satu bulan penuh. Tahun pajak adalah
jangka waktu yang lamanya satu tahun takwim, kecuali wajib pajak menggunakan tahun buku
yang tidak sama dengan tahun takwim.

Pajak yang terutang merupakan Pajak Hotel yang harus dibayar oleh wajib pajak pada
suatu saat, dalam masa pajak, atau dalam tahun pajak menurut ketentuan pertaturan daerah
tentang Pajak Hotel yang ditetapkan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota setempat. Saat
pajak terutang dalam masa pajak ditentukan menurut keadaan, yaitu pada saat terjadi
pembayaran atau pelayanan jasa penginapan di hotel atau penginapan.
Pajak Hotel yang terutang dipungut di wilayah kabupaten/kota tempat hotel berlokasi.
Hal ini terkait dengan kewenangan pemerintah kabupaten/kota yang hanya terbatas atas setiap
hotel yang berlokasi dan terdaftar dalam lingkup wilayah administrasinya.
Pengukuhan, Pendaftaran, dan Pendataan
1. Pengukuhan wajib pajak
Wajib pajak hotel wajib mendaftarkan usahanya kepada bupati/walikota, dalam praktik
umumnya kepada Dins pendapatan Daerah Kabupaten/Kota, dalam jangka waktu tertentu,
misalnya selambat-lambatnya tiga puluh hari sebelum dimulainya kegiatan usaha, untuk
dikukuhkan dan diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak daerah (NPWPD).
Surat Keputusan Pengukuhan yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Pendapatan daerah
tidak merupakan dasar untuk menenukan mulai saat terutang Pajak Hotel, tetapi hanya
merupakan sarana administrasi dan pengawasan bagi petugas Dinaas Pendapatan daerah.
Apabila pengusaha hotel atau penginapan tidak mendaftarkan usahanya dalam jangka waktu
yang ditentukan, Kepala Dinas Pendapatan Daerah akan menetapkan pengusaha tersebut
sebagai wajib pajak secara jabatan.
2. Pendaftaran dan pendataan
Untuk mendapatkan data wajib pajak dilaksanakan pendaftaran dan pendataan terhadap
wajib pajak. Kegiatan pendaftaran dan pendataan diawali dengan mempersiapkan dokumen
yang diperlukan, berupa formulir pendaftaran dan pendataan, kemudian diberikan kepada
wajib pajak. Setelah dokumen diberikan kepada wajib pajak, wajib pajak mengisi formulir
pendaftaran dengan jelas, lengkap serta mengembalikan formulir kepada petugas pajak.
Selanjutnya, petugas pajak mencatat formulir pendaftaran dan pendataan yang dikembalikan
oleh wajib pajak dalam Daftar Induk Wajib pajak berdasarkan nomor urut yang digunakan
sebagai dasar untuk menerbitkan NPWPD.
Pelaporan Pajak dan Surat pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD)
Wajib pajak hotel wajib melaporkan kepada bupati/walikota, dalam praktik sehari-hari
adalah kepada Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten/Kota, tentang perhitungan dan

pembayaran Pajak Hotel yang terutang. Wajib pajak yang telah memiliki NPWPD setiap awal
masa pajak wajib mengisi SPTPD. SPTPD diisi dengan jelas, lengkap, dan benar, serrta
ditandatangani oleh wajib pajak atau kuasanya dan disampaikan kepada walikota/bupati atau
pejabat yang ditunjuk sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Umumnya SPTPD harus
disampaikan selambat-lambatnya lima belas hari setelah berakhirnya masa pajak. Seluruh data
perpajakan yang diperoleh dari daftar isian tersebut dihimpun dan dicatat atau dituangkan
dalam berkas atau kartu data yang merupakan hasil akhir yang akan dijadikan sebagai dasar
dalam perhitungan dan penetapan pajak yang terutang. Keterangan dan dokumen yang harus
dicantumkan dan atau dilampirkan pada SPTPD ditetapkan oleh bupati/walikota.
Bupati/walikota atas permohonan wajib pajak dengan alasan yang sah dan dapat
diterima dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian SPTPD untuk jangka waktu
tertentu, yang diatur dalam peraturan daerah. Wajib pajak yang tidak melaporkan atau
melaporkan tidak sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan akan dikenai sanksi
administrasi berupa denda sesuai dengan peraturan daerah.
Penetapan Pajak Hotel
1.

Cara Pemungutan Pajak Hotel

Pemungutan Pajak Hotel tidak dapat diborongkan. Artinya, seluruh proses kegiatan
pemungutan Pajak hotel tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga. Walau demikian,
dimungkinkan adanya kerja sama dengan pihak ketiga dalam proses pemungutan pajak, antara
lain: pencetakan formulir perpajakan, pengiriman surat-surat kepada wajib pajak, atau
penghimpunanan data objek dan subjek pajak. Kegiatan yang tidak dapat dikerjasamakan
dengan pihak ketiga adalah kegiatan perhitungan besarnya pajak terutang, pengawasan
penyetoran pajak, dan penagihan pajak.
2.

Penetapan pajak hotel

Setiap

pengusaha

hotel

(yang

menjadi

wajib

pajak)

wajib

menghitung,

mempertimbangkan, membayar, dan melaporkan sendiri Pajak Hotel yang terutang dengan
menggunakan SPTPD. Ketentuan ini menunjukkan system pemungutan Pajak Hotel pada
dasarnya merupakan system self assessment, yaitu wajib pajak diberikan kepercayaan penuh
untuk menghitung, memperhitungkan, membaar, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang.
Dengan

pelaksanaan

sistem

pemungutan

ini

petugas

Dinas

Pendapatan

daerah

Kabupaten/Kota, yang ditunjuk oleh bupatiwalikota menjadi fiskus hanya bertugas mengawasi
pelaksanaan pemenuhan kewajiban pajak oleh wajib pajak.

Pada beberapa daerah, penetapan pajak tidak diserahkan sepenuhnya kepada wajib
pajak, tetapi ditetapkan oleh kepala daerah. Terhadap wajib pajak yang pajaknya ditetapkan
oleh bupati/walikota, jumlah pajak terutang ditetapkan dengan menerbitkan SKPD. Wajib
pajak tetap memasukkan SPTPD, tetapi tanpa perhitungan pajak. Umumnya SPTPD
dimasukkan bersamaan dengan pendataan yang dilakukan oleh petugas Dinas Pendapatan
Daerah kabupaten/Kota.
Berdasarkan SPTPD yang disampaikan oleh wajib pajak dan pendataan yang dilakukan
oleh petugas Dinas Pendapatan Daerah, bupati/walikota atau pejabat yang ditunjuk oleh
bupati/walikota menetapkan Pajak Hotel yang terutang dengan menerbitkan Surat Ketetapan
Pajak Daerah (SKPD). SKPD harus dilunasi oleh wajib pajak paling lama tiga puluh hari sejak
diterimanya SKPD oleh wajib pajak atau jangka waktu lainnya yang ditetapkan oleh
bupati/walikota.
3.

Ketetapan Pajak

Dalam jangka watu lima tahun sesudah saat terutangnya pajak, bupati/walikota dapat
menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB), Surat Ketetapan Daerah
Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT), dan Surat Ketetaan Pajak Daerah Nihil (SKPDN).
Surat Ketetapan pajak Daerah diterbitkan berdasarkan pemeriksaan atas SPTPD yang
disampaikan oleh wajib pajak. Penerbitan surat ketetapan pajak ini, untuk memberikan
kepastian hokum apakah dalam SPTPD telah memenuhi ketentuan peraturan perundangundangan pajak daerah atau tidak. Penerbitan surat ketetapan pajak ditujukan kepada wajib
pajak tertentu yang disebabkan ole ketidakbenaran dalam pengisian SPTPD atau karena
ditemukannya data fiskal yang tidak dilaporkan oleh wajib pajak.
Selain terhadap wajib pajak yang dikenakan Pajak Hotel dengan sistem self assessment,
penerbitan SKPDKB dan SKPDKBT juga dapat diterbitkan terhadap wajib

pajak yang

penetapan pajaknya dilakukan oleh bupati/walikota.


4. Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD)
Bupati/ walikota dapat menerbitkan Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD) jika pajak
hotel dalam tahun berjalan tidak atau kurang bayar. Sanksi administrasi berupa bunga
dikenakan kepada wajib pajak yang tidak atau kurang membayar pajak terutang. Sementara itu,
sanksi administrasi berupa denda dikenakan karena tidak terpenuhinya ketentuan formal.
Misalnya tidak atau terlambat menyampaikan SPTPD.

Selain ketentuan di atas, bupati/walikota juga dapat menerbitkan STPD apabila


kewajiban pembayaran pajak terutang dalam SKPDKB atau SKPDKBT tidak dilakukan atau
tidak sepenuhnya dilakukan oleh wajib pajak. Dengan demikian, STPD juga merupakan sarana
yang digunakan untuk menagih SKPDKB atau SKPDKBT yang tidak atau kurang dibayar oleh
wajib pajak sampai dengan jatuh tempo pembayaran pajak dalam SKPDKB atau SKPDKBT.
Pajak yang tidak atau kurang bayar yang ditagih dengan STPD ditambah dengan sanksi
administrasi berupa bunga sebesar dua persen sebulan untuk jangka waktu paling lama lima
belas bulan sejak saat terutang pajak. Oleh sebab itu, STPD harus dilunasi dalam jangka waktu
maksimal satu bulan sejak tanggal diterbitkan. Bentuk, isi, serta tata cara penerbitan, dan
penyampaian SPTPD, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, SKPDN, dan STPD
ditetapkan oleh bupati/walikota.
Pembayaran dan Penagihan Pajak Hotel
1. Pembayaran Pajak Hotel
Pajak hotel terutang dilunasi dalam jangka waktu yang ditentukan dalam peraturan
daerah, misalnya selambat-lambatnya pada tanggal 15 bulan berikutnya dari masa pajak yang
terutang setelah berakhirnya masa pajak.
Pembayaran Pajak Hotel yang terutang dilakukan ke kas daerah, bank atau tempat lain
yang ditunjuk oleh bupati/walikota sesuai waktu yang ditentukan dalam SKPD, SKPDKB,
SKPDKBT, dan STPD. Apabila pembayaran pajak dilakukan ditempat lain yang ditunjuk,
maka hasil penerimaan pajak harus disetor ke kas daerah paling lambat 1x4 jam atau dalam
waktu yang ditentukan oleh bupati/walikota. Pembayaran pajak dilakukan dengan
menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD). Pembayaran pajak harus dilakukan
sekaligus atau lunas.

2. Penagihan pajak Hotel

Apabila pajak hotel yang terutang tidak dilunasi setelah jatuh tempo pembayaran,
bupati/walikota atau pejabat yang ditunjuk akan melakukan tindakan penagihan pajak.
Penagihan pajak dilakukan dengan terlebih dahulu memberikan surat teguran atau surat
peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan penagihan pajak. Surat teguran
dikeluarkan tujuh hari sejak saat jatuh tempo pembayaran pajak dan dikeluarkan oleh pejabat
yang ditunjuk oleh bupati/walikota. Dalam jangka tujuh hari sejak surat teguran atau surat
peringatan atau surat sejenis yang dterima, wajib pajak harus melunasi pajak terutang.
Selanjutnya, bila jumlah pajak terutang yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam
jangka waktu yang ditentukan dalam surat teguran atau surat peringatan atau surat sejenis akan
ditagih dengan surat paksa. Tindakan penagihan dengan surat paksa dapat dilanjutknan dengan
penyitaan, pelelangan, pencegahan dan penyanderaan jika wajib pajak tetap tidak mau
melunasi utang pajak sebagaimana mestinya.
Pembetulan, Pembatalan, Pengurangan, Ketetapan, dan Penghapusan atau pengurangan
Sanksi Administrasi.
Atas permohonan wajib pajak atau karena jabatannya, bupati/walikota dapat
membetulkan SKPD, SKPDKB, SKPDKBT atau STPD, SKPDN atau SKPDLB yang dalam
penerbitannya terdapat kesalah tulis dan atau kesalahan hitung dan atau kekeliruan penerapan
ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. Selain itu
bupati/walikota dapat:
1. Mengurangkan atau menghapus sanksi administrative berupa bunga, denda, dan
kenaikan pajak terutang menurut peraturan perundangundangan perpajakan daerah,
dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan wajib pajak atau bukan karena
kesalahannya;
2. Mengurangkan atau membatalkan SKPD, SKPDKB, SKPDKBT atau STPD, SKPDN
atau SKPDLB yang tidak benar;
3. Mengurangkan atau membatalkan STPD;
4. Membatalkan hasil pemeriksaan atau ketetapan pajak yang dilaksanakan atau
diterbitkan tidak sesuai dengan tata cara ditentukan; dan
5. Mengurangkan ketetpana pajak terutang berdasarkan pertimbangan kemampuan
membayar wajib pajak atau kondisi tertentu objek pajak.
Keberatan dan Banding
1. Keberatan

Wajib pajak hotel yang tidak puas atas penetapan pajak yang dilakukan bupati/walikota
dapat mengajukan keberatan hanya kepada bupati/walikota atau pejabat yang ditunjuk.
Keberatan ditulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas. Keberatan
dilakukan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam peraturan daerah tentang Pajak Hotel
dimaksud. Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama tiga bulan sejak tanggal
SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDN atau SKPDLB, kecuali jika wajib pajak dapat
menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar
kekuasaannya. Keputusan bupati/walikota atas keberatan dapat berupa menerima sepenuhnya
atau sebagian, menolak, atau menambah besarnya pajak terutang. Apabila dalam jangka waktu
12 bulan tersebut lewat dan bupati/walikota tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang
diajukan dianggap diterima.
2. Banding
Wajib pajak hotel diberikan hak untuk melakukan perlawanan secara hukum, untuk
memperoleh penetapan pajak yang sesuai dengan harapannya. Wajib pajak dapat mengajukan
permohonan bandig hanya kepada Pengadilan Pajak terhadap keputusan mengenai
keberatannya yang ditetapkan oleh bupati/walikota atau pejabat yang ditunjuk. Permohonan
banding diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia, dengan alasan yang jelas dalam
jangka waktu tiga bulan sejak keputusan diterima, dilampiri salinan dari surat keputusan
keberatan terseut. Pengajuan permohonan banding menangguhkan kewajiban membayar pajak
sampai dengan satu bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding.
Jika permohonan banding dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran
paja dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar dua persen sebulan untuk paling
lama dua puluh empat bulan. Putusan banding dapat berupa menerima seluruhnya atau
sebagian, menolak, atau menambah besarnya pajak yang terutang. Dalam hal permohonan
banding ditolak atau dikabulkan sebagian, wajib pajak dikenai sanksi administrative berupa
denda sebesar seratus persen dari jumlah pajak berdasarkan Putusan banding dikurangi dengan
pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.
Bagi Hasil Pajak dan Biaya Pemungutan Pajak Hotel
1. Bagi Hasil Pajak Hotel
Hasil penerimaan Pajak Hotel merupakan pendapatan daerah yang harus disetorkan
seluruhnya ke kas daerah kabupaten/kota. Khusus pajak Hotel yang dipungut oleh pemerintah
kabupaten sebagian diperuntukan bagi desa di wilayah daerah kabupaten tempat pemungutan
Pajak Hotel. Hasil penerimaan Pajak Hotel tersebut diperuntukkan paling sedikit sepuluh

persen bagi desa di wilayah daerah kabupaten yang bersangkutan. Bagian desa yang berasal
dari pajak kabupaten ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten dengan memerhatikan
aspek dan potensi antardesa.
2. Biaya Pemungutan Pajak Hotel
Dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemungutan dan pengelolaan Pajak Hotel,
diberikan biaya pemungutan sebesar lima persen dari hasil penerimaan pajak telah disetorkan
ke kas daerah kabupaten/kota. Biaya pemungutan adalah biaya yang diberikan kepada aparat
pelaksana pemungutan dan aparat pemunjang dalam rangka kegiatan pemungutan. Alokasi
biaya pemungutan Pajak Hotel ditetapkan dengan keputusan bupati/walikota.

Anda mungkin juga menyukai